Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di negaranegara maju serta di beberapa negara-negara berkembang.1 Indonesia sebagai salah
satu negara berkembang juga menghadapi masalah ini. Semakin meningkatnya arus
globalisasi di segala bidang, telah membawa banyak perubahan pada perilaku dan gaya
hidup masyarakat di Indonesia, termasuk dalam pola konsumsi makanan keluarga.
Perubahan tersebut tanpa disadari telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi
epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-kasus hipertensi di Indonesia.2
Hipertensi dilihat dari segi klinis, merupakan penyakit yang umum,
asimptomatis, mudah dideteksi dan mudah ditangani jika dikenali secara dini. Namun,
hipertensi dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi yang mematikan jika tidak
ditangani.3
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan
menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau
oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan
pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita
hipertensi tidak mempunyai keluhan.
Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, Padang
merupakan Kota dengan angka kejadian hipertensi tertinggi di provinsi Sumatera
Barat

Puskesmas Nan Balimo sebagai unit pelaksana fungsional berfungsi


sebagai pusat

pembangunan

kesehatan,

pusat

pembinaan

peran

serta

masyarakat di bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat


pertama memiliki peranan yang penting dalam menurunkan angka kejadian
penyakit Hipertensi. Di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo, berdasarkan data
dari tahun sebelumnya kasus Hipertensi pada tahun 2014 mengalami peningkatan.
Mengingat pentingnya masalah hipertensi, maka penulis tertarik untuk
menemukan solusi mengenai pengendalian hipertensi di wilayah kerja puskesmas
Nan Balimo, melalui Upaya Meningkatkan Peran Puskesmas Dalam
Pengendalian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah makalah ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan penyakit hipertensi ?
2. Hal-hal apa saja yang dapat menjadi penyebab (faktor resiko) timbulnya penyakit
hipertensi ?
3. Apa saja komplikasi dari hipertensi ?
4. Bagaimana cara mencegah terjadinya penyakit hipertensi ?
5. Apa saja edukasi yang diberikan kepada masyarakat tentang hipertensi ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.

Untuk mengetahui defenisi, faktor-faktor penyebab (faktor resiko), komplikasi

2.

dan cara mencegah terjadinya penyakit hipertensi.


Mengidentifikasi dan Mengendalikan faktor risiko melalui kegiatan yang ada di
Puskesmas Nan Balimo Kota Solok.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai bahan acuan dalam memahami dan mempelajari tentang hipertensi.
2. Diperolehnya upaya pengendalian faktor risiko
3. Tersusunnya rencana pelaksanaan kegiatan atau POA di wilayah kerja
Puskesmas Nan Balimo Kota Solok.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Hipertensi
Secara umum, pengertian hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya 140 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg. Oleh
karena itu, untuk dapat memahami hipertensi, maka diperlukan pengertian
mengenai tekanan darah. Tekanan darah adalah suatu ukuran dari kekuatan darah
yang menekan dinding pembuluh darah. Tekanan darah yang digunakan sebagai
batasan dalam menentukan penyakit hipertensi adalah tekanan darah arteri. Jadi,
hipertensi adalah tingginya tekanan darah yang dilihat dari kekuatan darah dalam
menekan dinding pembuluh darah arteri.4
Pengukuran

tekanan

darah

arteri

yang

umumnya

menggunakan

sphygmomanometer dan stetoskop akan menghasilkan dua buah angka hasil


pencatatan, yaitu tekanan darah sistol dan tekanan darah diastol. Angka pertama

yang lebih besar nilainya, menunjukkan tekanan darah sistol. Tekanan darah sistol
merupakan tekanan darah terhadap dinding arteri ketika jantung sedang
berkontraksi memompa darah. Angka kedua yang lebih kecil nilainya,
menunjukkan tekanan darah diastol. Tekanan darah diastol merupakan tekanan
darah terhadap dinding arteri ketika jantung sedang berelaksasi di antara dua
kontraksi. Tekanan darah diastol juga menggambarkan keadaan elastisitas dinding
arteri.4 Tekanan darah diastol akan menurun setelah usia 50an oleh karena elastisitas
dinding arteri yang berkurang.5
Oleh karena tidak ada garis batas yang tegas antara tekanan darah yang
normal dengan tekanan darah yang tinggi, definisi hipertensi ditetapkan
berdasarkan kesepakatan yang mempertimbangkan risiko komplikasi penyakit
kardiovaskular pada beberapa tingkat tekanan darah. Tekanan darah sistol/diastol
sebesar 120/80 ditetapkan sebagai batas tekanan darah yang normal. Hal ini
didapatkan

dengan

mempertimbangkan

bahwa

kenaikan

risiko

penyakit

kardiovaskular pada orang-orang bertekanan darah di bawah 115/75 mmHg tidak


terlalu signifikan dibandingkan dengan orang-orang bertekanan darah di atas nilai
tersebut.5
Joint National Committee (JNC) (sebuah komite yang menyediakan
panduan mengenai pencegahan, deteksi, evaluasi dan penanganan hipertensi),
dalam laporannya yang ke-7,

membuat sistem klasifikasi hipertensi sebagai

berikut:5
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi pada Orang Dewasa (18 tahun ke atas)

Prehipertensi bukan merupakan kategori penyakit, namun lebih merupakan


penanda yang dipilih untuk mengidentifikasi individu-individu yang berisiko tinggi
menjadi hipertensi. Kategori ini diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan para
klinikus dan juga pasien sehingga tindakan-tindakan pencegahan hipertensi dapat
dilakukan secara dini. Pasien yang berada dalam kategori ini bukan merupakan
kandidat untuk mendapatkan terapi farmakologis, namun perlu disarankan untuk
mengubah pola hidupnya untuk mengurangi risiko terkena hipertensi.5
Penanganan hipertensi berdasarkan klasifikasi yang dibuat JNC VII tidak
mengelompokkan individu-individu berdasarkan ada tidaknya indikasi-indikasi
tertentu (faktor risiko lain atau kerusakan organ target). Pasien-pasien hipertensi
yang memiliki indikasi-indikasi tertentu akan dibahas pada bagian lain dari
makalah ini. JNC VII menyarankan agar semua orang dengan hipertensi (stage 1
dan stage 2) ditangani dengan pemberian obat. Tujuan pemberian obat pada
penderita hipertensi adalah agar tekanan darahnya <140/90 mmHg. Sedangkan
tujuan penanganan pasien yang berada dalam kategori prehipertensi adalah
menurunkan tekanan darah hingga normal dan mencegah kenaikan tekanan darah
yang lebih lanjut dengan cara perubahan pola hidup.5

2.2

Etiologi , Patogenesis Dan Patofisiologi Hipertensi


Hipertensi dengan penyebab yang tidak diketahui dinamakan hipertensi
primer, esensial atau idiopatik. Hipertensi primer ini merupakan 85% dari kasus

hipertensi. Pada sebagian kecil sisanya, penyebab hipertensinya diketahui.


Hipertensi ini dinamakan hipertensi sekunder.3
Definisi inilah yang terkadang menyulitkan para klinisi dalam membedakan
kedua golongan tersebut. Penyebab yang tidak diketahui, suatu saat, seiring dengan
kemajuan zaman akan diketahui sedikit demi sedikit. Selama proses perkembangan
ilmu pengetahuan akan terdapat kesulitan dalam membedakan kedua golongan
tersebut, karena batas antara penyebab yang tidak diketahui dan penyebab yang
diketahui menjadi tidak jelas.
Saat ini, jika penyebab hipertensi adalah suatu kelainan organ struktural
atau gen yang spesifik, maka dimasukkan ke dalam golongan hipertensi sekunder.
Namun, jika penyebab hipertensi adalah kelainan-kelainan yang umum dan
fungsional, maka dimasukkan ke dalam golongan hipertensi primer.3
Berikut akan dijelaskan mengenai etiologi, patogenesis dan patofisiologi
dari hipertensi primer dan sekunder.
2.2.1

Hipertensi Primer
Hipertensi Primer atau hipertensi esensial adalah hipertensi yang

penyebabnya tidak diketahui secara pasti atau idiopatik. Kesulitan dalam


menemukan mekanisme yang bertanggung jawab atas terjadinya hipertensi
primer adalah banyaknya sistem yang terlibat dalam pengaturan tekanan darah.
Sistem saraf adrenergik baik sentral maupun perifer, sistem pengaturan ginjal,
sistem pengaturan hormon dan pembuluh darah adalah sistem-sistem yang
mempengaruhi tekanan darah. Sistem-sistem ini saling mempengaruhi dengan
susunan yang kompleks dan dipengaruhi oleh gen-gen tertentu.3
Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem-sistem tersebut erat kaitannya
dalam membicarakan etiologi, patogenesis dan patofisiologi dari hipertensi.

Faktor-faktor yang diketahui memiliki pengaruh antara lain adalah faktor-faktor


lingkungan seperti asupan natrium, obesitas, pekerjaan, asupan alkohol, besar
keluarga dan keramaian penduduk. Faktor-faktor ini telah diasumsikan sebagai
faktor yang berperan penting dalam peningkatan tekanan darah seiring
bertambahnya usia setelah membandingkannya antara kelompok masyarakat
yang lebih banyak terpapar dengan yang lebih sedikit terpapar dengan faktorfaktor tersebut.3
Faktor genetik atau faktor keturunan juga memiliki pengaruh terhadap
kejadian hipertensi karena sistem-sistem yang mempengaruhi tekanan darah
diatur oleh gen. Hipertensi merupakan salah satu kelainan genetik kompleks
yang paling umum ditemukan dan diturunkan pada rata-rata 30% keturunannya.
Namun, faktor keturunan ini dipengaruhi oleh penyebab-penyebab yang
multifaktorial sehingga setiap kelainan genetik yang berbeda dapat memiliki
manifestasi hipertensi sebagai salah satu ekspresi fenotipnya.3
Berdasarkan hal di atas dan penelitian-penelitian di bidang tersebut,
maka faktor-faktor seperti usia, ras, jenis kelamin, merokok, asupan alkohol,
kolesterol serum, intoleransi glukosa dan berat badan dapat mempengaruhi
prognosis dari hipertensi. Semakin muda seseorang mengetahui kelainan
hipertensinya, semakin besar umur harapan hidup orang tersebut.3
Etnis seseorang juga mempunyai pengaruh terhadap kejadian hipertensi,
namun penelitian mengenai

hubungan etnis

dan kejadian hipertensi

menghasilkan hasil yang beragam. Hal ini disebabkan, karena selain faktor
etnis, terdapat juga faktor lingkungan dan faktor perilaku yang ikut
mempengaruhi kejadian hipertensi. Sehingga penelitian terhadap etnis yang
sama di tempat yang berbeda, menghasilkan data yang berbeda. Secara umum,

banyak penelitian yang menunjukkan kejadian hipertensi lebih banyak terjadi


pada etnis Afro-Karibia dan Asia Selatan dibandingkan dengan etnis kulit
putih.6
Aterosklerosis merupakan penyakit yang sering ditemukan bersamaan
dengan hipertensi dan memiliki hubungan timbal balik positif. Tekanan darah
yang tinggi akan memberikan beban terhadap dinding pembuluh darah dan
melalui proses yang kronis, tekanan berlebih ini akan menyebabkan kerusakan
pada dinding pembuluh darah. Kerusakan dinding arteri ini merupakan pencetus
terjadinya proses aterosklerosis. Aterosklerosis sendiri akan menyebabkan
hipertensi jika terjadi secara menyeluruh di pembuluh darah sistemik. Maka,
bukanlah hal yang tidak wajar, jika faktor-faktor risiko yang mempengaruhi
kejadian aterosklerosis seperti tingginya kadar kolesterol serum, intoleransi
glukosa dan kebiasaan merokok juga mempengaruhi kejadian hipertensi.3,7
Korelasi positif antara obesitas dengan hipertensi juga sudah tidak
dipertanyakan lagi. Peningkatan berat badan telah dihubungkan dengan
peningkatan kejadian hipertensi dan penurunan berat badan dapat menurunkan
tekanan darah arterinya. Namun, belum diketahui apakah perubahan ini
berhubungan dengan perubahan sensitivitas dari insulin.3

10.
11.
Gambar 1. Alur hipotetis hipertensi primer
2.2.2 Hipertensi Sekunder
Seperti telah disebutkan sebelumnya, hipertensi sekunder merupakan
hipertensi dengan penyebab yang dapat diidentifikasi. Walaupun hipertensi
sekunder lebih sedikit, namun penyakit ini perlu mendapat perhatian lebih oleh
karena :3
(1) Terapi terhadap penyebab dapat menyembuhkan hipertensi
(2) Hipertensi sekunder dapat menjadi penghubung dalam memahami etiologi dari
hipertensi primer.
Penyebab-penyebab dari hipertensi sekunder adalah kelainan ginjal,
kelainan endokrin, koartasi aorta dan juga obat-obatan. 3
1) Kelainan Ginjal
Hipertensi yang diakibatkan oleh kelainan ginjal dapat berasal dari
perubahan sekresi zat-zat vasoaktif yang menghasilkan perubahan tonus dinding
pembuluh darah atau berasal dari kekacauan dalam fungsi pengaturan cairan dan
natrium yang mengarah pada meningkatnya volume cairan intravaskular.
Pembagian lebih lanjut dari kelainan ginjal yang menyebabkan hipertensi adalah
kelainan renovaskular dan kelainan parenkim ginjal.3
Kelainan renovaskular disebabkan oleh rendahnya perfusi dari jaringan
ginjal oleh karena stenosis yang terjadi pada arteri utama atau cabangnya yang
utama. Hal ini menyebabkan sistem renin-angiotensin teraktivasi. Angiotensin II
yang merupakan produk dari sistem renin-angiotensin, akan secara langsung
menyebabkan vasokonstriksi atau secara tidak langsung melalui aktivasi sistem

saraf adrenergik. Selain itu angiotensin II juga akan merangsang sekresi aldosteron
yang mengakibatkan terjadinya retensi natrium.3
Aktivasi sistem renin-angiotensin juga merupakan penjelasan dari hipertensi
yang diakibatkan kelainan parenkim ginjal. Perbedaannya adalah penurunan perfusi
jaringan ginjal pada kelainan parenkim ginjal disebabkan oleh peradangan dan
proses fibrosis yang mempengaruhi banyak pembuluh darah kecil di dalam ginjal.3
2) Kelainan Endokrin
Kelainan endokrin dapat menyebabkan hipertensi. Hal ini disebabkan
banyak hormon-hormon yang mempengaruhi tekanan darah. Beberapa kelainan
endokrin ini antara lain adalah :3
1. Hiperaldosteronism primer
2. Cushing syndrome
3. Pheochromocytoma
4. Akromegali
5. Hiperparatiroid
3) Koartasi Aorta
Hipertensi yang disebabkan oleh koartasi aorta dapat berasal dari
vasokonstriksi pembuluh darah itu sendiri atau perubahan pada perfusi ginjal.
Perubahan perfusi ginjal ini akan menghasilkan bentuk hipertensi renovaskular
yang tidak umum.3

2.3 Manifestasi Klinis


Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala. Jika
hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

Sakit kepala

10

Kelelahan

Mual

Muntah

Sesak nafas

Gelisah

Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata,
jantung dan ginjal.

Sering buang air kecil terutama di malam hari

Telinga berdenging
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan

koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif,
yang memerlukan penanganan segera
2.4 Komplikasi Hipertensi
Penderita hipertensi umumnya meninggal pada usia yang lebih muda
dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki hipertensi. Penyebab kematiannya
yang paling sering adalah akibat penyakit jantung, stroke atau gagal ginjal.
Hipertensi juga dapat menyebabkan kebutaan akibat retinopati.3
1) Efek pada Jantung
Peningkatan tekanan darah sistemik menyebabkan jantung harus bekerja
lebih berat untuk mengkompensasinya. Pada awalnya, jantung akan mengalami
hipertrofi ventrikel yang konsentris, yaitu meningkatnya ketebalan dinding otot
jantung. Namun, pada akhirnya, kemampuan ventrikel ini akan semakin menurun,
sehingga ruang ventrikel jantung akan ikut membesar. Pembesaran jantung ini

11

lama-kelamaan akan mengakibatkan gejala-gejala dan tanda-tanda gagal jantung


mulai tampak.
Angina pektoris juga dapat terjadi pada penderita hipertensi yang
disebabkan oleh karena kombinasi dari kelainan pembuluh darah koroner dan
peningkatan kebutuhan oksigen sebagai akibat dari peningkatan massa jantung.
Iskemia dan infark miokard akan terjadi pada tahap lanjut dari perjalanan penyakit
yang dapat mengakibatkan kematian.3
2) Efek Neurologis
Efek neurologis jangka panjang dari hipertensi dapat dibagi menjadi efek
pada sistem saraf pusat dan efek pada retina. Oklusi atau perdarahan merupakan
penyebab dari timbulnya efek-efek neurologis ini. Infark serebral merupakan
akibat dari proses aterosklerosis (oklusi) yang sering ditemukan pada pasien
hipertensi. Sedangkan perdarahan serebral adalah hasil dari peningkatan tekanan
darah

yang

kronis

sehingga

mengakibatkan

terjadinya

mikroaneurisma.

Mikroaneurisma ini sewaktu-waktu dapat pecah dan menimbulkan perdarahan.3


Retinopati akibat hipertensi dapat disebabkan oleh efek-efek seperti
penyempitan tak teratur dari arteriol retina atau perdarahan pada lapisan serat saraf
dan lapisan pleksiform luar.3
Sakit kepala yang sering terjadi di pagi hari, pusing, vertigo, tinnitus,
pingsan dan penglihatan kabur merupakan gejala-gejala hipertensi yang berasal dari
efek neurologis. Efek neurologis paling berbahaya adalah kematian dan kebutaan
yang merupakan dua hal yang paling ditakutkan terjadi pada penderita hipertensi.3
3) Efek pada Ginjal
Aterosklerosis yang terjadi pada arteriol aferen dan eferen serta kapiler
glomerulus merupakan penyebab yang paling umum dari kelainan ginjal oleh

12

karena hipertensi. Akibatnya adalah terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus dan
juga disfungsi dari tubulus ginjal. Proteinuria dan hematuria mikroskopis terjadi
oleh karena kerusakan glomerulus. Kematian oleh karena hipertensi, 10% di
antaranya diakibatkan oleh gagal ginjal.3

2.5

Penatalaksanaan Hipertensi
a) Prinsip Penanganan
Prinsip penanganan hipertensi adalah mengusahakan agar tekanan darah
penderita tetap di dalam batas normal dan jika terjadi kenaikan seiring dengan
bertambahnya usia, maka kenaikannya tersebut tidak terlalu tinggi. Hal ini
dilakukan agar risiko morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular dan
penyakit ginjal dapat dikurangi. Target tekanan darah yang harus dicapai adalah
<140/90 mmHg. Pada penderita diabetes dan penyakit ginjal, targetnya lebih
rendah, yaitu <130/80 mmHg.5
Penelitian-penelitian

menunjukkan,

bahwa

penanganan

hipertensi

mempunyai keuntungan seperti :5


(1) Mengurangi insidensi kasus stroke rata-rata sebesar 35-40%.
(2) Mengurangi insidensi infark miokard rata-rata sebesar 20-25%.
(3) Mengurangi insidensi gagal jantung rata-rata >50%.
Penanganan hipertensi dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
memperbaiki pola hidup dan dengan terapi farmakologis. Perbaikan pola hidup
perlu dilakukan, terutama jika penderita sudah termasuk dalam kategori
prehipertensi. Sedangkan pada penderita yang sudah mencoba perubahan pola
hidup tetapi tetap gagal mencapai target (<140/90 mmHg) , maka terapi
farmakologi perlu dimulai.5

13

Pada kebanyakan penderita hipertensi, terutama yang berusia di atas 50


tahun, mengurangi tekanan darah sistol lebih sulit daripada mengurangi tekanan
darah diastol. Oleh karena itu, tekanan darah sistol harus menjadi perhatian utama
dalam menangani hipertensi.5
(1) Perbaikan Pola Hidup
Terapi nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup terdiri dari :
1. Menghentikan merokok
2. Menurunkan berat badan berlebih
3. Menurunkan konsumsi lkohol berlebih
4. Latihan fisik
5. Menurunkan asupan garam
6. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak.
Penerapan pola hidup sehat oleh semua orang merupakan hal yang
penting untuk pencegahan hipertensi dan merupakan bagian yang tidak boleh
dilupakan dalam penanganan penderita hipertensi. Penurunan berat badan
sebesar 4,5 kg saja sudah dapat mengurangi tekanan darah, walaupun yang
diutamakan adalah pencapaian berat badan yang ideal. Tekanan darah juga
dapat dikendalikan dengan penerapan pola makan yang dibuat oleh DASH
(Dietary Approaches to Stop Hypertension). Pola makan yang baik menurut
DASH adalah diet kaya akan buah-buahan, sayur-sayuran dan produk susu
yang rendah lemak(lowfat). Asupan natrium juga harus dibatasi agar tidak lebih
dari 100 mmol per hari (2,4 gr natrium). Semua orang yang mampu sebaiknya
melakukan aktivitas fisik aerobik yang teratur seperti jalan cepat sekurangkurangnya 30 menit setiap hari. Asupan alkohol harus dibatasi agar tidak lebih
dari 1 ons (30mL) etanol per hari untuk pria. Sedangkan untuk wanita dan

14

orang yang berat badannya ringan, dibatasi agar tidak lebih dari 0,5 ons (15ml)
etanol per hari.5
(2) Terapi Farmakologis
Ada berbagai macam obat antihipertensi yang tersedia. Tabel 2 memuat
daftar obat-obat yang biasanya digunakan sebagai obat antihipertensi. Dosis
dan frekuensi pemberiannya juga tertera.5
Lebih dari 2/3 penderita hipertensi tidak dapat dikendalikan dengan
hanya satu obat saja dan membutuhkan dua atau lebih kombinasi obat
antihipertensi dari kelas yang berbeda. Diuretik merupakan obat yang
direkomendasikan sebagai obat yang pertama kali diberikan, jika penderita
hipertensi memerlukan terapi farmakologis, kecuali jika terdapat efek
samping.5
Semua obat antihipertensi bekerja pada salah satu atau lebih tempat
pengaturan tekanan darah berikut:8
1. Resistensi arteriol
2. Kapasitansi venule
3. Pompa jantung
4. Volume darah
Obat-obat antihipertensi tersebut juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
tempat kerja utamanya, antara lain:8
1. Diuretik yang menurunkan tekanan darah dengan mengurangi kandungan
natrium tubuh dan volume darah
a. Thiazide diuretic
b. Loop diuretic
c. Potassium sparing diuretic

15

2. Agen-agen simpatoplegia yang menurunkan tekanan darah dengan


mengurangi resistensi pembuluh darah perifer, menghambat kerja jantung
dan meningkatkan kapasitansi darah dengan memvasodilatasi vena
a. Beta-blocker
b. Alpha-1 blocker
c. Central alpha-2 agonist
3. Vasodilator direk yang menurunkan tekanan darah dengan merelaksasi otot
polos pembuluh darah, sehingga menurunkan resistensi dan meningkatkan
kapasitansi pembuluh darah.
a. Calcium channel blocker
b. Hydralazine
c. Minoxidil
4. Agen yang menghambat produksi atau kerja dari angiotensin sehingga
menurunkan resistensi pembuluh darah perifer dan juga volume darah.
a. Angiotensin Converting Enzyme inhibitor
b. Angiotensin II antagonist
c. Aldosterone receptor blocker
Kenyataan bahwa obat-obat dari golongan yang berbeda ini bekerja
dengan mekanisme yang berbeda pula, membuat kombinasi obat-obat yang
berbeda golongan tersebut dapat meningkatkan efektifitas dan juga dalam
beberapa kasus menurunkan toksisitas dari terapi farmakologis.8

16

Gambar 2. Algoritma Penanganan Hipertensi5


Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah :9
1.

CCB dan ACEI atau ARB

2.

CCB dan BB

3.

CCB dan diuretika

4.

AB dan BB

5.

Kadang diperlukan tiga atu empat kombinasi obat

Penanganan Hipertensi pada Kasus-kasus Tertentu


Hipertensi dapat terjadi bersamaan dengan kondisi-kondisi lain sehingga
terdapat beberapa indikasi tertentu dalam pemilihan obat-obatan antihipertensi.
JNC VII memberikan rekomendasi terhadap kasus-kasus tersebut yang dapat
dilihat pada tabel berikut :5
Tabel 2. Pedoman untuk kasus-kasus hipertensi tertentu.5
17

b) Evaluasi dan Pemantauan


Setelah terapi farmakologis untuk hipertensi dimulai, penderita hipertensi
harus kontrol secara teratur untuk memantau perkembangannya setidaknya sebulan
sekali sampai tekanan darahnya normal. Kunjungan yang lebih sering diperlukan
pada penderita hipertensi derajat 2 (stage II) atau jika mempunyai komplikasi.
Kadar kalium dan kreatinin serum harus dimonitor setidaknya satu atau dua kali
setahun.5
Setelah tekanan darah mencapai target dan stabil, kunjungan dapat
dilakukan dengan interval tiga bulan sekali atau enam bulan sekali. Jika ada
penyakit lain seperti gagal jantung dan diabetes, kunjungan harus lebih sering
dilakukan.5

18

Tabel 3. Rekomendasi pemantauan ulang berdasarkan pemeriksaan tekanan darah


awal untuk pasien tanpa kerusakan organ target.5

2.6

Pencegahan Dan Penanganan Hipertensi


Pencegahan dan penanganan hipertensi merupakan tantangan yang perlu
dihadapi oleh ilmu kesehatan masyarakat. Jika kenaikan tekanan darah seiring
bertambahnya usia dapat dicegah, maka akan terdapat banyak penyakit
kardiovaskular, stroke dan penyakit ginjal yang dapat dicegah. Beberapa faktor
penyebab hipertensi telah diidentifikasi, termasuk kelebihan berat badan, kelebihan
asupan natrium, kurangnya aktivitas fisik, kekurangan diet buah-buahan dan sayursayuran, serta tingginya konsumsi minuman beralkohol.5
Oleh karena, risiko kejadian seumur hidup (lifetime risk) hipertensi adalah
sangat tinggi, maka diperlukan suatu strategi di bidang ilmu kesehatan masyarakat
yang mencakup pencegahan dan penanganan hipertensi. Sebagai upaya untuk
mencegah kenaikan tekanan darah dalam suatu populasi, pencegahan utama
19

ditujukan pada pengurangan faktor-faktor penyebab pada populasi tersebut.


Individu-individu yang termasuk dalam kategori prehipertensi perlu diberi
perhatian lebih.5
Walaupun penurunan tekanan darah dari suatu populasi hanya menghasilkan
penurunan yang kecil, namun dampaknya akan sangat besar. Sebagai contoh, telah
diperhitungkan bahwa jika terdapat penurunan tekanan darah sistol sebesar 5
mmHg pada suatu populasi, maka akan menghasilkan penurunan sebesar 14 % dari
mortalitas karena stroke, 9 % dari kematian akibat penyakit jantung koroner dan 7
% dari kematian akibat semua penyebab.5
Hambatan dalam pencegahan hipertensi ini adalah kebudayaan masyarakat;
tidak adanya perhatian terhadap kegiatan pendidikan kesehatan oleh para praktisi di
bidang kesehatan; kurangnya dana untuk program-program pendidikan kesehatan;
kurangnya akses terhadap sarana-sarana olahraga; besarnya porsi makanan di
tempat-tempat makan umum; kurangnya ketersediaan makanan sehat di tempattempat umum seperti sekolah, tempat kerja, dan restoran; kurangnya kegiatan
olahraga di sekolah; tingginya kandungan natrium dari produk-produk makanan
yang dibuat oleh industri pangan dan restoran-restoran; mahalnya harga-harga
makanan sehat.5
Upaya untuk menghadapi hambatan-hambatan tersebut memerlukan
pendekatan menyeluruh yang ditujukan tidak hanya pada populasi dengan risiko
tinggi, tetapi juga pada masyarakat secara umum seperti sekolah, tempat kerja dan
industri makanan. Rekomendasi yang dilakukan oleh American Public Health
Association dan juga National High Blood Pressure Education Program
(NHBPEP) Coordinating Committee agar industri pangan termasuk restoranrestoran untuk mengurangi kandungan natrium pada produk-produknya sebesar 50

20

% dalam waktu 10 tahun ke depan, adalah tipe pendekatan yang jika diterapkan,
akan mengurangi tekanan darah populasi.5
Beberapa bentuk pencegahan penyakit hipertensi antara lain :
1) Pencegahan primordial
2) Promosi kesehatan
3) Proteksi dini : kurangi garam sebagai salah satu faktor risiko
4) Diagnosis dini : screening, pemeriksaan/check-up
5) Pengobatan tepat : segera mendapatkan pengobatan komperhensif dan kausal
awal keluhan
6) Rehabilitasi : upaya perbaikan dampak lanjut hipertensi yang tidak bisa diobati

2.7 Edukasi Pasien Hipertensi


Modifikasi gaya hidup yang penting yang terlihat menurunkan tekanan
darah adalah mengurangi berat badan untuk individu yang obes atau gemuk;
mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang
kaya akan kalium dan kalsium; diet rendah natrium; aktifitas fisik; dan
mengkonsumsi alkohol sedikit saja. Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan
tekanan darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi; mengurangi garam
dan berat badan.
JNC VII menyarankan pola makan DASH yaitu diet yang kaya dengan
buah, sayur, dan produk susu redah lemak dengan kadar total lemak dan lemak
21

jenuh berkurang. Natrium yang direkomendasikan < 2.4 g (100 mEq)/hari. Aktifitas
fisik dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga aerobik secara teratur paling tidak
30 menit/hari beberapa hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien. Studi
menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan
menggunakan sepeda, dapat menurunkan tekanan darah.
Keuntungan ini dapat terjadi walaupun tanpa disertai penurunan berat
badan. Pasien harus konsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olah-raga
mana yang terbaik terutama untuk pasien dengan kerusakan organ target.
Merokok merupakan faktor resiko utama independen untuk penyakit
kardiovaskular. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling berhubungan
dengan resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.

Modifikasi

Rekomendasi

Kira-kira penurunan
tekanan darah, range

Penurunan berat badan

Pelihara berat badan normal

5-20 mmHg/10-kg

(BB)

(BMI 18.5 24.9)

penurunan BB

Adopsi pola makan DASH

Diet kaya dengan buah,

8-14 mm Hg

sayur, dan produk susu


rendah lemak
Diet rendah sodium

Mengurangi diet sodium,

2-8 mm Hg

tidak lebih dari 100meq/L


(2,4 g sodium atau 6 g
sodium klorida)

22

Aktifitas fisik

Regular aktifitas fisik,

4-9 mm Hg

seperti jalan kaki 30


menit/hari, beberapa
hari/minggu
Minum alkohol sedikit

Limit minum alkohol tidak

saja

lebih dari 2/hari (30 ml

2-4 mm Hg

etanol untuk laki-laki dan


1/hari untuk perempuan
Hyman DJ et al. 2001. Characteristic Of Patients With Uncontrolled Hypertension In The
United States. NEJM 2001;345:479-486

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Sebab Masalah


a) Manusia
1) Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit, pengobatan dan
pencegahan hipertensi

Rencana : Melakukan penyuluhan individu dan massal di dalam dan di luar


gedung mengenai penyakit, pengobatan dan pencegahan hipertensi

Pelaksana : Petugas promosi kesehatan, Dokter Muda dan kader di lapangan

Target : Masyarakat mengerti dan memahami tentang hipertensi berikut


pengobatan dan pencegahannya serta mampu menerapkan pola hidup sehat

23

Sasaran: Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo

2) Masih banyak masyarakat yang melakukan pola hidup yang tidak sehat seperti
suka mengonsumsi makanan tinggi kolesterol, merokok dan kurang berolahraga

Rencana : Melakukan penyuluhan tentang pentingnya pola makanan rendah


kolesterol dan tinggi serat, serta berolah raga 2X seminggu, dan pentingnya
berhenti merokok.

Pelaksana : Petugas promosi kesehatan, Dokter Muda, dan pelaksana (kader )


gizi.

Target : Masyarakat memahami tentang pola makan yang sehat dan gaya hidup
sehat dengan rajin berolahraga dan tidak merokok.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

3) Banyak penderita hipertensi yang tidak mematuhi jadwal control dan


nasehat sehingga pengobatan penyakitnya tidak maksimal

Rencana : Melakukan penyuluhan tentang pentingnya melakukan kontrol rutin


dan pemahaman bahwa hipertensi penyakit yang tidak bisa sembuh dan harus
selalu di lakukan pengontrolan dan pengendalian agar tidak berbahaya di
kemudian hari dengan pengobatan yang maksimal.

Pelaksana : Petugas promosi kesehatan, dokter puskesmas, dokter muda, dan


kader.

Target : Masyarakat memahami dan mengerti tentang pentingnya pengontrolan


penyakit hipertensi agar tidak terjadi komplikasi lanjut.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

b) Metode

24

1) Belum optimalnya metode penyuluhan mengenai penyakit, pengobatan dan


pencegahan hipertensi dimana penyuluhan yang dilakukan kurang interaktif dan
komunikatif (komunikasi satu arah).

Rencana: Merekomendasikan cara penyuluhan dengan komunikasi yang dua


arah baik di dalam maupun di luar gedung dalam rapat dengan pimpinan
Puskesmas, pemegang program promosi kesehatan dan petugas Puskesmas.

Pelaksana: Dokter muda

Target: Puskesmas dapat menerapkan metode penyuluhan dengan komunikasi


yang dua arah baik di dalam maupun di luar gedung.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

2) Belum adanya program pendampingan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi


obat dan pengontrolan gaya hidup penderita hipertensi.

Rencana : Mengaktifkan kembali program perkesmas untuk mendampingi


pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat dan mengontrol gaya hidupnya.

Pelaksana : Petugas Puskesmas, dokter puskesmas, kader

Target : Pasien hipertensi terkontrol dalam mengkonsumsi obat dan gaya hidup
sehat.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

c) Material
Kurangnya media penyuluhan mengenai hipertensi yang menarik di Puskesmas
Nan Balimo maupun di tempat-tempat umum.

Rencana : Pengadaan/membuat media penyuluhan yang menarik untuk


hipertensi (seperti video,pamflet,leaflet )

Pelaksana : Petugas Puskesmas (promosi kesehatan, gizi), Dokter muda dan


kader

25

Target : Meningkatnya ketersediaan media informasi yang berkaitan dengan


hipertensi.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

d) Lingkungan
1) Budaya dari masyarakat Minang yang gemar mengonsumsi makanan tinggi
kolesterol dan tinggi garam.

Rencana : Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pola


makanan yang sehat.

Pelaksana : Petugas Puskesmas (promosi kesehatan, gizi), Dokter Muda

Target : Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola makanan


sehat.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo

2) Kebiasaaan merokok pada masyarakat Minang terutama bagi pria yang masih
sulit diubah

Rencana : Memberikan penyuluhan yang lebih gencar dan pemahaman tentang


bahaya merokok dan akibat-akibat yang akan di timbulkan oleh rokok

Pelaksana : Petugas promosi kesehatan, dokter muda

Target : Masyarakat menghentikan kebiasaan merokok terutama bagi pria.

Sasaran : Seluruh warga masyrakat di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo.

3.2 Rencana Pelaksanaan Program


a) Tahap Persiapan

Rapat evaluasi masingmasing program seperti promosi kesehatan, gizi, KIA


KB, dan imunisasi khususnya tentang kinerja kader posyandu berupa rapat
internal.

26

Kemudian dilakukan rapat dengan pimpinan puskesmas, lurah/camat,


pemegang program lain dalam rangka peningkatan kerjasama lintas program
dan lintas sektor.

b) Tahap Pelaksanaan

Melakukan penyuluhan individu dan massal di dalam dan di luar gedung


mengenai penyakit, pengobatan dan pencegahan hipertensi.

Melakukan penyuluhan tentang pentingnya pola makanan rendah kolesterol


dan tinggi serat,serta berolah raga 2X seminggu, dan pentingnya berhenti
merokok.

Melakukan penyuluhan tentang pentingnya melakukan kontrol rutin dan


pemahaman bahwa hipertensi penyakit yang tidak bisa sembuh dan harus
selalu di lakukan pengontrolan dan pengendalian agar tidak berbahaya di
kemudian hari dengan pengobatan yang maksimal.

Merekomendasikan cara penyuluhan dengan komunikasi yang dua arah baik di


dalam maupun di luar gedung dalam rapat dengan pimpinan Puskesmas,
pemegang program promosi kesehatan dan petugas Puskesmas.

Mengaktifkan kembali program puskesmas untuk mendampingi pasien


hipertensi dalam mengkonsumsi obat dan mengontrol gaya hidupnya.

Pengadaan/membuat media penyuluhan yang menarik untuk hipertensi (seperti


video,pamflet,leaflet )

Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pola makanan yang


sehat

Memberikan penyuluhan yang lebih gencar dan pemahaman tentang bahaya


merokok dan akibat-akibat yang akan di timbulkan oleh rokok.

c) Tahap Evaluasi

27

Evaluasi tingkat program dilakukan rutin setiap bulan setelah pelaksanaan


program melalui pendataan dari masing-masing sub program bidang promosi
kesehatan, gizi, balai pengobatan, dan analisa hasil laboratorium.

Evaluasi dalam Lokal karya mini (Lokmin) juga dilakukan untuk pelaporan
kinerja dan penilaian koordinasi lintas program.

Indikator keberhasilan program ini adalah banyaknya angka kunjungan pada


tiap posyandu dan puskesmas pada tiap bulannya dan tekanan darah pada
pasien yang terdata sebagai penderita hipertensi mengalami penurunan sampai
mencapai tekanan darah normal dan dapat dipertahankan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan sistolik 140 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg.

Faktor resiko hipertensi, seperti : diet dan asupan garam, genetik, usia, jenis
kelamin, etnis/ras, obesitas, merokok.

Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik, serta aktivitas
fisik yang cukup seperti olahraga secara teratur. Selain itu dengan menghindari
kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol, serta konsumsi

28

natrium/sodium yang berlebih seperti garam dapur yang berlebihan, penyedap rasa
(MSG). Selain itu, dengan melakukan diagnosis dini sebagai cara pencegahan.

4.2 Saran
Penulis berharap alternatif pemecahan masalah POA ini dapat terlaksana
dan terealisasi dengan baik sehingga kedepannya pelaksanaan Posyandu Puskesmas
Nan Balimo menjadi lebih baik.
Upaya yang penulis sarankan adalah melakukan penyuluhan dengan topik
berbeda tiap bulannya untuk seluruh masyarakat di Wilayah Puskesmas Nan
Balimo, topik tersebut diantaranya adalah melakukan penyuluhan mengenai
penyakit, pengobatan dan pencegahan hipertensi, melakukan penyuluhan tentang
pentingnya pola makanan rendah kolesterol dan tinggi serat,serta berolah raga 2X
seminggu, dan pentingnya berhenti merokok dan melakukan penyuluhan tentang
pentingnya melakukan kontrol rutin bagi yang berisiko penyakit hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Whelton PK. Epidemiology and the prevention of hypertension. J Clin Hypertens.


2004; 6(11):636-42.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2001.
Jakarta : 2002.
3. Fisher NDL, Williams GH. Hypertensive vascular disease. In : Kasper DL, Fauci
AS, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, et all, editors. Harrisons principle of
internal medicine. 16th edition. New York : McGraw Hill; 2005. p. 1463-80.
4. Bay Area Medical Information (BAMI). Hypertension. 2006. (cited 2006 July 7).
Available from : URL : http://www.bami.us/HTN.htm.
5. U.S. Department of Health and Human Services. The Seventh Report of the Joint
National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure. National Institute of Health : 2004.

29

6. Lane DA, Lip GYH. Ethnic differences in hypertension and blood pressure control
in th UK. Q J Med. 2001; 94:391-6.
7. Chang L. Hypertension : high blood pressure and atherosclerosis. In : WebMD
medical reference. 2005. (cited 2006 July 7). Available from : URL :
http://www.webmd.com/content/article/96/103778.htm.
8. Benowitz NL. Antihypertensive agents. In : Katzung, Bertram G, editor. Basic &
clinical pharmacology. 9th edition. Singapore : The McGraw-Hill Companies, Inc.;
2004.p.160-83.
9. Sudoyo A, Setyohadi B,Alwi I, K.Marcellius S,Setati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi V. Jakarta : Internal publishing,2009.

30