Anda di halaman 1dari 11

1

I.

Pendahuluan
Secara historis zaman terus berkembang melalui hirarkis perkembangan yang

terus dibarengi pula dengan perubahan-perubahan sosial, dimana dua hal ini selalu
berjalan beriringan. Keberadaan manusia yang dasar pertamanya bebas, menjadi hal yang
problematis ketika ia hidup dalam komunitas sosial. Kemerdekaan dirinya mengalami
benturan dengan kemerdekaan individu-individu lain atau bahkan dengan mahlukyang
lain. Sehingga ia terus terikat dengan tata kosmik,

bahwa bagaimana ia harus

berhubungan dengan dengan orang lain, dengan alam, dengan dirinya sendiri maupun
dengan Tuhannya. Maka muncullah tata aturan, norma atau nilai-inilai yang menjadi
kesepakatan universal yang harus ditaati. Dimana manusia harus selalu menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaaan. Ia harus memegangi aturan yang berlaku mengatur hidup
manusia.1
Munculnya teori hukum tidak dapat dilepaskan dari lingkungan zaman yang terus
berkembang, karena teori hukum hadir sebagai salah satu jawaban yang diberikan
terhadap permasalahan hukum atau menggugat satu pemikiran hukum yang dominan
pada suatau masa. Oleh karena itu, meskipun teori hukum mengajukan pemikiran secara
universal tapi dalam peoses perkembangannya berjalan secara bijaksana. 2
Dalam perkembangannya Teori Hukum memiliki berbagai macam aliran, dari
teokrasi, madzhab hukum alam, aliran positivisme sampai teori hukum sejarah, dan
masing-masing memiliki perpesktif berbeda tentang hukum. Pada makalah ini penulis
akan menguraikan tentang kajian teori hukum sejarah yang digegas oleh Friedrich Carl
von Savigny, seorang yuris Jerman yang sukses membuat Jerman tidak mengkodifikasi
hukum perdata selama hampir 100 tahun.
Definisi Sejarah
Istilah sejarah dalam bahasa Arab dikenal dengan tarikh, dari akar kata arrakha
(a-rk-h), yang berarti menulis atau mencatat, dan catatan tentang waktu serta peristiwa.
Akan tetapi, istilah tersebut tidak hanya berasal dari kata ini, ada yang berpendapat
bahwa istilah sejarah berasal dari istilah bahasa Arab syajaroh, yang berarti pohon atau
silsilah. Makna silsilah inl ebih tertuju pada makna padanan tarikh, termasuk padanan
1

Abdul Ghfur Anshori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan.


Yogyakarta. Gajah Mada University Press, 2006, hal 1
2
Juhaya S Praja, Teori Hukum dan Aplikasinya, Bandung . Pustaka Setia 2011,
hal 53

pengertian abad, mitos, legenda dan seterusnya. Syajaroh berarti terjadi. Sedangkan
syajarah an-nasab berarti pohon silsilah.
Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal- muasal istilah sejarah yang dipakai
dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi.

Meskipun demikian,

banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal dari bahasa Yunani, historia. Dalam
bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia,
bahasa Jerman geschihte, yang bermakna yang terjadi, dan dalam bahasa Belanda dikenal
dengan geschiedenis.
Menurut pengertian istilah, kata sejarah juga memiliki beberapa versi. Redaksi
R.G Collingwood, misalnya mendefinisikan sejarah sebagai ungkapan history is the
history of thought (sejarah adalah sejarah pemikiran), history is kind of research or
inquiry (sejarah adalah sejenis penelitian atau penyelidikan). Collingwood memaknai
sejarah (dalam arti penulisan sejarah historiografi), seperti membangun dunia fantasi (are
people who build up a fantasy world). 3
Teori Hukum Sejarah
Aliran teori sejarah dipelopori Friedrich Carl von Savigny (Volk geist) hukum
kebiasaan sebagai sumber hukum formal. Hukum tidak dibuat melainkan tumbuh dan
berkembang bersama sama dengan masyarakat. Pandangannya bertitik tolak bahwa di
dunia ini terdapat banyak bangsa dan tiap-tiap bangsa memiliki volksgeist jiwa rakyat.
Savigny berpendapat bahwa semua hukum berasal dari adat-istiadat dan kepercayaan
dan bukan berasal dari pembentukan undang-undang .4 Penggegas teori ini melihat
hukum sebagai entitas yang organis-dinamis. Hukum menurut teori ini, dipandang
sebagai sesuatu yang natural, tidak dibuat, melainkan hidup dan berkembang bersama
masyarakat. Hukum bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis karena akan
senantiasa

berubah

seiring

dengan

perubahan

tata

nilai

di

masyarakat.

Hukum bersumber dari jiwa rakyat (volksgeist) dan karenanya undang-undang tidak

3
. Moh Hsbullah dan Dedi Supriyadi, Filsafat Sejarah. Bandung, CV Pustaka
Setia 2012., halal 21-22
4
Lili Rasjidi, Ira Thania Rasjidi. Bandung, Pengantar Filsafat Hukum: Mandar
Maju. 2002, hal 63.

begitu penting. Cerminan jiwa suatu bangsa tercermin dari hukumnya dan karenanya,
teori hukum hukum tidak dibuat, melainkan ditemukan dan bersumber dari jiwa rakyat.5
Asal Usul Teori Sejarah Hukum
Mazhab Teori Sejarah lahir pada awal abad ke-19, yaitu pada tahun 1814.
Lahirnya mazhab ini ditandai dengan diterbitkannya manuskrip yang ditulis oleh
Friedrich Karl von Savigny yang berjudul Vom Beruf unserer Zeit fur Gezetgebung und
Rechtwissenschaft (tentang seruan masa kini akan undang-undang dan ilmu hukum) .
Friedrich Karl von Savigny dipandang sebagai perintis lahirnya mazhab Sejarah .
Kelahiran mazhab yang dirintis oleh Savigny ini dipengaruhi oleh buku yang
berjudul L esprit des Lois (Semangat Hukum) karangan Montesquieu (1689-1755)
yang terbit pada tahun 1748. Dalam buku tersebut, Montesquieu mengemukakan bahwa
ada relasi yang kuat antara jiwa suatu bangsa dengan hukum yang dianutnya . Hukum
yang dilandasi dan dianut suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh jiwa bangsa yang
direpresentasikan oleh nilai-nilai dan tatanan sosial yang ada. Nilai dan tatanan sosial itu
bersifat dinamis, sehingga berimplikasi pada dinamisnya hukum.

Dengan kata lain

bahwa dinamisasi nilai-nilai dan tatanan sosial menyebabkan dinamisasi pada hukum
yang diperpegangi masyarakat.6 Teori sejarah hukum secara garis besar merupakan
reaksi terhadap tiga hal:
1. .Rasionalisme Abad ke-18 yang didasarkan atas hukum alam, kekuatan akal,
dan prinsip-prinsip dasar yang semuanya berperan pada filsafat hukum.
Karena mengandalkan jalan pikiran deduktif tanpa mempehatikan fakta
sejarah, kehuusan dan kondisi nasional.
2. Semangat Revolusi Perancis yang menentang wewenang tradisi dengan misi
kosmopolitannya (kepercayaan pada rasio dan daya kekuatan tekad manusia
untuk mengatasi lingkungannya, yaitu seruannya ke penjuru dunia).
3. Pendapat yang berkembang saat itu yang melarang hakim menafsirkan hukum
karena undang-undang dianggap dapat memecahkan semua masalah hukum.

http://panglimaw1.blogspot.com/2011/10/inti-ajaran-mazhab-sejarah.html.

diakses tanggal 11 November 2013 jam 10:12 Wib


6

http://asikinzainal.blogspot.com/2012/10/mashab-sejarah-hukum.html, Diakses
tanggal 12 November 2013, Jam 10 45 Wib.

Selain tiga poin diatas,, terdapat faktor lain, yaitu masalah kodifikasi hukum
Jerman setelah berakhirnya masa Napoleon Bonaparte, yang diusulkan oleh Thibaut
(1772-1840). Karena dipengaruhi oleh keinginannya akan kesatuan negara, ia
menyatakan keberatan terhadap hukum yang tumbuh berdasarkan sejarah. Hukum itu
sukar untuk diselidiki, sedangkan jumlah sumbernya bertambah banyak sepanjang masa,
sehingga hilanglah keseluruhan gambaran darinya. Karena itulah harus diadakan
perubahan yang tegas dengan jalan penyusunan undang-undang dalam kitab.
Savigny menolak hukum tersebut dengan argumen, asal usul kodifikasi hukum
Perdata Jerman bersumber dari Code Civil Perancis sedangkan Code Civil Perancis
sebenarnya bersumber dari kode Romawi. Oleh karena itu Savigny mengatakan bahwa
hukum Jerman tentulah tidak sama dengan hukum bangsa lain, sehingga apabila hendak
membuat

kodifikasi

hukum

haruslah

bersumber

pada

hukum

kebiasaan

masyarakat/bangsa Jerman yang melalui bantuan para ahli hukum untuk merumuskan
prinsip prinsip hukum dari hukum kebiasaan tersebut.7
1.

Tokoh- Tokoh Sejarah Hukum:


Friedrich Karl von Savigny (1770-1861)
Menurut Savigny, hukum timbul bukan karena perintah penguasa atau karena

kebiasaan, tetapi karena perasaan keadilan yang terletak di dalam jiwa bangsa itu. Jiwa
bangsa itulah yang menjadi sumber hukum. Pandangan Savigny ini bertentangan pula
dengan Positivisme Hukum. Ia mengingatkan bahwa untuk membangun hukum, studi
terhadap sejarah suatu bangsa mutlak diperlukan.
2.

Puchta (1798-1846)
Puchta berpendapat bahwa hukum suatu bangsa terikat pada jiwa bangsa yang

bersangkutan. Hukum tersebut menurut Puchta dapat berbentuk (1) langsung berupa adat
istiadat, (2) melalui undang-undang, (3) melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para
ahli hukum.
Menurut Puchta, keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus
disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Negara
mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Puchta mengutamakan
pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa sehingga akhirnya tidak ada tempat

http://radityakuntoro.blogspot.com/2012/02/aliran-aliran-filsafat-hukum.html.
Diakses pada tanggal 11 November 2013, Jam 8: 40 wib.

lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya yakni praktek hukum dalam adat istiadat bangsa
dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum.
3.

Henry Summer Maine (1822-1888)


Maine dianggap sebagai pelopor Mazhab Sejarah di Inggris. Salah satu

penelitiannya yang terkenal adalah tentang studi perbandingan perkembangan lembagalembaga hukum yang ada pada masyarakat sederhana dan masyarakat yang telah maju,
yang dilakukannya berdasarkan pendekatan sejarah.kesimpulan penelitian itu kembali
memperkuat pemikiran von Savigny yang membuktikan adanya evolusi pada berbagai
masyarakat dalam situasi sejarah yang sama.8
Pokok dan Doktri Ajaran Teori Hukum
Pokok Ajaran (Ideologi Hukum) Savigny

1.

Kesadaran sebangsa karena kebutuhan bathiniah, mengeksklusifkan (beda)


dengan bangsa lain, yang tidak mempunyai asal-usul yang sama, hukum tumbuh
bersama pertumbuhan bangsa/rakyat dan menjadi kuat bersama dengan kekuatan
bangsa dan akhirnya mati ketika suatu bangsa kehilangan kebangsaannya. 9 Inti
mazhab sejarah von Savigny berpangkal pada pendapat yang menyatakan bahwa di
dunia ini terdapat bermacam-macam bangsa. Tiap-tiap bangsa tersebut punya
Volkgeist (jiwa rakyat) sendiri-sendiri. Jiwa rakyat ini berbeda-beda, baik menurut
waktu dan menurut tempat. Jadi, tidak masuk akal jika terdapat hukum yang berlaku
universal dan pada semua waktu, kata von Savigny. Hukum, menurut von Savigny,
sangat bergantung atau bersumber pada jiwa rakyat. Hukum menurut von Savigny
berkembang dari suatu masyarakat sederhana yang pencerminannya nampak dalam
tingkah laku semua individu kepada masyarakat yang modern dan kompleks di mana
kesadaran hukum rakyat itu tampak pada apa yang diucapkan ahli hukumnya.

8
9

Raditya Kuntoro Op.Cit.

Purnadi Purbacaraka dan M Chidir Ali, Disiplin Hukum,. Bandung : Citra Aditya Bakti,
1990, hal 18

Inti dari mazhab sejarah von Savigny diurainya dalam bukuVon Beruf unserer
Zeit fur Gesetzgebung und Rechtswissenschsft (tentang tugas jaman kita bagi
pembentuk undang-undang dan ilmu hukum).10
2.

Doktrin-doktrin dari Mazhab Sejarah


a.

Hukum itu ditemukan bukan dibuat, pertumbuhan hukum merupakan


proses yang tidak disadari dan organis; maka dari itu perundang-undangan
adalah tidak begitu penting dibandingkan dengan kebiasaan.

b.

Hukum yang mulai tumbuh sebagai hubungan hukum/sikap tindak yang


sudah dipahami dalam masyarakat-masyarakat primitif kearah hukum
yang lebih kompleks dalam peradaban modern, menyebabkan kesadaran
hukum rakyat tidak dapat lagi menjelma secara langsung, tetapi diwakili
oleh sarjana hukum, yang merumuskan prinsip-prinsip hukum secara
teknis. Pembentukan Undang-undang adalah tahap akhir.

c.

Hukum

tidak

mempunyai

memperkembangkan

daya

kebiasaan

laku

universil.

hukumnya

sendiri;

Tiap

bangsa

Hal

tersebut

dikarenakan Volkgeist (jiwa bangsa) menjelmakan dirinya pada hukum


rakyat.
3.

Pandangan Savigny Terhadap Kodifikasi


Ia memandang rendah kekaguman pada kodifikasi hukum, yang modern di
Prusia, Austria dan Perancis (yang meniru Kodifikasi Romawi). Menurutnya
perlu studi ilmiah tentang system hukum tertentu, dalam perkembangan yang
kontinyu dan tiap-tiap generasi mengadaptasikan hukum itu sesuai dengan
kebutuhannya (contoh: corpus juris di Romawi sebelum terbentuk disesuaikan
dengan kebutuhannya).

4.

Keyakinan Savigny
a.

10

Ilmu Hukum lebih baik dari pembaharuan hukum.

http://mihuksw.edublogs.org/2011/01/28/pembentukan-dan-perkembanganmazhab-sejarah-dalam-hukum/ diakses tanggal 11 November 11: 45 Wib.

b.

Kesadaran (hukum) rakyat adalah sumber bagi segala hukum dan dalam
peradaban yang termaju. Oleh karena itu sarjana hukumlah yang
merumuskan kesadaran hukum rakyat menjadi prinsip-prinsip hukum.

5.

Penentang Ajaran Savigny


Besseler, Eichorn dan Gierke (Rationel Positivisem) menolak konsepsi
romantisem Savigny tentang paranan sejarah hukum sebagai penggarap
kesadaran hukum rakyat, karena hukum yang hidup dikalangan rakyat berbeda
dengan ilmu pengetahuan yang teknis dan artifisil (asli) dari sarjana hukum.

6.

Kelemahan Ajaran Savigny


Adalah suatu aspek yang ironis dari ajaran Savigny dan Puchta, bahwa
sementara menekankan watak kebangsaan dari segala hukum, mereka sendiri
mengambil inspirasi dari hukum Romawi dan dalam karya-karya utamanya
menyesuaikan (hukum Romawi) dengan kondisi modern.11
Selain hal diatas, Kelemahan dari teori Savigny, adalah tidak mengakui
pentingnya kodifikasi hukum. Padahal dalam masyarakat modern, ketentuan
hukum yang tertulis diperlukan demi terwujudnyaa kepastian hukum. Terutama
untuk menghindari tindakan kesewenang-wenangan dari kekuasaan yang absolut.
Kelemahan lain bahwa dengan mengakui hanya hukum yang hidup di tengah
masyarakat

dan mengabaikan arti pentingnya hukum kodifikasi, maka dapat

menimbulkan ketidak pastian hukum. Sebab seringkali hukum yang hidup di


tengah masyarakat berbentuk hukum tidak tertulis, tersimpan dalam memorie
pada pemangku hukum, dan para pemangku hukum tidak tertulis lambat laun
meninggal dan dilanjutkan oleh pemangku hukum berikutnya yang memiliki
perbedaan pemahaman dan tafsir atas hukum tidak tertulis itu, sehingga pada
suatu saat dan suatu tempat muncul tafsir tafsir hukum adat yang tidak sama atas
sebuah masalah.12
Madzhab Teori Sejarah Hukum di Indonesia
Banyak teori yang dimunculkan oleh ahli hukum untuk mencoba menemukan dan
menggagas ide tentang pengembanan hukum termasuk didalamnya pembentukan atau
11

Purnadi Purbacaraka dan M Chidir Ali, Op.Cit. hal. 19-24

12

Asikin Zainal. Op. Cit

pembaharuan hukum. Masing-masing teori berupaya mengajukan argumentasi atas


pendapatnya dengan menonjolkan keunggulan dari teori yang telah mereka bangun.
Biasanya suatu teori lahir sebagai akibat atau reaksi terhadap teori yang mendahuluinya.
Reaksi tersebut bisa berupa penolakan dan bisa juga justru memberikan dasar pijakan
yang lebih kuat terhadap teori sebelumnya.
Kelebihan pemikiran hukum dari madzab sejarah adalah sikap tegas yang
mengatakan bahwa hukum itu merupakan derivasi nilai-nilai yang dianut oleh suatu
masyarakat. Dalam kaitan itu dapat diasumsikan bahwa hukum yang demikian akan
mempunyai daya berlaku sosiologis. Oleh karena hukum pasti sesuai dengan kesadaran
hukum masyarakat. Tegasnya, satu-satunya sumber hukum menurut madzab ini adalah
kesadaran hukum suatu bangsa. Selanjutnya, kebaikan madzab ini adalah ditempatkannya
kedudukan hukum kebiasaan sejajar dengan undang-undang tertulis. Sikap semacam ini
dapat mencegah kepicikan orang akan wujud hukum yang utuh.
Di Indonesia pengaruh ajaran madzab sejarah sangat dirasakan, yakni dengan
lahirnya cabang ilmu hukum baru yang dikenal sebagai hukum adat, yang dipelopori oleh
Van Vollenhoven, Ter Haar serta tokoh-tokoh hukum adat lainnya. Demikian juga bagi
para ahli sosiologi, saran Savigny memperteguh keyakinan mereka bahwa antara sistem
hukum dan sistem sosial lainnya terdapat hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi. Keyakinan semacam itu akan menghasilkan suatu produk hukum yang
akan memiliki daya berlaku sosiologis.
Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa bagi Indonesia, pemikiran dan sikap
madzab ini terhadap hukum telah memainkan peranan yang penting dalam
mempertahankan ( preservation) hukum adat sebagai pencerminan dari nilai-nilai
kebudayaan

(asli)

penduduk pribumi

dan mencegah

terjadinya

pembaratan

(westernisasi) yang terlalu cepat, kalau tidak hendak dikatakan berhasil mencegahnya
samasekali, kecuali bagi sebagian kecil golongan pribumi.
Dalam konteks kekinian, lahirnya gerakan pemikiran hukum yang mengarah pada
pengoptimalisasian fungsi lembaga mediasi yang ada dilevel masyarakat grass root secara
tidak langsung dapat dikatakan sebagai pengaruh tidak langsung mazhab sejarah bagi
pemikiran hukum di Indonesia. Di Nusa Tenggara Barat gerakan ini mulai diawali di desa

Lebah Sempaga dan Desa Bagu yang telah membuat Balai Mediasi Desa yang sudah
mengarah kepada penggalian budaya dan kebiasaan masyarakat.13
Madzhab Teori Sejarah Hukum Dalam Syariah Islam
Dalam kajian Qowaidul Fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) terdapat satu kaidah adat
yang dijadikan pijakan oleh para mujtahid sebagai salah satu sumber hukum Syariah
Islam yaitu kaidah Al-aadah Muhakkamah14. Dalil dari kaidah adat yang muhakkamah ini
adalah hadis Nabi Saw :
.
"Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah,
dan apa saja yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut Allah-pun
digolongkan sebagai perkara yang buruk" (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab AlKabiir dari Ibnu Mas'ud)
Al-Qur'an maupun Al-hadis sebagai sumber utama syariah Islam memberikan
ruang dan tempat yang cukup agar manusia dapat mengatur sendiri hal-hal teknis yang
paling pas pada ruang, tempat dan waktu yang berbeda. Contoh kongkrit dari kaidah aladah muhakkamah ini seperti: ketentuan mahar mistl15 dalam akad nikah, standar batas
lama dan tidaknya waktu haid dan nifas, dan lain sebagainya.
Batasan-batasan tersebut ditentukan berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku baik
pada masyarakat secara menyeluruh, atau daerah tertentu atau kebiasaan secara individu.
Penutup
Savigny sebagai pengegas Madzhab teori Sejarah melihat hukum sebagai entitas
yang organis-dinamis. Hukum dipandang sebagai sesuatu yang natural, tidak dibuat,
melainkan hidup dan berkembang bersama masyarakat.
Hukum bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis karena akan senantiasa
berubah seiring dengan perubahan tata nilai di masyarakat. Hukum bersumber dari jiwa
13

http://saepudinonline.wordpress.com/2011/06/09/pengaruh-pemikiranmazhab-sejarah-dalam-pembaharuan-hukum/ Diaskes pada tanggal 12 November


2013 Jam 8:44 Wib.
14
Zakaria Al-ansori, Ghoyatul Wushul, Darul Fikr,Beirut 2002. hal 249
15
Mahar mistil adalah mahar yang kadar besar kecilnya disamakan dengan
adat dari keluarga pihak istri pada daerah tersebut yang diwajibkan kepada calon
suami untuk calon istri.

10

rakyat (volksgeist) dan karenanya undang-undang tidak begitu penting. Cerminan jiwa
suatu bangsa tercermin dari hukumnya dan karenanya, teori hukum hukum tidak dibuat,
melainkan ditemukan dan bersumber dari jiwa rakyat.
Savigny berpangkal pada pendapat yang menyatakan bahwa di dunia ini terdapat
bermacam-macam bangsa. Tiap-tiap bangsa tersebut punya Volkgeist (jiwa rakyat)
sendiri-sendiri. Jiwa rakyat ini berbeda-beda, baik menurut waktu dan menurut tempat.
Jadi, tidak masuk akal jika terdapat hukum yang berlaku universal dan pada semua
waktu.
Kelemahan teori sejarah ala Savingy adalah tidak mengakui adanya kodifikasi hukum
Padahal dalam masyarakat modern, ketentuan hukum yang tertulis diperlukan demi
terwujudnyaa kepastian hukum. Terutama untuk menghindari tindakan kesewenangwenangan dari kekuasaan yang absolut.
Teori sejarah hukum ternyata telah dipakai oleh Undang-undang Negara Indonesia ,
pemikiran dan sikap madzab ini terhadap hukum telah memainkan peranan yang penting
dalam mempertahankan ( preservation) hukum adat sebagai pencerminan dari nilainilai kebudayaan (asli) penduduk pribumi dan mencegah terjadinya pembaratan
(westernisasi) yang terlalu cepat, kalau tidak hendak dikatakan berhasil mencegahnya
samasekali, kecuali bagi sebagian kecil golongan pribumi.
Dalam syariah Islam, konsep hukum adat telah dilegalkan keberadaannya sebagai
pegangan hukum yang digali oleh para mujtahid dalam kajian Aadah Muhakkamahnya.
Daftar Pustaka
Al-ansori, Zakaria. Ghoyatul Wushul, Darul Fikr,Beirut 2002
Purnadi Purbacaraka dan M Chidir Ali, Disiplin Hukum,. Bandung : Citra Aditya
Bakti, 1990
Anshori, Abdul Ghfur. Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan.
Yogyakarta. Gajah Mada University Press, 2006
Moh Hsbullah dan Dedi Supriyadi, Filsafat Sejarah. Bandung, CV Pustaka Setia
2012
Lili Rasjidi, Ira Thania Rasjidi. Bandung, Pengantar Filsafat Hukum: Mandar Maju.
2002
S Praja, Juhaya. Teori Hukum dan Aplikasinya, Bandung . Pustaka Setia 2011
http://asikinzainal.blogspot.com/2012/10/mashab-sejarah-hukum.html
http://saepudinonline.wordpress.com/2011/06/09/pengaruh-pemikiran-mazhabsejarah-dalam-pembaharuan-hukum/
http://panglimaw1.blogspot.com/2011/10/inti-ajaran-mazhab-sejarah.html
http://radityakuntoro.blogspot.com/2012/02/aliran-aliran-filsafat-hukum.html.

11

http://mihuksw.edublogs.org/2011/01/28/pembentukan-dan-perkembanganmazhab-sejarah-dalam-hukum/

Anda mungkin juga menyukai