Anda di halaman 1dari 52

TETANUS

PEMBIMBING
Dr Eddy Sudarto, Sp.B
Hutomo Prawirohardjo
09711198

Identitas Pasien

Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 40 tahun
Alamat : Kedungmiri 08/03 Kasreman
Agama : Islam
Masuk RS
: 21/05/2015
Pekerjaan : Buruh
Nomer CM : 19873

Anamnesis
Diberikan oleh : Keluarga
Tanggal/pukul : 23/05/15, jam 11.00

Keluhan Utama
Kaku Semua

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh kaku semua dan sulit membuka
mulut sejak 1 hari yang lalu (21/05/15), kaku
terasa memberat pada bagian leher dan menjalar
ke perut yang dirasakan kaku seperti papan.
Keluhan kaku juga dirasakan pada kaki, hingga
merasa sulit digerakkan. Riwayat terkena
pecahan gelas yang menyebabkan luka pada kaki
kanan sebulan yang lalu. Pasien mengeluh nyeri
telan, sulit untuk makan, BAK (+), BAB , kaku
pada tangan (-) pasien sadar. Riwayat pemberian
ATS (-), pasien belum berobat semenjak terkena
luka pada kaki kanan.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Hipertensi (-), DM (-), Asma (-), Alergi
(-), keluhan serupa (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Hipertensi (-), DM (-), Asma (-), Alergi
(-), keluhan serupa (-).

Anamnesis Sistem
Sistem Cerebrospinal : pusing (-), demam, (-)
Sistem Cardiovaskular : nyeri dada (-), berdebardebar (-)
Sistem Respiratorius : sesak nafas (-), batuk
(-),pilek (-),
Sistem Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), BAB
(+), BAK (+), nyeri perut (-), kaku sperti papan (+)
Sistem Urogenitale : BAK (+)
Sistem Integumentum : gatal (-), kemerahan (-)
Sistem Musculoskeletal :kaku pada ekstremitas
(+), nyeri (-), pegal (-)

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Kondisi Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis

Tanda vital
Tekanan darah : 130/80
Nadi : 90
Respirasi : 24
Suhu : 36,5 C
Cephal : Anemis (-), Ikterik (-), dispneu (-),
trismus (+),kontraksi otot
wajah (+)
Leher : kaku pada leher (+)
Thorax
Cor : s1+s2, g(-), m (-)
Pulmo : v/v, rhonki (-), wheezing (-)
Abdomen : Bising usus (+), Soepel (-), nyeri perut (-),perut seperti papan
(+),
Extremitas : akral hangat kering merah, kekakuan pada ekstremitas
kaki dan tangan (+), luka sudah mengering (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Leukosit : 11,8
Hb
: 15,5 g/dL
Hct : 46,7
PLT : 220

DIAGNOSIS
Tetanus Sedang

TERAPI / TINDAKAN

Diazepam
Inj. Tetagram
Metronidazol
Antrain
Ranitidin
Oxtercid
Nacl

Pembahasan
Definisi tetanus
Tetanus adalah infeksi akut dengan
gangguan neuromuskuler akut berupa
trismus, kekauan dan kejang otot
disebabkan oleh eksotoksin spesifik
(tetanospasmin) dari kuman anaerob
Clostridium tetani. Terdapat beberapa
bentuk klinis tetanus termasuk didalamnya
tetanus neonatorum, tetanus generalisata
dan gangguan neurologis lokal.

Mikrobiologi
Infeksi tetanus disebabkan oleh
Clostridium tetani.
Bakteri ini tersebar luas, dengan
habitat alamnya di tanah.
Kuman ini mudah dikenal karena
pembentukan spora yang khas,
ujung sel menyerupai ujung tongkat.

bakteri gram positif berbentuk batang yang


selalu bergerak, dan merupakan bakteri
anaerob obligat yang menghasilkan spora.
Spora ini dapat bertahan selama bertahuntahun pada lingkungan tertentu,tahan
terhadap sinar matahari, spora ini terdapat
pada tanah debu sertatahan terhadap
pemanasan 100C, dan bahkan pada
otoklaf 120C selama15-20 menit

Dari berbagai kajian spora ini ditemukan pada :


- feses manusia feses kuda, anjing, dan kucing
- toksin diproduksi dalam bentuk vegetatifnya
bersifat resisten terhadap berbagai desinfektan
danpendidihan selama 20 menit.
Clostridium tetanimenghasilkan dua
eksotoksin, tetanolysin dant tetanospasmin.
- Fungsi tetanolysin tidak diketahui dengan pasti.
- Tetanospasmin adalah neurotoksin dan
menyebabkan manifestasi klinistetanus.

Epidemiologi
Tahun 2002, jumlah estimasi yang
berhubungan dengan kematian pada
semua kelompok adalah 213.000,
yang terdiri dari tetanus neonatorum
sebanyak 180.000 (85%).
Tetanus neonatorum menyebabkan
50% kematian perinatal dan
menyumbangkan 20% kematian bayi.

Patofisiologi

Manifestasi Klinis
Masa inkubasi kuman tetanus berkisar Masa inkubasi
berkisar antara 3-21 hari, sekitar 8 hari.
Berat penyakit berhubungan erat dengan masa inkubasi.
Yang paling sering terjadi adalah tetanus umum gejala
pertama yang terasa oleh pasien adalah
1. kaku otot masseter yang menggakibatkan gangguan
membuka mulut (trismus)
2. Timbul opistotonus yang disebabkan oleh kaku kuduk
kaku leher dan kaku punggung.
3. Dinding perut mejadi seperti papan, tampak resus
sardonikus karena kaku otot wajah dan keadaan
kekakuan ekstremitas dan sulit menelan

Yang paling sering terjadi adalah tetanus umum


gejala pertama yang terasa oleh pasien adalah
1. kaku otot masseter yang menggakibatkan
gangguan membuka mulut (trismus)
2. Timbul opistotonus yang disebabkan oleh kaku
kuduk kaku leher dan kaku punggung.
3. Dinding perut mejadi seperti papan, tampak
resus sardonikus karena kaku otot wajah dan
keadaan kekakuan ekstremitas dan sulit
menelan

Tetanus Generalista
Terdapat trias klinis berupa rigiditas,
spasme otot, dan disfungsi otonomik.
Kaku kuduk
nyeri tenggorokan
kesulitan membuka mulut sering
merupakan gejala awal tetanus.
Spasme otot masseter menyebabkan
trismus atau rahang terkunci.

Spasme secara progresif meluas ke otot


wajah yang menyebabkan ekspresi wajah
menyeramkan, risus sardonicus dan
meluas ke otot untuk menelan dan
menyebabkan disfagia.
Spasme ini dipicu oleh stimulus internal
dan eksternal dapat berlangsung secara
beberapa menit dan dirasakan nyeri.
Rigiditas otot leher menyebabkan retraksi
kepala.

Rigiditas tubuh menyebabkan


opistotonus dan gangguan respirasi
dengan menurunnya kelenturan
dinding dada.
Refleks tendon meningkat.
Pasien dapat demam, walaupun
banyak yang tidak, Sedangkan
kesadaran tidak terpengaruh.

Tetanus Neonatorum
Tetanus neonatorum terjadi dalam bentuk generalisata
dan biasanya fatal apabila tidak diterapi.
Tetanus neonatorum terjadi pada anak-anak yang
dilahirkan dari ibu yang tidak diimunisasi secara
adekuat, terutama setelah perawatan setelah potongan
tali pusat, kebersihan lingkungan dan kebersihan saat
mengikat dan memotong umbilikus.
Onset biasanya dalam 2 minggu pertama kehidupan.
Rigiditas, sulit menelan ASI, iritabilitas dan spasme
merupakan gambaran khas tetanus neonatorum.
Diantara neonatus yang terinfeksi, 90% meninggal dan
retardasi mental terjadi pada yang bertahan hidup.

Tetanus lokal
Tetanus lokal merupakan bentuk yang jarang
dimana manifestasi klinisnya terbatas hanya
pada otot-otot di sekitar luka.
Kelemahan otot terjadi akibat peran toksin pada
tempat yang berhubungan neuromuskuler.
Gejala-gejalanya bersifat ringan dan dapat
bertahan sampai berbulan-bulan.
Progresi ke tetanus generalisata dapat terjadi.
Namun demikian secara umum prognosismya
baik.

Tetanus sefalik
Tetanus sefalik merupakan bentuk
yang jarang dari tetanus lokal, yang
terjadi setelah trauma kepala atau
infeksi telinga.
Masa inkubasinya 1-2 hari.
Dijumpai trismus dan disfungsi satu
atau lebih saraf kranial, yang tersering
adalah saraf ke-7.
Disfagia dan paralisis otot ekstraokular
dapat terjadi.Mortalitasnya tinggi.

Derajat keparahan
Terdapat beberapa sistem
pembagian derajat keparahan
(Philsips,Dakar, Udwadia) yang
dilaporkan.

Derajat keparahan penyakit


didasarkan pada 4 tolak ukur, yaitu :
Masa inkubasi
port d entree
status imunologi
faktor yang memberatkan.

Berdasarkan jumlah angka yang


diperoleh, derajat keparahan
penyakit dapat dibagi menjadi :
tetanus ringan (angka < 9) sembuh
sendiri tanpa pengobatan
tetanus sedang (angka 9-16) sembuh
dengan pengobatan baku
tetanus berat (angka > 16) perlu
perawatan khusus yang intensif.

Klasifikasi beratnya tetanus oleh Ablett:


DERAJAT I (ringan) : Trismus ringan sampai
sedang, spasitisitas generalisata, tanpa
gangguan pernafasan, tanpa spasme,
sedikit atau tanpa disfagia.
DERAJAT II (sedang): Trismus sedang,
rigiditas yang tampak jelas, spasme
singkat sampai sedang, gangguan
pernafasan sedang dengan frekuensi
pernafasan lebih dari 30 kali per menit,
disfagia ringan.

DERAJAT III (berat): Trismus berat, spasitisitas


generalisata, spasme reflek berkepanjangan,
frekuensi pernafasan lebih dari 40 kali per
menit, serangan apnea, disfagia berat, dan
takikardi ( lebih dari 120 kali per menit).
DERAJAT IV (sangat berat): Derajat III dengan
gangguan otonomik berat, melibatkan sistem
kardiovaskuler, hipertensi berat dan takikardi
terjadi berselingan dengan hipotensi dan
bradikardi, salah satunya dapat menetap.

Terapi
Penatalaksanaan tetanus
Terdiri atas :
1. Pemberian antitoksin tetanus
2. Penatalaksanaan luka
3. Pemberian antibiotika
4. Penanggulangan kejang
5. Perawatan penunjang
6. Pencegahan komplikasi

Pemberian antitoksin
tetanus.
Pemberian serum dalam dosis terapetik
untuk ATS bagi orang dewasa adalah
sebesar 10.000 20.000 IU IM dan
untuk anak anak sebesar 10.000 IU
IM, untuk hypertet bagi orang dewasa
adalah sebesar 300 IU 6000 IU IM dan
bagi anak anak sebesar 3000 IU IM.
Pemberian antitoksin dosis terapetik
selama 2 5 hari berturut turut.

Penatalaksanaan luka
Eksisi dan debridemen luka yang
dicurigai harus segera dikerjakan 1
jam setelah terapi sera (pemberian
antitoksin tetanus). Jika
memungkinkan dicuci dengan
perhydrol. Luka dibiarkan terbuka
untuk mencegah keadaan anaerob.
Bila perlu di sekitar luka dapat
disuntikan ATS

Pemberian antibiotika
Obat pilihannya adalah Penisilin,
dosis yang diberikan untuk orang
dewasa adalah sebesar 1,2 juta IU/8
jam IM, selama 5 hari, sedang untuk
anak anak adalah sebesar 50.000
IU/kg BB/hari, dilanjutkan hingga 3
hari bebas panas.

Bila penderita alergi terhadap


penisilin, dapat diberikan tetrasiklin.
Dosis pemberian tetrasiklin pada
orang dewasa adalah 4 x 500
mg/hari, dibagi dalam 4 dosis.

Pengobatan dengan antibiotika


ditujukan untuk bentuk
vegetatifclostridium tetani,jadi
sebagai pengobatan radikal, yaitu
untuk membunuh kuman tetanus
yang masih ada dalam tubuh,
sehingga tidak ada lagi sumber
eksotoksin.

ATS atau HTIG ditujukan untuk


mencegah eksotoksin berikatan
dengan susunan saraf pusat
(eksotoksin yang berikatan dengan
susunan saraf pusat akan
menyebabkan kejang, dan sekali
melekat maka ATS / HTIG tak dapat
menetralkannya. Untuk mencegah
terbentuknya eksotoksin baru maka
sumbernya yaitu

Penanggulangan Kejang
Dahulu dilakukan isolasi karena
suara dan cahaya dapat
menimbulkan serangan kejang.

Perawatan penunjang
Dengan tirah baring, diet per sonde, dengan
asupan sebesar 200 kalori / hari untuk orang
dewasa, dan sebesar 100 kalori/kg BB/hari untuk
anak anak, bersihkan jalan nafas secara teratur,
berikan cairan infus dan oksigen, awasi dengan
seksama tanda tanda vital (sepertikesadaran,
keadaan umum, tekanan darah, denyut nadi,
kecepatan pernapasan), trismus (diukur dengan
cm setiap hari), asupan / keluaran (pemasukan dan
pengeluaran cairan), temperatur, elektrolit (bila
fasilitas pemeriksaan memungkinkan),
konsultasikan ke bagian lain bila perlu.

Pencegahan komplikasi
Mencegah anoksia otak dengan (1) pemberian
antikejang, sekaligus mencegah
laringospasme, (2) jalan napas yang memadai,
bila perlu lakukan intubasi (pemasangan tuba
endotrakheal) atau lakukan trakheotomi
berencana, (3) pemberian oksigen.
Mencegah pneumonia dengan membersihkan
jalan napas yang teratur, pengaturan posisi
penderita berbaring, pemberian antibiotika.
Mencegah fraktur vertebra dengan pemberian
antikejang yang memadai.

Komplikasi

Prognosis
Faktor yang mempengaruhi mortalitas
pasien tetanus:
- Masa inkubasi
- Periode awal pengobatan
- Imunisasi
- Lokasi fokus infeksi
- Penyakit lain yang menyertai
- Beratnya penyakit
- Penyulit yang timbul.

Klasifikasi prognostik menurut ColeSpooner


Kelompok
prognostik

Periode awal

Masa inkubasi

< 36 jam

6 hari

II

> 36 jam

>6 hari

III

Tidak diketahui

Tidak diketahui

Pasien yang termasuk dalam


kelompok prognostik I mempunyai
angka kematian lebih tinggi daripada
kelompok II dan III.
Perawatan intensifmenurunkan
angka kematian akibat kegagalan
napas dan kelelahan akibatkejang.
Selain itu, pemberian nutrisi yang
cukup ternyata juga
menurunkanangka kematian.

Matursuwun