Anda di halaman 1dari 24

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya

berkat rahmat-Nya lah paper yang berjudul “Hukum Agraria” dapat diselesaikan.

Di samping itu, tentu saja paper ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dan

dukungan dari pihak lain. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Pimpinan Universitas Pancasila

2. Ibu Ernie Dianawati, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing

3. Teman-teman dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan yang telah ikut serta

membantu penulis baik moril maupun material.

Penulis juga sadar bahwa paper yang telah dibuat ini sangat jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang nantinya berguna

dalam penyempurnaan paper ini. Penulis juga berharap agar apa yang penulis buat ini

dapat berguna bagi masyarakat dan negara yang tercinta ini.

Jakarta, Juli 2006

Penulis

i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

KONFLIK agraria di Indonesia merupakan soal super serius. Namun


penyelenggara negara tak pernah serius menanganinya. Dampaknya, pemenuhan rasa
keadilan bagi korban kian mengawang-awang. Kliping ini mengurai realitas konflik
agraria di Indonesia kini.
Konsorsium Pembaruan Agraria merekam 1.753 kasus konflik agraria
struktural, yaitu kasus-kasus konflik yang melibatkan penduduk berhadapan dengan
kekuatan modal dan/atau instrumen negara. Dengan menggunakan pengelompokan
masyarakat dalam tiga sektor, seperti dikemukakan Alexis Tocqueville (1805-1859),
konflik agraria struktural dapat dinyatakan sebagai konflik kelompok masyarakat sipil
"melawan" dua kekuatan lain di masyarakat, yakni: sektor bisnis dan/atau negara.
Sejak 1970 hingga 2001, seluruh kasus yang direkam KPA tersebar di 2.834
desa/kelurahan dan 1.355 kecamatan di 286 daerah (Kabupaten/Kota). Luas tanah
yang disengketakan tidak kurang dari 10.892.203 hektar dan mengorbankan
setidaknya 1.189.482 KK.
Kasus sengketa dan/atau konflik disebabkan kebijakan publik. Konflik yang
paling tinggi intensitasnya terjadi di sektor perkebunan besar (344 kasus), disusul
pembangunan sarana umum dan fasilitas perkotaan (243 kasus), perumahan dan kota
baru (232 kasus), kawasan kehutanan produksi (141 kasus), kawasan industri dan
pabrik (115 kasus), bendungan dan sarana pengairan (77 kasus), sarana wisata (73
kasus), pertambangan besar (59 kasus) dan sarana militer (47 kasus).
Posisi negara (yang direpresentasikan lembaga pemerintah, badan-badan usaha
milik negara/daerah, maupun institusi militer) kerap muncul sebagai "lawan" rakyat.
Tampilnya pemerintah sebagai lawan sengketa rakyat, sering terjadi pada berbagai
jenis sengketa: pembangunan sarana umum dan fasilitas perkotaan, perkebunan besar,
perumahan dan kota baru, bendungan dan sarana pengairan, sarana wisata, areal
kehutanan produksi, dan sarana militer.

Menyikapi rentetan peristiwa konflik agraria yang salah satunya melibatkan


militer, misalnya sengketa tanah di Pasuruan. Sudah saatnya pemerintah untuk

mengevaluasi dan mengambil tindakan tegas terkait dengan penguasaan militer di

lapangan agraria, baik untuk kepentingan latihan apalagi untuk kepentingan bisnis

militer.

B. Perumusaan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka kemudian muncul

suatu perumusan masalah dalam paper ini yaitu sebatas mengurai konflik agraria

atas hak milik khususnya yang melibatkan militer dan berkaitan dengan fungsi

sosial hak-hak atas tanah.

C. Tujuan

Adapun tujuan penulisan paper ini adalah :

1. Untuk mengetahui seberapa jauh hukum agraria berpengaruh


terhadap hukum yang berlaku di Indonesia.
2. Untuk mengetahui berlakunya hukum agraria di Indonesia
3. Untuk mengetahui penyelesaian dari konflik agraria.

D. Manfaat

Manfaat penulisan paper ini adalah :

1. Memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan hukum

tentang hukum agraria di Indonesia.

2. Sebagai sumbangan referensi bagi hukum agraria

khususnya di Indonesia.

3. Memberikan pengetahuan serta wawasan baik secara

teoritis maupun secara praktis terutama mengenai hukum

agraria.
E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan paper ini diantaranya yaitu:

 Bab I yaitu tentang Pendahuluan tentang penulisan kliping ini, yaitu terdiri

dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan , masalah, sitematika

penulisan, dan teknik pengumpulan data.

 Bab II yaitu tentang .

 Bab III yaitu sebagai penutup penulisan kliping ini, terdiri dari kesimpulan dan

saran.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam membuat paper ini adalah :

Studi Kepustakaan yaitu dengan membaca buku dan mengkaji buku-buku sumber

yang relevan dengan judul dan permasalahan yang diteliti.


BAB II

HUKUM AGRARIA

A. Definisi Hukum Agraria

Definisi hukum agraria (Prof. Budi Harsono) yaitu “Hukum agraria adalah
keseluruhan kaidah-kaidah hukum tertulis/ tidak tertulis mengenai bumi, air, dan
dalam batas-batas tertentu ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya.
Pengertian agraria dalam arti luas (UUPA) meliputi bumi, air dan

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dalam batas-batas seperti yang

ditentukan dalam pasal 48, bahkan meliputi juga ruang angkasa. Yaitu ruang di

atas bumi dan air yang mengandung: tenaga dan unsur-unsur yang dapat

digunakan untuk usaha-usaha memelihara dan memperkembangkan kesuburan

bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan hal-hal lainnya

yan bersangkutan dengan itu.

Pengertian agraria dalam arti sempit (UUPA) yaitu bumi meliputi

permukaan bumi (yang disebut tanah), tubuh bumi di bawahnya serta yang berada

di bawah air (pasal 1 ayat 4 jo pasal 4 ayat 1). Dengan demikian pengertian

“tanah” meliputi permukaan bumi yang ada di daratan dan permukaan bumi yang

berada di bawah air, termasuk air laut.

B. Hak-hak Penguasaan atas Tanah

Pengertian “penguasaan” dan “menguasai” dapat dipakai dalam arti fisik

dan yuridis. Juga berapek perdata dan beraspek publik.


Dalam UUD 1945 dan UUPA pengertian “dikuasai” dan “menguasai”

dipakai dalam aspek publik, seperti yang dirumuskan dalam pasal 2 UUPA.

Hierarkhi hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah Nasional kita,

yaitu:

1. Hak Bangsa Indonesia yang disebut dalam pasal 1, sebagai hak

penguasaan atas tanah yang tertinggi, beraspek perdata dan publik;

2. Hak Menguasai dari Negara yang disebut dalam pasal 2, semata-mata

beraspek publik;

3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat yang disebut dalam pasal 3,

beraspek perdata dan publik;

4. Hak-hak perorangan/individual, semuanya beraspek perdata, terdiri

atas:

a. Hak-hak atas Tanah (pasal 4) sebagai hak-hak

individual yang semuanya secara langsung

ataupun tidak langsung bersumber pada Hak

Bangsa, yang disebut dalam pasal 16 dan 53.

- primer : Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan,

yang diberikan oleh Negara, dan Hak Pakai, yang

diberikan oleh Negara (Pasal 16)

- sekunder : Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai, yang diberikan

oleh pemilik tanah, Hak Gadai, Hak Usaha Bagi-Hasil,

Hak Menumpang, Hak Sewa dan lain-lainnya (pasal

37,41 dan 53)

b. Wakaf, yaitu Hak Milik yang sudah

diwakafkan pasal 49;


c. Hak Jaminan atas Tanah yang disebut “Hak

Tanggungan” dalam pasal 25, 33, 39 dan 51.

2. Pengertian Pendaftaran Tanah

Pendaftaran tanah adalah suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan

oleh Negara/Pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa

pengumpulan keterangan atau data tertentu mengenai tanah-tanah tertentu

yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan

penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan

kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda-buktinya

dan pemeliharaannya.

2. Kegiatan Pendaftaran Tanah

Pendaftaran tanah untuk pertama kali (“initial registration”) meliputi

tiga bidang kegiatan, yaitu:

1. bidang fisik atau “teknis kadastral”

2. bidang yurudis dan

3. penerbitan dokumen tanda-bukti hak.

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali (“initial registration”) dapat

dilakukan melalui 2 cara, yaitu secara sistematik dan secara sporadik.

Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah

untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak, yang meliputi semua

obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian

wilayah suatu desa atau kelurahan. Umumnya prakarsanya datang dari

Pemerintah. Contoh pendaftaran tanah secara sistematik adalah yang diatur

dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan

Nasional nomor 3 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah


Secara Sistematik. (Boedi Harsono, ibid, 1996 C 22a).

Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk

pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam

wilayah atau bagian wilayah suatu desa atau kelurahan secara individual

atau massal, yang dilakukan atas permintaan pemegang atau penerima hak

atas tanah yang bersangkutan.

3. Sistem Pendaftaran Tanah

Ada dua sitem pendaftaran tanah, yaitu sistem pendaftaran akta

(“registration of deeds”) dan sistem pendaftaran hak (“registration of

titles”. Title dalam arti hak)

4. Konsepsi Hukum Tanah Nasional

Tanah berfungsi sosial. Rumusan konsepsinya komunalistik religius

sifatnya ditunjukan oleh pasal 1 ayat 2. Seluruh bumi, air dan ruang

angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Pernyatan

ini menunjukan sifat Komunalistik konsepsi hukum Tanah Nasional kita.

Bahwa

5. Hak Penguasaan Atas Tanah

Hak-hak penguasaan atas tanah berisikan serangkaian wewenang,

kewajiban dan/larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu

dengna tanah yang dihaki.

Macam-macam hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah

Nasional

6. Pertimbangan diadakannya empat


macam hak atas tanah primer

Pada hakikatnya pemakaian tanah itu hanya terbatas untuk 2 tujuan.

Pertama untuk di-usahakan, kedua tanah dipakai sebagai tempat

membangun sesuatu.

Hak Pakai dengan sebutan nama Hak Milik

Hak Milik pada dasarnya diperuntukan khusus bagi wargnegara Indonesia

saja yang berkewarganegaraan tumggal.

Dalam Pasal 20 UUPA dinyatakan bahwa Hak Milik adalah hak atas tanah

yang “terkuat dan terpenuh”. Dijelaskan dalam Penjelasan pasal tersebut,

bahwa maksud pernyataan itu adalah untuk menunjukan, bahwa di antara

hak-hak atas tanah Hak Miliklah yang “ter”-(dalam arti “paling”) kuat dan

“ter” –penuh. Yaitu mengenai tidak adanya batas waktu penguasaan

tanahnya dan luas lingkup penggunaannya, yang meliputi baik untuk

diusahakan ataupun digunakan sebagai tempat membangun sesuatu.

Hak Pakai dengan sebutan nama Hak Guna Usaha dan Hak Guna

Bangunan

Hak Guna Usaha yang memberi kewenangan memakai tanah untuk

diusahakan. Hak Guna Bangunan memberi kewenangan untuk

membangun sesuatu di atasnya.

Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan sebagai ditentukan dalam

UUPA jangka waktu berlakunya dibatasi, dan dapat diberikan selain

kepada warganegara Indonesia, juga kepada badan-badan hukum

Indonesia, baik yang bermodal nasional, asing maupun paputungan.

Hak Pakai dengan sebutan nama Hak Pakai

Hak pakai yang keempat diberi kekhususan sifat atau peruntukan


penggunaan bidang tanahnya. Ataupun atas pertimbangan dari sudut

penggunaan tanahnya dan/atau pengunaannya tidak dapat diberikan

dengan HM,HGU atau HGB. Hak-hak Pakai yang sangat khusus ini diberi

nama sebutan Hak Pakai.

7. Fungsi Sosial Hak-Hak Atas Tanah

Pasal 6 yaitu : “ Tidak hanya hak milik semua hak atas tanah mempunyai

fungsi sosial. Hal ini telah diuraikan dalam Penjelasan Umum (II angka

4)”. Dalam PenjelasanUmum fungsi sosial hak-hak atas tanah tersebut

disebut sebagai dasar yang keempat dari Hukum Tanah Nasional.

Dinyatakan dalam Penjelasan Umum tersebut: Ini berarti, bahwa hak atas

tanah apa pun yang ada pada seseorang, tidaklah dapat dibenarkan,

bahwa tanahnya itu akan dipergunakan (atau tidak dipergunakan)

semata-mata untuk kepentingan pribadinya, apalagi kalau hal itu

menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Penggunaan tanah harus

disesuaikan dengan keadaannya dan sifat dari haknya, hingga bermanfaat

baik bagi kesejahteraan dan kebahagiaan yang mempunyainya maupun

bermanfaat pula bagi masyarakat dan Negara. Tetapi dalam pada itu,

ketentuan tersebut tidak berarti, bahwa kepentingan perseorangan akan

terdesak sama sekali oleh kepentingan umum (masyarakat). Undang-

Undang Pokok Agraria memperhatikan pula kepentingan-kepentingan

perseorangan. Kepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan

haruslah saling mengimbangi, hingga pada akhirnya akan tercapai tujuan

pokok: kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan bagi rakyat seluruhnya

(pasal 2 ayat 3).

Konsepsi Hukum Tanah Nasional, dinyatakan dalam pasal 1 semua


tanah dalam wilayah Negara kita adalah tanah Bangsa Indonesia (artinya,

tanah kepunyaan bersama para warganegara Indonesia), yang dikaruniakan

oleh Tuhan Yang Maha Esa kepadanya dengan suatu Amanat, yaitu

“supaya digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat...”

(pasal 33 ayat 3 UUD jo pasal 2 ayat 3 UUPA). Dalam ketentuan pasal

27,34, dan 40, tanah tidak boleh “ditelantarkan”. Menurut konsepsi Hukum

Tanah Nasional hak-hak atas tanah bukan hanya berisikan wewenang,

sekaligus juga kewajiban untuk memakai, mengusahakan dan

memanfaatkan. Juga menurut konsepsi ini hak-hak perorangan bersumber

pada hak bersama (yaitu Hak Bangsa), dan mengandung unsur

kemasyarakatan.

Untuk itu perlu adanya perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah

yang dimaksudkan dalam pasal 14. dengan menggunakan tanah sesuai

dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Pemerintah tersebut,

terpenuhilah fungsi sosialnya. Kepentingan umum harus diutamakan

daripada kepentingan pribadi, sesui dengan asas hukum yang berlaku bagi

terselenggaranya berkehidupan-bersama dalam masyarakat.

Undang-Undang nomor 20 tahun 1961 tentang “Pencabutan Hak-hak

atas Tanah dan Benda-benda yang ada di atasnya”

(LN 1961-288) mengatur pemberian ganti-kerugian yang dimaksudkan.

Juga dalam Undang-Undang nomor 24 tahun 1992 tentang “Penataan

Ruang” (LN 1992-115) ada ketentuan dalam pasal 5 ayat 2, bahwa “Setiap

orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan”.

Tetapi kalau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan

rencana tata ruang yang telah ditetapkan itu, mengakibatkan kerugian bagi
seseorang yang empunya tanah, ia berhak memperoleh penggantian yang

layak (pasal 4 ayat 2c).

Fungsi sosial hak-hak atas tanah mewajibkan pada yang mempunyai hak

untuk mempergunakan tanah sesuai dengan keadaanya, artinya: keadaan

tanahnya, serta sifat dan tujuan pemberian haknya. Jika kewajiban itu

sengaja diabaikan maka hal tersebut dapat mengakibatkan hapusnya atau

batalnya hak yang bersangkutan. Dengan demikian tanah tersebut

termasuk golongan yang “ditelantarkan” (penjelasan pasal 27). Jika

tanah Hak-Milik, tanah HGU, tanah HGB ditelantarkan, haknya akan

dihapus dan tanah yang bersangkutan jatuh pada Negara, artinya menjadi

tanah Negara kembali (pasal 27 ayat a/3, pasal 34 huruf e dan pasal 40

huruf e). Ketentuan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam

Hukum Adat. Sifat dan tujuan pemberian HGB adalah, bahwa yang

empunya hak akan membangun rumah atau bangunan lain diatasnya.

Kalau tanahnya dibiarkan kosong tanpa alasan, maka yang demikian itu

termasuk dalam pengertian “ditelantarkan”.

Dalam hubungan ini lihat:

a. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan

Tanah Terlantar (LNRI 1998-51; TLN 3745)

b. Peraturan Menteri Negarra Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1998 tentang

pemanfaatan Tanah Kosong Untuk Tanaman Pangan

(Boedi Harsono, ibid. G 8 dan 9, G 11).

Dalam konsepsi hukum barat, pengertian fungsi sosial pada hakikatnya

berupa pengurangan atau pembatasan kebebasan individu bagi kepentingan bersama.

Sebaliknya konsep fungsi sosial dalam Hukum Adat dan Hukum Tanah Nasional
merupakan bagiandari alam pikiran asli orang Indonesia. Yaitu bahwa manusia

Indonesia adalah manusia pribadi yang sekaligus mahluk sosial, yang mengusahakan

terwujudnya keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan pribadi

dan kepentingan bersama, kepentingan masyaraktnya. (Bandingkan TAP MPR

nomor IV/MPR/1998 jo nomor II/MPR/1993 tentang Asas Pembangunan Nasional,

yang harus ditetapkan dan dipegang teguh dalam perencanaan dan pelaksanaan

pembangunan nasional, yaitu bahwa: harus ada keseimbangan antara berbagai

kepentinagan... keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan...

individu, masyarakat dan negara...).

A. Pengertian Konflik Agraria

Konflik agraria adalah salah satu tema sentral wacana pembaruan agraria.
Christodoulou (1990) mengatakan, bekerjanya pembaruan agraria tergantung watak
konflik yang mendorong dijalankannya pembaruan. Artinya karakteristik, perluasan,
jumlah, eskalasi, dan de-eskalasi, pola penyelesaian dan konsekuensi yang
ditimbulkan oleh konflik-konflik agraria di satu sisi dapat membawa dijalankannya
pembaruan agraria (menjadi alasan obyektif dan rasional), di sisi lain menentukan
bentuk dan metode implementasi pembaruan sendiri.
Konflik agraria mencerminkan keadaan tidak terpenuhinya rasa keadilan bagi
kelompok masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari tanah dan kekayaan alam
lain, seperti kaum tani, nelayan, dan masyarakat adat. Bagi mereka, penguasaan atas
tanah adalah syarat keselamatan dan keberlanjutan hidup. Namun, gara-gara konflik
agraria, syarat keberlanjutan hidup itu porak-poranda.
Komitmen politik untuk menyelesaikan segala konflik menjadi prasyarat yang
tidak bisa ditawar. Dalam kerangka politik hukum, sebenarnya kita sudah punya
Ketetapan MPR RI No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan
Sumberdaya Alam. Ketetapan MPR ini dapat menjadi kerangka pokok upaya
menyelesaikan aneka konflik agraria yang diwariskan rezim masa lalu yang telah dan
masih berlangsung hingga kini.
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Pengertian benda dalam arti luas:benda adalah segala sesuatu yang dapat dihaki oleh

orang.Dalam arti sempit sebagai barang yang terlihat saja.Macam benda adalah

bezit,levering,verjaring,bezwaring.Golongan benda adalah benda tak

bergerak&benda bergerak.UU membagi hak manusia:hak kebendaan&hak

perseorangan.Hak kebendaan adalah hak kebendaan memberi manfaat atas benda

miliknya sendiri,orang lain&jaminan.Privilegie adalah hak yang diberikan UU

kepada kreditur yang satu diatas kreditur yang lain semata-mata berdasarkan sifat

piutangnya.Macam privilegie:privilegie umum&khusus.Macam jaminan

khusus:jaminan yang berkaitan dengan benda&perorangan.Hak yang didahulukan

privilegie:gadai&hipotik.Bezit adalah keadaan lahir dimana seseorang menguasai

benda solah-olah benda itu kepunyaan sendiri.Unsur bezit adalah unsur keadaan

menguasai suatu barang&kemauan seseorang pemegang barang untuk menguasai

barang itu sebagai pemilik.Fungsi bezit:mendapat perlindungan hukum,sedangkan

fungsi Zakenrechtelijk:bezit akan berubah menjadi hak milik melalui lembaga

verjaring jika benda itu tidak bergerak&bezit itu berjalan tanpa ada gangguan orang

lain.Macam beziter:beziter yang jujur&tidak jujur.Cara memperoleh bezit:secara

ocupatio&traditio.Hak milik adalah hak yang terkuat karena hak milik orang lain

dapat menikmati sepenuhnya.Hak milik menurut hukum adat:hak untuk memungut

hasil sepenuhnya dari suatu barang&menguasai barang itu secara luas-luasnya.Cara

memperoleh hak milik dengan pengambilan,perlekatan,lewat


waktu,pewarisan&penyerahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chidir Ali, S.H. Mr.Dr. H.F.A. Vollmar. Hukum Benda. Bandung:

Tarsito.

2. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan Prof. Dr, S.H. Hukum Benda.

Yogyakarta: Liberty, 2000.

3. Subekti, Prof, S.H. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT

Intermasa, 2003.

4. Subekti, R. Prof, S.H. dan R. Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2001.


DAFTAR ISI

HUKUM AGRARIA
Di susun oleh :
Nama : Siti Fauziah Maharani (3005210301)

UNIVERSITAS PANCASILA
FAKULTAS HUKUM
JAKARTA
2007
LAMPIRAN

Sengketa Tanah di Pasuruan, Bagaimana Mengatasinya?


Sengketa tanah di Pasuruan, Jawa Timur, yang terjadi saat ini antara warga
yang mendiami tanah tersebut dengan TNI AL, bukan perkara sepele.
Fenomena seperti itu, bisa jadi bakal bermunculan di kemudian hari. Sebab bisa
dipastikan masih banyak aset-aset tanah yang dimiliki TNI. Jadi bagaimana
mengatasinya?
Foto-foto: SP/Aries Sudiono
Empat pusara warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa
Timur, sebagai korban insiden penembakan oknum Puslatpur Marinir Grati, Rabu
(30/5) siang itu, kini seolah menjadi saksi bisu. Posisi pusara di lokasi pemakaman
umum, dengan ditandai bendera merah putih setengah tiang, tepat di pinggir ruas jalan
desa itu, seolah menyemangati warga dalam memperjuangkan hak tanah sengketa
dengan Mabes TNI AL. Di dekat pusara ini, warga menggelar tahlil pada peringatan
hari ketujuh, ke-21 dan hari ke-40 pascakematian para korban.
ketua Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Drs
Bagong Suyanto, MSi menjelaskan, sekalipun kedua belah pihak yang bersengketa,
yaitu TNI Angkatan Laut dan warga Alastlogo sama-sama sepakat untuk kembali ke
meja perundingan, hendaknya ada pihak ketiga yang kredibilitasnya bisa diterima
kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi kembali guna mempertemukan
kepentingan kedua belah pihak.
"Tidak bisa melihat masalah pertanahan terutama yang disengketakan hanya dengan
kacamata hukum yang hitam putih di meja perundingan, karena kalau salah satu pihak
kalah maka habislah kepemilikannya," kata Bagong Suyanto.
Ditambahkannya lagi, proses hukum ini sangat panjang, butuh waktu lama sesuai
dengan jenjang peradilan. "Setelah menunggu waktu yang lama dan perkara ini
memiliki kekuatan hukum tetap, apakah tidak ada sikap resisten pada salah satu pihak
yang kalah?" tanya Bagong Suyanto.
Bagong mengingatkan, tanah tidak bisa hanya dilihat sebagai aset semata-mata, tetapi
tanah bagi masyarakat dalam suatu komunitas mengandung nilai-nilai sosial, warisan
leluhur yang menjadi sandaran kehidupan, serta memiliki ikatan emosional.
Tawaran relokasi dengan pemberian lahan seluas 500 m2 serta pemberian uang sekitar
Rp 10 juta kepada setiap kepala keluarga , menurut Bagong Suyanto, merupakan
langkah maju yang disampaikan kepada TNI Angkatan Laut kepada warga Alastlogo.
"Tetapi untuk sementara ini tawaran dari Angkatan Laut 'kan ditolak oleh warga, jadi
harus ada yang pihak ketiga yang diterima kedua belah pihak untuk melanjutkan
negosiasi, karena tidak menutup kemungkinan ada tawaran yang lebih baik lagi dari
Angkatan Laut, sementara bagi warga juga tidak bisa mutlak-mutlakkan untuk minta
kembali tanahnya," kata Bagong Suyanto.
Mengenai perkembangan jumlah penduduk yang sangat banyak dibandingkan dengan
ketika proses awal jual beli oleh TNI Angkatan Laut, menurut Bagong Suyanto,
memang menjadi semakin rumit, karena tidak mudah membedakan mana-mana yang
ahli waris dan siapa saja yang pendatang.
Herwanto (31 tahun), salah satu dari dua jiwa korban luka tembak di bagian perut
dalam insiden Alastlogo, Lekok, Pasuruan, hingga Jumat (8/6) kemarin masih harus
bersabar menunggu operasi bedah tim medis RS Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Untuk buang air besar, dokter terpaksa membuat saluran bypass atau colostomy di
pinggang kanan. Tampak sejumlah anggota DPR RI di antaranya KH Mudjib Imron
(berkopiah kiri) dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, membesuk dan
menyantuni Herwanto.
2.810 Kasus
Berdasarkan data yang dimiliki TNI AL, hanya terdapat 300 keluarga pada tahun
1963 yang berada didalam lahan milik TNI AL. Jumlah keluarga terus meningkat
sejak tahun 1970 dan sekarang menjadi sekitar 6 ribu rumah lebih. Masalah pun kian
pelik karena pihak swasta yang hendak menggunakan tanah itu, tentunya
menginginkan segera, demikian pula halnya dengan pihak TNI yang ingin segera
mendapat pemanfaatan tanah itu.
Terkait tentang sengketa tanah itu, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo
Winoto menyatakan, hingga saat ini masih ada 2.810 kasus sengketa tanah di
Indonesia yang belum diselesaikan. Dari jumlah, 1.065 kasus menjadi perkara di
pengadilan. "Kami masih menunggu putusan perkara, sampai ada keputusan
inkracht," katanya seusai melakukan rapat kerja dengan Komisi II DPR, Selasa (5/6).
Lebih jauh dikatakan, terdapat 1.043 kasus sengketa tanah yang ditangani melalui cara
mediasi dan tercatat 322 kasus sengketa diikuti konflik. Dalam sengketa tanah,
tercatat 36,85 persen terjadi di antara masyarakat. Tetapi sayang, Joyo Winoto
mengaku lupa membawa data tentang kasus sengketa tanah yang terjadi antara
masyarakat dengan TNI
Menurutnya, langkah terbaik untuk menyelesaikan sengketa adalah dengan jalan
mediasi dan pemetaan tanah.
Khusus menyangkut kasus Pasuruan, Komisi II bersama Komisi I DPR akan
menggelar rapat kerja gabungan dan segera memanggil Panglima TNI Marsekal
Djoko Suyanto serta Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan.
Menurut Wakil Ketua Komisi II DPR, Priyo Budi Santoso dari Fraksi Partai Golkar
(FPG), pertemuan itu akan dilakukan dalam waktu dekat. "Bila Komisi I
menitikberatkan kasus penembakan warga sipil oleh Marinir, maka Komisi II akan
membahas penyalahgunaan lahan. Ada yang salah dengan kreativitas marinir
menyewakan lahan latihan Militer ke PT Rajawali," kata Priyo.
Sedangkan, Ferry Mursyidan Baldan yang juga dari FPG meminta agar penyelesaian
kasus sengketa tanah, terutama yang melibatkan rakyat miskin, diselesaikan dengan
pemberian solusi. "Jika terkait dengan rakyat, jangan asal usir. Harus win-win
solution," ucapnya.
Jalan tengah penyelesaian sengketa tanah antara rakyat sipil dengan TNI AL di
Pasuruan, antara lain dengan memberikan lahan pengganti atau relokasi, atau
diberikan saja sebagian lahan yang diklaim sebagai milik TNI AL.
Apalagi, kata Ferry, lahan yang ditempati rakyat juga hanya sebagian kecil, dari total
lahan yang diklaim sebagai kawasan latihan militer TNI AL. "Paling hanya 10 persen,
diberikan saja. Toh, rakyat bukan mau menguasai lahan, tapi untuk memenuhi
kebutuhan hidup," ujarnya.
Sementara itu, berkaitan dengan insiden di Pasuruan akhir Mei lalu itu, sejumlah
perwira staf khusus polisi militer (Pasuspom) Mabes TNI dipimpin Danpuspom TNI,
Mayjen TNI Hendardji Supandji, melakukan peninjauan ke tempat kejadian perkara
(TKP) insiden penembakan di Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten
Pasuruan, guna memastikan pengusutan yang dilakukan Polisi Militer TNI AL
(Pomal) Lantamal V Surabaya, memenuhi prosedur tetap.
Rombongan Paspom sebelum turun di Desa Alastlogo sempat melakukan audiensi
dengan Muspida Kabupaten Pasuruan dan Danpomal Lantamal V Surabaya, Kolonel
(Laut) Totok Budi Susanto, di pendopo kabupaten.
Dalam peninjauannya itu, Pasuspom menyaksikan proses pengumpulan barang bukti
dan olah TKP. Tim juga mengamati proses kerja petugas Pomal yang mengukur jarak
dan tinggi rendahnya laras senjata api yang dibawa petugas Puslatpur Marinir dengan
posisi warga, termasuk dengan posisi para korban tewas dan korban luka-luka tembak.
Kita berharap, semoga kasus ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga. [B-
14/070/ES]

Penyelesaian Sengketa Tanah Puslatpur Grati pun Ternoda


Oleh Masuki M. Astro

Surabaya (ANTARA News) - Penembakan yang dilakukan anggota Korps Marinir


yang menewaskan empat orang warga di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok,
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, di Rabu pagi itu sangat mengejutkan, karena pada
22 Maret 2007 sengketa tanah telah "selesai" saat TNI Angkatan Laut (AL) bersedia
memberikan kompensasi kepada warga setempat.

Komandan Korpas Marinir (Dankormar), Mayjen TNI (Mar) Safzen Noerdin, pun
sangat terkejut dengan insiden menjelang akhir masa jabatannya di jajaran korps baret
ungu itu. Safzen Noerdin dijadwalkan menjalani regenerasi pada 6 Juni 2007.

"Selama ini marinir dikenal sebagai prajurit yang dekat dan membela rakyat, kok
sekarang justru terjadi peristiwa seperti itu. Saya atas nama pimpinan TNI AL dan
Korps Marinir menyesal, dan meminta maaf kepada keluarga korban," katanya kepada
wartawan di Surabaya, Rabu.

Korban tewas akibat terjangan peluru oknum marinir adalah Mistin yang tertembak di
dada, Rohman tertembak di kepala, Siti Khotijah tertembak di mata dan Sutam (45)
tertembak di kepala.

Perebutan sebagian tanah di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) itu selama ini tercatat
melalui jalan panjang. Tanah Puslatpur tersebut sejatinya tidak termasuk wilayah
Grati, melainkan di Kecamatan Lekok dan Nguling. Tanah itu lebih dikenal sebagai
tanah Grati karena terletak di bekas Kawedanan Grati.

Tanah yang ditempati warga itu potensial menimbulkan masalah karena warga yang
menghuni sudah mencapai 11 desa, yakni Alastlogo, Wates, Semedusari, Jatirejo,
Pasinan, Balunganyar, Branang, Gejugjati, dan Tampung di Kecamatan Lekok, serta
Desa Sumberanyar, dan Sumberagung di Kecamatan Nguling.

Untuk mempertahankan tanah dan rumahnya, maka warga tidak jarang memblokir
jalan utama Surabaya ke Pulau Bali, khususnya saat proses hukum sedang berjalan di
Pengadilan Negeri (PN) Bangil. Upaya hukum warga pun kalah karena bukti-bukti
yang mereka miliki dinilai lemah.

Di era awal reformasi, warga juga tercatat membabat ribuan pohon mangga yang
ditanam investor di lahan milik TNI AL itu, sehingga penanam modal bersangkutan
mengalami kebangkrutan.

Kasus itu diperparah lagi lantaran ternyata banyak praktik sewa tanah secara tidak sah
di lahan milik TNI AL. Warga yang menyewa ditarik ratusan ribu rupiah oleh oknum
tertentu, yang bukan anggota TNI AL, di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim),


Laksda TNI Moekhlas Sidik MPA, pernah meminta mereka yang terlibat dalam
kegiatan sewa tanah secara tidak sah itu menghentikan perbuatannya.

Jalan keluar atas sengketa tanah itu akhirnya datang, Pangarmatim pun bertemu
dengan Bupati Pasuruan, Jusbakir Al Jufri, di Pasuruan, pada 22 Maret 2007, dan
menyatakan bahwa TNI AL bersedia merelokasi warga.

Pada kesepakatan itu, TNI AL memberikan lahan untuk masing-masing rumah warga
seluas 500 meter pesegi (m2).

Meskipun tidak menyebutkan angka nominalnya, Pangarmatim saat itu mengakui,


anggaran relokasi itu cukup besar, sehingga rencana anggaran relokasi akan diusulkan
ke negara melalui pimpinan masing-masing, yakni TNI AL dengan Pemerintah
Kabupaten Pasuruan.

Ia menjelaskan, pelepasan lahan kepada 5.702 rumah yang ada di lahan Puslatpur itu
akan diusulkan ke Inventaris Kekayaan Negara (IKN).

"Lahan tersebut diberikan kepada warga, agar mereka bisa hidup tenang, damai, dan
tidak demo lagi, sedangkan TNI AL akan segera memberdayakan lahan tersebut
sebagai lahan Pusat Latihan Tempur," kata Pangarmatim.

Menurut dia, relokasi rumah warga bisa dilakukan secara bertahap. Warga yang
paling mendesak direlokasi, seperti warga kurang mampu, atau rumah yang posisinya
berada di tengah, maka relokasi akan segera didahulukan.

TNI AL mengupayakan penempatan rumah baru bagi warga itu berada di pinggir
lahan Puslatpur sehingga keselamatan warga tetap terjaga saat prajurit TNI AL
mengadakan latihan perang. Pihaknya juga mengupayakan pemindahan itu dalam satu
lokasi sehingga tidak mencabut akar budaya mereka.

"Selain pemberian lahan kepada masing-masing pemilik rumah, TNI AL juga akan
memberi lahan untuk fasilitas umum sebesar 20 persen. Lahan tersebut, bisa
digunakan untuk tempat ibadah, pendidikan, pemerintahan, jalan, serta makam,"
katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmatim, Letkol Laut (KH)
Drs Toni Syaiful, mengatakan bahwa TNI AL memiliki landasan hukum yang kuat
terhadap tanah itu, apalagi beberapa kali sidang di pengadilan selalu dimenangkan
oleh TNI AL.

Dari keterangan Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Surabaya,


Laksamana Pertama TNI Aminullah Syuhari, terungkap bahwa dasar hukum dan
riwayat kepemilikan lahan IKN di Puslatpur Grati itu dibeli dengan dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seluas 3.569,205 hektare (ha).

Sedangkan, Kepala Badan Penyaluran Tenaga Kerja TNI AL Wilayah Timur


(Kabalurjaltim), Kolonel Laut M. Haryono, juga merupakan saksi sejarah proses
penjualan tanah tersebut juga memperkuat pernyataan Komandan Lantamal V.

Kolonel M. Haryono yang lahir dan dibesarkan di daerah Grati, Pasuruan,


mengungkapkan bahwa penduduk setempat telah menjual tanah tersebut ke TNI AL
sekitar tahun 1960 senilai total Rp77.658.210. Saat ini, sekira 36.000 jiwa warga telah
menempati sekitar 150 ha di lahan itu.

Masalah itu menjadi rumit karena Pemkab Pasuruan, sebagaimana diakui Jusbakir
selaku bupati, bahwa pihaknya tidak memiliki tanah untuk merelokasi warga, dan
sehingga masalah tersebut akan disampaikan secara berjenjang ke Menteri Dalam
Negeri (Mendagri).

"Kami belum memiliki gambaran mengenai tanah untuk relokasi itu, tapi pada
hakekatnya kami mendukung rencana TNI AL untuk menjadikan tanah Grati ini
sebagai pusat latihan tempur," kata Jusbakir, sebelum dicapai kesepakatan.

Mengenai sejarah kepemilikan tanah itu, Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful
mengatakan, pembebasan lahan di tahun 1960 itu dilakukan melalui Panitia
Pembebasan Tanah Untuk Negara (PTUN) dengan bukti sertifikat.

"Negara, dalam hal ini TNI AL membeli lahan tersebut untuk membangun Pusat
Pendidikan dan Latihan TNI AL terlengkap dan terbesar, baik untuk pendidikan
kejuruan Korps Marinir maupun Pelaut," katanya.

Namun, TNI AL masa itu belum memiliki dana, sehingga pembangunannya belum
dapat direalisasikan, dan TNI AL memanfaatkannya sebagai area perkebunan dengan
menempatkan 185 Kepala keluarga (KK) prajurit untuk menjaga dan bermukim di
daerah itu, agar lahan tidak terlantar.

"Tahun 1984, TNI AL menunjuk Puskopal untuk memanfaatkan lahan tersebut


sebagai perkebunan yang dikelola secara profesional dengan menggandeng PT Kebun
Grati Agung, agar lahan itu menjadi produktif," katanya.

Kerjasama itu berhasil membuat areal yang sebelumnya tandus dan kering ekstrim
menjadi area perkebunan yang menghasilkan ditunjang dengan irigasi pengairan yang
baik, dan juga mampu menyerap pekerja dari penduduk sekitarnya.

Namun, pasca-reformasi tahun 1998, telah memunculkan keinginan warga yang


semula hanya sebagai penggarap untuk memiliki lahan. Mereka menganggap bahwa
lahan itu milik leluhur mereka.

Setelah itu, warga pun menuntut ke pengadilan dengan didampingi pengacara dari
Probolinggo dan Malang, namun mereka kalah. Setelah kalah di Pengadilan, warga
mulai emosional dan kehilangan kendali dengan melakukan tindakan anarki, antara
lain pada 23 September 2001 menebang 12.000 pohon mangga siap panen.
"Warga juga merusak pompa dan jaringan pengairan perkebunan, penutupan jalan
pantura, penyerobotan lahan secara liar yang dikoordinir oleh oknum kepala desa
dengan menjual dengan dikapling-kapling," ujar Toni.

Oleh karena itu, mulai 16 Mei 2001, TNI AL memutuskan menjadikan wilayah itu ke
rencana semula, yakni sebagai Puslatpur prajurit.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten


Pasuruan, Akhmad Zubaidi, beberapa waktu lalu, setelah dicapai kesepakatan relokasi
TNI AL dengan warga, menyambut baik niat baik TNI AL.

Kesepakatan relokasi bagi ribuan warga yang menempati 11 desa di wilayah


Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan, tersebut dinilainya sebagai
kesepakatan yang cukup rasional.

"Untuk itu saya mengimbau warga Desa Alastlogo yang baru saja kalah dalam
gugatannya di Pengadilan Negeri Bangil, tidak perlu lagi menempuh upaya banding,
meski masih mempunyai hak untuk itu. Bukti-bukti yang dimiliki warga tidak sekuat
dengan bukti-bukti yang dimiliki TNI AL," katanya.

Menurut dia, pemberian lahan seluas 500 m2 per rumah sebenarnya juga masih bisa
digunakan untuk persiapan membangun hingga tiga rumah, bagi anggota keluarganya
yang akan mandiri.

Untuk waktu relokasi, Zubaidi berharap, dalam tahun 2007 minimal bentuknya harus
sudah tampak. Minimal fasilitas umum telah terbangun terlebih dulu, sehingga pada
2008 Pusat Latihan Tempur TNI AL sudah busa digunakan sepenuhnya.

Namun, sebelum proses relokasi itu terealisasi, kesepakatan itu ternodai oleh
peristiwa tewasnya empat orang tersebut. Mengenai siapa yang salah dalam peristiwa
itu, Komandan Kormar meminta agar menunggu pengusutan hukum lebih lanjut.

"Prosesnya harus adil. Kalau anggota saya salah, silahkan diproses lebih lanjut, tapi
kalau tindakannya benar, tidak boleh disalahkan. Mereka harus bebas," katanya.

TNI AL dan berbagai pihak yang berharap penyelesaian sengketa Grati tersebut
berlangsung secara positif, akhirnya harus menerima kenyataan adanya "noda" pada
Rabu kelabu itu berkaitan dengan jatuhnya empat korban jiwa, yang kasusnya tengah
disidik pihak berwajib guna dituntaskan secara hukum. (*)

Copyright © 2007 ANTARA