Anda di halaman 1dari 11

ALAT PENANGKAPAN IKAN

(Pole/Rod and Line)


A.

PENDAHULUAN

1 Definisi Alat Tangkap


Pole / Rod and line atau disebut biasa juga dengan pancing gandar karena pancing ini
menggunakan gandar, walesan, joran atau tangkal ( rod or pole ). Jadi semua pancing yang
menggunakan gandar sebenarnya adalah pole and line, walaupun terakhir salah kaprah karena
sebutan pole and line hanya untuk penagkapan cakalang. Pada pengoperasiannya ia dilengkapi
dengan umpan, baik umpan benar ( true bait ) dalam bentuk mati atau hidup maupun umpan
tipuan ( imitasi ) (Bowber, 1976).

2 Sejarah alat tangkap


Ikan tuna sudah dikenal manusia sejak zaman batu, hal ini dibuktikan dengan
ditemukannya alat penangkap ikan dengan menggunakan pancing dari tanduk dan perahu jukung
kuno. Pada awalnya pole atau gandar terbuat dari bahan tradisional seperti bambu atau kayu
namun seiring dengan kemajuan zaman, bahan pole atau gandar berkembang sehingga terbuat
dari metal atau fiberglaas (Toshito,1983).
Di Jepang, pancing pertama dikenalkan pada abad 8 yang terbuat dari metal, dan kemudian
ditemukan jaring untuk skipjack atau cakalang pada abad 12. Pada awalnya penangkapan ikan
menggunakan pole and line menggunakan perahu jukung kemudian berkembang menjadi perahu
dayung, perahu layar dan akhirnya berkembang menjadi kapal layar besar pada abad 19. Dan
sekarang kapal pole and line sudah menggunakan mesin/motor yang modern (Toshito,1983).

3 Prospektif Alat Tangkap


Seperti yang telah diketahui Indonesia memiliki lautan yang sangat luas, meliputi kurang
lebih duapertiga dari seluruh luas wilayah negara. Disamping itu sebagai negara kepulauan
Indonesia memiliki
(Hilmar,1959).

13.607 buah pulau. Dan memiliki kuranglebih 90.000 km garis pantai

Lautan Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa, beriklim tropis ternyata membawa
konsekuensi kaya akan jenis-jenis maupun potensi sumberdaya perikanan. Untuk ikan saja
diperkirakan ada 6000 jenis dimana 3000 jenis diantaranya telah diidentifikasikan .Sehubungan
dengan hal diatas, penggunaan pole and line di Indonesia masih memiliki kesempatan yng besar
karena wilayah Indonesia masih menyimpan potensi yang besar untuk perikanan tangkap, yaitu
sekitar 1,8 juta ton pertahun (Kompas; 3-04-04 ) terutama di wilayah timur Indonesia seperti laut
Arafura, laut Seram, laut Banda, dan laut Flores serta perairan lainnya seperti Laut Cina Selatan,
Samudera Pasifik dan Lautan Hindia.Namun demikian perlu adanya kewaspadaan akan
terjadinya pencurian ikan oleh pihak asing. Menurut harian Kompas ( 3-04 2004 ), pada tahun
2003 sebanyak 144 kapal ikan asing tertangkap di perairan Indonesia dan 28 kapal diantaranya
berada di Kalbar. Dan salah satu kelemahan utama penegakan hukum dilaut, menurut Rohmin
adalah terlalu lemahnya proses hukum (Hilmar,1959).
B. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP

1. Konstruksi umum
Pole and line terdiri dari gandar yang bisanya terbuat dari bambu ( bamboes pole ), tali pancing
dan mata pancing. Bentuk kapal pole and line memiliki beberapa kekhususan antara lain :1.
Bagian atas dek kapal bagian depan terdapat plataran ( flat form ) yang digunakan sebagai
tempat memancing.
2. Dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk penyimpanan ikan umpan yang masih hidup.
3. Pada kapal pole and line ini harus dilengkapi sistem semprotan air ( water splinkers system ) yang
dihubungkan dengan suatu pompa.
Sedangkan tenaga pemancing jumlahnya bervariasi misalnya saja untk kapal ukuran 20 GT
dengan kekuatan 40-60 HP, tenaga pemancingnya berjumlah 22-26 orang, dengan ketentuan
sebagai berikut 1 orang sebagai kapten, 1 motoris, 1-2 orang pelempar umpan, 1 orang sebagai
koki dan sisanya sebagai pemancing (Hilmar,1959)

2.Detail konstruksi
Panjang galah biasanya tergantung ukuran perahu yaitu semakin besar ukuran perahu yang
digunakan, ukuran gandar / joran juga semakin panjang dan terbuat dari bambu maupun

fiberglass karena ringan dan lentur Tali utama terbuat dari bahan nylon monofilament warna
merah atau hijau dan panjangnya 2/3 dari panjang galah/ gandar (Nomura,2010).
Mata pancing untuk pole and line ini ada 2 macam yaitu yang berkait balik dan tidak berkat
balik, namun yang sering digunakan adalah yang tidak berkait balik. Mata pancing ini diselipkan
seakan akan disembunyikan pada umpan tiruan / palsu, sehingga tidak secara langsung kelihatan
menyolok. Untuk mata pancing yang berkait balik memakai umpan, yaitu umpan hidup atau
masih segar. Penggunaan mata pancing ini hanya dilakukan kalau nantinya ikan yang akan
ditamgkap tidak suka menyambar umpan tiruan (Nomura,2010).

3.Karakteristik
Pole and line atau pancing gandar ini memiliki beberapa jenis antara lain mackerel pole and
line, skipjack pole and line dan squid pole and line atau pole and line untuk cumi-cumi. Dan
berikut ini dalah penjelasannya:
1.Mackerel pole and line
Untuk di Jepang metode pemancingan ikan makarel yang efisien pada malam hari. Berat
kapal sekitar 1-50 ton.Lama pelayaran dari satu malam hingga dua minggu. Nelayan lebih suka
menggunakan galah bambu, buatan jepang, karena ringan dan lentur. Jarak galah biasanya 1,5
sampai 2 meter panjangnya tergantung ukuran perahu. Tali utama panjangnya hampir sama
dengan panjang galah. Pengait atau ikan yng dipasang pada mata pancing dihubungkan dengan
tali utama oleh tali mata pancing sepanjang 10-15 cm dan warnanya sama dengan tali utama. Ada
dua jenis umpan ( untuk pengait dan untuk ditabur ) umpan untuk pengait yaitu terbuat
daridaging makarel bagian luar dengan lebar 10mm, panjang 50-60 mm, dan tebal 2 sampai 3
mm. Untuk pemasangannya , bagian kulit di sisi dalam sedangkan bagian daging di sisi luar
(Fisheries Training Centre,2010).
2.Skipjack pole and line
Pemancingan skipjack dengan pole and line di perairan jepang menggunakan tangkai
bambu dengan panjang 4,5 sampai 6 meter unuk di jepang dan 3,5 sampai 4 meter untuk di kep
pasifik dan Tahiti. Pada kapal skipjack ini biasanya memiliki banyak awak kapal namun dengan
ditemukannya mesin untuk penangkapan cakalang maka mengurangi sejumlah awak kapal.
Mesin yang digunakan untuk tiap-tiap kapal antara 4 sampai 12 unit mesin. Mesin ini dirancang

untuk melakukan gerakan sebagai mana yang dilakukan nelayan, contohnya untuk menarik ikan
dengan cara gerakan vertikal dari tangkai dan untuk membuka tangkapan ikan.
Sedangkan untuk ukuran kapal bervariasi antara 20 sampai 500 GT. Kapal yang berukuran
lebih dari 70 GT terbuat dari baja, sedangkan yang kurang dari 60 GT terbuat dari fiberglass.
Umpan hidup dari jenis ikan sardin sangatlah diperlukan, agar sardin tersebut teap hidup untuk
masa 50-60 hari sampai kapal sampai di tempat pemancingan, maka sarden disimpan di tangki
air laut dn air diganti 4 sampai 6 kali tiap jamnya oleh sistem sirkulasi air mekanik dengan
pompa air laut (Fisheries Training Centre,Japan).
3. Squid pole and line
Pemancingan ikan cumi- cumi dilakukan malam hari dengan bantuan lampu. Sepanjang
operasi spanker digunakan untuk melawan angin. Ukuran kapal cumi-cumi ini bervariasi yaitu 23 GT untuk penagkapan di pantai dan 500 GT untuk laut bebas. Untuka kapal 100 GT biasanya
memiliki awak kapal sejumlah 16-20 orang dengan waktu perjalanan 2 minggu hingga 2 bulan
dan kecepatan 9-10 knots (Fisheries Training Centre,2010).
Di Indonesia sendiri terdapat bermacam-macam pancing gandar dan beberapa
diantaranyayang penting adalah sebagai berikut :
1. Huhate ( skipjack pole and line )
Alat ini banyak digunakan di wilayah Indonesia bagian timuer. Penangkapan dengan
menggunakan pole and line tersebut dapat menggunakan kapal motor ( kapal motor khusus
cakalang, yuna clipper ), tetapi untuk nelayan-nelayan kecil biasanya menggunakan perahu
dayung ( rowing boat ) yang biasa disebut Funai dan atau Rurche. Alat pemancingnya sendiri
bentuknya umum sepeti pancing cakalang pada umumnya. Umpan hidup yang digunakan terdiri
dari sejenis ikan teri, sardin, selar, kembung, lolosi (Caesio spp ). Ikan-ikan umpan hidup ini
biasanya diperoleh dari pengusaha penagkapan ikan umpan (Toshito,1983).

2. Pole and line dengan perahu dayung


Untuk nelayan skala kecil, penggunaan perahu motor memaang dirasa terlalu mahal
biayanya, kecuali untuk perikanan industri. Bagi nelayan kecil penangkapan dengan pole and
line dapat menggunakan perahu dayung ( rowing boat ). Di daerah kepulauan maluku bagian

utara perahu yang digunakan disebut Bloto dengan panjang 7 m, lebar 1-1,25 m, dalam 0,5 m,
menggunakan tenaga 4 orang, sedang untuk ukuran lebih besar menggunakan tenaga 6-8 orang.
Sebagian nelayan daerah Ambon, Ceram, Banda juga ada yang menggunakan perrahu dayung
yang disebut Arambai, yang berukuran panjang 10 m, lebar 1-1,25m, dalam 0,50 m. tenaga yang
diperlukan sejumlah 14 orang yaitu 7 orang pemancing, 5 orang pendayung dan 2 orang
pengumpan (Toshito,1983)
3. Beberapa tipe pancing gandar
Pancing kakap
Suatu pancing yang dikhususkan memancing ikan kakap. Gandar berukuran panjang 4 m.
pancing ini menggunakan umpan hidup, biasanya lundu ( Macrones gulio ) yang diperoleh dari
hasil menjala. Cara menggunakan umpan ini adalah dengan memasukkan ujung mata pancing
tepat dibawah kepala dibawah tulang punggung atau di atas irip dada. Lokasi penagkapan yaitu I
pantai, muara sungai, dan dekat pelabuhan. Hasil tangkapan terutama ikan kakap. Daerah
distribusi di Merauke, Kaimana, Agat, muara sungai Mapi dan Digul (Hilmar,1959).
Pancing bobara
Pancing bobara mempunyai panjang joran 3-3,5 m, berdiameter 2cm pada bagian
pangkalnya dan 0,75 m pada ujungnya. Tali pancing sepanjang m dibuat dari bahan nilon atau
senar (plastik ). Pada ujung tali pancing diikat dengan kawat tembaga ( panjang 25 cm )
kemudian disambung lagi dengan kawat no 1 yang panjangnya

10 cm dan baru pada ujung

kawat ini dikaitkan mata pncing ( no 6 ). Pada waktu penangkapan pancing ini menggunakan
umpan hidupdari jenis tembang atau japuh yang diperoleh dari hasil menjala. Lokasi penagkapan
dilakukan di pantai-pantai dimana banyak terdapat karang-karang. Hasil tangkapan kecuali
bobara (Carank spp ), juga ikan ikan besar lainnya seperti kerapu ( Ephinephelus, spp ), dan
lain=lainnya. Penangkapan dengan menggunakan bobara banyak ditemukan di daerah perikanan
sekitar Gorontalo (Hilmar,1959).
Pancing Tandipang
Mata pancing yang digunakan untuk mata pancing tandipang, berukuran yang paling kecil
dan idak berkait balik, dan dalam pengoperasiannya menggunakan umpan yang terdiri dari

udang halus atau udang rebon. Penangkapan dilakukan dengan bedramai-ramai. Biasanya terdiri
dari 15-20 perahu yang berukuran panjang 5m, lebar 0,5 m, dalam 0,45 m dan dilengkapai
dengan katir / sema bila telah ditemukan kawanan ikan tembang, kemudian sebelum melakukan
pemancingan ditaburi dulu dengan udang halus. Sementara pancing yang telah diberi umpan
dilemparkan ke dalam airdan umumnya segera disambar. Umpan yang telah disambar ini dengan
cepat diangkat ke atas perahu. cara pemancingan ini sama dengan pole and line tapi khusus untuk
ikan kecil. Distibusi dari pancing ini adalah di daerah perikanan sekitar Gorontalo (Hilmar,1959).

4.Bahan dan Spesifikasinya


Gandar
Untuk nelayan jepang yang menggunakan pole and line sebagai alat tangkapnya merek
biasanya menggunakan gandar dari bambu,karena disamping ringan juga lentur. Selain itu ada
juga yang menggunakan fiberglass untuk dipakai joran/ gandar, namun harga fiberglass ini lebih
mahal dari bambu (Bowber, 1976).
Tali pancing
Tali pancing bisanya menggunakan PA atau polyamide dan ada juga yang menggunakan
benang / nylon monofilament dan senar plastik seperti nelayan di daerah Ambon dan kepulauan
Maluku lainnya (Bowber, 1976).
Tali mata pancing
Tali mata pancing yaitu tali yang menghubungkan pancing dengan tali pancing, biasanya
terbuat dari kawat ( wire ) baja (Bowber, 1976).
Umpan
Umpan yang digunakan untuk pole and line ini terdiri dari dua jenis yaitu umpan benar
( true bait ) dan umpan imitasi. Untuk umpan benar biasanya menggunakan ikan yang masih
hidup yaitu dari jenis ikan teri, sardin, selar, kembung, dan lolosi yang biasanya didapat dari
pengusaha penagkapan ikan umpan. Sedangkan umpan imitasi dapat digunakan bulu ayam atau
umpan palsu yang memang sudah dibuat secara komersil dan telah tersedia di pasaran (Bowber,
1976).

Kapal
Para nelayan tradisionl di Indonesia dalam operasinya masih menggunakan kapal kayu,
karena disamping bahan lebih mudah didapat tapi juga harganya lebih murah.
Sedangkan untuk nelayan dari jepang dapt dibedakan menjadi dua yaitu untuk kapal dengan
ukuran kurang dari 60 GT dibuat dari fiberglass, sedangkan yang lebih dari 70 GT dibuat dari
baja.
Memancing dilakukan di haluan kapal, sedangkan semprotan air terletak di luar pagar kapal.
Untuk ruangan ikan dilapisi dengan kayu, namun karena terjadi kebocoran maka plat kayu
diganti dengan lapisan palt baja setebal 4,5 sampai 6 milimeter (Bowber, 1976).
C. HASIL TANGKAPAN
Pada penagkapan ikan dengan menggunakn pole and line ini, hasilnya antara lain :
Skipjack / cakalang ( Katsuwo pelamis )
Albacore ( Thunnus alalunga )
Mackerel ( Auxis tazard )
Bullet Mackerel ( Auxis rochei )
Bonito timur ( Sarda orientalis )
Kakap (Lates calcarifer )
Ikan-ikan pelagis kecil seperti Euthynnus spp dan Euthynnus affinis.
Dll (Nomura.2010).
D. DAERAH PENANGKAPAN
Daerah penagkapan untuk tuna dipengaruhi oleh arus dan suhu perairan. Setaip jenis tuna
memiliki suhu optimum, diantaranya
1. Blue fin tuna dan Albacore suhu optimum berkisar 15

- 21

2. Skipjack tuna ( cakalang , suhu optimum 19

-24

3. little tuna ( tongkol ), suhu optimum 17

-24

C.

Di perairan Indonesia, penangkapan dengan menggunakan pole and line banyak terdapat di
wilayah Indonesia timur seperti Minahasa, Gorontalo, Air tembaga, Ambon, Bacan, Banda,
Teratai dan Sorong (Nomura.2010).
Sedangkan daerah penangkapan ikan dunia dengan menggunakan pole and line sebagai berikut
1. Antara lintang 40

LU dan 40

LS yaitu daerah kep Hawiai, Chilli, North Island , dan zona

ekuator lainnya.
2. Daerah kepulauan Hokkaido dan Filipina.
3. Samudera Atlantic dan Laut Mediterania (Nomura.2010).
E. ALAT BANTU PENANGKAPAN
Dalam pengoperasian pole and line, diperlukan alat bantu penengkapan yang berguna unuk
membantu mengumpulkan kawanan ikan atau untukk membantu dalam kelancaran operasi
penangkapan (Nomura,2010).
Alat bantu tersebut antara lain :
1.Jaring tangguk / seser
jaring tangguk berguna untuk memojokkan umpan ke suatu sudut agar mudah di tangguk dengan
churchill. Sedangkan seser yang besar berguna untuk memindahkan umpan hidup ke ember dan
seser kecil digunakan untuk menyebar umpan (Nomura.2010).
2.Penyemprot air
Penyemprot air yang erbuat dari pipa dan erletak di bagian tepi kapal yitu dibawah para-para .
penyemprot air ini bergna untuik menyemprotkan air ke arah kawanan ikaan agar kawanan ikan
tersebut mengira air yang jatuh adalah umpan yang disebar sehingga mudah untuk ditangkap/
dipancing (Nomura.2010).
4. Ember

Digunakan untuk menampung umpan hidup sebelum dipindah ke seser keciluntuk disebar
(Nomura.2010).

5. Mesin pemancing
Mesin pemncing ini teretak pada bagian pinggir lambung kapal. Ada sebagian pendapat yang
mengatakan bahwa penggunaan mesin ini lebih efektif dari tenaga manusia (Nomura.2010).
6. Rumpon
Rumpon ini berguna untuk mengumpulkan kawanan ikan dan harus dipasang jauh hari sebelum
operasi penangkapan, jadi tidak perlu menggunakan ikan hidup sebagai umpan namun semprotan
air masih harus terus digunakan (Nomura.2010).
F. TEHNIK OPERASI

Persiapan
Tahap persiapan ini dilakukan sebelum kapal berangkat untuk mencari gerombolan ikan / fishing
ground (Nomura.2010).
Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain :
Merangkai alat pancing
es / freon yang digunakan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan agar lebih awet
umpan hidup, biasanya menggunakan ikan teri yang diperoleh dari hasil menjla sendiri atau
membeli dari pengusaha ikan umpan
ember, kaleng, jaring tangguk, seser yang berguna untuk membantu kelancaran operasi
penagkapan yaitu untuk menyebarkan umpan
joran / gandar yang telah dirangkai sesuai dengan sejumlah pemancing besreta cadangannya.
Bahan bakar untuk berangkat dan kembali dari Fishing Ground
Bahan Makanan untuk anak buah kapal

Dan alat- alat lain yang dapat membantu kelancaran operasi penangkapan (Nomura.2010).

Mencari Fishing Ground


1. Mencari gerombolan ikan
Setelah semua alat yang diperlukan dalam operasi penangkapan disiapkan, dilakukan pencarian
gerombolan ikan. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan mencari secara langsung
gerombolan ikan dengan berlayar kesana-kemari ( manouvere ) dan dengan memperhatikan
kawanan burung laut atau ke tempat rumpon yang telah disiapkan sebelumnya (Nomura.2010).

Pemancingan
Pemancingan dilakukan dengan melemparkaan ikan umpan hidup sebagai perangsang agar
cakalang lebih mendekat ke arah kapal sehingga lebih udah dijangkau oleh pancing. Setelah ikan
mendekat, agar umpan hidup tidak banyak terbuang, maka kran penyemprot air laut dibuka dan
setelah ikan terlihat meloncat-loncat kemudian dipancing.
Kegiatan pemncingan ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas
permukaan air dan bila disambar oleh cakalang, dengan cepat diangkat melalui atas kepala dan
secara otomatis terlempar ke dalam dek kapal. Hal demikian dilakukan hingga berulang-ulang.
Pemancingan dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting. Disamping itu ada yang
disebut dengan cara gepe yaitu cara pemancingan dengan pole and line dimana setelah ikan
terkena pancing dan diangkat dari dalam air kemudian pengambilan dari mata pancing dilakukan
dengan cara menjepit ikan diantara tangan dan badan si pemancing (Kompas,25 Januari 2012).

G. HAL HAL YANG MEMPENGARUHI OPERASI PENANGKAPAN


Pada penangkapan ikan dengan menggunakan pole and line ini hasil tangkapan dipengaruhi oleh
1. Kelengkapan alat bantu penangkapan
Apabila alat bantu penangkapan yang diperlukan tidak lengkap dapat menghambat operasi
penangkapan, sehingga mempengaruhi hasil tangkapan
2. Waktu Penangkapan

Penangkapan dengan pole and Line ini juga tergantung dari waktu penangkapan. Waktu yang
optimal yaitu pukul 09.00 dan 15.00 (Nomura.2010).
3. Faktor politik
Yaitu mengenai kebijakan pemerintah yang menyangkut perikanan dan kelautan.
4. Keahlian memancing
Keahlian memancing ini mempengaruhi hasil tangkapan yang diperoleh. Keahlian dibagi 3
yaitu :
Kel 1 : 12-15 ekor / mnt
Kel2 : 7-12 ekor / mnt
Kel 3 0-7 ekor / mnt (Nomura.2010).
DAFTAR PUSTAKA
Arthur Bowber, 1976.Fishermans Manual.England
Kanagawa, Nomura.2010. Outline of Fishing Gear and Method.International
Fisheries Training Centre. Japan
Kristjhonson, Hilmar.1959. Modern Fishing Of The World. Roma,Italy
Tsudani, Toshito.1983. Illustration of Japanese Fishing Boats. Tokyo,Japan