Anda di halaman 1dari 15

EKSTRAKSI ALGINAT

Oleh :
Nama
:
NIM
:
Kelompok :
Rombongan
Asisten
:

Yuli Wulandari
B1J011071
16
: IV
Ade Fitriyani

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Algin adalah suatu bahan yang dikandung Phaeophyceae.


Pemanfaatan algin pada umumnya berbentuk asam alginat dan
alginat. Algin merupakan polimer murni dari asam uronat yang
tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk alginat yang
paling sering dijumpai adalah natrium alginat yaitu suatu garam
alginat yang larut dalam air. Jenis alginat lain yang larut dalam
air ialah kalium dan ammonium alginat, alginat yang tidak larut
dalam air ialah kalsium alginat
Algin dapat diekstrak dari Alginophyt, yaitu keluarga
Phaeophyceae

yang

menghasilkan

algin

antara

lain

dari

Macrocystis, Ecklonia, Fucus, Lessinia, dan Sargassum. Algin di


dapat dalam bentuk alginik yaitu turunan dari selulosa dan asam
pektik.

Algin

berfungsi

dalam

industri

sebagai

pengental,

pengatur keseimbangan, pengemulsi dan pembentuk lapisan


tipis yang tahan terhadap minyak. Selain itu algin digunakan
dalam industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, keramik,
fotografi, dan lain-lain. Produk dari makroalgae dapat berupa
polisakarida. Salah satu jenis polisakarida yang memiliki nilai
ekonomis penting adalah alginat. Kegunaan alginat dalam
industri

adalah

sebagai

bahan

pengental,

pengatur

keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang


tahan terhadap minyak.
Metode

ekstraksi

yang

dikembangkan

oleh

instalasi

Penelitian Perikanan Laut Slipi meliputi beberapa tahap yaitu


demineralisasi, pencucian, ekstraksi, penarikan asam alginate
menggunakan HCl, pencucian, pertukaran ion H+ dengan ion Na+
dari

larutan

NaOH

kemudian

penarikan

natrium

alginate

menggunakan alkohol dan pengeringan. Hasil olahan rumput laut


adalah algin atau alginat. Algin diperoleh dari alga coklat yang
berguna

dalam

industri

sebagai

pengental,

pengatur

keseimbangan, pengelmusi dan pembentuk lapisan tipis yang


tahap terhadap minyak. Jenis rumput laut yang mengandung

alginat adalah Sargassum filipendula dan Turbinaria. Berdasarkan


penelitian BPPT, kandungan alginat kedua jenis rumput laut
tersebut mencapai 32%. Alginat yang terdapat dalam rumput
laut dapat diperoleh dengan mengekstraksinya terlebih dahulu.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ektraksi alginat ini adalah untuk
mengetahui kadar air dan proses ekstraksi alginat dari rumput
laut Sargassum duplicatum.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat pada praktikum kali ini adalah pemanas atau
kompor, panci, baker gelas, baki dan kain saring.
Bahan yang digunakan meliputi

rumput laut Sargassum

duplicatum, KOH 2%, KOH 10%, NaOH 0,5%, HCl 0,5%, HCl 5%,
Na2CO3 5%, H2O2 6%, dan alkohol.
B. Metode
Sargassum duplicatum 20 gr

Rendam KOH 2%

Dicuci dengan air mengalir

Rendam NaOH 0,5%

Rendam HCl 0,5%

Ekstraksi Na2CO3 5%

Saring dengan kain saring

Pengasaman HCl 5% (pH 2,8-3,2)

Pemucatan H2O2 6%

Pengendapan KOH 10%

Pemurnian, penyaringan

Pengeringan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Berdasarkan

praktikum

yang

telah

dilaksanakan

didapatkan hasil sebagai berikut:


Rendemen alginat = Bobot akhir (g) x 100 %
Bobot awal (g)
= 0,13 g x 100%
20 g
= 0,65 %

Gambar 3.1. Alginat Sebelum


Alginat Sesudah
Disaring

B. Pembahasan

Gambar 3.2.
Disaring

Hasil

praktikum

nilai

Sargassum duplicatum

rendemen

alginat

rumput

laut

adalah 0,65 %. Menurut Basmal et al.

(2002), waktu perendaman dan konsentrasi Na2CO3 berpengaruh


nyata terhadap rendemen. Adanya pemberian perlakuan alkali
telah menyebabkan kulit luar thallus yang berwarna coklat
terpisah.

Diduga

ini

merupakan

salah

satu

faktor

yang

mempengaruhi hasil rendemen. Asam alginat akan terdegradasi


oleh

larutan

alkali

atau

senyawa

pereduksi.

Bila

alginat

terdegradasi oleh larutan alkali akan terbentuk sejumlah turunan


asam uronat tidak jenuh. Suasana yang terlalu basa dapat
mendegradasi alginat dengan memotong rantai polimer menjadi
oligosakarida dan terdegradasi lebih lanjut menjadi asam 4deoksi-5-ketouronat. Konsentrasi Na2CO3 lebih dari 2% rendemen
cenderung menurun.
Alginat adalah salah salah satu jenis polisakarida yang
terdapat dalam dinding sel alga coklat dengan kadar mencapai
40% dari total berat kering dan memegang peranan penting
dalam mempertahankan struktur jaringan sel alga. Kandungan
asam alginat dari batang alga jenis Laminaria pada tanaman
yang lebih tua relatif lebih stabil dibandingkan dengan yang
masih

muda.

pengambilan)

Kemungkinan
juga

perbedaan

berpengaruh

usia

terhadap

panen (waktu
kadar

natrium

alginate. Faktor lainnya adalah perbedaan kondisi perairan pada


waktu pengambilan sampel dilakukan. Alginat terdapat pada
dinding

sel

fleksibilitas

alga

coklat

(kelenturan)

yang

berperan

terhadap

alga

memberikan
itu

sendiri.

sifat
Itulah

sebabnya, alga coklat yang tumbuh di perairan yang beriak


(turbulen) biasanya memiliki kandungan alginat yang lebih tinggi
dibanding yang tumbuh di perairan yang relatif tenang (Abdullah
Rasyid, 2010).
Perendeman menggunakan HCl 0,5%, warna larutan tetap,
rumput laut lunak berwarna cokelat. Penggunaan HCl pada

alginat, akan memecah dinding sel sehingga memudahkan


ekstraksi, karena HCl merupakan asam kuat dan akan terionisasi
sempurna dan hasil rendemen yang diperoleh adalah sebesar
8%.

Penggunaan

bahan

pemucatan

(sumber

Ca)

yang

ditambahkan pada proses pemucatan, semakin kuat asam yang


digunakan menyebabkan makin lunaknya dinding sel rumput
laut, sehingga dengan ekstraksi semakin banyak bahan-bahan
yang dapat dikeluarkan dari jaringan ini (Winarno, 1990).
Prinsip mendapatkan alginat, jelasnya adalah pencucian,
perendaman dengan HCl, pencucian, penghancuran dengan
Na2CO3 4%, penyaringan, pengendapan dengan CaCl2 10 %,
pemucatan dengan CaOCl2 0,5%, penyaringan dan pencucian,
pengasaman dengan HCl, dan akhirnya asam alginat diubah
menjadi

Na-alginat

dengan

Na2CO3

1%

lalu

dikeringkan.

Sargassum sp. merupakan komponen utama penghasil alginat


yang merupakan senyawa penting dalam dinding sel (Belitz dan
Groch, 1982). Secara kimia alginat merupakan polimer murni dari
asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang
panjang (Stephen, 1995).
Rumput laut Sargassum sp. yang kering dipotong-potong
dengan ukuran 3 cm lalu ditimbang seberat 60 gram.
Kemudian dilakukan tahapan-tahapan proses ekstraksi sebagai
berikut :
1. Perendaman

menggunakan

larutan

KOH

untuk

membersihkan rumput laut dan NaOH 0,5% berfungsi untuk


membersihkan rumput laut dari kotoran-kotoran yang masih
menempel dan melunakkan. Perubahan yang terjadi setelah
direndam dengan larutan NaOH adalah warna rumput laut
menjadi coklat.
2. Perendaman menggunakan larutan HCl 0,5% berfungsi untuk
menetralkan

rumput

laut

dari

keadaan

basa

setelah

perendaman NaOH. Perubahan yang terjadi adalah warna


rumput laut menjadi coklat kehitaman.
3. Ekstraksi menggunakan larutan Na2CO3 5% sebanyak 250 ml
pada

suhu

50C

selama

jam.

Larutan

dipanaskan

menggunakan hot plate sampai mencapai suhu 50C dan


diusahakan agar suhunya tetap, hal ini dikarenakan pada suhu
tersebut ekstraksi dapat berjalan dengan baik. Setelah
diekstraksi selama 2 jam, larutan disaring menggunakan kain
dan perubahan yang terjadi adalah warna rumput laut
menjadi hitam kecoklatan, kemudian saring dengan kain
saring.
4. Pengasaman menggunakan larutan HCL 5% selama 5 jam.
Biasanya

HCL

yang

digunakan

sebanyak

90-105

ml.

Pengasaman dilakukan sampai pH menjadi 2,8-3,2. Perubahan


yang

terjadi

rumput

laut

menjadi

berbusa

setelah

ditambahkan HCL sebanyak 86 ml.


5. Pemucatan menggunakan H2O2 6% sebanyak 600 ml selama 1
jam. Warna rumput laut yang tadinya coklat berubah menjadi
putih.
6. Pengendapan menggunakan NaOH 10% sampai pH menjadi
8,5-9,0 selama 5 jam. Fungsi NaOH untuk mengeluarkan dan
memisahkan natrium alginate dan asam alginate dengan
penambahan 5 tetes NaOH. Jika pH 10, ditambah dengan HCl
0,5% sebanyak 95 ml sampai turun, jika asam ditambah
dengan 1 ml NaOH 0,5% sampai pH menjadi 9,0 karena untuk
pertukaran ion Na+ dan H+. Melalui proses ini didapat larutan
garam alginat dan air.
7. Pemurnian menggunakan isopropanol 95%. Natrium alginat
dan isopropanol dimasukkan secara bersamaan ke dalam
suatu wadah dengan perbandingan 1:1 dan ditunggu selama
5 menit. Hasilnya terjadi penggumpalan atau pemisahan
antara larutan alginat dan residunya (Na alginat terikat).

8. Larutan alginat yang terbentuk disaring dan dikeringkan pada


suhu kamar (25-28C) (Basmal et al., 2002).
Klasifikasi Sargassum duplicatum menurut Salisbury (1995)
adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Phaeophyta

Classis

: Phaeophyceae

Ordo

: Fucales

Familia

: Sargassaceae

Genus

: Sargassum

Species

: Sargassum duplicatum

Sargassum duplicatum mempunyai thallus berbentuk daun,


vesikel, batang, dan cabang. Tipe percabangan dikotom. Holdfast
berbentuk stolon merambat dengan cakram perekat. Bentuk
thallus Sargassum duplicatum lebih kecil. Sargassum duplicatum
mempunyai alginat. Algae yang kosmopolitan di daerah tropis
hingga subtropics, bukan merupakan algae endemic perairan
Indonesia

tetapi

banyak

ditemukan

di

perairan

nusantara

terutama di Kalimatan dimanfaatkan sebagai bahan esktraksi


alginat, sayuran sop, pemanis agar, bahan obat penyakit
kantung kemih, gondok dan kosmetik (Reine, 2009).
Rumput laut yang tinggi dalam abu (37,15-46,19%), diet
serat (25,05-39,67%) dan rendah kadar lemak (0,29- 1,11%)
pada berat (DW) basis kering. Rumput laut mengandung 12,0115,53% makro-mineral (Na, K, Ca dan Mg) dan 7,53-71,53
mg.100 g-1 trace mineral (Fe, Zn, Cu, Se dan I). Kandungan
protein Sargassum duplicatum (5,4% DW) (Patricia Matanjun et
al., 2009).
Alginat adalah isi utama dari dinding sel rumput laut coklat
atau alginofit. Penggunaan alginat dalam industri makanan
berhubungan

dengan

sifat-sifat

biofisik.

Alginat

digunakan

sebagai pengental, sehingga produk lebih stabil. Selain itu,

alginat dalam industri makanan digunakan untuk melembutkan


tekstur kue, serta menstabilkan campuran, dispersi dan emulsi
yang berhubungan dengan sifatnya sebagai agen pembentuk gel
dan meningkatkan viskositas (Mushollaeni, 2012).
Indriani dan Sumiarsih (1994), menyatakan bahwa algin
banyak digunakan dalam industri:
a. Makanan: pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue,
permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup dan
puding.
b. Farmasi: tablet, salep, kapsul, plaster, filter.
c. Kosmetik: krem, losion, sampo, cat rambut.
d. Tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pestisida, dan
bahan pengawet kayu.
Bagian dari rumput laut yaitu pada bagian pangkal,
mempunyai nilai rendemen tertinggi, karena bagian pangkal
umurnya lebih lama, jaringan selnya lebih tua dan batang
rumput laut (thallus) mempunyai fungsi sebagai penimbunan zatzat

makanan

cadangan,

sehingga

kandungan

rendemen

alginatnya paling tinggi. Kandungan alginat dari rumput laut


cokelat tergantung dari umur, spesies, dan habitat. Sintesa
monosakarida

terjadi

di

daun

dan

selanjutnya

sebagian

ditranslokasi ke bagian tanaman yang lain untuk disintesa


menjadi polimer (Taylor, 1979).
Rendemen alginat = Bobot akhir (g) x 100 %
Bobot awal (g)
(Salisbury, 1995).
Standar mutu pembuatan alginat menurut Junizal et al.
(1999)
Karakteristik
Kemurnian ( % bobot
kering )
Kadar As
Kadar Pb

Natrium alginat
90,8 100%
< 3 ppm
< 10 ppm

Kadar Hg
< 0,004%
Kadar abu
18-27%
Kadar air
< 15%
Dari tabel diatas terlihat bahwa kadar abu merupakan
batasan mutu dan nilainya diharapkan antara 18-27%, Kadar abu
yang melebihi standar diperkirakan disebabkan karena adanya
polusi pada perairan tersebut. Kadar abu merupakan salah satu
kriteria yang menentukan mutu dari alginat yang dihasilkan.
Tingginya kadar abu pada ekstrak alginat diduga karena rumput
laut yang tumbuh di perairan pantai dipengaruhi oleh baik
buruknya air laut karena polusi. Sedangkan kadar abu yang
diperbolehkan menurut food chemical codex antara 13-27%.
Diduga

karena

pada

saat

pembentukan

garam

alginat,

pemakaian NaOH mampu menghancurkan senyawa organik


menjadi senyawa anorganik, kadar abu dari jenis Sargassum sp
berkisar antara 30-35% (Junizal et al., 1999).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. Prinsip proses pembuatan alginate meliputi perendaman,
ekstraksi,

penyaringan,

pengasaman,

pemucatan,

pengendapan, pemurnian dan pengeringan.


2. Percobaan kali ini menghasilkan rendemen sebesar 0,65 %.

B. Saran
Penjemuran alginat bergilir masing-masing kelompok dan
pada saat perhitungan rendeman semua anggota kelompok
datang semua.

DAFTAR REFERENSI
Basmal, J., Yunizal & Tazwir. 2002. Pengaruh Perlakuan
Pembuatan Semi Refined Alginat dari Rumput Laut Cokelat
(T. ornata) Segar Terhadap Kualitas Sodium Alginat.
Makalah disajikan Dalam Forum Komunikasi I. Ikatan
Fikologi Indonesia, 97-110.
Belitz, H. D. & Grosch W. 1982. Food Chemistry. Springer Verlag
Berlin Heideberg New York, London, Paris, Tokyo.
Indriani, H & E. Sumiarsih. 1994. Budidaya, Pengolahan dan
Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.
Junizal, J. T. Murtini & B. Jamal. 1999. Teknologi Ekstraksi Alginat
dari Rumput Laut Cokelat ( Phaeophyceae ). Dalam
Laporan Teknis 1998-1999. Balai Penelitian Perikanan
Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Jakarta.
Matanjun, Patricia, Suhaila Mohamed, Noordin M. Mustapha &
Kharidah Muhamma. 2009. Nutrient content of tropical
edible seaweeds, Eucheuma cottonii, Caulerpa lentillifera
and Sargassum polycystum. J Appl Phycol 21:75-80.
Mushollaeni, W &Endang Rusdiana S. 2012. Optimizing the Use of
Alginate from Sargassum and Padina
as Natural
Emulsifier and Stabilizer in Cake. J. Agric. Food. Tech.
2(7):108-112
Rasyid, Abdullah. 2010. Ekstraksi Natrium Alginat dari Alga
Coklat Sargassum echinocarphum. Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia 36 (3) : 393-400.
Reine, W.F. & Trono Jr, G.C. 2009. Cryptogams Algae. 15 (1) : 240246.
Salisbury, F.B. % C.W.Ross. 1995. Plant Physiology. Second
Edition. Wadsworth Publishing Co. Belmount, California.
Stephen, M. 1995. Food Polysaccharide and Their Applications.
Departement of Chemistry. University of Cape Town, South
Africa.
Taylor, W. R. 1979. Marine Algae of The Eastern Tropical and
Subtropical Coasts of The Americas. The University of
Michigan Press, USA.

Winarno, F.G. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka


Sinar Harapan, Jakarta.