Anda di halaman 1dari 15

ISSN 0215 - 8250

105

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
SATU TANTANGAN BARU BAGI PENDIDIKAN SEJARAH
oleh
I Gde Widja
Jurusan Pendidikan Sejarah
Fakultas Pendidikan IPS, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Tulisan ini mencoba mengkaji permasalahan kehidupan berbangsa
yang dialami Indonesia dalam periode pasca - Orde Baru. Dalam
menghadapi situasi belakangan ini, satu pendekatan baru yang disebut
multikulturalisme telah dicoba diperkenalkan oleh kalangan akademisi
sebagai solusi kuncinya. Dalam konteks ini, studi dan pendidikan sejarah
bisa ikut mengambil peran strategis sepanjang mampu membuat reorientasi
dalam praktik pembelajarannya.
Kata kunci : pendidikan multikultural, tantangan, pendidikan sejarah.
ABSTRACT
This article tries to discuss the problems of nationhood experienced
by Indonesia during the post New Order period. Dealing with the
present situation, a new approach called Multiculturalism has been
introduced by some scholars as key solution. In this context, historical
studies and education can play strategic role as long as they are able to
reorient their learning practices.
Key word : multicultural education, challenge, history education.
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

106

1. Pendahuluan
Kehidupan sosial politik pasca - Orde Baru (sering disebut zaman/
Orde Reformasi) yang antara lain ditandai dengan terjadinya gejolak di
berbagai daerah, telah menggugah munculnya kesadaran baru di antara
komponen - komponen bangsa ini, bahwa kebanggaan kita akan kehidupan
berbangsa selama ini ternyata hanyalah bayang- bayang semu. Menarik
untuk diperhatikan dua sisi dari kesadaran baru tersebut. Di satu sisi, kita
sadar bahwa menipu diri akan kekokohan bangunan suprastruktur
kebangsaan kita yang ternyata rapuh (tidak mencerminkan kekuatan riil
seperti yang sering diwacanakan dalam berbagai doktrin ideologis). Di sisi
lainnya, kita sadar perlu membangun kembali semangat asli dari semboyan
Bhineka Tunggal Ika , yang selama ini cenderung telah diselewengkan
(direduksi) ke arah yang lebih menguntungkan kekuasaan (elit) di pusat.
(lihat Azra, 2002).
Bertolak dari kesadaran di atas, terlihat kekeliruan mendasar yang
ingin diperbaiki sejak zaman reformasi yaitu perhatian yang minim di masa
lalu terhadap dinamika daerah akibat titik berat yang berlebihan pada
kepentingan pusat. Disamping itu juga, terlihat kekuatan memaksakan
penyeragaman berbagai aspek sistem sosial politik dan budaya lokal dengan
berbagai akibat dan resikonya (lihat Abdullah, 2001). Tekad untuk
memperbaiki apa yang telah dipraktikan di masa lalu ini, tampaknya terkait
dengan munculnya perangkat hukum berupa Undang- Undang No. 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UU Otonomi Daerah).
Namun timbul pertanyaan, apakah ini akan menyelesaikan semua
masalah kehidupan berbangsa yang selama ini menghadang kita. Banyak
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

107

pihak beranggapan bahwa persoalannya tidaklah sesederhana itu, karena


permasalahan dasar yang sesunguhnya dihadapi selama ini adalah
terjadinya situasi yang saling tarik antardua kesadaran, yaitu kesadaran
nasionalitas (menekankan integrasi nasional) dan kesadaran etnisitas
(menekankan primordialisme/ patriotisme lokal), yang sewaktu - waktu bisa
berkembang menjadi situasi yang dilematis. Idealnya, bila dua kesadaran
tersebut bisa ditempatkan pada posisi di titik keseimbangan (ekuilibrium)
yang tercermin, misalnya pada kemampuan membuat keseimbangan
pemenuhan kepentingan dari keduanya. Akan tetapi, permasalahannya
justru ada di situ, artinya bagaimana mempertahankan posisi di titik
keseimbangan itu. Secara hakiki, situasinya seperti dahulu yang setiap saat
siap meluncur ke ujung-ujung ekstrem, yang tidak diinginkan sesuai
imbangan kekuatan penggeraknya, terutama bersifat kekuatan politis
(power game).
2. Pembahasan
2. 1 Mencari Akar Multikulturalisme dalam Sejarah Indonesia
Menghadapi realitas yang cenderung dilematis itu, yaitu antara
pemberian lebih banyak otonomi kepada daerah (yang di dalamnya
biasanya sudah terkait satu kepentingan etnisitas tertentu) dan upaya untuk
tetap menjaga keutuhan bangsa (integrasi nasional) yang direpresentasikan
oleh kekuasaan nasional, tampaknya memunculkan tuntutan untuk melihat
kembali paradigma yang melandasi kehidupan berbangsa. Salah satu
pemikiran yang mencuat dalam mencari jalan keluar dari persoalan ini
adalah perlunya meninjau kembali konsep nasionalisme (yang tentunya
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

108

terkait dengan konsep etnisitas di lain pihak) karena di sinilah terletak


sumber timbulnya kompleksitas/kerumitan masalah yang dihadapi.
Beberapa argumentasi menunjukkan bahwa sebagai akibat dari apa
yang diistilahkan sebagai nasionalisme politik yang mendasari berbagai
dimensi kehidupan berbangsa, maka dalam perkembangannya selalu
memunculkan kekuatan saling tarik antara kepentingan nasional (integrasi
nasional) di satu pihak dan tuntutan kepentingan daerah (nasionalisme
lokal) di pihak lain (lihat lebih lanjut Anderson, 2001 ). Tentu saja situasi
ini, akan membawa dampak yang tidak diinginkan (kerawanan kehidupan
berbangsa) terutama bila terjadi kecendrungan mencapai titik ekstrem dari
dua kepentingan tersebut. Dengan demikian, yang perlu dicarikan jalan
keluar adalah bagaimana saling tarik dikotomis antara dua kubu
kepentingan ini bisa dinetralisir (didamaikan), sehingga suasananya bukan
menjadi saling tarik (yang dengan sendirinya akan selalu menimbulkan
kerentanan hubungan), tetapi menjadi saling dukung/akomodatif satu sama
lain, baik secara vertikal (antara pusat daerah) maupun horisontal (antar
kelompok etnis sendiri).
Beberapa kalangan melihat upaya ke arah itu bisa diwujudkan
melalui pendekatan atau paradigma budaya dalam kehidupan berbangsa
yang diistilahkan sebagai nasionalisme budaya (khusus tentang istilahistilah nasionalisme politik dan nasionalisme budaya (lihat Widja, 2002;
lihat pula Harsono, 2000). Inti makna pendekatan budaya (nasionalisme
budaya ) dalam kehidupan berbangsa adalah upaya untuk menjadikan dua
kubu tadi ( pusat dan daerah ) berinteraksi secara lebih alamiah (wajar) ke
arah kesadaran bahwa perbedaan (kepentingan) itu menjadi pangkal ke arah
kedekatan/ saling memerlukan diantara entitas yang terlibat, baik secara
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

109

vertikal maupun horisontal. Hal itu dimungkinkan, bila negara bangsa


(nation state) yang dianggap merepresentasikan semangat kekuasaan
nasional memberikan suasana yang benar- benar akomodatif bagi
tumbuhnya keanekaragaman budaya daerah (local cultural distinctiveness)
dan menjadikan semangat etnisitas lebih menonjolkan sifat relasionalnya
(sifat inklusif). Artinya, sebagai kelompok- kelompok sosial yang berulangulang berpartisipasi bersama dalam satu atau lebih kegiatan sosial budaya,
dan menjauhkan sifat inklusif dalam hubungan antarkelompok etnis.
Kecendrungan sifat hubungan yang seperti di atas, inilah yang sekarang
lebih dikenal dengan pendekatan multikultural dalam kehidupan
berbangsa.
Dengan demikian, atas dasar pendekatan baru (multikulturalisme)
ini dalam pergaulan berbangsa di setiap wilayah tanah air ini yang tampil
tidak lagi interaksi antaretnis dengan batas-batas jati diri keetnisan yang
eksklusif, tetapi interaksi antarwarga yang diwarnai pluralitas warna
budaya. Dengan kata lain, kelompok-kelompok warga yang saling
berinteraksi tersebut, tidak semata- mata mewakili identitas-identitas etnis
secara eksklusif, tetapi lebih menampilkan identitas individual dengan
corak budaya yang beranekaragam. Dari sudut ini, situasi yang bisa
diharapkan tidak lagi menghadapi identitas-identitas etnis yang mudah
sekali terprovokasi bila ada kesalahpahaman, tetapi penampilan
keanekaragaman budaya yang lebih bersifat individual. Dalam praktik
kehidupan berbangsa melalui situasi seperti ini, permasalahanpermasalahan kesalahpahaman yang awalnya bersifat individual tidak
begitu saja mengait ke basis-basis identitas kesukuan yang selanjutnya bisa
mengeskalasi sentimen-sentimen emosional yang cepat merambat ke
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

110

seluruh anggota suku bangsa bersangkutan. Di pihak lain, melalui


pendekatan multikulturalisme ini diharapkan bisa dikurangi resiko
munculnya dilema yang tajam antara asas kebhinekaan dan asas
ketunggalan, dan selanjutnya tanggung jawab menjaga keseimbangan di
antara kedua asas tersebut, bisa lebih bergeser dari tangan pemerintah/
penguasa (yang cenderung bersikap hegemonis monolitik) ke tanggung
jawab warga secara keseluruhan.
Dalam hubungan dengan upaya pengembangan paradigma baru
kehidupan berbangsa seperti digambarkan di atas, satu hal yang sangat
strategis perlu diperhatikan adalah peran pendidikan sebagai sarana proses
sosialisasi pendekatan multikulturalisme ini. Seperti ditekankan dalam
pengantar Simposium Internasional dengan Tema Membangun kembali
Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika : Menuju Masyarakat Multikultural
(di Denpasar) bahwa :
Pendidikan sebagai mekanisme pengenalan, pembiasaan dan
pembinaan atau pemberdayaan ( empowerment ) merupakan media
yang efektif dan relevan bagi upaya perwujudan masyarakat
multikultural dan demokratis tersebut. Pendidikan dapat menjadi
pilihan terbaik dalam konteks perwujudan masyarakat Indonesia
yang mampu menerima segala perbedaan, dapat hidup
berdampingan secara damai serta dapat saling bekerjasama tanpa
mempersoalkan perbedaan- perbedaan yang ada
( Buku Informasi Simposium Internasional, 2002, hal. 11 ).
Di sini timbul pertanyaan, seberapa jauh pendidikan sejarah bisa
ikut berperan dalam mendukung tujuan yang ingin dicapai melalui
pendidikan multikultural tersebut, terutama mengingat relevansi pendidikan
sejarah dengan berbagai aspek kehidupan berbangsa. Untuk itu sebelumnya
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

111

perlu dibahas lebih lanjut akar semangat multikulturalisme dalam sejarah


Indonesia.
Melihat masalahnya dalam sejarah kehidupan masyarakat/bangsa
Indonesia, ternyata suasana seperti digambarkan di atas tadi, justru telah
dipraktikan dalam masyarakat pad waktu yang lampau, bahkan sebelum
berkembangnya nasionalisme (dalam ukuran mikro, hal ini bisa dilihat pada
interaksi antaretnis di daerah Bali Utara). Kenyataan ini tersirat misalnya
dalam berbagai tulisan beberapa antropolog yang melakukan penelitian di
Indonesia. James L. Peacock, misalnya mengungkapkan bahwa oleh sifat
hakikat kehidupan sosial budaya masyarakat- masyarakat Indonesia yang
saling silang (criss- cross cultural and social feature), maka sebenarnya
tidak terjadi kehidupan antaretnis yang eksklusif (tertutup) sehingga di
antara kelompok- kelompok etnis yang berbeda itu mudah terjadi kedekatan
yang mengarah ke persatuan. Menurut Peacock : the cross- cutting
division produce a loose integration ( among certain larger groups ); a
unity, thus, maintained by diversity, or variations are arranged to produce
a certain integration (Peacock, 1973 : 149).
Kesadaran seperti inilah yang telah tertanam di lingkungan
kelompok-kelompok etnis di Indonesia yang diistilahkan oleh Hildred
Geertz sebagai the consciousness of ones own specific cultural identity,
and the other an attitude of tolerance for other mores (Geertz, 1963 : 9 ).
Intinya, seperti pernah diucapkan oleh seorang antropolog Indonesia,
Mattulada, justru karena mereka berbeda maka mereka bersatu
(Mattulada, 1985 ).
Dengan demikian, bisa dikatakan semangat seperti di atas, inilah
yang sebenarnya sudah berkembang sejak awal kehidupan kelompok____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

112

kelompok etnis di Nusantara, yang kemudian dimanfaatkan oleh para


pendukung nasionalisme sejak zaman pergerakan nasional. Kemudian, hal
itu berhasil mengantarkan terwujudnya kemerdekaan Indonesia dan
berdirinya Indonesia sebagai satu negara bangsa (lihat Suparlan, 2002 :
1-2). Namun, kelihatannya perkembangan sejak Indonesia merdeka telah
membawa bangsa ini lebih mengarah ke ciri- ciri seperti terrefleksi pada
nasionalisme politik pada umumnya, yaitu penghadapan (dikotomi) antara
integrasi nasional di satu pihak dan identitas etnis di pihak lain yang
mencapai puncaknya pada zaman Orde Baru.
Atas dasar jalan pikiran ini, pendidikan multikultural mestinya
mengarahkan generasi muda bangsa ini kembali memahami serta
menghayati sifat hakiki hubungan antaretnis yang sudah berkembang sejak
sebelum terbentuknya negara bangsa ini, yang sekaligus berarti mau
memperhatikan ( mempelajari ) kembali sejarah kehidupan/ hubungan antar
etnis yang telah berkembang di bumi Nusantara ini. Sejarah semacam inilah
yang sering disebut sejarah sosial hubungan antar etnis (ethno
history). Fungsi utama studi sejarah seperti ini adalah sebagai titik tolak
pengembangan kesadaran seperti yang telah digambarkan oleh beberapa
antropolog yang telah disebutkan di atas, kesadaran mana bisa dikatakan
sebagai inti jiwa/ semangat paradigma mukltikulturalisme dan dengan
sendirinya pula menjadi sasaran utama apa yang kita sebut pendidikan
multikultural. Dengan kata lain, di sinilah bertemu antara pengembangan
pendidikan multikultural dan peran penting pendidikan sejarah. Hanya saja
kemudian timbul pertanyaan, bagaimana model pembelajaran sejarah yang
perlu dikembangkan agar bisa benar- benar sejalan/ mendukung tujuan
pendidikan multikultural tersebut, karena sudah jelas pola- pola
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

113

pembelajaran sejarah yang ada sekarang sangat meragukan bisa


mewujudkan sasaran seperti digambarkan di atas. Hal inilah yang akan
dicoba dibahas berikut ini.
2.2 Pengembangan Model Pembelajaran Sejarah dalam Rangka
Pendidikan Multikultural
Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa untuk ikut mendukung
pengembangan pendidikan multikultural, studi dan pendidikan sejarah perlu
lebih diarahkan ke materi kajian yang lebih menekankan sifat hakiki
perkembangan hubungan antaretnis di Indonesia atau studi sejarah sosial
etnis (ethno history). Secara lebih umum studi/pendidikan sejarah seperti
ini, perlu lebih menghargai kekhasan masing-masing daerah (kelompok
etnis) dalam perkembangan sejarahnya, yang di dalamnya sudah
terkandung warna-warni mozaik budaya yang dimilikinya (ethnic cultural
distinctiveness). Sebagai konsekuensinya, perlu upaya merevisi gambaran
sejarah bangsa ini yang sudah terlanjur selalu berayun ke titik pusat
kekuasaan atau bersifat konsentris, menjadi lebih menampakkan gambaran
dekonsentris (memperhatikan pula titik- titik pusat peristiwa sejarah yang
bertebaran di seluruh Nusantara ini).
Dalam konteks semangat baru seperti ini, sebenarnya pada tahun
1980-an, seorang sejarawan terkemuka, A. B. Lapian, telah mengajukan
satu gagasan yang antara lain menyarankan sejarah sebagaimana yang
kita kenal sekarang terlalu banyak membuat generalisasi yang harus diuji
kebenarannya. Sejarah Indonesia sebenarnya bisa ditulis dari beberapa titik
pusat pandangan. Hal itu bila ditulis berdasarkan titik pusat tersebut, maka
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

114

sejarah nasional akan tampil dalam suatu wajah yang berbeda dari yang kita
kenal ( Lapian, 1980 : 3).
Apa yang bisa dipetik dari saran Lapian ini, kiranya sejalan dengan
sejarah sosial hubungan antaretnis yang dikemukakan di atas, yaitu mulai
mendekonsentrasikan studi sejarah Indonesia dalam rangka membangun
kembali gambaran sejarah yang lebih adil (fair) dan proposional yang
dimiliki kelompok-kelompok etnis, yang ikut membentuk bangsa ini. Ini
juga dengan sendirinya sangat relevan dengan paradigma baru, dalam
memaknai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tidak terlalu
menekankan asas ketunggalannya, tetapi juga menghargai semangat asas
kemajemukannya (sesuai pendekatan multikulturalisme).
Sesuai semangat di atas ini, sudah jelas perlu dibangun
penggambaran sejarah yang bernuansa pendekatan sosial-budaya, yang
intinya memuat gaya pengisahan ceritera sejarah yang lebih mencerminkan
jaringan hubungan pluralistik kultural dari pada gaya yang lebih diwarnai
jaringan hubungan monolitik politik. Dalam konteks ini, apa yang
disarankan Taufik Abdullah perlu kita perhatikan. Melalui apa yang dia
sebut gaya romantik dalam pengisahan sejarah, dia lebih menekankan
adanya dan berkembangnya komunikasi budaya dari berbagai kesatuan
politik/ etnis (lihat Abdullah, 1996 : 13 14). Dalam lukisan sejarah
seperti ini yang tampil menonjol dalam kisah sejarah, bukan lagi tokohtokoh politik/penguasa ataupun para panglima perang yang saling
menaklukkan, tetapi para tokoh yang diistilahkannya para pialang budaya
atau cultural brokers yang tidak lain dari para pelayar, pedagang, alim
ulama, atau para pujangga/sastrawan. Jadi, yang lebih dominan tampil di
panggung sejarah adalah satuan-satuan kelompok etnis (dengan para
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

115

tokohnya) dengan kejatidirian yang telah melekat padanya (state of


beingnya -nya) yang saling mengadakan kontak kultural melalui para
cultural brokers serta saling memberi dan menerima unsur budaya
masing- masing. Hal ini kemudian berkembang, sebagai bagian dari proses
saling mendekatkan diri menuju kehidupan bersama yang bersifat transetnik menuju terwujudnya apa yang kemudian kita hayati sebagai
komunitas bangsa ( state of becoming ).
Jalan pikiran di atas ini, bisa dikaitkan dengan penegasan Rebeka
Harsono, bahwa kita sekarang sudah melewati yang disebutnya post
nationstate yang terutama didukung konsep politik (political
nasionalism). Nasionalisme politik macam ini dianggap sudah gagal
mewujudkan apa yang menjadi ide awalnya, yaitu peningkatan harkat dan
jati diri bukan saja komunitas bangsa yang terbentuk, tetapi juga entitasentitas etnis pendukungnya. Sekarang, sebagai konsekuensinya, penggagaspenggagas nasionalisme lebih berpaling ke apa yang diistilahkan sebagai
nasionalisme budaya , yang intinya menurut Rebeka Harsono,
pengakuan cultural distinctiveness unsur- unsur pembentuk bangsa (lihat
Harsono, 2001 : 29). Di sini kisah raja-raja/penguasa pusat dengan
kecenderungan aktivitas yang penuh agresivitas dan bersifat hegemonis
hanya menjadi, seperti dikatakan oleh Taufik Abdullah, sebagai latar
struktural dari rangkaian peristiwa/ fenomena kultural yang digambarkan
di atas. Pengisahan gambaran peristiwa sejarah seperti inilah yang
kelihatannya sangat sejalan dengan semangat multikulturalisme yang telah
dipaparkan di muka.
Bertolak dari jalan pikiran di atas, tentunya yang pertama-tama
perlu dikembangkan tidak lain adanya upaya untuk menaruh fokus
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

116

perhatian yang lebih berat pada pensosialisasian gambaran sejarah yang


lebih berorientasi pada kekayaan potensi sejarah lokal (kelompok etnis)
bersangkutan. Dengan demikian, secara metaforis bisa dikatakan bahwa
gambaran sejarah yang perlu dimunculkan dihadapan murid bukan lagi
hanya sejarah dari puncak tugu Monas di Jakarta , tetapi juga dari
pusat- pusat lingkaran mozaik warna- warni peristiwa sejarah lokal yang
bertebaran di seluruh Nusantara. Melalui pendekatan seperti ini, sedikit
demi sedikit profil pembelajaran sejarah di sekolah akan mulai
menampakkan
wajah
baru
yang
sejalan
dengan
semangat
multikulturalisme. Dari segi prinsip-prinsip pembelajaran sejarah, upaya
pembaharuan pengajaran sejarah seperti ini mengarah ke model atau
pendekatan yang sering disebut pendekatan pembelajaran sejarah
lingkungan sekitar (istilah lain yang sering digunakan adalah living
history, atau community/ethnic history atau istilah yang lebih umum
sejarah lokal (khusus untuk pengembangan model pembelajaran sejarah
lokal lihat secara khusus Widja, 1991). Tentu saja dalam rangka
pengembangan pembelajaran sejarah yang mampu mendukung pendidikan
multikultural secara lebih optimal, perlu ada upaya penyempurnaan seperti
misalnya dimanfaatkannya prinsip-prinsip pembelajaran melalui paradigma
konstruktivis, khususnya konstruktivis sosial (social constructivism). Hal
yang terakhir ini, sangat perlu diperhatikan, karena menurut para penggagas
pendekatan tersebut pengembangan satu pengertian/pengetahuan mencakup
suatu proses aktif dan konstruktif, berupa proses menemukan,
mengorganisasikan, menyimpan, mengekspresikan konsep-konsep,
tegasnya suatu proses pembentukan konsep yang terus menerus (lihat
Bettencourt, 1989; lihat pula secara khusus Laporan Penelitian
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

117

Implementasi Model Konstruktivis dalam Pembelajaran IPS, Tim


Peneliti, 2002 ).
3. Penutup
Adanya semangat baru dalam kehidupan berbangsa yang ingin lebih
memberikan penekanan pada konsep multikulturalisme sebagai landasan
baru pemaknaan semboyan Bhineka Tunggal Ika menuntut perlunya
pengembangan pendidikan multikultural sebagai sarana sosialisasi tujuan
yang ingin dicapai. Dalam hubungan perspektif baru kehidupan berbangsa
ini sejarah dan pendidikan sejarah mestinya bisa ikut berperan dengan lebih
menekankan, di satu sisinya substansi yang lebih menggambarkan interaksi
kultural antarkelompok etnis yang mencerminkan keragaman (pluralitas)
dari pada interaksi yang cenderung bersifat hegemonis politis seperti yang
berkembang pada periode sebelum reformasi. Di sisi lain, perlu
dikembangkan gambaran sejarah yang dekonsentris, artinya bisa bertolak
dari peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi di tingkat lokal/daerah, tidak
mesti hanya beranjak dari titik pusat kekuasaan. Tentu saja, ini harus
dipahami sebagai suatu interaksi daerah dan pusat yang saling terkait dan
saling mengisi sehingga tidak membawa sejarah dan pendidikan sejarah
dari ekstrim konsentris (orientasi yang berlebihan ke sejarah nasional)
menuju ke ekstrem dekonsentris (bersifat primordial sempit/ nasionalisme
lokal). Karena yang diidealkan adalah keseimbangan yang jujur dan adil
antara asas kebhinekaan dan asas ketunggalan.
Sejalan dengan pemberian peran yang lebih bermakna dari
pendidikan sejarah terhadap pengembangan pendidikan multikultural
tentunya perlu dikembangkan model pembelajaran sejarah dengan wajah
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1
TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

118

serta semangat baru yang mengandung di dalamnya unsur- unsur dari


prinsip pendekatan multikulturalisme. Inti dari model pembelajaran sejarah
seperti itu tentunya perlu dikembangkan atas dasar studi khusus yang cukup
mendalam dan mendasar. Namun, sebagai titik awal perlu diadakan
pengembangan model yang mungkin bisa diramu dari model pembelajaran
sejarah lokal dengan penekanan pendekatan budaya (penekanan pada warna
pluralitas budaya seperti yang menjadi cirri khas ethnic history serta
diperkokoh dengan prinsip- prinsip konstruktivis sosial dalam proses
pembelajarannya. ( lihat Widja, 2003 ).

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 2001. Konflik Sosial, Realitas Etnis, dan Hubungan
Negara Bangsa , makalah dalam Seminar Nasional Kebhinekaan
dalam Wawasan Kebangsaan. PPS Kajian Budaya, Universitas
Udayana.
Abdullah, Taufik. 1996. Pengajaran Sejarah yang Reflektif dan Inspiratif
, artikel dalam Jurnal SEJARAH no. 6 Feb. 1996.
Anderson, Benedict. 1991 ( 2001 ). Imagined Communities : Komunitaskomunitas Terbayang. Yogyakarta : INSIST & Pustaka Pelajar.
Azra, Azyumardi. 2002. Pendidikan Multikultural : Membangun kembali
Indonesia Bhineka Tunggal Ika , makalah dalam Simposium
Internasional Jurnal Antropologi III di Denpasar (16 19 Juli 2002).
Bettencourt, A. 1989. What is Contructivism and Why Are They Talking
About It ? Michigan : Michigan University Press.

____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1


TH. XXXIX Januari 2006

ISSN 0215 - 8250

119

Geertz, Hildred. 1963. Indonesian Cultures and Communities , dalam T.


Mac Vey ( ed. ), INDONESIA. Yale University, New Haven.
Harsono, Rebeka. 2000. Cultural Studies, Nasionalisme, dan Etnisitas ,
artikel dalam KOMPAS, 1 Desember 2000, hal. 30.
Lapian, A. B. 1980. Memperluas Cakrawala Melalui Sejarah Lokal ,
artikel dalam PRISMA no. 8 Th. IX, Agustus 1980.
Mattulada. 1985. Mentalitas dan Ciri- ciri Kepribadian Bangsa Indonesia
, dalam BUDAYA DAN MANUSIA INDONESIA. Malang :
Yayasan Hanindita.
Peacock, James L. 1973. Indonesia : An Anthropological Perspectives.
California : Goodyear Publishing Company.
Suparlan, Parsudi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang
Multikultural , makalah dalam Simposium Internasional Jurnal
Antropologi III di Denpasar ( 16 19 Juli 2002 ).
Tim Peneliti. 2002. Laporan Penelitian Implementasi Model Konstruktivis
dalam Pembelajaran IPS. FPIPS IKIP Negeri Singaraja.
Widja, I Gde. 1991. Sejarah Lokal : Suatu Perspektif Dalam Pengajaran
Sejarah. Bandung : Penerbit Angkasa.
Widja, I Gde. 2002. Mencari Format Baru Kehidupan Berbangsa Melalui
Pendekatan Budaya , artikel dalam MEDIA KOMUNIKASI FPIPS
Vol. 1, No. 3, Desember 2002.
Widja, I Gde. 2002. Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Yogyakarta :
Lapera Pustaka Utama.

____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1


TH. XXXIX Januari 2006