Anda di halaman 1dari 25

I.

JUDUL

ANALISIS KLASIFIKASI MASSA BATUAN PADA


TAMBANG
KUARI
BATUGAMPING
DENGAN
MENGGUNAKAN METODE SLOPE MASS RATING
(SMR) DI PT SINAR ASIA FORTUNA KECEMATAN
SALEH KABUPATEN REMBANG JAWA TENGAH
II.

LATAR BELAKANG MASALAH


PT. Sinar Asia Fortuna merupakan salah satu perusahaan swasta yang

bergerak dibidang industri pertambangan batugamping, secara administratif


berada di Dusun Pancuran, Desa Tahunan, Kecematan Sale, Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah dan telah beroperasi sejak tahun 1995. Konsumen utama dari
produksi batugamping saat ini yaitu PT.Tjiwi Kimia dan merupakan salah satu
perusahaan kertas yang berlokasi di Mojokerto Jawa Timur.
Aktivitas penambangan pada tambang kuari yang berada pada PT. Sinar
Asia Fortuna berhubungan dengan penggalian dan penimbunan akan menghadapi
masalah dengan lereng, baik itu pada lereng kerja (working slope) maupun pada
lereng akhir (final slope). Lereng-lereng tersebut harus dianalisis kemantapannya
untuk mencegah terjadinya bahaya keruntuhan atau longsoran yang dapat
menimbulkan korban jiwa, kerugian waktu dan kerugian biaya. Oleh karna itu
dengan menggunakan Metode Slope Mass Rating untuk mengetahui klasifikasi
massa batuan dan kesetimbanganya. Perlu dilakukan suatu perancangan yang
tepat untuk mengetahui tingkat kestabilan batuan dalam proses penambangan pada
PT. Sinar Asia Fortuna.
Slope Mass Rating adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan sudut
kemiringan lereng pengupasan. Romana (1990, dalam Djakamihardja dan
soebowo, 1996) mengaitkan nilai RMR dengan faktor penyusuaian dari orientasi
kekar terhadap orientasi lereng serta sistem pengupasan lereng dalam bentung
angka rating (pembobotan).

Untuk mengetahui kemantapan lereng berdasarkan klasifikasi massa


batuanya pada PT. Sinar Asia Fortuna diperlukan metode yang tepat yang sesuai
dengan kondisi geologi, ganesa, dan endapanya. dalam pengaplikasianya, maka
peneliti mencoba mengklasifikasi massa batuan dengan menggunakan metode
SMR pada PT. Sinar Asia Fortuna.
Analisa

yang dilakukan

berdasarkan

observasi

lapangan

dan

uji

laboratorium, dimana data ini akan digunakan dalam mendapatkan tingkat


kestabilan masa batuan dan juga digunakan untuk menentukan disain kemiringan
lereng batuan. Metode evaluasi yang diaplikasikan merupakan pendekatan
empirik dari klasifikasi masa batuan (Rock Mass Rating) dan

klasifikasi

kemiringan lereng (Slope Mass Rating). Pendekatan ini akan bermanfaat untuk
memperoleh pengertian yang lebih baik, hubungannya dengan pengaruh geologi
dan parameter kekuatan batuan serta mekanisme keruntuhan masa batuan.

III. PERUMUSAN MASALAH


Dengan dilakukanya kegiatan penambangan secara berkelanjutan pada PT.
Sinar Asia Fortuna, dan dengan memperhatikan struktur-struktur geologi yang
ada. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana cara peneliti mengetahui dan
mengklasifikasi massa batuan yang berada pada setiap lereng atau jenjang
penambangan yang berada pada tambang kuari PT. Sinar Asia Fortuna yang
didapatkan berdasarkan hasil penelitian langsung yang dilakukan dilapangan.
yang bertujuan untuk mengetahui keterdapatan struktur-struktur geologi dan
klasifikasi massa batuanya, sehinga peneliti dapat melakukan uji lab pada sampel
batuan dan pada akhirnya mengetahui kuat atau tidak, serta aman atau tidak
jenjang tersebut, sehingga dapat disimpulkan dalam pembobotan massa lereng
(Slope Mass Rating) yang terdapat pada setiap lereng penambangan pada PT.
Sinar Asia Fortuna Rembang Jawa Tengah.

IV. BATASAN MASALAH


Agar pembahasan terhadap masalah yang ada sesuai dengan tujuan akhir
penulisan tugas akhir ini, maka diperlukan pembatasan terhadap masalah yang
ada. Maka masalah pokok yang perlu dikaji adalah keterdapatan struktur-struktur
geologi dan kekuatan batuan yang mempengaruhi massa dari batugamping
sehingga dapat merancang kemiringan lereng (Slope Mass Rating) yang
mempunyai kestabilan yang baik berdasarkan pembobotan batuanya pada lokasi
penambangan PT. Sinar Asia Fortuna. di Dusun Pancuran, Desa Tahunan,
Kecematan Sale, kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah.
V.

TUJUAN PENELITIAN
Secara umum tujuan dan manfaat pengklasifikasian massa batuan pada PT.

Sinar Asia Fortuna yaitu dapat mengelompokkan batuan dan mengetahui jenis,
karakter atau data-data lain mengenai batuan tersebut, Tujuan dari klasifikasi
massa batuan adalah untuk:
a. Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan /sifat
massa batuan.
b. Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai
kesamaan sifat dan kualitas.
c. Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas
massa batuan.
d. Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik.
e. Menyediakan dasar acuan untuk komunikasi antara geologist dan engineer.

VI. METODE PENELITIAN


Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan rencana kegiatan
penelitian ini adalah metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung
dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung dilapangan, sedangkan
metode tidak langsung dilakukan dengan melakukan studi literatur baik dari
perpustakaan maupun perusahaan.

Adapun urutan-urutan dalam melakukan kegiatan tersebut antara lain


sebagai berikut :
1.

Studi Literatur
Studi literatur ini dilakukan dengan mencari bahan pustaka yang
menunjangdiperoleh, antara lain dari :
a) Literatur di perpustakaan
b) Internet
c) Informasi-informasi
d) Laporan penelitian terdahulu dengan topik yang sama

2.

Penelitian Dilapangan
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap anataralain :
a) Observasi lapangan dengan melakukan pengamatan secara
langsung tehadap proses yang terjasi dan mencari informasi
pendukung yang terkait dengan masalah yang akan dibahas.
b) Menentukan lokasi pengamatan dan mengambil data-data yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah.
c) Mencocokan dengan perumusan masalah yang ada dengan
tujuan agar penelitian yang dilakukan tidak meluas serta data
yang diambil dapat digunakan secara efektif.

3.

Pengambilan Data

a. Data Primer
Data yang diambil langsung dilapangan melalui pengamatan atau
pengukuran serta perhitungan antara lain :
a. Struktur Geologi
b. Data jumlah keterdapatan kekar pada batuan
c. Analisis RQD, kondisi kekar, jarak kekar, dan keadaan air tanah
d. Pengukuran arah jurus, kemiringan jurus, arah lereng, dan
kemiringan lereng
e. Pengujian kuat tekan pada batuan
f. Pengambilan Sampel Batuan dan ploting koordinat
4

b. Data Skunder
Data yang tidak diambil langsung dilapangan tapi merupakan
laporan penelitian perusahaan, data-data tersebut diantaranya
adalah :
a. Peta administrasi
b. Peta lokasi daerah penelitian
c. Peta topografi
d. Data curah hujan dan data sifat fisik batugamping
4. Pengolahan Data
Pengolahan

data

dilakukan

dengan

menggunakan

beberapa

perhitungan dan analisa berdasarkan kondisi yang di dapat


dilapangan.
5. Analisis Hasil Pengolahan Data
Analisis

hasil

pengolahan

data

dilakukan

dengan

tujuan

memperoleh kesimpulan sementara dan selanjutnya diolah dalam


bagian pembahasan
6. Kesimpulan
Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan koreksi antara hasil
pengolahan data yang telah dilakukan dengan permasalahan yang
akan diteliti. Kesimpulan ini merupakan suatu hasil akhir dari
semua yang telah dibahas.

Studi Literatur

Penelitian Dilapangan

Pengambilan Data

Data Primer

Data Skunder

a. Struktur Geologi
b. Data kekar pada batuan
c. Analisis RQD, kondisi kekar, jarak
kekar, dan keadaan air tanah
d. Pengukuran arah jurus, kemiringan
jurus, arah lereng, dan kemiringan
lereng
e. Pengambilan Sampel Batuan dan
ploting koordinat

a.

Peta Administrasi

b.

Peta Lokasi Daerah Penelitian

c.

Peta Topografi

d.

Data Sifat Fisik Batugamping

e.

Peta Lokasi Penelitian

Pengolahan Data

Analisa Hasil

Pembahasan

Kesimpulan Dan Saran


Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

VII. MANFAAT PENELITIAN


Manfaat yang diperoleh dari penyusunan Tugas Akhir I ini adalah :
a. Sebagai acuan dalam mengetahui dan mempraktekan ilmu dan teori yang
diperoleh dari bangku kuliah, khususnya berkaitan dengan masalah yang
dibahas dan menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan.
b. Sebagai informasi tambahan untuk PT. Sinar Asia Fortuna dalam
mengetahui keterdapatan struktur-struktur geologi yang didapatkan pada
areal front penambangan.
c. Sebagai acuan yang digunakan dalam memndapatkan tingkat kestabilan
massa batuan dan juga digunakan untuk desain kemiringan lereng ( Slope
Mass Rating ) terhadap batuan.
d. Sebagai acuan penelitian berkelanjutan terhadap permasalahan yang sama
yang di angkat oleh peneliti pada PT. Sinar Asia Fortuna.

VIII. DASAR TEORI


8.1. Konsep Massa Batuan, Struktur Batuan dan Bidang Diskontinu
8.1.1. Massa Batuan
Massa batuan merupakan volume batuan yang terdiri dari material batuan
berupa mineral, tekstur dan komposisi dan juga terdiri dari bidang-bidang
diskontinu, membentuk salah satu material dan saling berhubungan dengan semua
elemen sebagai suatu kesatuan. Kekuatan massa batuan sangat dipengaruhi oleh
frekwensi bidang-bidang diskontinu yang terbentuk, oleh sebab itu massa batuan
akan mempunyai kekuatan yang lebih kecil bila dibandingkan dengan batuan
utuh. Menurut Hoek & Bray (1981), massa batuan adalah insitu yang dijadikan
diskontinu oleh sistem struktur seperti joint, sesar dan bidang perlapisan. Konsep
pembentuk massa batuan ditulis oleh Palmstrom (2001) dalam sebuah tulisan
yang berjudul Measurement and Characterizttion of Rock Joiniting yaitu seperti
sebagai berikut :

Sumber : Konsep pembentukan massa batuan (Plamstrom, 2001)


8.1.2.

Struktur Batuan
Struktur batuan adalah gambaran tentang kenampakan atau keadaan
batuan,

termasuk

didalam

bentuk

atau

keudukanya.

Berdasarkan

keterjadianya, struktur batuan dapat dikelompokan menjadi :

1.

Struktur primer, yaitu struktur yang terjadi pada saat proses


pembentukan batuan. Misalnya : bidang perlapisan silang (cross
bedding) pada batuan sedimen atau kekar akibat pendinginan
(cooling joint) pada batuan beku.

2.

Struktur skunder, yaitu struktur yang terjadi` kemudian setelah


batauan terbentuk akibat adanya proses deformasi atau tektonik.
Misalnya lipatan (fold), patahan (fault) dan kekar (joint).

Bidang diskontinu dapat ditemukan pada struktur primer maupun struktur


skunder.
8.1.3. Bidang Diskontinu
Secara umum, bidang diskontinu merupakan bidang yang memisahkan
massa batuan menjadi bagian yang terpisah. Menurut Priset (1993), pengertian
bidang diskontinu adalah setiap bidang lemah yang terjadi pada bagian
yangmemiliki kuat tarik yang paling lemah dalam batuan. Menurut Gabrielsen
(1990), keterjadian bidang diskontinu tidak terlepas dari masalah perubahan stress
(tegangan) strain (rengangan), mineralisasi dan rekristalisasi yang terjadi pada
massa batuan dalam waktu panjang.
Beberapa jenis bidang diskontinu yang digolongkan berdasarkan ukuran
dan komposisinya sebagai berikut :
1.

Fault (patahan)
Fault adalah bidang discontinu yang secara jelas memperlihatkan tandatanda bidang tersebut mengalami pergerakan. Tanda-tanda tersebut
diantaranya adalah adanya zona hancuran maupun slickensided atau
jejak yang terdapat disepanjang bidang fault. Fault dikenal sebagai
weakness zone karna akan memberikan pengaruh pada kestabilan massa
batuan dalam wilayah yang luas.

2.

Joint (kekar)
Joint adalah bidang diskontinu yang telah pecah namun tidak
mengalami pergerakan ataupun bergerak, pergerakan tersebut sangat
sedikit sehingga bisa diabaikan. Joint merupakan jenis bidang
diskontinu yang paling sering hadir dalam batuan.
9

3.

Bedding (bidang perlapisan)


Bedding terdapat pada permukaan batuan yang mengalami perubahan
ukuran dan orientasi butir dari batuan tersebut serta perubahan
mineralogi yang terjadi selama proses pembentukan batuan sedimen.

4.

Fracture dan crack


Fracture diartikan sebagai bidang diskontinu yang pecah tidak paralel
dengan struktur lain yang tampak pada batuan. Bebeberapa rock
mechanic engineer menggunakan istilah fracture dan crack untuk
menjelaskan pecahan atau crack yang terjadi pada saat pengujian
batuan, peledakan dan untuk menjelaskan mekanisme pecahnya batuan
brittle.

5.

Fissure
Ada banayak ahli yang menjelaskan pengertian fissure, salah satunya
adalah menurut Fookes dan Dennes (1969) yang mendefinisikan fissue
sebagai bidang diskontinu yang membagi suatu material utuh tampa
memisahkan menjadi bagian terpisah.

Adanya bidang diskontinu pada batuan akan mempengaruhi banayk hal


yang berhubungan dengan aktifitas penambangan. Diantaranya adalah pengaruh
terhadap kekuatan dari batuan. Semakin banyak bidang diskontinu yang
memotong massa batuan, semakin kecil pula kekuatan dari batuan tersebut.
Bidang-bidang diskontinu yang ada pada massa batuan inilah yang memiliki
potensi untuk terjadinya failure pada batuan yang diekskavasi. Selain itu adanya
bidang diskontinu juga memberikan pengaruh lain dalam sebuah kegiatan
pertambangan. Hal ini berkaitan dengan ukuran fragmentasi material yang
ditambang.

10

Dari semua jenis bidang diskontinu yang ada, joint adalah yang paling
sering menjadi pertimbangan. Hal ini disebabkan joint merupakan bidang
diskontinu yang telah pecah dan terbuka, sehingga bidang joint sering bahkan
selalu ada pada massa batuan. Oleh karna itu, dalam pertimbangan geoteknik,
seringkali joint lebih menjadi perhatian dibandingkan jenis bidang diskontinu
yang lainya.
Dalam analisis bidang diskontinu terdapat beberapa istilah yang dipakai
secara umum. Berikut ini akan dibahas beberapa poin yang berkaitan dengan
bidang diskontinu.
1.

Joint Set
Joint set adalah sejumlah joint yang memiliki orientasi yang relatif sama,
atau sekelompok joint yang paralel.

Diagram Block dengan 3 joint Set


(gambar diatas, tampak sebuah blok batuan yang memiliki tiga joint set,
masing-masing joint set 1,2 dan 3)
2.

Spasi Bidang Diskontinu (jonit Spacing)


Menurut Priest (1993) ada tiga macam spasi bidang diskontinu, ketiga
macam joint spacing tersebut adalah spasi total (total spacing), spasi set
(set/joint set spacing) dan spasi set normal (normal set spacing).
a. Total spasing adalah jarak anatara bidang diskontinu dalam suatu
lubang bor atau sampling line pada pengamatan dipermuakaan.
11

b. Joint set spasing adalah jarak antara bidang diskontinu dalam satu joint
set. Jarak diukur di sepanjang lubang bor atau sampling line pada
pengamatan dipermukaan.
c. Normal set spasing hampir sama dengan set sampling, bedanya pada
normal set sampling, jarak yang diukur adalah jarak tegak lurus antara
satu bidang diskontinu dengan bidang diskontinu lainya yang adadalam
satu joint set.
Berdasarkan pengertian Priest ini maka pada gambar diatas, ketiga spasi diatas
merupakan normal set spasing.

3.

Orientasi Bidang Diskontinu


Orientasi bidang diskontinu yaitu kedudukan dari bidang diskontinu yang

Meliputi arah dan kemiringan bidang. Arah dan kemiringan dari bidang
diskontinu biasanya dinyatakan dalam (Strikr/Dip) atau (Dip Direction/Dip).
a. Strike (jurus)
Merupakan arah dari garis horizontal yang terletak pada bidang diskontinu
yang miring. Arah ini diukur dari arah utara searah jarum jam ke arah garis
horizontal tersebut.
b. Dip Derection
Dip direction merupakan arah penunjaman dari bidang diskontinu. Dip
Direction (DDR) diukur dari North searah jarum jam ke arah penunjaman
tersebut atau sama dengan 90 derajat dari strike searah jarum jam kearah
penunjaman.
DDR = strike + 90
c. Dip (kemiringan lereng)
Dip adalah sudut yang diukur dari bidang horizontal ke arah kemiringan
bidang diskontinu.

12

8.2. Klasifikasi Massa Batuan


Klasifikasi massa batuan menguntungkan pada tahap studi kelayakan dan
desain awal dimana sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai massa
batuan, tegangan, dan hidrogeologi. Secara sederhana, klasifikasi massa batuan
digunakan sebagai sebuah check-list untuk meyakinkan bahwa semua informasi
penting telah dipertimbangkan, didalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang
pertama diperkenalkan sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk
terowongan dengan penyanggaan menggunakan penyangga baja.
Klasifikasi dikembangkan untuk penyangga non-baja untuk terowongan,
lereng, dan pondasi. Pendekatan desain yang biasa digunakan untuk penggalian
pada batuan yaitu: analitik, observasi, dan empirik. Salah satu yang paling banyak
digunakan adalah pendekatan desain dengan menggunakan metode empiric.
Klasifikasi massa batuan dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang
timbul dilapangan secara cepat dan tidak ditujukan untuk mengganti studi analitik,
observasi lapangan.
Klasifikasi massa batuan digunakan sebagai alat dalam menganalisis
kemantapan lereng yang menghubungkan antara pengalaman dibidang massa
batuan dengan kebutuhan pemantapan diberbagai kondisi lapangan yang
dibutuhkan. Namun demikian, penggunaan klasifikasi massa batuan tidak
digunakan sebagai pengganti perencanaan rinci. Pada dasarnya pembuatan
klasifikasi masssa batuan bertujuan (Bieniawski, 1989) :
a. Mengidentifikasi parameter-parameter penting yang mempengharuhi perilaku
massa batuan.
b. Membagi formasi massa batuan ke dalam grup yang mempunyai perilaku sama
menjadi kelas massa batuan.
c. Memberikan dasar-dasar untuk pengertian karakterisitik dari setiap kelas massa
batuan.
d. Menghubungkan pengalaman dari kondisi massa batuan disatu lokasi dengan
lokasi lainnya.
e. Mengambil data kuantitatif dan pedoman untuk rancangan rekayasa
(engineering)
13

f. Memberikan dasar umum untuk kemudahan komunikasi diantara para insinyur


dan geologiawan.

Agar dapat dipergunakan dengan baik dan cepat maka klasifikasi massa
batuan harus mempunyai beberapa sifat seperti berikut (Bieniawski, 1989) :
a. Sederhana, mudah diingat dan dimengerti.
b. Sifat-sifat massa batuan yang penting harus disertakan.
c. Parameter dapat diukur dengan mudah dan murah.
d. Pembobotan dilakukan secara relative.
e. Menyediakan data-data kuantitatif.
Klasifikasi massa batuan akan diperoleh paling tidak tiga keuntungan bagi
perancangan kemantapan lereng yaitu (Bieniawski, 1989) :
a. Meningkatkan kualitas hasil penyelidikan lapangan dengan data masukan
minimum sebagai parameter klasifikasi.
b. Memberikan informasi / data kuantitatif untuk tujuan rancangan.
c . Penilaian rekayasa dapat lebih baik dan komunikasi lebih efektif pada suatu
Proyek.
Menurut Palmstrom (1995) klasifikasi massa batuan dapat dikelompokan
berdasarkan bentuk dan tipe dari klasifikasi massa batuan itu. Pengelompokan
menurut bentuk berkaitan dengan data masukan dari klasifikasi massa batuan.
Sedangkan pengelompokan berdasarkan tipe, berhubungan dengan penerapan dari
klasifikasi massa batuan tersebut. Saat ini telah berkembang berbagai metode
klasifikasi massa batuan batuan. Di antara metode klasifikasi itu, ada yang
digunakan untuk kepentingan metode perancangan empiris, dan ada pula yang
digunakan hanya sebagai data masukan untuk klasifikasi massa batuan yang lain.

14

Beberapa Klasifikasi Massa Batuan yang dikenal saat ini adalah :


1. Metode Klasifikasi Beban Batuan (Rock Load)
2. Klasifikasi Stand up time
3. Rock Quality Designation (RQD)
4. Rock Structure Rating (RSR)
5. Rock Mass Rating (RMR)
6. Slope Mass Rating (SMR)

1.

Metode Klasifikasi Beban Batuan (Rock Load)


Metode ini biasa juga disebut dengan Klasifikasi Massa Batuan Terzaghi

(1946) metode karena ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1946,
merupakan metode pertama yang cukup rasional yang mengevaluasi beban batuan
untuk desain terowongan dengan penyangga baja. Metode ini telah dipakai secara
berhasil di Amerika selama kurun waktu 50 tahun. Akan tetapi pada saat ini
metode ini sudah tidak cocok lagi.
Terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan penyangga
beton dan rockbolts. Referensi paling awal mengenai penggunaan klasifikasi
massa batuan untuk perancangan terowongan. Beban batuan yang harus ditahan
oleh steelsets diperkirakan berdasarkan deskripsi kualitatif massa batuan.
2.

Klasifikasi Stand-uptime
Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958. Dasar dari metode ini

adalah bahwa dengan bertambahnya span terowongan akan menyebabkan


berkurangnya waktu berdirinya terowongan tersebut tampa penyanggaan. Metode
ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi massa batuan
selanjutnya.
3.

Rock Quality Designation (RQD)


RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini didasarkan

pada perhitungan presentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau


lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung
walaupun mempunyai panjan lebih dari 10 cm. Diameter inti optimal yaitu 47,5
mm. Nilai RQD dapat pula dipakai untuk pemeriksaan penyangaan trowongan.
15

Saat ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti pemboran dan
merupakan salah satu parameter dalam menentukan klasifikasi massa batuan
RMR dan Q-system RQD didefinisikan sebagai berikut.

Berdasarkan nilai RQD massa batuan diklasifikasikan sebagai:


RQD Kualitas Massa Batuan :
25 - 50%

Jelek

50 - 75%

Sedang

75 - 90%

Baik

90 - 100%

Sangat baik

Rumus yang di gunakan :


RQD = 115 3,3 x JV,

JV = 1/S1 + 1/S2 + 1/S3

Dimana = S1,S2,dan S3 adalah spasi kekar

Jika frekuensi retakan = 20 kekar/meter, maka RQD = 40,60 %


Jika frekuensi retakan = 11 kekar/meter, maka RQD = 69,90 %
Jika frekuensi retakan = 5 kekar/meter, maka RQD = 90,9 0%
Jika frekuensi retakan = 2 kekar/meter, maka RQD = 98,2 0%
8.3.

Klasifikasi Geomekanik
Sistem RMR (Rock Mass Rating) merupakan klassifikasi geomekanik yang

dikembangkan oleh Bieniawski sampai pada tahun 1989 sehingga mudah


digunakan dan bersesuaian dengan prosedur dan standar internasional. RMR ini
dapat digunakan untuk bebarapa aplikasi terowongan, pertambangan, lereng dan
fondasi mass batuan adalah kumpulan batu yang dipiasahkan oleh ketidak
menerusan (diskontuinitas). Diskontuinitas adalah terminologi umum dalam
mekanika batuan dan istilah yang digunakan untuk semua jenis patahan termasuk
diantaranya(fracture) kekar ( joint), kontak, maupun patahan sesar (Sesar). Dalam
klasifikasi geomekanik, massa batuan dibagi menjadi beberapa wilayah
berdasarkan keseragaman struktur yang ada ataupun litologi.

16

Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, 1976, 1984) didasarkan pada


hasil penelitian 49 terowongan di Eropa dan Afrika. Klasifikasi ini menilai
beberapa parameter yang kemudian diberi bobot (rating) dan digunakan dalam
perencanaan terowongan.
Rock Mass Rating (RMR) adalah pembobotan massa batuan. Sistem
pembobotan dapat dilihat pada Tabel klasifikasi geomekanik (Tabel A, B, C, dan
D/Tabel Bineawski). Pembobotan adalah jumlah dari nilai bobot parameter pada
Tabel A dan B. Pada tabel C jumlah nilai tersebut dimasukkan ke dalam
kelompok yang sesuai dengan pembobotan masing-masing.
Pada Tabel C, nomor kelas dan pemerian dapat diberikan. Pada Tabel D
makna dan kegunaan tiap-tiap nomer kelas disampaikan di sini. Berdasarkan nilai
RMR, jangkauan atap (span) apat direncanakan, serta keleluasaan waktu yang
tersedia agar terowongan tidak runtuh dapat diperkirakan.
Klasifikasi

Geomekanik

(Bieniawski,

1973)

juga

dipakai

dalam

memperkirakan kestabilan suatu pengupasan lereng massa batuan. Sama halnya


dengan penilaian terowongan, penilaian kestabilan lereng juga menggunakan data
hasil observasi lapangan dan data laboratorium sehingga dalam pembobotan dapat
dilihat nilai RMR. Massa batuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Sangat buruk Nilai RMR

= 0 - 20

Buruk

Nilai RMR

= 21 - 40

Sedang

Nilai RMR

= 41 - 60

Baik

Nilai RMR

= 61 - 80

Sangat Baik

Nilai RMR

= 81 100

17

Klasifikasi massa batuan sistem Rock Mass Rating menggunakan lima


parameter dasar dan satu parameter koreksi yaitu:
1. Kekuatan batuan ( strength of intact rock)
2. Rock qualitiy designation( RQD)
3. Spasi antar diskontuinitas
4. Kondisi bidang diskontuinitas
5. Kondisi air tanah
6. Slope mass rating ( SMR )

1.

Kekuatan Batuan
Parameter kekuatan batuan didapatkan dari pengujian laboratorium dengan

menggunakan alat point load test (Brown ,1981). Pengujian ini dilakukan
terhadap contoh yang diambil dilapangan berupa batuan yang masih fress atau
telah megalami pelapukan, hasil pengujian ini berupa kuat tekan batuan (Poin
load test) dinyatakan dalam satuan Mpa, Pengambilan contoh batuan dilapangan
umumnya tidak beraturan.
2.

Rock Qualtiy Designation (RQD)


Pengamatan dan pencatatan terhadap orientasi diskontiunitas di lakukan

dengan secara sistematis dengan menggunakan metode scanline, dalam metode ini
dalam pencatatan atribut diskontiunitas dilakukan sepanjang garis pengamatan
dengan batasan 40 cm ke atas dan 40 cm kebawah dari garis pengamatan yaitu
dengan cara membentangkan tali di sepanjang lereng tersebut dan membatasi tali
tersebut pertiap meternya, dimana pengambilan data kekar diambil pertiap
meternya dikatakan dengan lintasan satu dan seterusnya kemudian tali tersebut
memotong kekar-kekar yang ada di lereng tersebut, hal yang perlu dicatat dalam
pengamatan adalah no lintasan, posisi diskontiunitas (jarak dari tiap lintasan)
kedudukan kekar (jurus dan kemiringan) bukaan kekar (aperture), panjang kekar,
material pengisi kekar pelapukan, kondisi air tanah dan kondisi kekar tersebut.

18

3.

Spasi Diskontuinitas
Umumnya massa batuan bersifat tidak menerus (discontinue) terutama

pada kedalaman beberapa ratus meter dari permukaan. Bidang bidang ketidak
menerusan (diskontuinitas) tersebut berpengaruh terhadap perilaku mekanik dari
masaa batuan berdasarkan kenyataan tersebut maka pengamatan diskontunitas
perlu dilakukan secara teliti dan benar. Diskontuinitas dapat berupa kekar terbuka
maupun kekar terisi. Kekar adalah patahnya batuan yang tidak menunjukkan
adanya pergeseran dari bidang patahan tersebut. Kekar seringkali berbentuk
sejajar atau sub paralel dengan perlapisan batuan (bedding planes) dan disebut
sebagai kekar belapis (setting joint). Selain itu kekar juga dapat berbentuk kekar
foliasi, dengan demikian spasi diskontuinitas merupakan jarak tegak lurus antar
kekar dalam satu set.
4.

Kondisi Diskontuinitas
Permukaan bidang-bidang diskontuinitas sangat berpengaruh terhadap

kemantapan lereng dipermukaan, kekasaran permukaan bidang diskontuinitas


tersebut memiliki potensi untuk menahan batuan agar tidak mengalami
keruntuhan melalui bidangbidang gelincir. ISRM (1981 dalam Brown)
memberikan profil sebagai petunjuk untuk mendeskripsi permukaan bidang
diskontuinitas dibagi menjadi tiga, yaitu kasar (rough), halus (smooth) dan gores
garis (slickensided). Bobot nilai yang lebih besar diberikan kepada permukaan
bidang diskontuinitas yang lebih kasar, segar dan tidak terisi atau rapat,
permukaan bidang diskontuinitas yang halus dan terbuka serta telah mengalami
pelapukan atau terisi material lunak akan mendapatkan bobot nilai yang lebih
kecil

19

Gambar Profil permukaan bidang diskontuinitas (Brown, 1989)

5.

Kondisi Air Tanah


Aliran air yang berada di dalam massa batuan dapat menimbulkan masalah

kemantapan lereng yang berada dipermukaan, masalah yang timbulkan antara lain
disebabkan oleh tekanan air ( Water pressure), erosi, perlepasn air (discharge),
pembekuan air, aliran air didalam massa batuan mengalir melalui pori-pori
batuan, jika batuan tersebut berpori dan permeabel namun dalam kondisi tertentu
batuan terkekarkan aliran air yang melalui bidang-bidang diskontuinitas justru
lebih sering menimbulkan masalah yang lebih besar.

6.

Slope Mass Rating (SMR)


Adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan sudut kemiringan

lereng pengupasan. Romano (1990) mengaitkan nilai RMR dengan faktor


penyesuaian dari orientasi kekar tehadap orientasi lereng serta sistem pengupasan
lereng dalam bentung angka rating (pembobotan) yaitu:
20

F1 mencerminkan paralelismbae antara arah kekar dan arah lereng


F2 memperlihatkan kemiringan kekar
F3 memperlihatkan hubungan kemiringan kekar dengan kemiringan lereng
F4 merupakan penyesuaian untuk metoda pengupasan.

Romano (1990) memberikan nilai SMR dari keempat faktor tersebut sbb.:
SMR = RMR - ( F1 x F2 x F3 ) + F4

Laubscher (1975) membahas hubungan RMR dan SMR sebagai berikut :


Sudut lereng yang disarankan
(Pembobotan massa lereng, SMR)
75 o

Untuk nilai RMR


(Pembobotan massa batuan) sebesar:
81 - 100

65 o

61 - 80

41 - 60

45 o

21 - 40

35 o

00 20

55

Hall (1985) memberikan nilai SMR, sbb.:


SMR = 0,65 RMR +25

Orr (1992) memberikan nilai SMR, sbb.:


SMR = 35 ln RMR 71

Tabel. Rating of adjustment factor for method of excavation

21

8.4. Tabel Klasifikasi Yang Digunakan

A.

Klasifikasi Parameter Dan Pembobotan

Parameter

Selang Nilai

Kuat Tekan

PLI (MPa)

>10

10-4

4-2

2-1

untuk Kuat Tekan Rendah

Batuan Utuh

UCS (MPa)

>250

100-250

50-100

25-50

25-5

5-1

<1

Bobot

15

12

RQD (%)

90-100

75-90

50-75

25-50

Bobot
Jarak Kekar
Bobot
Parameter

20
>2m
20

17
0.6-2m
15

2
3

Agak kasar,
pemisahan <1 mm,
dinding agak lapuk

Gouge
lunak tebal
> 5 mm
atau
pemisahan
> 5mm
menerus

30

25

20

10

None

<10

25-10

25-125

>125

<0.1

0.1-0.2

0.2-0.5

>0.5

Kering

Lembab

Basah

Menetes

mengalir

15

10

Bobot

Bobot

3
<0.06m
5
Slicken
slide/tebal
gouge < 5
mm, atau
pemisahan
1-5 mm,
menerus

Kondisi Kekar

Kondisi umum

13
8
0.2-0.6m
0.06-0.2
10
8
Selang Nilai
Agak kasar,
pemisahan <
1 mm,
dinding
sangat lapuk

sangat kasar, tdk


menerus, tdk
ada pemisahan,
dinding batu tdk
lapuk

Aliran/10 m
panjang trowongan
(lt/min)
Tekanan air kekar
maks 1

<25

22

B. SMS = RMRB + (F1X F2 X F3 ) + F4


Faktor penyesuaian untuk
kekar (F1,F2,F3)
Longsoran bidang
| j s |
Toppling | j s - 1800 |
Nilai F1
Hubungan
| j |
Nilai F2 longsoran
bidang
Nilai F2 Toppling
Hubungan
Longsoran bidang j - s
Toppling j - s
Nila F3
Hububgan
F4

Sangat
menguntungkan

j = arah kekar, j = kemiringan kekar


s = arah lereng, j = kemiringan lereng
Tidak
menguntungkan
Baik
menguntungkan

> 300

300 - 200

0.15

0.4

< 200
0.13

> 100
< 1100
0

Metode penggalian

Lereng asli

Nilai F4

15

200 - 100

100 - 20

0.7
0.85
F1 = ( 1 sin (| j s |)2
200 - 100
300 - 350
350 - 450
0.4

0.7

0.85

Sangat tidak
mengungtungkan
< 20
1
> 450
1

1
F2 = tg2 j
100- 00
00
00 (-100)
< ( - 100)
0
0
0
110 - 120
> 120
- 6
-25
-50
-60
F3 ( mengunakan pembobotan bieniawski, 1976 )
F4 = nilai empirik untuk metode penggalian
Smooth
Peledakan atau
prespliting
Peledakan buruk
blasting
mekanik
10
-8
0
-8

23

IX.

RENCANA KEGIATAN PENELITIAN

Rencana kegiatan penelitian adalah sebagai berikut :


No

Tahap kegiatan

Februari 2015

Tahap

Maret 2015
1

April 2015
4

Persiapan
Pengumpulan
Data

Studi

Pustaka
Penyusunan
Proposal
Konsultasi
Proposal
Tahap Penulisan
2

Laporan
Penyusunan Draft
Konsultasi Draft
Presentasi

Pelaksanaan
Presentasi
Perbaikan Draft

Penjilitan

Dan

Pendadaran

24

DAFTAR PUSTAKA

25