Anda di halaman 1dari 7

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KEPITING

MENJADI KITOSAN SEBAGAI PENJERNIH AIR


PADA AIR RAWA DAN AIR SUNGAI
Endoraza Nuralam, Bella Pertiwi Arbi, Prasetyowati*
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Jln. Raya Palembang Prabumulih Km. 32 Inderalaya Ogan Ilir (OI) 30662
Email: praninda@yahoo.com

Abstrak
Ketersediaan limbah kepiting memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai bahan baku
pembuatan kitosan. Kitosan merupakan senyawa polimer multifungsi, karena mengandung 3 jenis asam
amino, gugus hidroksi primer dan sekunder. Variabel penelitian berupa dosis penambahan kitosan ke
dalam sampel air rawa dan air sungai serta waktu kontak kitosan didalam sampel air. Proses ini melalui 3
tahapan, yaitu proses deproteinasi(proses penghilangan kandungan protein), proses demineralisasi(proses
penghilangan kandungan mineral) dan proses deasetilasi(proses pembentukan kitin menjadi kitosan).
Kondisi terbaik yang diperoleh berada pada dosisi penambahan kitosan sebanyak 3 gram dan dengan
waktu kontak kitosan selama 45 - 60 menit, dimana untuk analisa air rawa, terjadi perubahan pH 27,12%,
COD 99.17%, BOD 95.32%, TDS 84.44%, dan Fe 47.73 %, sedangkan untuk air sungai terjadi perubahan
pH 55.10%, COD 98.70%, BOD 95.71%, TDS 74.38%, dan Fe 67,74%. Analisa TSS terjadi penurunan
100% pada air rawa dan air sungai karena semua endapan telah tersaring pada proses filtrasi. Melalui
penelitian ini, diketahui bahwa kitosan memiliki daya efektifitas yang tinggi sebagai adsorben untuk
menjernihkan air.
Kata kunci: limbah kepiting, kitosan, adsorben

Abstract
The availability of crab waste has a huge potential to be used as raw material for chitosan. Chitosan is a
multifunctional polymer compound, because it contains three types of amino acids, primary and secondary
hydroxyl groups. The variables of research are the addition of chitosan into the swamp water samples and
river water and the contact time of chitosan in water samples. This process through three steps,
deproteination process (the removal of the proteins), demineralization process (the removal of mineral
deposits) and deacetylation process (the formation of chitin into chitosan). The best conditions are
obtained in doses adding as much as 3 grams of chitosan and chitosan contact time for 45 - 60 minutes,
where the swamp water for analysis, a change in pH 27.12%, COD 99.17%, BOD 95.32%, TDS 84.44%,
and Fe 47.73%, while for the river water pH changes 55.10%, COD 98.70%, BOD 95.71%, TDS 74.38%,
and Fe 67.74%. The analysis of TSS at the swamp water and river water decreased 100%, because all the
sediment has been filtered in the filtration process. Through this research, it is known that chitosan has the
power to be highly effective as an adsorbent to purify water.
Keywords: crab waste, chitosan, adsorbent

1.

PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya alam yang


sangat penting dalam kehidupan manusia dan
digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan
sehari-hari, termasuk kegiatan pertanian,

Page 14

perikanan, petemakan, industri, pertambangan,


rekreasi, olah raga dan sebagainya.
Pencemaran air dapat disebabkan oleh
air buangan rumah tangga, cemaran yang
dihasilkan dari industri, dan juga akibat
penggunaan pupuk dan pestisida. Cemaran

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

tersebut dapat mengkontaminasi organisme dan


lingkungamya baik dalam bentuk larutan, koloid
maupun bentuk partikel lainnya. Efek lain yang
dapat ditimbulkan dari pencemaran air yaitu
dapat menyebabkan penyakit terhadap manusia
itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak
langsung.(Dery Firdaus,2008)
Menurut data BPS (2008) , nilai eksport
kepiting ini pada tahun 2008 mencapai 1,042
milyar dolar US, dan nilai ini selalu meningkat
dari tahun ke tahun . Sebagian besar, kepiting ini
diekspor dalam bentuk kepiting beku tanpa
kepala dan kulit. Produksi kepiting yang
diekspor pada tahun 2008 sebanyak 442,724 ton
dalam bentuk tanpa kepala dan kulit, sedangkan
yang dikonsumsi dalam negeri diperkirangan
jauh lebih banyak. Dengan demikian jumlah
hasil samping produksi yang berupa kepala,
kulit, ekor maupun kaki kepiting yang umumnya
25-50 % dari berat, sangat berlimpah. Hasil
samping ini, di Indonesia belum banyak
digunakan sehingga hanya menjadi limbah yang
mengganggu lingkungan, terutama pengaruh
pada bau yang tidak sedap dan pencemaran air
(kandungan BOD 5 , COD dan TSS perairan
disekitar
pabrik
cukup
tinggi)
(Harianingsih,2010) .
Cangkang kepiting yang mengandung
senyawa kimia kitin dan kitosan merupakan
limbah yang mudah didapat dan tersedia dalam
jumlah yang banyak, yang selama ini belum
termanfaatkan secara optimal. Kitosan yang
diisolasi dari cangkang kepiting dapat digunakan
sebagai adsorben, sebagai adsorbat dipilih.
Gugus NH2 mempunyai sepasang elektron
bebas, itu berarti mempunyai sifat basa, atau
dalam larutan (air) akan meningkatkan pH
sistem. Peningkatan pH sistem tentu saja dapat
mengubah sifat asam basa permukaan yang
berarti juga akan mempengaruhi kekuatan ikatan
atau selektifitas pengikatan ion logam (Endang
Widjajanti, 2003: 51). Kitosan memiliki dua
gugus aktif yaitu NH2 dan OH pada pH
tertentu kedua gugus aktif ini dapat saja
mengalami protonasi ataupun deprotonasi yang
mestinya akan menghasilkan muatan permukaan
yang berbeda.
Air merupakan unsur utama bagi
kehidupan manusia di planet ini. Manusia
mampu bertahan hidup tanpa makan dalam
beberapa minggu, tetapi tanpa air manusia akan
mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang
kehidupan ekonomi modern, air juga mempakan
hal utama untuk budidaya pertanian, industri,
pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Air
merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup.
Bila manusia, hewan, dan tumbuhan kekurangan
air, maka akan mati. Pokoknya, pengaruh air

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

sangat luas bagi kehidupan, khususnya air untuk


makan dan minum (honimb, 2007).
Saat ini di Indonesia sebagian
kecil
dari
limbah
kepiting
sudah
dimanfaatkan dalam hal pembuatan kerupuk,
petis, terasi, dan bahan pencanpur pakan
ternak. Manfaatnya di berbagai industri
modern banyak sekali seperti industri farmasi,
biokimia, bioteknologi, biomedical, pangan,
kertas, tekstil, pertanian, dan kesehatan. Khitin
dan khitosan serta turunnya mempunyai sifat
sebagai bahan pengemulsi koaqulasi dan
penebal emulsi (Lang, 1995).
Kitin dan kitosan merupakan biopolimer
yang secara komersial mempunyai potensi dalam
berbagai bidang dan industri. Kitin merupakan
bahan dasar dalam bidang biokimia, enzimologi,
obat-obatan,
pertanian,
pangan
gizi,
mikrobiologi, industri membran (film), tekstil,
kosmetik dan lain-lain (Krissetina 2004). Kitosan
digunakan dalam berbagai industri, antara lain
sebagai perekat kualitas tinggi, pemurnian air
minum,
sebagai
senyawa
pengkelat,
meningkatkan zat warna dalam industri kertas,
tekstil dan pulp. Kitosan juga dapat digunakan
sebagai pengangkut (carrier) obat dan komponen
alat-alat operasi seperti sarung tangan, benang
operasi dan membran pada operasi plastik
(Angka dan Suhartono, 2000).
Kitosan memiliki sifat reaktivitas kimia
yang tinggi sehingga mampu mengikat air dan
minyak. Hal ini didukung oleh adanya gugus
polar dan non polar yang dikandungnya. Karena
kemampuan tersebut, kitosan dapat digunakan
sebagai bahan pengental atau pembentuk gel
yang sangat baik, sebagai pengikat, penstabil,
dan pembentuk tekstur (Bneski ,1987).
Kitosan diperoleh dari kitin melalui
proses deasetilasi. Ekstraksi kitin dari kulit
kepiting dilakukan dalam dua tahap, yaitu
demineralisasi
dan
deproteinasi.
Tahap
demineralisasi dilakukan untuk menghilangkan
mineral yang terkandung dalam kulit udang.

2.

METODOLOGI

Dalam proses
pembuatan
kulit
kepiting menjadi khitosan dilakukan tiga tahap
yaitu
deproteinasi,
dimineralisasi,
dan
deasetilasi.
Proses pertama yaitu deproteinasi untuk
menghilangkan kandungan protein, dimana kulit
kepiting dengan ukuran diameter
m
ditambahkan NaOH 3,5% dengan perbandingan
2:1 dari berat hasil yang didapat. Campuran
dipanaskan pada suhu 70C selama 2 jam.
Setelah pemanasan dilakukan pencucian sampai

Page 15

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil anlisa kadar pH pada sampel air
rawa dan air sungai
Analisa kadar pH pada sampel air raw
dan air sungai setelah penambahan khitosan
sangat penting, untuk mengetahui apakah sampel
air tersebut sudah masuk kedalam standar air
jernih atau belum. Oleh katena itu, kadar pH
pada sampel air dapat menujukkan apakah
khitosan dapat bekerja secara efektif sebagai
adsroben untuk melakukan proses penjernihan
air, yaitu pH yang sesuai dengan standar air
jernih berada diantara 6.5-8.5.

kadar pH

8
7,5
7
6,5
6
5,5
5

1 gram
2 gram
3 gram
0

15
30
45
60
menit menit menit menit

waktu kontak

Gambar 3.1. Grafik hubungan antara kadar pH


terhadap waktu kontak khitosan pada air rawa

Page 16

Pada grafik 3.1 dapat dilihat hasil


analisa kadar pH pada sampel air rawa,
didapatkan hasil bahwa terjadinya kenaikan pH,
hingga pH yang didapatkan mencapai pH netral,
dimana pada waktu kontak 15 menit dengan
dosis penambahan khitosan 1 gr mengalami
peningkatan kenaikan sebesar 1.69%, pada
waktu kontak 30 menit dengan dosisi
penambahan khitosan 1 gr, mengalami
peningkatan kenaikan sebesar 5.08 %, pada
waktu kontak 45 menit dan 60 menit dengan
penambahan dosisi khitosan 1 gr, akan
meningkatakan kenaikan pH sebesar 10.17 %
dan 13.56%, dan begitu juga dengan
penambahan dosis khitosan sebanyak 2 gr dan 3
gr.

8
7,5
7
6,5
6
5,5
5
4,5
4

kadar pH

pH residu netral. Setelah pH residu netral


dilakukan penyaringan.
Lalu proses kedua yaitu demineralisai
untuk menghilangkan kandungan mineral,
dimana padatan kemudian ditambahkan HCl
15% dengan perbandingan 2:1 dari berat hasil
yang didapat. Campuran diaduk menggunakan
magnetik stirred selama 1 jam. Setelah itu
dilakukan pencucian sampai pH residu netral.
Setelah pH residu netral dilakukan penyaringan.
Padatan dari hasil penyaringan dipanaskan
dalam oven dengan suhu 80C selama 24 jam.
Dan proses terakhir yaitu deasetilasi
untuk mengubah kitin menjadi kitosan, dimana
padatan
yang
telah
kering
kemudian
ditambah NaOH 60%, dengan perbandingan
2:1 dari berat hasil yang didapat. Campuran
dipanaskan pada suhu 70C selama 2 jam.
Setelah pemanasan dilakukan pencucian sampai
pH residu netral. Setelah pH residu netral
dilakukan penyaringan. Padatan dari hasil
penyaringan dipanaskan dalam oven dengan
suhu 60C selama 24 jam.

1 gram
2 gram
3 gram

15 menit30 menit45 menit60 menit


Waktu kontak

Gambar 3.2. Grafik hubungan antara kadar pH


terhadap waktu kontak khitosan pada air sungai
Pada grafik 3.2, didapatkan hasil yang
juga sama dengan air rawa, dimana pada waktu
kontak 15 menit dengan dosis penambahan
khitosan 1 gr mengalami peningkatan kenaikan
sebesar 26.53%, pada waktu kontak 30 menit
dengan dosisi penambahan khitosan 1 gr,
mengalami peningkatan kenaikan sebesar 28.57
%, pada waktu kontak 45 menit dan 60 menit
dengan penambahan dosisi khitosan 1 gr, akan
meningkatakan kenaikan pH sebesar 34.69 %
dan 40.82%, dan begitu juga dengan
penambahan dosis khitosan sebanyak 2 gr dan 3
gr akan mengalami kenaikan pH dengan
persentase yang semakin besar, karena semakin
banyak penambahan dosis khitosan pada sampel,
maka kenaikan pH akan mengalami persentase
yang besar, hal ini disebabkan karena prinsip
dalam mekanisme penyerapan antara khitosan
dan unsur logam yang terkandung di dalam air
rawa dan air sungai adalah prinsip penukaran
ion. Mekanisme ini membantu dalam hal
menetralkan atau menaikkan pH air rawa dan air
sungai.

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

dan 98.70%.

kada COD (mg/L)

3.2 Hasil analisa COD dan BOD pada sampel


air rawa dan air sungai
Pada analisa COD dan BOD juga
didapatkan terjadinya penurunan kadar COD dan
BOD pada sampel. Hal ini dapat dilihat pada
tabel hasil analisa yang dinyatakan dalam mg/L.
Secara keseluruhan, kadar COD dan kadar BOD
yang terkandug pada air rawa dan air sungai
mengalami tingkat penurunan yang derastis,
terutama diatas menit ke 30 dan dengan dosis
penambahan khitosan sebanyak 3 gram. Dapat
dikatakan bahwa semakin banyak dosis khitosan
yang ditambahkan pada sampel dan dengan
waktu kontak yang lama dapat menurunkan
kadar COD dan kadar BOD hingga dibawah 12
mg/L. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar grafik dibawah ini ;
Pada grafik 3.3, dapat dilihat penurunan
kadar COD yang sangat baik terjadi pada waktu
kontak 45 menit sampai waktu kontak 60 menit
yang menujukkan penurunan kadar COD yang
sangat baik, yaitu pada sampel air rawa dosisi
penambahan khitosan 1 gr, 2 gr, dan 3 gr
berturut-turut mengalami penurunan sekitar
90.66%, 95.21%, dan 99.05 %.

1 gram

450.8
400.8
350.8
300.8
250.8
200.8
150.8
100.8
50.8
0.8

2 gram
3 gram

15 menit

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

60 menit

Gambar 3.4. Grafik hubungan antara kadar


COD terhadap waktu kontak khitosan pada air
sungai
Pada grafik 3.5, dapat dilihat penurunan kadar
BOD yang sangat baik terjadi pada waktu kontak
45 menit sampai waktu kontak 60 menit yang
menujukkan penurunan kadar BOD yang sangat
baik, yaitu pada sampel air rawa dosisi
penambahan khitosan 1 gr, 2 gr, dan 3 gr
berturut-turut mengalami penurunan sekitar
61.88%, 90.88%, dan 94.58 % pada waktu
kontak 45 menit dan pada waktu kontak 60 menit
mengalami penurunan sekitar 68.12%, 94.29%,
dan 95.32%.

1 gram
2 gram
3 gram

Kadar BOD(mg/L)

100

Pada waktu kontak 45 menit dan pada


waktu kontak 60 menit mengalami penurunan
sekitar 95.21%, 97.86%, dan 99%.
Pada grafik 3.4 dapat dilihat penurunan
kadar COD yang sangat baik terjadi pada waktu
kontak 45 menit sampai waktu kontak 60 menit
yang menujukkan penurunan kadar COD yang
sangat baik, yaitu pada sampel air sungai dosisi
penambahan khitosan 1 gr, 2 gr, dan 3 gr
berturut-turut mengalami penurunan sekitar
83.43%, 94.50%, dan 98.43 % pada waktu
kontak 45 menit dan pada waktu kontak 60 menit
mengalami penurunan sekitar 86.87%, 98.28%,

45 menit

Waktu kontak

120

Gambar 3.3. Grafik hubungan antara kadar


COD terhadap waktu kontak khitosan pada
air rawa

30 menit

80
60
40

20
0
0

15
30
45
60
menit menit menit mnenit
Waktu kontak

Gambar 3.5. Grafik hubungan antara kadar


BOD terhadap waktu kontak khitosan pada
air rawa
Pada grafik 3.6 dapat dilihat juga bahwa
terjadinya penurunan kadar kandungan BOD
pada sampel air sungai, dapat dilihat penurunan
kadar BOD yang sangat baik terjadi pada waktu
kontak 45 menit sampai waktu kontak 60 menit
yang menujukkan penurunan kadar BOD yang
sangat baik, yaitu pada sampel air sungai dosisi
penambahan khitosan 1 gr, 2 gr, dan 3 gr
berturut-turut mengalami penurunan sekitar
47.38%, 89.71%, dan 94.47% pada waktu kontak

Page 17

Kadar BOD (mg/L)

1 gram
120
100
80
60
40
20
0

2 gram

3 gram

15
30
45
60
menit menit menit menit

Waktu kontak

Gambar 3.6. Grafik hubungan antara kadar


BOD terhadap waktu kontak khitosan pada
air sungai
3.3 Hasil analisa TDS dan TSS pada sampel
air rawa dan air sungai
Pada analisa TDS dan TSS didalam
sampel air setelah ditambahkan khitosan,
menunjukkan terjadinya penurunan kadar TDS
dan TSS pada sampel air. Sama dengan analisaanalisa sebelumnya, bahwa terjadinya penurunan
kadar TDS dan TSS yang paling bagus terjadi
pada waktu kontak diatas 30 dan dengan
penambahan dosisi khitosan sebanyak 3 gram.
Untuk analisa kadar TSS setelah penambahan
khitosan hasilnya dipastikan tidak ada, karena
endapan pada sampel sudah tidak ada, karena
sudah dilakukan proses penyaringan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik
dibawah ini :

1 gram
1300
1100
900
700
500
300
100

kadar TDS(mg/L)

2 gram
3 gram

15
menit

30
menit

45
menit

60
menit

waktu kontak
Gambar 3.7. Grafik hubungan antara kadar TDS
terhadap waktu kontak khitosan pada air rawa

Page 18

Pada grafik 3.7, dapat dilihat bawah


terjadinya penurunan kadar TDS pada sampel air
rawa tidak terlalu menentu, terkadang naik
terkadang turun, tapi tetap berada dibawah
standar maksimal yaitu 500 mg/L kadar TDS
yang terkandung pada air yang jernih. Penurunan
kadar TDS yang paling baik terjadi pada range
waktu kontak 30 menit sampai 60 menit, dimana
dapat dilihat pada grafik 3.7, pada waktu kontak
30 menit dengan dosis penambahan khitosan 1
gr, 2 gr, dan 3 gr, yaitu berada pada persentase
84.44 %, 78.88%, dan 78.24%., dan akan
meningkat pada waktu kontak 45 menit dan 60
menit, dimana pada waktu kontak 45 menit, yaitu
87.5%, 85%, dan 83.15%. Pada waktu kontak 60
menit, yaitu 88.05%, 85.65%, dan 84.44%.

700

kadar TDS(mg/L)

45 menit dan pada waktu kontak 60 menit


mengalami penurunan sekitar 51.76%, 94.38%,
dan 95.71%.

1 gram

600
500

2 gram

400

3 gram

300
200

100
0

15
menit

30
menit

45
menit

60
menit

Waktu kontak

Gambar 3.8. Grafik hubungan antara kadar TDS


terhadap waktu kontak khitosan pada air sungai
Pada grafik 3.8, untuk penurunan kadar
TDS pada air sungai, dimana penurunan kadar
TDS yang paling baik terjadi pada range waktu
kontak 30 menit sampai 60 menit, dimana dapat
dilihat pada grafik 3.8, pada waktu kontak 30
menit dengan dosis penambahan khitosan 1 gr, 2
gr, dan 3 gr, yaitu berada pada persentase 73.59
%, 65%, dan 63.59%., dan akan meningkat pada
waktu kontak 45 menit dan 60 menit, dimana
pada waktu kontak 45 menit, yaitu 77.34%,
73.75%, dan 71.09%. Pada waktu kontak 60
menit, yaitu 79.38%, 77.34%, dan 74.38%.

3.4 Hasil analisa kadar Fe(besi) pada sampel


air rawa dan air sungai
Pada analisa kadar Fe sedikit terjadi
perbedaan dibandingkan pada pengujian kadar
pH, BOD, COD, TDS dan TSS. Hasil dari
analisa kada Fe pada sampel air rawa dan air
sungai setelah penambahan khitosan mengalami
tingkat penurunan yang sangat baik pada 15 45
menit, diatas 45 menit menuju 60 menit terjadi

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

penurunan kadar penyerapan Fe oleh khitosan,


hal ini dimungkinkan bahwa pada menit 45-60
menit, khitosan sudah mengalami proses
penjenuhan, sehingga efektifitas daya serap
khitosan juga mengalami penurunan. Hal ini
dapat dilihat pada gambar grafik 3.9 pada air
rawa dan pada gambar grafik 3.10 untuk air
sungai, yaitu pada waktu kontak 15 menit, 30
menit dan 45 menit penurunan kadar Fe sangat
signifikan, sedangkan pada menit ke 45 menuju
ke 60 menit, kadar Fe yang diserap tidak terlalu
banyak.
1 gram

kadar Fe

2 gram
3 gram

0,2
0,18
0,16
0,14
0,12
0,1
0,08
0,06
0

15
menit

30
menit

45
menit

60
menit

waktu kontak

jernih, begitu juga dengan penambahan waktu


kontak. Pada analisa pH pada air rawa dan air
sungai dihasilkan persentase
kenaikan pH
sebesar 1,69 27,12 % untuk air rawa dan 26,53
55,1% untuk air sungai. Pada analisa COD
pada air rawa dan air sungai dihasilkan
persentase penurunan COD sebesar 72,54
99,17 % untuk air rawa dan 39,9 98,7% untuk
air sungai. Pada analisa BOD pada air rawa dan
air sungai dihasilkan persentase penurunan BOD
sebesar 35,76 95,32 % untuk air rawa dan 5,47
95,71% untuk air sungai. Pada analisa Fe pada
air rawa dan air sungai dihasilkan persentase
penurunan kadar Fe sebesar 42,05 47,73 %
untuk air rawa dan 59,27 67,74% untuk air
sungai. Pada analisa TDS pada air rawa dan air
sungai dihasilkan persentase penurunan TDS
sebesar 78,24 88,05 % untuk air rawa dan
61,88 79,38% untuk air sungai. Untuk analisa
TSS pada air rawa maupun air sumgai untuk
sampel awal yaitu Air rawa 96 mg/l dan Air
sungai 41 mg/l. Setelah ditambahkan kitosan
dengan dosis tertentu tidak adanya padatan yang
tersuspensi.

DAFTAR PUSTAKA

Gambar 3.9. Grafik hubungan antara kadar Fe


terhadap waktu kontak khitosan pada air rawa

Angka,S.L.,Suhartono, M.T.,2000, Pemanfaatan


Limbah Hasil Laut. Bioteknologi Hasil
Laut, Pusat Kajian Sumber daya Pesisir
dan Lautan, IPB, Bogor.

kadar Fe

1 gram

2 gram

0,26
0,24
0,22
0,2
0,18
0,16
0,14
0,12
0,1
0,08
0,06

3 gram

Anonim, 2012, Chitosan : Manufacture and


Propertie.www.wikipedia.com .Diakses
pada tanggal 22 Februari 2012.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT), 2007, Air Bersih Bebas Bakteri
dan Zat Kimia . www.walhi.or.id/air .
Diakses pada tanggal 22 Februari 2012.

15
30
45
60
menit menit menit menit

waktu kontak
Gambar 3.10. Grafik hubungan antara kadar Fe
terhadap waktu kontak khitosan pada air sungai

4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan, dimana dari hasil
analisa dengan semakin tinggi dosis kitosan yang
ditambahakan kedalam sampel air rawa dan air
sungai, maka semakin mendekati baku mutu air

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012

Bastaman, S.,1989, Studies of Degradation and


Extraction of Chitin and Chitosan from
Prawn Shells. The Departement of
Mechanical,
Manufacturing,
Aeronautical
and
Chemical
Engineering, The Queens Univ.Belfast
Beaulieu, C., 2005, Chitin and Chitosan. Canada
: Marinard Biotech Inc.
Brzeski, M.M., 1987. Chitin and Chitosan
Putting Waste to Good Use, Info Fish
International (5) . P.31-33
Harianingsih, 2010, Pemanfaatan Limbah
Cangkang Kepiting Menjadi Kitosan

Page 19

Sebagai Bahan Pelapis (Coater) pada


Buah Stroberi, Laporan Tesis, Program
Magister Teknik Kimia.Universitas
Diponegoro.
Hirano, S.,1989. Production and Application of
Chitin and Chitosan in Japan. Didalam
: Sandford,P. Gudmund Skjak-Break,
Thorleif Anthonsen, Editor. Chitin and
Chitosan:
Sources,
Chemistry,
Biochemistry , Physical Properties, and
Application. Elsevier Applied Science.
New York.
Karmas,E.,1982. Meat Poultry and Seafood
Technology Recent Development of
Food Science. New Jerssey, Rutgers
University.

Page 20

Masduki, 1996, Mempelajari Efektivitas Kitosan


dari Limbah Udang untuk Penjernihan
Air Sungai, Laporan Skripsi, Program
Studi Teknologi Hasil Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
IPB, Bogor
Oktarina,S.M., 2008, Aplikasi Khitosan dari
Limbah
Kepiting
untuk
Proses
Penjernihan Air Sumur, Laporan
Skripsi, Pendidikan Diploma III Jurusan
Teknik Kimia, Politeknik Sriwijaya.
Palembang
Sandford,P., Gudmund Skjak-Break, Thoilef
Anthonson, 1989, Chitin and Chitosan :
Sources, Chemistry, Biochemistry,
Physical Properties, and Application.
Elsevier Applied Science , New York

Jurnal Teknik Kimia No. 4, Vol. 18, Desember 2012