Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Ubi Jalar Ungu
Umbi merupakan bagian yang dimanfaatkan untuk bahan
makanan. Umbi tanaman ubi jalar memiliki mata tunas yang
dapat tumbuh menjadi tanaman baru, umbi tanaman ubi jalar ini
terjadi karena adanya proses diferensiasi akar sebagai akibat
terjadinya penimbunan asismilat dari daun yang membentuk umbi
(Widodo, 1986).
Menurut Juanda & Cahyono (2000), berdasarkan warna
umbi, ubi jalar dibedakan menjadi beberapa golongan sebagai
berikut :
a. Ubi jalar putih, yakni ubi jalar yang memiliki daging
umbi berwarna putih. Misalnya, varietas tembakur putih,
varietas tembakur ungu, varietas Taiwan dan varietas
MLG 12659-20P.
b. Ubi jalar kuning, yaitu jenis ubi jalar yang memiliki
daging umbi berwarna kuning, kuning muda atau putih
kekuningan. Misalnya, verietas lapis 34, varietas Sounth
Queen 27, vaerietas Kawagoya, varietas Cicah 16 dan
varietas Tis 5125-27
c. Ubi jalar orange, yaitu jenis ubi jalar yang memiliki
daging umbi berwarna jingga hingga jingga muda.
Misalnya, varietas Ciceh 32, varietas mendut dan varietas
Tis 3290-3
d. Ubi jalar ungu yakni ubi jalar yang memiliki daging umbi
berwarna ungu hingga ungu muda.
Ubi jalar merupakan tanaman yang sangat familiar bagi kita.
Mudah tumbuh, sehingga banyak ditemukan di pasar dengan
harga relative murah. Kelebihan ubi jalar yang signifikan adalah
kandungan betakarotennya tinggi. Dalam 100 gram ubi jalar putih
terkandung 260 g beta karoten. Sedangkan kadar betakaroten
II-1

II-2
BAB II Tinjauan
Pustaka

dalam ubi jalar merah keunguan sebesar 9000 g, pada ubi jalar
kuning keorangean mengandung 2900 g beta karoten. Makin
kuat intensitas warna ubi jalar, makin besar pula kandungan
betakarotennya. Diketahui, beta karoten merupakan bahan
pembentuk vitamin A di dalam tubuh (Reifa, 2005).

Gambar 2.1 Ubi Jalar Ungu


Berdasarkan Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI
(1981), komposisi kimia ubi jalar terlihat seperti pada tabel
dibawah ini :
Tabel 2.1 Komponen Gizi Beberapa Jenis Ubi Jalar per 100 gram
bahan
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kandungan Gizi
Kalori (kal)
Protein (gr)
Lemak (gr)
Karbohidrat (gr)
Air (gr)
Serat kasar (gr)
Kadar gula (gr)
Beta karoten (mg)

Banyaknya dalam
Ubi
Ubi
Ubi
Daun
Putih
ungu
Kuning
123
123
136
47
1,8
1,8
1,1
2,8
0,7
0,7
0,4
0,4
27,9
27,9
32,3
10,4
68,5
68,9
84,7
0,90
1,2
1,4
0,40
0,4
0,3
31,2
174,2
*Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI, 1981

Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)


Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-3
BAB II Tinjauan
Pustaka

Warna merah dan ungu pada bunga, batang, daun dan


umbi ubi merupakan akibat dari keberadaan senyawa antosianin.
Antosianin pada ubi jalar ungu jika dibandingkan dengan
tanaman-tanaman lain yang juga merupakan sumber antosianin
tidak kalah banyak. Bentuk antosianidan yang banyak dikandung
oleh ubi jalar ungu adalah bentuk sianidin dan peonidin. Sekitar
80% dari total antosianin tersebut berada dalam bentuk terasilasi.
Antosianin yang terasilasi relative lebih stabil jika dibandingkan
dengan antosianin yang tidak terasilasi. Oleh karena itu,
antosianin dari ubi jalar ungu berpotensi besar sebagai sumber
pewarna alami (Andarwulan & Faradilla, 2012).
Tabel 2.2 Kadar Antosianin pada Berbagai Tanaman
Sumber

Kandungan pigmen (mg/100


g berat basah)

Buah plum
2-25
Bawang Bombay merah
7-21
Lobak merah
11-60
Stroberi
15-35
Rasberi merah
20-60
Kol merah
25
Blueberry
25-495
Blackberry
83-326
Cranberry
60-200
Anggur
6-600
Ubi jalar ungu
84-600
*Sumber : Timberlake (1988), Mazza and Miniati (1993), Giusti et al.
(1998) and Steed and Truong (2008)

Ayamurasaki dan yamagawamurasaki adalah dua varietas


ubi jalar berwarna ungu asal jepang yang telah diusahakan secara
komersial di beberapa daerah di Jawa Timur dengan potensi hasil
15-20 ton/ha. Beberapa varietas lokal juga memiliki daging umbi
berwarna ungu, hanya intensitas keungunannya masih di bawah
kedua verietas introduksi tersebut. Saat ini di Balitkabi terdapat
tiga klon harapan ubi jalar berwarna ungu, yakni MSU 01022-12,
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-4
BAB II Tinjauan
Pustaka

MSU 03028-10, dan RIS 03063-05. Klon MSU 03028-10


memiliki kadar antosianin 560 mg/ 100 g umbi, jauh lebih tinggi
dari ubi jalar ungu asal Jepang varietas Ayamurasaki dan
Yamagawamurasaki yang berkadar antosianin kurang dari 300
mg/100 g. Klon MSU 01022-12 berdaya hasil cukup tinggi (25,8
ton/ha) dan mengandung antosianin sedang (33,9 mg/100 g
umbi). Klon MSU 03028-10 dan RIS 03063-05 berdaya hasil 27,5
ton/ha dengan kandungan antosianin tinggi yaitu lebih dari 500
mg/100 g umbi (Jusuf, 2008).
Ubi jalar ungu mengandung antosianin berkisar 519
mg/100 gr berat basah. Kandungan antosianin yang tinggi pada
ubi jalar tersebut dan stabilitas yang tinggi dibanding anthosianin
dari sumber lain, membuat tanaman ini sebagai pilihan yang lebih
sehat dan sebagai alternative pewarna alami. Beberapa industri
pewarna dan minuman berkarbonat menggunakan ubi jalar ungu
sebagai bahan mentah penghasil anthosianin (Kumalaningsih,
2006).
Menurut Widjanarko (2008). komposisi kimia dan fisik
ubi jalar segar ungu adalah:
Tabel 2.3 Komposisi Kimia dan Fisik Ubi Jalar Ungu Segar (%
db)
Sifat Kimia dan
Fisik
Air (%)
Abu (%)
Pati (%)
Gula Reduksi (%)
Lemak (%)
Antosianin (mg.100g)
Aktivitas antioksidan
(%)
Warna (L)
Warna (a*)
Warna (b*)
II.2. Antosianin
*Sumber
: Widjanarko, 2008.

MSU 03028-10

Ayamurasaki

60,18
2,82
57,66
0,82
0,13
1419,40

67,77
3,28
55,27
1,79
0,43
923,65

89,06

61,24

34,9
11,1
11,3

37,5
14,2
11,5

Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)


Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-5
BAB II Tinjauan
Pustaka

Antosianin merupakan senyawa berwarna yang bertanggung


jawab untuk kebanyakan warna merah, biru dan ungu pada buah,
sayur dan tanaman hias. Senyawa ini termasik dalam golongan
flavonoid. Struktur utamanya ditandai dengan adanya dua cincin
aromatic benzene (C6H6) yang dihubungkan dengan tiga atom
karbon yang membentuk cincin. Kebanyakan antosianin
ditemukan dalam enam bentuk antosianidin, yaitu pelargonidin,
sianidin, peonidin, delfidin, petunidin, dan malvidin. Gugus gula
pada antosianin bervariasi, namun kebanyakan bentuk glukosa,
ramnosa, galaktosa, atau arabinose. Gugus gula ini bisa dalam
bentuk mono atau disakarida dan dapat diasilasi dengan asam
fenolat atau asam alifatis. Terdapat sekitar 539 jenis antosianidin
yang telah diekstrak dari tanaman (Andarwulan & Faradilla,
2012).
Secara visual rumus struktur antosianin dapat dilihat pada
Gambar 2.2

Gambar 2.2 Rumus Struktur Antosianin


Degradasi antosianin dapat terjadi selama proses ekstraksi,
pengolahan makanan, dan penyimpanan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi stabilitas antosianin tersebut yaitu adanya
modifikasi pada struktur spesifik antosianin (glikosilasi, asilasi
dengan asam alifatik atau aromatik), pH, temperatur, cahaya,
keberadaan ion logam, oksigen, kadar gula, enzim dan pengaruh
sulfur dioksida. Substitusi beberapa gugus kimia pada raangka
antosianin dan kestabilannya. Penambahan gugus glikosida atau
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-6
BAB II Tinjauan
Pustaka

peningkatan jumlah gugus hidroksi bebeas pada cincin A


(Gambar 2.2) menyebabkan warna cenderung biru dan relatif
tidak stabil. Sebaliknya, penambahan jumlah ggus metoksi atau
metilasi akan menyebabkan warna cenderung merah dan relatif
stabil (Andarwulan & Faradilla, 2012).
Asam fenolat diketahui dapat menstabilkan dan memperkuat
warna antosianin. Contoh adam fenolat yang dapat berperan
sebagai ko-pigmentasi tersebut adalah asam sinapat dan asam
ferulat. Ko-pigmentasi juga dapat terjadi dengan keberadaan
logam. Beberapa logam bervalensi dua atau tiga seperti
magnesium dan aluminium dapat membentuk komplek dengan
antosianin dan menciptakan warna biru. Bentuk komplek tersebut
menyebabkan antosianin lebih stabil. Reaksi ko-pigmentasi ini
dapat terjadi dengan dua macam mekanisme. Pertama, terjadi
reaksi intramolekul melalui ikatan kovalen pada gugus aglikon
antosianin dengan asam organik. Senyawa aromatik, atau
flavonoid, atau kombinasi ketiganya. Mekanisme kedua yaitu
reaksi intramolekular yang melibatkan pembetukan ikatan
hidrofobik yang lemah antara flavonoid dan antosianin
(Andarwulan & Faradilla, 2012).Didalam larutan, antosianin
berada dalam lima bentuk kesetimbangan tergantung pada kondisi
pH. Kelima bentuk tersebut yaitu kation flavilium, basa karbinol,
kalkon, basa quinonoidal, dan quinonoidal anionik. Gambar II.3
menggambarkan mekanisme perubahan bentuk antosianin
tersebut. Pada pH sangat asam (pH 1-2), bentuk dominan
antosianin adalah kation flavilium. Pada bentuk ini, antosianin
berada dalam kondisi paling sstabil dan paling berwarna. Ketika
pH meningkat di atas 4 terbentuk senyawa antosiani berwarna
kuning (bentuk kalkon), senyawa berwarna biru (bentuk
quinouid), atau senyawa yang tidak berwarna (basa karbisol).
Oleh karena pigmen ini paling stabil di Ph rendah, aplikasi
pigmen antosianin sering digunakan untuk produk-produk seperti
minuman ringan, manisan, saus pikel, makanan kalengan, dan
yogurt yang bersifat asam (Andarwulan & Faradilla, 2012).
Temperatur juga dapat menggeser kesetimbangan
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-7
BAB II Tinjauan
Pustaka

antosianin. Perlakuan panas dapat menyebabkan kesetimbangan


antosianin cenderung menuju bentuk yang tidak berwarna, yaitu
basa karbinol dan kalkon. Kerusakan akibat pemanasan ini dapat
terjadi melalui dua tahap. Pertama hidrokisi terjadi pada ikatan
glikosidik antosianin sehingga menghasilkan aglikon-aglikon
yang tidak stabil. Kedua, cincin aglikon terbuka membentuk
gugus karrbinol dan kalkon. Degradasi ini dapat terjadi lebih
lanjut jika terdapat oksidator sehingga terbentuk senyawa yang
berwarna coklat. Oleh karena itu, pada proses pengolahan pangan,
aplikasi pewarna antosianin harus diusahakan pada tahap akhir
dimana proses pemanasan sudah minimal (Andarwulan &
Faradilla, 2012).

Gambar 2.3 Bentuk Kesetimbangan Antosianin


Cahaya, seperti halnya panas, mampu mendegradasi pigmen
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-8
BAB II Tinjauan
Pustaka

antosianin dan membentuk kalkon yang tidak berwarna. Energy


yang dikeluarkan oleh cahaya memicu terjadinya reaksi fitokimia
atau fitooksidasi yang dapat membuka cincin antosianin. Paparan
yang lebih lama menyebabkan terjadinya degradasi lanjutan dan
terbentuknya
senyawa
turunan
lain
seperti
2,4,6trihidroksilbenzaldehid dan asam benzoate tersubtitusi. Jenis
pelarut antosianin secara nyata mempengaruhi warna yang
diekspresikannya.
Sifat
antosianin
yang
hidrofilik
menyebabkannya sering diekstrak dengan menggunakan pelarut
alkohol atau air. Pelarut alkohol menghasilkan warna antosianin
yang lebih biru dibandingkan dengan pelarut air (Andarwulan &
Faradilla, 2012).
II.3. Pewarna Bibir (Lipstik)
Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang
berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk
mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami
yang terdapat di sekitarnya. Namun, sekarang kosmetika tidak
hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk maksud
meningkatkan kecantikan. Kosmetika adalah bahan atau
campuran bahan untuk digosok, dilekatkan, dituangkan,
dipercikkan, atau disemprotkan pada badan atau bagian badan
manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara,
menembah daya tarik atau mengubah rupa, dan tidak termasuk
golongan obat. Defenisi tersebut jelas menunjukkan bahwa
kosmetika bukan satu obat yang dipakai untuk diagnosis,
pengobatan maupun pencegahan penyakit (Wasitaatmadja,1997).
Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk
mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat
meningkatkan estetika dalam tata rias wajah yang dikemas dalam
bentuk batang padat. Hakikat fungsinya adalah untuk
memberikan warna bibir menjadi merah, yang dianggap akan
memberikan ekspresi wajah sehat dan menarik (Ditjen POM,
1985).
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-9
BAB II Tinjauan
Pustaka

Gambar 2.4 Berbagai Macam-macam Warna Lipstik


Lipstik merupakan pewarna bibir yang dikemas dalam
bentuk batang padat (roll up) yang dibentuk dari minyak, lilin dan
lemak. Bila pengemasan dilakukan dalam bentuk batang lepas
disebut lip crayon yang memerlukan bantuan pensil warna untuk
memperjelas hasil usapan pada bibir. Sebenarnya lipstik adalah
juga lip crayon yang diberi pengungkit roll up untuk
memudahkan pemakaian dan hanya sedikit lebih lembut dan
mudah dipakai. Lip crayon biasanya menggunakan lebih banyak
lilin dan terasa lebih padat dan kompak (Wasitaatmadja, 1997).
Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam
pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak, dalam
komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
suhu lebur dan viskositas yang dikehendaki. Suhu lebur lipstik
yang ideal yang sesungguhnya diatur suhunya hingga mendekati
suhu bibir, bervariasi antara 36-38C. Tetapi karena harus
memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca
disekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, maka suhu lebur
lipstik dibuat lebih tinggi yang dianggap lebih sesuai dan diatur
pada suhu lebih kurang 62C, atau bisanya berkisar antara 5575C. (Ditjen POM, 1985). Persyaratan untuk lipstik yang
diinginkan atau dituntut oleh masyarakat, antara lain :
1. Melapisi bibir secara mencukupi
2. Dapat bertahan di bibir dalam waktu yang lama
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-10

3.
4.
5.
6.

BAB II Tinjauan
Pustaka

Cukup melekat pada bibir tetapi tidak sampai lengket


Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
Memberikn warna yang merata pada bibir
Penampilannya harus menarik, baik warna maupun
bentuknya
7. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak
bopeng atau berbintik- bintik, atau memperlihatkan halhal yang tidak menarik (Tranggono dan Latifah, 2007).
II.4. Komponen Utama dalam Sediaan Lipstik
Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari
minyak, lilin , lemak dan zat warna
1. Minyak
Minyak yang digunakan dalam lipstik harus
memberikan kelembutan, kilauan, dan berfungsi sebagai
medium pendispersi zat warna (Poucher, 2000). Minyak
yang sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak
mineral, dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan
minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang
tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye
dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu
komponen penting dalam banyak lipstik modern.
Viskositasnya yang tinggi adalah keuntungan dalam
menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada
saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar
merata (Balsam, 1972).
2. Lilin
Lilin digunakan untuk memberi struktur batang
yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau
dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan
menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50 dan
mampu mengikat fase minyak agar tidak keluar atau
berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah
dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin.
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-11
BAB II Tinjauan
Pustaka

Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax,


candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil
alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami
yang yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang
tinggi yaitu 85. Biasa digunakan dalam jumlah kecil
untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik
(Balsam, 1972).
3. Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran
lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan
film pada bibir, memberi tekstur yang lembut,
meningkatkan kekuatan lipstik, dan dapat mengurangi
efek berkeringat dan pecah pada lipstik. Fungsinya yang
lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai
pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin
dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak
padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah
lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati
terhidrogenasi dan lain-lain (Jellineck, 1976).
4. Zat warna
Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis
yaitu staining dye dan pigmen. Staining dye merupakan
zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya,
sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut
tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat
warna ini masing- masing memiliki arti tersendiri, tetapi
dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi
sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang
diinginkan (Balsam, 1972).

II.4.1. Zat tambahan dalam sediaan lipstik


Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan
dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu
dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-12
BAB II Tinjauan
Pustaka

zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi,


stabil, dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam
formula lipstik. Zat tambahan yang digunakan yaitu antioksidan,
pengawet dan parfum (Senzel, 1977).
1. Antioksidan
Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak
dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi
oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan
yang paling sering digunakan (Poucher, 2000). Menurut
Wasitaatmadja (1997), antioksidan yang digunakan harus
memenuhi syarat, antara lain:
a. Tidak berbau agar tidak mengganggu wangi parfum
dalam kosmetika
b. Tidak berwarna
c. Tidak toksik
d. Tidak berubah meskipun disimpan lama.
2. Pengawet
Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh
di dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena
lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik
diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi
pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan
mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan
pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering
digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben
(Poucher, 2000).
3. Parfum
Parfum digunakan untuk memberikan bau yang
menyenangkan, menutupi bau dari lemak yang digunakan
sebagai basis, dan dapat menutupi bau yang mungkin
timbul selama penyimpanan dan penggunaan lipstik
(Balsam, 1972).

Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)


Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-13
BAB II Tinjauan
Pustaka

II.5
Evaluasi Lipstik
II.5.1 Pemeriksaan titik lebur lipstik
Penetapan suhu lebur lipstik dapat dilakukan dengan
berbagai metode. Ada dua metode yang biasanya digunakan yaitu
metode melting point dan metode drop point. Metode melting
point menggunakan pipa kapiler sedangkan metode drop point
menggunakan pelat tipis. Syarat lipstik melebur pada metode
melting point adalah 60 atau lebih, sedangkan untuk metode drop
point adalah diatas 50 (Balsam, 1972).
Penetapan suhu lebur lipstik dilakukan untuk mengetahui
pada suhu berapa lipstik akan meleleh dalam wadahnya sehingga
minyak akan keluar. Suhu tersebut menunjukkan batas suhu
penyimpanan lipstik yang selanjutnya berguna dalam proses
pembentukan, pengemasan, dan pengangkutan lipstik (Balsam,
1972).
II.5.2 Pemeriksaan kekuatan lipstik
Evaluasi kekerasan lipstik menunjukkan kualitas patahan
lipstik dan juga kekuatan lipstik dalam proses pengemasan,
pengangkutan, dan penyimpanan. Evaluasi ini dapat dilakukan
untuk mengetahui kekuatan lilin dalam lipstik (Balsam, 1972).
Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan
cara lipstik diletakkan horizontal. Pada jarak kira-kira inci dari
tepi, digantungkan beban yang berfungsi sebagai pemberat. Berat
beban ditambah secara berangsur-angsur dengan nilai yang
spesifik pada interval waktu 30 detik, dan berat dimana lipstik
patah merupakan nilai breaking point (Vishwakarma, et al.,
2011).
II.5.3 Uji Oles
Uji oles dilakukan secara visual dengan cara
mengoleskan lipstik pada kulit punggung tangan kemudian
mengamati banyaknya warna yang menempel dengan perlakuan 5
kali pengolesan pada tekanan tertentu seperti biasanya kita
menggunakan lipstik (Keithler, 1956).

Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-14
BAB II Tinjauan
Pustaka

II.5.4 Penentuan pH sediaan


Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan
alat pH meter. Sampel di buat dalam konsentrasi 1% yaitu 1 gram
sampel dalam 100 ml akuades (Rawlins, 2003).
II.5.5 Pemeriksaan stabilitas sediaan
Pengamatan terhadap adanya perubahan bentuk, warna,
dan bau dari sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing
sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5,
10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma,
et al., 2011).
II.6

Uji Tempel (Patch Test)


Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang
dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal
panel manusia dengan maksud untuk mengetahui apakah sediaan
tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak (Ditjen
POM, 1985).
Iritasi umumnya akan segera menimbulkan reaksi kulit
sesaat setelah pelekatan pada kulit, iritasi demikian disebut iritasi
primer. Tetapi jika iritasi tersebut timbul beberapa jam setelah
pelekatannya pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder. Tandatanda reaksi kulit yang ditimbulkan yaitu hiperemia, eritema,
edema atau vesikula kulit. Reaksi kulit yang demikian bersifat
lokal pada daerah kulit yang rusak saja (Ditjen POM, 1985).
Panel uji tempel meliputi manusia sehat dan penderita.
Manusia sehat yang dijadikan panel uji tempel sebaiknya wanita,
usia diantara 20-30 tahun, berbadan sehat jasmani dan rohani, dan
menyatakan kesediaannya dijadikan panel uji tempel (Ditjen
POM, 1985).
Lokasi uji lekatan adalah bagian kulit panel yang
dijadikan daerah lokasi untuk uji tempel. Biasanya yang paling
tepat dijadikan daerah lokasi uji tempel adalah bagian punggung,
lengan tangan, lipatan siku, dan bagian kulit di belakang telinga
(Ditjen POM, 1985).
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-15
BAB II Tinjauan
Pustaka

Teknik uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan


sediaan uji pada luas tertentu lokasi lekatan, biarkan terbuka
selama lebih kurang 24 jam, amati reaksi kulit yang terjadi.
Reaksi kulit akibat iritan primer terjadi antara beberapa menit
hingga satu jam setelah pelekatan (Ditjen POM, 1985).
Prosedur uji tempel preventif adalah prosedur uji tempel
yang dilakukan sebelum penggunaan kosmetika untuk
mengetahui apakah pengguna peka terhadap sediaan ini atau
tidak. Uji tempel preventif dilakukan dengan teknik uji tempel
terbuka atau tertutup, waktu pelekatannya ditetapkan 24 jam,
daerah lokasi lekatan di belakang telinga atau bahu.
Pengamatannya reaksi kulit positif atau negatif (Ditjen POM,
1985).
II.7

Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah metode uji yang


digunakan untuk mengukur tingkat kesukaan terhadap produk
dengan menggunakan lembar penilaian. Jumlah minimal panelis
standar dalam satu kali pengujian adalah 6 orang, sedangkan
untuk panelis non standar adalah 30 orang. Menurut Badan
Standar Nasional (2006) syarat-syarat panelis adalah sebagai
berikut:
1. Tertarik terhadap uji organoleptik sensori dan mau berpatisipasi
2. Konsisten dalam mengambil keputusan
3. Berbadan sehat
Penilaian sampel yang diuji berdasarkan tingkat kesukaan
panelis. Jumlah tingkat kesukaan bervariasi. Penilaian dapat
diubah dalam bentuk angka dan selanjutnya dapat dianalisis
secara statistik untuk penarikan kesimpulan (Badan Standar
Nasional, 2006).
II.8

Rhodamin B

Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-16
BAB II Tinjauan
Pustaka

Gambar 2.5 Struktur molekul Rhodamin B


Di Indonesia, berdasarkan Peraturan Menkes RI
No.722/Menkes/Per/IX/1988 dan Dirjen Pengawasan Obat dan
Makanan (POM) No.00366/C/II/1990 menyatakan bahwa
rhodamin B termasuk dalam 30 zat pewarna bahan berbahaya
yang tidak boleh terdapat di dalam obat, makanan dan kosmetik
(Menkes RI, 1985; Ditjend POM Depkes RI, 1990).
Umumnya di pasaran sudah banyak beredar sediaan
kosmetika untuk jenis pemutih, pewarna bibir atau perona wajah
serta kosmetika yang berperan untuk keindahan kulit wajah
lainya. Seiring dengan perkembangan, banyak kosmetika yang
beredar selain dibuat dengan bahan-bahan alami banyak yang
menambahkan zat-zat kimia dalam kosmetika, salah satunya
bahan pewarna. Rhodamin B dilarang digunakan untuk produk
kosmetika khususnya lipstik, Karena dapat menyebabkan iritasi
pada mulut sampai terjadi ganguan pada saluran pernapasan.
Penggunaan Rhodamin B pada waktu yang lama, akan terjadi
bahaya akut jika tertelan dan mengakibatkan muntah yang
menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan menimbulkan
gejala keracunan (Anonim,2010). Tanda-tanda umum terpapar
Rhodamin B menurut Rachdie (2006) yaitu :
1. Jika tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran
pencernaan dan menimbulkan gejala keracunan serta air
seni berwarna merah atau merah muda.
2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
3. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata,
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-17
BAB II Tinjauan
Pustaka

mata kemerahan, oedema pada kelopak mata.


4. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran
pernafasan

II.9

Ekstraksi
Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai pemisahan bahan
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Simplisia adalah bahan alami
yang digunakan sebagai obat yang belum megalami pengolahan
apapun atau juga dapat dikatakan sebagai bahan yang telah
mengalami pengeringan. Simplisia dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis sesuai dengan asalnya yaitu simplisia nabati,
hewani, dan pelican (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia
yang berupa tumbuhan utuh atau merupakan bagian dari
tumbuhan. Hasil dari ekstraksi adalah sediaan kental yang
mengandung senyawa aktif, kemudian semua pelarut dan massa
atau serbuk yang tersisa dipisahkan hingga memenuhi baku
sehingga dapat ditetapkan sebagai ekstrak (Departemen
Kesehatan RI, 2000).
Secara umum proses ekstraksi terdiri atas beberapa tahap
yaitu :
1. Pembuatan serbuk simplisia
2. Pemilihan pelarut
3. Pemisahan
4. Evaporasi
5. Pengeringan ekstrak
6. Penetapan yield
Menurut Departemen Kesehatan RI, (2000), metode
ektraksi dengan menggunakan pelarut dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu :
1. Cara Dingin
Ekstraksi dengan menggunakan cara dingin dibedakan
atas dua macam yaitu :
a. Maserasi, yaitu proses ekstraksi yang menggunakan
pelarut dengan menggunakan pengadukan pada
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-18
BAB II Tinjauan
Pustaka

temperatur ruang.
b. Perkolasi, yaitu ekstraksi dengan menggunakan
pelarut yang mengalir secara continue hingga
prosesnya sempurna dan dilakukan pada temperature
ruang.
2. Cara Panas
Ekstraksi dengan menggunakan cara panas dibedakan
atas empat macam yaitu :
a. Refluks, yaitu ekstraksi dengan menggunakan
pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu
tertentu dengan jumlah pelarut yang terbatas dan
dalam jumlah yang tetap serta terdapat pendingin
balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada
residu sehingga proses ekstraksi sempurna.
b. Soxhlet, yaitu ekstraksi menggunakan pelarut yang
dialirkan secara continue yang umumnya
menggunakan suhu serta tekanan yang tinggi.
c. Digesti, yaitu maserasi kinetik dengan temperature
yang lebih tinggi dari pada temperature kamar, yaitu
secara umum dilakukan pada temperature 40-50C.
d. Infus, yaitu ekstraksi dengan menggunankan pelarut
air pada temperature titik didih air dengan bejana
infus tercelup ke dalam air yang mendidih pada
temperature 96-98C selama waktu tertentu.
II.10

Distilasi
Distilasi adalah suatu metode pemisahan komponenkomponen dari larutan yang tergantung pada pembagian substansi
antara fase gas dan liquid, dengan menggunakan berbagai cara
dimana semua komponen ada dalam kedua fase. Daripada
memasukkan sebuah substansi baru kedalam pencampuran secara
berurutan untuk tersedianya kedua fase, seperti dilakukan
absorpsi gas atau desorpsi, fase baru terbentuk dari original
solution karena adanya vaporization atau condensation (Treybal,
1981).
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-19
BAB II Tinjauan
Pustaka

Prinsip dasar dari distilasi adalah mengubah liquid


menjadi uap sehingga dapat terjadi perpindahan massa diantara
kedua fase tersebut. Faktor yang mempengaruhi proses
perpindahan massa ini alah keadaan sistem untuk mencapai
keadaan setimbang. Pada distilasi, kosentrasi vapor (y) dan liquid
(x) haruslah berbeda (Stichlmair, 2014).
Dalam aplikasinya, distilasi teridiri atas dua metode
dasar. Metode pertama didasarkan atas produksi uap sebagai hasil
dari pendidihan campuran liquid yang kemudian dipisahkan
dengan mengkondensasi vapor tanpa mengembalikan liquid hasil
kondensasi ke unit destilasi (tanpa reflux). Metode kedua
didasarkan pada kembalinya hasil kondensasi ke dalam unit
destilasi. Kedua metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan
proses yang continue atau batch (Mc Cabe, 1993).
II.11

Gelombang Mikro (Microwave)


Daerah gelombang mikro pada spektrum elektromagnetik
terletak di antara radiasi infra merah dan frekuensi radio dengan
panjang gelombang 1 cm-1 m dan frekuensi 30 GHz 300 MHz.
Pada oven microwave komersial biasanya digunakan frekuensi
2450 MHz dengan panjang gelombang 12 cm. Meskipun pada
oven microwave terdapat lubanglubang berdiameter kecil di
sisinya, gelombang mikro tersebut tidak akan mampu
melewatinya selama diameter lubang tersebut masih jauh di
bawah panjang gelombangnya. Oleh sebab itu kemungkinan
lolosnya energi ke lingkungan menjadi sangat kecil. Gelombang
mikro dihasilkan dari dua medan perpendicullar yang berosilasi
misalnya medan listrik dan medan magnet. Pada proses
pemanasan konvensional yang tergantung pada fenomena
konveksi dan konduksi biasanya sebagian besar panas hilang ke
lingkungan. Sedangkan pada proses Microwave Assisted
Extraction (MAE), proses pemanasan terjadi dengan target yang
spesifik dan cara yang spesifik, sehingga tidak ada panas yang
hilang ke lingkungan, karena proses pemanasan berlangsung
dalam sistem yang tertutup. Mekanisme pemanasan yang unik
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-20
BAB II Tinjauan
Pustaka

dapat dengan signifikan mengurangi waktu yang dibutuhkan


untuk proses ekstraksi (biasanya kurang dari 30 menit), terutama
dibandingkan dengan proses menggunakan sohklet (Kurniasari,
2008).
Pada dasarnya mikrowave terbagi menjadi empat
komponen dasar, yakni:
1. Generator mikrowave: magnetron, komponen yang
menghasilkan energi gelombang mikro
2. Pengarah gelombang (wave guide), komponen ini akan
mempropagasi gelombang mikro dari sumbernya ke
cavity mikrowave
3. Aplikator, merupakan ruangan bagi umpan
4. Sirkulator, komponen ini akan memyebabkan gelombang
mikro akan bergerak hanya kearah depan
Prinsip pemanasan menggunakan gelombang mikro
adalah bedasarkan tumbukan langsung dengan material polar atau
solvent dan diatur oleh dua fenomena yaitu konduksi ionik dan
rotasi dipol. Dalam sebagian besar kasus, kedua fenomena
tersebut berjalan secara simultan. Konduksi ionik mengacu pada
migrasi elektrophoretik ion dalam pengaruh perubahan medan
listrik. Resistansi yang ditimbulkan oleh larutan terhadap proses
migrasi ion menghasilkan friksi yang akan memanaskan larutan.
Rotasi dipole merupakan pengaturan kembali dipole-dipole
molekul akibat medan listrik yang terus berubah dengan cepat.
Proses pemanasan hanya akan terpengaruh pada frekuensi 2450
MHz. Komponen elektrik gelombang berubah 4-9 104 kali
perdetik. Oven microwave bekerja dengan melewatkan radiasi
gelombang mikro pada molekul air, lemak, maupun gula yang
sering terdapat pada bahan makanan. Molekul-molekul ini akan
menyerap energi elektromagnetik tersebut. Proses penyerapan
energi ini disebut sebagai pemanasan dielektrik (dielectric
heating) (Kurniasari, 2008).
Molekul-molekul pada makanan bersifat elektrik dipol
(electric dipoles), artinya molekul tersebut memiliki muatan
negatif pada satu sisi dan muatan positif pada sisi yang lain.
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-21
BAB II Tinjauan
Pustaka

Akibatnya, dengan kehadiran medan elektrik yang berubah-ubah


yang diinduksikan melalui gelombang mikro pada masing-masing
sisi akan berputar untuk saling mensejajarkan diri satu sama lain.
Pergerakan molekul ini akan menciptakan panas seiring dengan
timbulnya gesekan antara molekul yang satu dengan molekul
lainnya. Energi panas yang dihasilkan oleh peristiwa inilah yang
berfungsi sebagai agen pemanasan bahan makanan di dalam
dapur oven microwave. Dari penjelasan di atas, pemanasan
menggunakan microwave melibatkan tiga kali konversi energi,
yaitu konversi energi listrik menjadi energi elektromagnetik,
konversi energy elektromagnetik menjadi energi kinetik, dan
konversi energi kinetik menjadi energi panas. Proses pemanasan
menggunakan microwave berlangsung mulai dari luar permukaan
bahan. Selanjutnya pemanasan akan berlangsung secara konduksi
sehingga bagian dalam bahan pun akan turut terpanaskan
(Kurniasari, 2008).
Point kunci yang menjadikan energi gelombang mikro
menjadi alternatif yang menarik guna menggantikan proses
pemanasan konvensional adalah bahwa pada proses pemanasan
konvensional, proses pemanasan terjadi melalui gradien panas,
sedangkan pada pemanasan menggunakan gelombang mikro
(microwave), pemanasan terjadi melalui interaksi langsung antara
material dengan gelombang mikro. Perbedaan profil temperature
pada pemanasan konvensional dan pemanasan menggunakan
gelombang mikro disajikan pada Gambar II.5. Hal tersebut
mengakibatkan transfer energi berlangsung lebih cepat, dan
berpotensi meningkatkan kualitas produk (Kurniasari, 2008).

Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-22
BAB II Tinjauan
Pustaka

Gambar 2.6 Profil temperature pada pemanasan konvensional


dan mikrowave
II.12. Efek Thermal Microwave
Gelombang mikro adalah radiasi elektromagnetik dengan
frekuensi berkisar antara 300 MHz hingga 300 GHz. Kisaran
tersebut merupakan batas yang diperbolehkan guna
memposisikan
gelombang
mikro
dalam
spektrum
elektromagnetik, yakni diantara spektrum RF dan IR. Prinsip
pemanasan menggunakan gelombang mikro berdasarkan
tumbukan langsung dengan material polar atau pelarut dan diatur
oleh dua fenomena yaitu konduksi ionik dan rotasi dipol.
Ekstraksi berbantu gelombang mikro dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya adalah jenis pelarut, volume pelarut, daya dan
waktu ekstraksi. Pemilihan pelarut didasarkan pada kelarutan
senyawa target, interaksi antara pelarut dengan matriks bahan
serta sifat atau kemampuan pelarut dalam menyerap energi
gelombang mikro (Mandal dkk, 2007).
II.13. Uji GCMS

Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)


Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-23
BAB II Tinjauan
Pustaka

GC-MS
merupakan
metode pemisahan
senyawa organik
Gambar
2.7 seperangkat
alat GC-MS
yang menggunakan dua metode analisis
senyawa
yaitu
kromatografi
gas
(GC) untuk menganalisis jumlah senyawa
secara
kuantitatif
dan
spektrometri massa
(MS) untuk
menganalisis struktur molekul senyawa analit. Gas kromatografi
merupakan salah satu teknik spektroskopi yang menggunakan
prinsip pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan
migrasi komponen-komponen penyusunnya. Gas kromatografi
biasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa yang
terdapat pada campuran gas dan juga menentukan konsentrasi
suatu senyawa dalam fase gas. Spektroskopi massa adalah suatu
metode untuk mendapatkan berat molekul dengan cara mencari
perbandingan massa terhadap muatan dari ion yang muatannya
diketahui dengan mengukur jari-jari orbit melingkarnya dalam
medan magnetik seragam (Pavia:2006).

Gambar 2.8. Rangkaian Alat GCMS


Alat ini terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Instrumentasi Gas Kromatografi
a. Carrier Gas Supply
Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas
sangatlah penting. Gas yang dapat digunakan pada dasarnya
haruslah inert, kering, dan bebas oksigen. Kondisi seperti ini
Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase

II-24
BAB II Tinjauan
Pustaka

dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat saja bereaksi dan dapat
mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau diidentifikasi.
b. Injeksi Sampel
Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis diinjeksikan
pada mesin menggunakan semprit kecil. Jarum semprit
menembus lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut
septum) yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara
otomatis ketika semprit ditarik keluar dari lempengan karet
tersebut.
c. Kolom
Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi gas-cair.
Tipe pertama, tube panjang dan tipis berisi material padatan; Tipe
kedua, lebih tipis dan memiliki fase diam yang berikatan dengan
pada bagian terdalam permukaannya. Ada tiga hal yang dapat
berlangsung pada molekul tertentu dalam campuran yang
diinjeksikan pada kolom:
- Molekul dapat berkondensasi pada fase diam.
- Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase
diam
- Molekul dapat tetap pada fase gas
2. Instrumentasi Spekstroskopi massa
a. Sumber Ion
Setelah melewati rangkaian gas kromatografi, sampel gas
yang akan diuji dilanjutkan melalui rangkaian spekstroskopi
massa. Molekul-molekul yang melewati sumber ion ini diserang
oleh elektron, dan dipecah menjadi ionion positifnya. Tahap ini
sangatlah penting karena untuk melewati filter, partikel-partikel
sampel haruslah bermuatan.
b. Filter
Selama ion melui rangkaian spekstroskopi massa, ion-ion
ini melalui rangkaian elektromagnetik yang menyaring ion
berdasarkan perbedaan masa. Para ilmuwan memisahkan
komponen-komponen massa untuk kemudian dipilih yang mana
yang boleh melanjutkan yang mana yang tidak (prinsip
Ekstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
Program Studi
sebagai Pengganti
Rhodamin
B
Pabrik
Xylitol
dari Limbah
Tandan
DIII Teknik
KimiaKosong
FTI-ITS Kelapa
untuk Sediaan Pewarna Bibir Alami
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
dengan Metode Microwave Solvent Extraction

II-25
BAB II Tinjauan
Pustaka

penyaringan). Filter ini terus menyaring ion-ion yang berasal dari


sumber ion untuk kemudian diteruskan ke detektor.
c. Detektor
Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan.
Detektor ionisasi nyala dijelaskan pada bagian bawah penjelasan
ini, merupakan detektor yang umum dan lebih mudah untuk
dijelaskan daripada detektor alternatif lainnya.
Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik
merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah
ion-ion dan elektron-elektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran
ion dan elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup dalam
oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal
itu menghentikan kondensasi dalam detektor.
Hasil detektor akan direkam sebagai urutan puncak-puncak;
setiap puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang
melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati
kondisi dalam kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi
untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu
saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni
dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama.

Program StudiEkstraksi Anosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.)
sebagai Pengganti Rhodamin B
DIII Teknik Kimia FTI-ITS

untuk Sediaan
Pewarna
Bibir Alami
Pabrik Xylitol dari Limbah
Tandan
Kosong
Kelapa
dengan Metode Microwave Solvent Extraction
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase