Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini banyak

digunakan. Dibandingkan dengan metode lain seperti destilasi, kristalisasi dan


pengendapan ekstraksi dan lain lain mempunyai keuntungan dalam pelaksanaan
dalam hal yang lebih sederhana. Penggunaan waktu yang singkat terutama,
mempunyai kepekaan yang tinggi serta mempunyai kemampuan memisahkan
yang tinggi. Metode ini dapat digunakan, jika metode lain tidak dapat dilakukan
misalnya, karena jumlah cuplikan sangat sedikit atau campuran kompleks.
Kromatografi adalah istilah hukum untuk berbagai cara pemisahan
berdasarkan partisi cuplikan antara fase gerak dan fase diam dan berupa gas atau
zat cair, fase diam, berupa cair, dan zat padat.
Istilah kromatografi adalah mulamula ditemukan oleh Michael Tswett
(1903) seorang ahli botani Rusia. Ia menggunakan kromatografi diambil dari
bahasa Yunani (chor mos: penulisan) dan (Grafe: warna). Kromatografi berarti
penulisan dengan warna. Saat ini telah dikenal berbagai macam kromatografi,
namun istilah kromatografi juga dapat dipisahkan senyawa senyawa yang tidak
berwarna termasuk gas. Pemisahan secara kromattografi yang berhasil baik
dengan mengkompromikan dengan berkaitan daya pisah kromatografi, bebas
cuplikan dan waktu analisis atau kecepatan seperti daya pisah, kecepatan
kapasitas.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses
migrasi diferensial dinamis dalam sitem komponenkomponen cuplikan ditahan
secara selektif oleh fase diam.
Meskipun dasar dari kromatografi adalah suatu pemisahan, namun banyak
diantara cara ini dapat digunakan untuk analisis kuantitatif dan kualitatif untuk
kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom, kromatografi
gas, kromatografi cair dan kinerja tinggi.
Perlunya percobaan ini agar dapat memahami dengan benarbenar apa
yang dimaksud dengan kromatografi. Dengan melakukan percobaan ini dapat kita
pahami benar benar materi kromatografi secara teori maupun prakteknnya. Hal

43

yang lebih mendasar lagi kenapa perlu melakukan percobaan ini dan apa yang
melatarbelakanginya ialah agar dapat diketahui sifat sifat kepolaran larut
maupun pelarut yang dipraktekan serta dapat memisahkan suatu campuran
berdasarkan migrasi dan penerapan metode sederhana dalam praktikum kimia
kromatografi. Dan juga dalm praktikum ini dapat mengetahui atau menyimpulkan
teknik kromatografi yang ada dengan benar.

1.2.

Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui sifatsifat pelarut.
Mengetahui sifat polar, non polar, komponen komponen larutan yang
dipakai.
Memisahkan campuran yang didasarkan pada perbedaan komponen
komponen yang dipisahkan diantara dua fase (gerak dan diam).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan fasefase yang digunakan.
Dalam kromatografi fase gerak dapat berupa gas atau zat cair dan fase diam dapat
berupa zat padat atau zat cair, maka berdasarkan fase gerak fase diam terdapat
empat macam kromatografi, yaitu : kromatografi gas cair, kromatografi gas
padat, kromatografi cair padat, dan kromatografi cair cair. (Edward. 1991).

44

Kromatografi

juga

dapat

didasarkan

atas

prinsipnya,

misalkan

kromatografi partisi, yaitu cara yang didasarkan pada partisi salah satunya (fase
diam) dan yang lain bergerak (fase gerak). Fase diam dibuat dengan car yang
sama seperti membuat penyangga kromatografi gas. Fase diam (polar atau non
polar) disalutkan pada penyangga lembam dan dikemas ke dalam kolom. Bentuk
kromatografi partisi ini disebut kromatografi cair cair (KCC). Kromatogafi
partisi (KCC dan KTT) disebut fase normal jika fase diam lebih polar dari fase
gerak disebut fase balik jika fase gerak lebih polar dari pada fase diam. Ada
juga kromatografi partisi gas cair, kromatografi adsorpsi cair padat dan lain
ada juga yang dikenal dengan filtrasi gel. Kromatografi pertukaran ion, ialah cara
yang didasarkan pada pertukaran (penyerapan) ion antara fase gerak dan titik ion
pada kemasan. Cara ini banyak dipakai dalam ilmu hayat, contoh : pemisahan
asam amino, dan dapat pula dipakai untuk kation dan anion. Sedangkan
kromatografi cair padat ialah cara yang didasarkan pada penyerapan linarut pada
penyerapan polar silika gel atau alumina. Kromatografi lapis tips (KLT)
merupakan salah satu bentuk kromatografi cair padat (KCP). Pada kromatografi
cair dan kromatografi tipis kolom dapat dikemas dengan partikel mikro atau
makro atau partikel (berkulit tipis 37 44) ada juga yang disebut dengan
kromatografi eksukusi, ialah cara unik dalam arti pemisahan didasarkan pada
ukuran molekul linarut. Kemasannya berupa gel dengan permukaan berpori yang
lembam. Molekul kecil dapat memasuki jaringan pori tersebut dan tertahan di
dalam fase gerak yang tak mengalir. Molekul yang lebih besar terdapat memasuki
jaringan dan mereka melalui kolom tanpa di tahan (Edward L. 1991).
Keuntungan kromatografi gas, atau istilah yang sering dijumpai dalam
kromatografi.

Keuntungan

memiliki

kecepatan,

yaitu

cepat

tercapainya

kesetimbangan antara fase gerak dan fase diam, dan dapat digunakan kecepatan
gas yang tinggi. Resolusi (daya pisah) menyatakan ester metil asam stearat, oleat
dan linoleat. Analisis kualitatif yaitu waktu restensi dan waktu tambat ialah waktu
sejak penyuntikan sampai maksimum puncak. Analisis kuantatif ialah luas setiap
puncak yang terbentuk berbanding lurus dengan konsentrasi puncak tersebut.
Kepeekaan ialah alasan utama mengapa mengunakan kromatografi gas pada

45

analisis begitu meluas. Dan kesederhanaan ialah kromatografi gas mudah


dijalankan dan mudah dipahami. Penafsiran data yang diperoleh biasanya cepat
dan langsungnya, serta mudah (H.M. McNair 1988).
Dan istilah yang sering dijumpai ialah kesetimbangan distribusi adalah
kesetimbangan yang pada kromatografi bersifat dinamis. Molekul sampel atau zat
terlarut berada bolak balik diantara fase diam dan fase bergerak sehingga
kosumsi rata ratanya mengikuti hukum distribusi
Cs
Kd=
Cm
Kd = koefisien distribusi atau partisi
Cs = konsentrasi zat terlarut dalam fase diam
Cm = konsentrasi zat terlarut dalam fase bergerak
Persamaan memperlihatkan bahwa jika harga koefisien distribusi (kd)
besar berarti jumlah molekul yang berada fase diam lebih banyak daripada fase
gerak. Faktor reterdasi (Rf), merupakan parameter karakteristik kromatografi
kertas dan kromatografi lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi
suatu komponen pada kromatogram dan pada kondisi tetap merupakan peranan
karakteristik dan produksibel. Rf didefinisikan sebagai perbandingan jarak yang
ditempuh komponen terhadap jarak yang ditempuh pelarut (fase bergerak).
jarak yang ditempuh komponen
Rf =
jarak yang ditempuh pelarut
Berlakunya jika kd dan penampung lintang tidak tetap sepanjang lintasan zat
terlarut (H.M.McNair, 1988).
Fraksi waktu (R) tunggal dalam molekul dalam fase bergerak dinyatakan dalam
perbandingan molekul dalam fase bergerak terhadap jumlah total molekul.
CmVm
r
Rf =
=
CmVm +CsVs
Vs
1+ kd (
)
Vm
Rf =

1
1+ k

K disebut faktor kapasitas atau kapasitas kolom yang menyatak perbandingan


jumlah molekul dalam fase diam dan fase bergerak.
Vs
Cs Vs
k =Kd
=
Vm Cm Vm

( )

46

Kecepatan bila fraksi waktu ( R ) dikalikan dengan kecepatan alir fase bergerak u,
maka kecepatan aliran molekul diberikan kecepatan :
1
V =(
)
1+ k
Persamaan ini menunjukan bahwa terjadi perbedaan kecepatan bergerak
diantara

komponen

komponen

disebabkan

oleh

perbedaan

koefisien

distribusinya. Jika perbedaan Kd besarnya, masing masing komponen akan


terpisah secara sempurna ( H. M. MeNair, 1988 ).
Waktu retensi pada kromatografi gas dan semua percobaan kromatografi
kolom, hasil pemisahan diberikan dalam harga waktu. Waktu retensi ( tr ) adalah
waktu yang dibutuhkan oleh molekul komponen untuk melintasi suatu kolom
yang panjangnya L.
jarak kolom L
tr=
= ( 1+ k )=tm(1+ k)
kecepatan
u
volume retensi, merupakan besaran pokok yang diukur dalam kromatografi gas,
volume retensi adalah volume gas pembawah yang diperlukan untuk mengerakan
pita kompnen pada keseluruhan panjang suatu kolom, jika kecepatan fase
bergerak (Fc) diukur dalam suatu volume retensi (VR) diberikan : VR = tR. Fc
Vs
tm (1+ k )
=Vm (1+ k ) atauV m (1+ k)
tm

( )

Retensi relative pengukuran tr dan VR dipengaruhi oleh bentuk kolom dan


pengoperasinya, sehingga tidak karateristik untuk suatu komponen. Agar
pengaruhtersebut dapat dieliminir dapat dilakukan perbandingan waktu retensi
komponen dengan senyawa yang sudah diketahui dengan senyawa yang telah
diketahui pada kondisi pengukuran yang sama.
t R t V RV m k
=
=
t r t m V RV m k
Retensi relative( a)=
m

Tm adalah waktu retensi fase bergerak atau komponen yang inert seperti
udara yang tidak tahan waktu melintasi kolom. Tanda(*) berlaku untuk senyawa
pembanding (standar).(H.M.McNair 1988).
Pada kromatografi kolom ialah kromatografi yang menggunakan kolom
sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat

47

tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran di bagian bawah kolom
untuk mengendalikan aliran zat cair. Pemisahan kolom adsorpsi didasarkan pada
adsorpsi komponen-komponen campuran anfitas berbeda-beda terhadp permukaan
fase diam. Pada kromatografi adsorpsi, besarnya koefisien distribusi sama dengan
konsentrasi zat terlarut pada fase teradsorpsi dibagi konsetrasinya pada fase
larutan. Keberuntungan jomlah zat terlarut yang teradsorpsi terhadap konsentrasi
zat.(H.M.McNair 1988).
Teknik pemisahan kromatografi kolom ialah sejumlah cuplikan yang
dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas dalam dan
dibiarkan mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam campuran
diabsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pipa sempit
pada permukaan atas kolom.(Sastrohmidjojo, 1985).
Pembentukan zona pada kromatografi kolom, haruslah sedemikian rupa
sehingga bagian satu zat dari zat yang sama meninggalkan fase diam pada
berbagai waktu yang berbeda. Hasil pemisahan diantaranya dipengaruhi oleh
pemilihan kedua fase yang di gunakan. Fase diam (adsorben) harus berukuran
partikel seragam, bersifat insert terhadap zat uji dan cukup aktif sehingga
memungkinkan zat uji. Teknik pemisahan kromatografi kolom partisi sangat mirip
dengan kromatografi kolom adsorbs. Perbedaan utamanya terletak pada sifat dari
penyerap yang digunakan (Sastrohmijojo, 1985).
Teknik pemisahan kromatografi banyak digunakan untuk pemisahan
senyawa senyawa baik organik maupun anorganik. Kromatografi partisi
terutama dilakukan pada kelarutan komponen yang lebih larut dan fase diam akan
bergerak lebih lambat dalam kolom daripada yang kurang kelarutannya. Dalam
kromatografi partisi cair cair drajat partisi sustu senyawa tertentu diantara
kedua fase dinyatakan sebagai koefisien partisi atau distribusi (kd). Bila suatu zat
dikocok dalam sistem dua pelarut yang tidak saling bercampur, maka zat terlarut
akan terdistribusi diantra kedua fase dan jika kesetimbangan tercapai maka
koefisien partisinya :
konsentrasi zat terlarut pada pelarut A
Kd=
konsentrasi zat terlarut pada pelarut B

48

Teori dasar kromatografi partisi mirip dengan teori destilasi bertingkat persamaan
yang menghubungkan laju pergerakan suatu wilayah (zona) denagan koefisien
partisi diberi persamaan (Khopar. 2003).
Rf =

Am
Am+ kd . As

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat alat
Gelas kimia
Kertas sariang
Mistar
Gunting
Oven
Gelas beaker
Pensil
3.1.2. Bahan bahan
Tinta hitam
Tinta merah
Tinta biru
Ekstrak mawar
Ekstrak kunyit
Ekstrak pandan
Aquadest
Alkohol
Dietil eter

49

3.2. Prosedur percobaan


3.2.1. Aquadest
Dipotong kertas saring dengan ukuran gelas kimia dan dibatasi bawa

kertas.
Diberi garis sekitar 1 cm dari kertas bawah kertas.
Diberi noda (titik).
Dimasukkan kertas tersebut ke dalam gelas kimia yang di isi aquadest.
Dibiarkan merembes naik hingga lama dibawa dibatas kertas, diambil dan

dikeringkan dalam oven.


Hitung hargga Rf masingmasing noda.
3.2.2. Alkohol
Dipotong kertas saring sesuai dengan panjang 13 cm dan lebar disesuaikan
dengan ukuran gelas kimia dan dibatasi kertas.
Diberi garis sekitar 1 cm dari bawah kertas.
Diberi noda (titik).
Dimasukan kertas saring tersebut kedalam gelass kimia yang telah di isi
dengan alkohol.
Dibiarkan merembes hingga naik, lama dibawah batas kertas, diambil dan
di keringkan dalam oven.
Dihitung harga Rf masing masing noda.
3.2.3. Dietil eter
Dipotong kertas saring dengan panjang 13 cm dan lebarnya disesuaikan
dengan gelass kimia.
Diberi garis sekitar 1 cm dari bawah kertas
Diberi noda (titik)
Dimasukan kertas saring tersebut ke dalam gelas kimia yang telah di isi
dietil eter.
Biarkan hingga naik dan lama di bawah batas kertas.
Dihitung harga Rf masing masing noda.

BAB 4
HASIL DAN PENGAMATAN

50

4.1. Tabel Pengamatan


No
.
1.

2.

Pelarut
Aquadest

Alkohol

Noda

Jarak noda
(cm)

Dietil eter

Hitam

Biru

Ekstrak kunyit

Ekstrak mawar

6,5

Ekstrak pandan
Merah

0
7,3

Hitam

0,4

0,7
8,5

0,92
0
0,96

7,6

0,05

Ekstrak kunyit

6,7

0,9

Ekstrak mawar

5,6

Ekstrak pandan
Merah

5,8
8,7

7,4

0,75
0,78
0,95

Hitam

Biru

Ekstrak kunyit

0,95

Ekstrak mawar

Ekstrak pandan

6,6

4.2. Perhitungan
4.2.1. Noda tinta hitam
Pada aquadest
Rf =

Rf

Merah

Biru

3.

Jarak pelarut
(cm)

jarak noda
jarak pelarut
Rf =

51

6 cm
8,5

9,1

7,3

0
0,9

Rf =0,70
Pada alkohol
jarak noda
Rf =
jarak pelarut
Rf =

7,3 cm
7,6

Rf =0,96
Pada dietil eter
Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =

8,7 cm
9,1

Rf =0,956

4.2.2. Noda tinta hitam


Pada aquadest
Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =

0 cm
8,5

Rf =0

Pada alkohol
Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =
Rf =0,05

52

0,4 cm
7,6

Pada dietil eter


Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =

0 cm
9,1

Rf =

0 cm
0,5

Rf =0

4.2.3. Noda tinta biru


Pada aquadest
Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =0
Pada alkohol
Rf =

jarak noda
jarak pelarut

Rf =

Rf =0

Pada dietil eter


jarak noda
Rf =
jarak pelarut

53

0 cm
7,6

Rf =

0 cm
9,1

Rf =0

4.2.4. Noda ekstrak mawar


Pada aquadest
jarak noda
Rf =
jarak pelarut
Rf =

6,5 cm
7

Rf =

5,6 cm
7,4

Rf =0 , 9 2
Pada alkohol
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =0 , 75
Pada dietil eter
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

0 cm
7,3

Rf =0

4.2.5. Noda ekstrak kunyit


54

Pada aquadest
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

0 cm
7
Rf =0

Pada alkohol
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

6,7 cm
7,4

Rf =0,9

Pada dietil eter


jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

7 cm
7,95

Rf =0,95

4.2.6. Noda ekstrak pandan


Pada aquadest
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

o cm
7
Rf =0

55

Pada alkohol
jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

5,8 cm
7,4

Rf =0,78

Pada dietil eter


jarak noda
Rf =
jarak pelarut

Rf =

6,6 cm
7,3

Rf =0,9

4.3. Pembahasan
Prinsip kromatografi adalah cara pemisahan pemurnian yang didasarkan
perbedaan distribusi dan komponen campuran tersebut diantara dua fase yaitu fase
diam dan fase gerak. Untuk mengetahui penerapannya dari praktikum
kromatografi yang penerapannya sangat banyak ditemukan didalam kehidupan
seharihari.
Senyawa polar akan menyukai pelarut yang bersifat polar juga. Sedangkan
senyawa non polar akan menyukai pelarut yang non polar juga. Karena ada
pelarut yang bersifat polar dan non polar ada juga yang disebut dengan semi
polar.
Like dissolved like adalah suatu prinsip dimana suatu zat polar yang
terlarut akan menyukai pelarut yang bersifat polar juga, sedangkan senyawa non
polar akan menyukai pelarut yang bersifat non polar.
Berdasarkan hasil percobaan dapat di ketahui bahwa semakin besar harga
Rf maka sifat komponen akan semakin mirip dengan sifat pelarut, misalnya pada
pelarut polar dilarutkan komponen X dan didapatkan harga atau nilai Rf sebesar
0,95 hal ini menunjukan bahwa sifat komponen X adalah polar dan hampir sama
dengan sifat pelarut yang digunakan. Sebaliknya jika nilai Rf mendekati nol

56

misalnya 0,005 maka sifat komponen X adalah non polar kebalikkannya


berlawanan sengan sifat pelarutnya.
Sifat kepolaran memiliki perbedaan keelektronegatifan yang besar,
perbedaan ini mendorong timbulnya kutub-kutub listrik permanen (dipol
permanen). Sedangkan senyawa non polar memiliki perbedaan keelektronegatifan
yang kecil pada setiap atom penyusunnya. Suatu ikatan kovalen disebut polar jika
pasangan electron ikatan (PEI) tertarik lebih kuat kesalah satu atom. Sebaliknya,
suatu ikatan kovalen dikatakan non polar, jika PEI tertarik sama kuat kesemua
atom. Sedangkan untuk senyawa semi polar, memiliki kedua sifat tersebut dalam
ikatan sehingga dapat berperan melarutkan senyawa polar ataupun senyawa non
polar. Dalam hal ini senyawa yang bersifat polar adalah aquadest, semi polar
adalah etanol, dan non polar adalah dietil eter.
Noda berupa tinta merah dapat larut pada pelarut aquadest, etanol dan
dietil eter hal ini menunjukan bahwa tinta merah sifat semi polar. Tinta hitam
tidak larut pada pelarut aquadest dengan dietil eter tetapi pada etanol tinta hitam
sedikit mengalami penyebaran (noda membesar) hal ini menunjukan adanya sifat
semi polar tinta hitam. Tinta biru tidak dapat larut pada ketga pelaruttersebut
(aquadest, etanol, dietil eter). Ekstrak mawar hanya dapat larut pada pelarut
aquadest dan etanol, demikian dapat dapat dikatakan bahwa ekstrak mawar
memiliki sifat polar. Ekstrak kunyit larut dalam pelarut etanol dan dietil eter, oleh
karena itu sifat utama ekstrak kunyit ialah non polar. Ekstrak pada hanya akan
larut pada pelarut etanol dan dietil eter karena sifat ekstrak pandan ialah non polar.
Nilai Rf pada aquadest 0,70, pada etanol Rf 0,96 dan pada dietil eter Rf
0,965 ini pada tinta merah, sifat tinta tersebut bersifat semi polar, karena dapat
larut dalam ketiga pelarut tersebut.
Pada tinta hitam, denagn pelarut alkohol nilai Rf 0, dietil eter Rf 0, dan
aquadest Rf 0,053. Sifat tinta hitam polar, karena hasil dari percobaan pelarut
dapat larut dalam pelarut aquadest (polar).
Tinta biru dengan pelarut aquadest nilai Rf 0, dietil eter Rf 0 dan alkohol
Rf 0. Dari hasil Rf sifat biru bersifat semi polar dapat larut dalam ketiga pelarut
tersebut.

57

Pada ekstrak mawar denagan pelarut aquadest nilai Rf 9,28, alkohol Rf


0,75 dan dietil eter Rf 0. Sifat ekstrak mawar bersifat polar, dank arena dapat larut
dalam pelarut aquadest dan alkohol.
Pada ekstrak kunyit denagan pelarut aquadest Rf 0, alkohol Rf 0,90, dietil
eter Rf 0,95. Sifat ekstrak kunyit bersifat non polar, karena dapat larut dalam
pelarut dietil eter. Pada ekstarak pandan, alkohol denagan Rf 0,78, dietil eter Rf
0,90, dan aquadest Rf 0, jadi dapat disimpul bahwa sifat ekstrak pandan non polar
karena hanya dapat larut dalam pelarut alkohol dan dietil eter.
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase diam
(stasionery) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat padat, fase
cair, sedangkan zat berupa zat cair atau gas.
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan jenis fasefase yang
digunakan. Kromatografi gas cair, kromatografi gas padat, kromatografi cair
padat dan kromatografi cair- cair.
Fase diam (stationary) ialah fase yang berupa gas padat atau cair yang
merupakan media dalam kromatografi. Misalnya dalam percobaan kromatografi
kertas yang menjadi fase diam adalah kertas saring. Fase bergeraknya (mobile)
ialah fase yang berupa zat cair atau gas ini merupakan senyawa atau campuran
cuplikan yang akan dianalis, misalnya tinta-tinta dan ekstrak mawar, kunyit,
pandan dan lain-lain.
Kromatografi kertas tekniknya diperkenalkan oleh Losen, Gordon dan
Martin yang menggunakan kertas saring sebagai fase diam. Cairan fase bergerak
yang biasa berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan mengalir membawa
noda cuplikan yang akan didepositkan pada kertas dengan kecepatan berbeda.
Pemisahan terjadi berdasarkan masingmasing komponen diantara fase diam dan
fase bergeraknya. Kromatografi kertas digunakan untuk analisa kualitatif maupun
kuantitatif. Senyawasenyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar.
Misalnya asamasam amino, gulagula atau pigmenpigmen alam. Terdapat tiga
metode pengembangan pada kromatografi kertas yaitu metode penaikan
(ascending), metode penurunan (descending), dan metode mendatar (radial).

58

Faktor yang mempengaruhi harga Rf adalah jarak noda, jarak pelarut dan
penampung (fase diam). Fase diam adalah kertas saring dan fase gerak adalah
pelarutnya.
Pengertian polar adalah senyawa yang berpotensi untuk menimbulkan
kutub listrik karena perbedaan keelektronegatifan yang besar antara unsur yang
berkaitan. Non polar adalah senyawa yang berpotensi untuk menimbulkan kutub
listrik karena perbedaan keelektronegatifan yang kecil antara unsur yang
berkaitan. Semi polar adlah senyawa yang berkecenderungan untuk melarutkan
senyawa polar dan non polar contoh alkohol dan air.
Faktor kesalahan yang mungkin terjadi ialah pada saat pengukuran jarak
noda yang tidak tepat dan menyebabkan ketidakpastian harga Rf, sehingga Rf
menjadi berubahubah terus.

BAB 5
PENUTUP

59

5.1. Kesimpulan
Sifat pelarut alkohol adalah semi polar, pelarut dietil eter adalah non polar
dan pelarut air adalah polar
Metode kromatografi (pemisahan campuran) didasarkan pada perbedaan
kecepatan migrasi dan distribusi molekulmolekul diantara fase gerak dan
fase diam. Apabila interaksi komponenkomponen terlarut dalam pelarut
lemah dengan fase diam maka geraknya lebih cepat meninggalkan fase
diam. Hal ini akan terjadi interaksi komponen dengan molekul pada fase
diam maka geraknya akan lebih lambat. Apabila dua atau lebih komponen
memiliki daya interaksi dengan fase diam atatu fase geraknya sama maka
komponen komponen tersebut sulit dipisahkan.
Suatu komponen dikatakan polar apabila komponen tersebut bergerak
bersama fase geraknya yang bersifat polar dan Rf-nya mendekati satu.
Suatu komponen dikatakan semi polar pada pelarut non polar dan polar
komponen tersebut bergerak dari fase gerak pelarut yang bersifat non polar
dan polar. Suatu komponen dikatakan non polar apabila pada pelarut non
polar dia akan bergerak mengikuti fase gerak pelarut non polar juga.
5.2. Saran
Dalam praktikum kali ini adalah analisa kromatografi kertas, agar kita
dapat membandingkannya dengan kromatografi kolom, hendaknya dilakukan juga
analisa kromatografi kolom dan dibandingkan dengan hasil kromatografi kertas.

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Edward. L. dkk. 1991. Dasar Kromatografi Cair. Bandung: ITB
Khopkar. S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press

60

Mc Nair, H.M. dkk. 1988. Dasar Kromatografi Gas. Bandung: ITB


Sostrohomidjojo, H. 1985. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty

61