Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Logam memiliki empat sifat yaitu sifat mekanik, fisik, thermal, dan korosif. Salah satu sifat
logam yang penting adalah sifat mekanik. Sifat mekanik suatu logam dijadikan sebagai
patokan untuk memproses logam menjadi bahan konstruksi atau hanya sekedar digunakan
sebagai perkakas . Untuk mengetahui sifat mekanik logam, tentu kita harus mengadakan
pengujian terhadap bahan tersebut. Ada empat jenis uji coba yang biasa dilakukan, yaitu uji
tarik (tensile test), uji tekan (compression test), uji torsi (torsion test), dan uji geser (shear
test). Dalam tulisan ini kita akan membahas tentang uji tarik dan sifat-sifat mekanik logam
yang didapatkan dari interpretasi hasil uji tarik.
Uji Tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan / material
dengan cara memberikan beban gaya yang berlawanan arah. Hasil yang didapatkan dari
pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena menghasilkan
data kekuatan material. Sifat mekanis logam yang dapat diketahui setelah proses pengujian
ini seperti kekuatan tarik, keuletan,kuat luluh, modulus elastis, kelentingan, dan ketangguhan.
Uji tarik mungkin adalah cara pengujian bahan yang paling mendasar. Dengan menarik suatu
bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga
tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk
uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly
stiff).
Pengujian tarik biasanya digunakan sebagai pelengkap informasi dari sebuah rancangan dasar
kekuatan suatu bahan. Karena dengan pengujian ini dapat diukur suatu ketahanan material
jika diberikan gaya statis secara perlahan. Pengujian tarik sangat penting dilakukan karena
dengan uji tarik didapat berbagai info mengenai sifat-sifat mekanik logam.
Karena pentingnya uji tarik maka kita perlu mengetahui cara kerja dan hal-hal yang terjadi di
dalam uji tarik. Dengan adanya kurva tegangan-regangan kita dapat mengetahui kekuatan
tarik , keuletean, modulus elastisitas,ketangguhan. Melaului kurva tersebut juga kita
mendapatkan data dasar mengenai kekuatan suatu logam atau bahan.

1.2.

Rumusan Masalah

Untuk mencapai hasil penelitian yang maksimal dan terarah, maka diperlukan perumusan
masalah dalam sebuah penelitian. Adapun rumusan masalah tersebut :
1.2.1. Bagaimana cara kerja praktikum uji tarik ?
1.2.2. Bagaimana hasil uji tarik pada batang baja ?
1.2.3. Apa manfaat uji tarik dalam dunia industri manufaktur ?
1.3.

Batasan Masalah

Pengujian dilakukan pada kawat baja sampai kawat baja tersebut terputus. Dari hasil
pengujian tarik tersebut didapat yield strength, tensile strength, dan Modulus Elastisitas.
1.4.

Tujuan Praktikum

Tujuan yang diharapkan setelah mahasiswa melakukan pengujian tarik adalah :


1.4.1. Untuk mengetahui cara kerja praktikum uji tarik
1.4.2. Untuk mengetahui hasil uji tarik pada batang baja
1.4.3. Untuk mengetahui manfaat uji tarik dalam dunia industri manufaktur

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1. Dasar Uji Tarik
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan/material
dengan cara memberikan beban gaya yang berlawanan arah dalam satu garis lurus. Hasil
yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk
karena mengahasilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur
ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.
Sampel atau benda uji dengan ukuran dan bentuk tertentu ditarik dengan beban kontinyu
sambil diukur pertambahan panjangnya. Data yang didapat berupa perubahan panjang dan
perubahan beban yang selanjutnya ditampilkan dalam bentuk grafik tegangan-regangan.
sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.1.

Perpatahan ulet memberikan karakteristk berserabut (fibrous) dan gelap (dull), sementara
perpatahan getas ditandai dengan permukaan patahan yang berbutir (granular) dan terang.
Perpatahan ulet umumnya lebih disukai karena bahan ulet umumnya lebih tangguh dan
memberikan peringatan lebih dahulu sebelum terjadinya kerusakan. Pengamatan kedua
tampilan perpatahan itu dapat dilakukan baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan
stereoscan macroscope. Pengamatan lebih detil dimungkinkan dengan penggunaan SEM
(Scanning Electron Microscope).

2.2 Kekuatan Tarik


Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah kuat luluh (Yield
Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength). Kekuatan tarik atau kekuatan tarik
maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah beban maksimum dibagi luas
penampang lintang awal benda uji.

di mana,
Su

= Kuat tarik

Pmaks = Beban maksimum


A0

= Luas penampang awal

Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban maksimum
dimana logam dapat menahan sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas.
Tegangan tarik adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu uji tarik, tetapi
pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan kekuatan
bahan. Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban
maksimum, di mana logam dapat menahan beban sesumbu untuk keadaan yang sangat
terbatas. Akan ditunjukkan bahwa nilai tersebut kaitannya dengan kekuatan logam kecil
sekali kegunaannya untuk tegangan yang lebih kompleks, yakni yang biasanya ditemui.
Untuk berapa lama, telah menjadi kebiasaan mendasarkan kekuatan struktur pada kekuatan
tarik, dikurangi dengan faktor keamanan yang sesuai.
2.3

Kekuatan luluh (yield strength)

Tegangan luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah kecil
deformasi plastis yang ditetapkan. Nilai Kekuatan luluh merupakan titik awal sebuah material
bahan atau logam mulai terdeformasi secara plastik.
Sifat mekanik ini menunjukkan kekuatan bahan terhadap deformasi plastik, dan biasa disebut
sebagai kuat luluh, yield strength. Data ini digunakan untuk menentukan beban minimum
yang diperlukan agar bahan atau logam dapat dideformasi secara plastik.

Tegangan luluh sebuah bahan dinotasikan dengan Sy dan didihutung berdasarkan persamaan
berukut:

Keterangan ;
Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)
Py : Besarnya beban di titik yield (kg)
Ao : Luas penampang awal benda uji (mm2)
Kekuatan luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah kecil
deformasi plastis yang ditetapkan. Definisi yang sering digunakan untuk sifat ini adalah
kekuatan luluh ditentukan oleh tegangan yang berkaitan dengan perpotongan antara kurva
tegangan-regangan dengan garis yang sejajar dengan elastis ofset kurva oleh regangan
tertentu. Di Amerika Serikat offset biasanya ditentukan sebagai regangan 0,2 atau 0,1 persen
(e = 0,002 atau 0,001)

Cara yang baik untuk mengamati kekuatan luluh offset adalah setelah benda uji diberi
pembebanan hingga 0,2% kekuatan luluh offset dan kemudian pada saat beban ditiadakan
maka benda ujinya akan bertambah panjang 0,1 sampai dengan 0,2%, lebih panjang daripada
saat dalam keadaan diam. Tegangan offset di Britania Raya sering dinyatakan sebagai
tegangan uji (proff stress), di mana harga ofsetnya 0,1% atau 0,5%. Kekuatan luluh yang
diperoleh dengan metode ofset biasanya dipergunakan untuk perancangan dan keperluan
spesifikasi, karena metode tersebut terhindar dari kesukaran dalam pengukuran batas elastik
atau batas proporsional.
2.4

Pengukuran Keliatan (keuletan)

Keuleten adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada saat diberikan
penetrasi dan akan kembali ke baentuk semula.Secara umum pengukuran keuletan dilakukan
untuk memenuhi kepentingan tiga buah hal [Dieter, 1993]:

1. Untuk menunjukan elongasi di mana suatu logam dapat berdeformasi tanpa terjadi
patah dalam suatu proses suatu pembentukan logam, misalnya pengerolan dan
ekstrusi.
2. Untuk memberi petunjuk secara umum kepada perancang mengenai kemampuan
logam untuk mengalir secara pelastis sebelum patah.
3. Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi pengolahan
2.5

Modulus Elastisitas

Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan keelastisitasannya. Makin
besar modulus, makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian
tegangan.Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom, karena gaya-gaya ini tidak
dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus
elastisitas salah satu sifat-sifat mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit
berubah oleh adanya penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.
Secara matematis persamaan modulus elastic dapat ditulis sebagai berikut.

Dimana,
s = tegangan
= regangan
2.6

Kelentingan (resilience)

Kelentingan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi pada waktu
berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya dihilangkan [Dieter,
1993]. Kelentingan biasanya dinyatakan sebagai modulus kelentingan, yakni energi regangan
tiap satuan volume yang dibutuhkan untuk menekan bahan dari tegangan nol hingga tegangan
luluh o. Energi regangan tiap satuan volume untuk beban tarik satu sumbu adalah :
Uo = xx

Dari definisi diatas, modulus kelentingan adalah :

Persamaan ini menunjukan bahwa bahan ideal untuk menahan beban energi pada pemakaian
di mana bahan tidak mengalami deformasi permanen, misal pegas mekanik, adalah data
bahan yang memiliki tegangan luluh tinggi dan modulus elastisitas rendah.
2.7

Ketangguhan (Toughness)

Ketangguhan (Toughness) adalah kemampuan menyerap energi pada daerah plastik. Pada
umumnya ketangguhan menggunakan konsep yang sukar dibuktikan atau didefinisikan. Salah
satu menyatakan ketangguhan adalah meninjau luas keseluruhan daerah di bawah kurva
tegangan-regangan. Luas ini menunjukan jumlah energi tiap satuan volume yang dapat
dikenakan kepada bahan tanpa mengakibatkan pecah. Ketangguhan (S0) adalh perbandingan
antara kekuatan dan kueletan. Persamaan sebagai berikut.
UT su ef
atau

Untuk material yang getas

Keterangan;

UT : Jumlah unit volume

Tegangan patah sejati adalah beban pada waktu patah, dibagi luas penampang lintang.
Tegangan ini harus dikoreksi untuk keadaan tegangan tiga sumbu yang terjadi pada benda uji
tarik saat terjadi patah. Karena data yang diperlukan untuk koreksi seringkali tidak diperoleh,
maka tegangan patah sejati sering tidak tepat nilai.

BAB III
DATA DAN ANALISA DATA
3.1

Data Pengujian Uji Tarik


Penguji
NIM
Istruktur
Bahan Uji
Diamater Spesimen (d)
Panjang Spesimen (lo)

:
:
:
:
:
:

Adam Al Hakiim
1431210215
Ir. Drs. Raden Edy Purwanto, MSc.,Dr
Baja
8.15 mm
74.45 mm

l (mm)
0.5
1.0
1.5
2.0
2.5
3.0
3.5
4.0
4.5
5.0
5.5
6.0
6.5
6.6
7.0
7.5
8.0
8.5
9

P (N)
1500
3500
6000
8500
11300
11900
19000
20300
20700
20700
20700
20700
20700
20800
19400
18300
16700
15000
11000

3.2

Analisa Hasil Uji Tarik

Diketahui

Ditanyakan

= 8.15 mm

a. Tegangan

d. Yield Strength

lo

= 74.45 mm

b. Regangan

e. Modulus Elastis

= 3.14

c. Ultimate Tensile Strength f. Elongation

Jawab :
a.) Tegangan
Kita ambil salah satu sampel pada pengujian P = 8500 N

=
= 163,02 N/mm2
b.) Regangan
Kita ambil salah satu data pada pengujian l = 2,0

e=

=
= 0.027
1

c.) Ultimate Tensile Strength


Diketahui benda kerja menerima beban Pmaks = 20800 N

=
= 398.91 N/mm2
d.) Yield Strength
Diketahui perbatasan benda elastis berdeformasi menjadi plastis Py = 11300 N

=
= 216.72N/mm2

e.) Modulus Elastis


Diketahui data linier, = 163,02 dan e = 0.008

E=

=
= 19178.33

f.) Elongation

%E=

x 100 %

= 3,75 %

Tabel Tegangan () dan Regangan (e)


e

(N/mm2)

0.007
0.013
0.020
0.027
0.034
0.040
0.047
0.054
0.060
0.067
0.074
0.081
0.087
0.089
0.094
0.101
0.107
0.114
0.121

28.77
67.12
115.07
163.02
216.72
228.22
364.39
389.32
397.00
397.00
397.00
397.00
397.00
398.91
372.06
350.97
320.28
287.68
210.96

Diagram Tegangan () dan Regangan (e)

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Cara Kerja Praktikum Uji Tarik


Alat dan Bahan

a. Mesin uji tarik


b. Specimen baja
Cara Kerja
1.
2.
3.
4.

Menyiapkan seluruh bahan yang akan diuji tarik. Kali ini yang akan diuji adalah baja
Menyiapkan kertas milimeter block dan letakkan kertas tersebut pada plotter.
Benda uji atau specimen dipasang pada pencengkam alat uji tarik.
Benda uji mulai mendapat beban tarik dengan menggunakan tenaga hidrolik diawali 0

kg hingga benda putus pada beban maksimum yang dapat ditahan benda tersebut.
5. Benda uji yang sudah putus lalu diukur berapa besar penampang dan panjang benda
uji setelah putus.

6. Gaya atau beban yang maksimum ditandai dengan putusnya benda uji terdapat pada
layar digital dan dicatat sebagai data.
7. Hasil diagram terdapat pada kertas milimeter block yang ada pada meja plotter.
8. Hal terakhir yaitu menghitung kekuatan tarik, kekuatan luluh, perpanjangan, reduksi
penampang dari data yang telah didapat dengan menggunakan persamaan yang ada.

4.2. Hasil Uji Tarik pada Batang Baja


Berdasarkan hasil pengujian tarik pada batang baja maka didapatkan grafik sebagai berikut :

Pada percobaan uji tarik ini, menggunakan bahan baja berbentuk batang diameter 8.15 mm
dan panjang 74,45 mm. Proses pengujiannya adalah dengan cara memasangkan benda uji
pada alat uji tarik. Dengan gaya yang telah ditentukan pengujian dilakukan sampai benda uji
{batang baja} putus. Setelah melalui percobaan maka didapat pertambahan panjang sebesar 9

mm dan pada saat itu juga batang baja mengalami fracture (pemutusan). Dari grafik di atas
dapat diketahui bahwa benda mengalami perubahan dari elastis ke plastis pada saat mencapai
216.72 N/mm2 . Sementara Ultimate Tensile Strengh yang dicapai oleh kawat dicapai pada
saat nilai mencapai 398.91 N/mm2 dan tensile strength didapat sebesar 210.96 N/mm2.

4.3. Manfaat Uji Tarik dalam Dunia Industri Manufaktur


Industri manufaktur merupakan industri yang memproduksi beberapa peralatan yang
berkaitan dengan logam contohnya industri mobil maupun sparepart sepeda motor. Setiap
industri yang mengunakan logam sebagai salah satu bahan dasar produksi harus
memperhitungkan beberapa sifat dan jenis logam. Dalam proses produksi jenis logam dan
sifat logam sangat berpengaruh terhadap jenis produk apa yang akan dihasilkan dan kegunaan
produk yang dihasilkan sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi target pemakaian
yang efektif dan efisien. Uji tarik yang merupakan salah satu dari beberapa jenis pengujian
logam. Uji tarik pada industri manufaktur digunakan untuk mengetahui kekuatan tarik dari
sebuah logam jadi ketika dalam perencanaan produksi sebuah benda dapat diperkirakan
berapa faktor keamanan yang dicapai untuk sebuah logam. Jadi setiap produk yang dibuat
kekuatan tariknya berbeda beda sesuai dengan kebutuhan pemakaian.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan

1. Material yang elastis tidak akan mudah putus pada saat dilakukan penarikan.
2. Semakin panjang garis tegangan pada grafik maka material tersebut dikategorikan
sebagai material yang elastis. Sebaliknya semakin pendek garis tegangan maka
material tersebut bersifat getas.
3. Pada pengujian tarik terjadi fenomena fenomena yang terjadi pada saat pengujian,
diantaranya adalah necking, pertambahan panjang, sampai benda itu putus.
4. Sifat sifat dan perhitungan yang telah diketahui sangat penting bagi para engineer
dalam melakukan perancangan.
5.2. Saran
Setelah melakukan praktikum uji tarik, penulis menyarankan agar alat uji tarik harus
dipersiapkan sedimikian rupa yaitu dengan cara melakukan pengecekan terhadap setiap
komponen mesin uji tarik sebelum melakukan praktikum. Karena praktikan mengalami

kendala dalam melihat pertambahan panjang material. Sehingga hasil yang didapatkan
kurang maksimal.