Anda di halaman 1dari 31

INVENTARISASI JAMUR PADA BUAH TOMAT

(Licopersicum Esculentum) PASCA PANEN


LAPORAN PRAKTIKUM
DISUSUN OLEH :
1. ASRI AMSAH

( 13.821.0072 )

2. BENNY GUNARSO

( 13.821.0067 )

3. MUHAMMAD TEGUH TARIGAN

( 13.821.0038 )

4. RIDHO PASARIBU

( 13.821.0065 )

5. SELVI HANDAYANI

( 13.821.0015 )

KELOMPOK 4 ( EMPAT )

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MEDAN AREA
MEDAN
2014
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan
karunia yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum

yang

berjudul

INVENTARISASI

JAMUR

PADA BUAH TOMAT

(Licopersicum Esculentum) PASCA PANEN .


Adapun usulan Laporan Praktikum ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi
tugas akhir dari praktikum Matakuliah Dasar Mikrobiologi pada Fakultas Pertanian
Universitas Medan Area.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya
kepada :
1. Dosen Matakuliah Dasar Mikrobiologi Ibu Ir. Maimunah, M.Si. dan Asisten Dosen
Bapak Muhammad Usman S.Si. yang telah banyak memberikan bimbingan dan
arahan, saran, serta bantuan kepada penulis agar dapat menguasai Matakuliah Dasar
Mikrobiologi dan menyelesaikan Laporan Praktikum sebagai Tugas Akhir Mata
kuliah Dasar Mikrobiologi.
2. Kedua orang tua tercinta yang telah memberikan dorongan motivasi dengan penuh,
baik moril maupun materil kepada penulis.
3. Seluruh rekan rekan sesama mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Medan Area,
dan khususnya rekan rekan satu kelompok yang telah membantu dan saling bekerja
sama dalam menyelesaikan Laporan Praktikum sebagai Tugas Akhir Matakuliah
Dasar Mikrobiologi.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan penulisan Laporan Praktikum Dasar Mikrobiologi ini. Akhir kata penulis
berharap agar Laporan Praktikum Dasar Mikrobiologi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 23 Juni 2014
Penulis

Kelompok 4

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Tujuan Praktikum ................................................................................................ 6
C. Manfaat Praktikum .............................................................................................. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 7
A. Tanaman Tomat .................................................................................................... 7
B. Kelompok Jamur ................................................................................................ 11
1. Gymnomycota ............................................................................................. 12
2. Amastigomycota .......................................................................................... 13
3. Mastigomycota ............................................................................................ 13
BAB III. BAHAN DAN PROSEDUR KERJA .......................................................... 15
A. Waktu dan Tempat ............................................................................................. 15
B. Bahan dan Alat ................................................................................................... 15
C. Metode Percobaan ............................................................................................. 15
D. Prosedur Kerja ................................................................................................... 16
1. Penyediaan Alat dan Bahan ......................................................................... 16
2. Pembuatan Media ........................................................................................ 16
3. Sterillisasi Penuangan Media ....................................................................... 17
4. Inokulasi ...................................................................................................... 18
a. Penuangan Media .................................................................................. 18
b. Penanaman Sampel ................................................................................ 19
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................... 20
A. Hasil ................................................................................................................... 20
B. Pembahasan ....................................................................................................... 21
1. Aspergillus Flavus ...................................................................................... 21
2. Acremonium Sp .......................................................................................... 23
BAB V. PENUTUP ...................................................................................................... 25
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 25
B. Saran .................................................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 26

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya
baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah
yang keras, miskin unsur hara mikro, serta hormon pemupukan tidak berimbang,
serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya
petani. Pertumbuhan tomat yang baik, membutuhkan tanah yang gembur, kadar
pH antara 5 - 6, sedikit mengandung pasir, pengairan secara intensif, dan cukup
pada saat mulai penanaman hingga panen. (Tugiyono, 2001)
Buah tomat mempunyai nama ilmiah Licopersicum Esculentum, dan
merupakan buah asli amerika tengah dan amerika selatan. Buah tomat sering kita
jumpai dalam berbagai menu masakan maupun dalam bentuk jus. Tomat
dikategorikan sebagai buah yang berkeluarga dekat dengan kentang, hanya saja
berwarna merah saat matang. Buah tomat adalah jenis buah yang mempunyai
kandungan vitamin yang cukup banyak sehingga sangat baik bagi kesehatan tubuh
anda. Berdasarkan penelitian, buah tomat yang telah masak / matang memililiki
berbagai kandungan vitamin di antaranya adalah sebagai berikut: Kalsium = 5
mg,
Vitamin A = 1500 SI, Kalori + 20 kal, Vitamin C = 40 mg, Protein = 1.0 g,
Lemak = 0.3 mg, Karbohidrat = 4.2 g.
Berdasarkan kandungan nutrisi di dalamnya tersebut, maka buah tomat
baik dikonsumsi setiap hari karena akan membantu menjaga kesehatan tubuh.
Maka tidak heran jika sebagian besar orang menyukai buah tomat untuk

dikonsumsi dalam sajian yang beraneka ragam. Berikut ini adalah beberapa
manfaat buah tomat bagi kesehatan tubuh manusia : Menjaga kesehatan mata
anda, Mencegah penggumpalan darah, Antioksidan, Anti inflamasi, Mencegah
wasir dan sembelit, Membantu menurunkan demam, Menambah jumlah produksi
sperma. ( Constiti, 2013 dalam www.constiti.com )
Di Indonesia hasil produksi buah tomat setiap tahunnya bisa meliputi
angka yang fantastis dan juga penurunan hasil produksi yang cukup tajam.
Berdasarkan data yang telah dihasilkan dari tahun 2000 tahun 2013
pertumbuhan produksi buah tomat tidaklah begitu stabil dan cukup sering
terjadinya kenaikan produksi dan penurunan produksi yang cukup tajam seperti
halnya pada tahun 2013 penurunan produksi buah tomat se-Indonesia mengalami
penurunan yang sangat signifikan hingga mencapai di angka 441.250 ton, hal ini
menunjukkan begitu sulitnya penanganan produk buah tomat agar dapat
menghasilkan produksi yang cukup stabil. Hal ini dapat terjadi karena akibat dari
kendala yang dihadapi baik dari segi budidaya tanaman tomat sampai pada
proses pasca panen buah tomat. ( bps.go.id. )
Pasca panen adalah semua kegiatan yang di lakukan terhadap suatu
komoditi sejak komoditi tersebut di panen sampai penggunaan akhir, baik untuk
konsumsi maupun untuk maksud lain. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi
pemanenan, pemasaran, pemilihan, dan penyimpanan. Masalah penanganan
produk hortikultura setelah dipanen (pasca panen) sampai saat ini masih mejadi
masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius, baik dikalangan petani,
pedagang, maupun dikalangan konsumen sekalipun. Walau hasil yang diperoleh
petani mencapai hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan setelah dipanen

tidak mendapat perhatian, maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan
mutu atau kualitasnya. Seperti diketahui bahwa produk hortikultura relatif tidak
tahan disimpan lama dibandingkan dengan produk pertanian yang lain.
Hasil tanaman hortikultura khususnya pada buah tomat pada umumnya
mudah rusak (perishable), sehingga kehilangan hasil setelah panen akan sangat
tinggi jika produk tersebut tidak segera diolah menjadi bahan yang lebih tahan
simpan. Kehilangan hasil pada tahap pascapanen ini umumnya lebih besar di
negara-negara berkembang dibandingkan dinegara maju. Besarnya porsi
kehilangan hasil pasca panen di Indonesia disebabkan antara lain karena:
1. Sistem transportasi yang kurang baik, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
mengangkut produk pertanian dari lahan produksi ke pasar menjadi lebih lama.
2. Kurang tersedianya fasilitas untuk penyimpanan produk pertanian yang layak.
3. Kurangnya pengetahuan petani tentang cara pengolahan produksi pertanian
4. Kurang tersedianya fasilitas pengolahan produk pertanian
5. Rendahnya rangsangan pasar (harga jual produk olahan tetap rendah atau tidak
sepadan

antara

tenaga

dan

ongkos

yang

dikeluarkan

dalam

proses

pengolahan produk pertanian dengan nilai tambah ekonomi

yang didapatkan dari produk olahan tersebut). (Lakitan, 1995).


Selain itu penanganan produk buah tomat pasca panen bila tidak
mendapatkan perhatian penuh baik dengan cara pemanenan dan penyimpanan
maka dapat menimbulkan infeksi ataupun serangan dari mikroorganisme yang
dapat menurunkan kualitas buah tomat setelah dipanen. Infeksi mikroorganisme
terhadap produk dapat terjadi semasih buah dan sayuran tersebut tumbuh
dilapangan dan pada saat pasca panen, namun mikroorganisme tersebut tidak

tumbuh dan berkembang, hanya berada di dalam jaringan. Bila kondisinya


memungkinkan terutama setelah produk tersebut dipanen dan mengalami
penanganan dan penyimpanan lebih lanjut, maka mikroorganisme tersebut segera
dapat tumbuh dan berkembang dan menyebabkan pembusukan yang serius.
Kemampuan mikroba patogen untuk memulai terjadinya penyakit sangat
tergantung pada sejumlah faktor, yang secara umum dipertalikan dengan mikroba
inang, lingkungan, yang dikenal sebagai segitiga penyakit. Masing-masing faktor
tersebut saling memengaruhi dan akan menimbulkan makin parahnya penyakit
pascapanen. Mikroba patogen dijumpai sangat banyak, baik selama buah berada
di tanaman maupun di dalam ruang simpan. Meskipun demikian, hanya beberapa
jenis patogen yang mampu tumbuh dan berkembang, dan menimbulkan kerusakan
pada produk pascapanen. Perkembangan patogen pascapanen sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan, khususnya suhu, pH, nutrisi, dan kandungan air, yang
harus tersedia. Selain itu, patogen pascapanen harus bekerja sama dengan enzim
yang dihasilkannya untuk menguraikan jaringan inang, yang mengakibatkan
keluarnya nutrisi yang sesuai bagi pertumbuhan patogen dari jaringan yang terurai
tersebut.
Berikut merupakan beberapa penyakit atau mikroorganisme yang dapat
merusak kualitas produk buah tomat selama masa taman hingga panen dan
penyimpanan produk buah tomat setelah pasca panen : Blossom and rot (Busuk
ujung buah),menyerang buah tomat baik yang masih muda maupun yang sudah
tua. gejala serangan penyakit tomat ini sudah tampak ketika buah masih muda.
Mula-mula terlihat bercak berwarna hijau gelap pada ujung buah tomatyang
kemudian

berubah

menjadi

basah

dan

berwarna

cokelat

sampai

kehitaman. Penyakit blossom and rot ini disebabkan kekurangan unsur hara mikro
Ca (kalsium). Berikutnya adalah Busuk Buah Antrak. Penyakit tomat ini
disebabkan

cendawan Colletotrichum

coccodes.

serangan

pada

buah

menyebabkan timbulnya bercak-bercak kecil, berair, bulat dan cekung. Pada


pangkal buah terdapat bercak-bercak berwarna ungu, terletak dekat pangkal
tangkai buah. Serangan pada akar dan batang menyebabkan jaringan korteks
berwarna cokelat dan daun layu. (Agus 2011, dalam ub-agus.blogspot.com).
Masih banyak lagi mikroorganisme atau kapang yang dapat tumbuh pada
buah tomat. Karena buah tomat mengandung nutrisi yang dapat dimanfaatkan
oleh mikroorganisme atau kapang yang dapat merusak kualitas buah tomat.
Beberapa mikroorganisme itu terdiri dari Fusarium solani (Mart.) Sacc., Fusarium
sporotrichioides Sherb., Cladosporium herbarum (Pers.) Link., Penicillium
corylophilum Dierckx., Geotrichum candidum Link., Blastomyces dermatitidis,
Cladosporium sphaerospermum Penzig, dan Cladosporium macrocarpum Preuss.
Mycelia sterilia 1, Aspergillus ochraceus Wilhelm., Geotrichum candidum Link.,
Moniliella suaveolens (Lindner) v. Arx, Penicillium variabile Sopp, Papulospora
sp., Mycelia sterilia 2, Mycelia sterilia 3, dan Aspergillus niger van Tieghem.
( Otavia Dewi. 2013 )
Masalah penanganan produk hortikultura khususnya pada buah tomat
setelah dipanen (pasca panen) sampai saat ini masih mejadi masalah yang perlu
mendapat perhatian yang serius, baik dikalangan petani, pedagang, maupun
dikalangan konsumen sekalipun. Walau hasil yang diperoleh petani mencapai
hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan setelah dipanen tidak mendapat
perhatian maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan mutu atau

kualitasnya. Seperti diketahui bahwa produk hortikultura relatif tidak tahan


disimpan lama dibandingkan dengan produk pertanian yang lain. Hal tersebutlah
yang menjadi perhatian kita semua, bagaimana agar produk hortikultura yang
telah dengan susah payah diupayakan agar hasil yang dapat di panen mencapai
jumlah yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang sebaik-baiknya dapat
dipertahankan kesegarannya atau kualitasnya selama mungkin.

B.

Tujuan Praktikum
Menginventarisasi jenis jenis cendawan atau kapang pada buah tomat

yang terbawa pasca panen sehingga dapat menurunkan kualitas produk buah
tomat yang biasa terjadi dalam penyimpanan pada saat pemasaran.

C. Manfaat Praktikum
Memberikan informasi jenis jenis cendawan atau kapang penyebab
penyakit pada buah tomat sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan
untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menangani produk buah tomat pasca
panen agar tidak mengalami penurunan kualitas dan kuantitas buah tomat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Tomat
Tomat

merupakan

salah

satu

tanaman

hortikultura.

Ciri-

ciri tanaman hortikultura adalah di panen dan dimanfaatkan dalam keadaan hidup,
produknya bersifat mudah rusak (perishable), serta komponen utama dari mutu
ditentukan oleh kandungan air, bukan oleh kandungan kering (dry matter). Selain
itu, bersifat melimpah (voluminous) dan kualits produk sangat penting bagi
konsumen. Jenis tanaman hortikultura bukanlah sumber karbohidrat, melainkan
sumber vitamin, mineral, dan zat-zat yang diperlukan tubuh. Karena itu, perlakuan
pascapanen sangat penting guna menjaga agar produk bisa bertahan lebih lama.
Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan (botani) tomat diklasifikasikan kedalam
golongan sebagai berikut.
Kingdom

: Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi

: Spermatopyta (tumbuhan berbiji)

Subduvisi

: Angiosprmae (berbiji tertutup)

Kelas

: Dicotyledonae (biji berkeping dua)

Ordo

: Tubiflorae (solanales)

Famili

: Solanaceae (berbunga seperti terompet)

Genus

: Lycopersicum (lycopersicon)

Spesies

: Lycopersicum esculentum

mill./syn;solanum licopersicum
Genus tanaman tomat dibedakan lagi menjadi subgenus sebagai berikut ini.
1. Subgenus Eulycopersicum
Memiliki buah berwarna merah atau kadang-kadang kuning, sedikit
berbulu, dan enak dimakan. Umumnya di budidayakan sebagai tanaman setahun,

meski bisa hidup sebagai tanaman tahunan. Subgenus ini dibedakan menjadi dua
spesies.
2. Lycopersicum Esculentum Mill
Spesies ini memiliki buah yang enak dimakan, dengan bentuk ukuran yang
bervariasi. Umumnya, diameter buah berkisar 1,5-2,5 cm. Tanaman ini melakukan
penyerbukan sendiri. Jenis tomat ini dibedakan menjadi lima varietas.

Esculentum var. Cerasiforme atau biasa disebut tomat cherry.

Esculentum var. Commune bailey yang biasa ditemui di pasar-pasar lokal.

Esculantum var. Pyriforme alrf atau biasa disebut tomat apel atau pir,
karna bentuk buahnya seperti buah apel atau pir.

Esculantum var. Grandifolium bailey atau biasa disebut tomat kentang atau
tomat daun lebar.

Esculentum var. Validium bailey atau disebut tomat tegak, sebab


pertumbuhan tanaman tegak dengan cabang mengarah ke atas.

3. Lycopersicum Pimpinellifolium (Jusl.) Mill.


Spesies ini disebut juga tomat anggur (curran tomato), sebab buah kecilkecil dan terletak dalam rangkaian, seperti buah anggur. Karenanya, jenis ini
biasanya dijadikan sebagai tanaman hias. Sebenarnya, spesies ini termasuk
kelompok tomat liar yang berasal dari dataran rendah peru. Buahnya berwarna
merah dan enak dimakan. Buahnya memiliki dua ruang, berbiji halus, dan tidak
berbulu. Garis tengah buah sekitar 1 cm denagn diameter 1_1,5 cm. Umumnya,
dalam satu rangkaian terdapat 10-40 buah. Sehingga diperlukan ajir (lanjaran)
agar tanaman bisa berdiri tegak. Mampu melakukan penyerbukan sendiri dan
silang. Jenis ini sering melakukan persilangan secara alami dengan lycopersicum
esculentrum, sebab keduanya memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Umumnya, hasil persilangan ini mengahasilkan tomat yang tahan penyakit.


( Faedahjaya, 2013 dalam blog.faedahjaya.com)
Tomat merupakan tanaman herba semusim berbentuk perdu atau semak.
Tanaman ini diperbanyak dengan biji dan disemaikan terlebih dahulu. Penanaman
dilakukan ketika tanaman berumur sekitar tiga minggu di persemaian. Tomat
dibudidayakan dalam bedengan dengan lebar 150-180 cm.Tomat yang dijual
dalam bentuk segar ditanam menggunakan jarak tanam dalam baris 60-75 cm dan
antar baris 120-150 cm sehingga populasinya 8. 000 - 14.000 tanaman/ha. Tomat
membutuhkan iklim yang kering dan dingin untuk pertumbuhannyaagar diperoleh
produksi yang tinggi dan baik. Suhu optimal untuk pertumbuhan dan pembungaan
tomat adalah 21-24 C dan suhu malam 18-22 C. (Rubatzky dan Yamaguchi,
1999).
Tomat mampu hidup dalam musim kemarau maupun musim hujan, akan
tetapi pada musim hujan tidak akan terjamin hasilnya. Pada iklim basah akan
membentuk tanaman yang rimbun, bunga berkurang, dan pada daerah
pegunungan akan timbul penyakit yang berakibat fatal pada pertumbuhannya.
(Rismunandar, 2001).
Tomat sendiri memiliki akar tunggang, akar cabang, dan akar serabut
berwarna keputihan dan memiliki bau yang khas, serta perakaran yang tidak
terlalu dalam yakni antara 30-40 cm. Batang Tomat berbentuk bulat serta
membengkak pada buku-buku. Batang muda berambut halus dan berkelenjar.
Mudah patah, dapat bersandar pada turus atau merambat pada tali. (Rismunandar,
2001). Daun tomat memiliki ciri yang khas, yakni berbentuk oval, bergerigi,

memiliki celah yang menyirip, berbulu, berwarna hijau, panjang antara 20-30 cm
dan lebar 15-20 cm. ( Wiryanta, 2004 dalam anitawidya08.student.ipb.ac.id )
Bunga tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan
jumlah 5-10 bunga/dompolan atau tergantung varietasnya. Kuntum bunga terdiri
dari 5 helai daun kelopak dan 5 helai mahkota. Pada serbuk sari terdapat kantong
yang letaknya jadi satu dan berbentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala
putik, sehingga mampu melakukan penyerbukan sendiri. ( Wiryanta 2004 dalam
anitawidya08.student.ipb.ac.id )
Buah tomat adalah buah buni. Selagi muda berwarna hijau, berbulu dan
relatif keras, namun pada saat tua berwarna merah muda, merah, atau kuning
cerah, mengkilat, serta relatif lunak. Diameter antara 2-15 cm tergantung
varietasnya. Jumlah ruang dalam buah juga bervariasi, ada yang dua seperti tomat
ceri dan tomat roma atau lebih dari dua, seperti tomat marmade yang beruang
delapan. Pada buah masih terdapat tangkai bunga yang berubah fungsi menjadi
tangkai buah, serta kelopak bunga berubah fungsi menjadi kelopak buah (Pitojo,
2005)
Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, berwarna putih kekuningan dan coklat
muda. Panjang antara 3-5 mm dan lebar 2-4 mm. Jumlah biji berbeda tiap
buahnya, tergantung varietasnya, maksimum 200 biji/buah. Biji mulai tumbuh
setelah ditanam 5-10 hari. ( Agromedia, 2007 dalam http ://id. Wikipedia . org
/wiki/ Phytophthora_infestans ).
Tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik baik di dataran rendah hingga
dataran tinggi yakni 1250 m dpl. Di Indonesia, tanaman tomat dapat
dibudidayakan di daerah ketinggian 100 m dpl. Ketinggian tempat berkaitan erat

10

dengan suhu udara siang maupun malam. Pertumbuhan tomat yang baik,
membutuhkan tanah yang gembur, kadar pH antara 5-6, sedikit mengandung pasir,
pengairan secara intensif dan cukup pada saat mulai penanaman hingga panen.
(Tugiyono, 2001)

B. Kelompok Jamur
Jamur dalam beberapa pustaka masih dimasukkan dalam dunia tumbuhan,
yakni Thallophyta, akan tetapi tidak mempunyai klorofil, sehingga untuk
hidupnya memerlukan sumber bahan organik. Dinding selnya kebanyakan
mengandung

zat

khitin,

yang

terdiri

dari

rangkayan

molekul

N-

acetylglocosamina. Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler


(umumnya berbentuk benang disebut hifa, hifa bercabang-cabang membentuk
bangunan seperti anyaman disebut miselium, dinding sel mengandung kitin,
eukariotik, tidak berklorofil. Hidup secara heterotrof dengan jalan saprofit
(menguraikan sampah organik), parasit (merugikan organisme lain), dan
simbiosis. Habitat jamur secara umum terdapat di darat dan tempat yang lembab.
Jamur uniseluler dapat berkembangbiak dengan dua cara yaitu vegetatif dapat
dilakukan dengan cara membentuk spora, membelah diri, kuncup (budding).
Secara generatif dengan cara membentuk spora askus. Sedang untuk jamur
multiseluler reproduksi vegetatif dengan cara fragmentasi, konidium, zoospora.
Secara generatif dapat dilakukan dengan cara konjugasi, hifa yang akan
menghasilkan zigospora, spora askus, spora basidium.
Fungi adalah komponen biosfer yang sangat sangat besar dan penting.
Keanekaragamanrnya menakjubkan: sementara sekitar 100.000 spesies telah di
identivikasi, diperkirakan bahwa sebenarnya terdapat tak kurang dari 1,5 juta
11

sepesies fungi. Beberapa fungi khusus bersel tunggal, namun sebagian besar
memiliki tubuh multiseluler yang kompleks, yang pada banyak kasus mencakup
struktur yang kita kenal sebagai cendawan. Jamur dibedakan dalam beberapa
divisi yaitu antara lain Gymnomycota, Mastigomycota, Amastigomycota.
1. Gymnomycota
Gymnomycota dapat dikatan sebagai jamur lendir karena jamur divisi
Gymnomycota dapat tumbuh dilingkungan yang lembab. Jamur lendir atau
Myxomicota adalah sekelompok protista yang berpenampilan mirip jamur namun
berperilaku menyerupai amoeba. Myxomycota berasal dari kata myxo yang
artinya lendir, dan mykes yang artinya cendawan. Ciri umum myxomycota adalah
memiliki fase soma berupa plasmodium. Plasmodium yang mengering membentuk
sklerotium. Fase reproduktifnya berupa sporangium yang berisi miksospora.
Dinding sel sporangium disebut peridium. Habitat cendawan ini adalah di tempat
yang lembap, kayu busuk, daun mati, dan benda organik lainnya.
Jamur lendir (slime mold) mempunyai pola pertumbuhan yang khusus.
Jamur ini lebih mirip dengan protozoa, tetapi pada satu tahap perkembangannya
jamur ini membentuk spora. Dalam skema klasifikasi, jamur lendir dikelompokan
ke dalam Myxomycetes. Perkembangan jamur lendir bervariasi sesuai dengan
jenisnya. Tahap plasmodium terdiri atas massa protoplasma bernukleus banyak.
Pada tahap plasmodium ini jamur dapat bergerak pada substrat seperti amoeba dan
melakukan ingesti terhadap bakteri maupun benda kecil. Jika kondisi tidak
menguntungkan, misalnya subtrat mengering, akan berubah menjadi sel berinti
yang berfungsi sebagai spora atau membentuk kantong (sporangium) tanpa
tangkai yang berisi banyak spora. Jika kondisi menguntungkan lagi, spora akan

12

memproduksi

protoplas

berflagela

satu

kemudian

berpasangan,

berfusi

membentuk zigot yang berflagela dua. Zigot yang berflagela ganda ini kemudian
melepaskan kedua flagelanya dan melakukan pembelahan sehingga terbentuk
plasmodium.
2. Mastigomycota
Mastigomycota merupakan cendawan berflagel yang memiliki beberapa diskripsi
yaitu :

Kelas Chytridiomycetes

Bentuk vegetatif bervariasi menghasilkan sel motil dengan uniflagella posterior


dengan flagella berbentuk cambuk

Kelas Hyphochytridiomycetes

Kelompok kecil jamur, menghasilkan sel motil dengan uniflagella anterior


dengan flagella berbentuk tinsel

Kelas Plasmodiophoromycetes

Jamur parasit dengan plasmodia banyak inti dan sel pada inang; sel istirahat
(kista) dihasilkan dalam masa tetapi tidak dalam sporofor yang jelas; sel motil
dengan dua anterior flagella yang berbentuk cambuk

Kelas Oomycetes

Bentuk vegetatif bervariasi, biasanya berbentuk filamen, sonositik, menghasilkan


zoospora, masing-masing dengan satu flagel cambuk dan satu tinsel; reproduksi
seksual menghasilkan oogamus dalam pembentukan oospora

13

3. Amastigomycota
Tidak seperti Gymnomycota dan Mastigomycota, pada Amastigomycota tidak
menghasilkan sel-sel motil. Terdiri dari empat subdivisio yaitu: Zygomycotina,
Ascomycotina, Basidiomycotina dan Deuteromycotina.

Zygomycota

Saprofit, parasit atau predator, miselium sonositik; reproduksi aseksual dengan


sporangiospora; reproduksi seksual melalui fusi gametangia yang sama atau tidak
sama dan menghasilkan zygosporangia yang mengandung zygospora

Ascomycota,

Saprofit, simbiotik atau parasit; uniseluler atau miselium bersepta, menghasilkan


askospora dalam sel yang berbentuk kantung (askus)

Basidiomycota,

Saprofit, simbiotik atau parasit; uniseluler atau miselium bersepta, menghasilkan


basidiospora pada permukaan berbagai tipe basidia

Deuteromycota,

Saprofit, simbiotik, parasit atau predator; uniseluler atau miselium bersepta,


biasanya menghasilkan konidia dari berbagai tipe sel konidiogenous, tidak dikenal
adanya

reproduksi

seksual.

Suroso

Adi

Yudianto,

1992

dalam

nurhidayat.lecture.ub.ac.id )

14

BAB III
BAHAN DAN PROSEDUR KERJA
A. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2014, pukul
14.00 WIB sampai dengan selesai. Dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Medan Area.

B. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan adalah buah tomat yang dibeli di pasar, aquadest,
kentang, agar agar, gula pasir, dan alkohol. Alat alat yang digunakan adalah
erlen mayer, bunsen, hot plate, cawan petri, botol penyemprot, pinset, oven,
kertas, plastik crawp, auto clave, pisau carter, serbet, panci, dan laminar air flow.

C. Metode Percobaan
Percobaan

praktikum ini

menggunakan

Metode

Deksriptif

yaitu

menerangkan hasil gambaran percoban yang dilakukan dengan mengidentifikasi


jamur yang tumbuh pada penanaman mikroorganisme dari kulit sampel buah
tomat dan menggunakan metode PDA ( patato dexdrose agar ). Metode PDA
( patato dexdrose agar ) merupakan metode pembiakan mikroorganisme melalui
biakkan murni yang bertujuan mengindentifikasi jamur patogen yang berasal dari
buah tomat. Identifikasi jamur patogen dengan menggunakan mikroskop
binokuler dengan pembesaran lemah ( 10 x 10 ), sedang ( 10 x 40 ), dan tinggi
( 10 x 100 ).

15

D. Prosedur Kerja
1. Penyediaan Bahan dan Alat
Penyediaan bahan dan alat harus dilakukan dengan tepat agar tidak
kesulitan dalam melakukan percobaan praktikum nanntina. Penyediaan bahan dan
alat nantinya akan melewati proses sterillisasi. Sterillisasi merupakan suatu proses
yang dilakukan untuk tujuan membunuh atau menghilangkan mikroorganisme
yang tidak diinginkan pada suatu objek atau specimen. Untuk sterilisasi alat yang
digunakan biasanya bersuhu 220oC selama 1 2 jam.
2. Pembuatan Media
Bahan yang terdiri dari campuran zat zat hara ( nutrient ) yang berguna
untuk membiakkan mikroorganisme. Untuk pembuatan media ini nantinya
membutuhkan proses sterilisasi pemanasan basah menggunakan auto clave.
Adapun bahan bahan yang digunakan untuk pembuatan media PDA adalah
sebagai berikut.

Bahan bahan
1. Kentang 1,5 kg
2. 1,5 liter air
3. 500 ml Aquadest
4. 10 gr Agar ( bubuk )
5. 200 gr Gula

Cara kerja :
a. Kentang dikupas hingga bersih, kemudian dicuci dengan air bersih.

16

b. Setelah dicuci, kentang dipotong halus dengan tujuan agar kentang bila
dipanaskan lebih cepat lunak.
c. Kentang dimasak / direbus sampai kentang menjadi lunak.
d. Setelah kentang lunak kemudian dihancurkan hingga halus lalu disaring
hingga menghasilkan ekstrak kentang.
e. 500 ml Ekstrak kentang ditambahkan 500 ml Aquadest kemudian dimasak
dan ditambahkan agar dan gula aduk hingga rata.
f. Setelah selesai tuang kedalam wadah ( Erlenmayer ) untuk kemudian
disterilkan
3. Sterilisasi Penuangan Media
Sterilisasi alat dan bahan dilakukan bertujuan agar nantinya pada saat
penanaman mikroorganisme dari buah tomat tidak terjadi kontaminasi dari bakteri
lain yang dapat mengganggu proses biakkan yang akan diteliti nantinya.
Cara kerja :
a. Bungkus alat alat yang ingin digunakan nantinya pada saat penanaman
mikroorganisme dari buah tomat dengan kertas, baik itu erlen mayer, dan
cawan petri.
b. Kemudian masukkan kedalam oven untuk sterilisasi pemanasan kering.
Sterilisasi pemanasan kering dilakukan selama 2 ( dua ) jam hingga suhu
mencapai 2200C.
c. Lalu persiapkan auto clave untuk sterilisasi pemanasan basah yang
digunakan untuk sterilisasi media PDA yang telah dibuat.
d. Sterilisasi media PDA dilakukan menggunakan autoclave yang biasa
disebut sterilisasi pemanasan basah. Sterilisasi media dengan metode

17

pemanasan basah dilakukan hingga suhu mencapai 127 0 C, lalu dibiarkan


selama 15 menit setelah itu diangkat.
4. Inokulasi
Inokulasi Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah
pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru
dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri
(inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya
dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi
(Dwijoseputro, 1998).
a. Penuangan Media
Cara kerja :

Persiapkan alat alat yang ingin digunakan untuk penanaman kedalam


laminar air flow.

Gunakan alkohol dengan menyemprotkannya di kedua tangan hingga


merata.

Hidupkan bunsen yang telah disiapkan, ambil media PDA dan juga cawan
petri yang telah disterilkan. panaskan seluruh pinggiran cawan petri
dengan bunsen, setelah itu buka tutup media PDA dengan jari jentik
sebelah kiri, lalu panaskan bibir erlen mayer tempat media PDA secara
merata.

Tuangkan media PDA dengan perlahan diatas api bunsen, lalu segera tutup
cawan petri, dan panaskan seluruh pinggiran cawan petri.

kemudian panaskan tutup erlen mayer beserta dengan bibir erlen mayer
lalu segera tutup media hingga rapat.

18

b. Penanaman Sampel
Cara kerja :
a. Persiapkan kembali alat dan bahan yang akan digunakan kedalam laminar
air flow.
b. Gunakan kembali alkohol dengan menyemprotkannya di kedua tangan
hingga merata.
c. Ambil media yang telah mengeras tadi kemudian panaskan seluruh
pinggirannya dengan api bunsen, kemudian ambil pinset dan panaskan
hingga berwarna kemerahan biarkan sesaat lalu ambil kulit buah tomat,
kemudian cuci selama 5 detik.
d.

setelah itu letakkan kedalam media yang telah dipersiapkan tadi.


Peletakan kulit buah tomat harus berdekatan dengan api bunsen agar tidak
terjadi

kontaminasi,

dan

pastikan

pada

saat

penanaman

tidak

diperbolehkan berbicara. Lakukan sebanyak 4 kali.


e. Setelah selesai panaskan kembali pinggiran cawan petri hingga merata lalu
di rekatkan dengan menggunakan plastik crawp agar terhindar dari
kontaminasi udara bebas.

19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Terdapat

miselium

yang tumbuh pada sampel kulit


buah tomat berwana kuning
dan hitam, miselium berbentuk
renggang.

Aspergillus Flavus

Acremonium Sp

20

B. Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan pada sampel buah tomat
terdapat kapang yang terdiri dari 2
miselium yang berbentuk longgar,
Miselium pertama berwarna kuning
dan miselium kedua berwarna hitam.
Setelah di identifikasi ternyata 2 miselium yang tumbuh pada sampel buah tomat
yang dilakukan penanaman cendawan ( inokulasi ) dengan menggunakan metode
PDA adalah Aspergillus Flavus, dan Acremonium sp.
1. Aspergillus Flavus
Klasifikasi Aspergillus flavus :
Super kingdom

: Eukaryota

Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Classis

: Eurotiomycetes

Ordo

: Eurotiales

Familia

: Trichocomaceae

Genus

: Aspergillus

Spesies

: Aspergillus flavus

Aspergillus

flavus merupakan

kapang

saprofit

di

tanah

yang

umumnya memainkan peranan penting sebagai pendaurulang nutrisi yang terdapat


dalam sisa-sisa tumbuhan maupun binatang. Kapang tersebut juga ditemukan pada
biji-bijian yang mengalami deteriorasi mikrobiologis selain menyerang segala
jenis substrat

organik dimana saja dan kapan saja jika kondisi untuk

pertumbuhannya terpenuhi. Kondisi ideal tersebut mencakup kelembaban udara

21

yang tinggi dan suhu yang tinggi. Sifat morfologis Aspergillus flavus yaitu
bersepta, miselia bercabang biasanya tidak berwarna, konidiofor muncul dari kaki
sel, sterigmata sederhana atau kompleks dan berwarna atau tidak berwarna,
konidia berbentuk rantai berwarna hijau, coklat atau hitam.
Aspergillus flavus memiliki konidiofor yang panjang (400-800 m) dan
relatif kasar, bentuk kepala konidial bervariasi dari bentuk kolom, radial, dan
bentuk bola, hifa berseptum,dan koloni kompak. Koloni dari Aspergillus
flavus umumnya tumbuh dengan cepat dan mencapai diameter 6-7 cm dalam 10-14
hari Kapang ini memiliki warna permulaan kuning yang akan berubah menjadi
kuningkehijauan atau coklat dengan warna inversi coklat keemasan atau tidak
berwarna,sedangkan koloni yang sudah tua memiliki warna hijau tua. Aspergillus
flavus tersebar luas di dunia. Hal ini disebabkan oleh produksi konidia yang dapat
tersebar melalui udara (airborne) dengan mudah maupun melalui serangga. Komposisi
atmosfir juga memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kapang
dengan

kelembaban

sebagai

variabel

yang

paling

penting.Tingkat

penyebaran Aspergillus flavus yang tinggi juga disebabkan oleh kemampuannya


untuk bertahan dalam kondisi yang keras sehingga kapang tersebut dapat dengan
mudah mengalahkan organisme lain dalam mengambil substrat dalam tanah
maupun tanaman. Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus merupakan bagian
grup Aspergillus yang sudah sangat dikenal karena peranannya sebagaipatogen pada
tanaman dan kemampuannya untuk menghasilkan aflatoksin pada tanaman yang
terinfeksi. Kedua spesies tersebut merupakan produsen toksin paling penting
dalam

grup Aspergillus

flavus yang

mengkontaminasi

produk

agrikultur. Aspergillus flavus danAspergillus parasiticus mampu mengakumulasi

22

aflatoksin pada berbagai produk pangan meskipun tipe toksin yang dihasilkan
berbeda.
Aspergillus flavus merupakan kapang yang menghasilkan toksin atau racun
berupa aflatoksin. Aflatoksin adalah senyawa racun/toksin yang dihasilkan oleh
metabolit sekunder kapang/jamur Aspergillus flavus dan A.parasiticus. Aflatoksi
merupakan

segolongan

mikotoksin

(racun/toksin

yang

berasal

dari

fungi/kapang/jamur)yang sangat mematikan dan karsinogenik (pemicu kanker)


bagi manusia dan hewan. tingginya kandungan aflatoksin pada makanan/pakan
akan berbuntut keracunan dan berakibat kematian, hal ini menjadi tantangan bagi
kita semua. ( Fadiel, 2013 dalam fadielunderground666.blogspot.com )

2. Acremonium Sp
Acremonium sp., dikatagorikan sebagai jenis jamur penginduksi wangi
gaharu yang tinggi. Sehingga dari jenis jamur yang telah berhasil diisolasi dari
KRUS tidak menutup kemungkinan untuk diuji (diinokulasikan)
pada pohon gaharu yang ada di KRUS atau pada pohon gaharu yang ada di
tempat lain. Klasifikasi jamur Acremonium kilense.
Kingdom

: Fungi

Division

: Eumycota

Subdivision

: Deuteromycotina

Class

: Deuteromycetes

Ordo

: Moniliales

Family

: Moniliaceae

Genus

: Acremonium

23

Species

: Acremonium kilense

Acremonium killiense diduga dapat berperan dalam proses


pembentukan gaharu yang mengandung kualitas wangi tinggi. Ciri morfologi
fungi Acremonium chrysogenum (syn. Cephalosporium acremonium) adalah
hifanya berbentuk filamen, segmen pada hifanya berbentuk cembung (swollen),
memiliki arthrospora, Konidia dan germlings. Kondisi lingkungan kaya C, N,
Mg, dan PO43- , sangat sesuai dalam proses germinasinya. Hifa Acremonium
chrysogenum tumbuh apikal dan bercabang.Proses reproduksi secara seksual
belum

ditemukan,

sehingga

fungi

ini

dimasukkan

dalam

kelas

deuteromycetes. Hasil penelitian dengan menggunakan perlakuan medium


menunjukkan adanya pengaruh medium terhadap diferensiasi morfologi, misalnya
pada medium yang mengandung metionin, swollen hypha dan arthospora tampak
lebih jelas dari pada bila ditumbuhkan pada medium yang mengandung sulfat.
( Sterren, 2013 dalam sterren-twinkelen.blogspot.com )
Acremonium sp. menampilkan phialides penusuk berbentuk panjang
memproduksi silinder, konidia bersel satu umumnya dikumpulkan dalam kepala
berlendir di puncak setiap phialide.
Genus ini dibedakan dari hialin isolat Phialophora oleh tidak adanya atau
perkembangan yang sangat terbatas collarette a pada phialide dan pembentukan
dominan baik dibedakan, phialides penusuk berbentuk dengan septum basal.
Microconidial Fusarium isolate mungkin bingung dengan Acremonium, tetapi
mereka biasanya tumbuh lebih cepat dan memiliki koloni dengan penampilan
berbulu khas.

24

The genus Acremonium saat ini berisi 100 spesies, yang sebagian besar
saprophytic, yang diisolasi dari bahan tanaman yang mati dan tanah. Sejumlah
spesies diakui sebagai patogen oportunistik manusia dan hewan, menyebabkan
misetoma, onikomikosis, dan hyalohyphomycosis, ini termasuk A. falciforme, A.
kiliense,

A. recifei,

A.

alabamensis,

griseum dan A. strictum. Namun,

banyak

A.
laporan

potroni,
hanya

A.

Roseo-

mengidentifikasi

spesiesAcremonium ke tingkat genus. Manifestasi klinis dari hyalohyphomycosis


disebabkan

oleh Acremonium; termasuk

arthritis,

osteomyelitis,

peritonitis,

endokarditis, pneumonia, dan infeksi cerebritis subkutan. ( Domsch, 1980 )

25

BAB. V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan tentang inventarisasi jamur
pada buah tomat, dihasilkan dua jenis kapang yang tumbuh pada media PDA yaitu
Aspergillus Flavus dan Acremonium Sp

B. Saran
Sebaiknya para petani lebih memperhatikan bagaimana menangani proses
pasca panen yang baik khususnya dalam proses penyimpanan dan pemasaran
produk buah tomat, agar tidak terjadinya pertumbuhan kapang / cendawan pada
buah tomat, yang dapat bersifat merusak hasil produksi buah tomat atau
menurunkan kualitas produk buah tomat.

26

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2011.http://anitawidya08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/penyakitpada-tanaman-tomat/, ( diakses pada tanggal 23 Juni 2014 )
Anonymous. 2011. Phytophthora infestans . http ://id. Wikipedia . org /wiki/
Phytophthora_infestans, ( diakses pada tanggal 23 Juni 2014 )
Domsch, KH, W. Gams, dan TH Anderson. 1980. Compendium jamur
anah. Volume 1. Academic Press, London, Inggris.
http://blog.faedahjaya.com/petunjuk-budidaya/tanaman-tomat, ( diakses pada
tanggal 23 Juni 2014 )
http://fadielunderground666.blogspot.com/2013/05/aspergillus-flavus.html
( Diakses pada tanggal 20 juni 2014 )
(http://id.shvoong.com/exact-sciences-biology/1990208-peranan-jamur-bagikehidupan-manusia/), ( diakses pada tanggal 23 Juni 2014 )
Kartikasari, Otavia Dewi. 2013. Isolasi dan Identifikasi Spesies Kapang
Kontaminan
dalam Buah Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)
http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id/2009/05/25/kingdom-jamur/
tanggal 20 juni 2014 )

Diakses

pada

http://sterren-twinkelen.blogspot.com/, ( diakses pada tanggal 23 Juni 2014 )


http://ub-agus.blogspot.com/2011/07/penyakit-tomat.html ( Diakses pada tanggal
19 juni 2014)
http://vlial.wordpress.com/2013/05/24/jamur/ ( Diakses pada tanggal 19 juni
2014 )
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?
kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=55&notab=70 ( Diakses pada tanggal
24 juni 2014 )
http://www.constiti.com/2013/05/manfaat-buah-tomat-bagi-kesehatan-tubuh.
html, ( diakses pada tanggal 23 Juni 2014 )
Lakitan B. 1995. Dasar-dasar Klimatologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Pitojo, 2005. Benih Tomat. Kanisius : Jogjakarta
Rubatzky, V. E., M. Yamaguchi.1999. Sayuran dunia :Prinsip, produksi dan
gizi, jilid 3. Penerbit ITB.Bandung. 320 hal.

27

Rismunandar, 2001. Tanaman Tomat. Sinar Baru Algesindo : Bandung


Tugiyono, H, 2005. Bertanam Tomat. Penebar Swadaya : Jakarta

28