Anda di halaman 1dari 35

Spesifikasi Teknis

SPESIFIKASI TEKNIS
1 PETUNJUK UNTUK PESERTA
Peserta Lelang harus membaca dan mempelajari seluruh gambar kerja,rencana kerja dan syarat ini
dengan seksama untuk memahami benar-benar maksud dan isi dokumen tersebut secara
keseluruhan maupun setiap bagian. Tidak ada gugatan yang akan dipertimbangkan jika gugatan itu
disebabkan karena peserta tidak membaca, tidak memahami, tidak memenuhi petunjuk, ketentuan
dalam gambar, atau pernyataan kesalahpahaman apapun mengenai arti dari isi dokumen ini.
2 KETENTUAN- KETENTUAN TEKNIS
PASAL 1 : PENJELASAN UMUM.
1.1Dalam pelaksanaan pekerjaan, maka berlaku dan mengikat, yaitu :
1.1.1Gambar-Gambar Pelaksanaan Konstruksi dan Detail Terlampir.
1.1.2Uraian dan syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan (spesifikasi).
1.1.3Berita Acara Penjelasan ( Aanwijzing ).
1.1.4Petunjuk dari Pengelola Kegiatan dan Pengawas Lapangan.

1.2Dalam pelaksanaan pekerjaan, bila tidak ditentukan dalam spesifikasi ini, maka akan berlaku dan
mengikat peraturan-peraturan dibawah ini, termasuk segala perubahan dan tambahannya, yaitu :
1.2.1Perpres No. 54 Tahun 2010 dengan lampiran-lampiran.
1.2.2Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Bangunan di Indonesia (AV.41) tahun 1941.
1.2.3 Keputusan-keputusan dari Mejelis Indonesia, untuk Abitrasi Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan
Indonesia (DTPI).
1.2.4Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 dan SKSNI T-15-1991-03.
1.2.5 Peraturan Perencanaan Konstruksi Baja Indonesia (PPKBI) tahun 1980.
1.2.6Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI ) tahun 1971/NI.5.
1.2.7Peraturan Muatan Indonesia (PMI) tahun 1970 / NI -18.
1.2.8Peraturan Umum Listrik Indonesia ( PUMI ) tahun 1977.
1.2.9Peraturan Umum Instalasi Listrik 1987 Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen
Tenaga Kerja.
1.2.10Pedoman Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis tahun 1980.
1.2.11Pedoman Penanggulangan bahaya kebakaran tahun 1980.
1.2.12Permen PU No.45/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
1.2.13Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran pada Bangunan Gedung tahun 1985.
1.2.14Peraturan-Peraturan yang dikeluarkan oleh Jawatan/Instansi Pemerintah setempat, yang berkaitan
dengan pelaksanaan bangunan.
1.2.15Kontraktor dan Pengawas Lapangan diharuskan meneliti Rencana Gambar Bestek dan Rencana Kerja
dan Spesifikasi Teknis, ermasuk penambahan /pengurangan atau perubahan yang tercantum dalam
berita acara Aanwijzing.
1.3Bila perbedaan-perbedaan antara gambar, RAB dan Spesifikasi Teknis menimbulkan keragu - raguan,
sehingga menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan, maka harus segera dikonsultasikan
kepada Pengawas dan Pengawas dari Dinas terkait atau Konsultan Perencana dan keputusan keputusannya harus dilaksanakan.

VI-1

Spesifikasi Teknis

3 PERSIAPAN PENDAHULUAN
PASAL

PASAL

1:

RUANG LINGKUP PEKERJAAN

KEGIATAN

:PENGEMBANGAN TIPE RUMAH SAKIT

PEKERJAAN

:PEMBUATAN BANGUNAN RUMAH DINAS DOKTER SPESIALIS

LOKASI

:RSUD AMANAH HUSADA SEPUNGGUR, BATULICIN

2:

IZIN BANGUNAN.

2.1.Setelah Surat Perintah Kerja (SPK) dikeluarkan, maka izin bangunan dan izin lainnya akan diurus oleh
Pemberi Tugas, namun pelaksanaan dan pembiayaannya akan ditanggung oleh Kontraktor.
2.2.Ijin Mendirikan Bangunan adalah termasuk salah satu retribusi yang harus dibayarkan oleh Kontraktor,
sebagai satu syarat administrasi proyek.
2.3.Besarnya nilai IMB sesuai yang disyaratkan oleh Peraturan adalah sebesar Rp.3.500,- dikali Luas
Bangunan Keseluruhan.
2.4.Untuk memulai pekerjaan, maka Kontraktor harus dapat menunjukkan kepada Konsultan Pengawas
surat izin bangunan atau minimal tanda bukti bahwa izin bangunan tersebut sedang diproses.
2.5.Tanpa adanya izin bangunan dari Instansi yang berwenang, maka Kontraktor tidak diperkenankan
memasang papan reklame dalam bentuk apapun disekitar lingkungan proyek.
PASAL 3 : JADWAL PELAKSANAAN (TIME SCHEDULE).
3.1 Sebelum pekerjaan bangunan dimulai, maka Kontraktor wajib membuat jadwal pelaksanaan (Time
Schedule) yang memuat uraian pekerjaan, waktu pekerjaan, bobot pekerjaan dan grafik hasil
pekerjaan secara terperinci serta jadwal penggunaan bahan bangunan dan tenaga kerja.
3.2 Untuk pelaksanaan pekerjaan yang terperinci Pelaksana Kontraktor :
-harus membuat rencana kerja/Laporan harian,
foto visual ukuran 3 R yang diketahui/disetujui

mingguan dan bulanan, beserta fotooleh Konsultan Pengawas Lapangan.

3.3Rencana Kerja (Time Schedule) diatas harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Pemberi
Tugas.
3.4Rencana Kerja (Time Sehedule), harus sudah selesai dibuat oleh Kontraktor, paling lambat 7 ( tujuh )
hari kalender, setelah SPK diterima.
3.5Kontraktor harus memberikan salinan rencana kerja (Time Schedule) kepada Konsultan Pengawas
dan 1 (satu) lembar harus dipasang pada dinding bangsal kerja.
3.6Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan rencana kerja (Time
Schedule) yang ada dan harus membuat grafik prestasi pekerjaan.
PASAL

4 : TENAGA KERJA/BAHAN/PERALATAN.

4.1Mendatangkan bahan-bahan bangunan untuk pelaksanaan Proyek, harus tepat pada waktunya dan
kwalitetnya dapat disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4.2Pelaksana harus menyediakan alat-alat, pembantu dan pekerja-pekerja yang diperlukan untuk
pelaksanaan bangunan agar supaya pelaksanaannya dapat selesai sesuai dengan waktu yang
disediakan.
4.3Alat- alat yang disediakan oleh Kontraktor, harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dan bila
rusak harus segera diperbaiki dan bila tidak dapat dipakai, maka harus segera dikeluarkan dari
lokasi Proyek.
VI-2

Spesifikasi Teknis
PASAL

5 : KEAMANAN PROYEK.

5.1Kontraktor diharuskan menjaga keamanan terhadap barang- barang milik Proyek, Pengawas dan Pihak
ketiga yang ada dilapangan, baik terhadap pencurian maupun perusakan.
5.2Bila terjadi kehilangan atau pengrusakan barang-barang, alat-alat dan hasil.pekerjaan, maka akan
menjadi tanggung jawab Kontraktor dan tidak dapat diperhitungkan dalam pekerjaan
tambah/kurang atau pengunduran waktu pelaksanaan.
5.3Apabila terjadi kebakaran, maka Kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya. Untuk mencegah
bahaya kebakaran tersebut, Kontraktor harus menyediakan alat pemadam kebakaran yang siap
dipakai dan ditempatkan pada tempat- tempat yang strategis dan mudah dicapai.
PASAL
6 : KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN
6.1 Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja, Kontraktor harus
menjamin sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu Kontraktor harus mengikutkan
pekerja sebagai peserta Asuransi Sosial Tenaga Kerja (ASTEK) atau asuransi lainnya yang sesuai
dengan peraturan Pemerintah yang berlaku.
6.2Untuk melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), maka Kontraktor harus
menyediakan sejumlah obat-obatan dan perlengkapan medis lainnya yang siap dipakai apabila
diperlukan.
6.3Bila terjadi musibah atau kecelakaan dilapangan yang memerlukan perawatan yang serius, maka
Kontraktor/Pelaksana harus segara membawa korban ke Rumah Sakit yang terdekat dan segera
melaporkan kejadian tersebut kepada Pemberi Tugas.
6.4Kontraktor harus menyediakan air minum yang bersih, cukup dan memenuhi syarat-syaratkesehatan
bagi semua pekerja/petugas, baik yang berada dibawah tanggung jawabnya maupun yang berada
dibawah pihak ketiga.
PASAL
7 : TENAGA KERJA LAPANGAN KONTRAKTOR
7.1Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasanya dilapangan (Pelaksana), yang mempunyai pengetahuan
dibidang Teknik Sipil/Bangunan, cakap, gesit dan berwibawa terhadap pekerja
yang dipimpinnya dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan. Penunjukkan ini harus
dikuatkan dengan surat resmi dari Kontraktor yang ditujukan kepada Pemberi Tugas dan
tembusannya kepada Pengelola Teknis Proyek dan Konsultan Pengawas.
7.2Pelaksana harus berpendidikan minimun S1 Sipil/Arsitek dan mempunyai pengalaman kerja lapangan
minimun 5 tahun.
7.3Selain itu kuasa kontraktor dibantu oleh tenaga dengan kualifikasi bidang yang terdiri dari arsitektur,
sipil yang memiliki pengalaman lapangan minimal 1 tahun.
7.4Selain Petugas Pelaksana, maka Kontraktor diwajibkan pula melaporkan secara tertulis kepada Team
Pengelola Teknis Proyek dan Konsultan Pengawas, tentang susunan organisasi pelaksana dilapangan
dengan nama dan jabatannya masing- masing.
7.5Bila dikemudian hari, menurut penilaian Team Pengelola Teknis Proyek dan Pengawas Lapangan,
bahwa Pelaksana kurang mampu atau tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka Kontraktor
diharuskan mengganti Pelaksana tersebut dan harus memberitahukan secara tertulis tentang
Pelaksana yang baru, demi kelancaran pekerjaan.
4 URAIAN PEKERJAAN
PASAL

1 : PEKERJAAN PERSIAPAN.

1.1.Pembersihan Lokasi.

1.1.1.Untuk pekerjaan pembersihan lokasi ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.

VI-3

Spesifikasi Teknis

1.1.2.Bahan bongkaran harus disingkirkan dari lokasi / lapangan pekerjaan.


1.1.3.Pembersihan lokasi dinyatakan selesai, bila telah mendapat persetujuan dari Pengawas Lapangan /
Pengawas Dinas yang terkait.
1.2.Pengukuran Situasi dan Pemasangan Bouwplank
1.2.1.Untuk pekerjaan pengukuran situasi ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.
1.2.2.Semua pekerjaan yang berhubungan dengan pengukuran situasi ini, harus diketahui dan disetujui
Proyek, Pengelola Proyek dan Konsultan Pengawas
1.2.3.Untuk menentukan titik sumbu kolom/titik tengah pondasi, harus dipasang patok patok dari kayu
galam, yang ditanamkan sedemikian rupa sehingga tidak bergerak dengan diberi cat merah dikepala
galam dan ditengah tengah permukaan galam dipasang paku.
1.2.4.Titik yang dimaksudkan pada ayat 1.2.2. , dapat dikontrol/diperiksa pada tanda tanda yang
terdapat pada papan bowplank.
1.2.5.Untuk membantu ketepatan berdirinya bangunan/titik sumbu pondasi/kolom konstruksi, maka harus
dibuat konstruksi bouwplank yang kuat/tidak dapat bergeser karena pekerjaan disekitarnya
1.2.6.Konstruksi bouwplank dibuat dari bahan setara papan lanan berkwalitet baik dengan ukuran 3/20 cm
dan tongkat dari galam diameter 5 cm atau 7 cm panjang 3 meter dengan jarak satu sama lain
adalah 100 cm dan ditanam sedemikian rupa, sehingga tidak mudah bergerak.
1.2.7.Papan bouwplank harus diratakan dibagian atas dengan jalan diketam sehingga lurus.
1.2.8.Pembuatan konstruksi bouwplank dinyatakan selesai, bila mendapat persetujuan Pengawas Lapangan.
1.2.9.Papan bouwplank bagian atas harus dibuat setinggi peil lantai 0,00.
PASAL 2 : PENENTUAN PEIL
2.1. Untuk pekerjaan penentuan peil ini, harus diperhatikan rencana gambar dan bestek.
2.2.Titik acuan peil/level lantai adalah +0,30 dari muka tanah dasar (kanan depan bangunan). Karena
kondisi lahan dengan kontur tidak rata/miring, maka harus diperhatikan gambar rencana dengan
baik dan jelas.
2.3.Untuk pedoman selanjutnya dari bangunan yang lain, maka harus dibuatkan patok yang ditanamkan
kedalam tanah dan tidak mudah bergerak / bergeser. Patok ditanamkan sebelum pekerjaan
bouwplank dimulai, tempat penanaman patok harus dikonsultasikan kepada pengelola proyek dan
Konsultan Pengawas.
2.4.Pada patok yang dimaksudkan pada ayat 2.3. diatas harus dibuat tanda yang menunjukkan ketinggian
lantai.
2.5.Ukuran ketinggian lantai dari bangunan yang lain, akan berpedoman kepada patok permanen yang
dimaksudkan pada ayat 2.4.
PASAL
3.1 Untuk
bestek

3: PEKERJAAN TANAH/PASIR DAN PONDASI


pekerjaan tanah/pasir dan pondasi ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan

3.2Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pengurugan tanah/pasir dan pemadatan tanah urug.
3.3Pekerjaan urugan tanah/pasir dilaksanakan sampai ketinggian yang ditentukan pada rencana gambar
bestek.
3.4Pengurugan pada ayat 3.2 harus dengan pemadatan yang dilaksanakan lapis demi lapis,masingmasing setebal 20 cm ditumbuk sampai padat.

3.5Pekerjaan ini terdiri dari mendapatkan, mengangkut, penempatan dan memadatkan tanah/ pasir serta
pengurugan sampai kepada garis batas, kemiringan dan ketinggian penampang melintang yang
ditentukan atau disetujui.
VI-4

Spesifikasi Teknis
3.6Pekerjaan Pondasi yang digunakan adalah pondasi batu gunung dan menggunakan pondasi rollag bata
untuk saluran belakang bangunan, kedalaman pondasi sesuai dengan gambar rencana. Sebelum
dipasang pondasi batu gunung/rollag batu bata harus ada urugan pasir setebal 5 cm dan untuk
pondasi gunung harus dipasang terlebih dahulu aanstamping/pasangan batu kosong dengan tinggi 20
cm di atas pasir urug, jika diperlukan penyesuaian dengan kondisi lapangan maka harus dengan
persetujuan pemilik/Dinas terkait, konsultan perencana dan Pengawas Dinas terkait / Pengawas
yang ditunjuk.
PASAL

4 : PEKERJAAN BETON BERTULANG.

4.1 Untuk pekerjaan beton bertulang ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.
4.2Persyaratan Bahan :
4.2.1Bahan agregat pasir dan kerikil harus didatangkan dari tempat- tempat yang telah disetujui mutunya
oleh Konsultan Pengawas Lapangan dan harus memenuhi syarat- syarat PBI.1971 dan SKSNI T-151991-03
4.2.2Bahan agregat pasir dan kerikil harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak
tercampur dengan bahan-bahan yang merusak mutu beton dan ditempatkan terpisah sehingga
terhindar dari bercampurnya antara kedua jenis agregat tersebut, sebelum pemakaian
4.2.3Besar butiran agregat kerikil yang dipakai untuk bahan beton, harus berada diantara ayakan 4mm 31,5 mm.
4.2.4Agregat kerikil tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 persen. Apabila kadar lumpur tersebut
lebih dari 1 persen, maka agregat kerikil harus dicuci.
4.2.5 Besar butiran agregat pasir yang dipakai untuk bahan beton, harus berada diantara ayakan0,063-4mm
4.2.6Agregat pasir tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 persen. Apabila kadar lumpur tersebut lebih
dari 5 persen, maka agregat pasir harus dicuci.
4.2.7Jenis semen yang dipakai harus jenis semen type satu sesuai dengan persyaratan yang ditentukan
dalam NI-8.
4.2.8Semen yang didatangkan ke lokasi proyek, harus disimpan pada gudang yang berlantai kering
sedemikian rupa, sehingga terjamin tidak akan rusak dan/atau tercampur bahan lain yang dapat
merusak mutu beton.
4.2.9 Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang baru
datang,tidak
boleh dilakukan diatas timbunan yang
telah ada,
dan pemakaian semen harus
dilakukan menurut urutan pengirimannya.
4.2.10 Air yang dipakai untuk pembuatan
dan perawatan beton diusahakan air
bersih
yang dapat diminum. Air yang mengandung garam dan/atau bahan lain
yang merusak
beton, tidak boleh dipakai.
4.2.11Bila terdapat keragu- raguan terhadap air yang dipakai, maka contoh air tersebut harus diperiksakan
di laboratorium dibawah tanggung jawab Kontraktor.
4.2.12 Bila pemeriksaan air tersebut tidak memenuhi syarat untuk bahan campuran beton, maka air
tersebut tidak boleh dipakai.
4.3Tulangan :
4.3.1Semua baja tulangan yang dipakai berbentuk polos , sesuai dengan standard PBI.1971/ atau SKSNI T15-1991-03.
4.3.2Sebelum baja tulangan di datangkan ke lokasi Proyek, maka kontraktor harus menyerahkan dahulu
contoh- contoh baja tulangan yang dipakai kepada Pengawas Lapangan.
4.3.3Baja tulangan yang dibengkokkan sama dengan atau lebih dari 90 derajat, hanya diperkenankan sekali
pembengkokkan.

4.3.4Baja tulangan harus bersih dari karat yang mengganggu kekuatan beton bertulang. Hal ini disesuaikan
dengan PBI.1971/SKSNI T-15-1991-03.
VI-5

Spesifikasi Teknis

4.3.5Baja tulangan tidak boleh disimpan ditempat yang langsung berhubungan dengan tanah atau tempat
terbuka dan harus dilindungi dari genangan air / air hujan.
4.3.6Diameter tulangan yang dipakai harus memenuhi stardard ( sesuai gambar detail ) dan korelasi yang
diperbolehkan adalah 10 %.
4.4Bekisting :
4.4.1Papan bekisting (cetakan beton) yang dipakai adalah dari bahan kayu kelas
tebal 2 cm atau plywood tebal 9 mm
dan apabila oleh Pengawas Lapangan
rusak, maka tidak boleh dipakai lagi untuk pekerjaan berikutnya.
4.4.2Tiang - tiang bekisting dapat dibuat
galam diameter 8 - 10 cm dengan jarak

dari kayu kelas


II dengan ukuran 5/7
mak-simun 0,5 meter.

II dengan
dinyatakan
cm atau

4.4.3Konstruksi bekisting harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak mudah bergerak dan kuat menahan
beban diatasnya.
4.4.4 Pada bekisting kolom yang tinggi, maka
untuk memasukkan spesi beton, sehingga

setiap tinggi 2 meter harus diberi pintu


terhindar terjadinya sarang - sarang kerikil.

4.4.5Pada bekisting kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan perlengkapan pintu untuk
membersihkan kotoran-kotoran, serbuk gergaji, potongan kayu, kawat pengikat dan lain- lain.
4.5Pekerjaan Beton :
4.5.1Untuk cor beton lantai digunakan jenis mutu beton K.125 dengan perbandingan campuran 1 semen : 3
pasir dan 5 kerikil ( volume ).
4.5.2Beton Sloof bangunan utama dengan dimensi ukuran 15x17 cm , untuk sloof teras/selasar bangunan
adalah berukuran 12x12 cm sesuai gambar rencana.
4.5.3Kolom Struktur bangunan bervariasi sesuai dengan gambar rencana. Untuk bagian dinding depan dan
belakang bangunan adalah kolom 15x15 cm. Untuk dinding tengah (bagian tengah dinding) adalah
Kolom 12x12, termasuk juga kolom untuk dinding geuvel. Pada kolom teras/selasar bangunan dan
kolom dinding km/wc demensi kolom adalah 12x12 cm sesuai gambar rencana.
4.5.4Ringbalk Keliling bangunan utama dimesi ukurannya 12x15 cm, dan untuk ringbalk teras/selasar
berukuran 12x12 cm (termasuk balok geuvel adalah berukuran 12x12 cm)
4.5.5Untuk dinding atas samping bangunan harus dibuat balok geuvel dengan dimensi ukuran 12x12 cm
menghubungkan dengan kolom teras sesuai dengan gambar rencana.
4.5.6Sebelum pengecoran massal dimulai :
Bekisting harus dibersihkan dari potongan-potongan kayu, potongan-potongan kawat pengikat
dan bahan-bahan lain yang merusak mutu beton.
Sebelum pelaksanaan pengecoran, bekisting harus disiram air terlebih dahulu.
Lubang-lubang yang terdapat pada bekisting supaya ditutup sedemikian rupa, sehingga air semen
tidak dapat keluar.
4.5.7Khusus pada pengecoran kolom beton bertulang yang langsung bertemu dinding batu bata atau kosen
pintu / jendela / ventilasi / penerangan, maka sebelum pengecoran dimulai, Pelaksana harus
mempersiapkan :
angker untuk pasangan batu bata dari baja tulangan diameter 10 mm, panjang yang keluar dari
kolom sama dengan 20 cm, dengan jarak satu sama lain 50 cm.
angker untuk kusen pintu / jendela / ventilasi / penerangan sesuai gambar detail.
4.5.8Untuk penutup beton minimum (selimut beton) yang berhubungan dengan :

air adalah 2,5 cm.


pelat lantai adalah 1,5 cm, untuk balok 2 cm dan untuk kolom 2,5 cm.
4.5.9Pada pengecoran beton, bahan campuran beton harus diaduk dengan mesin pengaduk Mollen sampai
bahan beton bersatu menjadi satu warna.
VI-6

Spesifikasi Teknis

4.5.10Untuk pengecoran pelat beton dan balok tidak boleh berhenti ditengah-tengah bentang lapangan.
4.5.11Penghentian pengecoran pelat, harus dimuka balok yang sudah dicor dan maksimal sejauh 0,15 x
bentang pelat (dihitung dari ujung bawah pelat terakhir).
4.5.12Penghentian pengecoran balok, sloof dan ring balk, harus dimuka titik tumpuan (kolom) yang sudah
dicor dan maksimal 0,15 bentang balok.
4.5.13 Pengecoran dapat
dan telah diperiksa

dimulai, bila keadaan bekisting dan tulangan sudah


oleh Konsultan Pengawas Lapangan serta mendapat

memenuhi syarat
izin pengecoran.

4.5.14Khusus untuk pengecoran kolom, spesi beton tidak boleh dijatuhkan lebih tinggi dari 2 meter.
4.5.15Pekerjaan beton yang permukaannya masih diplester, atau permukaan yang masih kena pekerjaan
pengecoran lanjutan, maka permukaan beton tersebut harus dikasarkan dan bidang yang akan
diplester atau disambung harus disiram air semen.
4.5.16Setelah selesai pekerjaan pengecoran, maka beton harus dirawat selama masa pengikatan.
Perawatan tersebut dilaksanakan dengan jalan mengalirkan air terus menerus pada permukaan
beton atau menutup permukaan beton dengan karung goni atau bahan yang lain yang dapat basah
terus menerus sampai selesai waktu pengikatan. Apabila ingin mempercepat waktu pengikatan
boleh mempergunakan obat setelah mendapat ijin dari konsultan pengawas.
4.5.17Lamanya perawatan adalah sama dengan umur beton yang disesuaikan dengan ketentuan PBI 1971
dan selama perawatan itu beton tidak boleh mendapat beban yang berat.
PASAL

5 : PEKERJAAN DINDING

5.1Dinding tembok.
5.1.1Untuk pekerjaan dinding ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek .
5.1.2Sebelum pelaksanaan pasangan batu bata dikerjakan, maka harus diperhatikan sudut- sudut yang
dibatasi oleh dua bidang dinding vertikal maupun dengan bidang lantai, maka harus dijaga
kesikuannya.
5.1.3 Pasangan batu bata dengan spesi 1 PC : 4 pasir dilaksanakan pada pekerjaan dinding batu bata
setengah batu.
5.1.4Pasangan batu bata dengan spesi 1 PC : 2 pasir dilaksanakan pada pekerjaan dinding trasraam dengan
tebal batu bata setengah batu untuk dinding km/wc setinggi 1,5 m dari lantai
5.1.5Batu bata sebelum dipasang, harus disiram/direndam air terlebih dahulu sampai basah.
5.1.6Semua siar tegak dan siar datar pasangan batu bata, harus terisi penuh dengan spesi dan selanjutnya
diratakan dan dirapikan.
5.2Plesteran.
5.2.1Pekerjaan plesteran meliputi semua pekerjaan pasangan dinding batu bata bagian luar dan bagian
dalam.
5.2.2Untuk pasangan dinding batu bata dengan spesi 1PC : 4 pasir, harus diplester dengan spesi 1 PC : 4
pasir dan tebal 15 mm untuk dinding ruang kamar.
5.2.3Untuk pasangan dinding batu bata dengan spesi 1PC : 2 pasir, harus diplester dengan spesi 1 PC : 2
pasir dan tebal 15 mm (untuk km/wc).
5.2.4Permukaan dari dinding batu bata yang selesai diplester, harus dihaluskan dengan adukan semen dan
air ( diaci ).

5.2.5Permukaan Beton ekspose harus dihaluskan dengan adukan semen dan air (diaci).
5.2.6Pasir yang dipergunakan untuk bahan plesteran, harus diayak dengan ayakan pasir
berlubang 4 x 4 mm, sehingga terhindar dari hasil permukaan plesteran yang kasar/rusak.
VI-7

Spesifikasi Teknis

5.2.7Spesi yang jatuh ditanah atau spesi yang sudah mengeras, tidak boleh dipakai kembali untuk bahan
plesteran.
5.2.8Bila terdapat pekerjaan yang terpaksa membongkar dinding/plesteran yang sudah selesai dikerjakan,
maka setelah selesai pekerjaan pembongkaran tersebut, harus diperbaiki kembali seperti keadaan
semula dengan spesi yang sama dengan spesi yang belum dibongkar.
5.2.9Untuk menghindari retak-retak pada dinding plesteran, maka harus dilaksanakan perawatan dengan
jalan menyiram permukaan plesteran dengan air, sesuai dengan petunjuk Pengawas Lapangan.
PASAL

6 : PEKERJAAN LANTAI

Untuk pekerjaan lantai ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.
6.1Penutup lantai bangunan cor dengan perbandingan 1:2:3 termasuk lantai teras/selasar depan bangunan.
6.2Lantai cor harus betul - betul datar water pass dan tidak boleh ada yang retak / pecah.
6.3Cor lantai harus dikerjakan oleh tenaga yang benar-benar ahli, sehingga tidak terjadi pemasangan yang
bergelombang dan tidak lurus.
6.4Bila terdapat cor lantai yang tidak rata waterpas mendatar (bergelombang) dan tidak lurus maka harus
dibongkar, dan diperbaiki kembali sampai permukaan lantai waterpas mendatar dan plint benarbenar lurus.
PASAL

7 : PEKERJAAN KAYU/PINTU/JENDELA/VENTILASI/PENERANGAN

7.1Untuk pekerjaan kayu/pintu/jendela/ventilasi/penerangan ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan


bestek.
7.2 Untuk pekerjaan kusen-kusen pintu, jendela, dibuat dari kayu ulin yang berkwalitet
dan tidak retak- retak. Ukuran kusen adalah 5 x 10 cm, dan harus diserut licin
bidang yang kelihatan.

baik
pada

7.3Untuk ventilasi berupa papan ram Ulin yang jadi satu dengan kusen dengan jumlah dan susunan sesuai
gambar rencana.
7.4Rangka/bingkai daun pintu, jendela, dibuat sesuai dengan gambar rencana.
7.5Daun pintu belakang ruang kamar diklat dan daun pintu untuk km/wc adalah panel Ulin dibuat dari
kayu Ulin, sesuai gambar rencana.
7.6Daun pintu depan ruang kamar diklat adalah panel Lanan dibuat dari kayu Lanan, sesuai gambar
rencana.
7.7Daun jendela depan ruang kamar adalah panel Lanan dibuat dari kayu Lanan, sesuai gambar rencana.
7.8Pada tiang kosen pintu, jendela yang bertemu dengan dinding batu bata, harus dibuatkan alur kapur
atau sponning kapur dan dipasang angker / paku beton dengan panjang yang disesuaikan dengan
penempatannya.
7.9 Pada ambang atas kosen pintu, jendela, tidak boleh diberi alur kapur atau sponning kapur, kecuali
pada ambang bawah.
7.10Pekerjaan kusen-kusen, pagar kayu, rangka/bingkai daun pintu, jendela, harus dibuat dengan
pabrikasi. Bagian bawah tiang kusen pintu harus sampai tertanam pada lantai.
7.11 Semua sambungan kosen dan bingkai daun dan pintu, jendela, harus diperkuat dengan pasak bambu
atau kayu yang sejenis dengan ukuran lubang diameter 6 8 mm
7.12Jenis dan Bahan pada Pintu, Jendela dan Ventilasi harus disesuaikan dengan rencana gambar dan
Bestek.

7.13 Bahan kaca untuk jendela dan ventilasi kaca selisih km/wc menggunakan kaca bening tebal kaca 5
mm atau sesuai dengan rencana kerja dan gambar.
VI-8

Spesifikasi Teknis

7.14Bahan kaca yang akan dipasang, harus diperiksakan dahulu kepada Direksi dan bila disetujui barulah
boleh dipasang.
7.15Pemasangan kaca tidak boleh terlalu rapat, harus ada kelonggaran 2-3 mm, sehingga terhindar
pecahnya kaca akibat pemuaian.
7.16Pemasangan list kayu untuk mengunci kaca, harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak
mengakibatkan terlepasnya kaca. Pertemuan list kayu pada sudut bingkai daun jendela, harus
dibuat miring 45 derajat.
7.17Daun pintu dan daun jendela, harus dapat dibuka/ditutup dengan mudah, tanpa ada gesekan yang
kuat pada kusen atau lantai.
PASAL

8 : PEKERJAAN RANGKA KUDA-KUDA/ATAP

8.1Rangka kuda- kuda baja ringan.


8.1.1Untuk pekerjaan rangka kuda dan atap ini, perlu diperhatikan rencana gambar bestek.
8.1.2Rangka kuda- kuda yang dipasang adalah rangka kuda-kuda baja ringan/truss C75 terpasang pabrikasi.
Termasuk bahan reeng digunakan adalah dari bahan baja ringan pabrikasi sesuai dengan speksifikasi
teknis yang disyaratkan.
8.1.3Jarak antara kuda-kuda adalah 1,20 - 1,25 m. Ukuran dan sistem rangka kuda-kuda harus sesuai
dengan lebar bentang bangunan, berdasar spesifikasi teknis yang disyaratkan.
8.1.4Semua bahan yang telah masuk di site dan menyimpang dari ketentuan dalam spesifikasi, maka bahan
tersebut harus dikeluarkan dari site dalam waktu 1 x 24 jam sejak diketahuinya penyimpangan itu
oleh Direksi / Pengawas.
8.2Penutup Atap
8.2.1Penutup atap bangunan menggunakan atap genteng metal setara sakura roof yang dipasang rapi,
penutup bubungan dipasang pemuung model C yang sesuai dengan bahan atap.
8.2.2Warna penutup atap dan bubungan yang dipasang sebagai penutup atap bangunan, akan
ditentukan kemudian dan dikonsultasikan dengan Pemberi Tugas/Dinas terkait.
8.2.3Pada Pada ujung bawah atap dipasang penutup lisplank kalsiboard l=20 cm termasuk rangka keliling
bangunan/atap.
PASAL

9 : PEKERJAAN KUNCI/ALAT PENGGANTUNG.

9.1Setiap daun pintu pada bangunan menggunakan kunci tanam 2 slaag merk setara SES.
9.2Semua daun pintu harus dipasang engsel Nylon ukuran 5" dan masing-masing daun pintu dipasang
sebanyak tiga buah ( 1,5 pasang)
9.3Pemasangan kunci, dan engsel harus memakai paku sekerup yang ukurannya disesuaikan lubang yang
tersedia. Jadi tidak boleh pakai paku.
9.4Paku sekrup untuk pemasangan alat-alat tersebut dalam ayat 10.4, harus ditanam dengan cara diputar
dengan obeng. Jadi tidak boleh dipukul.
9.5Semua daun jendela harus dipasang engsel jendela patrom kuningan sepasang dan masing- masing daun
jendela dipasang tarikan kuningan jendela, kait angin kuningan jendela, dan grendel jendela sesuai
gambar dan bestek.
PASAL

10

:INSTALASI LISTRIK

10.1Sistem Distribusi Listrik


10.1.1Kreteria Perancangan.

Perancangan sistem elektrikal sejauh mungkin diusahakan memenuhi kriteria-

kriteria efektif. efsien dan aman serta mempertimbangkan faktor - faktor keandalan, ekonomis,
fleksibilitas dan kemudahan operasi.Tidak luput dari
VI-9

Spesifikasi Teknis

perhatian adalah aspek pelaksanaan instalasi yang tidak mengganggu keindahan lingkungan .
10.1.2Acuan Perancangan.

Di dalam proses perancangan sistem distribusi, di samping mengacau pada penjelasan penugasan,
juga digunakan acuan berbagai standar, aturan dan pedoman, antara lain :
1.PUIL 1987.
2.Peraturan yang telah ditentukan PLN lainnya.
3.Pedoman Pengawasan Instalasi listrik, Depertemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No. 59/DP/ 1980.
4.Pedoman dan petunjuk Keselamatan Kerja PLN No.48.
5.Peraturan-peraturan dan standar yang telah di sesuaikan dengan peraturan dan standar internasional, antara lain VDE,BS,NEC,IEC dsb.
6. Peraturan-peraturan lainnya yang berlaku setempat.
10.1.3 Prinsip Distribusi Daya Listrik.
10.1.3.1 Instalasi Listrik Dalam Bangunan :
Instalasi listrik di dalam
bangunan meliputi penyediaan instalasi
listrik untuk penerangan,
titik lampu, stop kontak, alat-alat khusus
dan lain sebagainya .
Secara umum penyediaan listrik didalam bangunan di lakukan secara radial melalui panel daya
dan penerangan yang terpisah dengan kabel Instalasi NYM dan NYY .
10.1.3.2Sistem Penerangan
Terdapat dua jenis sistem penerangan yang digunakan yaitu penerangan didalam bangunan dan
penerangan diluar bangunan.
Fungsi utama penerangan didalam bangunan dirancang untuk memberikan level penerangan yang
cukup tanpa menimbulkan kesan silau, ekonomis serta memberikan nilai tambah bagi estetika.
Warna cahaya diusahakan serupa dengan cahaya alami.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pada ruang kamar diklat dan selasar depan dan belakang
bangunan digunakan jenis Lampu TL Hemat energi 18 Watt dan Lampu hemat 5 watt untuk KM/WC.
Setiap ruang kamar dilengkapi dengan stop kontak dan saklar sesuai gambar rencana dan bestek.
10.1.4Pemilihan Material Instalasi

Dalam pemilihan material, pertimbangan dilakukan terhadap berbagai aspek, antara lain aspek
fungsional (rating peralatan dan level iluminasi/jenis cahaya),
aspek estetika (bentuk, warna, dimensi) dan aspek ekonomis (harga, ketersedian) dan aspek
keandalan/keamanan (pemenuhan terhadap standar) dan lain sebagainya.

10.2Pekerjaan dianggap selesai apabila :


10.2.1Telah mendapat surat pernyataan bahwa instalasi baik dari direksi / Pengawas.
10.2.2Semua persoalan mengenai kontrak dengan Pemilik telah dipenuhi, sehingga Pemilik dapat

membenarkannya.
10.2.3Seluruh instalasi terpasang telah ditest, bersama sama dengan Direksi / Pengawas dan Pemilik

dengan hasil baik, sesuai dengan spesifikasi teknis.

VI-10

Spesifikasi Teknis
PASAL

11 : PEKERJAAN SANITAIR

11.1 Untuk pekerjaan sanitair ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.
PASAL

12 : PEKERJAAN PLAFOND

12.1Untuk pekerjaan plafond ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan bestek.
12.2Rangka plafond adalah rangka baja ringan (hollow) pabrikasi dengan ukuran sesuai yang disyaratkan,
terpasang lengkap dengan accessories lainnya.
12.3Plafond pada ruangan, ditutup dengan bahan Kalsiboard tanpa nat dan diberi list kalsiboard.
12.4Bila dalam pemasangan plafond, terdapat bagian yang tidak rata atau melentur, maka harus
dibongkar dan diperbaiki lagi sampai permukaannya betul-betul waterpass mendatar.
12.5Pada pertemuan plafond dengan dinding dan kolom-kolom, harus dipasang list plafond dari kalsiboard
yang dipasang rapi.
12.6Pekerjaan plafond adalah termasuk juga pemasangan plafond luar bangunan (teras/selasar depan
belakang dan tritisan atap keliling luar bangunan).
PASAL

13 : PEKERJAAN DRAINAGE/RABAT BETON BELAKANG BANGUNAN

Yang termasuk lingkup pekerjaan ini adalah pembuatan selasar belakang Rabat beton bangunan
termasuk juga saluran/drainage belakang bangunan.
12.1Rabat/selasar belakang bangunan harus dipasang pondasi batu gunung dan rollag batu bata untuk
saluran air (drainage) dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar rencana. Sebelum memasang
pondasi batu gunung dan pondasi rollag batu bata terlebih dahulu dipasang urugan pasir tebal 5 cm
12.2Untuk mencapai piell lantai yang direncanakan/sesuai gambar, harus dilaksanakan urugan tanah urug.
Kemudian dilapis atasnya dengan pasir urug dengan tebal 3 cm.
12.3Lantai Rabat beton keliling bangunan difinishing dengan cor beton campuran 1:3:5 dengan tebal 5 cm
sesuai gambar rencana.
12.4Untuk saluran/drainage belakang bangunan harus dipasang pasangan batu bata dengan tinggi 10 cm
dari muka tanah sesuai gambar rencana.
12.5Pasangan batu bata saluran/drainage belakang bangunan harus diplester dengan plesteran semen
tebal 15 mm campuran 1:4 , pekerjaan plesteran ini termasuk juga plesteran siring/pondasi batu
gunung bagian luar yang terlihat.
PASAL

14 : PEKERJAAN CAT - CATAN.

14.1Seluruh permukaan dinding bagian luar dan dalam balok, kolom dan plafond yang tampak dan tidak
dilapis harus dicat tembok.
14.2Seluruh pekerjaan kayu, kosen, dan jendela serta daun pintu panil harus dicat kilap.
14.3Sebelum pekerjaan cat dilaksanakan, maka permukaan yang akan dicat, harus dibersihkan dan
dihaluskan dengan amplas. Kemudian dimenie, dicat dasar, didempul, diplummer dan diampelas
rata / licin.
14.4 Permukaan plesteran hanya boleh dicat, bila sudah berumur 4 minggu, yaitu dengan maksud
mengeringkan permukaan plesteran.
14.5Untuk mengencerkan bahan cat dengan bahan pengencer, harus mentaati petunjuk Pengawas
Lapangan.
14.6Semua pekerjaan pengecatan, harus dilaksanakan tanpa ada cacat/goresan yang membuat dinding
rusak.
14.7Pengertian cat pada pekerjaan ini meliputi bahan emulsi, enamel, vernis, sealer dan lain-lain.
14.8Pelaksanaan pekerjaan cat untuk dinding tembok dan beton, harus dilaksanakan :

lapis pertama dicat dengan alkali resistant sealer.


VI-11

Spesifikasi Teknis

lapis kedua dengan cat plammur.


lapis ketiga dan keempat memakai cat.
14.9Pelaksanaan pekerjaan cat untuk permukaan kayu harus dilaksanakan :
lapis pertama dicat dengan dana alkyd primer.
lapis kedua dan ketiga harus dicat dengan cat kilap.
14.10Bahan cat dasar, cat lapis dan cat tembok, harus memakai cat yang masa pemakaiannya masih
berlaku, sehingga warnanya masih sesuai dengan aslinya.
14.11 Bahancat harus benar - benar diaduk sampai merata menjadi satu warna, sehingga
warnacat sama pada permukaan yang dicat.
14.12Cat yang digunakan untuk cat tembok setara Dana Paint dan Cat Kilap setara Dana Lux.
14.13Penentuan warna bahan cat, harus dikonsultasikan dengan Pemilik Bangunan dan disetujui oleh
Pengawas Lapangan.
PASAL

15 : PEKERJAAN PENYELESAIAN.

15.1Yang dimaksudkan pekerjaan penyelesaian ini adalah pekerjaan-pekerjaan perbaikan sebelum serah
terima pertama dilaksanakan.
15.2Pekerjaan dapat dinyatakan selesai bila telah diadakan pemeriksaan dari Proyek, Pengelola
Teknis/Dinas terkait, Pengawas Lapangan dan Kontraktor, dengan hasil yang memuaskan.

PPK RSUD Tanah Bumbu

Dr. H. Daru Dewa. M,Kes.


NIP. 196807101998031011

VI-12