Anda di halaman 1dari 7

ETOS KREATIF PEMANFAATAN SUMBER DAYA KEBUDAYAAN

DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF BERBASIS BUDAYA


DI BALI
I Made Suastika
ABSTRAK
Masyarakat Bali dikenal memiliki nilai-nilai seni-budaya dan tradisi yang unik.
Nilai-nilai adiluhung tersebut terkait dengan filosofi dan praktik-praktik keagamaan
masyarakatnya yang sebagian besarnya memeluk agama Hindu. Selain melestarikan,
mereka berhasil secara kreatif mentransformasikan nilai-nilai tersebut ke dalam ranah
pariwisata modern yang terkait dengan ekonomi kreatif. Etos kreatif ini mengantarkan
Bali sebagai salah satu destinasi wisata internasional dan sentra ekonomi kreatif yang
berbasis kebudayaan. Etos pemanfaatan sumber daya kebudayaan ini sudah sejak lama
diwacanakan oleh seorang pendeta, sastrawan, dan seniman kenamaan Bali bernama Ida
Pedanda Made Sidemen (lahir tahun 1858 dan wafat 10 September 1984). Sidemen,
dengan kemampuan intelektual dan supranaturalnya, mampu memprediksi keberadaan
manusia Bali di masa selanjutnya dengan menawarkan konsep karang awake tandurin
(kelola dan kembangkan potensi diri sendiri). Untuk itu, ia mengonsepkan perjalanan
menuju kesuksesan seseorang melalui (1) dharma yatra: berkelana, belajar; (2) dharma
karya: memiliki etos kreatif; dan (3) lascarya: tulus ikhlas, tidak terlalu memikirkan
imbalan, dan selalu bersemangat ngayah (kerja persembahan untuk Tuhan). Ajaran
Pedanda Sidemen relevan dengan situasi yang dihadapi masyarakat Bali kini yang penuh
persaingan dengan berkembangnya globalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif, lebihlebih masyarakat Bali sendiri, selain ajaran Pedanda Sidemen, terdapat nilai budaya
taksu, yaitu kemampuan tertentu yang mampu memberikan efek penampilan terbaik, dan
jengah, yaitu semangat untuk tidak kalah bersaing (dalam arti positif) dan unggul.

Kata kunci: nilai-nilai seni-budaya dan tradisi, sumber daya kebudayaan, pariwisata
budaya, ekonomi kreatif berbasis budaya, etos kreatif.
PENDAHULUAN
Masyarakat Bali sejak dahulu dikenal memiliki nilai-nilai seni-budaya dan
tradisi yang unik yang bersumber ajaran agama yang dianut, yakni Hindu. Di luar itu,
mereka memiliki sejumlah nilai-budaya lokal yang khas, yang membuat mereka
berhasil mengembangkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Mereka memiliki etos kreatif tertentu yang menyebabkannya bisa maju, berkembang,
dan unggul di tengah maraknya persaingan global.
Keberadaan seni-budaya yang telah mentradisi, pariwisata budaya, dan
ekonomi kreatif sebagaimana terjadi saat ini di Bali terbangun melalui kehidupan
pertanian dan sistem religi (agama Hindu) yang ada. Kesaling-hubungan seperti ini
membuat kondusifnya perkembangan seni dan industri budaya di satu sisi serta
perkembangan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif di sisi lain. Industri budaya
sendiri, sebagaimana yang terjadi di Eropa, adalah istilah untuk ekonomi kreatif itu
sendiri. Keduanya sering dianggap bersinonim.
1

Bali berada di antara dua pulau, yaitu Jawa dan Lombok. Wilayahnya dibatasi
Laut Bali (utara), Selat Lombok (timur), Samudera Indonesia (selatan) dan Selat Bali
(barat). Ia mencakup sembilan kota/kabupaten, yaitu Badung, Bangli, Buleleng,
Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Kota Denpasar (sebagai ibukota
provinsi), dan Tabanan. Luas wilayah Provinsi Bali menurut Bali dalam Angka/Bali
in Figures (2008: 3-4) adalah 5.632,86 km2 atau 0,29% dari luas Indonesia. Bali
dihuni oleh 3.891.428 jiwa, dengan rata-rata tingkat kepadatan penduduknya 690 jiwa
per km2, yang sebagian besar penduduknya beretnis Bali dan memeluk agama Hindu.
Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang begitu kaya akan seni
dan budaya yang selanjutnya menjadi basis bagi perkembangan pariwisata dan
ekonomi kreatif. Kesenian dan kebudayaan yang berkembang di daerah Bali banyak
dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur agama Hindu yang dianut penduduknya. Kalau
tidak ada kesenian dan kebudayaan yang telah menjadi tradisi dalam pelaksanaan
upacara-upacara keagamaan Hindu dan keseharian masyarakatnya, pariwisata budaya
dan ekonomi kreatif Bali tidak akan seeksis, seberkembang, dan semenguntungkan
seperti sekarang. Terkait dengan kenyataan ini, wacana Michel Picard dalam bukunya
Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata (2006) mendapatkan relevansi saat
menyatakan pariwisata budaya Bali ibarat sebuah pohon. Akar pohon paiwisata
budaya Bali adalah agama Hindu. Batangnya adalah adat dan budaya Bali sedangkan
buahnya adalah kesenian (seni-budaya) yang kelak menjadi berbagai produk
pariwisata budaya Bali. Dengan begitu, apabila pohon pariwisata budaya Bali ingin
tetap tumbuh subur dan menghasilkan buah kesenian yang ranum, agama Hindu
serta adat dan budaya bersama masyarakatnya Bali harus tetap terjaga, lestari, dan
dilestarikan.
Keberhasilan masyarakat Bali dalam merealisasikan etos kreatif dalam sumber
daya kebudayaannya dalam konteks kehidupan masa kini tidak terlepas dari
kreativitas mereka dalam menerjemahkan paradigma kebudayaan Bali yang lebih
besar, dan bahkan paling besar, yakni trihita karana atau tiga penyebab kesejahteraan
Tri adalah tiga, hita adalah kesejahteraan lahir-batin, material-spiritual, duniawisorgawi, dan karana adalah penyebab. Ketiganya adalah (1) parhyangan menyangkut
hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan Sang Pencipta; (2) pawongan
menyangkut hubungan harmonis antara manusia dan manusia; dan (3) palemahan
menyangkut hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya. Tidak
mengherankan produk-produk pariwisata budaya dan ekonomi kreatif yang
diciptakan masyarakat Bali merupakan harmoni kehidupan religius-sosiologisekologis trihita karana.
Konsep budaya dalam dalam konteks pariwisata budaya dan ekonomi kreatif
(atau industri budaya) terkait dengan keberadaan masyarakat sebagai pelaku dan
pemilik (ke)budaya(an). Budaya di mana seni-budaya atau kesenian merupakan
bagian integralnya berhubungan dengan masyarakat karena masyarakat berperan
mengonstruksi kebudayaan, yakni seni-budaya atau kesenian itu sendiri. Industri
budaya dan ekonomi kreatif yang telah sejak lama lahir, eksis, dan berkembang di
Bali, lebih-lebih di tengah perkembangan kehidupan global yang ada, semakin
mendapatkan momentumnya dengan dicanangkannya tahun 2009 sebagai Tahun
Indonesia Kreatif dan kemudian diakomodasikannya ekonomi kreatif dalam
2

Kementerian Pariwisata pada saat ini (melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif). Sejauh ini, terdapat 15 unsur ekonomi kreatif yang dikembangkan, yaitu (1)
fashion, (2) kerajinan, (3) desain, (4) periklanan, (5) penerbitan dan percetakan, (6)
arsitektur, (7) musik, (8) radio dan televisi, (9) penelitian dan pengembangan, (10)
perangkat lunak dan konsultan teknologi informasi, (11) pasar produk antik dan seni,
(12) film, video, dan fotografi, (13) permainan interaktif, (14) seni pertunjukan, dan
(15) kuliner.
ETOS KREATIF DAN PRAKSISNYA DALAM KEBUDAYAAN MASYARAKAT
BALI TERKAIT PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF
Etos kreatif adalah bagian dari wacana etos kerja. Etos kerja sendiri,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 271) adalah semangat kerja yang
menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
Terkait dengan etos kreatif dalam kebudayaan masyarakat Bali, berikut ini
adalah gambaran etos kerja yang dapat ditemukan baik dalam ajaran Ida Pedanda
Made Sidemen maupun pengetahuan umum lainnya di Bali. Ida Pedanda Made
Sidemen adalah seorang pandita/wiku (pendeta) adalah cendekiawan, budayawan, dan
rohaniawan Hindu dari Griya Aseman, Taman Sanur, Denpasar. Sebelum menjadi
pendeta, ia bernama Ida Ketut Aseman. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1858 dan
meninggal pada tanggal 10 September 1984. Ia menemukan jatidiri melalui jalan
sastra. Walaupun seorang cendekiawan, budayawan, dan rohaniawan yang sangat
dihormati, ia senantiasa menjalankan hidup dengan prinsip meyasa lacur (hidup
dalam kesederhanaan), mandiri, dan mengabdi kepada masyarakat dengan
melaksanakan guna dusun (bekerja penuh keikhlasan) (Suteja, 2013).
Di Bali, sampai saat ini Pedanda Sidemen diacu sebagai pendeta dengan
kemampuan intelektual, estetikal, spiritual, dan praktikal (praksis) yang ideal.
Pikiran-pikiran konseptual dan pengetahuan, perkataan (wacana) dan nasihat-nasihat
kebajikan, karya-karya sastra dan seninya benar-benar merupakan perwujudan dari
prinsip yang sangat populer dalam sastra kehinduan: satyam, sivam, sundaram (benar,
suci, indah).
Beberapa konsep kreatifnya sangat layak dikemukaan terkait tujuan penulisan
permasalahan etos kreatif pemanfaatan sumber daya kebudayaan dalam
pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Bali ini, khususnya dalam rangka
dipertimbangkan praksisnya dalam kehidupan nyata pada era kompetisi global ini.
Selain meyasa lacur atau membiasakan diri dengan hidup sederhana (apa adanya), ia
sangat dikenal dengan konsep karang awake tandurin (badan atau diri sendiri yang
ditanami). Di tengah semakin derasnya gelombang globalisasi pariwisata, ia
mengajak masyarakat Bali mempersiapkan (mengantisipasi) diri dengan
mempersenjatai melaui pengembangan diri berupa karang awake tandurin (tanami
kebun diri, yang kurang-lebih bermakna kembangkan potensi diri). Maksudnya
adalah, masyarakat Bali, lebih-lebih sumber daya manusianya yang masih produktif,
untuk selalu membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan
wawasan. Dengan begitu, manusia Bali tidak akan mudah menjadi manusia kalahan
(manusia kelas dua) di tengah kehidupan bisnis yang melanda Bali sendiri, seperti
pariwisata.
3

Di sini perlu dikemukakan juga konsep-konsep Pedanda Sidemen tentang


keutuhan manusia utama dalam mewujudkan dirinya sebagai makhluk yang, menurut
hukum Hindu, memiliki kewajiban bekerja. Dalam sejumlah kitab keagamaan Hindu
disebutkan, mereka yang (makan tetapi) tidak bekerja adalah pencuri. Pedanda
Sidemen menawarkan apa yang saat ini di Bali dikenal sebagai dharma yatra, dharma
karya, dan lascarya. Dharma yatra adalah melakukan pengelanaan dan belajar.
Dharma karya adalah memiliki etos kerja dan kreativitas tinggi. Lascarya adalah
bekerja semampunya tanpa mengharapkan terlalu banyak imbalan yang mungkin
akan dihasilkan. Ketiga konsep tersebut dijabarkan oleh Suastika dalam bukunya
Lascarya, Refleksi Nilai Karya Sastra dan Aktualitasnya dalam Kehidupan (2008).
Dharma yatra mengandung makna bahwa pengisian diri secara maksimal
dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan (teknologi) yang dapat digunakan sebagai
pandangan dan pegangan dalam menjalankan kehidupan. Secara lahiriah untuk
mencapai tujuan ini adalah lewat proses pendidikan yang tidak pernah terputus... Berdharma yatra adalah proses pengisian diri secara optimal sebagai sumber kehidupan
(Suastika, 2008: 5-6). Dharma karya berarti adanya perilaku yag kuat dan kokoh
dalam berkarya. selanjutnya, konsep ini merupakan etos kerja, yaitu adanya sikap
batin yang melahirkan semangat, sehingga ulet dalam bekerja, kemudian tekad ini
dipakai dasar dalam berkarya. Pemahaman terhadap konsep ini memacu orang untuk
bekerja secara optimal dengan kebulatan tekad untuk menyelesaikannya. Tekad ini
melahirkan karya-karya berkualitas dan bermutu untuk menjalankan profesi
(Suastika, 2008: 6). Lascarya yaitu berkarya dengan tidak mementingkan untung dan
rugi (imbalan). Lascarya juga berarti berani berbuat, selalu belajar berkarya, dan
mengabdikan diri sepenuhnya dalam masyarakat (Suastika, 2008: 8).
Di luar ajaran Pedanda Sidemen, etos kerja umum yang perlu dibahas terkait
persoalan yang dibahas adalah taksu dan jengah. Taksu adalah suatu kekuatan atau
karisma yang menyebabkan penampilan dan kinerja (performance) orang, benda,
tempat, dan aktivitas menjadi unggul, hidup, artistik, memesona atau menimbulkan
kekaguman. Menurut Mantra (1991: 26-27), taksu adalah inner power (kekuatan
dalam) yang memberi kecerdasan, keindahan, dan mukjizat. Sebagai genuine
creativity (kreativitas budaya murni), taksu pada umumnya terbatas pada seni dan
ilmu pengetahuan tetapi sebenarnya dapat berlaku pada semua bidang kehidupan. Ia
berfungsi meningkatkan kreativitas, meliputi segala aspek kehidupan yang membawa
kemajuan-kemajuan dan mempertinggi budaya bangsa. Taksu sebagai anugerah
Tuhan yang Mahaesa adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, penyerahan diri pada
bidang masing-masing dalam keadaan murni.
Seniman-seniman Bali yang mampu menciptakan karya seni yang monumental
dan biasanya memiliki genuine creativity dan untuk menghasilkan karya-karya besar
atau masterpiece ia biasanya mempunyai pengetahuan yang luas mengenai nilai-nilai
estetika, nilai-nilai tradisi, dan teknik mencipta yang matang. Dengan profil seperti
itu, maka hasil ciptaannya akan dapat menunjang kehidupan masyarakat secara luas.
Karya seni sebagai refleksi kehidupan masyarakat mengandung keindahan, rasa
kemanusiaan, kecintaan dan nilai spiritual yang tinggi. Seni akhirnya mempunyai
fungsi untuk memberi keseimbangan hidup manusia, keselarasan antara lahiriah dan
batiniah. Taksu sebagai kekuatan dalam merupakan kemauan untuk bereksplorasi
4

dengan unsur-unsur, bentuk, dan konsep-konsep untuk menciptakan hal yang baru
dalam kehidupan... (Mantra, 1991: 27).
Dibia dalam bukunya Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali (2012: 24)
menjelaskan, taksu pada dasarnya adalah kekuatan spiritual atau energi khusus yang
dapat mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, mengubah manusia menjadi
makhluk super, dan membuat benda sehari-hari menjadi benda-benda khusus. Ketika
taksu bermanifestasi baik dalam benda kegiatan dan budaya atau pada orang dan
tempat, seseorang akan segera bisa menangkap atau merasakan sesuatu yang sangat
istimewa, hidup, dan memesona di dalamnya... Ketika sedang diberkahi taksu,
seseorang akan mendapatkan kemampuan intelektual dan daya kreativitas pada level
tertentu untuk memimpin, bertindak, atau bekerja guna menunjukkan kehebatannya.
Untuk bidang seni, kebanyakan orang di Bali percaya bahwa taksu bisa masuk ke
dalam benda-benda atau karya seni, tempat-tempat pertunjukan, tempat pameran, dan
pada pada diri seniman.
Sementara itu, dalam konteksnya dengan budaya (seni) Bali, jengah memiliki
konotasi competitive pride, yaitu semangat untuk bersaing, guna menumbuhkan
karya-karya seni yang bermutu (Mantra, 1991: 27). Namun demikian, sebagaimana
taksu, kata bahasa Bali jengah sesungguhnya tidak semata-mata digunakan dalam
konteks berkesenian. Jengah juga diterapkan pada seluruh aspek kehidupan. Ia
merupakan upaya penyemangat atau motivasi diri agar tidak kalah dalam persaingan.
Sejumlah etos kerja yang dibahas, baik yang menjadi ajaran Pedanda Sidemen
maupun konsep umum lainnya, di atas dapat ditemukan praksisnya pada kasus-kasus
keberhasilan manusia Bali, baik laki-laki maupun perempuan, dalam persaingan
bisnis global di banyak bidang kehidupan. Dalam kaitan dengan ekonomi/industri
kreatif (creative economy), penelitian Suastika, dkk yang berjudul Transformasi
Nilai Sastra dan Budaya Lokal dalam Pengembangan Industri Kreatif di Bali (2009)
dapat dikatakan secara tepat menggambarkan bagaimana nilai-nilai sastra dan budaya
lokal (Bali) menjadi basis pengembangan ekonomi kreatif global di mana dalam
penciptaan produk-produk terkait dilakukan oleh masyarakat setempat melalui suatu
etos kerja tertentu, yaitu etos kreatif. Hasilnya adalah, di bidang sastra misalnya,
buku-buku, film, sinetron, dan rekaman dapat menunjukkan keberhasilan transformasi
yang dimaksud. Di bidang seni pertunjukan dan seni rupa seperti lukisan (cerita klasik
dan gaya Kamasan) dan patung (Rama-Sita, Ganesha, Dewa-dewi Hindu, garuda),
serta kain tenun (Jembrana, Klungkung, Karangasem) dan cendermata (emas, perak,
tembaga, perunggu), keberhasilannya juga tampak nyata. Sebagai contoh, dalam
penelitian Lodra (2002) ditemukan bahwa dalam bisnis souvenir (cenderamata),
khususnya kerajinan perak, Desak Nyoman Suarti (Suarti Collection) tergolong
sangat sukses. Begitu banyak contoh lain praktik-praktik ekonomi kreatif di Bali yang
bisa dikemukakan untuk menunjukkan betapa etos kreatif sudah dimiliki oleh
masyarakat setempat. Di antaranya adalah kerajinan uang kepeng (pis bolong) di
Kamasan, Klungkung (Dira, 2011), produk kriya kayu I Nyoman Sudarma di Desa
Jagapati, Badung (Gerya, 2012), dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa
disebutkan satu per satu di sini. Intinya adalah, dalam hal ini, melalui etos kreatif
yang ada, potensi kekayaan budaya Bali dijadikan konsep acuan dalam beragam
desain produk-produk kerajinan peraknya untuk dikembangkan di pasar global.
5

SIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan masyarakat Bali memiliki etos kerja
tersendiri dalam mentransformasikan nilai-nilai seni, budaya, dan tradisinya dalam
ekonomi kreatif global termasuk dalam pariwisata budaya yang telah berkembang
sebelumnya di Bali. Kemampuan masyarakat Bali dalam mentransformasikan
kebudayaannya melalui etos kerja ke dalam ekonomi kreatif maupun pariwisata
budaya menunjukkan bahwa terdapat modal budaya (cultural capital) (menurut
konsepsi filsuf kenamaan Perancis Pierre Bourdieu) yang dapat dijadikan modal
ekonomi. Etos kerja berupa etos kreatif tersebut sudah dijelaskan di atas dalam ajaran
Pedanda Sidemen maupun pengetahuan umum lainnya di Bali.
------------------------------------------------------------------------------------------------------Terima kasih kepada Dr. I Gede Mudana, M.Si atas penuangan konsep-konsep dan
gagasan-gagasan ke dalam tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Biro Pusat Statistik. 2008. Bali dalam Angka/Bali in Figures. Denpasar: Biro Pusat
Statistik Bali.
Dibia, I Wayan. 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Denpasar: Bali Mangsi.
Dira, Anak Agng Gede. 2011. Uang Kepeng (Pis Bolong) dalam Masyarakat Kamasan
Klungkung: Perspektif Kajian Budaya, tesis, Program Studi Magister Kajian
Budaya Universitas Udayana, Denpasar.
Gerya, I Made. 2012. Eksistensi Produk Kriya Kayu I Nyoman Sudarma di Desa
Jagapati Kabupaten Badung dalam Dunia Usaha, tesis, Program Studi Magister
Kajian Budaya Universitas Udayana, Denpasar.
Lodra, I Nyoman. 2002. Kerajinan Perak Suarti sebagai Karya Tandingan di Pasar
Global, tesis, Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Udayana,
Denpasar.
Mantra, Ida Bagus. 1991. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: Yayasan Dharma
Sastra.
Picard, Michel. 2006. Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta: KPG.
Suastika, I Made. 2006. Etos Kerja Wanita Bali: Refleksi Nilai Karya Sastra dan
Aktualitasnya dalam Kehidupan Masyarakat dalam Bali Bangkit Kembali.
Denpasar: Kerjasama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik
Indonesia dan Universitas Udayana.
Suastika, I Made. 2008. Lascarya, Refleksi Nilai Karya Sastra dan Aktualitasnya dalam
Kehidupan. Denpasar: Sari Kahyangan Indonesia.
Suastika, I Made, dkk. 2009. Transformasi Nilai Sastra dan Budaya Lokal dalam
Pengembangan Industri Kreatif di Bali. Denpasar: Fakultas sastra Universitas
Udayana.
Suteja, I Ketut. 2013. Ida Pedanda Made Sidemen, Kawi-Wiku, Cendekiawan,
Budayawan, Rohaniawan dalam I Wayan Dibia (ed) Sekar Jagat Bali Kumpulan
Rekam Jejak Tokoh Seniman dan Budayawan Bali. Denpasar: UPT Penerbitan
Institut Seni Indonesia Denpasar.
Tim Penyusun. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka-Depdikbud.

Kesenian dalam kehidupan masyarakat memiliki fungsi dan tujuan seperti


religi atau keagamaan, edukatif, komunikasi, rekreasi atau hiburan, artistik,
kesehatan, serta seni terapan atau fungsi guna. Berdasarkan fungsi dan tujuannya
kesenian dibagi menjadi (1) kesenian sakral (wali)untuk ritual keagamaan seperti
pertunjukan tarian sanghyang jaran, rejang sutri, baris gede, baris jangkang, ketekok
jago, kincang-kincung, wayang lemah, wayang sudamala, dan (2) kesenian bebali
pengiring upacara seperti gambuh, wayang wong, serta (3) kesenian balih-balihan
pertunjukan hiburan seperti legong, arja, kebya (Wija, 2012).