Anda di halaman 1dari 19

BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1. Higienitas Lingkungan


2.1.1. Pengertian Higienitas
Brownell (R. Sihite. 2000:3) menyatakan higiene adalah
bagaimana caranya orang memelihara dan melindungi kesehatan.
Prescott menyatakan bahwa hygiene terbagi ke dalam dua aspek yang
menyangkut individu (Personel Hygiene) dan yang menyangkut
lingkungan (Environment).
Di dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 1996, Hygiene di
nyatakan sebagai kesehatan masyarakat yang meliputi semua usaha
untuk memlihara, melindungi, dan mempertinggi derajat kesehatan
badan, jiwa, baik untuk umum maupun perorangan yang bertujuan
memberikan

dasar-dasar

kelanjutan

hidup

yang

sehat,

serta

mempertinggi kesehatan dalam perikemanusiaan.


2.1.2. Ruang Lingkup Higienitas
Masalah Higiene tidak dapat dipisahkan dari masalah sanitasi,
dan pada kegiatan pengolahan makanan masalah sanitasi dan higiene
dilaksanakan bersama-sama. Kebiasaan hidup bersih, bekerja bersih
sangat membantu dalam mengolah makanan bersih pula. Ruang
lingkup higiene meliputi:
1.

Higiene perorangan dan lingkungan

2.

Higiene makanan dan minuman

2.2. Sanitasi Lingkungan


2.2.1. Pengertian Sanitasi
Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air,
dan udara, penanganan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi,
dan kebisingan, pengendalian faktor penyakit, dan penyehatan atau
pengamanan lainnya. Melihat luasnya ruang lingkup kesehatan
lingkungan, sangatlah diperlukan adanya multi disiplin kerja agar
kegiatannya dapat berjalan dengan baik. Misalnya diperlukan tenaga
ahli di bidang air bersih, ahli kimia, ahli biologi, ahli teknik dan
sebagainya (Mukono, 2006).
Menurut Notoadmojo (2003), sanitasi itu sendiri merupakan
perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud
mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan
buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga
dan meningkatkan kesehatan manusia, sedangkan untuk pengertian
dari sanitasi lingkungan, sanitasi lingkungan adalah status kesehatan
suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran,
penyedian air bersih dan sebagainya.
2.2.2. Ruang Lingkup Sanitasi
Menurut Kusnoputranto (1986) ruang lingkup dari kesehatan
lingkungan meliputi:
a.

Penyediaan air minum.

b.

Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air.

c.

Pengelolaan sampah padat.

d.

Pengendalian vektor penyakit.

e.

Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah.

f.

Hygiene makanan.

g.

Pengendalian pencemaran udara.

h.

Pengendalian radiasi.

i.

Kesehatan kerja, terutama pengendalian dari bahaya-bahaya fisik,


kimia dan biologis.

j.

Pengendalian kebisingan.

k.

Perumahan

dan

pemukiman,

terutama

aspek

kesehatan

masyarakat dari perumahan penduduk, bangunan-bangunan


umum dan institusi.
l.

Perencanaan daerah dan perkotaan.

m. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, laut dan


darat.
n.

Pencegahan kecelakaan.

o.

Rekreasi umum dan pariwisata.

p.

Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan


epidemi, bencana alam, perpindahan penduduk dan keadaan
darurat.

q.

Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin agar


lingkungan pada umumnya bebas dari resiko gangguan kesehatan.

Dari ruang lingkup sanitasi lingkungan di atas tempat-tempat


umum merupakan bagian dari sanitasi yang perlu mendapat perhatian
dalam pengawasannya (Kusnoputranto, 1986).
2.2.3. Sanitasi Dasar
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk
menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang
menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Azwar, 1995).
2.2.4. Hal-hal yang menyangkut Sanitasi
1. Ventilasi
Menurut Notoatmojo (2007), ventilasi dapat dibedakan
menjadi dua yaitu ventilasi alamiah dan ventilasi buatan. Ventilasi
alamiah yaitu dimana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi
secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, dan lubanglubang pada dinding. Ventilasi alamiah tidak menguntungkan,
karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga
lainnya ke dalam rumah. Ventilasi buatan yaitu dengan
menggunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara misalnya
kipas angin dan mesin penghisap udara. Namun alat ini tidak cocok
dengan kondisi rumah di pendesaan.
2. Pencahayaan
Pencahayaan yang tidak mencukupi akan menyebabkan
kelelahan mata, disamping itu kurangnya pencahayaan akan

menyulitkan pemeliharaan kebersihan rumah. Pencahayaannya


yang cukup untuk penerangan ruangan di dalam rumah merupakan
kebutuhan kesehatan manusia. Pencahayaan dapat diperoleh dari
pencahayaan dari sinar matahari. Pencahayaan dari sinar matahari
masuk ke dalam rumah melalui jendela, celah-celah dan bagian
rumah yang terkena sinar matahari hendaknya tidak terhalang
benda lain. Cahaya matahari ini berguna untuk penerangan, juga
dapat mengurangi kelembaban udara, memberantas nyamuk,
membunuh kuman penyebab penyakit. pencahayaan dari lampu
atau yang lain berguna unuk penerangan suatu ruangan (Suyono,
1985).
3. Lantai
Ubin atau semen lebih baik, namun tidak cocok untuk kondisi
ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah
orang yang mampu di pedesaan, dan inipun mahal. Oleh karena itu,
untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang
dipadatkan. Syarat penting disini adalah tidak berdebu pada musim
kemarau dan tidak basah pada musim hujan.untuk memperoleh
lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan
menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang
berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah merupakan
sarang penyakit (Notoatmojo,2003)

4. Dinding
Resiko menempati rumah dengan jenis dinding yang tidak
memenuhi syarat bukanlah faktor resiko langsung terhadap
penyakit, namun berkaitan dengan kelembaban udara. Dinding
rumah harus bersih, kering dan kuat. Dinding selain untuk
penyangga, juga untuk melindungi dari panas, hujan dan sebaiknya
untuk dinding rumah dibuatkan dari batu bata. (Dirjen PPM dan
PL, 1992).
5. Kepadatan Penghuni
Resiko yang ditimbulkan oleh kepadatan penghuni rumah
terhadap terjadinya penyakit dimungkinkan karena:
a.

Kualitas udara dalam ruangan buruk

b.

Pemeliharaan ruangan tidak dilaksanakan dengan baik

c.

Jarak antar penghuni rumah lebih dekat.


Adapun persyaratan rumah sehat adalah:

a.

Harus memenuhi kebutuhan psichologis

b.

Terhindar dari penyakit menular

c.

Terhindar dari kecelakaan

6. Penyediaan air bersih


Air yang bersih adalah air yang dapat digunakan untuk
keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan dan dapat diminum apabila sudah masak. Air untuk
konsumsi rumah tangga yang didapatkan dari sumbernya harus

10

diolah terlebih dahulu sehingga memenuhi syarat kesehatan.


Menurut Indang Entjan, syarat air minum ditentukan oleh 3 syarat,
yaitu:
a.

Syarat fisik: air itu tidak berwarna, tidak mempunyai rasa,


tidak berbau dan jernih.

b.

Syarat bakteriologis : air itu harus bebas dari segala bakteri


terutama bakteri pathogen.

c.

Syarat

kimia:

tidak

mengandung

bahan

kimia

yang

membahayakan kesehatan, misalnya CO2, NH4, H2S dan lainlain.


7. Pembuangan kotoran manusia (jamban)
Tempat pembuangan kotoran manusia (jamban) merupakan
hal yang sangat penting, dan harus selalu bersih, mudah
dibersihkan, cukup cahaya dan cukup ventilasi, harus rapat
sehingga terjamin rasa aman bagi pemakainya, dan jaraknya cukup
jauh dari sumber air.
Syarat pembuangan kotoran manusia menurut Ehlers dan
Steel dalam Indah Entjan adalah:
a.

Tidak mengotori tanah permukaan

b.

Tidak mengotori air tanah

c.

Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dipergunakan oleh lalat


untuk bertelur dan berkembang biak

d.

1 harus terlindung dan tertutup

11

e.

Pembuangan air limbah atau sampah


Air limbah merupakan exereta manusia, air kotor dari dapur,

kamar mandi, WC, perusahaan-perusahaan,termasuk pula air kotor


permukaantanah. Pembuangan air limbah yang kurang baik akan
menjadi sarang penyakit dan situasi rumah akan menjadi lembab.
Pengaturan air limbah perlu dilakukan dengan baik, supaya:
a.

Mencegah pengotoran sumber air rumah tangga

b.

Kebersihan makanan terjaga

c.

Mencegah berkembangnya bibit penyakit

d.

Menghilangkan bau dan pemandangan tidak sedap .

2.3. Penyakit Diare


2.3.1. Pengertian Diare
Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air
saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali
atau lebih dalam sehari) (Depkes RI, 2000). Sedangkan, menurut
Widjaja (2002), diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat
kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Hingga kini
diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat
pertama di Indonesia. Semua kelompok usia diserang oleh diare, baik
balita, anak-anak dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan
kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita (Zubir,
2006). Menurut hipocrates diare di definisikan sebagai pengeluaran
tinja yang tidak normal dan cair.

12

2.3.2. Patogenesa Diare


Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1.

Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
mennyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi,
sehingga terjadi pergeseran iar dan elektrolit ke dalam rongga usus.
Cairan yang berlebihan ino akan merangasang usus untuk
mengeluarkannya sehingga terjadi diare.

2.

Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus
akan terjadi penongkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga
usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.

3.

Gangguan Motilitas Usus


Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan
usus menyerap makanan dan cairan, sehingga timbul diare.
Sebaiknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan
pertumbuhan

bakteri

berlebihan

yang

selanjutnya

dapat

menimbulkan diare.
4.

Diare akut
a.

Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus


setelah berhasil melewati rintangan asam lambung

13

b.

Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam


usus halus.

c.

Oleh jasad renik di keluarkan toksin (toksin diaregenik)

d.

Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya


akan menimbulkan diare

5. Patogenesis Diare Kronis


Lebih kompleks dan faktor-faaktor yang menimbulkannya ialah
infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain lain.
2.3.3 Gejala Diare
Menurut Widjaja (2002), gejala diare pada balita yaitu:
a.

Pada bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya
pun meninggi.

b.

Tinja encer, berlendir, atau berdarah.

c.

Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu.

d.

Anus lecet.

e.

Gangguan gizi akibat asupan makanan yang kurang.

f.

Muntah sebelum atau sesudah diare.

g.

Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).

h.

Dehidrasi.

2.3.4 Epidemiologi Diare


Epidemiologi penyakit diare, adalah sebagai berikut (Depkes RI,
2005).

14

a.

Penyebaran kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar


melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang
tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita.
Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman
enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak
memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4/6 bulan pada
pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan
masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar,
tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau
sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan ataumenyuapi
anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

b.

Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare.


Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa
penyakit dan lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai
dua tahun, kurang gizi, campak, immunodefisiensi, dan secara
proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

c.

Faktor lingkungan dan perilaku. Penyakit diare merupakan salah


satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan,
yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan
berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan
tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan
perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan
minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.

15

2.3.5 Etiologi Diare


Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh beberapa faktor,
yaitu: faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi),
makanan dan faktor psikologis.
1.

Faktor infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama
diare pada anak.
Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:
a.

Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang


merupakan penyebab utama

diare pada anak. Meliputi

infeksi enteral sebagai berikut:


1.

Infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella,


Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.

2.

Infeksi virus: Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,


Poliomyelitis) Adenovirus, Rotavirus, Astrivirus dan
lain-lain.

3.

infeksi parasit: Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris,


Strongyloides); protozoa (Entamoeba histolityca, Giardia
lamblia,

Trichomonas

hominis);

jamur

(Candida

albicans).
b.

Infeksi parenteral; infeksi diluar alat pencernaan


makanan seperti: Otitis Media Akut (OMA), tonsillitis/
tonsilofaringitis,

16

bronkopneumonia,

ensefalitis

dan

sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan


anak berumur di bawah 2 tahun.
2.

Faktor Malabsobsi
Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi
karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi
kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat
menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau
sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi
lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut
triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase,
mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika
tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat
muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.

3.

Faktor Makanan
Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang
tercemar, makanan basi, beracun, makanan yang terlalu banyak
lemak, makanan yang mentah (sayuran) dan kurang matang.
Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan
diare pada anak-anak balita.

4.

Faktor Psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak
yang lebih besar).

17

2.3.6 Patofisiologi Diare


Sebagai akibat Diare baik akut maupun kronik akan terjadi:
1.

Kehilangan

air

dan

elektrolit

(terjadi

dehidrasi)

yang

mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis


metabolic, hipokalemia)
2.

Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran


bertambah)

3.

Hipoglikemia

4.

Gangguan sirkulasi darah

5.

Lecet pada anus

6.

Muntah sebelum dan sesudah diare

7.

Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu

8.

Tinja bayi encer, berlendir atau berdarah.

2.3.7 Penanggulangan Diare


Menurut Depkes RI (2005), penanggulangan diare antara lain:
1.

Pengamatan intensif dan pelaksanaan SKD (Sistem Kewaspadaan


Dini)
Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data tentang
jumlah penderita dan kematian serta penderita baru yang belum
dilaporkan dengan melakukan pengumpulan data secara harian
pada daerah fokus dan daerah sekitarnya yang diperkirakan
mempunyai

risiko

tinggi

terjangkitnya

penyakit

diare.

Sedangakan pelaksanaan SKD merupakan salah satu kegiatan dari

18

surveilance epidemiologi yang kegunaanya untuk mewaspadai


gejala akan timbulnya KLB (Kejadian Luar Biasa) diare.
2.

Penemuan kasus secara aktif


Tindakan untuk menghindari terjadinya kematian di lapangan
karena diare pada saat KLB di mana sebagian besar penderita
berada di masyarakat.

3. Pembentukan pusat rehidrasi


Tempat untuk menampung penderita diare yang memerlukan
perawatan dan pengobatan pada keadaan tertentu misalnya lokasi
KLB jauh dari puskesmas atau rumah sakit.
4. Penyediaan logistik saat KLB
Tersedianya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penderita pada
saat terjadinya KLB diare.
5. Penyelidikan terjadinya KLB
Kegiatan yang bertujuan untuk pemutusan mata rantai penularan
dan pengamatan intensif baik terhadap penderita maupun
terhadap faktor risiko.
6. Pemutusan rantai penularan penyebab KLB Pembentukan pusat
rehidrasi.
Upaya pemutusan rantai penularan penyakit diare pada saat KLB
diare meliputi peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan
penyuluhan kesehatan.

19

2.3.8 Pencegahan Diare


Menurut Depkes RI (2000), penyakit diare dapat dicegah melalui
promosi kesehatan antara lain:
1.

Pada balita eningkatkan penggunaan ASI (Air Susu Ibu).

2.

Memperbaiki praktek pemberian makanan pendamping ASI pada


balita.

3.

Penggunaan air bersih yang cukup.

4.

Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

5.

Penggunaan jamban yang benar.

6.

Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan


bayi yang benar.

2.4

Hubungan Sanitasi Lingkungan Terhadap Penyakit Diare


Masalah kesehatan merupakan suatu masalah yang sangat komplek,
yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu
sendiri.
Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu
maupun kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2003).

Menurut model

segitiga epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat interaksi satu sama lain
yaitu antara faktor lingkungan, agent dan host (Timmreck, 2004).
Faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi
penentu pendorong terjadinya diare. Faktor lingkungan merupakan faktor
yang paling penting, sehingga untuk penanggulangan diare diperlukan
upaya perbaikan sanitasi lingkungan (Zubir, 2006). Seseorang yang daya

20

tahan tubuhnya kurang, maka akan mudah terserang penyakit. Penyakit


tersebut antara lain diare, kolera, campak, tifus, malaria, demam berdarah
dan influensa (Slamet, 2002).
Masalah-masalah kesehatan lingkungan antara lain pada sanitasi
(jamban), penyediaan air minum, perumahan, pembuangan sampah dan
pembuangan air limbah (Notoatmodjo, 2003).
Beberapa masalah lingkungan yang berhubungan dengan vector
penyakit adalah :( Depkes RI, 2001 )
1.

Perubahan

lingkungan

pembangunan

fisik

perumahan

dan

oleh

kegiatan

industry

yang

pertambangan,
mengakibatkan

timbulnya tempat berkembang biaknya vector penyakit.


2.

Pembangunan bendungan akan beresiko berkembang biaknya vector


penyakit.

3.

System penyediaan air dengan perpipaan yang belum menjangkau


seluruh penduduk sehingga masih diperlukan container untuk
penampungan penyediaan air.

4.

Sistem drainase pemukiman dan perkotaan yang tidak memenuhi


syarat sehingga menjadi tempat perindukan penyakit.

5.

Sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi syarat menjadikan


sampah sarang vektor penyakit.

6.

Perilaku sebagian masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang


sehat, nyaman dan aman masih belum memadai.

21

7.

Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian vector


penyakit secara kimiawi, beresiko timbulnya keracunan dan
pencemaran lingkungan.

22

23