Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATERNITAS

PLASENTA PREVIA

Disusun oleh :
Kelompok 7

Alfika Safitri
Nur Wahyu Ningsih
Violita Puspitasari

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YATSI


Tangerang
Jl. Raya Prabu Siliwangi (Jl. Raya Pasar Kemis) KM. 3
Tangerang Banten
2014

PLASENTA PREVIA

A. Definisi
Plasenta previa adalah plasenta ada didepan jalan lahir (prae =didepan ; vias:
jalan ). Jadi yang di maksud adalah plasenta yang implantasinya tidak normal ialah
rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebaian ostium internum. Implantasi
plasenta yang normal adalah pada dinding depan atau dinding belakang rahim
didaerah fundus uteri. (winknjosastro, 1999).
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostrium uteri interernum.
Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah
rahim ke arah proksimal memumngkinkan plasenta yang berimplamentasi pada
segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah
plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas
dalam persalinan kala satu bisa menubah luas permukaan serviks yang tertutup oleh
plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa
ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam massa antenatal maupun dalam massa
intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Oleh karena itu,
pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam asuhan antenatal
ataupun intranatal ( ilmu kebidanan hal ; 495 )
B. Klasifikasi
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri internum.
2. Plasenta previa parialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri
internum.
3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berbeda pada pinggir
ostium uteri internum.
4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplementasi pada segmen
bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berbeda pada jarak lebih
kurang 2 cm dari ostium uteri inernum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap
plasenta letak normal.
( ilmu kebidanan hal ;495 - 496 )
C. Etiologi
Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya
plasenta dari dinding uterus, atau robekan sinus

marginalis dari plasenta.

Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen

bawah uteus untuk berkontraksi menghentikan prdarahan itu tidak sebagaimana


serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang
letaknya normal. Makin rendah letak plasenta , makin dini perdarahan terjadi, oleh
karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada
plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.
(Sarwono,2005).
Penyebab blastokista berimplementasi pada segmen bawah rahim belumlah
diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua
di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain
mengemukakakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang
tidak menandai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi,
usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan, miomektomi, dan
sebagainnya berperen dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium
yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor resiko bagi terjadinya plasenta previa.
Cacat bekas bedah

sesar berperan menaikan

insiden dua sampai tiga kali.

Hipoksemia akibat karbon mono oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan


plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar
seperti pada kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan
pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian
atau seluruh ostium uteri internum. ( ilmu kebidanan hal ; 496 )
D. Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ke 3 dan
mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim,
tampak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tampak plasenta
terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua blasis yang bertumbuh menjadi
bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim,
maka plasenta yang berimplementasi di situ sedikit banyak akan mengalami laserasi
akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu
serviks mendatar ( effacement ) dan membuka ( dilatation ) ada bagian tampak
plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi ini akan terjadi perdarahan yang berasal
darisirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Oleh karena
fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahn pada plasenta previa
betapun pasti akan terjadi ( unavoidable bleeding ). Perdarahan di tempat itu relatif
dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak

mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat
minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan
sempurna. Perdarahan akan berhentikarena terjadi pembekuan kecuali jika ada
laserasi mengenai sinus yang besar dari plaasenta pada mana pendarahan akan
berlangsung lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan
berlangsung progresif dan bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian
perdarahan. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (
causeess ). Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri ( painless ).
Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi pada
bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. Sebaliknya, pada plasenta previa
parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau
pendarahan berikutnya. Untuk berjaga jaga mencegah syok hal tersebut perlu
dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan di bawah 30
minggu tatapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu ke atras.
Berhubungan tempat pendarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka
perdarahan lebih mudah mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk hematoma
retroplsenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin
ke dalam sirkulasi maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi kogulopati pada
plasenta previa.
Hal ini yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih
kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta lebih sering
terjadi pada uterus yang sebelumnya bedah sesar, segmen bawah rahim dan serviks
yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat disana.
Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pascapersalinan pada
plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan
sempurna ( retentio placentae ), atau setelah uri lepas karena segmen bawah rahim
tidak mampu berkontraksi dengan baik ( ilmu kebidanan hal ; 496 497 )
E. Gambaran Klinis
Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar
melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir
trismester kedua keatas. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti
sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa

waktu kemudian, jadi berulang. Pada tiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih
banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi
pada waktu mulai persalinan; perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada
solusio plasenta. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu
berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian, perdarahan bisa
berlangsung sampai pascapersalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan
serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah
mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta
dengan tangan misalnya pada retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta.
Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen
sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin
tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa
nyeri dan perut tidak tegang.
F. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil yang
menderita plasenta previa, diantaranya ada yang bisa menimbulkan perdarahan yang
cukup banyak dan fatal.
1. Oleh karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka
pelepasan plasenta dari tempat meletaknya di uterus dapat berulang dan
semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah
sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok.
2. Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat
segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan
invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium
dan menjadi sebab dari terjadi plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta.
Paling ringan adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi
vilinya masih belum masuk ke dalam miomertium. Walaupun biasanya tidak
seluruh permukaan maternal plasenta mengalami akreta atau inkreta akan
tetapi dengan demikian terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta
yang sudah terlepas timbullah perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini
sering terjadi pada uterus yang pernah seksio sesarea. Dilaporkan plasenta

aktera terjadi 10% sampai 35% pada pasien yang pernah seksio sesarea satu
kali, naik menjadi 60% sampai 65% bila telah seksio sesarea tiga kali.
3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah
sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Oleh
karena itu, harus sangat berhati hati pada semua tindakan manual di tempat
ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen
bawah rahim ataupun pada waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada
retensio plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi perdarahan banyak
yang tidak terkendali dengan cara cara yang lebih sederhana seperti
penjahitan segmen bawah rahim, ligasi arteria uterina, ligasi arteria ovarika,
pemasanngan tampon, atau ligasi arteria hipogastrika, maka pada keadaan
yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan histerektomi
total.
4. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini
memaksa

lebih

sering

diambil

tindakan

operasi

dengan

segala

konsekuensinya.
5. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian oleh
karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam
kehamilan belum aterm. Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan
amniosentesias untuk mengetahui kematangan paru janin dan pemberian
kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru janin sebagai upaya
antisipasi.
6. Komplokasi lain dari plasenta previa yang dilaporkan dalam kepustakaan
selain masa rawatan yang lebih lama, adalah beresiko tinggi untuk solusio
plasenta (Risiko Relatif 13,8), seksio sesarea (RR 3,9), kelainan letak janin
(RR 2,8), perdarahan pascapersalinan (RR 1,7), kematian maternal akibat
perdarahan (50%), dan disseminated intravaskuler coagulation (DIC) 15,9%.
G. Vasa Previa
Vasa previa adalah keadaan diman pembuluh darah janin berada di dalam
selaput ketuban dan melewati ostrium uteri internum untuk kemudian sampai ke
dalam insersinya di tali pusat. Perdarahan terjadi bila selaput ketuban yang melewati
pembukaan serviks robek atau pecah dan vaskuler janin itu pun ikut terputus.
Perdarahan antepartum pada vasa previa menyebabkan angka kematian janin yang
tinggi (33% sampai 100%)

Faktor resiko anrtara lain pada plasenta bilobata, plasenta suksenturiata,


plasenta letak rendah, kehamilan pada fertilisasi in virto, dan kehamilan ganda
terutama triplet. Semua keadaan ini berpeluang lebih besar bahwa vaskuler janin
dalam selaput ketuban melewati ostium uteri. Secara teknis keadaan ini dimungkinkan
pada dua situasi yaitu pada insersio velamentosa dan plasenta suksenriata. Pembuluh
darah janin yang melewati pembukaan serviks tidak terlindungi dari bahaya terputus
ketika ketuban pecah dalam persalinan dan janin mengalami akut yang banyak.
Keadaan ini sangat jarang kira kira 1 dalam 1000 sampai 5000 kehamilan.
Untuk berjaga jaga ada baiknya bila dalam asuhan prenatal ketika pemeriksaan USG
dilakukan, perhatian diperluas kepada keadaan ini dengan pemeriksaan transvaginal
Color Dopler ultrasonografi. Bila terduga telah terjadi perdarahan fetal, untuk
konfirmasi dibuat pemeriksaan yang bisa memastikan darah tersebut berasal dari
tubuh janin dengan pemeriksaan APT atau Kleihauer-Betke. Pemeriksaan ini didasari
darah janin yang tahan terhadap suasana alkali. Pemeriksaan yang terbaik adalah
dengan elektroforesis. Bila doagnosis dapat ditegakkan sebelum persalinan, maka
tindakan terpilih untuk menyelamatkan janin adalah melalui bedah sesar.
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Ultrasonografi
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak
menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin.
b. Pemeriksaan Dalam
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak
menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin.
c. Pemeriksaan Darah
Yaitu golongan darah, hemoglobin , hematokrit serta darah lengkap dan kimia
darah untuk menunjang persiapan operasi
d. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian
tubuh janin.
e. Vaginal

Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34
minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup
procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di
ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
I. Pemeriksaan Medis
Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk
penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu :

Kaji kondisi fisik klien


Menganjurkan klien untuk tidak coitus
Menganjurkan klien istirahat
Mengobservasi perdarahan
Memeriksa tanda vital
Memeriksa kadar Hb
Berikan cairan pengganti intravena RL
Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih

premature
Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan <
37 minggu.

J. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PLASENTA PREVIA


1. Pengkajian
Pemeriksaan Fisik
1)

Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil :
a) Rambut dan kulit

Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea


nigra. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan
paha. Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b) Wajah
Mata : pucat, anemis, Hidung, Gigi dan mulut
c)

Leher

d)

Buah dada / payudara


Peningkatan pigmentasi areola putting susu
Bertambahnya ukuran dan noduler

e)

Jantung dan paru


Volume darah meningkat, Peningkatan frekuensi nadi, Penurunan
resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal,
Terjadi hiperventilasi selama kehamilan, Peningkatan volume tidal,
penurunan resistensi jalan nafas, Diafragma meningkat, Perubahan
pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

f) Abdomen
Menentukan letak janin, Menentukan tinggi fundus uteri
g) Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick), Hipertropi epithelium

h) Sistem musculoskeletal
Persendian tulang pinggul yang mengendur, Gaya berjalan yang
canggung, Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan
dengan diastasis rectal
2)

Khusus
a) Tinggi fundus uteri
b)

Posisi dan persentasi janin

c)

Panggul dan janin lahir

d)

Denyut jantung janin

2. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
2) Defisit volume cairan b.d kehilangan volume cairan secara aktif
3) Kecemasan b.d perubahan status kesehatan

3. Intervensi

No
1

Diagnosa Keperawatan

Tujuan / NOC

NIC

NOC :
NIC :
Gangguan
pertukaran
b.d Respiratory status : Gas Posisikan pasien untuk
ketidakseimbangan
perfusi
excange
memaksimalkan
ventilasi
ventilasi
Keseimbangan asam basa,

Auskultasi suara nafas,


elektrolit
catat adanya suara
Respiratory
status
:
tambahan
ventilation

Monitor respirasi dan


Vital sign status
status O2
KH :
Monitor TTV, AGD,

Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi dan

oksigenasi yang adekuat


TTV
dalam
rentang

normal
AGD dalam batas normal

elektrolit dan status


mental
Observasi
sianosis,
khusunya
membran
mukosa

2
Defisit
volume
cairan
b.d NOC :
kehilangan volume cairan secara
Fluid balance
aktif

NIC :

Pertahankan
intake
dan output yang akurat

Monitor status hidrasi


(kelembaban membran
mukosa, nadi adekuat,
tekanan
darah
ortostati)
jika
diperlukan

Monitor vital sign in


setiap 15 menit sampai
1 jam

Kolaborasi pemberian
cairan IV

Hydration
Nutritional status : food
and fluid intake

KH :

TTV dalam batas normal


Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi,
elastisitas
turgor
kulit
baik,
membran
mukosa
lembab,
tidak
ada
rasahaus yang berlebihan

Orientasi terhadap waktu


dan tempat baik

Jumlah dan irama nafaas


dalam batas normal

Elektolit, hb dalam batas


normal

Intake oral dan intravena


adekuat

NOC :
Kecemasan b.d perubahan status
kesehatan

Kontrol kecemasan
Koping

KH :

Klien
mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala
cemas

Mengidentifikasi
,
mengungkapkan
dan
menunjukkkan
tekhnik
untuk
mengontrol
kecemasan

Vital sign in dalam batas


normal

Postur tubuh, ekspresi


wajah, bahasa tubuh, dan
tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

Lampiran

Pathway Plasenta Previa

Etiologi, kehamilan lanjut dan persalinan

NIC :
Gunakan pendekatan
yang menyenangkan
Jelaskan
semua
prosedur dan apa yang
dirasakan
selama
prosedur
Libatkan
keluarga
untuk mendampingi
klien
Instruksikan
pada
pasien
untuk
menggunakan teknik
relaksasi
Identifikasi
tingkat
kecemasan
Bantu
pasien
mengenal situasi yang
menimbulkan
kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakuta,
persepsi
Kelola pemberian obat
anti cemas : ...

Segmen bawah melebar dan menipis

Pembukaan serviks

Plasenta menempel di segmen bawah/plasenta lepas dari dinding uterus

Sinus uterus robek

Perdarahan

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono,2010,ilmu kebidanan, Edisi IX, Jakarta: PT Bina Pustaka.

NANDA. (2012). Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi. 2012-2014. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Rukiyah,yeyeh ai. 2010,Asuhan kebidanan 4 patologi kebidanan, jakarta : katalog dalam
terbitan.