Anda di halaman 1dari 28

INTERPRETASI LAPORAN KEUANGAN DAN

PERSPEKTIF ALTERNATIF TEORI

Bab ini menunjukkan bagaimana analisis rasio dapat digunakan untuk


menginterpretasikan laporan keuangan. Penafsiran ini meliputi profitabilitas,
likuiditas (aliran kas), utang (pinjaman), aktivitas/efisiensi dan laba pemegang
saham. Sebuah studi kasus menunjukkan bagaimana penggunaan rasio dapat
melihat sesuatu di balik angka yang terdapat dalam Laporan Tahunan. Bab ini
diakhiri dengan beberapa kerangka teori alternatif pada pelaporan keuangan.
ANALISIS RASIO
Laporan Laba Rugi (Akun Laba Rugi), neraca dan laporan arus kas dapat
dipelajari dengan menggunakan rasio. Rasio biasanya dua angka, dengan satu
yang dinyatakan sebagai persentase dari yang lain. Analisis rasio dapat digunakan
untuk membantu menafsirkan pertumbuhan atau tren dari tahun ke tahun dengan
membandingkannya dengan kinerja rata-rata industri ataupun kinerja pesaing
secara individu. Analisis rasio dapat digunakan untuk menafsirkan kinerja
terhadap lima kriteria:
tingkat profitabilitas;
likuiditas, yaitu arus kas;
utang, yaitu proporsi pinjaman investasi pemegang saham;
seberapa efisien aset yang digunakan; dan
keuntungan pemegang saham.
Ada beberapa definisi berbeda yang dapat digunakan untuk menjelaskan masingmasing rasio. Namun, yang terpenting bahwa apapun rasio yang digunakan, rasio
sangat berarti bagi dunia bisnis dan harus diterapkan secara konsisten. Rasio yang
paling umum diikuti mengacu pada contoh Laporan Laba Rugi dan Neraca dalam
Bab 6 dan yang diulang di bawah ini di Tabel 7.1, 7.2 dan 7.3.

28

Rasio hampir selalu dinyatakan sebagai persentase (dengan mengalikan


jawaban dengan 100). Berikut contoh yang akan ditampilkan (satuan dalam ribuan
pound).
Tabel 7.1 Laporan Laba Rugi
Turnover (Perputaran)
Dikurangi : Biaya penjualan

2,000,000
1,500,000

Laba Kotor
Dikurangi : Beban Penjualan, Administrasi dan Keuangan

500,000
400,000

Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak

100,000

Tabel 7.2 Laporan Laba Rugi (Lanjutan)


Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak
Dikurangi : Bunga

100,000
16,000

Laba Sebelum Pajak


Dikurangi : Pajak Penghasilan

84,000
14,000

Laba Setelah Pajak


Dikurangi : Deviden

70,000
30,000

Laba Ditahan

40,000
Tabel 7.3. Neraca

Aset Tetap
Aset Lancar
Piutang
Persediaan

1,150,000
300,000
200,000
500,000

Dikurangi: Utang Jatuh Tempo Dalam 1 Tahun


Utang
Overdraf Bank
Aset Lancar Bersih
Total Aset Dikurangi Liabilitas Lancar
Dikurangi: Utang Jatuh Tempo Lebih dari 1 Tahun
Pinjaman Jangka Panjang
Jumlah Aset Bersih
Modal dan Cadangan

300,000
50,000
350,000
150,000
1,300,000
300,000
1,000,000
1,000,000

28

PROFITABILITAS
Return On (Shareholder) Investment (ROI) atau Tingkat Pengembalian Investasi
Laba Bersih Setelah Pajak 70
=
=7%
Dana Pemegang Saham
1,000

Return On Capital Employed (ROCE) atau Tingkat Pengembalian Modal yang


digunakan
Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak
100
=
= 7.7 %
Dana Pemegang Saham + Kewajiban Jangka Panjang 1,000 + 300

Margin Operasi (Laba Operasi/Penjualan)


Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak 100
=
=5%
Penjualan
2,000

Margin Kotor (Laba Kotor/Penjualan)


Laba Kotor 500
=
= 25 %
Penjualan
2,000

Overhead/Penjualan
Overheads 400
=
= 20 %
Penjualan 2,000

Setiap rasio profitabilitas menyediakan metode yang berbeda dalam menafsirkan


profitabilitas.

Kinerja

bisnis

yang

memuaskan

membutuhkan

tingkat

pengembalian yang memadai atas dana pemegang saham dan jumlah modal yang
digunakan dalam bisnis (total investasi pemegang saham dan pemberi pinjaman).
Laba juga harus dicapai sebagai persentase dari penjualan yang harus berkembang
dari tahun ke tahun. Laba operasional dan margin laba kotor menekankan unsurunsur yang berbeda dari kinerja bisnis.
Cara berikutnya yaitu menafsirkan kinerja pertumbuhan penjualan yang
dinyatakan sebagai:

28

Penjualan Tahun 2 Penjualan Tahun 1


Penjualan Tahun 1
Oleh karena itu, penjualan tahun sebelumnya menjadi 1,800 (tanpa merujuk pada
contoh), perkembangan penjualan akan menjadi:
2,000 1,800 200
=
= 11.1 %
1,800
1,800

Bisnis dan pasar saham tidak hanya ingin melihat peningkatan profitabilitas, tetapi
juga peningkatan penjualan yang merupakan ukuran penting dari keberlanjutan
jangka panjang laba.
LIKUIDITAS
Modal Kerja (Working capital)
Aset Lancar
500
=
=143
Liabilitas Lancar 350

Rasio Cepat (Acid test/quick ratio)


Aset Lancar - Persediaan 500200
=
=86
Liabilitas Lancar
350

Sebuah bisnis yang memiliki rasio lancar kurang dari 100% mungkin akan
berpotensi kesulitan dalam membayar utang. Disisi lain, perusahaan yang
memiliki rasio modal kerja yang tinggi mungkin tidak dapat memanfaatkan
asetnya secara efektif.
UTANG
Gearing Ratio (Rasio Utang)
Utang Jangka Panjang
300
=
=23.1
Modal Saham + Utang Jangka Panjang 1,000+ 300

28

Interest Cover (Penutupan Bunga)


Laba Sebelum Bunga dan Pajak 100
=
=6.25 kali
Hutang Bunga
16
Semakin tinggi utang, maka semakin tinggi pula risiko membayar utang dan
bunga. Semakin rendah penutup bunga, semakin banyak tekanan ada pada
keuntungan untuk mendanai biaya bunga. Namun, karena yang digunakan adalah
dana eksternal, maka tingkat keuntungan yang lebih tinggi akan diterima oleh
pemegang saham. Hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian merupakan
bagian penting dalam menafsirkan kinerja bisnis. Perhatikan contoh pada Tabel
7.4 dari risiko dan tingkat pengembalian pada bisnis yang modalnya berasal dari
campuran utang dan ekuitas. Sementara contoh pada Tabel 7.4 tingkat
pengembalian modal yang digunakan adalah tetap 20% (laba usaha sebesar
20,000 dari modal yang digunakan sebesar 100,000), tingkat pengembalian
dana pemegang saham meningkat sebagai utang menggantikan ekuitas.
Peningkatan tingkat pengembalian terhadap pemegang saham ini membawa
sebuah risiko yang meningkat sebagai proporsi keuntungan yang diambil dari
kenaikan beban bunga (dan tercermin dalam rasio penutup bunga). Jika
keuntungan menurun, akan ada lebih banyak resiko lagi yang disebabkan oleh
bisnis seperti ini.
TabeL 7.4. Resiko dan Keuntungan-Efek dari Perbedaan Campuran Hutang
/Ekuitas
100%
Ekuitas

50%
Ekuitas

10%
Ekuitas

50% Utang 90% Utang


Modal yang digunakan

100,000

100,000

100,000

Ekuitas

100,000

50,000

10,000

50,000

90,000

20,000

20,000

20,000

5,000

9,000

20,000

15,000

11,000

6,000

4,500

3,300

Utang
Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak
Bunga 10% dari Utang
Laba Setelah Bunga
Pajak 30%

28

Laba Setelah Pajak


Tingkat Pengembalian Investasi

14,000

10,500

7,700

14%

21%

77%

AKTIVITAS/EFISIENSI
Asset Turnover (Perputaran Aset)
Penjualan
2,000
=
=121
Total Aset 1,150+500

Ini adalah ukuran seberapa efisien aset yang digunakan untuk menghasilkan
penjualan. Tujuan utama investasi aset adalah meningkatkan penjualan.
MENGELOLA PIUTANG
Yang menjadi ukuran utama seberapa efektif piutang dikelola adalah jumlah hari
penjualan belum tertagih. Jumlah hari penjualan belum tertagih adalah:
Piutang
Rata-Rata Penjualan per Hari
Bisnis ini memiliki penjualan sebesar 2 juta dan piutang sebesar 300,000.
Rata-rata penjualan harian adalah sebesar 5,479 ( 2 juta / 365 ). Ada 54.75 ratarata hari penjualan yang luar biasa ( 300,000 / 5,479 ). Target jumlah hari
penjualan belum tertagih akan sangat berfungsi dalam industri dimana ini akan
menjadi masa piutang yang ditawarkan oleh perusahaan dan efisiensi antara
persetujuan kredit dan kegiatan pengumpulan. Manajemen piutang bertujuan
untuk mengurangi penjualan belum tertagih dari waktu ke waktu dan
meminimalkan piutang tak tertagih.
Kebijakan yang diterima akan bertujuan untuk menentukan kelayakan
piutang pelanggan baru sebelum penjualan dilakukan. Hal ini dapat dicapai
dengan memeriksa referensi perdagangan dan perbankan, mencari rekening
perusahaan dan berkonsultasi dengan biro kredit untuk setiap laporan yang
merugikan. Batas kredit dapat ditetapkan untuk setiap pelanggan.

28

Kebijakan penagihan harus memastikan dengan cepat dan akurat terkait


faktur dan pernyataan yang dikeluarkan, dimana setiap pertanyaan yang diselidiki
harus segera diidentifikasi dan terus-menerus ditindak lanjuti (melalui telepon dan
pos), pelanggan yang telat membayar juga harus terus diperhatikan. Diskon dapat
menjadi tawaran yang menarik untuk penyelesaian selama masa piutang. Piutang
tak tertagih dapat terjadi karena bisnis pelanggan gagal. Untuk alasan ini.
perusahaan menetapkan ketentuan (lihat sebelumnya dalam bab ini) untuk
menutupi kemungkinan pelanggan tidak mampu membayar utang mereka.
MENGELOLA PERSEDIAAN
Ukuran utama seberapa efektif persediaan dikelola adalah mengelola perputaran
persediaan (atau stock turn). Perputaran persediaan dirumuskan sebagai:
Penjualan
Persediaan
Contohnya, penjualan adalah 1,5 juta dan persediaan 200,000. Maka
Perputaran persediaan 7.5 ( 1,500,000/ 200,000). Ini berarti bahwa perputaran
persediaan 7.5 kali pertahun atau rata-rata tiap 49 hari (365/7.5). Manajemen
persediaan membutuhkan sistem pengawasan persediaan yang akurat dan
uptodate. Seringkali pada pengawasan persediaan, prinsip Pareto (sering juga
disebut aturan 80/20) diaplikasikan. Aturan ini mengakui bahwa proporsi yang
kecil (20%) dari jumlah persediaan barang menyumbang proporsi yang relatif
besar (80%) dari total nilai. Dalam pengawasan persediaan, analisis ABC
mengambil pendekatan bahwa daripada mencoba untuk mengelola semua item
persediaan secara sama, harus dilakukan upaya untuk memprioritaskan item 'A'
yang menjelaskan sebagian besar nilai, kemudian

item 'B' dan jika waktu

memungkinkan banyak lagi nilai yang dapat didapatkan yaitu nilai item 'C'.
Beberapa bisnis mengadopsi metode just-in-time (JIT) untuk meminimalkan
persediaan, memperlakukan persediaan sebagai sumber daya yang terbuang. JIT
membutuhkan perencanaan produksi yang canggih, pengawasann persediaan dan
pengelolaan rantai pasokan sehingga persediaan hanya diterima ketika diperlukan

28

dalam produksi atau penjualan. Persediaan dapat dihapuskan karena persediaan


hilang, usang atau kerusakan. Untuk alasan ini, perusahaan menetapkan ketentuan
untuk menutupi kemungkinan penghapusan bagian dari nilai persediaan.

MENGELOLA UTANG
Sama seperti pentingnya menagih piutang dari pelanggan, sangat penting juga
untuk memastikan bahwa pemasok dibayar dalam masa pinjaman. Ukuran utama
seberapa efektif utang dikelola adalah jumlah hari belum terbayar. Jumlah hari
belum terbayar:
Utang
Rata-rata Pembayaran per hari
Bisnis memiliki beban pokok penjualan (biasanya pembelian kredit utama, karena
banyak biaya misalnya gaji, sewa dan lain-lain - tidak secara kredit) sebesar 1,5
juta dan utang sebesar 300,000. Pembelian harian rata-rata 4,110
( 1,500,000/365). Oleh karena itu, biasanya rata-rata sebanyak 73 hari pembelian
biasa ( 1,300,000/14,110). Angka ini harus dilaporkan dalam laporan tahunan
perusahaan kepada pemegang saham (lihat Bab 7).
Jumlah hari belum terbayar akan mencerminkan masa utang yang
ditawarkan oleh pemasok, ada diskon yang dapat diperoleh untuk pembayaran
yang cepat dan tindakan koleksi yang diambil oleh pemasok. Kegagalan untuk
membayar utang dapat mengakibatkan hilangnya atau penghentian pasokan, yang
kemudian dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memenuhi pesanan
pelanggan.

TINGKAT PENGEMBALIAN PEMEGANG SAHAM


Untuk rasio ini, dibutuhkan beberapa informasi tambahan :
Jumlah saham yang diterbitkan

100.000

28

Nilai Pasar Saham

2.50

Deviden Per lembar saham (Devidend per share)


Deviden yang Dibayarkan 30,000
=
= 0.30 per saham
Jumlah Saham
100,000

Rasio Deviden yang dibayarkan (Devidend payout ratio)


Deviden yang Dibayarkan 30,000
=
= 43 %
Laba Setelah Pajak
70,000
Hasil Deviden (Devidend yield)
Deviden yang Dibayarkan Per Lembar Saham 0.30
=
= 12%
Harga Pasar Per Lembar Saham
2.50
Laba Per Lembar Saham (Earning per share)
Laba Setelah Pajak 70,000
=
= 0.70 per lembar saham
Jumlah Saham
100,000
Rasio Harga/Laba (Price/Earning (P/E)
Harga Pasar Per Lembar Saham 2.50
=
= 3.57 kali
Laba Per Lembar Saham
0.70
Rasio pemegang saham adalah ukuran dari tingkat pengembalian kepada
pemegang saham atas investasi mereka dalam bisnis. Rasio keuntungan dan
pendapatan mencerminkan tingkat pengembalian tahunan untuk pemegang saham,
sedangkan rasio P/E mengukur jumlah kelebihan tahun di mana investasi dalam
saham akan dikembalikan melalui penghasilan.

PENAFSIRAN INFORMASI KEUANGAN MELALUI RASIO

28

Penafsiran rasio apapun tergantung pada industrinya. Secara khusus, rasio perlu
ditafsirkan sebagai tren dari waktu ke waktu, atau dengan membandingkan rasio
rata-rata industri atau rasio pesaing. Perbandingan ini membantu menentukan
apakah kinerja membaik dan mungkin perbaikan diperlukan. Berdasarkan
pemahaman tentang konteks bisnis dan kondisi persaingan, dan informasi yang
diberikan oleh analisis rasio, pengguna laporan keuangan dapat membuat
penilaian tentang pola kinerja masa lalu dan prospek perusahaan dan kekuatan
keuangan. Secara garis besar, tujuan dari bisnis-bisnis adalah:

meningkatkan tingkat keuntungan dan dana pemegang saham, modal yang


digunakan dan penjualan;

kecukupan likuiditas (rasio aktiva lancar terhadap kewajiban tidak kurang dari
100%) untuk memastikan bahwa utang dapat dibayar saat jatuh tempo, tetapi
tidak dengan tingkat yang berlebihan untuk menyatakan bahwa dana tidak
efisien digunakan;

tingkat utang yang sepadan dengan risiko bisnis yang diambil:

efisiensi tinggi sebagai akibat dari memaksimalkan penjualan dari investasi


bisnis: dan

Tingkat pengembalian memuaskan atas investasi yang dilakukan oleh


pemegang saham.

Ketika mempertimbangkan pergerakan dalam rasio diatas dua tahun atau lebih,
penting untuk melihat kemungkinan penyebab sebuah pergerakan. Ini dapat
diperoleh dengan memahami bahwa baik pembilang (nomor teratas dalam rasio)
atau penyebut (angka bawah dalam rasio) atau keduanya dapat mempengaruhi
perubahan.
Beberapa kemungkinan penjelasan di balik perubahan rasio dijelaskan di
bawah ini.
Profitabilitas
Perbaikan dalam tingkat pengembalian dana pemegang saham (ROI) dan tingkat
modal yang digunakan (ROCE) mungkin dapat terjadi karena keuntungan

28

meningkat atau karena modal yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan


yang telah diubah. Ketika bisnis diambil alih oleh orang lain, salah satu cara untuk
meningkatkan ROI atau ROCE adalah dengan meningkatkan keuntungan dengan
cara mengurangi biaya (sering kali sebagai akibat dari skala ekonomi), tetapi yang
lain adalah untuk mempertahankan keuntungan sekaligus mengurangi aset dan
membayar utang.
Perbaikan operasi profitabilitas sebagai proporsi penjualan (PBIT atau
EBIT) adalah hasil dari pertumbuhan profitabilitas pada tingkat yang lebih cepat
daripada pertumbuhan penjualan, baik hasil dari margin kotor yang lebih tinggi
ataupun biaya yang lebih rendah. Perhatikan bahwa pertumbuhan penjualan dapat
mengakibatkan keuntungan yang lebih tinggi tetapi tidak harus dalam tingkat
yang lebih tinggi dari keuntungan sebagai persentase dari penjualan. Peningkatan
tingkat laba kotor dapat menjadi hasil dari harga jual yang lebih tinggi, harga
pokok penjualan yang lebih rendah, atau perubahan campuran produk/jasa yang
dijual atau segmen pasar yang berbeda di mana mereka dijual, yang mungkin
mencerminkan profitabilitas diferensial. Tentu, penjelasan yang berlawanan
berlaku untuk penurunan profitabilitas.
Likuiditas
Perbaikan dalam modal kerja dan rasio cepat adalah hasil dari perubahan
keseimbangan antara aktiva lancar dan liabilitas lancar. Siklus modal kerja pada
Gambar 6.1 menunjukkan, perubahan uang terbentuk antara utang, saham, bank
dan piutang. Meminjam dalam jangka panjang untuk membiayai aktiva lancar
akan meningkatkan rasio ini, karena keuntungan akan yang menghasilkan arus
kas. Sebaliknya, menggunakan dana lancar untuk membayar pinjaman jangka
panjang atau terjadi kerugian akan mengurangi modal kerja yang digunakan untuk
membayar kreditor.
Utang
Ratio Utang mencerminkan keseimbangan antara utang jangka panjang dan
ekuitas pemegang saham. Perubahan ini merupakan akibat dari perubahan baik

28

dari dana pemegang saham (saham lebih mungkin dikeluarkan), peningkatan


pinjaman baru ataupun pembayaran kembali utang. Seiring dengan peningkatan
utang dalam proporsi dana pemegang saham, rasio utang akan meningkat.
Penutup bunga dapat meningkat sebagai akibat dari keuntungan yang lebih tinggi
atau lebih rendahnya pinjaman (dan mengurangi akibat keuntungan yang lebih
rendah atau pinjaman yang lebih tinggi), tapi bahkan dengan perubahan pinjaman
yang konstan dalam tingkat bunga yang dibayarkan juga akan mempengaruhi
rasio ini.
Aktivitas/Efisiensi
Perputaran aset dapat meningkat karena peningkatan penjualan atau total aset
yang digunakan menurun, situasi ini sama dengan yang dijelaskan di atas untuk
ROCE. Efisiensi dengan piutang tertagih, pengelolaan persediaan dan pembayaran
kreditur juga merupakan ukuran penting.
Tingkat Pengembalian Pemegang Saham
Keputusan yang dibuat oleh direksi mempengaruhi deviden per lembar saham dan
rasio pengeluaran deviden. Deviden adalah keputusan yang dibuat oleh direksi
atas dasar proporsi keuntungan mereka-ingin mendistribusikan dan modal yang
dibutuhkan untuk dipertahankan dalam bisnis untuk mendanai pertumbuhan.
Seringkali, pertimbangan nilai pemegang saham akan menentukan tingkat
dividen, dimana bisnis tidak ingin mengurangi saham dasar. Ini kadang-kadang
terjadi pada keuntungan yang lebih sedikit dan kemudian harus meminjam dana
tambahan untuk mendukung strategi pertumbuhan. Namun, jumlah saham yang
diterbitkan juga akan mempengaruhi. Hal ini karena masalah saham akan
menghasilkan dividen yang lebih rendah per saham kecuali total dividen
meningkat. Karena perusahaan memiliki sedikit pengaruh terhadap harga saham
mereka yang merupakan hasil dari ekspektasi pasar sebanyak kinerja masa lalu,
sementara hasil deviden yang dipengaruhi oleh deviden yang dibayarkan per
lembar saham, lebih mudah dipengaruhi oleh perubahan harga pasar saham.

28

Laba per lembar saham dipengaruhi oleh jumlah saham yang diterbitkan,
seperti untuk profitabilitas, oleh keuntungan dan juga (seperti deviden) jumlah
saham yang diterbitkan. Adapun hasil deviden, rasio harga/laba (P/E) seringkali
lebih merupakan hasil dari perubahan harga saham dibandingkan dengan laba
yang digambarkan dalam laba per saham. Penjelasan untuk perubahan rasio
diilustrasikan dalam studi kasus berikut.

Studi Kasus 7.1 : Ottakars


Menafsirkan Laporan Keuangan
Ottakars memiliki 74 toko buku dan 900 karyawan. Ini adalah penjual buku
spesialis terbesar kedua di Inggris setelah Waterstone. Informasi dalam Tabel 7.5
dan 7.6 telah diambil dari laporan tahunan perusahaan.
Jumlah saham yang diterbitkan adalah 20.121.000 pada tahun 2001 dan
20.082.000 pada tahun 2000. Rasio profitabilitas dapat dilihat pada Tabel 7.7.
Ada pertumbuhan penjualan yang kuat antara tahun 2000 dan 2001.
Meskipun terjadi pertumbuhan, marjin kotor tetap konstan dan laba usaha
terhadap penjualan meningkat. Hal ini karena proporsi penjualan dikonsumsi oleh
overhead (biaya penjualan, distribusi dan administrasi) berkurang dari 36.6%
[(22,707+3,986)/72,9221]

menjadi

34.8%

[(26,219+3,797)/86,287].

Laba

operasional lebih dari dua kali lipat (dari 1,678 sampai 3,516) dan laba setelah
pajak meningkat dari 463 sampai 1,792 (semua angka dalam 000). Sebagai
pemegang saham dana hanya meningkat 10%.
Tabel 7.5. Akun Laba Rugi Ottakars
Dalam 000

2001

2000

Penjualan

86.287

72.922

-52.755

-44.551

33.532

28.371

-26.219

-22.707

Harga Pokok Penjualan


Laba Kotor
Biaya penjualan dan distribusi

28

Beban Administrasi

-3.797

-3.968

3.516

1.678

-336

3.520

1.342

-727

-562

2.796

782

Pajak pada Laba kegiatan biasa

-1.004

-319

Laba pada periode keuangan

1.792

463

-503

-302

Laba Ditahan untuk satu periode ekuitas pemegang saham

1.289

161

Laba Per Lembar Saham

8,91p

2.31p

Laba Operasi
Laba/(Rugi) pada Penyelesaian Aset tetap
Laba sebelum Bunga dan Pajak
Penerimaan Bunga Lain dan Pendapatan Lainnya
Pembayaran Bunga dan Biaya Lainnya
Laba pada kegiatan biasa sebelum pajak

Deviden dan Sumbangan/Pemberian

Catatan: Akun Laba Rugi telah digunakan pada laporan keuangan sebelum IFRS
diperkenalkan

Tabel 7.6. Neraca Ottakars


Dalam 000
Aset Tetap
Aset Tidak Berwujud
Aset Berwujud

2001

2000

793
17,692
18,485

838
17,187
18,025

14,692
2,798
370
17,680

13,601
2,612
16,213

-14,379
3,481
21,966

-13,729
2,484
20,509

-7,920
-403
13,643

-7,948
-207
12,354

1,006
6,041
512

1,006
6,041
512

Aset Lancar
Persediaan
Piutang1
Kas di tangan dan di bank
Utang:
Jumlah jatuh tempo dalam satu tahun2
Aset Lancar Bersih
Total aset dikurangi liabilitas lancar
Utang:
Jumlah jatuh tempo lebih dari satu tahun
Provisi untuk kewajiban dan biaya
Aset Bersih
Modal dan Cadangan
Modal Saham
Akun Saham Premium
Cadangan Pelunasan Modal

28

Akun Laba Rugi


Ekuitas Dana Pemegang Saham
Catatan:

6,084
13,643

4,795
12,354

Catatan mengungkapkan tentang dominasi system prabayar, dimana perdagangan

piutang hanya sebesar 301,000


2

Catatan mengungkapkan tentang kewajiban lancar, perdagangan kreditur sebesar


10,027, dan akrual sebesar 3,117 (untuk tahun 2000, perdagangan kreditur sebesar
8,695)

dan modal yang digunakan hanya 6%, laba atas kedua langkah investasi
menunjukkan peningkatan yang kuat.
Rasio likuiditas ditunjukkan pada Tabel 7.8. Sementara rasio modal kerja yang
sehat, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki dana yang cukup untuk
membayar utang-utangnya, tes acid mengungkapkan bahwa setelah dikurangi
persediaan, perusahaan hanya memiliki sekitar 22% dari aset untuk menutupi
kewajiban jangka pendeknya. Ini berarti bahwa itu tergantung pada penjualan
buku di saham untuk membayar pemasok untuk buku-buku tersebut. Pengukuran
efisiensi yang mendukung hal ini (dapat dilihat dibawah ini).
Rasio untuk utang ditunjukan pada Tabel 7.9. Rasio ini mencerminkan
pengurangan utang jangka panjang dan peningkatan dana pemegang saham.
Meskipun telah ada peningkatan beban bunga, peningkatan keuntungan operasi
dua kali lipat penutupan bunga. Pinjamannya adalah sepertiga dari modal yang
digunakan, yang cukup konservatif, sementara penutup bunga menyediakan
keamanan yang baik untuk pemberi pinjaman.
Rasio aktivitas/efisiensi dapat dilihat pada Tabel 7.10. Meskipun basis
aset yang lebih tinggi, kenaikan penjualan 18.3% mengakibatkan rasio efisiensi
ditingkatkan. Seperti tercermin dalam rasio cepat (acid test).
Tabel 7.7 Rasio Profitabilitas Ottakars
2001
Tingkat
pengembalian
Pemegang Saham
Tingkat pengembalian
yang digunakan

2000

Dana

1,792

463

Modal

13,643
=13.1%
3,516

12,354
=3.7%
1,678

21.563

20.302

28

(13.643+7.920)
= 16.3%
3,561
86,287
= 4.1%
33,532
86.287
=38,9%
86,287-72,922
72,922
=18.3%

Laba Operasi

Laba Kotor

Pertumbuhan Penjualan

(12.354+7.948)
= 8.3%
1,678
72,922
=2.3%
28,371
72.922
=38,9%

Tabel 7.8. Rasio Likuiditas Ottakars


Modal Kerja
Rasio Cepat (Acid Test)

Utang
Penutupan Bunga

2001
17,860
14,379
=124.2%
3,168 (17,860-14,692)
14,379
=22.0%

2000
16,213
13,729
=118.1%
2,612 (16,213-13,601)
13,729
=19.0%

Tabel 7.9. Rasio Utang Ottakars


2001
2000
7,920
7,948
21,563 (13,643+7,920)
20,302 (7,948+12,354)
=36.7%
= 39.1%
3,520
1,342
727
562
= 4.8 kali
= 2.4 kali

Tabel 7.10. Rasio Aktivitas/Efisiensi Ottakars


Perputaran Aset
Perputaran Persediaan

Jumlah hari kreditur

2001
86,287
36,345 (18,485+17,860)
= 237%
52,755
14,692
= 3,6 perputaran
= 101 hari (365/3.6)
10,027
145 (52,755/365)
= 69 hari

28

2000
72,922
34,238 (18,025+16,213)
=213%
44,551
13,601
= 3,27 perputaran
= 112 hari (365/3.27)
8,695
122 (44,551/365)
= 71 hari

Tabel 7.11. Rasio Tingkat Pengembalian Pemegang Saham Ottakars


2001
503,000
20,121,000
= 2.5p

2000
302,000
20,082,000
= 1.5p

per lembar saham


503
1,792
= 28%

per lembar saham


302
463
= 65%

Deviden per Lembar Saham


Rasio Pembayaran Deviden

Laba Bersih per Saham


(Diungkapkan dalam akun Laba Rugi)

ratio (Tabel 7.8), modal kerja dipengaruhi secara signifikan oleh perputaran saham
yang rendah (3.6 berarti bahwa pada buku rata-rata diadakan selama 101 hari
sebelum dijual). Hal ini juga tercermin dalam rata-rata waktu yang dibutuhkan
untuk membayar kreditur (lebih dari dua bulan). Namun, rasio menunjukkan
sedikit perbaikan antara tahun 2000 dan 2001 sebagai aktiva lancar meningkat
lebih dari kewajiban lancar, saham gilirannya. lebih tinggi dan kreditur
pembayaran lebih cepat. Perhatikan bahwa hampir tidak ada debitur perdagangan
sebagai bisnis ritel toko buku daerah, akibatnya ukuran hari debitur tidak berarti.
Rasio laba pemegang saham ditunjukkan pada Tabel 7.11. Peningkatan
laba antara tahun 2000 dan 2001 menghasilkan peningkatan laba per lembar
saham dan pembayaran dividen yang lebih tinggi secara tunai, meskipun
persentase keuntungan dibayarkan dividen dikurangi.
Seperti yang telah ditunjukkan di awal-bab, dua tahun. periode ini terlalu
singkat untuk menarik kesimpulan yang berarti dan kita harus melihat rasio
selama lima tahun untuk mengidentifikasi tren secara benar. Tabel 7.12
menunjukkan beberapa informasi dari kumpulan lima tahun kinerja dalam laporan
tahunan Ottakars. Angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan penjualan selama;

28

lima tahun lebih jelas daripada rasio dua tahun, meskipun peningkatan laba telah
jauh lebih rendah. Hal ini juga menunjukkan bahwa tahun 2000 mengalami
penurunan laba yang berada di luar tren. Dengan menghitung rasio di Table.7.13
kita dapat melihat hal ini lebih jelas.
Tabel 7.12. Ringkasan Kinerja Ottakars Selama 5 Tahun
Dalam 000
Penjualan
Laba Kotor
Laba Operasi
Laba Per Lembar Saham

1997
23,710
9,100
1,276
7.78p

1998
38,649
14,988
2,619
10.61p

1999
57,316
22,343
3,312
12.36p

2000
72,922
28,371
1,678
2.31p

2001
86,287
33,532
3,516
8.91p

Tabel 7.13. Rasio Ottakars berdasarkan Ringkasan Kinerja Selama 5 Tahun


Dalam 000
Pertumbuhan Penjualan
Margin Kotor
Laba Operasi

1997

1998
1999
2000
2001
+63% +48.3% +27.2% +18.3%
38.8%
39.0%
38.9% 38.9%
6.8%
5.8%
2.3%
4.1%

38.4%
5.4%

Meskipun penjualan terus meningkat, akan tetapi laju pertumbuhan


penjualan melambat. Tingkat laba kotor terhadap penjualan sangat stabil (indikasi
margin diperbolehkan oleh penerbit buku), sementara laba operasi berfluktuasi
(mungkin refleksi dari biaya yang dikeluarkan untuk membuka toko buku baru,
faktor lokasi, kesamaan dengan beberapa bisnis ritel merupakan aspek kunci
keberhasilan). Laporan tahunan Ottakars menjelaskan bahwa pasar buku harus
mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 4-5%, tetapi rantai besar harus
mendapatkan pangsa pasar dengan mengorbankan pesaing mereka yang lebih
lemah.
Penting untuk diingat bahwa analisis rasio dapat digunakan tidak hanya
dalam kaitannya dengan organisasi manajer sendiri, tetapi juga dalam kaitannya
dengan laporan keuangan pesaing, pelanggan dan pemasok. Ini merupakan aspek
akuntansi manajemen strategis yang telah dibahas dalam Bab 4.

KETERBATASAN ANALISIS RASIO

28

Sebagaimana telah kita lihat dalam kaitannya dengan perkiraan seperti


akrual, depresiasi, amortisasi goodwill dan provisi (lihat Bab 6), laporan akuntansi
mengandung informasi perkiraan yang melibatkan subjektivitas yang tinggi. Ada
juga beberapa fleksibilitas mengenai penerapan aturan akuntansi (seperti yang
akan kita lihat dalam Bab 8). Penilaian ini mempengaruhi angka yang digunakan
dalam analisis rasio.
Laporan keuangan adalah catatan masa lalu. Inflasi juga dapat
berdampak pada penilaian terhadap laporan keuangan, terutama pada aset dalam
Neraca yang diadakan pada masa lalu selama bertahun-tahun. Neraca, harus
diakui, hanyalah 'potret' dari aset dan kewajiban pada hari terakhir tahun
pelaporan. Rasio merupakan nilai sederhana kecuali dihitung selama beberapa
tahun menggunakan analisis tren atau pertumbuhan sehingga dapat diidentifikasi
dan dibandingkan dengan organisasi serupa untuk tujuan perbandingan.
Terakhir, ada definisi yang berbeda terkait rasio yang digunakan dalam
buku teks dan oleh para analis laporan keuangan. Penggunaan secara konsisten
definisi rasio lebih penting daripada definisi tertentu yang dipilih.Akibatnya,
ketelitian harus dilakukan dalam menghitung dan menafsirkan rasio dan waktu
harus dihabiskan untuk memahami kondisi ekonomi dan kompetitif dan konteks
industri dan organisasi yang rasio sedang ditafsirkan. Pemahaman kontekstual
yang lebih luas dapat diperoleh dengan membaca Laporan Tahunan perusahaan
(lihat Bab 9), dengan membaca media keuangan dan perdagangan, laporan
internet, laporan analis dan lain-lain yang memberikan informasi yang lebih luas
tentang perubahan ekonomi, industri, kondisi persaingan, masalah rantai
persediaan, perilaku pelanggan, perubahan peraturan dan lain-lain.
TEORI PERSPEKTIF ALTERNATIF PADA LAPORAN KEUANGAN
Bab 6 yang menggambarkan teori perspektif tradisional pada informasi laporan
keuangan merupakan teori keagenan. Kami sekarang mempertimbangkan
beberapa perspektif alternatif: modal intelektual dan teori institusional. Kami juga
memperkenalkan akuntansi kreatif dan etika akuntansi.
MODAL INTELEKTUAL

28

Edvinsson dan Malone (1997) mendefinisikan modal intelektual sebagai faktor


dinamis tersembunyi yang mendasari visi perusahaan (hal.11). Stewart (1997)
mendefinisikan modal intelektual sebagai merumuskan, menangkap dan
mempengaruhi pengetahuan (hal. 68).
Modal intelektual adalah keterangan/informasi yang menarik akuntan
dalam meningkatkan pengetahuan berbasis ekonomi dimana keterbatasan laporan
keuangan tradisional sebagai alat pendukung dalam proses pengambilan
keputusan tidak lagi sepenuhnya relevan (Guthrie, 2001). Tiga dimensi modal
intelektual telah diidentifikasi dalam literatur: manusia (mengembangkan dan
memanfaatkan pengetahuan individu dan keterampilan): organisasi (struktur
internal, sistem dan prosedur); dan pelanggan (loyalitas, merek, dll).
Pengungkapan informasi tentang modal intelektual sebagai ekstensi untuk
pelaporan keuangan telah diusulkan oleh berbagai akademisi akuntansi. Contoh
yang paling dipublikasikan adalah Skandia Navigator (lihat Edvinsson dan
Malone, 1997).
Sementara kebanyakan bisnis mendukung komitmen karyawan dan nilai
pengetahuan mereka, serta beberapa bentuk tanggung jawab sosial dan
lingkungan, hal ini sering hanya retorika. fasad untuk menenangkan kelompok
kepentingan stakeholders. Pengaturan kelembagaan organisasi memberikan
perspektif lain dari yang untuk melihat akuntansi dan pelaporan.
TEORI INSTITUSIONAL
Teori institusional berharga karena menempatkan organisasi dalam latar belakang
sejarah dan kontekstualnya. Hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk legitimasi
dan pada proses isomorfik. Scott (1995) menjelaskan legitimasi sebagai hasil dari
organisasi tergantung, untuk sebagian besar atau lebih kecil, dukungan dari
lingkungan untuk kelangsungan hidup mereka dan operasi lanjutan. Organisasi
membutuhkan dukungan dari lembaga pemerintah mana operasi mereka diatur
(dan beberapa organisasi tidak diatur dalam beberapa bentuk atau lainnya).
Organisasi juga tergantung pada akuisisi sumberdaya (tenaga kerja, uang,
teknologi, dan lain-lain) untuk tujuannya. Jika sebuah organisasi tidak memiliki

28

legalitas. mungkin akan dikenakan sanksi yang bersifat hukum, ekonomi atau
sosial.
Aspek penting kedua kekuatan institusional adalah operasi isomorphism,
kecenderungan untuk organisasi yang berbeda untuk mengadopsi karakteristik
serupa. DiMaggio dan Powell (198,3) mengidentifikasi 3 (tiga) bentuk
isomorphism: coercive, sebagai akibat dari pengaruh politik dan kebutuhan untuk
mendapatkan legitimasi; mimetic, respon standar ketidakpastian: dan normatif,
terkait dengan profesionalisme. Mereka menyatakan bahwa kecenderungan
isomorfik antara organisasi adalah hasil dari sistem kepercayaan yang lebih luas
dan acuan budaya. Proses pendidikan, gerakan antar-organisasi personil dan
profesionalisme menekankan sistem kepercayaan dan nilai-nilai budaya pada
tingkat institusi, dan memfasilitasi proses mimetic yang mengakibatkan organisasi
meniru organisasi lainnya. Kecenderungan isomorfik ada karena organisasi
bersaing tidak hanya untuk sumber daya dan pelanggan, tapi untuk kekuasaan
politik dan legitimasi institusi, untuk kepentingan sosial serta ekonomi yang sehat'
(DiMaggio dan Powell. 1983, hal.150)
Legitimasi dan proses isomorfik ini menjadi diterima oleh organisasi
karena mereka berusaha untuk memenuhi kepuasan tuntutan regulator eksternal,
pemasok

sumber

daya

dan

kelompok

profesional.

Ini diambil

untuk

membernarkan proses itu sendiri menjadi system dan proses yang dilembagakan
termasuk akuntansi dan pelaporan yang akan diadopsi oleh organisasi. Meyer
(1994) menyatakan bahwa akuntansi muncul dalam menanggapi tuntutan yang
dibuat oleh unsur-unsur yang kuat dalam lingkungan di mana organisasi
bergantung (hal. 122).
Institusi investor (perusahaan asuransi dan dana pensiun, meskipun
demikian bukan satu-satunya arti 'lembaga') sendiri lebih dari sepertiga saham
Inggris yang terdaftar, dengan lebih sepertiga yang dimiliki oleh investor luar
negeri (setengah dari di Amerika bertinta, pada tahun 1963, individu yang dimiliki
54% saham di perusahaan Inggris tetapi pada tahun 2003 angka ini turun menjadi
15%. Salah satu masalah yang timbul dari perubahan pola kepemilikan saham di
Inggris telah kelembagaan aktivisme investor, atau lebih tepatnya kurangnya itu

28

Hal ini mulai berubah dan beberapa investor institusi menjadi lebih aktif dalam
Dewan memegang lebih bertanggung jawab atas kinerja mereka. Ini telah
setidaknya sebagian respon terhadap kegagalan perusahaan besar seperti Enron
dan WorldCom dan pentingnya peningkatan diberikan kepada tata kelola
perusahaan (lihat Bab 9)
Masing-masing perspektif teoritis memberikan pandangan yang berbeda
dari peran penyusun dan kebutuhan pengguna laporan keuangan. Perspektif ini
juga diikuti hingga pengguna informasi akuntansi manajemen. Namun, seperti
yang telah kita disarankan sebelumnya dalam buku ini, akuntansi bukan tanpa
keterbatasan. Sebuah studi kasus berfungsi untuk menyoroti keterbatasan ini.
Studi Kasus 7.2. Carrington Printers-Sebuah Kritik Akuntansi
Carrington Printers merupakan perusahaan pribadi yang telah berusia
sekitar 100 tahun dan mempekerjakan sekitar 100 pekerja dan beroperasi di
tempat sendiri di sebuah kota berukuran menengah. Meskipun perusahaan sedang
terlilit hutang dan telah beroperasi dengan kerugian kecil untuk tiga tahun
terakhir, perusahaan memiliki neraca yang cukup kuat dan memilki basis
pelanggan yang baik yang tersebar pada wilayah yang luas. Secara sederhana,
Neraca Carrington ditampilkan pada tabel 7.14.
Tabel 7.14. Neraca Carrington Printers
Aset Tetap
Biaya Depresiasi Tanah dan Bangunan
Biaya Depresiasi Pabrik dan Peralatan
Aset Lancar
Piutang
Persediaan

1,000,000
450,000
1,450,000
500,000
450,000
950,000

Dikurangi Kreditur Jatuh Tempo Dalam Satu Tahun


Utang
Overdraft Bank
Total Kewajiban Bersih
Total aset dikurangi kewajiban lancar
Dikurangi kreditor jatuh tempo setelah satu tahun
Total Aset Bersih

28

850,000
250,000
1,100,000
-150,000
1,300,000
-750,000
550,000

Modal dan Cadangan


Penempatan Modal
Akun Laba Rugi
Dana Pemegang Saham

100,000
450,000
550,000

Sifat industri percetakan pada saat rekening disiapkan adalah bahwa ada
kelebihan kapasitas produksi dan dibanding tahun sebelumnya perang harga telah
terjadi antara pesaing untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada dan
memenangkan pelanggan baru. Efek ini telah memberi dampak harga jual (dan
akibatnya margin keuntungan) telah jatuh di seluruh industri. Pabrik dan peralatan
Carrington cukup lama dan tidak cocok untuk beberapa pekerjaan yang ia
menangkan. Akibatnya, beberapa pekerjaan yang sedang diproduksi secara tidak
efisien, dengan dampak yang merugikan pada margin keuntungan. Sebelum akhir
tahun direktur penjualan telah meninggalkan perusahaan dan telah mempengaruhi
banyak pelanggan Carrington, dengan siapa ia telah membentuk hubungan yang
baik, untuk pindah ke majikan barunya. Selama beberapa bulan, penjualan
Carrington mulai turun secara signifikan.
Kehilangan penjualan dan margin memburuk pada beberapa bisnis yang
terkena arus kas. Perusahaan percetakan biasanya membawa stok kertas besar
dalam berbagai bobot, ukuran dan warna, sedangkan pelanggan sering memakan
waktu hingga 60 hari untuk membayar rekening mereka. Karena pembayaran
pajak dan karyawan menjadi prioritas, pemasok sering menjadi kelompok terakhir
yang dibayar. Pemasok utama adalah pedagang kertas, yang menghentikan
pasokan ketika pelanggan mereka tidak membayar tepat waktu. Konsekuensi dari
kesulitan arus kas Carrington adalah pemasok membatasi pasokan kertas yang
Carrington perlukan untuk memenuhi pesanan pelanggan.
Tak satu pun dari peristiwa ini tercermin dalam laporan keuangan dan
auditor, sebagian besar tidak menyadari perubahan kondisi pasar, memiliki sedikit
pemahaman tentang tahap yang merugikan. Sebagai akibat dari masalah yang
diidentifikasi diatas, Carrington mendekati bankir untuk pinjaman tambahan.
Namun, para bankir menolak, percaya bahwa pinjaman yang ada telah mencapai
prosentase maksimum nilai aset terhadap yang mereka siapkan untuk

28

dipinjamkan. Perusahaan berusaha melakukan penjualan dan penyewaan kembali


tanah dan bangunan (di mana seorang pembeli membayar harga pasar untuk
properti, dengan Carrington menjadi penyewa pada sewa jangka panjang).
Namun, investor yang tertarik pada properti tidak puas jika Carrington dikatakan
sebagai penyewa yang layak dan properti tidak dapat dijual atas dasar itu.
Tekanan aliran kas terus terjadi dan pemegang saham didekati untuk
menyetorkan tambahan modal. Mereka tidak mampu melakukannya dan enam
bulan setelah Neraca diproduksi perusahaan runtuh, dan ditempatkan ke kurator
dan kemudian dilikuidasi oleh bankir tersebut. Likuidator ditemukan, seperti
umumnya yang terjadi di perusahaan gagal, bahwa nilai-nilai dalam Neraca yang
jauh lebih tinggi daripada aset yang bisa dijual untuk itu. Secara khusus:
Tanah dan bangunan yang dijual yang kurang dari penilaian independen telah
disarankan sebagai properti sekarang akan menjadi kosong.
Pabrik dan mesin yang hampir tidak berharga mengingat usia dan kondisi dan
kelebihan kapasitas dalam industri pada saat itu.
Piutang dikumpulkan dengan jumlah besar yang ditulis utang buruk. Pelanggan
sering menolak untuk membayar rekening memberikan alasan palsu dan sering
tidak berharga bagi likuidator untuk mengejar tindakan penagihan melalui
pengadilan.
Persediaan ditemukan menjadi sebagian besar tidak berharga. Saham substansial
kertas ditemukan telah diselenggarakan untuk waktu yang lama dengan sedikit
kemungkinan pernah digunakan dan printer lain tidak bersedia untuk membayar
lebih dari sebagian kecil dari biaya.
Karena bankir memiliki keamanan atas sebagian besar aset Carrington,
hampir tidak ada dana yang tersisa setelah pembayaran kembali pinjaman bank
untuk membayar kreditur tanpa jaminan.
Kasus ini menimbulkan beberapa isu penting tentang nilai laporan keuangan yang
diaudit:
1. Pentingnya memahami konteks bisnis, yaitu bagaimana kondisi pasar dan
campuran yang produk atau jasa yang berubah dari waktu ke waktu, dan
seberapa baik bisnis ini mampu beradaptasi dengan perubahan ini.

28

2. Penyusunan laporan keuangan mengasumsikan kelangsungan, tapi keadaan


yang dihadapi oleh tiap bisnis dapat berubah dengan cepat dan Neraca dapat
menjadi dokumen berarti.
3. Auditor mengandalkan informasi dari direksi tentang risiko signifikan yang
mempengaruhi perusahaan. Para direktur tidak sengaja menipu auditor, tapi
benar-benar percaya bahwa bisnis bisa berbalik menjadi keuntungan dengan
memenangkan kembali pelanggan. Mereka juga percaya bahwa persediaan
yang besar akan memenuhi pesanan pelanggan di masa depan. Para direktur
juga benar-benar percaya bahwa properti bisa dijual untuk menghilangkan
utang. Hal ini tidak dipertanyakan lagi oleh auditor.
AKUNTANSI KREATIF DAN ETIKA

Pilihan akuntansi menurut francis adalah pilihan moral:


Akuntansi sangat penting bagi seseorang untuk mengembangkan diri
sehingga

akuntan

dapat

mengubah

dunia,

dapat

mempengaruhi

pengalaman hidup orang lain dengan cara-cara yang didasarkan pada


pengalaman yang berbeda dari apa yang akan dilakukan tanpa adanya
akuntansi, atau dengan adanya sebuah pilihan lain dari akuntansi (dikutip
dalam Gowthorpe dan Blake, 1998, hal. 3).
Akuntansi kreatif adalah proses artifisial dalam memanipulasi angka akuntansi
dengan mengambil keuntungan dari celah dalam standar akuntansi atau membuat
perkiraan atau keputusan yang tidak realistis, yang tujuannya adalah untuk
menyajikan laporan keuangan dengan cara yang lebih disukai pemegang saham
atau pemangku kepentingan lainnya.
Praktek akuntansi kreatif telah dibenarkan oleh manajer karena alasan
perataan laba, untuk membawa keuntungan lebih dekat dengan perkiraan;
perubahan kebijakan akuntansi untuk mengalihkan perhatian dari kinerja yang
buruk; atau mempertahankan atau meningkatkan harga saham (Gowthorpe dan
Blake, 1998).
Metode akuntansi umum yang kreatif, meliputi:

Di bawah atau melebih-lebihkan persediaan.

28

Depresiasi atau aset diamortisasi selama periode lebih pendek atau lebih.

Memanfaatkan atau tidak memanfaatkan pengeluaran (misalnya menentukan


kapan beban adalah perbaikan atau peningkatan aset).

Menggunakan akrual untuk membuat cadangan tersembunyi dan atau


pergeseran keuntungan antara periode keuangan.

Meningkatkan atau menurunkan provisi (misalnya piutang tidak tertagih).


Meskipun ada peran standar akuntansi dan peraturan lainnya, akuntansi

kreatif selalu memainkan bagian dalam upaya yang dilakukan oleh beberapa
perusahaan untuk menyajikan penampilan mereka dalam tampilan yang lebih
baik. Griffiths (1986) mengomentari kekuatan analis keuangan dan penasihat
investasi di Kota (London) dan tujuan direktur perusahaan untuk menyajikan
bisnis karena memiliki pertumbuhan yang stabil dalam pendapatan dan
keuntungan. Keinginan untuk efek yang lancar dapat dicapai dengan praktekpraktek seperti akrual, valuasi saham, membuat atau mengurangi provisi,
memanfaatkan atau membebankan biaya (biaya kapitalisasi asset) dan
pembiayaan Neraca (menciptakan entitas tujuan khusus yang menyembunyikan
kewajiban dari pemegang saham, yang merupakan faktor utama dalam kejatuhan
Enron di Amerika Serikat). Sementara akuntansi kreatif telah disetujui,
manajemen laba belum disetujui. Di bawah manajemen laba, direksi bertujuan
untuk memenuhi ekspektasi pasar yang dipengaruhi oleh analis saham.
Smith (1992) menggambarkan teknik yang diadopsi oleh perusahaanperusahaan dan menyatakan bahwa banyak dari pertumbuhan keuntungan yang
terjadi pada 1980-an adalah hasil dari rekayasa akuntansi bukan dari pertumbuhan
ekonomi asli (hal. 4). Namun, meskipun standar akuntansi terus meningkat, selalu
ada jalan keluar yang akuntan temukan dengan cepat sebagai suatu standar baru
yang dihasilkan.
Richardson dan Richardson (1998) menekankan peran akuntan dalam
organisasi. Mereka menempati posisi khusus yang istimewa karena mereka dapat
memberikan informasi yang memiliki potensi untuk mengungkapkan perilaku
manajemen puncak yang menyimpang, yang dapat menyebabkan biaya sosial dan

28

emosional bagi para pemangku kepentingan yang tidak bersalah dan kegagalan
perusahaan (seperti yang disebabkan oleh Robert Maxwell dan Polly Pecks Asil
Nadir).

KESIMPULAN
Bab ini telah menyediakan alat untuk menganalisis informasi keuangan yaitu
profitabilitas, likuiditas, utang, efisiensi dan laba pemegang saham. Selain itu, bab
ini juga mengidentifikasi beberapa keterbatasan analisis laporan keuangan.
Penetapan laporan keuangan dalam konteks kerangka teoritis alternatif dapat
memberikan perspektif yang berbeda pada informasi akuntansi. Dalam kata-kata
Bebbington et al. (2001), praktek akuntansi adalah hasil dari 'kebiasaan, sejarah,
hukum dan kemanfaatan, serta pilihan sosial, politik dan ekonomi' (hal. 8).
Perspektif alternatif ini terus berlanjut sepanjang bagian ketiga dari buku ini.
Setelah Anda membaca bab ini, Anda harus:

Merevisi pemahaman Anda tentang istilah akuntansi. Istilah dalam Bagian IV


adalah sebuah bantuan yang sangat membantu.

Mempraktikan pertanyaan pada bab ini dan kemudian memeriksa jawaban


Anda terhadap solusi. Pertanyaan untuk setiap bab dalam Lampiran 1. Solusi
ada pada Lampiran 2.

Studi Kasus 1. Ini akan membantu Anda untuk menafsirkan informasi


akuntansi. Cobalah untuk menulis jawaban. Studi Kasus dalam Lampiran 3 dan
solusi yang disarankan ada dalam Lampiran 4.

REFERENSI
Bebbington, J., Gray. R. and Laughlin, R. (2001). Financial Accounting: Practice
and Principles (3rd edn). London:Thomson Learning

28

Blake. J. (1997). Accounting Standarts. (6th edn). London: Financial


Times/Pitman Publishing
DiMaggio, P.J. and Powel. W. W. (1983). The iron cage revisited: Institusional
isomorphism and collective rationality in organizational field. American
Sociological Review. 48, 147-60
Edvinsson. L., and Malone. M.S. (1997). Intellectual Capital. London: Piatkus
Gowthorpe. C. and Blake. J. (eds) (1998). Ethical Issues in Accounting, London:
Routledge
Griffiths, I. (1986). Creative Accounting: How to Make Your Profits What You
Want Them to Be. London: Waterstone
Guthrie, J. (2001). The management, measurement and the reporting of
intellectual capital. Journal of Intellectual Capital. 2 (1). 27-41
Meyer. J. W. (1994). Social environment and Organizational Accounting. In W. R.
Scott ang J. W. Meyer (eds). Institutional Environment and
Organizations: Structural Complexity and Individuality. Thousand Oaks.
CA: Saga Publication
Richardson, S. and Richardson B. (1998). The accountant as whistleblower. In C.
Gowthorpe and J. Blake (eds). Ethical Issues in Accounting, London:
Routledge
Scott, W. R. (1995). Institutions and Organizations. Thousand Oaks. CA: Saga
Publication
Smith. T. (1992). Accounting for Growth: Stripping the Camouflage From
Company Accounts. London: Century Business
Stewart, T. A. (1997). Intellectual Capital: The New Wealth of Organization.
London: Nicholas Brealey Publishing

28