Anda di halaman 1dari 5

1.

Pendahuluan
Dalam era modern seperti saat ini, bumi seakan akan bergantung pada energi fosil.
Minyak dan gas bumi merupakan salah satu energi terbesar yang digunakan manusia. Mulai
dari bidang transportasi, bidang industri dan semua bidang-bidang yang berhubungan dengan
aktivitas manusia. Sehingga eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi selalu digencargencarkan. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, proses eksplorasi dan
eksploitasi minyak dan gas bumi juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal itu
juga disebabkan oleh semakin sulitnya eksploitasi minyak dan gas bumi yang mengharuskan
manusia untuk berfikir lebih maju. Saat ini ada banyak metode yang bisa dilakukan untuk
eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi. Dan dari metode-metode tersebut bisa saling
kontrol dan saling melengkapi, sehingga membuat hasil yang didapat juga semakin
meyakinkan.
Hingga saat ini belum ada penyelesaian lain selain mengebor suatu sumur untuk
memastikan ada tidaknya kandungan hidrokarbon di bawah tanah. Evaluasi formasi tanah
adalah suatu proses evaluasi karakteristik batuan di bawah tanah dengan menggunakan hasil
pengukuran lubang sumur. Tujuan dari evaluasi formasi ini adalah untuk mengenali reservoir,
untuk memperkirakan hidrokarbon di tempat, dan untuk perkiraan perolehan hofrokarbon.
Logging adalah proses mengumpulkan data bawah permukaan agar dapat digunakan untuk
melakukan penilaian terhadap formasi yang meliputi : zona reservoar, kandungan formasi
(fluida), petrofisik reservoar dan tekanan bawah permukaan (Setyowiyoto, J., 2002). Proses
logging adalah proses yang penting sekali untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi
secara berkesinambungan di sumur-sumur eksplorasi, agar diperoleh suatu pengendalian yang
lebih baik dari susunan geologi yang kemudian dapat dikorelasikan dengan sumur-sumur
lainnya untuk pengembangan suatu lapangan minyak. Kurva log memberikan informasi yang
cukup tentang sifat-sifat batuan dan cairan. Dari kurva log ini nantinya, seorang interpreter
akan tahu kondisi di bwah permukaan tanah. Well log adalah catatan yang mencakup semua
data yang dikumpulkan selama pengeboran sebuah sumur, dan diperlukan untuk mendapatkan
gambaran yang terperinci mengenai strata bawah permukaan (Kamus Minyak dan Gas Bumi,
ed. 4, PPPTMGB LEMIGAS, 1999) .
Dalam analisa log sumur, terdapat 2 cara yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif.
Suatu data Log biasanya mempunyai bagian kepala Log (Log Head) yang mencantumkan
semua informasi yang berhubungan dengan sumur, meliputi jenis instrumen, kalibrasi
instrumen, komentar-komentar mengenai pengukuran, skala dll.
Di bawah ini adalah jenis-jenis well log :
1. Log Gamma Ray (GR Log)
Pada prinsipnya alat Detektor Gamma Ray berfungsi untuk menangkap pancaran radioaktif
yang dipancarkan oleh formasi/batuan. Unsur-unsur yang ditangkap berupa Thorium (Th),
Potasium (K), Uranium (U). Unsur-unsur tersebut terutama K dan Th banyak terdapat pada
lempung/shale. Kegunaan GR log ini antara lain untuk menentukan zona permeabel atau
impermeabel (reservoar/non reservoar), untuk menentukan batas lapisan, untuk korelasi antar
sumur dan untuk mengstimasi kelempungan.

2. Log Densitas (Density Log)


Dengan cara menembakkan sinar gamma yang membawa partikel-partikel foton ke dalam
formasi batuan, partikel-partikel foton akan bertumbukan dengan elektron yang ada dalam
formasi. Banyaknya energi sinar gamma hilang setiap kali bertumbukan menunjukkan
densitas elektron di dalam formasi yang sekaligus mengindikasikan densitas formasi.
Menunjukkan besarnya densitas batuan (bulk density) yang ditembus lubang bor. Log densitas
umumnya digunakan dalam penentuan porositas total batuan. Bisa digunakan untuk mengukur
porositas batuan dan menentukan kandungan fluida (X-plot dengan Log Neutron).
3. Log Neutron (Neutron Log)
Prinsip kerjanya dengan cara menembakkan partikel neutron berenergi tinggi ke dalam
formasi, tumbukan neutron dengan atom H (asumsi : atom H berasal dari HC atau air) akan
menyebabkan energi neutron melemah. Detektor dari alat akan menghitung partikel neutron
yang kembali dari formasi. Semakin banyak atom H dalam formasi, maka partikel neutron
yang kembali akan makin sedikit. Kemudian mengukur persentasi pori pada formasi dari
banyaknya atom hidrogen dalam formasi (dengan asumsi pori terisi oleh HC atau air)
Kegunaannya untuk menghitung nilai porositas batuan dan jika dikombinasikan dengan Log
Densitas dapat menekankan kepada litologi dan mendeteksi zona gas.
4. Log SP (Spontaneous Potensial Log)
Pada prinsipnya SP log ini untuk mengukur beda potensial arus searah antara elektroda yang
bergerak di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaaan. Beda potensial yang diukur
merupakan fungsi dari salinitas air formasi. Defleksi SP tergantung pada salinitas lumpur
(Rmf) dan salinitas air formasi (Rw). Ada 3 (tiga) kemungkinan : Rw < Rmf , Rw = Rmf dan
Rw > Rmf. Salinitas berbanding terbalik dengan Resistivity (Rw). Salinitas >> maka
Resistivity << dan sebaliknya. Kegunaan dari SP log ini untuk mengidentifikasi lapisan
permeabel /non permeabel dan untuk penentuan batas lapisan.
5. Log Resistivity
Prinsip kerjanya untuk mengukur tahanan jenis batuan/formasi dan fluida yang dikandungnya
terhadap arus listrik yang melaluinya. Sifat menghantarkan listrik terutama merupakan fungsi
dari fluida yang berada dalam pori-pori batuan. Kegunaan log resistivity ini untuk
menentukan tahanan jenis formasi, untuk membedakan lapisan reservoar dan non reservoar
dan untuk embedakan HC bearing zone dan Water bearing zone.
6. Log Akustik (Log Sonic)
Sebuah transmitter melepaskan gelombang suara ke formasi, setelah melewati formasi
diterima oleh receiver. Merupakan rekaman waktu yang diperlukan oleh gelombang suara
untuk merambat melalui formasi (waktu tempuh). Lamanya waktu rambat gelombang suara
berbanding terbalik dengan kecepatan rambat suara di dalam suatu formasi. Kecepatan suara
di dalam formasi tergantung pada elastisitas matriks batuan, porositas, kandungan fluida dan
tekanan. Kegunaannya untuk kalibrasi data seismik, untuk menghitung porositas primer pada
lapisan yang diketahui jenis litologinya dan untuk evaluasi porositas sekunder
(dikombinasikan dengan Log Neutron dan Log Densitas)

3. Interpretasi kondisi geologi meliputi:


a. Lapisan yang berpotensi sebagai reservoar dan lapisan tudung
Batuan reservoir memiliki pori-pori yang cukup besar. Matriks batuannya terdiri dari
butiran-butiran batupasir, gamping, dolomit atau campuran dari semuanya itu. Namun dalam
praktikum kali ini hanya menggunakan data log, khusunya GR log. Jadi hanya bisa
menentukan batupasir dengan asumsi nilai GR yang rendah dan batulempung dengan asumsi
nilai GR yang tinggi. Antara butiran-butiran ada ruang pori yang berisi fluida dapat berupa air,
minyak atau gas. Air akan menempati celah-celah yang berupa cincin-cincin tipis pada kontak
antar butiran. Air akan menempati celah-celah yang sangat halus dan juga membentuk jalur
yang menerus, walaupun berbelit belit melalui struktur batuan. Minyak akan menempati ruang
pori yang lbih besar. Jika terdapat gas, maka gas akan menempati ruang pori yang paling
besar, terpisah dari minyak. Air, gas dan minyak ini akan terpisah dikarenakan adanya
perbedaan densitas di antaranya. Densitas yang lebih besar akan terletak di paling bawah.
Lapisan tudung adalah lapisan yang impermeable yang mengakibatkan hidrokarbon akan
terakumulasi dan tidak bisa bergerak. Biasanya batuan yang berguna sebagai lapisan tudung
ini mempunyai butiran yang halus, seperti batulempung. Dalam mengidentifikasi zona
reservoir umumnya dilakukan dengan membaca log gamma ray, log ini mengidentifikasi
kandungan radioaktif yang terdapat dalam batuan dimana semakin tinggi kandungan
radioaktifnya maka log .
Gamma ray dengan nilai yang tinggi biasanya mencirikan litologi berbutir halus ( shaly)
sedangkan gamma ray dengan nilai yang rendah biasanya menunjukan litologi berupa
reservoir, baik itu sandstone maupun limestone , akan tetapi dalam kondisi lapangan tertentu
juga ditemukan high gamma ray sand dimana lapisan sandstone banyak mengandung mineral
feldspar sehingga kurva log gamma ray akan menunjukan defleksi nilai yang tinggi
disebabkan oleh mineral feldspar yang bersifat radioaktif.
Log neutron merupakan log yang dapat membaca Hydrogen Index yang terkandung
dalam batuan dengan cara menembakan neutron kedalam formasi, dimana semakin tinggi
hidrogen indeksnya maka neutron yang dipantulkan kembali kedalam detektor dalam logging
tools akan semakin sedikit (log neutron menunjukan nilai yang rendah) dan sebaliknya ketika
kandungan hidrogen pada formasi sedikit maka jumlah neutron yang dipantulkan kembali
kedalam detektor logging tools akan semakin banyak (log neutron menunjukan nilai yang
tinggi). Log density merupakan log yang membaca fungsi dari densitas batuan, prinsip dari
log ini adalah dengan menembakan sinar gamma kedalam formasi, sinar gamma tersebut akan
menendang elektron keluar dan ditangkap oleh detektor dalam logging tools, banyaknya
jumlah elektron yang ditangkap oleh detektor merupakan fungsi dari nilai densitas formasi
(semakin banyak elektron yang ditangkap maka semakin tinggi densitas formasi dan
sebaliknya). Ketika dikombinasikan dengan interval skala yang berlawanan maka log neutron
dan density dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kandungan hidrokarbon yang
ditunjukan oleh adanya cross over (butterfly effect ), semakin besar separasi cross over yang
ditunjukan oleh log neutron dan density maka dapat ditafsirkan bahwa hidrokarbon tersebut
merupakan gas dan apabila separasinya sedikit lebih kecil maka ditafsirkan bahwa jenis
hidrokarbon tersebut merupakan minyak atau air. Selain itu kita juga perlu membandingkan
dengan log resistivity, jika resistivitas menunjukan nilai yang tinggi maka dimungkinkan
daerah cross over tersebut merupakan hidrokarbon akan tetapi jika resisitivitasnya rendah
dimungkinkan zona tersebut merupakan air.

Dari hasil interpretasi ,batuan reservoir adalah batupasir yang ada pada kedalaman sekitar
5106-5112 m dan 5160-5186 m. Reservoir pada kedalaman 5106-5112 m, dilihat dari log
resistivity hanya mengadung gas saja. Sedangakan reservoir pada 5160-5186 m mengandung
gas di bagian atas dan minyak di bagian bawahnya. Kedua reservoir ini dilengkapi dengan
lapisan tudung di atasnya. Lapisan tudung berupa batulempung. Lapisan tudung bagian bawah
terlihat di well 2 dan well 1 ketebalannya cukup tipis, hal ini bisa mengakibatkan bocornya
batuan tudung yang akan menyebabkan minyak dan gas akan termigrasi ke lapisan yang lebih
atas. Namun jika dilihat dari log resistivitynya, minyak dan gas masih terakumulasi pada
batupasir yang ada di bagian bawah, yang menandakan belum ada kebocoran pada batuan
tudungnya.
b. Hubungan hasil interpretasi data log yang didapatkan dengan potensi dan eksploitasi
hidrokarbon yang akan dilakukan selanjutnya (Lapisan target? Produksi apa?)
Hasil interpretasi data log bisa untuk menunjukkan lapisan-lapisan yang berpotensi
sebagai reservoir dan lapisan-lapisan untuk batuan tudung. Dari uraian poin a diatas
dijelaskan terdapat 2 lapisan yang berpotensi sebagai reservoir. Pemilihan reservoir dilakukan
sesuai dengan targetnya. Jika targetnya minyak, maka lapisan target yang dipilih adalah
lapisan yang ada di bawah, yaitu pada kedalaman 5160-5186 m. Namun jika targetnya gas,
lapisan target adalah lapisan yang ada di atas yaitu pada kedalaman 5106-5112 m. Karena data
well tidak disertai jarak antar wellnya, maka tidak bisa memprediksi potensi volume gas/
minyak bumi yang ada.
Lapisan target dengan kedalaman 5106-5112 m akan memproduksi gas saja sedangkan
lapisan target, sedangakan lapisan target dengan kedalaman 5160-5186 m akan memproduksi
minyak dan gas.

4. Kesimpulan
a. GR log digunakan untuk menentukan zona permeabel atau impermeabel (reservoar/non
reservoar) dan untuk menentukan batas lapisan.
b. Suatu batuan porous yang mengandung fluida oil/gas di dalamnya, akan memberikan
harga tahanan jenis yang tinggi, dan ditunjukkan dengan defleksi kurva yang relatif
meruncing ke kanan. Dengan kata lain kurva LLD berada di sebelah kanan kurva MSFL
dan LLS. Batuan yang terisi fluida air, cenderung menunjukkan harga ILD/LLD yang
kecil dibandingkan harga kurva lainnya, sehingga kurva LLD berada di sebelah kiri kurva
MSFL dan LLS.
c. Dari hasil interpretasi ,batuan reservoir adalah batupasir yang ada pada kedalaman sekitar
5106-5112 m dan 5160-5186 m
d. Lapisan target dengan kedalaman 5106-5112 m akan memproduksi gas saja sedangkan
lapisan target, sedangakan lapisan target dengan kedalaman 5160-5186 m akan
memproduksi minyak dan gas.

5. Daftar pustaka
Alfhadhly, 2013. Metode logging Geofisika. (alfhadlyblog.blogspot.com) diakses 15 Mei
2015
Ardiansyah H, 2008, Mengenal Sekilas Logging Sumur. (ayatardiansyah.wordpress.com),
diaskes 15 Mei 2015
Campbell, M., 1973, Petroleum Reservoar Property Evaluation, John M. Campbell and Co.
International Institute Ltd., Oklohama, USA
Koesoemadinata RP,2011. Geologi Minyak dan Gas Bumi, Teknik Geofisika, Institut
Teknologi Bandung. Bandung.
Schumberger,1999. Buku Panduan Dasar-Dasar Interpretasi Log, Dinas Humas Schumberger,
Jakarta