Anda di halaman 1dari 5

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #17:

Nuzulul Al-Qur'an melahirkan peradaban baca,


tulis dan pengajaran
Muhib Al-Majdi
Ahad, 5 Agustus 2012 15:04:55

(Arrahmah.com) Wahyu yang pertama diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu


'alaihi wa salam adalah surat Al-Alaq [96]: 1-5. Lima ayat tersebut mengenalkan
manusia akan Sang Pencipta, asal mula penciptaan dan tiga nikmat besar yang
menumbuhkan peradaban hebat dalam sejarah umat manusia. Ketiga nikmat besar
tersebut adalah bacaan, tulisan dan pengajaran.
Dalam wahyu yang pertama kali turun tersebut, Allah Ta'ala berfirman:

(5) )) ) )
() ) 4) )() ) ) 3) )() ) ) 2) )) )
() ) 1) )) ) ) )
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang telah menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena (tulisan).
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq [96]: 15)

Di antara wahyu yang diturunkan oleh Allah Ta'ala pada periode awal kenabian tersebut
adalah firman Allah Ta'ala,
) ) )
"Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis." (QS. Al-Qalam [68]: 1)
Saat itu masyarakat bangsa Arab terkenal sebagai bangsa ummi, bangsa yang tidak
memiliki kitab suci, tidak mengenal baca dan tulis, alias buta huruf. Di tengah mereka
memang terdapat beberapa orang yang pandai baca-tulis, namun jumlah mereka sangat
sedikit dibandingkan jumlah mayoritas masyarakat yang buta huruf. Saat itu masyarakat
Arab memang mencapai masa keemasan di bidang sastra, namun tradisi sastra yang
berkembang luas didominasi oleh sastra lisan yang menyebar dari mulut ke mulut.
Sejak awal masa dakwah kenabian, Al-Qur'an dan As-sunnah telah memberikan
perhatian yang sangat besar terhadap bacaan, tulisan dan pengajaran ilmu. Islam tidak
hanya memerangi kesyirikan, kemungkaran, kebobrokan akhlak dan tatanan social
semata. Islam juga memerangi keterbelakangan di bidang baca, tulis dan pengetahuan.

Islam memerangi kebodohan dan mencanangkan pengajaran, karena dalam banyak


kesempatan, kebodohan melatar belakangi penyakit kesyirikan dan kemungkaran.
Turunnya wahyu Al-Qur'an dan pengajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam kepada para
sahabat melalui sabda, perbuatan dan persetujuan beliau membutuhkan pencatatan dan
dokumentasi secara baik. Hal itu melahirkan tradisi baru dalam sejarah bangsa Arab,
yaitu tradisi membaca dan menulis. Dari tradisi itu lahirnya generasi baru yang
menganut IslSelain am, ahli membaca dan menulis. Merekalah yang diangkat sebagai
pencatat wahyu Al-Qur'an setiap kali wahyu Al-Qur'an turun. Mereka pula yang mencatat
hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam. Kelompok sahabat yang ahli baca dan
tulis itu diperkuat oleh tradisi hafalan mayoritas bangsa Arab saat itu yang terkenal
sangat kuat. Dengan demikian bacaan, tulisan dan hafalan saling mendukung sehingga
wahyu Al-Qur'an dan as-sunnah senantiasa terpelihara.
***
Siapa sajakah gerangan para sahabat yang termasuk kelompok intelektual yang ahli di
bidang baca dan tulis sehingga dipercaya mencatat wahyu Al-Qur'an dan as-sunnah pada
zaman Nabi shallalahu 'alaihi wa salam?
Para pencatat wahyu Al-Qur'an
Al-imam al-qadhi Muhammad bin Salamah Al-Qudha'i dalam bukunya, Anba-ul Anbiya'
wa Tawarikhul Khulafa' wa Wilayatul Muluk wal Umara' menulis: "Utsman bin Affan dan
Ali bin Abi Thalib adalah dua orang petugas yang mencatat wahyu yang dturunkan
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam. JIka keduanya sedang tidak ada di
tempat, tugas pencatatan wahyu digantikan oleh Ubay bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit."
Al-imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki dalam bukunya, Al-Isti'ab fi Ma'rifatil Ashab, menulis:
"Ubay bin Ka'ab lebih dahulu menulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa salam sebelum Zaid bin Tsabit, kemudian keduanya bersama-sama
menulis. Meski demikian, Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang paling rutin mencatat
wahyu. Jika Ubay sedang tidak ada di tempat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam
memanggil Zaid bin Tsabit. Ubay dan Zaid mencatat wahyu di hadapan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa salam langsung."
Riwayat-riwayat tersebut menyebutkan ada empat orang yang menjadi pencatat tetap
wahyu . Dua orang dari kalangan muhajirin, yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi
Thalib. Dan dua orang dari kalangan Anshar, yaitu Ubay bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit.
Jika empat orang pencatat tetap tersebut berhalangan hadir, maka para sahabat
pencatat lainnya menggantikan tugas mereka. Imam al-qadhi Muhammad bin Salamah
Al-Qudha'i menulis bahwa para sahabat ahli baca-tulis yang menggantikan tugas
pencatatan tersebut adalah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jabir bin Sa'id bin Ash, Abban bin
Sa'id, Alla' bin Hadhrami, Hanzhalah bin Rabi' dan Abdullah bin Abi Sarh. Khusus tentang
diri Abdullah bin Saad bin Abi Sarh, ia sempat murtad dan melarikan diri ke Makkah
untuk bergabung dengan kaum musyrik Quraisy. Pada saat terjadi penaklukan Makkah,
Utsman bin Affan memberikan jaminan perlindungan kepadanya. Ia kemudian masuk
Islam dan keislamannya baik. Ia bahkan menjadi komandan angkatan laut Islam pada
zaman khalifah Utsman bin Affan dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan berperan besar
dalam jihad di benua Afrika dan Laut Mediterania.

Para pencatat wahyu Al-Qur'an, as-sunnah dan surat-surat Nabi shallallahu


'alaihi wa salam
Selain para sekretaris tetap dan sekretaris cadangan yang khusus mencatat wahyu AlQur'an, terdapat para sahabat yang menjadi sekretaris umum. Mereka mencatat semua
hal penting yang berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, baik berupa wahyu
Al-Qur'an, hadits, surat dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam maupun surat
perjanjian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam lainnya.
Al-hafizh Ibnu 'Asakir Ad-Dimasyqi dalam bukunya, Tarikh Dimasyqa, menyebutkan para
sekretaris umum tersebut berjumlah 23 orang sahabat. Dalam buku Bahjatul Mahafil,
imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki menyebut mereka berjumlah 25 orang sahabat.
Seperti disebutkan oleh Al-hafizh Ibnu 'Asakir Ad-Dimasyqi dalam bukunya, Tarikh
Dimasyqa dan imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki dalam bukunya, Al-Isti'ab fi Ma'rifatil
Ashab, para sekretaris umum tersebut adalah: Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khathab,
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Abdullah bin Arqam, Ubay bin
Ka'ab, Tsabit bin Qais bin Syamas, Khalid bin Said bin 'Ash, Abban bin Said bin 'Ash,
Hanzhalah bin Abi Amir Al-Asadi, Zaid bin Tsabit, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Syurahbil bin
Hasanah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, Zubair bin Awwam, Mu'aiqib bin Abi
Fathimah Ad-Dausi, Mughirah bin Syu'bah, Khalid bin Walid, Alla' bin Hadhrami, Amru bin
Ash, Juhaim bin Shalt, Abdullah bin Rawahah, Muhammad bin Maslamah dan Abdullah
bin Saad bin Abi Sarh.
Imam Asy-Syibrmalisi dalam bukunya, Hasyiyah 'alal Minhaj pada bagian Kitabul Qadha',
menyebutkan para sekretaris umum tersebut berjumlah 40 sahabat. Bahkan al-hafizh
Zainuddin Al-Iraqi menyebutkan mereka berjumlah 42 orang.
Menurut penelitian al-hafizh Zainuddin Al-Iraqi, ke-42 orang tersebut adalah Zaid bin
Tsabit, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka'ab, Khalid bin Said bin 'Ash, Hanzhalah bin Abi Amir
Al-Asadi, Syurahbil bin Hasanah, Amir bin Fuhairah, Tsabit bin Qais bin Syamas, Abdullah
bin Arqam.
Imam al-Hafizh Jamaluddin Al-Mizzi dalam bukunya Tahdzibul Kamal fi Asmair Rijal dan
al-hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Kamal fi Asmair Rijal juga
menyebutkan semua nama sekretaris umum sejak Zaid bin Tsabit sampai Abdullah bin
Arqam.
Dari penelitian terhadap kitab-kitab sirah nabawiyah, al-hafizh Zainuddin Al-Iraqi
menambahkan beberapa nama setelah nama Abdullah bin Arqam. Mereka adalah
Thalhah bin Ubaidullah, Zubair bin Awwam, Alla' bin Hadhrami, Abdullah bin Rawahah,
Khalid bin Walid, Hathib bin Amru, Huwaithib bin Amru, Hudzaifah bin Yaman, Buraidah
bin Hashib, Abban bin Said bin 'Ash, Abu Sufyan bin Harb, Yazid bin Abi Sufyan,
Muhammad bin Maslamah, Amru bin Ash, Mughirah bin Syu'bah, Abu Salamah, Abu
Ayyub Al-Anshari, Mu'aiqib bin Abi Fathimah Ad-Dausi, Arqam bin Abil Arqam, Abdullah
bin Abdullah bin Ubay bin Salul, Abdullah bin Zaid, Abdu Rabbih, Juhaim bin Shalt, Alla'
bin Utbah, Hushain bin Numair, dan Abdullah bin Saad bin Abi Sarh.
Imam Al-Burhan Al-Halabi dalam bukunya, Hawasy Asy-Syifa', menyebutkan jumlah
mereka mencapai 43 sahabat.
Para sekretaris umum yang berjumlah 42 atau 43 orang sahabat tersebut menangani
tugas-tugas penulisan dan dokumentasi. Hal yang mereka tulis mencakup wahyu AlQur'an, hadits, surat perjanjian damai, surat dakwah, surat pengarahan kepada para

pegawai dan komandan pasukan dan hal-hal penting lainnya atas perintah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa salam.
Tidak setiap sekretaris bisa senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
salam. Terkadang mereka berhalangan hadir, karena sakit, mencari pencaharian hidup
untuk keluarga, atau berangkat dalam suatu pasukan jihad. Oleh adanya beberapa
halangan tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengangkat dua sekretaris
tetap yang senantiasa mendampingi beliau dan mencatat segala hal yang perlu
didokumentasikan, utamanya wahyu Al-Qur'an. Dua orang sekretaris tetap yang paling
sering mencatat wahyu Al-Qur'an tersebut adalah Zaid bin Tsabit dan Mu'awiyah bin Abi
Sufyan. Demikian ditulis oleh imam Al-Huraini dalam Al-Mathali' An-Nashriyah, AnNawawi Asy-Syafi'i dalam Tahdzibul Asma' wal Lughah dan Ibnu Abdil Barr AlMalikidalam Bahjatul Majalis.
Untuk menunjang tugas kesekretariatan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam telah
memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Ibrani, baik secara
lisan maupun tulisan. Bahasa Ibrani adalah bahasa komunikasi lisan dan tulisan kaum
Yahudi. Dengan sekretaris tetap yang menguasai bahasa Ibrani secara lisan dan tulisan,
Rasulullah shallallahu 'alahi wa salam bisa memahami surat-surat kaum Yahudi dan
selamat dari makar jahat mereka. Beliau juga mampu membalas surat-surat kaum
Yahudi dengan bahasa mereka.
)
)
) ) ) ) ) ) )
) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )
) ) ) : ) ) )

Dari Zaid bin Tsabit bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam telah memerintahkan
kepadanya untuk mempelajari tulisan (bahasa lisan dan tulisan) kaum Yahudi. Zaid
berkata: "Sehingga aku bisa menuliskan surat-surat Nabi shallallahu 'alaihi wa salam
kepada kaum Yahudi (dengan bahasa Ibrani) dan aku bisa membacakan surat-surat
kaum Yahudi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa salam." (HR. Bukhari no. 7195)
Dari Zaid bin Tsabit bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda kepadanya:
) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) : ) ) ) ) ) ) ") )
) ) ) ) ) ) )

" )) ) ) ) () ) ) ) 3) )
"Wahai Zaid, pelajarilah untukku bahasa kaum Yahudi karena sesungggunya, demi Allah,
aku tidak bisa mempercayai kaum Yahudi terhadap surat-suratku!" Zaid menuturkan,
"Maka aku mempelajari tulisan (bahasa) mereka. Tidak lebih dari 15 hari, aku telah
menguasai bahasa mereka dengan baik. Maka aku membacakan untuk beliau surat-surat
kaum Yahudi jika mereka menulis surat kepada beliau dan aku menuliskan surat beliau
jika beliau membalas surat mereka." (HR. Ahmad no. 21618, Abu Daud no.
3645, Tirmidzi no. 2715, Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar no. 2039
dan Ath-Thabarani no. 4856-4957. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam
shahihnya no. 7195 secara mu'allaq denga shighat jazm, yang menunjukkan
keshahihan hadits ini. Imam At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih)
Peristiwa besar nuzulul Qur'an, turunnya wahyu Al-Qur'an telah melahirkan umat Islam
sebagaii sebuah bangsa besar dengan peradaban yang sangat tinggi, peradaban baca,
tulis, dan pengajaran, bahkan pembelajaran dan penguasaan bahasa-bahasa asing milik
bangsa-bangsa non-muslim, demi kepentingan dakwah.

Di bulan Ramadhan yang menjadi bulan turunnya wahyu Al-Qur'an ini, sudah selayaknya
kita memetik hikmah peradaban Al-Qur'an dan as-sunnah. Sudah selayaknya kita
merenungkan dan berintrospeksi diri, sudah sejauh mana kita memberdayakan wahyu
Al-Qur'an dan as-sunnah bagi kemajuan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan
umat kita? Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi:
Muhammad Abdul Hayyi bin Abdul Kabir Al-Hasani Al-Idrisi Al-Kattani, At-Taratib AlIdariyah wal 'Ummalat wash Shina'at wal Matajir wal Halat Al-Ilmiyyah al-Lati Kaanat
'ala 'Ahdi Ta'sis Al-Madinah Al-Islamiyyah fil Madinah Al-Munawwarah Al-Ilmiyyah, hlm.
151-156, Beirut: Darul Arqam, t.t.