Anda di halaman 1dari 9

1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mekanisme penyerapan air dalam usus?


Perbedaan enzim pencernaan pada anak dan dewasa?
Kandungan susu formula yang menyebabkan diare?
Penatalaksanaan dehidrasi menurut tingkatnya?
Perbedaan kandungan susu formula dan ASI?
Factor resiko diare?
Pencegahan dan edukasi untuk orang tua terhadap penyakit diare?
Patofisiologi diare?

Jawaban
1. Tubuh manusia sebagian besar tersusun oleh air. Bayi dan anak-anak kecil terdiri dari 80% air,
orang dewasa 60-70%, dan manula 50-60%. Air yang masuk kedalam tubuh langsung diserap
oleh usus halus dan usus besar, kemudian masuk kedalam pembuluh darah. Jika tubuh merasa
kekentalan darah sudah cukup untuk menyalurkan zat-zat makanan, sisa/kelebihan air akan
disalurkan ke ginjal, dan dibuang bersama zat sisa lainnya. Kelebihan air juga akan disalurkan ke
pembuluh getah bening. Air diserap menuju ruang antar sel searah dengan gradasi osmosis.
Namun, perpindahan air dari dinding saluran usus menuju darah seringkali berlawanan dengan
grdasi osmosis. Ini berarti usus dapat menyerap air dan mentransfernya pada darah bahkan saat
daya osmosis di dinding usus lebih tinggi dibanding dengan daya osmosis pada darah.
Sumber :
HIMBIO UNPAD.file.wordpress.com
2. Pada saat lahir, tidak semua komponen sistem saluran cerna telah mencapai
kematangannya. Kelanjutan pematangan sistem pencernaan akan tampak oleh
adanya perubahan
pola fungsi
selama masa
pertumbuhan anak.
Esofagus
merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga
mulut ke lambung. Sepertiga atas esofagus merupakan otot serat lintang
yang berhubungan dengan otot-otot faring, sedangkan 2/3 bagian bawah adalah otot
polos. Esofagus menyempit pada 3 tempat, yaitu setinggi tulang rawan krikoid yang
merupakan sfingter, rongga dada bagian tengah akibat penekanan oleh arkus aorta
dan bronkus utama kiri (tidak bersifat sfingter), dan pada hiatus esofagus diafragma
(otot polos bagian ini bersifat sfingter). Pembuluh vena esofagus bagian
bawah berhubungan langsung dengan sirkulasi vena porta. Di sebelah dorsal kanan
esofagus terdapat duktus torasikus.
lambung merupakan bagian system
gastrointestinal yang terletak antara esofagus dan duodenum.Lambung terbagi
menjadi 2 bagian, proksimal terdiri dari fundus dan korpus, sedangkan bagian
distalnya adalah antrum. Ciri yang
menonjol
pada anatomi lambung adalah peredaran
darahnya yang sangat kaya dengan pembuluh nadi besar di depan kurvatura mayor
dan minor serta dalam dinding lambung. Pada bagian distal lambung
terdapat selaput lingkar yang disebut pilorus yang berfungsi sebagai sfingter untuk
mencegah kebocoran isi lambung. Pilorus inidiperkuat oleh serabut otot lingkar yang
kuat dan terbuka melalui pengaturan saraf. Duodenum mulai pada pilorus
dan berakhir pada batas duodenoyeyunal. pada cekungan duodenum setinggi
vertebra l2 terdapat kepala pankreas.Sekum pada anak berbentuk kerucut dan
apendik berasal dari bagian apek kiri. Selama masa anak-anak dinding lateral sekum

membesar, sehingga apendiks terletak pada bagian posterior dinding medial.Mukosa


apendiks kaya akan jaringan limfoid pada masa anak-anak dan akan berkurang
setelah dewasa.
sumber :
academia.edu/Adaptasi_fisiologis_sistem_pencernaan_neonatal
3. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu
keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal
terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan
melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi
pun akan muncul. beberapa kandungan didalam susu formula. Bisa terjadi karena
ketidakcocokan terhadap kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat
warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan
DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya.
Penyebab bayi diare lainnya berkaitan dengan laktosa yang terkandung di dalam susu.
Anak bayi yang mengonsumsi susu formula secara berlebihan bisa terkena diare. Bayi
membutuhkan laktose yakni suatu enzim yang digunakan untuk mencerna laktosa. Jika bayi tidak
bisa memproduksi enzim laktose dalam jumlah yang cukup maka bayi tidak bisa mentoleransi
makanan
yang
mengandung
laktosa
dan
kemudian
mengalami
diare.
sumber :
CLINIC FOR CHILDREN. Yudhasmara Foundation. www.childrenclinic.wordpress.com
4. penatalaksanaan diare :
a. Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi
Aturan 1 : Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, untuk mencegah
dehidrasi
Cairan yang diberikan adalah cairan yang mengandung garam (oralit), dapat juga
diberikan air bersih yang matang.
Komposisi larutan oralit baru :
Natrium klorida 2,6 gram/liter, Glukosa 13,5 gram/liter, Kalium klorida 1,5 gram/liter,
Trisodium sitrat 2,9 gram/liter
Komposisi larutan oralit lama :
Natrium klorida 3,5 gram/liter, Glukosa 20 gram/liter, Kalium klorida 1,5 gram/liter,
Trisodium sitrat 2,55 gram/liter

Aturan 2 : Berikan tambahan zinc (10 - 20 mg) untuk anak, setiap hari selama 10 -14
hari
Zinc dapat diberikan sebagai sirup atau tablet, dimana formulasinya tersedia dan
terjangkau. Dengan memberikan zinc segera setelah mulai diare, durasi dan tingkat
keparahan episode serta risiko dehidrasi akan berkurang. Dengan pemberian zinc
selama 10 sampai 14 hari, zinc yang hilang selama diare diganti sepenuhnya dan risiko
anak memiliki episode baru diare dalam 2 sampai 3 bulan ke depan dapat berkurang
Aturan 3 : yaitu berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi
Diet bayi yang biasanya harus dilanjutkan selama diare dan ditingkatkan setelahnya.
Makanan tidak boleh ditahan dan makanan anak yang biasa tidak boleh diencerkan.
pemberian ASI harus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk memberikan makanan yang
kaya nutrisipada anak. Sebagian besar anak-anak dengan diare cair mendapatkan
kembali nafsu makan mereka setelah dehidrasi diperbaiki, sedangkan orang-orang
dengan diare berdarah seringkali nafsu makan tetap buruk sampai penyakitnya sembuh.

Anak-anak ini harus didorong untuk mau makan secara normal sesegera mungkin
Aturan 4 : Bawa anak ke petugas kesehatan jika ada tanda-tanda dehidrasi atau
masalah lainnya
Ibu harus membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:
Buang air besar cair sering terjadi
Muntah berulang-ulang
Sangat haus
Makan atau minum sedikit
Demam
Tinja Berdarah
Anak tidak membaik dalam tiga hari.
b. Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan dehidrasi ringansedang
Jika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk menentukan jumlah
larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari berat badan (Kg) dikalikan 75 ml. Jika
berat badan anak tidak diketahui maka penentuan jumlah cairan ditentukan berdasarkan
usia
anak.
Jika pasien menginginkan lebih banyak oralit, maka dapat diberikan.
Dorong ibu untuk terus menyusui anaknya.
Untuk bayi di bawah 6 bulan yang tidak menyusui, jika menggunakan larutan oralit yang
mengandung 90 mmol / L natrium, juga memberi 100-200ml air bersih selama periode ini.
Namun, jika menggunakan larutan oralit osmolaritas rendah yang baru mengandung
75mmol / L natrium, hal ini tidak perlu menambah air bersih.
c. Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi Berat
Pengobatan bagi anak-anak dengan dehidrasi berat adalah rehidrasi intravena cepat,
mengikuti Rencana Terapi C. Jika mungkin, anak harus dirawat di rumah sakit. Panduan
untuk
rehidrasi
intravena
diberikan
Anak-anak yang masih dapat minum, walaupun buruk, harus diberikan oralit secara
peroral sampai infus berjalan. Selain itu, ketika anak dapat minum tanpa kesulitan,
semua anak harus mulai menerima larutan oralit (sekitar 5 ml/kg/jam), yang biasanya
dalam waktu 3-4 jam (untuk bayi) atau 1-2 jam (untuk pasien yang lebih tua). Ini
memberikan tambahan dasar dan potasium, yang mungkin tidak dapat secara memadai
disediakan
oleh
cairan
infus.
Mulai diberi cairan i.v segera. Bila pasien dapat minum berikan oralit sampai cairan i.v
dimulai. Berikan 100 ml/Kg cairan Ringer Laktat (atau cairan normal salin bila ringer
laktat
tidak
tersedia)
umur
selama
<12 bulan
12 bulan - 5 th
Sumber :
buku saku

pelayanan

30ml/kgbb

selama(I)

70ml/kgbb

1 jam
30 menit

kesehatan

anak

5 jam
2,5 jam

di

rumah

sakit

(WHO)

5. ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrien. Yang termasuk makronutrien adalah
karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin & mineral. Air susu ibu

hampir 90%nya terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrien ASI berbeda untuk setiap ibu
bergantung dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi di atas juga terlihat pada
masa menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang dan ASI pada saat penyapihan). Kandungan
zat gizi ASI awal dan akhir pada setiap ibu yang menyusui juga berbeda. Kolostrum yang
diproduksi antara hari 1-5 menyusui kaya akan zat gizi terutama protein.
ASI transisi mengandung banyak lemak dan gula susu (laktosa). ASI yang berasal dari ibu yang
melahirkan bayi kurang bulan (prematur) mengandung tinggi lemak dan protein, serta rendah
laktosa dibanding ASI yang berasal dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. Pada saat
penyapihan kadar lemak dan protein meningkat seiring bertambah banyaknya kelenjar payudara.
Walapun kadar protein, laktosa, dan nutrien yang larut dalam air sama pada setiap kali periode
menyusui, tetapi kadar lemak meningkat.

Komposisi
ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu
lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas.
Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental
dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang
mendapat susu formula.
Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi
untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang
ditemukan pada susu sapi atau susu formula. Namun demikian angka kejadian diare yang
disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada
bayi yang mendapat ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibanding
laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi
jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah
melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.
Protein
Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat
dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein
dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi,
sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus
bayi. Jumlah protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding susu sapi yang
mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi
dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta
laktoglobulin ini merupakan jenis protein yang potensial menyebabkan alergi.

ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari 3
jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding dengan susu sapi yang mempunyai
zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Disamping itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding
susu sapi. Nukleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan
usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi
dan daya tahan tubuh.
Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak
yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi.
Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau
susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi
banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai
panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan
terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata.
Susu sapi tidak mengadung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terhadap semua susu
formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa sumber DHA & ARA yang
ditambahkan ke dalam susu formula tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah
lemak total di dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai
persentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi.
Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai faktor pembekuan.
Kadar vitamin K ASI hanya seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi yang hanya
mendapat ASI berisiko untuk terjadi perdarahan, walapun angka kejadian perdarahan ini kecil.
Oleh karena itu pada bayi baru lahir perlu diberikan vitamin K yang umumnya dalam bentuk
suntikan.
Vitamin D
Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal ini tidak perlu dikuatirkan
karena dengan menjemur bayi pada pagi hari maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D
yang berasal dari sinar matahari. Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan
membiarkan bayi terpapar pada sinar matahari pagi akan mencegah bayi menderita penyakit
tulang karena kekurangan vitamin D.
Vitamin E
Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah merah.
Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah (anemia hemolitik).
Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya tinggi terutama pada kolostrum dan ASI
transisi awal.

Vitamin A
Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk mendukung pembelahan
sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan. ASI mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin
A dan tetapi juga bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan
mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan tubuh yang
baik.
Vitamin yang larut dalam air
Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat
dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI.
Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat
mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang. Karena vitamin B6 dibutuhkan pada tahap awal
perkembangan sistim syaraf maka pada ibu yang menyusui perlu ditambahkan vitamin ini.
Sedangkan untuk vitamin B12 cukup di dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu menyusui
yang vegetarian.
Mineral
Tidak seperti vitamin, kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang
dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi oleh status gizi ibu. Mineral di dalam ASI mempunyai
kualitas yang lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di
dalam susu sapi.
Sumber :
Indonesian pediatric society. Ikatan dokter anak Indonesia
6. 1.Umur
Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi pada
golongan umur 6-11 bulan, pada masa diberikan makanan pendamping. Hal ini karena belum
terbentuknya kekebalan alami dari anak pada umur di bawah 24 bulan.
2.JenisKelamin
Resiko kesakitan diare pada golongan perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena aktivitas
anak laki-laki dengan lingkungan lebih tinggi.
3. Musim
Variasi pola musim di daerah tropik memperlihatkan bahwa diare terjadi sepanjang tahun,
frekuensinya meningkat pada peralihan musim kemarau ke musim penghujan.
4. Status Gizi
Status gizi berpengaruh sekali pada diare. Pada anak yang kurang gizi karena pemberian
makanan yang kurang, episode diare akut lebih berat, berakhir lebih lama dan lebih sering.
Kemungkinan terjadinya diare persisten juga lebih sering dan disentri lebih berat. Resiko
meninggal akibat diare persisten atau disentri sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi.
5. Lingkungan
Di daerah kumuh yang padat penduduk, kurang air bersih dengan sanitasi yang jelek penyakit
mudah menular. Pada beberapa tempat shigellosis yaitu salah satu penyebab diare merupakan

penyakit endemik, infeksi berlangsung sepanjang tahun, terutama pada bayi dan anak-anak yang
berumur antara 6 bulan sampai 3 tahun.
6. Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini
nampak dari ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga
khususnya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang bahkan
status gizi buruk yang memudahkan balita tersebut terkena diare. Mereka yang berstatus
ekonomi rendah biasanya tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga
memudahkan seseorang untuk terkena diare.
Sumber :
Abramson, J.H. , 1997, Metode Survei Kedokteran Komunitas pengantar studi epidemiologi dan
evaluatif, (terjemahan), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
7. Pencegahan diare
Mencuci tangan. Anak harus diajarkan untuk mencuci tangannya, sedangkan
pada bayi sering dilap tangannya. Bunda pun juga harus sering mencuci
tangan, terutama saat memberi makan pada anak dan setelah memegang

sesuatu yang kotor seperti setelah membersihkan kotoran bayi atau anak.
Tutup makanan dengan tudung saji.

Masak air minum dan makanan hingga matang.

Jaga kebersihan makanan dan minuman, berikan ASI eksklusif minimal 6 bulan
karena ASI mengandung immunoglobulin. Untuk bayi yang "terpaksa"
menggunakan susu formula, maka dotnya harus dicuci bersih dan disterilkan
dengan baik.

Sumber :
http://www.medkes.com/2013/05/penyebab-dan-penanganan-diare.html
8. penyakitnya diare yang disebabkan infeksi parasit dibagi menjadi diare akut dan kronis. Diare
akut terjadi mendadak dan berlangsung hanya beberapa hari, antara lain terjadi pada amebiasis,
giardiasis dan balantidiasis. Diare kronis terjadi mendadak dan berlangsung lebih dari 3 minggu.
Diare kronik dapat terjadi pada amebiasis dan giardiasis yang merupakan kelanjutan dari diare
akut. Berdasarkan mekanisme patogenesisnya, diare karena infeksi usus parasitik
dikelompokkan menjadi tipe eksudatif, sekretorik dan osmotik. Tipe eksudatif antara lain terjadi
pada disentri ameba. Pada tipe ini terjadi inflamasi, ulserasi dan infiltrasi seluler mukosa usus
sebagai akibat invasi parasit ke dalam mukosa usus yang merangsang reaksi imun
hospes. Kelainan ini mengakibatkan bocornya serum protein darah ke dalam lumen usus. Tipe
sekretorik antara lain terjadi pada disentri ameba. Diare terjadi karena rangsangan mukosa usus
oleh toksin yang dibentuk parasit hingga mengakibatkan usus mensekresikan cairan dalam
jumlah yang berlebihan. Tipe osmotik dijumpai pada infeksi giardiasis, pada tipe ini infeksi parasit
mengakibatkan atropi vili mukosa usus yang yang berakibat terjadinya defisiensi laktosa
sekunder untuk kemudian menimbulkan diare osmotik.
Infeksi patogen enterik pada umumnya melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi dan paparan terhadap penyebab penyakit diare dapat terjadi melalui kebiasan
mengkonsumsi makanan dari penjaja makanan yang mempunyai higiene lingkungan yang
kurang baik.
Sumber :
Enggarfitri, L. , Baskoro, A. , Santoso, N. , 1996, Protozoa Usus Patogen Yang Ditemukan Pada
Anak Diare Dengan Berbagai Status Gizi, Majalah Kedokteran Unibrow, Vol XII, No 3, 14-20.

LEARNING OBJECTIVE
SKENARIO 2
Gastrointestinal Problems In
Pediatric

NAMA : ANNISA MUSDALIFA J


STAMBUK : N 101 13 091
KELOMPOK : VI ( ENAM)
HARI/TANGGAL : Jumat /05 juni
2015