Anda di halaman 1dari 3

Dsypnea (Sesak Nafas)

A. Definisi
Dyspnea didefinisikan sebagai pernapasan yang abnormal atau kurang nyaman
dibandingkan dengan keadaan normal seseorang. Dyspnea merupakan gejala yang umum ditemui dan
dapat disebabkan oleh berbagai kondisi dan etiologi. Organ yang paling sering berkontribusi
dalam dyspnea adalah jantung dan paru.
Dyspnea atau yang biasa disebut sesak napas merupakan manifestasi penting untuk
penyakit kardiopulmoner, selain itu dapat pula ditemukan pada penyakit neurogenik,
metabolic, saluran pencernaan, dan ginjal. Secara normal, manusia dapat menderita dyspnea
akibat aktivitas fisik yang berat, namun napas akan kembali normal setelah istirahat selama
beberapa menit. Dalam banyak keadaan, dyspnea merupakan salah satu gejala dari kelainankelainan dalam tubuh.
Misalnya dyspnea pada penderita asma, COPD (Chronic Obstructive Pulmonary
Disease), pneumonia. Selain karena penyakit paru, dyspnea dapat juga terjadi akibat kelainan
di jantung, misal pada heartfailure, congestive heart disease. Gabungan antara penyakit paru
dan jantung juga dapat menimbulkan dyspnea yang berat. Terdapat juga berbagai penyebab
lain yangmemungkinkan terjadinya dyspnea seperti gangguan psikogenik, anemia, dll.
Pasien

sebelum

pemeriksaan

sebaiknya

ditanyakan

penggambaran

dari

ketidaknyamanannya seperti efek dari posisi mereka, apakah ada infeksi, atau adanya
stimulus lingkungan dan posisi pada dyspnea, contohnya ada 3 :
1. Dispnea yang terjadi pada posisi berbaring.
2. Dispnea yang terjadi pada posisi tegak dan akan membaik dalam posisi berbaring.
3. Jika dengan posisi bertumpu pada sebuah sisi dapat bernafas lebih enak
B. Etiologi
Menurut etiologi berdasarkan organ yang penting :

1. Kardiak : Gagal jantung, Penyakit koroner, Kardimiopati, Disfungsi katup,


Hipertrofi ventrikel kiri, Hipertrofi katub asimetris, Perikarditis
2. Pulmonal : Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), Asma, Penyakit paru restriktif,
Penyakit paru herediter, Pneumotoraks
3. Gabungan kardiak atau pulmonal : PPOK dengan hipertensi pulmonal atau cor
pulmonal, Emboli paru kronik, Trauma
Etiologi Kardiak
AKUT
Iskemia atau infark miokard
Regurgitasi mitral akibat ruptur korda
Terjadi atrial fibrilation pada penyakit katub mitral
dan aorta
Non Kardiak
AKUT
Emboli paru
Pneumothorax
Asma
Sindroma hiperventilasi

KRONIK
Disfungsi ventrikel kiri
Penyakit katup mitral dan aorta
Miksoma atrium

KRONIK
Penyakit paru obstruktif
Hipertensi pulmnal
Kelainan dinding dada
Anemia
Kegemukan dan kurang fit

C. Gambaran klinis
1. Dyspnea d effort (exertional dyspnea) : Sesak nafas pada waktu melakukan kerja fisik
tetapi menghilang setelah istirahat selama beberapa waktu.
2. Paroxysmal nocturnal dyspnea: Sesak nafas timbul sewaktu tidur malam hari sehingga
pasien terbangun dan harus duduk selama beberapa waktu sampai sesaknya hilang.
3. Ortopnea: Sesak nafas yang timbul ketika berbaring. Pada sikap berbaring, aliran balik
vena lebih lancar sehingga pengisian atrium dan ventrikel kanan jadi lebih banyak.
Akibatnya bendungan parulebih mudah terjadi
4. Asma kardial : Terjadi karena edema paru akut. Sesak nafas timbul tiba-tiba karena
edema paru mendadak akibat gagal jantung kiri akut. Gagal jantung kiri menimbulkan
bendungan paru dan akhirnyaterjadi edema paru akut. Cairan masuk ke dalam ruang
alveoli sehingga timbul gejala dispneayang agak berat.
5. Pernafasan Cheyne-Stoke: Pernafasan ini ditandai dengan hiperpnea periodik diselang
fase apnea. Keadaan inidisebabkan oleh karena curah jantung yang menurun.
D. Patofisiologi

Inflamasi berperan dalam peningkatan reaktifitas jalan napas. Mekanisme yang


menyebabkan inflamasi jalan napas cukup beragam, dan peran setiap mekanisme tersebut
bervariasi dan satu anak ke anak lain serta selama perjalanan penyakit.
Komponen penting lainnya adalah bronkosplasma dan obstruksi. Mekanisme yang
menyebabkan gejala obstruktif meliputi: Inflamasi dan udema membran mukosa, akumulasi
sekresi yang berlebihan dari kelenjar mukosa, spasma otot otot halus dan bronkiolus yang
menurunkan diameter bronkiolus.
Konstriksi bronkus merupakan reaksi normal terhadap stimulus asing, namun pada anak
yang menderita asma biasanya sangat parah hingga menyebabkan gangguan fungsi
pernapasan: otot halus, berbentuk kumparan spiral disekeliling jalan napas, menyebabkan
penyempitan dan pemendekan jalan napas, yang secara signifikan meningkatkan resistensi
jalan napas terhadap aliran udara. Pada saat inspirasi dan berkontraksi serta memendek
selama ekspresi. Oleh karena itu, kesulitan bernapas lebih berat terjadi selama fase ekspresi.
Peningkatan tahanan dalam jalan napas menyebabkan ekspresi yang dipaksakan
melewati lumen sempit. Volume udara yang terjebak dalam paru meningkat pada saat jalan
napas secara fungsional menutup di titik antara alveoli dan bronkus lobucus. Gas yang
terjebak ini mendorong individu untuk bernapas pada volume paru yang semakin tinggi.
Akibatnya orang yang menderita asma harus berjuang untuk menginspirasi jumlah udara
yang cukup. Upaya keras untuk bernapas ini akan menyebabkan keletihan, penurunan
efektivitas pernapasan, dan peningkatan konsumsi oksigen.
Inspirasi yang terjadi ketika volume paru lebih tinggi akan menginflasi alveoli secara
berlebihan dan menurunkan efektivitas batuk. Jika obstruksi semakin parah, terjadi
penurunan ventilasi alveolus disertai retensi karbon dioksida, hipoksemia, asidosis
pernapasan dan akhirnya gagal napas.