Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Crude Palm Oil (CPO)


Minyak kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang
memiliki prospek yang cerah di masa mendatang. Potensi
tersebut terletak pada keragaman kegunaan dari minyak sawit.
Minyak kelapa sawit diperoleh dari serabut buah dan inti
(Munadi, 2007). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga
lapisan, yaitu lapisan luar atau kulit buah (pericarp), lapisan
sebelah dalam (mesocarp atau pulp) dan lapisan paling dalam
(endocarp). Sedangkan inti kelapa sawit (kernel) terdiri dari
lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio (Risza, 2004).
Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) adalah
minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa
sawit (Kong, 2010). Minyak sawit dapat disimpan dalam jangka
waktu lama. Selain itu, juga mudah dimurnikan dalam tingkat
pembentukan asam lemak bebas (ALB) yang dihasilkan rendah
(Hutahean, 2008).
2.2 Manajemen Industri Secara Umum
Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan
sumber daya manusia untuk mencapai tujuan. Tujuan dari
sistem manajemen dapat dicapai dengan menggunakan sarana
manajemen yang terdiri dari manusia, uang/modal, material,
metode, mesin dan pasar (Tampubolon, 2004). Manajemen
adalah
proses
perencanaan,
pengorganisasi-an
dan
penggunaan sumber daya organisasi yang telah ditetapkan
(Amirullah, 2004).
Adapun aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam
manajemen industri sebagai berikut:
1. Lokasi Perusahaan
Penetapan
lokasi
perusahaan
atau
pabrik
merupakan fase yang sangat penting dalam proses
perancangan pabrik. Lokasi pabrik memiliki unsur strategi
guna memperkuat posisi untuk bersaing, terutama dalam
rangka penugasan wilayah pemasaran (Nasution, 2006).
Dalam menentukan lokasi perusahaan, manajer perlu
mempertimbangkan berbagai faktor seperti kedekatan
3

pasar, kemudahan mendapatkan bahan baku, rendahnya


biaya tenaga kerja, rendahnya biaya transportasi dan lain
sebagainya (Herjanto, 2007).
2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan sarana untuk
mendistribusikan kekuasaan yang diperlukan dalam
memanfaatkan berbagai sumber daya organisasi untuk
mewujudkan tujuan organisasi (Mulyadi, 2007). Menurut
Bastian
(2006)
struktur
organisasi
merupakan
alat/instrumen para manajer perusahaan untuk
mengarahkan
dan mengoordinasikan kegiatan dan
operasi. Struktur organisasi menentukan kaitan antar
tugas-tugas yang dilaksanakan serta membagi-bagi
otoritas/wewenang dan tanggung jawab kepada manajer.
3. Mesin dan Peralatan
Mesin merupakan suatu peralatan bersifat otomatis
atau semi otomatis yang memiliki tenaga atau kekuatan
yang digunakan untuk membantu kegiatan manusia
(Rizaldi, 2006). Menurut Sani (2007) mesin adalah
setiap mesin permesinan, alat perlengkapan instalasi
pabrik, peralatan atau perkakas dalam keadaan
terpasang. Sedangkan peralatan adalah perkakas kecil
yang digunakan untuk melakukan pekerjaan tertentu
(Regina, 2009).
4. Tata Letak Fasilitas
Tata letak fasilitas merupakan susunan fasilitasfasilitas produksi untuk memperoleh efisiensi pada suatu
produksi (Purnomo, 2004). Tata letak fasilitas dapat
dibagi menjadi empat macam, yaitu product layout,
process layout, hybrid position layout dan fixed position
layout. Product Layout adalah metode penempatan
semua produksi yang diperlukan untuk membuat satu
jenis produk ke dalam satu departemen secara khusus.
Process Layout merupakan metode penempatan mesin
dan peralatan produksi dengan tipe/jenis yang sama
dalam satu departemen (Aidil, 2012). Hybrid Position
4

Layout adalah campuran antara metode product layout


dan process layout. Fixed Position Layout dipilih apabila
ukuran bentuk ataupun karakteristik lain menyebabkan
produknya sukar untuk dipindahkan (Herjanto, 2007).
5. Ketenagakerjaan
Tenaga kerja merupakan sebagian dari penduduk
yang ikut serta dalam proses produksi dan menghasilkan
barang dan jasa (Kurnia, 2007). Tenaga kerja adalah
salah satu faktor yang sangat penting dalam perusahaan.
Oleh karena itu, sumber daya manusia harus dikelola
dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
organisasi. Tenaga kerja dapat dibagi menjadi dua, yaitu
tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
Tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang
secara langsung terlibat dalam proses produksi.
Sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga
kerja yang tidak terlibat langsung dalam proses produksi
(Nafarin, 2007)
6. Proses Produksi
Proses produksi (production process) merupakan
serangkaian pekerjaan dimana sumber daya digunakan
untuk memproduksi suatu barang atau jasa (Madura,
2007). Menurut Komalasari (2012) proses produksi
merupakan suatu aktivitas fisik yang berupa pengubahan
bentuk, sifat atau tampilan suatu material untuk
memberikan nilai tambah. Konsep dasar proses produksi
adalah proses masuknya input dan kemudian diproses
untuk menghasilkan output.
7. Limbah
Limbah merupakan bahan buangan hasil
sampingan akibat proses produksi dalam bentuk padat,
cair dan gas yang kehadirannya tidak dikehendaki oleh
lingkungan (Suprapti, 2005). Berdasarkan toksisitasnya
limbah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu limbah non
B3 dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Limbah non B3 adalah limbah yang tidak memberikan
5

dampak bagi makhluk hidup. Sedangkan limbah B3


adalah limbah yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun karena sifat, konsentrasi dan jumlahnya baik
secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak,
mencemari lingkungan hidup dan dapat membahayakan
manusia (Firmansyah dkk, 2009).
8. Sanitasi
Sanitasi merupakan upaya pencegahan penyakit
yang dilakukan dengan cara menghilangkan atau
mengatur faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai
penyebaran penyakit. Jadi, sanitasi merupakan usaha
menciptakan atau memelihara kondisi yang mampu
mencegah terjadinya kontaminasi makanan atau
terjadinya penyakit yang disebabkan oleh makanan
(Suparinto dkk, 2006). Menurut Arisman (2008) dalam
menciptakan keamanan pangan maka diperlukan
sanitasi. Sanitasi merupakan upaya mereduksi jumlah
jasad renik pencemar (bakteri atau virus) dari permukaan
tempat makanan diproses.
9. Pemasaran
Tujuan utama pemasaran adalah untuk memahami
keinginan dan kebutuhan konsumen agar produk atau
jasa tersebut dapat terjual pada konsumen yang tepat
(Natalisa, 2005). Kegiatan pemasaran terdapat saluran
pemasaran yang menentukan organisasi yang terlibat
dalam proses pemasaran. Menurut Kottler dan Keller
(2009) ada beberapa tingkat saluran pemasaran, saluran
tingkat nol, saluran tingkat pertama, saluran tingkat dua,
saluran tingkat tiga
2.3 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu merupakan bagian dari manajemen
mutu yang difokuskan pada pemenuhan persyaratan mutu.
Dengan kata lain, pengendalian mutu adalah suatu tahapan
dalam prosedur yang dilakukan untuk mengevaluasi suatu
aspek teknis pengujian dan/atau kalibrasi (Hadi, 2007). Kegiatan
dalam pengendalian mutu mencakup pemantauan, mengurangi
6

kemungkinan adanya perubahan, menghilangkan penyebab


buruk dan usaha-usaha meningkatkan keefektifan ekonomi
(Madura, 2007).
Pengendalian mutu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
pengendalian mutu bahan baku, pengendalian mutu proses dan
pengendalian mutu produk akhir (Nur, 2012).
1. Pengendalian Mutu Bahan Baku
Bahan baku yang tidak memenuhi syarat akan
menurunkan mutu dari produk akhir sehingga dibutuhkan
pengendalian mutu bahan baku yang baik (Madura, 2007).
Pengendalian kualitas bahan baku sangat menentukan baik
buruknya kualitas produk. Pengendalian mutu bahan baku
sebaiknya dikerjakan oleh manajemen perusahaan yang
meliputi seleksi sumber bahan, pemeriksaan dokumen,
pemerikaan dan penerimaan bahan serta penjagaan gudang
bahan baku perusahaan (Assauri, 2004).
2. Pengendalian Mutu Proses Produksi
Pengendalian mutu proses merupakan kegiatan
perencanaan dan pengawasan. Perencanaan adalah suatu
kegiatan untuk menentukan tujuan. Sedangkan pengawasan
pengendalian mutu meliputi pemeriksaan dan pengujian produk
atau layanan ketika diproses (Assauri, 2004). Pengendalian
mutu proses dikatakan berhasil apabila produk berhasil
diproduksi sesuai standar perusahaan (Schroeder, 2005).
3. Pengendalian Mutu Produk Akhir
Pengendalian mutu produk akhir bertujuan untuk
menjaga produk yang rusak tidak sampai ke tangan konsumen.
Oleh karena kitu, produk akhir harus selalu diawasi mutunya
sejak keluar dari proses produksi hingga tahap pengemasan,
pergudangan dan pengiriman ke tangan konsumen. Kegiatan ini
mencakup monitoring proses, melakukan tindakan koreksi
apabila terdapat ketidaksesuainan (Hurst, 2006). Pengendalian
mutu produk akhir ini bertujuan untuk meningkatkan mutu
produk dengan bakuan mutu SNI 19-9000 maupun ISO
(Haming, 2007).