Anda di halaman 1dari 7

1

Pengaruh Padang Lamun Terhadap Laju Sedimen Transpor dan


Perubahan Garis Pantai di Pantai Gumicik, Kabupaten Gianyar, Bali
Abstrak - Pantai Gumicik yang terletak di Kabupaten Gianyar
merupakan pantai yang mengalami erosi. Tugas akhir ini membahas

I.

PENDAHULUAN

Raindiza Saputra, Widi A. Pratikto, dan Kriyo Sambodho


Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: raindizasaputra@yahoo.com
peranan padang lamun sebagai alternatif perlindungan pantai
terhadap erosi. Padang lamun memiliki fungsi sebagai produsen
primer di perairan laut dangkal, sebagai habitat biota laut dan sebagai
pendaur zat hara. Selain daun lamun yang lebat dapat mereduksi
tinggi gelombang yang melewatinya sehingga dapat mempengaruhi
laju sedimen transpor dan perubahan garis pantai di lokasi studi.
Untuk mengetahui peranan padang lamun sebagai pereduksi tinggi
gelombang, koefisien drag (CD) dari padang lamun diperhitungkan
menggunakan formula empiris dari Asano et al untuk kemudian
disubstitusikan kedalam persamaan reduksi tinggi gelombang yang
diberikan oleh Bretschneider dan Reid. Kemudian dari hasil tersebut
digunakan untuk perhitungan laju sedimen transpor dan perubahan
garis pantai untuk daerah dengan adanya padang lamun. Sebagai
pembanding, diperhitungkan juga laju sedimen transpor dan
perubahan garis pantai di daerah tanpa padang lamun. Dari analisis
didapatkan dengan adanya padang lamun, laju sedimen transpor per
tahunnya berkurang dari 7 ribu m3 menjadi 3 ribu m3. Kemudian ratarata kemunduran garis pantai per tahunnya berkurang dari 5 meter
menjadi 3 meter.
Kata Kunci erosi pantai, lamun, koefisien drag, reduksi tinggi
gelombang, laju sedimen transpor, perubahan garis pantai
Abstract Gumicik beach which is located on the coast of Gianyar is
experiencing erosion. This final project explains the effect of seagrass
bed as an alternative coastal protection against erosion. Seagrass bed
had functions as primary producers in shallow sea waters, as a habitat
for sea life and recycling substances nutrient. Besides, the bushy
seagrass leaves can reduce wave height that passed through it, so it
can affect the rate of sediment transport and the shoreline change at
the area of study.To find out the effect of seagrass bed as a wave
height reducer, drag coefficient (CD) of seagrass calculated by
empirical formula that proposed by Asano et al, and then substituted
to wave height reduction equation, given by Bretschneider and Raid.
Then these results are used to calculate the sediment transport rate
and the shoreline change for area with seagrass bed. As a comparison,
the sediment transport rate and the shoreline change for area without
seagrass bed also calculated. From the analysis, by the presence of
seagrass bed, the sediment transport rate per year decreased from 7
thousand m3 to 3 thousand m3. Then the average setback of the
coastline per year reduced from 5 meters to 3 meters.

antai Gumicik merupakan salah satu dari beberapa pantai


di Kabupaten Gianyar yang tererosi dan hanya berjarak
kurang lebih satu kilometer dari Jalan Prof. Dr. Ida Bagus
Mantra yang merupakan akses jalan utama dari Denpasar
menuju Gianyar. Sebenarnya sampai dengan tahun 2012, Dinas
Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai Bali Penida
sudah melakukan pembangunan struktur pelindung pantai berupa
revetment di Pantai Gumicik. Namun, belum keseluruhan Pantai
Gumicik yang terlindungi oleh revetment. Untuk bagian pantai yang
berhadapan dengan perkebunan masih belum dibangun struktur
pelindung pantai.
Selain perlindungan menggunakan revetment, salah satu alternatif
perlindungan pantai terhadap erosi juga dapat menggunakan soft
structure, salah satunya padang lamun. Daun lamun yang lebat akan
memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga
perairan di sekitarnya menjadi tenang. Selain itu, padang lamun juga
memiliki fungsi sebagai produsen primer di perairan laut dangkal,
sebagai habitat biota laut dan sebagai pendaur zat hara. Selain itu,
sebaran populasi padang lamun sangat luas di Indonesia. Dari 50
jenis lamun yang ada di seluruh dunia, ada 12 jenis yang telah
ditemukan di perairan Indonesia. Lamun dapat hidup sampai dengan
kedalaman 40 meter dari permukaan laut dan dapat hidup di atas
substrat berlumpur sampai dengan substrat pasir berkerikil bahkan di
atas karang [1]. Hal tersebut sesuai dengan kondisi Pantai Gumicik
yang memiliki substrat berpasir.
Dengan adanya padang lamun dilokasi, akan menyebabkan tinggi
gelombang yang melaluinya tereduksi. Kemudian mempengaruhi laju
sedimen transpor dan perubahan garis pantai di lokasi studi.

Keyword coastal erosion, seagrass, drag coefficient, wave height


reduction, sediment transport rate, shoreline change
Gambar 1. Lokasi Studi Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati,
Kabupaten Gianyar

II.

URAIAN PENELITIAN

A. Studi Literatur
Dalam tugas akhir ini, literatur-literatur yang dipelajari adalah
tugas akhir dan jurnal-jurnal yang berkaitan langsung dengan
penelitian ini serta buku-buku sebagai tambahan referensi dalam
penyelesaian masalah.
B. Pengumpulan Data
Data Lokasi Studi
Lokasi studi 500 meter sepanjang garis pantai Desa Ketewel,
dengan luas wilayah kajian kurang lebih 0,5 kilometer persegi.
Lokasi padang lamun yang direncanakan terletak diantara kontur
kedalaman (d) 2 meter dan kontur kedalaman (d) 10 meter, dengan
luasan 0,1 kilometer persegi, dengan kerapatan vegetasi lamun di
daerah studi 1.110 unit per meter persegi. Untuk mendapatkan
deskripsi dari lokasi studi yang lebih jelas, dapat dilihat pada Gambar
1 dan Gambar 2.

1.

Gambar 3. Hasil Percobaan Pengukuran Koefisien Drag (CD)


sebagai Fungsi dari Reynolds Number (R)
Dari percobaan tersebut didapatkan formula empiris untuk C D sebagai
berikut:

C D =0,04+

4600
R

2.90

(1)

Kemudian formula tersebut akan disubstitusikan dalam persamaan


koefisien gesekan dasar untuk mendapatkan tinggi gelombang
tereduksi akibat padang lamun.

Gambar 2. Ilustrasi Lokasi Padang Lamun Terhadap Garis Pantai


Gelombang Pecah
2. Data Fisik Padang Lamun
Untuk perhitungan koefisien drag (CD) padang lamun, kondisi fisik
padang lamun diasumsikan sesuai dengan formula yang diberikan
oleh Mendez et al. [2] yang disesuaikan dengan data eksperimen oleh
Asano et al. [3]. Eksperimen tersebut dilakukan di laboratorium, di
dalam flume dengan ukuran panjang 25 m, lebar 0,5 me dan tinggi
0,7 m. Tanaman buatan dibuat dari bilah-bilah polypropylene dengan
spesific gravity SG= 0.9. Bilah-bilah polypropylene tersebut
memiliki panjang 0,25 m, lebar 5,2 cm dan ketebalan 0,03 mm.
Tanaman buatan tersebut ditambatkan pada jaring kawat di bagian
dasar flume. Tanaman buatan diposisikan di bagian tengah flume
dengan total lebar 8 m. Jumlah rataan sebaran bilah-bilah tersebut per
unit horizontal area adalah N= 1110 unit/m2. Total sebanyak 60 kali
percobaan telah dilakukan dengan memvariasikan kedalaman air,
frekuensi gelombang dan tinggi gelombang.
Untuk menjelaskan CD yang sangat bervariasi dari model tanaman
buatan tersebut, Mendez et al. mengeplotkan CD yang sudah diukur
sebagai fungsi Reynolds Number (R) yang didefinisikan dengan R =
b ur/ v, dimana b adalah lebar tanaman, v adalah viskositas kinematik
(air laut pada suhu 20) dan ur adalah kecepatan horizontal
maksimum partikel air. Gambar 3 menampilkan nilai CD yang telah
diukur, sebagai fungsi R untuk 60 kali percobaan. Formula empiris
yang digunakan untuk menunjukkan hubungan antara C D dan R
ditunjukkan dengan garis putus-putus. Untuk C D swaying plants, hasil
pengukurannya ditunjukkan dengan titik-titik (). Sedangkan untuk
rigid plants, hasil pengukurannya ditunjukkan dengan tanda silang
(+).

3. Data Peta Bathymetri


Data peta bathymetri diperlukan untuk melakukan analisis
refraksi, shoaling dan perubahan garis pantai. Untuk analisis refraksi,
peta bathymetri yang ada dibagi kedalam beberapa pias, kemudian
digunakan untuk mencari koefisien refraksi dan karakteristik
gelombang pecah. Sedangkan untuk analisis perubahan garis pantai,
peta yang ada terlebih dahulu dibagi menjadi jumlah pias yang lebih
kecil, kemudian dilakukan pengukuran unuk mendapatkan nilai Yawal (jarak dari titik nol ke garis pantai awal), kemudian hasil Y-awal
tersebut digunakan dalam perhitungan untuk mendapatkan Y-akhir
dalam setiap langkah waktu untuk menggambarkan perubahan garis
pantai di lokasi studi.
4. Data Angin
Data angin yang digunakan dalam penelitian ini adalah data angin
dari Stasiun Meteorologi Ngurah Rai selama kurun waktu 10 tahun
dari tahun 2000 2010. Arah angin akan dinyatakan dalam bentuk 8
penjuru arah angin dengan kecepatan dalam satuan knot. Sebelum
data angin hasil pencatatan diolah menggunakan WRPLOT, terlebih
dahulu data yang ada disimpan dalam bentuk excel dengan fotmat
kolom pertama berisikan data tahun, kolom kedua berisikan bulan,
kolom ketiga berisikan tanggal, kolom keempat berisikan jam,
kemudian kolom kelima dan keenam berisikan arah dan kecepatan
angin. Setelah itu data angin akan diolah menggunakan program
WRPLOT untuk mendapatkan arah angin dominan dan jumlah
kejadian angin menurut arah dan kecepatannya.
4. Data Gelombang
Data gelombang diperlukan untuk mengetahui besaran dan
perilaku gelombang yang menuju ke arah pantai. Data gelombang
yang digunakan berdasarkan konversi dari data angin di darat di
dekat lokasi penelitian.
Gelombang yang ditemui di laut pada umumnya terbentuk dari
proses perpindahan energi dari angin ke permukaan laut. Angin yang
berhembus di permukaan air yang tenang menyebabkan gangguan di

3
permukaan air tersebut, dengan munculnya riak gelombang kecil di
atas permukaan air. Apabila kecepatan angin bertambah, riak tersebut
akan semakin besar dan apabila angin berhembus terus-menerus
maka akan terbentuklah gelombang.
Karakteristik gelombang yang terbentuk, tinggi dan periode
gelombang yang terbentuk tergantung dari pengaruh kecepatan angin
(U), lama hembusan angin (t), panjang fetch (F), serta arah angin.
Fetch dapat didefinisikan sebagai panjang daerah pembangkitan
gelombang pada arah datangnya angin, pada umumnya dibatasi oleh
daratan yang mengelilingi daerah pembangkitan gelombang. Panjang
fetch berpengaruh terhadap karakteristik gelombang, bila fetch
semakin panjang maka akan terbentuk gelombang dengan periode
besar.
Apabila bentuk daerah pembangkitan tidak teratur, maka
perhitungan fetch efektif dapat dilakukan dan kemudian hasilnya
akan digunakan untuk memprediksi karakteristik gelombang di laut
dalam.

Setelah dilakukan analisis data angin dan didapatkan arah


angin dominan, kemudian dilakukan perhitungan panjang fetch
(panjang daerah pembangkitan gelombang). Panjang fetch
berpengaruh terhadap karakteristik gelombang, bila fetch
semakin panjang maka akan terbentuk gelombang dengan
periode besar. Apabila bentuk daerah pembangkitan gelombang
tidak teratur, maka untuk perhitungan fetch efektif dapat
dilakukan dengan persamaan (2) di bawah ini [4]:

Feff =
(2)

dengan:
Feff = fetch efektif
Xi = panjang garis fetch

= deviasi pada kedua sisi dari arah angin, dominan


dengan menggunakan
pertambahan 6 sampai sudut
sebesar 42 pada kedua sisi dari arah angin dominan.

4. Data Tanah
Data tanah diperlukan untuk mengetahui ukuran butir yang
sepadan dengan 90% yang melalui ayakan (D 90). Nilai dari D90 akan
digunakan dalam perhitungan koefisien gesekan dasar yang akan
menentukan besar reduksi tinggi gelombang.
Dari data tanah diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk D 90 di
daerah studi adalah jenis gravel. Untuk perhitungan, diasumsikan
diameter butiran gravel seragam yaitu 2 mm.

i.

X i cos
cos

C. Analisis Data
Analisis Data Angin
Analisis data angin dilakukan untuk mengetahui arah angin
dominan dan jumlah kejadian angin menurut arah. Setelah data
pencatatan angin diperoleh, kemudian data angin diolah dengan
menggunakan program WRPLOT. Berikut output dari program
WRPLOT:
Tabel 1. Kejadian Angin Pantai Gumicik Tahun 2000 - 2010

Gambar 5. Peta untuk Perhitungan Panjang Fetch Efektif


Hasil perhitungan fetch efektif dapat disajikan dalam bentuk
tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Perhitungan Fetch Efektif

Dari Tabel 1 dan 2 terlihat bahwa arah angin dominan bertiup


dari arah tenggara dengan jumlah kejadian 1292, dengan
persentase 34% dari seluruh kejadian dalam kurun waktu 10
tahun. Data diatas jika disajikan dalam bentuk diagram mawar
angin adalah sebagai berikut:

Feff =

X i cos
cos

2921.69
13.511

= 216,2466

km
Gambar 4. Mawar Angin (Stasiun Meterorologi Ngurah Rai Tahun
2000 - 2010)
ii. Analisis Gelombang

Nilai 0 merupakan arah angin dominan, dengan X i


merupakan jarak dari lokasi studi ke daratan terdekat. Begitu
pula untuk sudut-sudut yang lain. Setelah didapatkan jarak

4
untuk masing-masing sudut, didapatkan harga fetch efektif dari
perhitungan menggunakan persamaan (2) sebesar 216,25 km
Langkah selanjutnya adalah mengubah data angin hasil
pencatatan di darat (UL) menjadi data kecepatan angin di laut
(UW) menggunakan formula berikut [4]:

U
R L= W
UL

1
T rms =
T 2i

N i=1
(9)

T 0 1 /3 =1.42 x T rms

(10)

dengan:

(3)
dengan:
RL = hubungan UL dan UW.
Nilai dari RL dapat diperoleh dengan mengeplot nilai U L
kedalam grafik berikut:

= periode gelombang di laut dalam


= tinggi gelombang di laut dalam
H rms = H root mean square

H 0 1/ 3
T rms
T 0 1 /3

= tinggi gelombang signifikan


= T root mean square

= periode gelombang signifikan.


Berikut ini tabel hasil perhitungan tinggi dan periode
gelombang signifikan:

Tabel 4. Hasil Perhitungan Tinggi dan Periode Gelombang


Signifikan

Gambar 6. Hubungan RL dengan UL [5]


Setelah itu, data kecepatan angin di atas laut (U W) yang ada
terlebih dahulu harus diubah kedalam Wind Stress Factor (U A)
dengan menggunakan formula berikut:
UA = 0,71 UW1,23
(4)
dengan:
UW = kecepatan angin di laut (m/ s).
UA = wind stress factor
Kemudian untuk mendapatkan nilai tinggi dan periode
gelombang di laut dalam, didapatkan dengan cara memasukkan
nilai wind stress factor (UA), panjang fetch efektif (F eff) ke
dalam formulasi forecasting gelombang laut dalam sebagai
berikut:
H0 = 5.112 x 10-4 x UA x F0.5
(5)
T0 = 6.238 x 10-2 x (UA x F)0.33
(6)
dengan:
UA = wind stress factor
F
= fetch efektif.
Tabel 3. Hasil Perhitungan H0 dan T0

Setelah itu, dari perhitungan H 0 dan T0, dapat dicari Hrms, Trms,
H0 1/3 dan T0 1/3 dengan persamaan berikut [4]:

1
H rms =
H 2i

N i=1
(7)

H 0 1/ 3=1.42 x H rms
(8)

Dari hasil perhitungan di pada Tabel 4 didapatkan nilai dari


H0 1/3 dan T0 1/3 adalah 1.94 meter dan 3.62 detik.
iii. Analisis Refraksi, Shoaling dan Gelombang Pecah
Untuk melakukan analisis refraksi, shoaling dan gelombang
pecah digunakan perhitungan dalam program Excel, program
RSB 2.0 oleh Kamphuis [5]. Untuk analisis shoaling, refraksi
dan gelombang pecah masukan dan asumsi yang digunakan
antara lain:
1. Data gelombang yang digunakan adalah data gelombang
signifikan yang didapat dari peramalan gelombang akibat
angin (Tabel 4).
2. Kemiringan pantai didapatkan dari selisih tinggi antar kontur
yang ditinjau dibagi dengan jarak antar kontur kedalaman
yang didapatkan dari peta bathymetri yang kemudian diolah
dalam program Autocad.
3. Data gelombang yang diperhitungkan adalah dari arah
Tenggara.
4. Sudut datang gelombang dari arah tenggara sebesar 11 dari
garis yang tegak lurus garis pantai.
5. Kontur dasar laut dianggap pararel terhadap garis pantai.
Untuk perhitungan gelombang pecah, digunakan persamaan
yang diberikan oleh Kamphuis [5] untuk mengetahui tinggi
gelombang maksimum tepat sebelum gelombang pecah di
kedalaman tertentu. Tinggi gelombang maksimum ditinjau di
setiap kedalaman, kemudian dibandingkan dengan perhitungan
reduksi tinggi gelombang baik di daerah tanpa padang lamun
maupun di daerah tanpa padang lamun. Gelombang pecah
terjadi apabila ketinggian gelombang hasil dari perhitungan

5
reduksi tinggi gelombang melampaui tinggi gelombang
maksimum (Hmaks).

H maks=0,095 e 4,0 m Lb tanh

2 db
Lb

( )

Untuk nilai dari dapat diperoleh menggunakan grafik


yang menunjukkan hubungan antara d/T 2 dengan (d/T2)
berikut:

(11)
iv. Perhitungan Koefisien Drag Padang Lamun
Data fisik tanaman lamun antara lain:
- luas area
= 300 km2
- kerapatan
= 1.110 unit/m2
- lebar tanaman (b) = 5,2 cm.
Disamping data-data fisik lamun diatas, beberapa faktor
lingkungan juga berpengaruh terhadap nilai CD, antara lain:
- viskositas air laut (v)= 1.047x10-6 m2/s.
Kemudian hasil dari perhitungan koefisien drag padang
lamun di setiap kedalaman disubtitusikan kedalam persamaan
reduksi tinggi gelombang dengan mensubstitusikan nilai faktor
gesekan.
v. Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang
Reduksi tinggi gelombang yang disebabkan oleh gesekan
dasar (bottom friction) di daerah perairan pantai tanpa adanya
tanaman telah dibahas oleh Bretschneider dan Reid [6]. Dalam
perairan transisi dan dangkal reduksi tinggi gelombang yang
disebabkan oleh shoaling dan refraksi adalah sebagai berikut
[5] dengan menambahkan koefisien gesekan dasar [7]:

H 1=H 0 K s K r

Cf H0
+1
mT 2

dimana

A
ks

Untuk

Sedangkan untuk daerah dengan padanng lamun, untuk


kedalaman 10 meter sampai dengan 6 meter yang mendapat
pengaruh dari padang lamun, nilai C f yang dimasukkan
menggunakan formula koefisien drag (CD) dari padang lamun.
vi. Tabulasi Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang
Tabel 5. Hasil Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang Tanpa
Padang Lamun

Tabel 6. Hasil Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang Tanpa


Padang Lamun (lanjutan)

merupakan koefisien gesekan

(Kf).
Untuk
nilai
Cf,
Bretschneiser
dan
Reid
[6]
merekomendasikan untuk menggunakan nilai konstan sebesar
0,01. Namun, dengan banyaknya studi di laboratorium
mengindikasikan bahwa Cf tergantung pada Reynolds Number
dan Bottom Roughness Height (A/ks). Nilai Cf didapatkan dari
formula berikut :

Cf=

(12)
dengan:
H0= tinggi gelombang awal (m)
H1= tinggi gelombang akhir (m)
Cf = faktor gesekan
Ks = koefisien shoaling
Kr = koefisien refraksi
m = kemiringan dasar laut
T = periode gelombang H0 (s)
= integral dari bottom dissipation function

Cf H0
+1
mT 2

Gambar 7. Grafik Hubungan d/T2 dengan (d/T2)


Kemiringan Dasar Laut Konstan

0.75

( )

Tabel 7. Hasil Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang dengan


Adanya Padang Lamun

H0
2 d
2 sinh
L
k s=2 D90
A=

dengan:
A
= horizontal displacement amplitude of water particle
ks =Nikuradse sand grain roughness
D90 = ukuran butir yang sepadan dengan 90% yang melalui
ayakan.

Tabel 8. Hasil Perhitungan Reduksi Tinggi Gelombang dengan


Adanya Padang Lamun (lanjutan)

6
1.

Dari tabel-tabel diatas, didapatkan kedalaman gelombang


pecah di kedalaman untuk daerah tanpa padang lamun pada
kedalaman 0,7 m dengan ketinggian 0,42 m. Sedangkan untuk
daerah dengan padang lamun, gelombang pecah di kedalaman
0,5 m dengan ketinggian 0,32 m. Besar persentase reduksi
tinggi gelombang dari ketinggian gelombang di laut dalam
sampai dengan ketinggian gelombang pecah sebesar di lokasi
tanpa padang lamun sebesar 78,37% sedangkan untuk daerah
dengan padang lamun sebesar 83,37%. Kemudian hasil-hasil ini
akan disubstitusikan kedalam perhitungan laju sedimen
transpor dan perubahan garis pantai.
III. HASIL DAN DISKUSI
A. Analisis Laju Sedimen Transpor dan Perubahan Garis Pantai di
Lokasi Studi Tanpa Padang Lamun
i. Analisis Laju Sedimen Transpor
Untuk mendapatkan gambaran tentang transpor sedimen
yang mempengaruhi garis pantai akibat gelombang, maka perlu
adanya analisis transpor sedimen. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui perpindahan angkutan sedimentasi sepanjang
pantai. Sedangkan cara untuk mencari perpindahan angkutan
sedimen sepanjang pantai menggunakan metode CERC [4]
dibawah ini:

PI =
(13)

g 2
H C sin b cos b
8 b b

QS =K P I

(14)
dengan:
Qs = angkutan sedimen sepanjang pantai (m3/ tahun)
P1
= komponen fluks energi gelombang sepanjang pantai
pada saat pecah (kg- m/hari/m)

= rapat massa air laut (kg/m3)


Hb = tinggi gelombang pecah (m)
Cb = cepat rambat gelombang pecah (m/s)
b = sudut datang gelombang pecah ()
K = konstanta [5]
Diketahui data dari analisis gelombang pecah sebagai
berikut:
Hb = 0,419 m
Cb = 2,351 m/s
b = 4,91

= 1.025 kg/m3
g
= 9,81 m/s
K = 0,401
Dari hasil perhitungan menggunakan formula (13) dan (14),
didapatkan laju transpor sedimen per tahunnya di lokasi studi
tanpa adanya padang lamun sebesar 6.476,67 m3.
ii. Analisis Perubahan Garis Pantai
Analisis perubahan garis pantai dilakukan dengan
menggunakan metode CERC [4]. Untuk perhitungan sedimen
transpor masing-masing pias digunakan konstanta yang sebesar
0,401 [8].
Untuk pemodelan perubahan garis pantai diperlukan data dan
asumsi dasar sebagai berikut:

Data bathymetri dan data gelombang


(periode, tinggi dan arah gelombang), serta koordinat garis
pantai. Dalam perhitungan ini arah datang gelombang
terhadap garis tegak lurus pantai yaitu 4,91.
2.
Panjang garis pantai yang dianalisis
sepanjang 500 m, dibagi dalam 250 pias (jarak antar pias
(x) 2 m).
3.
Menghitung transpor sedimen (QS) pada
setiap pias berdasarkan tinggi dan periode gelombang serta
sudut datang gelombang.
4.
Menghitung perubahan garis pantai untuk
setiap langkah waktu.
Berdasarkan data diatas selanjutnya dilakukan perhitungan
perubahan garis pantai dengan menggunakan program Excel
pada tiap-tiap pias untuk waktu satu tahun. Untuk kemunduran
garis pantai dimasing-masing pias (y) dihitung menggunakan
formula berikut:

QS
x

( )( )

D y(1 hari) =

1
db

(15)
setelah kemunduran garis pantai di tiap-tiap pias
diperhitungkan dalam program excel, hasil tersebut disajikan
dalam grafik perubahan garis pantai berikut.

Gambar 8. Grafik Perubahan Garis Pantai Tanpa Padang


Lamun Selama 1 Tahun
Dari perhitungan perubahan garis pantai, didapatkan hasil
kemunduran pantai selama satu tahun (Gambar 8) dengan
kemunduran pantai rata-rata dalam satu tahun di lokasi tanpa
padang lamun adalah 4,494 meter.
B. Analisis Laju Sedimen Transpor dan Perubahan Garis Pantai di
Lokasi Studi Dengan Padang Lamun
i. Analisis Laju Sedimen Transpor
Diketahui data dari tabulasi perhitungan reduksi tinggi
gelombang sebagai berikut :
Hb = 0,322 m
Cb = 2,049 m/s
b = 4,19

= 1.025 kg/m3
g
= 9,81 m/s
K = 0,401
Dari hasi perhitungan menggunakan formula (12) dan (13),
didapatkan laju transpor sedimen per tahunnya di lokasi studi
dengan adanya padang lamun sebesar 2.849,767 m3.
ii. Analisis Perubahan Garis Pantai
Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, selanjutnya dilakukan
perhitungan perubahan garis pantai dengan menggunakan
program Excel pada tiap-tiap pias untuk waktu satu tahun.
Untuk kemunduran garis pantai dimasing-masing pias (y)
dihitung menggunakan formula berikut:

7
Gambar 9. Grafik Perubahan Garis Pantai Dengan Padang Lamun
Selama 1 Tahun
Dari perhitungan perubahan garis pantai, didapatkan hasil
kemunduran pantai selama satu tahun (Gambar 9) dengan
kemunduran pantai rata-rata dalam satu tahun adalah 2,752
meter.
IV. KESIMPULAN DAN RINGKASAN
Dari hasil analisis dan perhitungan yang telah dilakukan, dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Dengan adanya padang lamun di lokasi studi, laju transpor sedimen
di lokasi studi berkurang dari 7 ribu m3/tahun menjadi 3 ribu
m3/tahun
Adanya padang lamun di lokasi studi berpengaruh terhadap
perubahan garis pantai. Di lokasi tanpa padang lamun, rata-rata
kemunduran garis pantai per tahunnya mencapai 5 meter.
Sedangkan untuk di lokasi studi dengan adanya padang lamun,
rata-rata kemunduran garis pantai per tahunnya sebesar 3 meter.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam pengerjaan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan serta
dorongan moral maupun material dari banyak pihak baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penulis juga mengucapkan terima

kasih kepada Balai Wilayah Sungai dan Pantai, Bali- Penida dan
Stasiun Meteorologi Perak yang telah membantu dalam
mengumpulkan data selama pengerjaan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Azkab, H., M. (1999). Pedoman Inventarisasi Lamun. Oseana,
Volume XXIV, Nomor 1, 1-16.
[2] Mendez, F.J., Losada, I.N.J., Losada, M.A. (1999).
Hidrodynamic induced by wind waves in a vegetation field.
Journal of Geophysical Research 104 (C8), 18383-18396.
[3] Asano, T., Deguchi, H., Kobayashi, N. (1993). Interaction
between water waves and vegetation. Proceedings of the 23rd
International Conference on Coastal Engineering, vol. 3, 27102723.
[4] CERC. (1984). Shore Protection Manual. Washington DC: Us
Army Corps of Engineers Coastal engineering Research Center.
[5] Kamphuis, J.W. (2000). Introduction to Coastal Engineering
and Management. Singapore: World Scientific.
[6] Bretschneider, C., L., and Reid, R., O., 1954. Modification of
Wave Height Due to Bottom Friction, B.E.B. Tech. Memo, No.
45, 1 36.
[7] Grosskopf, W.G. (1980). Calculation of Wave Attenuation Due
to Friction and Shoaling: An Evaluation. Washington DC: Us
Army Corps of Engineers Coastal engineering Research Center.
[8] Triatmodjo, B. (1999). Teknik Pantai. Yogyakarta: Beta Offset.