Anda di halaman 1dari 3

ASRIN : PESAWAT PENJAGA INDONESIA

Maritim, julukan bagi Negara Indonesia karena memiliki 17506 pulau besar
dan kecil dengan total garis pantai diperkirakan sepanjang 81.000 km. Wilayah
kepulauan Indonesia memiliki posisi silang yang sangat strategis. Indonesia
memiliki peran penting dalam lalu lintas laut melalui adanya posisi strategis
tersebut. Alfred Thayer Mahan, seorang Perwira Tinggi Angkatan Laut Amerika
Serikat, dalam bukunya "The Influence of Sea Power upon History" mengemukakan
teori bahwa sea power merupakan unsur terpenting bagi kemajuan dan kejayaan
suatu negara, yang mana jika kekuatan-kekuatan laut tersebut diberdayakan, maka
akan meningkatkan kesejahteraan dan keamanan suatu negara. Sebaliknya, jika
kekuatan-kekuatan laut tersebut diabaikan akan berakibat kerugian bagi suatu
negara atau bahkan meruntuhkan negara tersebut.
"Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut
dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan.
Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang
mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa
pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri."
Itulah penggalan pidato Presiden Pertama RI Soekarno pada tahun 1953. Hingga kini
kita masih memiliki sejumlah masalah besar yang perlu segera diatasi sebelum kita
mampu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

http://peltuz.blogspot.com/2010/10/esay-ioe-2010-karya-finalis-zimmy.html
Namun kondisi saat ini banyak kapal yang melintasi zona ini tapi tidak
memiliki izin dan para nelayan dari luar yang mencuri kekayaan alam indonesia

akan di tindak dan ditangkap oleh TNI. Namun, banyak pula yang lolos dari kejaran
TNI karena keterbatasan anggota.
Bayangkan, kejahatan illegal fishing yang
dilakukan oleh ribuan kapal asing terus saja marak terjadi. Data Badan Pemeriksa
Keuangan (2013) menunjukkan, potensi pendapatan sektor perikanan laut kita jika
tanpa illegal fishing mencapai Rp. 365 triliun per tahun. Namun, akibat illegal
fishing, menurut hitungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), pendapatan
tersebut hanya berkisar Rp. 65 triliun per tahun. Jadi ratusan triliun rupiah devisa
negara hilang setiap tahun.
Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (3) disebutkan, bahwa bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri
juga bahwa kekayaan alam khususnya laut di Indonesia masih banyak yang dikuasai
oleh pihak asing, dan tidak sedikit yang sifatnya ilegal dan mementingkan
kepentingan sendiri.
Dalam hal ini, peran Pemerintah (government will) dibutuhkan untuk bisa
menjaga dan mempertahankan serta mengolah kekayaan dan potensi maritim di
Indonesia. Untuk mengolah sumber daya alam laut ini, diperlukan perbaikan
infrastruktur, peningkatan SDM, modernisasi teknologi dan pendanaan yang
berkesinambungan dalam APBN negara agar bisa memberi keuntungan ekonomi
bagi negara dan juga bagi masyarakat. Sebagaimana halnya teori lain yang
dikemukakan oleh Alfred Thayer Mahan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi
untuk membangun kekuatan maritim, yaitu posisi dan kondisi geografi, luas
wilayah, jumlah dan karakter penduduk, serta yang paling penting adalah karakter
pemerintahannya.
Sains dan Teknologi yang canggih sangat diperlukan agar mampu membantu
peran dari TNI untuk menjaga dan mengawasi luasnya wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan dapat menghindari serta meminimalisir tindak pencurian,
penyelundupan atas kekayaan alam indonesia. Beberapa hasil riset dari lembaga
peneliti seperti Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) dan LAPAN,
bekerja sama dengan pihak TNI membuat suatu inovasi pesawat tanpa awak untuk
memantau keadaan di lautan indonesia yang dinamakan UAV (Unmaned Aeritical
Vechile) . Salah tujuan dibuatnya UAV tersebut adalah sebagai pengintai. Namun,
masalah yang terjadi saat ini adalah UAV tersebut daya jangkaunya hanya beberapa
puluh kilometer saja dan bahan bakar yang digunakan seperti baterai hanya
bertahan beberapa jam saja. Sehingga UAV tersebut tidak bisa menjangkau
keseluruhan lauatan. Ketika UAV tersebut habis maka akan jatuh ke dasar laut dan
lost contact. Selain daya jangkau yang masih terbatas, pesawat UAV tersebut belum
dilengkapi dengan teknologi yang mampu bekerja di dua medium yang berbeda.
Sejumlah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada mencoba melakukan riset
dengan membuat prototype pesawat tanpa awak yang akan digunakan sebagai
pesawat pengintai.
Pesawat dirancang untuk mampu menjalankan tugas

pengintaian dengan adanya sistem navigasi dua medium ini yaitu udara dan laut.
Inovasi pesawat amfibi pengawas, pengintai, penjaga lautan Indonesia berbahan
bakar solar sel yang diberi nama ASRIN dirakit melalui beberapa perancangan.
Perancangan yang dilakukan meliputi perancangan Sistem Pesawat, Perancangan
Sistem Kendali Pesawat, Perancangan Sistem Autopilot, dan Perancangan Sistem
komunikasi.
SUMBER :
http://peltuz.blogspot.com/2010/10/esay-ioe-2010-karya-finalis-zimmy.html
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan
Data Badan Pemeriksa Keuangan