Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS BAHAN TAMBAHAN MAKANAN

BERBAHAYA

OLEH :
NI KADEK SUCAHYANINGSIH
MADE RINA RASTUTI
BENNY TRESNANDA
I KADEK MARDANA

P07134013006
P07134013016
P07134013027
P07134013044

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

ANALISIS BAHAN TAMBAHAN MAKANAN BERBAHAYA


Bahan tambahan makanan / bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan
pada pengolahan pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan antara lain pewarna ,
pengawet, penyedap rasa dan aroma pengemulsi, anti oksidan, anti gumpal, pemucat atau
pengental. Bahan tambahan yang diizinkan untuk dipergunakan pada makanan dengan batas
maksimum penggunaannya tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor :
722/Menkes/Per/IX/1988.
Bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam makanan karena berbahaya
sesuai Permenkes 722/Menkes/Per/IX/1988 dan diubah dengan Permenkes Nomor :
1168/Menkes/Per/XI/1999 adalah :
1. Asam Borat (Boric Acid)
Tujuan penambahan boraks pada proses pengolahan makanan adalah untuk
meningkatkan kekenyalan, kerenyahan , serta memberikan rasa gurih dan kepadatan terutama
pada jenis makanan yang mengandung pati. Kegunaan boraks sebenarnya ialah sebagai zat
antiseptic, obat pencuci mata ( barie acid 30%), salep ( boorsalp ) untuk menyembuhkan
penyakit kulit, salep untuk mengobati bibir ( borak gliserin ), dan pembasmi semut ( barie
acid boraks ). Bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada gerak pencernaan usus,
kelainan pada susunan saraf, depresi, dan kekacaun mental. Kematian pada orang dewasa
dapt terjadi dalam dosis 15 25 gram,sedangkan pada anak anak dalam dosis 5 6 gram.
Kandungan asam borat (boraks) ini dapat dianalisi secara kualitatif dengan cara Uji
Kertas Kunyit (turmerik). Prinsipnya , jika sehelai kertas kunyit dicelup ke dalam larutan
suatu boraks yang diasamkan dengan asam klorida encer. Lalu dikeringkan pada 1000C,
kertas ini menjadi coklat-kemerah-merahan.
2. Asam Salisilat
Asam salisilat memiliki rumus kimia C7H6O3. Penggunaan asam salisialt dalam
pangan ditambahkan sebagi aroma penguat rasa. Kegunaan : Antiseptik ( Externally) dan
Keratolitik ( topical). Dalam jumlah banyak menyebabkan muntah muntah, kejang perut,
sesak napas, acidosis, gangguan mental.
3. Formalin (Formaldehyde)
Formalin sebenarnya adalah bahan pengawet yang digunakan dalam dunia
kedokteran, misalnya sebagi bahan pengawet mayat. Meskipun begitu saat ini formalin
disalahgunakan sebagai bahan tambahan pangan. Formalin jika dalam konsentrasi yang tinggi
dalam tubuh, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat kimia di dalm sel dan
menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh, juga meneyebabkan
iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat mutagenic, serta orang yang
mengonsumsi akan muntah, diarte bercampur darah, dan kematian yang disebabkan
kegagalan dalam peredaran darah. Formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA
yaitu golongan senyawa karsinogenik yang masih dalam tahap diduga karena data hasil uji
coba pada manusia masih kurang lengkap.

Formalin dapat dianalisis dengan beberapa cara, salah satunya dengan Metode Spot
Test. Prinsip kerjanya adalah dengan menambahkan cairan (reagent) pada bahan makanan
yang diduga menggunakan bahan yang diselidiki, dengan hasil akhir terjadinya perubahan
warna khas. Metode ini mempunyai keistimewaan antara lain cepat, murah, pasti dan tidak
memerlukan peralatan yang rumit dan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.
4. Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik dan pada
dosis tinggi bersifat bakterisid. Kloramfenikol apabila diberikan pada anak usia di bawah satu
tahun dapat menyebabkan penyakit kuning. Efek samping dalam penggunaan obat
kloramfenikol adalah reaksi hematologik berupa depresi sumsung tulang dan anemia aplastik,
reaksi saluran cerna (mual, muntah, diare, glositis, dan enterokolitis), sindrom gray, dan
terhambatnya fungsi penggabungan oksidase hepatik yang dapat mengakibatkan
penghambatan metabolisme obat seperti walfarin, fenitonin, tolbutamin, dan klorporamid.
5. Nitrofurazon
Nitrofurazon digunakn dalam pakan ternak sebagai senyawa anti mikroba. Efek
farmakologi nitrofuran dari hasil penelitian terhadap tikus, maka LD50 datri zat ini adalah
0,59 g/kg pemberian secara oral dapat menyebabkan skin lessison pada kulit serta infeksi
pada kandung kemih. Merupakan anti mikroba, sehingga dapat membunuh flora usus.
6. Kalium Klorat ( KclO3)
Zat ini dapat menyebabkan iritasi kuat terhadap membran mukosa.
7. Diethylpyrocarbonat
Penggunaan diethylpyrocarbonat yaitu sebagai pengawet anggur, soft drink, fruit
juices. Namun diethylpyrocarbonat dapat menyebabkan iritasi membran mukosa.
8. Dulcin
Dulsin dalam bahan pangan digunakan sebagi pengganti sukrosa bagi orang yang
perlu diet karena dulsin tidak memiliki nilai gizi. Dulsin adalah zat pemanis yang mempunyai
tingkat kemanisan 250 kali lebih manis dari gula. Dulsin pada tikus menyebabakan kerusakan
sel adenomas liver, papiloma, rongga ginjal dan kandung kemih, juga pembentukan batu.
Sedangkan pada manusia belum ada data, tetapi tidak layak digunakan sebagai pemanis.
9. Brominated vegetable oil
Biasanya digunakan pada minuman ringan. Brominated vegetable oil menimbulkan
reaksi alergi, metabolisme ion Br yang perlahan menimbulkan akumulasi pada sel adiphose
tulang dan lemak.
10. Kalium Bromat
Biasanya digunakan sebagai pemutih dan pematang tepung. Menurut hasil penelitian
penggunaan kalium bromat pada makanan minuman dapat membahayakan kesehatan karena

bersifat karsinogenik, dan bila dikonsumsi menyebabkan muntah, mual, diare, dan kerusakan
pada ginjal.

Sebagian besar dari cara analisa bahan tambahan makanan tersebut masih berdasarkan
suatu prinsip kromatografi atau pun menggunakan alat spektrophotometer. Berikut salan satu
contoh analisis bahan tambahan makanan berbahaya, yaitu formalin .
1. Uji kualitatif
a. Dengan Fenilhidrazina
b. Dengan asam kromatofat
Dengan mencampurkan 10 gram sampel dengan 50 ml air. Campuran dipindahkan ke
dalam labu destilat dan diasamkan dengan H 3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan
pendingin dan didestilasi. Larutan pereaksi Asam kromatofat 0,5% dalam H2SO4 60% (asam
1,8 dihidroksinaftalen 3,6 disulfonat) sebanyak 5 ml dimasukkan dalam tabung reaksi,
ditambahkan 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Tabung reaksi dimasukkan dalam
penagas air yang mendidih selam 15 menit dan amati perubahan warna yang terjadi. Adanya
HCHO ditunjukkan dengan adanya warna ungu terang sampai ungu tua.
c. Dengan Larutan Schiff
2. Uji Kuantitatif
a. Dengan metode Asidialkalimetri
b. Dengan metode Spektrofotometri
1. Asam Kromatofat
Dengan mencampurkan 10 g sampel dengan 50 ml aquadest dengan cara
menggerusnya didalam lumpang. Kemudian didestilat dan diasamkan dengan H3PO4,
ditampung dengan labu ukur 50 ml. Ditambahkan 5 ml asam kromatofat. Kemudian diukur
absorbansi sampel dan standar dengan panjang gelombang 560 nm dan dihitung kadar
formalinnya.

DAFTAR PUSTAKA
Azizahwati,. Maryati,. Heidi. 2007. Analisis Zat Warna Sintetik Terlarang Untuk Makanan
Yang Beredar Di Pasaran. [ Jurnal Ilmu Kefarmasian. Vol. IV, No. 1, 7 25 ]
Departemen Farmasi FMIPA. Universitas Indonesia. Depok.
Sumarlin, La Ode. 2009. Identifikasi Pewarna Sintetis Pada Produk Pangan Yang Beredar di
Jakarta dan Ciputat. [ Jurnal ] Progam Studi Kimia. FST. Universitas Islam
Negri Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Dhea. 2013. Identifikasi Bahan Tambahan Makanan. Online. https://dcycheesadonna.
wordpress.com/2013/05/27/identifikasi-bahan-tambah-makanan/ Diakses pada 4
Juni 2014.
Yulia, Lia. 2012. Laporan Bahan Tambahan Pangan. Online. http://liayuliasitirohmah.
blogspot.com/2012/02/laporan-bahan-tambahan-pangan.html Diakses pada 4
Juni 2014.