Anda di halaman 1dari 18

TUGAS REFERAT

EFUSI PLEURA
PEMBIMBING : dr. Atikah Sp.P

ANAK AGUNG ANOM


030.10.026

UNIVERSITAS TRISAKTI
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
RSAL MINTOHARDJO

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI . 2
BAB 1. PENDAHULUAN . 3
BAB 2. ANATOMI DAN FISIOLOGI .. 4
BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi 11
3.2 Etiologi 11
3.3 Patofisiologi 12
3.4 Perbedaan transudat dan eksudat 13
3.5 Manifestasi klinis . 13
3.6 Pemeriksaan penunjang 14
3.7 Penatalaksanaan 15
BAB 4 KESIMPULAN .. 17
BAB 5 DAFTAR PUSTAKA . 18

BAB 1
PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan >15mL dalam
pleura berupa transudat maupun eksudat yang diakibatkan karena ketidakseimbangan antara
produksi dan absorbsi pada kapiler di pleura viseralis. Menurut World Health Organization
(WHO) 2008, efusi pleura terdapat di seluruh negara bahkan menjadi masalah utama pada
negara berkembang seperti Indonesia.1
Di negara-negara industri, diperkirakan terdapat 320 kasus efusi pada 100.000 orang. Di
Amerika Serikat, sebanyak 1,3 juta orang di laporkan menderita efusi pleura yang disebabkan
oleh gagal jantung kongestif dan pneumonia bakteri. Menurut Departemen kesehatan
Republik Indonesia (Depkes RI) pada tahun 2006, kasus efusi pleura mencapai 2,7%. 1
Tingginya angka kejadian efusi pleura disebabkan oleh keterlambatan penderita untuk
memeriksakan keadaannya sejak dini, sedangkan tingginya angka kematian akibat efusi
pleura disebabkan oleh lingkungan yang tidak bersih, lingkungan yang padat penduduk, serta
sarana dan prasarana kesehatan yang kurang dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan.

BAB 2
ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1 Anatomi
3

Sistem respirasi secara anatomis dapat dibagi menjadi bagian atas (hidung, rongga hidung, sinus
paranasal, faring) dan bagian bawah ( laring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus).

Gambar 1. Anatomi sistem respirasi bagian atas dan bawah


Sistem respirasi secara fisiologis dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Bagian Konduksi yang terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan
bronkiolus terminalis. Bagian ini relative kaku dan terbuka, merupakan penghubung
antara lingkungan luar dengan paru. Fungsi dari bagian konduksi adalah mengalirkan
udara dan sebagai penyaring, penghangat, dan melembabkan udara sampai bagian
respirasi.2
2. Bagian respirasi terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris,
dan alveolus. Bagian respirasi merupakan tempat terjadinya pertukaran udara dari
lingkungan luar ke dalam tubuh.2
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri atas gelembung-gelembung
kecil (alveoli). Alveolus adalah tempat pertukaran gas yang terdiri dari bronkiolus dan
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus
alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir
paru-paru. Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki cabang kira-kira 0,5 s.d. 1,0 cm
4

terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trakea sampai sacus alveolus. Alveolus
dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.2

Gambar 2. Anatomi Paru-Paru


Paru-paru dibagi menjadi dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus
(lobus pulmo dekstra superior, lobus pulmo dekstra media, lobus pulmo dekstra inferior) dan
paru-paru kiri yang terdiri dari 2 lobus (lobus sinistra superior dan lobus sinistra inferior).2
Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang bernama segmen. Paru-paru kiri
memiliki 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, dan lima lobus inferior. Paru-paru
kanan juga memiliki 10 segmen yaitu 5 buah segmen lobus superior, 2 buah segmen pada lobus
medialis, dan 3 segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen masih terbagi lagi menjadi
belahan-belahan yang bernama lobulus.2

Letak paru-paru di rongga dada datarnya menghadap ke tengah rongga dada kavum
mediastinum. Pada bagian tengah terdapat hilus paru. Pada mediastinum depan terletak jantung.
Paru-paru dilapisi oleh lapisan pembungkus yang disebut pleura,yang tersusun oleh jaringan ikat
fibrosa yang didalamnya banyak terdapat kapiler limfa dan kapiler darah. Pleura juga disusun
oleh sel terutama fibroblast, dilapisi oleh mesotel. Pleura merupakan membran halus, licin, tipis
yang membungkus dinding anterior thoraks dan superior diafragma.3(buku patof Sylvia)
5

Ada 2 macam pleura yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Pleura parietalis thoraks
dan pleura visceralis melapisi paru-paru. Kedua pleura ini bersatu pada hilus. Dalam beberapa
hal, terdapat perbedaan antara kedua pleura yaitu pada pleura viseralis, bagian permukaan
luarnya terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis. Diantara pleura terdapat ruangan yang
disebut rongga pleura yang berisi cairan untuk melicinkan permukaan dan memungkinkan
keduanya bergeser secara bebas pada saat ventilasi.4 (hood alsgaff)
Cairan ini terletak antara paru dan thoraks. Tidak ada ruangan sesungguhnya yang
memisahkan pleura parietalis dan viseralis sehingga apa yang disebut sebagai rongga pleura
hanyalah suatu ruangan potensial. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah daripada tekanan
atmosfer sehingga mencegah terjadinya kolaps paru. Jumlah normal cairan pleura adalah 1015cc.4

2.2 Fisiologi
Fisiologi pernafasan dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Proses pernafasan terdiri dari 2 bagian, yaitu sebagai berikut :

Ventilasi pulmonal yaitu masuk dan keluarnya aliran udara antara atmosfir dan alveoli
paru yang terjadi melalui proses bernafas (inspirasi dan ekspirasi) sehingga terjadi
disfusi gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveoli dan kapiler pulmonal serta
transport O2 & CO2 melalui darah ke dan dari sel jaringan.5

Mekanik pernafasan
Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir ke dalam paru-paru dimungkinkan olen
peristiwa mekanik pernafasan yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi (inhalasi) adalah
masuknya O2 dari atmosfir & CO2 ke dlm jalan nafas. Dalam inspirasi pernafasan
perut, otot difragma akan berkontraksi dan kubah difragma turun ( posisi diafragma
7

datar ), selanjutnya ruang otot intercostalis externa menarik dinding dada agak keluar,
sehingga volume paru-paru membesar, tekanan dalam paru-paru akan menurun dan
lebih rendah dari lingkungan luar sehingga udara dari luar akan masuk ke dalam paruparu. Ekspirasi (exhalasi) adalah keluarnya CO 2 dari paru ke atmosfir melalui jalan
nafas. Apabila terjadi pernafasan perut, otot difragma naik kembali ke posisi semula
( melengkung ) dan muskulus intercotalis interna relaksasi. Akibatnya tekanan dan
ruang didalam dada mengecil sehingga dinding dada masuk ke dalam udara keluar dari
paru-paru karena tekanan paru-paru meningkat.5

Transportasi gas pernafasan


a. Ventilasi
Selama inspirasi udara mengalir dari atmosfir ke alveoli. Selama ekspirasi
sebaliknya yaitu udara keluar dari paru-paru. Udara yg masuk ke dalam alveoli
mempunyai suhu dan kelembaban atmosfir. Udara yg dihembuskan jenuh dengan uap
air dan mempunyai suhu sama dengan tubuh.6

b. Difusi
Yaitu proses dimana terjadi pertukaran O2 dan CO2 pada pertemuan udara dengan
darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di membran alveolar-kapilar karena permukaannya
luas dan tipis. Pertukaran gas antara alveoli dan darah terjadi secara difusi. Tekanan
parsial O2 (PaO2) dalam alveolus lebih tinggi dari pada dalam darah O2 dari alveolus
ke dalam darah.
Sebaliknya (PaCO2) darah > (PaCO2) alveolus sehingga perpindahan gas
tergantung pada luas permukaan dan ketebalan dinding alveolus. Transportasi gas
dalam darah O2 perlu ditrasport dari paru-paru ke jaringan dan CO2 harus ditransport

kembali dari jaringan ke paru-paru. Beberapa faktor yg mempengaruhi dari paru ke


jaringan, yaitu:
o Cardiac out put.
o Jumlah eritrosit.
o Exercise
o Hematokrit darah, akan meningkatkan vikositas darah mengurangi transport O2
menurunkan CO2.

c. Perfusi pulmonal
Merupakan aliran darah aktual melalui sirkulasi pulmonal dimana O2 diangkut
dalam darah membentuk ikatan (oksi Hb) / Oksihaemoglobin (98,5%) sedangkan
dalam eritrosit bergabung dgn Hb dalam plasma sebagai O 2 yg larut dlm plasma
(1,5%). CO2 dalam darah ditrasportasikan sebagai bikarbonat, dalam eritosit sebagai
natrium bikarbonat, dalam plasma sebagai kalium bikarbonat , dalam larutan
bergabung dengan Hb dan protein plasma. CO2 larut dalam plasma sebesar 5 7 % ,
HbNHCO3 Carbamoni Hb (carbamate) sebesar 15 20 % , Hb + CO 2 HbCO
bikarbonat sebesar 60 80% .6

Pengaturan pernafasan
Sistem kendali memiliki 2 mekanismne saraf yang terpisah yang mengatur pernafasan.
Satu system berperan mengatur pernafasan volunter dan system yang lain berperan
mengatur pernafasan otomatis.

1. Pengendalian Oleh saraf Pusat ritminitas di medula oblongata langsung


mengatur otot otot pernafasan. Aktivitas medulla dipengaruhi pusat apneuistik
dan pnemotaksis. Kesadaran bernafas dikontrol oleh korteks serebri. Pusat
Respirasi terdapat pada Medullary Rhythmicity Area yaitu area inspirasi &
ekspirasi, mengatur ritme dasar respirasi , Pneumotaxic Area terletak di bagian
atas pons dan berfungsi untuk membantu koordinasi transisi antara inspirasi &
ekspirasi, mengirim impuls inhibisi ke area inspirasi

paru-paru terlalu

mengembang, dan Apneustic Area yang berfungsi membantu koordinasi


transisi antara inspirasi & ekspirasi dan mengirim impuls ekshibisi ke area
inspirasi.6

2. Pengendalian secara kimia pernafasan dipengaruhi oleh : PaO2, pH, dan


PaCO2. Pusat khemoreseptor : medula, bersepon terhadap perubahan kimia pd
CSF akibat perub kimia dalam darah. Kemoreseptor perifer : pada arkus aortik
dan arteri karotis.6

10

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi efusi pleura


Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan >15mL dalam
pleura berupa transudat maupun eksudat yang diakibatkan karena ketidakseimbangan antara
produksi dan absorbsi pada kapiler di pleura viseralis. 1 Dalam keadaan normal, rongga pleura
hanya mengandung sedikit cairan sebanyak 10-15cc. Efusi pleura bukan merupakan suatu
penyakit akan tetapi merupakan tanda dari suatu penyakit.
3.2 Etiologi
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi :
1. Transudat

11

Transudat dapat ditemukan pada peningkatan tekanan kapiler sistemik, tekanan kapiler
pulmonal, penurunan tekanan osmotic, menurunnya tekanan intra pleura. Penyakitpenyakit yang menyebabkan terbentuknya eksudat adalah :
Gangguan kardiovaskular
Penyebab terbanyak efusi adalah decompensatio kordis. Terjadi peeningkatan tekanan
pada vena pulmonalis,sehingga menyebabkan pengeluaran cairan dari pembuluh darah
ke rongga pleura.7

Sindroma nefrotik
Pada sindroma nefrotik, terjadi hiponatremia yang menyebabkan transudat.

Sirosis hepatis
Pada sirosis hepatis terjadi hiponatremia yang menyebabkan transudat.

2. Eksudat
Eksudat terjadi karena adanya proses peradangan atau inflamasi pada jaringan dekat
dengan pleura sehingga terjadi kerusakan dinding kapiler atau permeabilitas kapiler
meningkat. Hal tersebut menyebabkan cairan yang kaya akan protein akan keluar dari
kapiler masuk ke rongga pleura.7 Eksudat dapat ditemukan pada :

Pleuritis tuberkulosa
Timbulnya cairan efusi disebabkan karena rupturnya focus subpleural dari
jaringan nekrosis perkejuan,sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke
rongga pleura,menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Efusi yang
disebabkan oleh TBC biasanya unilateral.

Pleuritis karena virus dan mikoplasma


Virus coxsackie,rickettsia,Chlamydia. Cairan efusi biasanya berisi eksudat dan
leukosit.

Pleuritis karena bakteri piogenik


Permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari parenkim paru dan
menjalar secara hematogen. Bakteri penyebab dapat merupakan bakteri aerob maupun
anaerob seperti S.pneumoniae, S,aureus, Pseudomonas, Haemophillus)

12

Efusi pleura karena neoplasma

3.3 Patofisiologi
Pleura parietalis dan viseralis secara anatomi letaknya adalah berhadapan satu sama
lain dan hanya dipisahkan oleh selapis tipis cairan serosa. Lapisan ini memperlihatkan
keseimbangan antara transudasi dari kapiler pleura dan resobrsi oleh vena visceral,
parietal, dan kelenjar getah bening. 1
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan untuk penimbunan cairan pada rongga
pleura, efusi pleura dapat bersifat eksudat maupun transudat. Transudat terjadi karena
adanya tekanan pada vena pulmonalis yang menyebabkan pengeluaran cairan dari
pembuluh darah seperti pada gagal jantung kongestif. Transudat juga terjadi pada
hiponatremia seperti pada penyakit ginjal, dan hepar. Cairan pleura cenderung tertimbun
pada dasar paru-paru akibat gaya gravitasi. Penimbunan eksudat dapat timbul jika ada
peradangan atau keganasan pleura. 1
3.4 Perbedaan eksudat dan transudat 7
PARAMETER
Warna
BJ
Jumlah sel
Jenis sel
Rivalta
Glukosa
Protein
Ratio protein/plasma
LDH
Rasio LDH/plasma

TRANSUDAT
Jernih
<1,016
Sedikit
PMN<50%
Negatif
60mg/dl
<2,5g/dl
<0,5
<200IU/dl
<0,6

EKSUDAT
Keruh
>1,016
Banyak (>500sel/mm3)
PMN >50%
Positif
Bervariasi
>2,5g/dl
>0,5
>200 IU/dl
>0,6

3.5 Manifestasi klinis


Pada anamnesis, didapatkan gejala antara lain :
Nyeri dada
13

Sesak nafas
Demam

Pada pemeriksaan fisik, ditemukan :


Perkusi
: redup pada sisi yang sakit
Palpasi
: vocal fremitus melemah pada sisi yang sakit
Auskultasi : suara nafas melemah sampai menghilang pada sisi yang sakit
Trakea
: terdorong ke kontralateral
3.6 Pemeriksaan penunjang
1. Pada foto thoraks
Foto thoraks PA
: sudut kostofrenikus tumpul (bila cairan >500mL)
Foto thoraks Lateral
: sudut kostofrenikus tumpul (bila cairan >200mL)
PA/Lateral
: terdapat perselubungan homogen yang menutupi struktur
paru bawah, permukaan atas cekung.
2. Pungsi pleura (torakosentesis)
Aspirasi cairan pleura berguna untuk diagnosik maupun terapetik. Pelaksanaannya
dilakukan dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga 6-8
garis aksilaris posterior. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1.000-1.500
cc setiap kali aspirasi. Setelah cairan pleura keluar, nilai cairan pleuara secara
makroskopis, mikroskopis, dan kimiawi.8
Makroskopis
-Transudat
: jernih, sedikit kekuningan
-Eksudat
: warna lebih gelap, keruh
-Empiema
: opak,kental
-Efusi chylous
: seperti susu

Mikroskopis
- Sel leukosit <1000/mm3
: transudat
- Leukosit meningkat,predominasi limfosit matur : neoplasma, TBC
- Sel leukosit predominan PMN
: pneumonia, pancreatitis

Kimiawi
Protein
LDH
Ratio LDH/plasma
Glukosa
Protein
Ratio protein/plasma

14

3.7 Penatalaksanaan
1. Thorakosentesis
Aspirasi cairan pleura berguna untuk diagnosik maupun terapetik. Pelaksanaannya
dilakukan dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga 6-8
garis aksilaris posterior. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1.000-1.500
cc setiap kali aspirasi untuk mencegah edema paru.1
2

Antibiotik dan kortikosteroid


Apabila terjadi infeksi maka dapat diberikan antibiotic ceftriakson 2x1gr selama 3-5
hari dan terkadang diberikan prednison dengan dosis 1mg/kgBB selama 1 minggu
kemudian dosis diturunkan secara perlahan. Penggunaan steroid berfungsi untuk
mempercepat resorbsi cairan.

Pengobatan kausal
Di Indonesia, efusi pleura paling sering disebabkan oleh TBC Paru sehingga selain
thorakosintesis, maka perlu diberikan OAT. Jenis dan dosis OAT :

Isoniazid (H)
Bersifat bakterisida, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari
pengobatan. Obat ini aktif untuk kuman yang sedang berkembang. Dosis harian
dianjurkan 5mg/kgBB sedangkan untuk pengobatan intermitten 3x seminggu dengan
dosis 10mg/kgBB.

Rifampisin ( R)
Bersifat bakterisida, dapat membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh
oleh isoniazid. Dosis diberikan sama dengan isoniazid.

Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisida, dapat membunuh bakteri yang berada dalam suasan asam. Dosis
harian yang digunakan adalah 25mg/kgBB sedangkan untuk pengobatan intermitten 3
kali seminggu dengan dosis 35mg/kgBB.

Streptomisin
15

Bersifat bakterisida, dosis yang dianjurkan 15mg/kgBB sedangkan untuk


pengobatan intermitten 3 kali seminggu dengan dosis yang sama. Untuk penderita usia
60 tahun diberikan dengan dosis 75mg/kgBB sedangkan untuk usia diatas 60 tahun
diberikan 50mg/hari.

Etambutol
Bersifat bakteriostatik dengan dosis harian yang dianjurkan adalah 15mg/kgBB
sedangkan untuk pengobatan intermitten 3 kali seminggu menggunakan dosis
30mg/kgBB.
Obat-obat tersebut tersedia dalam kemasan obat tunggal yang disajikan secara
terpisah, dan dalam kemasan Fixed Dose Combination (FDC). Prinsip pengobatan
pada tahap intensif (awal) selama 2-3 bulan dan tahap lanjutan 4-7 bulan. Tahap
lanjutan ini penting karena untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan. Paduan pengobatan yang digunakan oleh program nasional
penanggulangan TB pemerintah Indonesia adalah :
-

Kategori 1
Paduan obat yang dianjurkan : 2RHZE/4R3H3
Kategori 2
Paduan obat yang dianjurkan : 2RHZES/HRZE/5RHE
Kategori 3
Paduan obat yang dianjurkan : 2RHZE/4R3H3

BAB 4
KESIMPULAN

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan >15mL dalam
pleura berupa transudat maupun eksudat yang diakibatkan karena ketidakseimbangan antara
16

produksi dan absorbsi pada kapiler di pleura viseralis. 1 Dalam keadaan normal, rongga pleura
hanya mengandung sedikit cairan sebanyak 10-15cc. Efusi pleura bukan merupakan suatu
penyakit akan tetapi merupakan tanda dari suatu penyakit.
Berdasarkan etiologinya, efusi pleura dibagi menjadi 2 yaitu : efusi pleura transudat
dan efusi pleura eksudat. Efusi pleura transudat terjadi karena adanya penekanan pada vena
pulmonalis, sedangkan efusi pleura eksudat terjadi karena adanya proses inflamasi. Efusi
pleura transudat terjadi pada kasus gagal jantung kongestif, sindroma nefrotik, dan sirosis
hepatis. Efusi pleura eksudat paling banyak terjadi pada kasus pleuritis tuberkulosa.

BAB 5
DAFTAR PUSTAKA
1. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/136/jtptunimus-gdl-friedakurn-6765-1-babi.pdf
2. Scanlon VC, Sanders T. Essential of Anatomy and physiology. 5th ed. Philadelphia:
F.A. Davis, 2007.
17

3. Price SA, Wilson LM. Penyakit aterosklerotik koroner. In: Brown CT,editor. Anatomi
Paru. Jakarta: EGC;2006.p.576-80.
4. Alsagaff Hood, Mukty A. Dasar-dasar ilmu penyakit paru. Surabaya: Airlangga
University Press;2002.p.23-7.
5. Ward JP, Clark RW, Linden RW. At a Glance Fisiologi. Jakarta: Erlangga; 2009.
6. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 2th ed. Jakarta: EGC;
2001.
7. Anonim. Pleural effusion. Available at: http://www.morphostlab.com/direktoripenyakit/respiratory-direktori-penyakit/a-sampai-e-respiratory-direktoripenyakit/pleura-effusion-efusi-pleura-respiratory.html. Accesed June 23th.
8. Ismail D, Alwi I, Rahman M. Efusi pleura. In : Rani A, Soegonso S, Nasir AU,
Wijaya

IP,

editors.

Panduan

Pelayanan

Medik.

Jakarta

Universitas

Indonesia;2008.p.82-5.

18