Anda di halaman 1dari 10

Konflik Internasional Antara Ukraina dan Rusia

Uni Soviet merupakan sebuah negara berpenduduk sekitar 270 juta jiwa yang
tersebar dalam 15 republik Soviet. Jumlah penduduk yang besar itu terdiri dari sekitar
100 suku bangsa, dimana bangsa Rusia merupakan mayoritas yang mendominasi
berbagai aspek bidang kehidupan.
Menjelang pertengahan tahun 1980-an Uni Soviet mengalami krisis ekonomi dan
politik. Kemerosotan ekonomi akibat korupsi dan kacaunya birokrasi serta adanya
budaya politik yang semakin memperkuat apatisme masyarakat. Krisis ekonomi dan
politik tersebut yang nantinya akan membuat Uni Soviet runtuh. Invensi Uni Sovet
terhadap Afghanistan merupakan salah satu penyebab runtuhnya negara besar tersebut.
Penempatan kekuatan militer Uni Soviet sangat membutuhkan biaya yang sangat besar
karena invensi yang dilakukan oleh Uni Soviet ini selama 10 tahun. Petinggi dan
pemipin partai pun mengadakan koreksi atas kebijakan negara secara umum, peninjauan
ulang terhadap strategi sistem sosialisme yang diberlakukan.1 Pergantian kepemimpinan
negara pun juga dilakukan, dan Mikhail Gorbachev dipilih sebagai pemimpin. Di bawah
Gorbachev, Uni Soviet memiliki Prestroika.
Perestroika adalah restrukturisasi yang dilakukan guna mengantisipasi proses
stagnansi atau zastoy dan kekumpuhan total, dengan menciptakan mekanisme
percepatan yang efektif dan bertumpu pada kinerja dan karya nyata masyarakat, pada
perkembangan demokrasi dan perluasan keterbukaan.2 Selain perestroika ada pula
Glasnost dan demokratisasi yang membawa perubahan bearti bagi kehidupan dan

1 A. Fahrurodji, Rusia Baru Menuju Demokrasi: Pengantar Sejarah dan Latar Belakang
Budayanya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), p. 173.
2 Ibid.,

perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Perestroika dan Glanost ini yang
nantinya membuat adanya gerakan-gerakan separatisme.3
Ketidakmampuan pemerintah pusat dalam menangani masalah ekonomi juga
semakin mendorong ketidak puasan di republik-republik konstituen Uni Soviet, yang
nantinya mendorong munculnya kekuatan dan menyuarakan ide-ide sparatisme seperti
munculnya gerakan dan partai politik Ruh di Ukraina. Konflik di berbagai etnis ini
nantinya akan berdampak pada perpecahan Uni Soviet. Negara adikuasa itu pun runtuh
pada 1991. Negara yang merdeka diantaranya adalah Belarus, Rusia dan Ukraina.
Sebelum Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, Ukraina merupakan negara bagian
yang diperintah secara ketat dari

Moskow. Dan ketika Rusia berhasil melakukan

reformasi ekonomi, dengan menjadikan Gazprom4 sebagai satu-satunya Badan Usaha


Milik Negara (BUMN) yang menangani bidang gas bumi, maka peranannya sebagai
eksportir gas bumi tambah menonjol. Ukraina merupakan salah satu negara terbesar di
Eropa dan beribukota di Kiev. Letak geografis Ukraina ini berada di antara dua
kekutana ekonomi, politik yaitu Rusia dan Eropa Barat. Ukraina mempunyai potensi
industri dan intelektual yang besar.

3 Separatisme terjadi karena akibat dari semangat keterbukaan dan demokratisasi yang
memunculkan berbagai konflik antar etnis yang selama ini tersembunyi dan akhirnya menjadi
konflik terbuka.
4 Gazprom suatu perusahaan yang 50% sahamnya adalah milik Rusia. Perusahaan ini menyalurkan
pasokan gas alam dari Rusia, tidak hanya kepada negara-negara Eropa Timur, tetapi juga negaranegara Eropa Barat. Bahkan dampak dari penyalahgunaan kekuatan Rusia sebagai negara adidaya
energi telah muncul. Eropa merupakan kawasan utama yang terkena dampak tersebut terkait
dengan krisis gas yang dialami Eropa di awal tahun 2006. Munculnya kekhawatiran banyak pihak
terutama Eropa yang terkena imbas secara langsung atas penyalahgunaan kekuasaan Rusia sebagai
negara adikuasa energi tersebut memang sangat beralasan mengingat background Rusia yang
merupakan warisan negara Uni Soviet yang bersifat ekspansif, menjadikan kemungkinankemungkinan Rusia kembali menjadi negara yang ekspansif menjadi sebuah peluang yang sangat
terbuka lebar.

Ukraina memerdekakan diri pada 24 Agustus 1981. Ukraina juga menjalin


hubungan negara dengan Rusia, hal itu tidak dapat dihindari karena letak geografis
mereka yang berdekatan. Hubungan Rusia Ukraina dapat dikatakan masih belum lama.
Setelah kemerdekaan, Ukraina tetap sangat tergantung pada Rusia, dan hubungan energi
antar keduanya terjadi dalam konteks yang lebih luas menyangkut hubungan politik dan
hubungan ekonomi yang

ditandai

dengan ketergantungan yang kuat dan saling

ketergantungan. Ketergantungan tersebut membuat ekonomi Ukraina sangat

rentan

terhadap naik turunnya hubungan dengan Rusia.5


Lebih dari 60% dari impor energi Ukraina berasal dari Rusia, termasuk 100%
dari bahan bakar nuklir, 50% dari gas alam dan 70% minyak. Rusia menjadi negara
produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi, dan jelaslah bahwa Rusia
menempati posisi yang dominan baik dalam kepemilikan cadangan gas alam maupun
minyak. Rusia selain diberkahi gas alam yang melimpah ruah juga sebagai pengontrol
jalur pipa gas tersebut jalur pipa gas ini berada di Ukraina. Hal ini sangatlah wajar jika
Rusia nantinya melakukan keamanan terhadap energinya, baik energi minyak maupun
gas alamnya. Hal ini yang nantinya memicu sengketa atau konflik antara Rusia dan
Ukraina.
Tindakan tersebut dilakukan agar ketersediaan pasokan energi baik terhadap skala
dometik maupun skala internasional tetap dapat terpenuhi. Selain itu, keamanan energi
dilakukan karena adanya kecenderungan penurunan ketersediaan energi dunia. Karena
Rusia merupakan negara pengekspor minyak dan gas bumi ke berbagai negara di Eropa,
khususnya terhadap negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.6 Antara Rusia dan
Eropa terdapat suatu ketergantungan yang tidak terpisahkan. Dimana negara-negara
yang menjadi anggota UE membutuhkan pasokan gas dari Rusia yang walaupun dalam
beberapa tahun ke depan diperkiraan bahwa Timur Tengah akan menyeimbangi supali
gas dari Rusia. Namun hal itu tidak meyakinkan karena kawasan Timur Tengah pun
5Anjar Sulastri, Politik Energi Rusia dan Dampaknya terhadap Eropa terkait Sengkata Gas RusiaUkraina 2006-2009, Jurnal Departeman Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Vol. 2,
No. 3 (Surabaya: September 2013), p. 6.

rentan dipenuhi oleh konflik, sehingga sampai saat ini Rusia masih dianggap sebagai
pemasok gas paling penting. Dan ternyata Rusia juga bergantung kepada pasar UE
untuk mengekspor gas alamnya demi meningkatkan devisa negaranya.
Ukraina mempunyai cadangan gas alam yang cukup besar. Namun Ukraina
terpaksa membutuhkan pasokan gas dari Rusia karena industri-industri besar di Ukraina
memakai gas alam dengan sangat besar. Masyarakat Ukraina pun merasa kecewa karena
dengan terpaksa membayar biaya tinggi atas pemakaian gas tersebut.
Pada tahun 2006, Gazprom mengurangi saluran gas melalui Ukraina. Rusia pun
melakukan manipulasi ekonomi. Rusia menaikan harga pasokan gasnya terhadap Rusia.
Kenaikan ini dari 50 US $ menjadi 230 US $. Hal tersebut sangat tidak realistis.
Naftogaz sebuah perusahaan gas negara milik Ukraina pun menolak untuk
menandatangani berbagai kesepakatan pengiriman dengan Gazprom tahun 2006.
Setelah itu, Rusia mengancam untuk menghentikan pengiriman gas ke Ukraina. Inilah
yang menjadi titik awal sengketa gas Rusia dan Ukraina. Dengan demikian Rusia
seperti memberikan dua pilihan terhadapa Ukraina, yaitu dengan mencuri gas dari
negara-negara Eropa lainnya yang berarti bisa merusak hubungan positif dengan Eropa
selama tahun 2005 atau tetap bertahan dengan tanpa gas kiriman dari Rusia. Dan bagi
Rusia dua pilihan tersebut tidaklah bearti apa-apa.
Ketegangan antara Rusia-Ukraina memperlihatkan betapa sensitifnya persoalan
energi. Kelangkaan energi menjadi sebuah kepanikan karena mengganggu proses
produksi dan mengancam kebutuhan rumah tangga. Sensitivitas persoalan energi
bertambah kompleks karena tidak hanya bersinggungan langsung dengan masalah
ekonomi, tetapi juga politik dan keamanan. Penghentian pemasokan gas membuktikan,
6 Sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun 1951 dengan Perjanjian Paris dan menciptakan European
Coal and Steel Community (ECSC). ECSC adalah Badan administratif yang dibentuk melalui perjanjian
yang diratifikasi pada tahun 1952, dirancang untuk mengintegrasikan industri batu bara dan baja di Eropa
Barat. Para anggota asli dari ECSC adalah Perancis, Jerman Barat, Italia, Belgia, Belanda, dan
Luksemburg. kemudian organisasi diperluas dan mencakup semua anggota European Economic
Community kemudian berganti nama menjadi European Union.Objek dari ECSC itu sendiri ialah hasil
dari pasar-pasar dalam produksi bahan bakar dari mineral dan besi.

bahwa Rusia memanfaatkan posisi monopoli sebagai pemasok gas untuk tujuan
politiknya.7
Kenaikan harga gas yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina tersebut
merupakan sebuah permainan kekuasaan. Dimana Rusia membeli gas dari Turkmenistan
dengan harga murah, sebenarnya Ukraina juga mengetahui hal tersebut namun
sayangnya Gazprom telah terlebih dahulu membeli lebih dari 70% gas dari
Turkmenistan. Hal itu membuat Naftogaz kalah saing. Dari pembelian gas dari
Turkmenistan tersebut, Rusia mendapat untung 60% sehingga ia dapat dengan
mudahnya memainkan kekuasaan dan memanipulasi ekonomi sehingga memicu konflik
dengan Ukraina. Sementara Ukraina bukanlah satu-satunya negara bekas Soviet yang
mempunyai ketergantungan energi, hal itu menyebabkan dampak yang luas dan
mencakup masalah internasional karena dengan ditutupnya jalur pipa Ukraina oleh
Rusia maka ekonomi negara-negara Eropa lainnya akan terancam.
Keadaan Ukraina yang dimonopolikan ekonominya oleh Rusia tidak hanya diam.
Predisen Ukraina, Viktor Yanukovych melakukan kesepakatan dagang dengan Uni
Eropa namun usaha itu gagal. Usaha dalam melakukan kesepatakan dagang dengan Uni
Eropa adalah untuk menopang krisis yang dihadapi Ukraina. Usaha Ukraina tersebut
merupakan salah satu cara Ukraina dalam mempertahankan kekuatan Nasionalnya
dengan jalur diplomasi. Kerja sama Ukraina dengan UE menawarkan kesempatan
kepada semua pihak untuk bekerja sama demi masa depan yang lebih aman, dan
memastikan

secara

tegas

keanggotaan

Ukraina

di

dalam

UE.

Meskipun

penandatanganan kerja sama tersebut merupakan hak berdaulat setiap negara, Rusia
yang kecewa dengan kebijakan Ukraina. Dan pihak Rusia menilai blok ekonomi yang
terbentuk itu merugikan perekonomiannya.8

7 Ibid., p. 9.
8 Andirini Pujiyanti, Posisi Rusia dan Perkembangan Krisis Ukraina, Info Singkat Hubungan
Internasional Vol. VI, No. 13/I/P3DI (Jakarta: Juli 2014), p. 5.

Masalah mengenai gas tersebut akhirnya Rusia siap menyalurkan kembali gas ke
Ukraina yang sebelumnya benar-benar diputus pada pertengahan Juni 2014 yang
merupakan kelanjutan sengekta tahun 2006-2009. Dari pihak kedua negara dicapailah
pula kesepakatan mengenai harga gas sementara. Rusia menyatakan pula, Ukraina harus
membayar utang pasokan gas sebelumnya sebesar 4,5 miliar US $. Ukraina mempunyai
perhitungan sendiri. Mereka menyatakan, harga gas sebelum diputus berkisar 268,5
dolar AS per 1.000 meter kubik.9
Sengketa gas kali ini lebih kompleks karena berlangsung di tengah konflik dalam
negeri Ukraina. Ukraina kini mengalami krisi. Krisis tersebut berawal dari krisis
nasional yang diakibatkan dari ketidakstabilan pemerintahan dalam negeri yang kini
akhirnya menjadi krisis internasional. Gerakan separatisme itu ada di wilayah Timur
merupakan pro Rusia dan wilayah Barat yang pro Ukraina. Rusia pun mendukung
wilayah Timur dan Rusia melakukan pengiriman ke Semenanjung Crimea dan mendapat
berbagai reaksi dunia Internasional. Akibat gencarnya desakan dari para pemimpin
dunia, Sekjen PBB pun telah mengutus deputinya untuk berkunjung ke Ukraina. Setelah
melakukan kunjungan pada Maret 2014 ke Ukraina, Deputi Sekjen PBB, telah
mempelajari fakta-fakta di lapangan dan menjelaskan pada Sekjen mengenai langkahlangkah yang bisa diambil PBB untuk mendukung upaya deeskalasi situasi di Ukraina. 10
Berdasarkan penjelasan tersebut, akhirnya PBB memutuskan untuk memfasilitasi dialog
di antara para pihak yang terlibat untuk menenangkan krisis Ukraina. 11 Namun
demikian, niat baik ini ditolak oleh Rusia. Rusia menghalangi program pemantauan
9 Republika (Jakarta), 22 Oktober 2014.
10 Lisbet, Krisis Ukraina, Info Singkat Hubungan Internasional Vol. VI, No. 05/I/P3D
(Jakarta: Maret 2014), p. 6.
11 Lihat Hans J. Morgenthau, Politik Antar Bangsa (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010),
p. 338-345.

Dewan Keamanan (DK) PBB di Ukraina. Bahkan, Cina yang merupakan sekutu Rusia
pun tidak mendukung tindakan ini karena. Cina mengakui kedaulatan dan integritas
teritorial Ukraina.

Gerakan separatisme pro Rusia di wilayah administrasi Donetsk dan Luhansk di


timur Ukraina mencapai telah kemerdekaannya. Konflik telah menewaskan sekitar 450
jiwa tersebut, kembali memanas setelah upaya perpanjangan gencatan senjata yang
diusulkan UE gagal dipenuhi. UE telah memberikan ultimatum kepada Rusia untuk
mendukung rencana perdamaian yang diprakarsai UE atau menghadapi sanksi yang
lebih keras dari UE. Sanksi baru yang mungkin akan diterapkan UE adalah pembekuan
aset bagi setiap pihak yang melanggar kesepakatan. Hal yang dilakukan UE tersebut
merupakan sebuah jembatan dalam menyelesaikan konflik di antara dua negara yang
nantinya akan berurusan PBB, dimana PBB akan menjadi pengadilan dalam
penyelesaian konflik tersebut.
Namun apakah Rusia mendengarkan ultimatum tersebut? Keterlibatan Rusia dalam
masalah sepearatisme di Ukraina dianggap tidak sesuai dengan norma-norma hukum
internasional. Jika tidak adanya kesesuaian ini bearti adanya pelanggaran yang telah
dilakukan negara bersangkutan dalam perjanjian internasional. Apa yang dilakukan oleh
Rusia adalah usahanya dalam perimbangan kekuasaan, sepertia yang dikatakan oleh
Morgenthau dalam bukunya Politik Antar Bangsa bahwa cara ini dipergunakan oleh
bangsa-bangsa yang berupaya agar saingan-saingan mereka menjadi atau membiarkan
mereka tetap terpecah-belah.12
Uni Eropa mengupayakan solusi damai dengan pemberlakuan gencatan senjata.
Rusia bersedia melanjutkan gencatan senjata tersebut. Namun Presiden Ukraina Petro
Poroshenko dan Dewan Kemananan Nasional Ukraina menolak memperpanjang
gencatan senjata karena menilainya gagal untuk membendung pertempuran. Juru bicara
12 Hans J. Morgenthau, Politik Antar Bangsa (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010), p 211.

militer Ukraina melaporkan, selama masa gencatan senjata, pemberontak meluncurkan


misil dan merusak sebuah pesawat SU-24.13

Presiden Poroshenko menilai rencana perdamaian yang diusulkannya justru


digunakan gerakan separatisme pro Rusia untuk menambah pasokan senjata dari Rusia.
Dalam gelar Operasi Anti Terorisme, pihak militer berhasil menguasai kota Slavyansk
dan Kramatorsk yang merupakan pusat gerakan separatis pro Rusia. Secara simbolis ini
menjadi kemenangan bagi Pemerintah Ukraina melawan separatisme di negaranya.
Sebagian dari pihak separatis pro Rusia menyerahkan diri dan memberikan informasi
bahwa telah terbentuk kekuatan baru separatis di kota-kota besar lainnya di timur
Ukraina. Pemerintah Ukraina akan melanjutkan operasi militer tersebut hingga
wilayah-wilayah yang dikuasai gerakan separatis berhasil dikuasai pemerintah.
Selain Uni Eropa yang mencoba meredam konflik ini, Amerika Serikta pun ikut
turun tangan. AS telah mengumumkan adanya pelarangan visa serta pemblokiran aset
kepada pejabat Rusia yang sedang berada di AS dan melakukan pencegahan apabila
terdapat warga AS yang hendak melakukan bisnis dengan orang-orang Rusia dan
Ukraina. Bahkan, AS juga akan mempersiapkan sebuah dasar hukum untuk mengenakan
sanksi lebih lanjut terhadap individu yang menyalahgunakan aset negara Ukraina atau
telah menegaskan kekuasaan atas bagian tertentu dari negara Ukraina tanpa persetujuan
pemerintah baru di Kiev.14 Saat ini memang yang menjadi fokus gerakan separatisme
adalah Crimea. Kasus Crimea ini akan dibawa hingga ke PBB.
Parlemen Ukraina pun memutuskan mengajukan permohonan banding ke
Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas pendudukan pasukan Rusia di Crimea.
Langkah terbaru ini dilakukan menjelang adanya referendum di Crimea untuk
13 Ibid.,
14 Andirini Pujiyanti, Ibid., p. 6-7.

menentukan apakah warga di sana memilih bergabung dengan Federasi Rusia atau tetap
di bawah Ukraina.15
Dalam upaya banding itu, tidak ada referensi khusus apakah masalah itu akan
dibawa ke Dewan Keamanan PBB. Anggota parlemen yang pro-Eropa, Borys Tarasyuk,
mengatakan langkah tersebut akan sia-sia karena Rusia menikmati hak veto di Dewan
Keamanan PBB. Semua upaya menarik Rusia tak membuahkan hasil, kata Tarasyuk
di dalam ruang sidang parlemen.16 Perdana menteri sementara Ukraina, Arseniy
Yatsenyuk, mendapat dukungan saat bertemu Presiden Amerika Serikat Barack Obama
di Washington. Obama menegaskan dukungannya terhadap pemerintah Kiev. Dalam
sikap Rusia yang mendukung wilayah Timur Ukraina, secara terbuka Rusia menyatakan
hanya memberikan bantuan kemanusiaan kepada kelompok separatis, namun pihak
Barat menyatakan Rusia secara reguler memberikan bantuan senjata. Kebijakan Putin
tersebut telah dikritik dan tidak mendapat banyak dukungan dalam negeri.
Menteri luar negeri Jerman menyebut konflik itu sebagai sengketa "besar" dengan
Rusia mengenai krisis Ukraina. Dia juga mengangguk dalam menanggapi pertanyaan
apakah konflik saat ini mungkin berakhir selama 14 tahun. 17 Sedangkan di Berlin
sendiri, jumlah warga Jerman yang mendukung sanksi-sanksi ekonomi Uni Eropa
terhadap Rusia berkaitan krisis Ukraina telah meningkat.
Konflik internasional tersebut menjadi masalah dan sorotan pula bagi negaranegara lain. Baik itu negara di kawasan Eropa maupun Asia. Hal itu dikarenakan,
negara-negara Eropa dan Asia pasti mempunyai hubungan internasional dengan Ukraina
maupun Rusia. Melihat konflik dan krisis internasional tersebut, Indonesia cukup
mengedepankan dukungan terhadap prinsip kedaulatan negara dan mengedepankan
15 Tempo (Jakarta), 14 Maret 2014.
16 Tempo (Jakarta), 14 Maret 2014.
17 Republika (Jakarta), 01 Desember 2014.

prinsip integritas wilayah suatu negara. Indonesia tidak bisa menerima langkah apapun
yang melanggar kedaulatan dan keutuhan wilayah dari Ukraina. Selain itu, Indonesia
senantiasa mengedepankan prinsip penghormatan dan demokrasi dan kepatuhan
terhadap konsitutusi.18

Daftar Pustaka
Fahrurodji, A. Rusia Baru Menuju Demokrasi: Pengantar Sejarah dan Latar Belakang
Budayanya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Lisbet, Krisis Ukraina, Info Singkat Hubungan Internasional Vol. VI, No. 05/I/P3D.
Jakarta: Maret 2014.
Morgenthau, Hans J. Politik Antar Bangsa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010.
Pujiyanti, Andsirini. Posisi Rusia dan Perkembangan Krisis Ukraina, Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 13/I/P3DI. Jakarta: Juli 2014.
Republika [Jakarta], 22 Oktober 2014.
Republika [Jakarta], 01 Desember 2014.
Sulastri, Anjar. Politik Energi Rusia dan Dampaknya terhadap Eropa terkait Sengkata
Gas Rusia-Ukraina 2006-2009, Jurnal Departeman Ilmu Hubungan
Internasional Universitas Airlangga, Vol. 2, No. 3. Surabaya: September 2013.
Tempo [Jakarta], 14 Maret 2014.

18 Andirini Pujiyanti, Posisi Rusia dan Perkembangan Krisis Ukraina, Info Singkat
Hubungan Internasional Vol. VI, No. 13/I/P3DI (Jakarta: Juli 2014), p. 8.

10