Anda di halaman 1dari 13

ISTISHAD

Nama Kelmpok :
Masudi Akbar
NIM. 3201203002
Arga Angga Rianto
NIM. 3201203040

POLIREKNIK NEGERI PONTIANAK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
2015

PENGERTIANTENTANGISTISHA
B
1. istishab berasal dari bahasa Arab ialah: pengakuan
adanya perhubungan. Sedangkan dari kalangan
ulama` (ahli) ushul fiqihIstishabmenurut istilah
adalah menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan
keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang
menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut. Atau
menetapkan hukum yang telah tetap pada masa yang
lalu dan masih tetap pada keadaannya itu.
2. Menurut Isthilah :
Imam al- Asnawy
Istishab adalah melanjutkan berlakunya hukum
yang sudah ada dan sudah ditetapkan ketetapan
hukumnya, lantaran sesuatu dalil sampai ditemukan
dalil lain yang mengubah ketentuan hukum tersebut

Istishab diartikan Hasby Ash-Shiddiqy dengan:


Mengekalkan apa yang telah ada atas keadaan
yang telah ada, karena tidak ada yang mengubah
hukum, atau karena sesuatu hal yang belum
diyakini.
Dari pengertian istishab di atas, dapat dipahami
bahwa istishab itu ialah:
Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa
lalu, dinyatakan tetap berlaku pada masa sekarang,
kecuali kalau telah ada yang mengubahnya.
Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu
telah ditetapkan pada masa yang lalu.

PEMBAHAGIANAL-ISTISHAB
Ulama Hanafiah membagi Istihsan kepada enam macam
a. Istihsan bil an-Nash (Istihsan berdasarkan ayat atau
hadits).
b. Istihsan bi al-Ijma (istihsan yang didasarkan kepada
ijma)
c. Istihsan bi al-Qiyas al-Khafi (Istihsan berdasarkan qiyas
yang tersembunyi)
d. Istihsan bi al-maslahah (istihsan berdasarkan
kemaslahatan)
e. Istihsan bi al-Urf ( Istihsan berdasarkan adat kebiasaan
yang berlaku umum)
f. Istihsan bi al-Dharurah (istihsan berdasarkan dharurah)

MACAM-MACAM ISTISHAB
Para ulama ushul Fiqih mengemukakan
bahwa istishab itu ada lima macam,
Yaitu:
a. Istishab hukm al- ibahah al ashliyah.
b. Istishab Al-Bara`at Al Ashliyat.
c. Istishab Al-Umumi.
d. Istishab An-Nashshi (Istishab
Maqlub/Pembalikan).
e. Istishab Al-Washfi Ats-Tsabiti.

A. ISTISHAB HUKM AL- IBAHAH AL


ASHLIYAH
menetapkan hukum sesuatu yang bermanfaat bagi
manusia adalah boleh, selama belum ada dalil
yang menunjukkan keharamannya.

B. ISTISHAB AL-BARA`AT AL
ASHLIYAT
kontinuitas hukum dasar ketiadaan berdasarkan
argumentasi rasio dalam konteks hukum-hukum
syari. Maksudnya memberlakukan kelanjutan
status ketiadaan dengan adanya peniadaan yang
dibuat oleh akal lantaran tidak adanya dalil
syari yang menjelaskannya.

C. ISTISHAB AL-UMUMI.
Istishab terhadap dalil yang bersifat umum
sebelum datangnya dalil yang
mengkhususkannya dan istishab dengan nash
selama tidak ada dalil yang naskh (yang
membatal-kannya).

D. ISTISHAB AN-NASHSHI (ISTISHAB


MAQLUB/PEMBALIKAN).

istishab pada kondisi sekarang dalam menentukan


status hukum pada masa lampau, sebab istishab pada
bentuk-bentuk sebelumnya, merupakan penetatapan
sesuatu pada masa kedua berdasarkan ketetapannya
pada masa pertama lantaran tidak ditemukannya
dalil secara spesifik.

E. ISTISHAB AL-WASHFI ATSTSABITI

Sesuatu yang telah diyakini adanya, atau tidak


adanya masa yang telah lalu, tetaplah hukum
demikian sehingga diyakini ada perubahannya.

KEHUJJAHAN ISTISHAB
Menurut

mayoritas Mutakallimin (ahli


kalam)Istishabtidak dapat di jadikan dalil,karena
hukum yang ditetapkan pada masa lampau
menghendaki adanya dalil.Demikian pula untuk
menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang
dan masa yang akan datang,harus berdasarka dalil.

Menurut

mayoritas Ulama Hanafiyah, khususnya


MutaakhirinIstishabbisa dijadikanHujjahuntuk
menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan
menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa
yang akan datang,tetapi tidak bisa menetapkan
hukum yang akan ada.

Ulama Malikiyyah, Syafiiyah, Hanabilah, Zahiriyyah dan


Syiah berpendapat bahwaIstishabbisa
dijadikanHujjahsecara mutlaq untuk menetapkan hukum
yang telah ada selama belum ada dalil yang mengubahnya.
Alasan mereka adalah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan
pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya
baik secaraqathI maupunZhanni, maka hukum yang telah
ditetapkan itu berlaku terus,karena diduga keras belum ada
perubahanya.

KESIMPULAN
Istishab adalah melanjutkan berlakunya hukum yang sudah ada
dan sudah ditetapkan ketetapan hukumnya, lantaran sesuatu
dalil sampai ditemukan dalil lain yang mengubah ketentuan
hukum tersebut

Istishabdapat digunakan sebagai dasar hukum


setelah Al-quran, As-sunnah, Ijma dan Qiyas.
KarenaPangkal sesuatu itu adalah boleh

Selama belum ada dalil yang merubah ketetapan hukum tersebut,


maka sesuatu itu tetap dihukumi boleh. Dengan catatan selama
tidak bertentangan dengan Al-quran dan As-sunnah.