Anda di halaman 1dari 14

Nama

Npm
Kelas

: Fanny Sanmayda
: 106711027
: 4a

Nama
Npm
Kelas

: Indah Wahyuni
: 106710595
: 4a

Biodata Anak
1. Nama : Jihan
Umur ; 6 tahun
Sekolah : TK Ananda, Pandau Permai

2. Nama : Abel
Umur : 5 tahun
Sekolah : Paud Ananda, Pandau Permai

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. atas segala karunia yang tiada hentihentinya pada hamba-Mu ini. Terima kasih untuk kedua orang tua yang memberikan dorongan
dan bantuan baik secara moral maupun spiritual, saya berhasil menyelesaikan makalah dengan
judul Menganalisis Jenis Karya Sastra Puisi Indonesia yang berisi pemahaman materi bagi
teman-teman sebagai saran belajar agar siswa lebih aktif dan kreatif. Dalam penyusunan makalah
ini, saya banyak sekali mengalami bayak kesulitan karena kurangnya ilmu pengetahuan. Namun,
berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat terselesaikan
meskipun banyak kekurangan.
Saya menyadari sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya belum seberapa dan masih
perlu banyak belajar dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan
adanya kritik dan saran yang positif untuk kesempurnaan makalah ini.
Saya berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai
bahan pembelajaran di masa yang akan datang. Amin.

Pekanbaru, 10 juni 2015


Penulis

Fanny dan Indah

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................2
BAB
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah3
1.2
Tujuan Penulisan3- 4
1.3
Fokus Penelitian.4
1.4
Sistematika Penulisan.4

BAB

II

BAB

III

MENGANALISIS JENIS KARYA SASTRA PUISI INDONESIA


2.1 Pengertian Puisi.........................................................5- 6
2.2 Unsur-unsur Puisi.......................................................6- 7
2.3 Jenis-jenis Puisi..........................................................19

PENUTUP
3.1 Simpulan....................................................................20
3.1 Saran..........................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.20

BAB I

MAKALAH MENGANALISIS KARYA SASTRA PUISI


INDONESIA
1.1 Latar Belakang Masalah
Puisi (dari bahasa Yunani kuno: / (poio/poi) = I create) adalah seni tertulis
dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang
membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki
pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia,
yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa
orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah
satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu
kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak
dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang
membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi
baru

Di Indonesia, puisi telah mulai ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam bentuk syair Melau dan
ditulis dengan huruf Arab di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 (Ismail, 2001:5).
Ahli-ahli sastra banyak yang membedakan dan membagi perpuisian Indonesia menjadi puisi
lama dan puisi baru. Namun, apa yang disebut puisi lama itu masih tetap diapresiasi dan
diproduksi sampai saat ini. Disamping itu, puisi baru juga tidak bisa melepaskan puisi lama
karena ia bisa jadi ilham yang penuh keindahan untuk dikerjakan.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan-tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian dari puisi
2. Untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra puisi
3. Untuk mengetahui jenis-jenis puisi di Indonesia
1.3 Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam makalah ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan puisi?
2. Unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam karya sastra puisi?
3. Apa sajakah jenis-jenis puisi di Indonesia?
1.4 Sistematika Penulisan

Makalah ini saya susun dalam tiga bab, yang tiap-tiap babnya terdiri atas :
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Tujuan Penulisan
Fokus Penelitian
Sistematika Penulisan

BAB II
MENGANALISIS JENIS KARYA SASTRA PUISI INDONESIA

2.1 Pengertian Puisi


Secara etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kataPoesis yang artinya
penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat
dengan poet dan poem. Mengenai kata poet, Coluter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan
bahwa kata poet berasal dari Yunan yang berarti membuat atau mencipta.
Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti imajinasinya, orang yang hampir-hampir
menyerupai dewa atau yang amat suka kepad dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglohatan
tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak
kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993: 7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas
terdapat garis-garis besar tentang puisi itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama,
kesan pancaindra, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Menurut Kamus istilah Sastra (Sudjimanm 1984), puisi merupakan ragam sastra yang
bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Watt-Dunton (Situmorang, 1980: 9), Mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi yang
konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya
disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan bahwa puisi adalah kata-kata yang teridah dalam
susunan terindah.
Ralph Waido Emerson (Situmorang, 1980:8), menyatakan bahwa puisi mengajarkan
sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
Putu Arya Tirtawirja (1980: 9), menyatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara
implisit dan samar, dengan makna yang samar dimana kata-katanya condong pada kata konotatif.
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang
mengungkapkan pikiran secara imajinasi dan disusun dengan mengkosentrasikan semua
kekuatan bahasa dengan pengosentrasian struktur fisik dan struktur batinya.
Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan
secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling
berkesan.

2.2 Unsur-Unsur yang Terdapat dalam Puisi


Unsur-unsur puisi meliputi struktur fisik dan struktur batin puisi

Struktur Fisik Puisi


Struktur fisik puisi terdiri dari:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

1.
2.
3.

Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata,
tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap
puisi.
Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya, karena puisi
adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka katakatanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan
makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi,
seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji
suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat
mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang
dialami penyair.
Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya
imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret salju:
melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan lain-lain, sedangkan kata kongkret rawarawa dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dan lain-lain.
Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan
menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya
memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas.
Adapun macam-macam majas antara
lain
:Metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi,anafora, pleonasme
, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi.
Rima mencakup:
Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji
C.B.),
Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang,
sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya
Pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya
bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi terdiri dari :

Tema (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna,
maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair,

misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam
masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman
pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada
kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih
banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk
oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan
rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama
dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada
pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain-lain.
Amanat (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
2.3 Jenis-Jenis Puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
Aturan- aturan itu antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Jumlah kata dalam 1 baris


Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
Ciri-Ciri puisi lama:

1.
2.
3.

Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.


Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis-jenis puisi lama :

Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.


Contoh:

Assalammualaikum putri satulung besar


Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12
suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun
menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.

Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barangsiapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)
Jika suami tiada berhati lurus (c)
Istri pun kelak menjadi kurus (c)
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi
nasihat atau cerita.
Contoh:

Pada zaman dahulu kala (a)


Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Ciri-ciri Puisi Baru:
& Bentuknya

rapi, simetris;
& Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
& Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
& Sebagian besar puisi empat seuntai;
& Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
& Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Jenis-jenis Puisi Baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :

: Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 bait, masing-masing
dengan 8 larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-ba-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait
berikutnya.
Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Balada Matinya Seorang
Pemberontak.
: Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan,
tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi
berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu
yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
Contoh:
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku


bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
: Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya
ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap
pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Contoh:

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru

Pantun keindahan Indonesia


Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
: Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa
Yunani epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran
untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Contoh:

Hari ini tak ada tempat berdiri


Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)
: Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa
Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam,
serta kasih mesra.
: Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan
rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian
seseorang.
Contoh:

Senja di Pelabuhan Kecil


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)
: Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti
sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas
pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim, dan lain-lain.
Contoh:

Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
(WS Rendra)

Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
: Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Contoh:

Indonesia Tumpah Darahku


Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya

Awan datang melayang perlahan


Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
: Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait
pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta berasal
dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara. Jadi soneta adalah
puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari negeri Belanda diperkenalkan
olehMuhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itulah mereka berdualah yang dianggap
sebagai Pelopor/Bapak Soneta Indonesia. Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada
syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun
rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas baris).
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )Contoh:
Gembala
Perasaan siapa ta kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)