Anda di halaman 1dari 9

Artikel Quran :

MAKNA AL-QURAN TURUN DALAM TUJUH HURUF (Bagian-2)


Selasa, 01 Nopember 11
Pendapat yang paling kuat di antara pendapat-pendapat itu semua adalah pendapat pertama,
dan bahwasanya yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa (dialek) dari
bahasa-bahasa Arab dalam satu makna. Seperti kata ,, , dan yang lafazhlafazh tersebut sekalipun berbeda namun maknanya adalah sama (yaitu kemari). Dan yang
berpendapat dengan pendapat ini adalah, Sufyan bin Uyainah, Ibnu Jarir, Ibnu Wahb dan
yang lainnya. Dan Ibnu Abdil Barr menyandarkan pendapat ini kepda kebanyakan ulama.
Dan yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abi Bakrah radhiyallahu 'anhu:
: : . :

Sesungguhnya Jibril 'alaihissalam berkata:Wahai Muhammad, bacalah al-Quran dalam
satu huruf. Maka Mikail 'alaihissalam berkata:Mintalah tambahan huruf. Maka Jibril
'alaihissalam berkata:Dalam dua huruf. Dan Jibril 'alaihissalam terus menerus
menambahkannya sampai dalam enam atau tujuh huruf. Lalu ia mengatakan:Semuanya
adalah obat penawar yang memadai, selama ayat adzab (ayat yang menceritakan tentang
siksa) tidak ditutup dengan ayat rahmat (ayat yang menceritakan tentang rahmat/kasih
sayang) dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat adzab. Seperti ucapanmu:, , , , ,
,, dan ( HR Imam Ahmad no. 21055)
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menyebutkan lafazh-lafazh tersebut hanyalah untuk memberikan contoh terhadap hurufhuruh (dialek) yang dengannya al-Quran diturunkan, dan bahwasanya ia adalah maknamakna yang sama pemahamannya, dan beda pengucapannya. Dan tidak ada satupun di
dalamnya makna yang saling bertentangan, dan tidak ada sisi makna yang kotradiksi dan
menafikkan makna sisi yang lain, seperti kata rahmat yang berlawanan dengan adzab.
Dan pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang banyak, di antaranya:
:

: ! : : : .
- - : :
. :
Ada seorang laki-laki yang membaca al-Quran di sisi Umar bin al-Khaththab
radhiyallahu 'anhu, lalu hal itu membuat Umar marah, lalu orang itu berkata:Aku telah
membacanya di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau tidak
memarahiku. Perawi hadits berkata:Lalu keduanya berselisih pendapat di hadapan Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam. Maka orang itu berkata:Wahai Rasulullah bukankah anda
membacakan kepadaku ayat ini dan ini? Beliau bersabda:Ya benar Perawi
berkata:Maka dalam diri Umar radhiyallahu 'anhu ada sesuatu yang mengganjal (ketika
mendengar jawaban Nabi), maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui hal itu dari
wajahnya. Lalu beliau menepuk dada Umar dan bersabda:Jauhilah setan Beliau
mengulanginya tiga kali. Kemudian beliau juga berkata:Wahai Umar, Al-Quran itu
seluruhnya adalah benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan ayat adzab, dan ayat adzab
tidak dijadikan rahmat. (Tafsir ath-Thabari)
Dari Busr bin Said radhiyallahu 'anhu:
. : :
:
(1) :
Abu Juhaim al-Anshari telah mengabarkan kepadaku, bahwa ada dua orang laki-laki
berselisih mengenai satu ayat di dalam Al Qur'an. Salah satu dari keduanya
berkata:"Sesungguhya saya telah menerima langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam." Sedangkan yang lain berkata:"Saya juga menerimanya langsung dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam." Lalu keduanya menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda:"Sesungguhnya Al-Qur`an itu diturunkan
dengan tujuh huruf, maka janganlah Al-Qur'an itu diperdebatkan dan diperselisihan.
Karena perdebatan mengenai ayat Al-Qur'an itu merupakan kekufuran." (HR. Ahmad dalam
al-Musnad, Ath-Thabari dalam Tafsirnya)
Dari al-Amasy rahimahullah, ia berkata:Anas radhiyallahu 'anhu membaca ayat , ,
, , , , , , ,) ,(QS. Al-Muzamil: 6) Maka sebagian orang berkata
kepadanya:Wahai Abu Hamzah (Anas), kalimat itu ialah ( bukan ,). Maka beliau
pun berkata: ,, ,dan maknanya sama. (HR. Imam ath-Thabari)
Dan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:
: . :

: : . : . : .
{
} : :
( ) [53 29 :]
Aku diberitahukan bahwa Malaikat Jibril dan Mikail 'alaihimassalam menemui Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, lalu Jibril 'alaihissalam berkata:Bacalah al-Quran dengan

dua huruf. Maka Mikail 'alaihissalam berkata kepada beliau:Mintalah tambah Maka
Jibril 'alaihissalam berkata:Bacalah al-Quran dengan tiga huruf Lalu Mikail
'alaihissalam brrkata lagi:Mintalah tambah Perawi berkata:Hingga sampai tujuh huruf
Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:Huruf-huruf (bacaan-bacaan) tersebut tidak
berbeda dalam masalah halal haram, dan tidak pula dalam masalah perintah dan larangan.
Namun ia hanya seperti perkataanmu:Taaal, Halumma, dan Aqbil. Dan seperti dalam
qiraah kita:
[53 29 : { ]
}
Dan dalam qiraahIbnu Masud radhiyallahu 'anhu:
()
(Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam Tafsirnya)
Pendapat yang kedua yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah
tujuh bahasa (dialek) dari bahasa-bahasa (dialek) Arab yang dengannya al-Quran
diturunkan, yang artinya bahwa secara keseluruhan kalimat-kalimat al-Quran tidak keluar
dari ketujuh huruf tersebut dan ketujuh huruf tersebut terkumpul dalam al-Quran. Pendapat
ini dijawab bahwa bahasa Arab lebih dari tujuh. Dan bahwasanya Umar radhiyallahu 'anhu
dan Hisyam bin Hakim keduanya adalah orang Quraisy, satu kabilah, namun keduanya
berbeda dalam bacaan mereka. Dan mustahil kalau Umar radhiyallahu 'anhu mengingkari
bahasanya sendiri, maka hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf
bukanlah apa yang dimaksud oleh mereka (pendapat kedua). Dan tidak ada maksud yang
lain (dari tujuh huruf) kecuali ia adalah perbedaan alfazh dalam mengungkapkan satu makna,
dan itu adalah pendapat yang kami rajihkan.
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah setelah membawakan dalil-dalil (yang menguatkan
pendapatnya) beliau berkata dalam rangka membatalkan pendapat kedua:Bahkan tujuh
huruf yang dengannya al-Quran diturunkan adalah tujuh bahasa dalam satu huruf, dan
satu kalimat dengan perbedaan lafazh-lafazh dan kesesuaian makna. Seperti perkataan
anda: , , , , , dan yang lain, dari lafazh-lafazh yang
pengucapannya berbeda namun maknanya sama, sekalipun lisan-lisan mereka berbeda dalam
menjelaskannya. Seperti yang kami riwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
dan yang kami riwayatkan dari Shahabat radhiyallahu 'anhum. Dan itu seperti perkataan
anda: , ,. juga perkataan:Maa Yanzhuruuna Illa Zaqiyyatn. dan dibaca
pula:Illaa Shaihatan.
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjawab pertanyaan yang mungkin
terlontar:Di kitab Allah yang mana kita dapati satu huruf dibaca dengan tujuh bahasa
(dialek) yang berbeda lafazh dan sama dalam makna? Maka beliau rahimahullah
menjawab:Kamu tidak mengklaim kalau hal itu ada sekarang ini Dan terhadap pertanyaan
lain:Lalu bagaimana dengan keenam huruf lainnya, kenapa ia tidak ada? Beliau
jawab:Umat Islam diperintahkan untuk menjaga (menghafalkan) al-Quran, dan mereka
diberi pilihan untuk membaca dan menghafalnya dengan huruf mana saja dari ketujuh
huruf tersebut yang mereka suka. Kemudian setelah itu ada alasan yang mengharuskan

mereka membacanya dengan satu huruf pada zaman Utsman radhiyallahu 'anhu
dikarenakan khawatir munculnya fitnah. Kemudian ummat sepakat di atas hal tersebut
(membaca dengan satu huruf) , yang mana mereka terjaga dari kesesatan (maksudnya
kesepakatan mereka adalah benar karena ummat ini dijaga dari kesesatan). (Tafsir athThabari)
Pendapat ketiga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
sisi bahasa; yaitu berupa amr (perintah), nahyu (larangan), halal, haram, muhkam,
mutaysabih, dan matsal (perumpamaan). Maka ,bisa ,dijawab bahwa zhahir (makna yang
nampak) dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh
huruf adalah suatu kalimat yang dibaca dengan dua, tiga sampai tujuh model bacaan dalam
rangka memberikan kelonggaran bagi ummat ini. Dan satu perbuatan atau benda tidak
mungkin menjadi halal atau haram dalam satu ayat, dan makna kelonggaran bukan dalam hal
mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram dan juga bukan dengan merubah
sesuatu dari maknanya yang disebutkan.
Dan yang ada dalam hadits-hadts yang lalu menjelaskan bahwa para Shahabat radhiyallahu
'anhumyang berselisih dalam bacaan menghadap kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam, lalu beliau meminta masing-masing dari mereka untuk membaca, kemudian
beliau shallallahu 'alaihi wasallam membenarkan masing-masing dari bacaan mereka
sekalipun bacaannya berbeda-beda. Sampai-sampai sebagian shahabat bingung terhadap
pembenaran beliau terhadap bacaan-bacaan tersebut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda kepada para Shahabat yang bingung ketika beliau membenarkan semua
bacaan:

Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membaca al-Quran dengan tujuh huruf.
Dan sudah dimaklumi bahwa perdebatan (perselisihan) mereka dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan di dalamnya adalah bagian dari itu (dalam masalah bacaan). Seandainya
perdebatan mereka dan perselisihan mereka dalam makna yang ditunjukkan oleh bacaan
mereka berupa, penghalalan, pengharaman, janji, ancaman dan yang semisalnya tentu
mustahil bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk membenarkan semuanya
(perbedaan mereka), dan (mustahil) memerintahkan masing-masing mereka untuk berpegang
teguh dengan bacaannya masing-masing di atas apa yang ada pada mereka.
Dan juga seandainya hal itu boleh dibenarkan maka berarti Allah Yang Mahaterpuji telah
memerintahkan sesuatu dan mewajibkannya dalam bacaan orang yang bacaannya
menunjukkan wajib- dan sekaligus melarang hal yang sama dan memperingatkannya dalam
bacaan orang yang bacaannya menunjukkan larangan dan peringatan- dan juga
membolehkan perbuatan itu. Dan berarti juga Dia membolehkan bagi siapa saja para hambaNya untuk melakukan apa yang mereka suka untuk mereka perbuat, dan bagi siapa dari para
hambanya untuk meninggalkannya dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan
takhyiir (pilihan).
Dan hal menjadikan orang yang berkata dengan pendapat ini menetapkan seandainya ia
mengatakannya- apa yang telah dinafikkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kitab-

Nya:


{82}
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.
An-Nisaa: 82)
Dan dalam penafian (peniadaan) Allah Yang Mahaterpuji terhadap adanya perbedaan
(perselisihan) itu, adalah dalil yang sangat jelas bahwa Dia tidaklah menurunkan kitab-Nya
melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam melainkan dengan satu
hukum yang disepakati oleh seluruh makhluknya, bukan dengan hukum-hukum yang
berbeda-beda.
Adapun pendapat keempat yang mengatakan bahwa maksud dari tujuh huruf adalah sisi-sisi
perbedaan yang di dalamnya terjadi perbedaan. Maka ,pendapat ,ini ,dijawab bahwa
sekalipun pendapat ini menyebar dan bisa diterima, namun ia tidak tegak dihadapan dalildalil pendapat pertama yang secara tegas menunjukkan bahwa ia (maksud tujuh huruf)
adalah perbedaan dalam lafazh dan kesamaan makna. Dan sebagian sisi perubahan atau
perbedaan yang mereka sebutkan datang lewat Qiraah Ahad (tidak mutawatir). Dan tidak
ada perbedaan di kalangan ulama bahwa semua yang ada di dalam al-Quran ditetapkan
lewat riwayat yang mutawatir. Dan kebanyakannya kembali kepada bentuk kalimat atau cara
penyampaian, yang tidak menjadikan adanya perbedaan dalam lafazh. Seperti perbedaan
dalam Irab, Tashrif (Sharf), Tafkhim (penebalan bacaan huruf), Tarqiq (penipisan bacaan
huruf), Fath, Imalah, Izhar, Idgham, dan Isymam. Dan ini bukan termasuk perbedaan yang di
dalamnya ada bermacam-macam lafazh dan makna, karena sifat-sifat tersebut yang berbeda
dalam pengucapannya tidak keluar dari statusnya sebagai satu lafazh.
Dan pembela pendapat ini memandang bahwa mushaf-mushaf Utsmani telah mencakup
ketujuh huruf ini semua, dalam artian bahwasanya ia mencakup huruf-huruf (bacaan) yang
memungkinkan ditunjukkan oleh rasm (tulisan) tersebut.
Maka ayat:

{8}
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (QS.
Al-Muminun: 8) yang dibaca dengan bentuk jamak dan mufrad (tunggal) dalam rasm
Utsmani ditulis ,, bersambung dan di atasnya ada alif kecil (di atas huruf Miim dan
Nuun).seperti dalam firman-Nya dalam surat Saba ayat 19:
{19}
Di dalam mushaf Utsmani ditulis dengan menyambung huruf Ba dengan Ain dan ada
alif kecil (di atas huruf Ba).

Dan ini tidak bisa diterima pada setiap sisi perbedaan yang mereka sebutkan. Seperti
pebedaan dengan penambahan dan pengurangan, seperti dalam firman-Nya dalam surat atTaubah ayat 100:

100}
Dan dibaca , , , dengan tambahan dan firman-Nya dalam surat al-Lail ayat
3:

{3}
Dan dibaca , dengan mengurangi kata ,
Dan perbedaan dengan cara mendahulukan dan mengakhirkan, seperti dalam firman-Nya
dalam surat Qaaf ayat 19:
,{19} , , , , ,
Dibaca juga dengan:
,{19} , , , , ,
Dan perbedaan dalam penggantian, seperti dalam firman-Nya dalam surat al-Qariah ayat 5:
,{5} ,
, , ,
Dibaca dengan:
,{5} ,
, , ,
Dengan mengganti ,dengan ,
Kalau seandainya hal-hal ini terkandung dalam mushaf Utsmani maka tidak mungkin ia
(mushaf Utsmani) menjadi pemutus (solusi) perselisihan dalam masalah perbedaan bacaan.
Hal ini dikarenakan penyelesaian perbedaan itu hanyalah dengan mengumpulkan manusia di
atas satu huruf di antara huruf yang tujuh yang dengannya al-Quran diturunkan. Kalau
bukan karena itu (dengan cara itu) niscaya perbedaan tersebut akan berlangsung terus. Dan
seandainya demikian niscaya tidak ada perbedaan antara pengumpulan al-Quran di zaman
Utsman radhiyallahu 'anhu dengan zaman Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.
Namun yang ditunjukkan oleh atsar-atsar (riwayat) dalam masalah ini adalah bahwa
pengumpulan (penyusunan) al-Quran yang dilakukan oleh Utsman radhiyallahu 'anhu ada
dengan cara menyalin salah satu huruf dari ketujuh huruf, sehingga menyatukan manusia di

atas satu bacaan, yang mana beliau berpendapat bahwa pembolehan membaca al-Quran
dengan tujuh huruf adalah dalam rangka mengangkat kesusahan dan kesulitan (dalam
membaca dan menghafal) di masa-masa awal Islam, dan kebutuhan akan hal itu sudah
berakhir. Maka kuatlah alasan untuk menghilangkan sumber Khilaf (perbedaan) dengan cara
menyatukan manusia di atas satu huruf. Dan para Shahabatpun menyepakati hal itu.
Dan para Shahabat radhiyallahu 'anhum di zaman Abu Bakar dan Umar radhiyallahu
'anhuma belum butuh terhadap pengumpulan al-Quran seperti yang terjadi pada
pengumpulan di zaman Utsman radhiyallahu 'anhu. Karena di zaman keduanya belum
terjadi perbedaan sebagaimana yang terjadi di zaman Utsman radhiyallahu 'anhu. Dengan
demikian Utsman radhiyallahu 'anhu telah diberikan taufiq (ilham dan kemudahan) untuk
melakukan hal yang besar, yaitu menghilangkan perbedaan, menyatukan ummat dan
menenteramkan mereka.
Bersambung Insya Allah..
(Sumber: , , , , ,Syaikh Manna al-Qaththan, Maktabah Maarif Linasyr wat
Tauzi Riyadh, hal 162-167. Diterjemahkan dan dipsoting oleh Abu Yusuf Sujono)

Al ,Quran ,diturunkan ,dengan ,7 ,Huruf


Menjadi sunatullah, Allah Dzat Maha Bijaksana menurukan Al Quran dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh seluruh orang Arab dengan maksud untuk mempermudah pembahasan
bahasa itu dan kemukjizatan serta ajakan bertanding kepada orang-orang yang pandai bicara
untuk mendatangkan satu surat atau satu ayat, disamping itu untuk mempermudah bacaan,
pemahaman dan hafalan al-Quran kepada mereka, karena al-Quran diturunkan dengan
bahasa mereka. Firman Allah dalam QS. Yusuf : 2.

Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya huruf Al Quran dengan berbahasa Arab agar
kamu memahaminya.
Orang Arab jahiliyah mempunyai beberapa macam bunyi, ejaan menyebut kalimat,
mempunyai berlainan istilah dan cara walaupun bahasa yang mereka gunakan bahasa
golongan Quraisy.
Al Quran diturunkan dalam bahasa Quraisy yang sangat dikagumi segenap bangsa Arab
yang bermacam-macam kabilahnya. Dan Al Quran juga sudah masyhur dalam masyarakat
Arab agar mudah bagi kabilah-kabilah itu membaca al-Quran dan menyebutnya.
Dalam sebuah Hadits tentang nuzul al Quran yang diriwayatkan oleh 21 sahabat dari
berbagai sanad:
Artinya:
Al Khafidz Abu Yala telah meriwayatkan dalam kitab Musnad al Kabir bahwa Utsman ra
pada suatu hari berkata di atas mimbar, Saya sebut nama Allah mengenai seseorang yang
mendengar Nabi saw bersabda: Al Quran itu diturunkan dalam tujuh huruf semuanya
sempurna. Ketika Utsman berdiri, maka para sahabat berdiri sehingga tidak dapat terhitung
jumlahnya seraya memberi saksi bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Al Quran
diturunkan dalam tujuh huruf semua sempurna. Kemudian Utsman berkata: Aku juga
memberi saksi keapda mereka.
Sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang lafadznya dari Bukhari:
Artinya:
Bahwa Umar bin Khattab berkata: Saya mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al
Furqan pada masa Rasulullah saya mendengar bacaannya tiba-tiba ia membacanya dengan
beberapa huruf yang belum pernah Rasululah saw membacakan kepdaku sehingga saya
hampir beranjak shalat, kemudian saya menunggunya sampai selesai. Setelah ia salam saya
menarik sorbannya dan bertanya: Siapa yang membacakan surat ini kepadamu? ia
menjawab: Rasulullah yang membacakannya kepadaku, saya mencela Dusta kau, demi
Allah sesungguhnya Rasulullah saw telah membacakan surat yang saya dengar dari yang kau
baca ini. setelah itu saya pergi membawa dia menghdap Rasulullah saw lalu bertanya:
Wahai Rasulullah, saya telah mendengar lelaki ini, ia membacakan surat al Furqan dengan
beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri
telah membcakan surat Al Furqan ini kepadaku.: Rasulullah saw menjawab: Hai Umar!
lepskan dia Bacalah Hisyam! Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengan

ketika ia membacakannya. Rasulullah saw bersabda: Begitulah surat itu diturunkan, sambil
menyambung sabdanya: Bahwa Al Quran ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah
yang paling mudah!.
Dalam sahihnya Imam Bukhari Muslim meriwayatkan:
Artinya:
Dari Ibnu Abbas ra bahwasanya dia berkata Rasulullah saw bersabda: Jibril membacakan
keapdaku dengan satu huruf, kemudian aku mengulanginya, (setelah itu), senantiasa aku
meminta tambah dan iapun menmabahinya sampai tujuh huruf.
Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan pengertian-pengertian al Quran diturunkan
dalam tujuh huruf. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf
ialah tujuh bahasa dari kalangan bangsa Arab. dengan pengertian bahwasanya orang-orang
dalam mengungkapkan suatu maksud berbeda-beda. sedangkan al Quran datang dengan
menggunakan lafadz-lafadz menurut dialek tersebut. Kalau saja tidak terdapat perbedaan,
niscata al Quran akan diturunkan dalam sattu lafadz saja.
Al Razi berpendapat bahwa pengertian tujuh huruf itu adalah suatu pengertian yang tidak
keluar dari perbedaan (ruang lingkup) antara isim mufrad, tasniyah, jamak mudzakkar dan
muannats. perubahan fiil dan Madhi, mudhari dan amar.
perbedaan segi Irab, naqish dan siyadah, takdim dan takhir, perbedaan ibdal dan perbedaan
lajah dan dialek, seperti tarqiq dan tafkhim.
Hikmah Al Quran diturunkan dengan tujuh huruf
a.Mmempermudah ummat islam khususnya bangsa Arab yang dituruni al Quran. dimana
mereka memiliki beberapa
dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat ke-Arabannya. hikmah ini diambil
dengan alasan sabda
Rasulullah saw agar mempermudah ummatku, bahwa ummatku tidak mampu
melaksanaknnya.
b. Menyatukan Ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa Quraisy yang
tersusun dari berbagai
bahasa pilihan di kalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Mekkah pada musim
hajji dan lainnya.
Oleh karena itu al Quran diturunkan dalam tujuh huruf yang terpilih dari bahasa kabilahkabilah Arab yang mewakili bangsa orang-orang Quraisy. ini merupakan hikmah Illahy yang
luhur karena menyatukan bahasa nasional adalah merupakan faktor dalam menyatukan
bangsa, khususnya pada masa pertama bangsa itu berkembang.
Sumber: Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir: 94-101. Dra H. St Manah