Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling sering
dijumpai pada bayi dan anak. Sekitar 2,2% hingga 5% anak mengalami kejang demam
sebelum mereka mencapai umur 5 tahun. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan
pendapat mengenai akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang
dominan saat ini kejang pada kejang demam tidak menyebabkan akibat buruk atau
kerusakan pada otak namun kita tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat
mungkin (Marlian L, 2005).
Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% da Amerika Serikat, Amerika
Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20% kasus merupakan kejang
demam komplek.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan
yaitu kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan
kejang demam komplek yang berlangsung lebih dari dari 15 menit, fokal atau multifel
(lebih dari 1 kali kejang demam dalam 24 jam (Arif Manajer, 2000).
Kejang merupakan keadaan emergensi atau tanda bahaya yang sering terjadi pada
BBL, karena kejang dapat mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya bagi
kelangsungan hidup bayi atau dapat mengakibatkan sekuele dikemudian hari. Disamping
itu kejang dapat merupakan tanda atau masalah dari satu masalah atau lebih. Sekitar 7080% BBL secara klinis tidak tampak kejang, namun secara elektrografik masih
mengalami kejang. Karena sulitnya mengenal bangkitan kejang pada BBL, angka
kejadian sesungguhnya tidak diketahui (Arif Manajer, 2000).
Meskipun demikian angka kejadian di Amerika Serikat berkisar antara 0.8-1.2
setiap 1000 BBL pertahun, sedang pada kepustakaan lain menyebutkan 1-5% bayi pada
bulan pertama mengalami kejang. Insidensi meningkat pada bayi kurang bulan sebesar
57.5-132 dibanding bayi cukup bulan sebesar 0.7-2.7 setiap 1000 kelahiran hidup. Pada
kepustakaan lain menyebutkan bahwa insidensi 20% pada bayi kurang bulan dan 1.4%
pada bayi cukup bulan (masjoer 2000)
B. Rumusan Masalah
1

a. Apa definisi dari kejang dem pada BBL?


b. Apa saja klasifikasi kejang demam pada BBL?
c. Apa etiologi kejang demam pada BBL?
d. Bagaimana patofisiologi kejang demam pada BBL?
e. Bagaimana manifestasi klinik kejang demam pada BBL?
f. Bagaimana diagnosis kejang demam pada BBL?
g. Bagaimana penatalaksanaan kejang demam pada BBL?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui definisi kejang demam pada BBL.
b. Untuk mengetahui klasifikasi kejang demam pada BBL.
c. Untuk mengetahui etiologi kejang demam pada BBL.
d. Untuk mengetahui patofisiologi kejang demam pada BBL.
e. Untuk mengetahui manifestasi klinik kejang demam pada BBL.
f. Untuk mengetahui diagnosis kejang pada demam BBL.
g. Untuk mengetahui penatalaksanaan kejang demam pada BBL.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Kejang Pada BBL


Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan proksimal dari fungsi
neurologik (misalnya perilaku, sensorik, motorik, dan fungsi autonom sistem syaraf yang
terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari (Kosim, 2008)
Kejang dapat timbul sebagai gerakan involunter klonik atau tonik pada satu atau
lebih anggota gerak (Lissauer, 2006)
Kejang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai.
Kejang yang terjadi pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi pada bayi baru lahir
sampai dengan usia 28 hari (Kosim, 2008)
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan
segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk
menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering.
Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi
keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan
penderita, yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu
dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara
bio-psiko-sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan pada kejang demam adalah :
Mencegah/mengendalikan

aktivitas

kejang,

melindungi

pasien

dari

trauma,

mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif, memberikan


informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan
penanganannya (Marlian L, 2005).

B. Klasifikasi Kejang demam


1. Berdasarkan Lokasi Kejang
Kejang motorik dapat berupa kejang fokal atau umum. Kejang fokal dicirikan
oleh gejala motorik atau sensorik dan termasuk gerakan yang kuat dari kepala dan
mata ke salah satu sisi, pergerakan klonik unilateral yang diawali dari muka atau
ekstremitas, atau gangguan sensorik seperti parestesi (kesemutan) atau nyeri lokal
pada suatu area. Sedangkan pada kejang umum, bisa menyuluruh pada organ tubuh,
dapat berlangsung bertahap maupun bersamaan. Terkadang kejang ini tak dapat
dideteksi atau tersamar, yaitu mmiliki ciri ciri:
Menurut prichard dan MC greal adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh.
1.
2.
3.

2.

Hampir tidak terlihat


Menggambarkan perubahan tingkah laku
Bentuk kejang :
a.
Otot muka, mulut, lidah menunjukan gerakan menyeringai.
b.
Gerakan terkejut-kejut pada mulut dan pipi secara tiba-tiba menghisap,
c.

mengunyah, menelan, menguap.


Gerakan bola mata ; deviasi bola mata secara horisontal, kelopak mata

d.

berkedip-kedip, gerakan cepat dari bola mata.


Gerakan pada ekstremitas : pergerakan seperti berenang, mangayuh pada

e.
f.

anggota gerak atas dan bawah.


Pernafasan apnea, BBLR hiperpnea
Untuk memastikan : pemeriksaan EEG

Berdasarkan serangan pada otot


1. Kejang klonik, terdapat kontraksi otot secara ritmik. Ciri ciri yang dapat
diperhatikan adalah:
a) Berlangsung selama 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai
gangguan kesadaran.
b) Dapat disebabkan trauma fokal.
c) BBL dengan kejang klonik fokal perlu pemeriksaan USG, pemeriksaan
kepala untuk mengetahui adanya perdarahan otak, kemungkinan infark
serebri.
d) Kejang klonik multifokal sering terjadi pada BBL, terutama bayi cukup
bulan dengan BB>2500 gram.
4

e)

Bentuk kejang : gerakan klonik pada satu atau lebih anggota gerak yang
berpindah-pindah atau terpisah secara teratur, misal kejang klonik lengan
kiri diikuti kejang klonik tungkai bawah kanan

2. Kejang tonik, dicirikan oleh peningkatan tonus arau kekakuan. Dapat terjadi pada:
a) Terdapat pada BBLR, masa kehamilan kurang dari 34 minggu danpada
bayi dengan komplikasi perinatal berat.
b) Bentuk kejang : berupa pergerakan tonik satu ekstremitas, pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai, menyerupai sikap
deserebasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan
bentuk dekortikasi
3. Kejang tonik klonik, merupakan kumpulan gejala kejang tonik dan klonik.
4. Kejang mioklonik, ditandai dengan kontraksi otot seperti adanya kejutan. Gerakan
ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan
5.

terjadinya cepat, gerakan menyerupai refleks moro.


Kejang atonik, dicirikan oleh kelumpuhan atau kurangnya gerakan selama kejang.

3. Berdasarkan sisi otak yang terkena


a. Lobus frontalis memiliki gejala kedutan pada otot tertentu.
b. Lobus oksipitalis memiliki gejala halusinasi kilauan cahaya.
c. Lobus parietalis memiliki gejala mati rasa atau kesemutan pada bagian tubuh
tertentu.
d. Lobus temporalis dengan gejala halusinasi gambaran dan perilaku repetitif
yang kompleks misalnya berjalan berputar putar.
e. Lobus temporalis anterior memiliki gejala gerakan mengunyah, gerakan bibir
mecucu.
f. Lobus temporalis anterior sebelah dalam memiliki gejala halusinasi bau, baik
yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
4. Berdasarkan demam sebagai gejala penyerta
1.

Kejang dengan demam, meliputi Kejang Demam dan non-Kejang Demam


a. Kejang demam terbagi menjadi dua yaitu
Kejang Demam Sederhana (KDS)
Adalah bila kejang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak
berulang pada hari yang sama. Tidak menyebabkan kelumpuhan,
meninggal ataupun mengganggu kecerdasan. Resiko untuk menjadi
epilepsi dikemudian hari juga sangat kecil (2 3%). Resiko terbanyak
5

adalah berulangnya kejang demam, yang dapat terjadi pada 30 50%


anakanak ( faiq, 2007 )
Kejang Demam Kompleks (KDK)
Adalah bila kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh, berlangsung
lama (lebih dari 15 menit) atau berulang dua kali atau lebih dalam satu
hari. Resiko untuk menjadi epilepsi dikemudian hari dan resiko
berulangnya kejang demam lebih tinggi dari KDS. Untuk anak yang
mengalami kelainan saraf yang nyata, dokter akan mempertimbangkan
untuk memberikan pengobatan dengan anti kejang selama 1 3 tahun
b.

( faiq 2007 )
Bukan kejang demam (non-KD), yang diantaranya disebabkan oleh: infeksi
intrakranial

meningitis/ensefalitis,

gangguan

elektrolit

berat

akibat

dehidrasi, serangan epilepsi yang disertai demam, dan penyakit dengan


demam dan gerakan mirip kejang (
2. Kejang tanpa demam dapat terjadi pada beberapa penyakit diantaranya: epilepsi
(tanpa demam dan berulang), hipo/hiperglikemi, gangguan elektrolit tanpa demam,
keracunan, trauma, dan hipoksia.

C. Etiologi/penyebab kejang pada BBL


Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi
saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran
kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang kadang demam yang
tidak begitu tinggi dapat menyebabkan demam (Mansjoer, 2000).
Beberapa penyebab kejang pada bayi baru lahir, diantaranya :
1. Komplikasi perinatal dapat berupa : hipoksi-iskemik ensefalopati; biasanya kejang
timbul pada 24 jam pertama kelahiran, perdarahan intrakranial, dan trauma
susunan saraf pusat yang dapat terjadi pada persalinan presentasi bokong, ekstrasi
2.

cunam atau ekstrasi vakum berat.


Kejang bayi dengan asfiksia disertai kelainan metabolisme seperti: hipoglikemia,
hipokalsemia,

hipomagnesemia,

hiponatremia,

dan

hipernatremia.

Hiperbilirubinemia, ketergantungan piridoksin, dan kelainan metabolisme asam


amino. Kejang dengan penyebab ini dapat terjadi 24-48 jam pertama.
6

3.

Kejang yang terjadi pada hari ke-7 hingga hari ke-10, dapat disebabkan adanya
infeksi dari bakteri dan virus seperti TORCH dan Tetanus Neonatorum.

D. Patofisiologi kejang pada BBL


(Dalam Buku Ajar Neonatologi), mekanisme dasar terjadinya kejang akibat
loncatan muatan listrik yang berlebihan dan sinkron pada otak atau depolarisasi otak yang
mengakibatkan gerakan yang berulang. Terjadinya depolarisasi pada syaraf akibat
masuknya natrium dan repolarisasi terjadi karena keluarnya kalium melalui membrane
sel. Untuk mempertahankan potensial membrane memerlukan energi yang berasal dari
ATP dan tergantung pada mekanisme pompa yaitu keluarnya Natrium dan masuknya
Kalium.
Dalam keadaan norma, membran sel neuron dapat dilalui oleh ion K, ion Na, dan
elektrolit seperti Cl. Konsentrasi K+ dalam sel neuron lebih tinggi daripada di luar sel,
sedangkan konsentrasi Na+ di dalam sel lebih rendah daripada di luar sel. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial membran.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 derajat celcius akan menyebabkan
metabolisme basal meningkat 10 15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Jadi pada
kenaikan suhu tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam
waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran,
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini sedemikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan
bahan yang disebut neurotransmitter sehingga terjadi kejang.
E. Manifestasi klinik kejang pada BBL
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik
atau tonik klonik bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata
terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang
tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8 %
berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik
atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.
7

Kejang dapat diikuti hemiparisis sementara( hemiparises Todd ) yang berlangsung


beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh
hemiparises yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi
pada kejang demam yang pertama ( Mansjoer, 2000).
F. Diagnosis
menurut consensus statementon febrileseizures, kejang demam adalah bangkitang kejang
pada bayi dan anak, pada umur 3 bulan dan 5 tahun.
1.

Anoksia susunan saraf pusat didapatkan gejala kejang yang disertai kebiruan pada

2.
3.
4.

tubuh bayi dan gagal napas.


Perdarahan otak bila diperoleh kejang dengan riwayat trauma lahir pada kepala bayi.
Cacat bawaan bila pada pemeriksaan didaptkan kejang dengan kelainan mikrosefali.
Sepsis yaitu kejang yang disertai pemeriksaan fisik perut buncit dan

5.

hepatosplenomegali.
Tetanus toksoid bila kejang disertai mulut mecucu.

G. Penatalaksanaan kejang pada BBL


Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 :
a.

Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1
selama 48-72 jam.

b.

Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit.

c.

Fenobarbital dosis 5-10 mg/kg BB IV disuntikkan perlahan-lahan, jika kejang


berlanjut lagi dalam 5-10 menit.

d.

Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari.

e.

Tali pusat dibersihkan.

f.

Rawat diinkubator.

g.

Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajanl


dibawah bahunya.

h.

Beri O2 1-2 liter/menit.

i.

Pada saat kejang pasang sudit lidah.

j.

Observasi tanda vital secara continue setiap jam

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN KEJANG
DEMAM DIRUANGAN NICU RSU CUT NYAK DHIEN MEULABOH TAHUN 2014
NO. REGISTER

: 65-69-52

TANGGAL/JAM MSK RUANG NICU : 20 November 2014, PUKUL 18.00 WIB


RUJUKAN DARI

: NAGAN RAYA

DIRAWAT DIRUANG

: NICU

TANGGAL PENGKAJIAN/JAM

: 21 November 2014, PUKUL 09.00 WIB

TANGGA LAHIR /JAM

: 18 NOVEMBER 2014 ,PUKUL 10.00 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata bayi
Nama bayi

: By. Ny. D

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 3 Hari

2. Biodata Orang Tua


Nama ibu

: Ny. D

Nama Ayah

: Tn. R

Umur

: 25 tahun

Umur

: 28 tahun

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Wartawan

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: S1
9

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Suku

: Aceh

Suku

: Aceh

Alamat

: Nagan Raya

Alamat

: Nagan Raya

3. Riwayat Persalinan
Lahir spontan dirumah. Bayi tidak menangis.

B. DATA OBJEKTIF.
1. Pemeriksaan Umum
a.

pemeriksaan pernapasan

: Ada

b.

Warna kulit

: kemerahan

c.

Denyut jantung

: Ada

d.

Postur dan gerakan

: Lemah

e.

Tonus otot / tingkat

: Lemah

f.

Kulit

: Kering

g.

Tali pusat

: kering

h.

BB sekarang

: 2900 gr

i.

Kesadaran

: Lemah

j.

Menangis

: Tidak ada

2. Antropomentri
a.

BB

: 2900 gr

b.

PB

: 49 cm

c.

LK

: 35 cm

d.

LILA

: 12 cm

e.

LD

: 34 cm

3. Tanda tanda vital


a.

Suhu

: 38 oC

b.

Nadi

: 121 x/m

c.

Pernafasan

: 50 x/m

d.

Apgar Skor

:6

Tanda

Nilai apgar
10

Nadi
Pernapasan
Tonus otot
Reflek
Warna
Total
4. Pemeriksaan Fisik

2
1
1
1
1
6

a) Kepala
Bentuk simetris, keadaan rambut tidak bersih, Tidak ada caput succedaneum,
molase tidak ada, bentuk bundar.
b) Wajah
Tidak ada odema, kebersihan muka dan warna pucat.
c) Mata
Bentuk simetris,bila mata secara horizontal, kedip mata prosimal, kelopak mata
berkedip kedip gerakan cepat dari bola mata.
d) Abdomen
Perut kembung
e) Ekstremitas
Atas

: jari-jari tangan lengkap tidak ada kekurangan satu pun.

Bawah : jari-jari kaki semuanya lengkap,


C. Assesment
Bayi Ny.D usia 3 hari Kejang Demam
D. Planning
1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang kondisi bayinya
Evaluasi : ibu mengerti apa yang dijelaskan oleh bidan tentang kondisi bayinya.
2. Letakkan bayi dalam inkubator untuk menjaga kehangatan bayi, mengantikan popok
bayi setiap BAB dan BAK.
Evaluasi : Bersedia tetap menjaga kehangatan bayinya.
3. Melakukan kolaborasi dengan Dr.spesialis anak
Evluasi

: sudah dilaksanaan

O2 terpasang

NGT terpasang

Infus terpasang
11

4. Memberikan obat-obatan
Evaluasi :
- dizepam dosis 1,0 -0,4 mg melalui IV
- fenobarbital dosis 5 10 mg melalui NGT
- cairan infus destrose 10% mealui IV
5. Membersihkan jalan nafas pada bayi dengan menghisap lendir.
Evaluasi : jalan nafas bayi telah di bersihkan dengan menggunakan suction dan
mulut telah dibersihkan.
6. Memberikan ASI 2 jam sekali
Evaluasi : ASI telah diberikan 2 jam sekali
7. Menjaga tali pusat tetap kering dan bersih
Evaluasi : tali pusat telah dibersihkan
8.

Memberikan O2
Evaluasi

9.

: O2 terpasang 1-2 lter/m

Anjurkn ibu untuk memberikan ASI eksklusif 0 -6 bulan pertama, jika ibu
memberikan pisang atau makanan lain untuk bayi,maka usus atau perut bayi belum
bisa mencerna makanan yang ibu berikan karena lambung si bayi itu sangat kecil,
bayi cukup diberikan asi saja itu lebih baik karena dalam asi mengadung
energi,laktosa,lemak, protein, mineral, lisoin, laktoferin, natrium, zat besi, asam
linomet san sebagainya
Evaluasi : ibu sudah mengerti apa yang dikatakan ASI eksklusif dan bahaya
pemberian pisang pada bayi

10. Mengobservasi keadaan Umum bayi


Evaluasi : keaadan umum telah dipantau dan kondisi lemah.

12

CATATAN PERKEMBANGAN
TANGGAL 21 NOVEMBER 2014 PUKUL 10.00 WIB
S

:..

:
1. Pemantauan umum
a.

Permantauan pernapasan

: Ada

b.

Warna kulit

: Kemerahan

c.

Denyut jantung

: Ada

d.

Postur dan gerakan

: Lemah

e.

Tonus otot/tingkat

: Lemah

f.

Kulit

g.

Tali pusat

h.

BB sekarang

i.

Kesadaran

: Lemah

j.

Menangis

: Tidak ada

: Kering
: kering
: 2900 gr

2. Antropomentri
a. BB

: 2900 gr

b. PB

: 49 cm

c. LK

: 35 cm

d. LILA

: 12 cm

e. LD

: 34 cm

3. Tanda-tanda vital :
RR

: 50 x/menit

BB

: 2900 gr

Suhu

: 38 oC

PB

: 49 gr

Nadi

: 121 x/menit

LILA

: 12 cm

4. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala

13

Bentuk simetris, keadaan rambut tidak bersih, Tidak ada caput succedaneum,
molase tidak ada, bentuk bundar.
b) Wajah
Tidak ada odema, kebersihan muka dan warna pucat.
c) Mata
Bentuk simetris,bila mata secara horizontal, kedip mata prosimal, kelopak mata
berkedip kedip gerakan cepat dari bola mata.
d) Abdomen
Perut kembung
e) Ekstremitas
Atas

: jari-jari tangan lengkap tidak ada kekurangan satu pun.

Bawah : jari-jari kaki semuanya lengkap,


A

:Bayi D usia 1 hari Kejang Demam

Intervensi dilanjutkan
a. Menjaga kehangatan bayi.
Evaluasi

: meletakkan bayi diincubator,menggantikan popok atau bedong

bila basah.
b. Memberikan obat-obatan
Evaluasi

diazepam dosis 0,1-0,4 mg melalui IV


fenobarbital dosis 5-10 mg melalui NGT
cairan destrose 10 % melalui IV
c. Memasang O2
Evaluasi

: O2 sudah terpasang 1-2 liter/menit.

d. Memberikan ASI
Evaluasi

: ASI sudah diberikan 2 jam sekali melalui NGT

e. Mengawasi keadaan umum

14

TANGGAL 22 NOVEMBER 2014, PUKUL 20.00 WIB


S

:.

:
1. Pemantauan umum

2.

Permantauan pernapasan

: Ada

Warna kulit

: Kemerahan

Denyut jantung

: Ada

Postur dan gerakan

: Lemah

Tonus otot/tingkat

: Lemah

Kulit

: Kering

Tali pusat

: Kering

BB sekarang

: 2900 gr

Kesadaran

: Lemah

Menangis

: Tidak ada

Antropomentri
BB

: 2900 gr

PB

: 49 cm

LK

: 35 cm

LILA

: 12 cm

LD

: 34 cm

3. Tanda-tanda vital :
RR

: 50 x/menit

BB

: 2900 gr

Suhu

: 37,5 oC

PB

: 49 gr

Nadi

: 121 x/menit

LILA

: 12 cm

4. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Bentuk simetris, keadaan rambut tidak bersih, Tidak ada caput
succedaneum, molase tidak ada, bentuk bundar.
b) Wajah
Tidak ada odema, kebersihan muka dan warna pucat.
15

c) Mata
Bentuk simetris,bila mata secara horizontal, kedip mata prosimal,
kelopak mata berkedip kedip gerakan cepat dari bola mata.
d) Abdomen
Perut kembung
e) Ekstremitas
Atas

: jari-jari tangan lengkap tidak ada kekurangan satu pun.

Bawah : jari-jari kaki semuanya lengkap,


A

:Bayi D usia 4 hari Kejang demam

Intervensi dilanjutkan
1.

Menjaga kehangatan bayi.


Evaluasi : meletakkan bayi diincubator,menggantikan popok atau bedong
bila basah.

2.

Memberikan obat-obatan dengan intruksi yang dianjurkan


Evaluasi :
diazepam dosis 0,1-0,4 mg melalui IV
fenobarbital dosis 5-10 mg melalui NGT
cairan destrose 10 %

3.

Memasang O2
Evaluasi : O2 sudah terpasang 1-2 liter/menit

4.

Melakukan kolaborasi dengan Dokter Spesialis Anak

5.

Mengawasi keadaan Umum bayi


Evaluasi : bayi dalam keadaan pemantauan

TANGGAL 23 NOVEMBER 2014, PUKUL 14.00 WIB


16

:.

:
1.

Pemantauan umum
Permantauan pernapasan

: Ada

Warna kulit

: Kemerahan

Denyut jantung

: Ada

Postur dan gerakan

: Sedang

Tonus otot/tingkat

: Sedang

Kulit

: Kering

Tali pusat

: Kering

BB sekarang

: 2900 gr

Kesadaran

: Sedang

Menangis

: Merintih

2. Antropomentri
BB

: 2900 gr

PB

: 49 cm

LK

: 35 cm

LILA

: 12 cm

LD

: 34 cm

3. Tanda-tanda vital :
RR

: 50 x/menit

BB

: 2900 gr

Suhu

: 36,5 oC

PB

: 49 gr

Nadi

: 121 x/menit

LILA

: 12 cm

4.

Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Bentuk simetris, keadaan rambut tidak bersih, Tidak ada caput
succedaneum, molase tidak ada, bentuk bundar.
b) Wajah
Tidak ada odema, kebersihan muka dan warna pucat.
c) Mata

17

Bentuk simetris,bila mata secara horizontal, kedip mata prosimal,


kelopak mata berkedip kedip gerakan cepat dari bola mata.
d) Abdomen
Perut kembung
e) Ekstremitas
Atas

: jari-jari tangan lengkap tidak ada kekurangan satu pun.

Bawah

: jari-jari kaki semuanya lengkap,

:Bayi D usia 5 hari Kejang Demam

Intervensi dilanjutkan
1. Menjaga kehangatan bayi.
Evaluasi : meletakkan bayi diinkubator,menggantikan popok atau bedong
bila basah.
2. Memberikan obat-obatan dengan intruksi yang dianjurkan oleh Dr.spesialis
anak
Evaluasi :
diazepam dosis 0,1-0,4 mg melalui IV

fenobarbital dosis 5-10 mg melalui NGT

cairan destrose 10 %

3. Memasang O2
Evaluasi : O2 sudah terpasang 1-2 liter/menit
4. Mengawasi keadaan Umum

TANGGAL 24 NOVEMBER 2014, PUKUL 10.00 WIB


S

:.
18

:
1. Pemantauan umum
Permantauan pernapasan

: Ada

Warna kulit

: Kemerahan

Denyut jantung

: Ada

Postur dan gerakan

: Ada

Tonus otot/tingkat

: Ada

Kulit

: Kering

Tali pusat

: Kering

BB sekarang

: 2900 gr

Kesadaran

: Ada

Menangis

: Ada

2. Antropomentri
BB

: 2900 gr

PB

: 49 cm

LK

: 35 cm

LILA

: 12 cm

LIDA

: 34 cm

3. Tanda-tanda vital :
RR

: 50 x/menit

BB

: 2900 gr

Suhu

: 36,5 oC

PB

: 49 gr

Nadi

: 121 x/menit

LILA

: 12 cm

4. Pemeriksaan Fisik
a)

Kepala
Bentuk simetris, keadaan rambut tidak bersih, Tidak ada caput
succedaneum, molase tidak ada, bentuk bundar.

b)

Wajah
Tidak ada odema, kebersihan muka dan warna pucat.

c)

Mata
Bentuk simetris,bila mata secara horizontal, kedip mata prosimal,
kelopak mata berkedip kedip gerakan cepat dari bola mata.
19

d)

Abdomen
Perut tidak kembung lagi.

e)

Ekstremitas
Atas

: jari-jari tangan lengkap tidak ada kekurangan satu pun.

Bawah : jari-jari kaki semuanya lengkap,


A

:Bayi D usia 4 hari Kejang Demam

Intervensi dilanjutkan
1. Menjaga kehangatan bayi.
Evaluasi : meletakkan bayi diinkubator,menggantikan popok atau bedong
bila basah.
2. Memberikan ASI
Evaluasi : ASI sudah diberikan 2 jam sekali melalui NGT
3. Memasang O2
Evaluasi : O2 sudah terpasang 1-2 liter/menit
4. Mengawasi keadaan umum

TANGGAL 25 NOVEMBER 2014, PUKUL 10.00 WIB


S

20

O : K/U : baik, menangis ada, gerakan ada, menghisap ada, BAB/BAK ada, sianosis ada,
kejang tidak ada lagi, demam tidak ada temp 36,5 oC, ikterik ada ,tali pusat sudah mulai
kering.
A

: Bayi D usia 5 hari Kejang Demam

:
1.

Ajari ibu untuk menyusui bayinya


Evaluasi

:mengajari ibu cara menyusui bayinya dengan benar sudah

dilakukan dan ibu mengerti.


2.

Ajari ibu cara merawat bayi


Evaluasi

:mengajari ibu cara merawat bayinya dengan benar sudah

dilakukan dan ibu mengerti.


3.

Ajari ibu cara merawat tali pusat bayi


Evaluasi

:mengajari ibu cara merawar tali pusat yang benar sudah dilakukan

dan ibu mengerti.


4.

Anjurkn ibu untuk memberikan ASI eksklusif 0 -6 bulan pertama, jika ibu
memberikan pisang atau makanan lain untuk bayi,maka usus atau perut bayi
belum bisa mencerna makanan yang ibu berikan karena lambung si bayi itu sangat
kecil, bayi cukup diberikan asi saja itu lebih baik karena dalam asi mengadung
energi,laktosa,lemak, protein, mineral, lisoin, laktoferin, natrium, zat besi, asam
linomet san sebagainya
Evaluasi
: ibu sudah mengerti apa yang dikatakan ASI eksklusif dan bahaya
pemberian pisang pada bayi.

5.

Bayi sudah diperbolehkan pulang.

BAB IV
PEMBAHASAN
21

A. Pengertian
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rectal diatas 38oc) yang disebabkan oleh suatu proses ekstracranial (Mansjoer,
2000)
Setelah kami lakukan pengkajian pada bayi Ny.D di RSUD CUT NYAK DHIEN
MEULABOH kami dapatkan pasien bayi Ny.D lahir pada tanggal 20 november 2014,
pukul 19.00 wib dengan diagnosa kejang neonatarum setelah dilakukan pengkajian
terhadap bayi Ny.D Usia 14 jam dengan Kejang demam tidak ada keganjalan antara teori
dan peraktek.
Pemantauan dan evaliasi ini dilakukan diruang NICU RSUD CUT NYAK DHIEN
Meulaboh.

BAB V
PENUTUP

22

A. Kesimpulan
Kejang merupakan keadaan emergensi atau tanda bahaya yang sering terjadi pada
BBL, karena kejang dapat mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya bagi
kelangsungan hidup bayi atau dapat mengakibatkan sekuele dikemudian hari.
Bayi Ny. D usia 3 hari dengan kejang demam. Hal-hal yang dapat kita lihat pada
bayi tersebut adalah kejang dengan keadan bayi lemah, menangis lemah, gerakan lemah,
denyut jantung lebih dari 100x/m, dan gerakan kurang.
Kejang dapat diikuti hemiparisis sementara( hemiparises Todd ) yang berlangsung
beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh
hemiparises yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi
pada kejang demam yang pertama.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan
segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk
menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering.
B. Saran
1. Bagi rumah sakit
Berkenan untuk mengajari kami mahasiswa Akbid PHMN Meulaboh cara
pembuatan kasus yang benar. Karena Kami masih dalam proses belajar.
2. Bagi instalasi pendidikan
Dapat meningkatkan saranan dosen prasaranan penunjang, agar terciptanya
ilmu lebih dalam pembuatan laporan kasus bagi mahasiswa dan instansi pendidikan
sendiri.
3. Bagi mahasiswa
Makalah ini semoga bermanfaat untuk semua kalangan bagi semua mahasiswa
AKBID PHMN Meulaboh diharapkan dengan dilakukan penulisan kasus ini, dapat
menjadi masukan kepada penulis lainnya dan dapat dijadikan sebagai bahan ilmu
pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Saifudin,abdul.2002.Buku

Acuan

Nasional

Pelayanan

Kesehatan

Maternal

dan

Neonatal.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.


23

Sumijati, M.E,dkk, 2000, asuhan keperwatan pada kasus penyakit yang lazim terjadi pada
anak, info medika , jakarta.
Mansjoer, Arif.2000, kejang demam, media fakultas kedokteran Universitas Indonesia .
Jakarta.
Prawiroharjo, Sawano.2002. Buku acuan pelayanan maternal dan neonatal. Jakarta : YBP
Kosim, Shaleh.dkk. 2008 . Buku ajar neonatologi. Jakarta : Badan penerbit IDAI
Lissasuer, Tom. dkk. 2006. At The Glance neonatologi. Jakarta : Erlangga
Faiq, 2007

24