Anda di halaman 1dari 21

Catatan DPRD Terhadap Konsep Kebijakan Umum Anggaran.

A. Setelah membahas isi Bab I pada konsep KUA yang disampaikan


oleh Kepala Daerah, DPRD Kabupaten/Kota ...... bersepakat
untuk menyampaikan catatan perubahan dan perbaikan sebagai
berikut:
1.

KUA dan PPAS adalah dokumen


turunan RPJM, sehingga semua program dan kegiatan yang
direncanakan setiap tahun anggaran adalah turunan dari
upaya untuk mewujudkan visi dan misi daerah, sebagaimana
dituangkan di dalam Perda tentang RPJM Daerah;

2.

Sehubungan dengan itu, untuk


memudahkan DPRD menilai konsistensi antara visi dengan
misi serta antara misi dengan kebijakan tahun anggaran
2011, Pemda diminta untuk menambahkan satu sub-heading
tentang Visi dan Misi Daerah pada Bab I butir 1.3;

3.

Saran perbaikan ini disampaikan


karena terdapat indikasi nyata bahwa:
a. Sebagian

dari

rencana

program

dan

kegiatan

pada

berbagai SKPD tidak berkaitan dengan upaya mewujudkan


visi dan misi darah. Bagian tertentu dari program dan
kegiatan dimaksud lebih merupakan kegaitan rutin yang
menahun dan hanya memuat judul nomenklatur program
tanpa kejelasan tentang isi kegiatannya;
b. Sebagai lembaga pengawas atas jalannya pemerintahan
daerah dan penilai atas kinerja Kepala Daerah, DPRD
berkewajiban untuk menyampaikan saran penyempurnaan
agar pemerintah daerah dapat terhindar dari kemungkinan
melakukan kealpaan;
c. Sehubungan dengan itu, dan dalam rangka memudahkan
DPRD menilai konsistensi penjabaran visi dan misi ke
dalam

rencana

kebijakan

dan

program,

DPRD

menyarankan:
1)

Pada Bab I ditambahkan Sub


Heading Visi dan Misi Daerah pada butir 1.3;

2)

Namun untuk memudahkan


penilaian

konsistensinya,

DPRD

menyarankan

agar

penulisan sub heading tentang visi dan misi daerah

tersebut dilakukan dalam bentuk matriks sebagaimana


Lampiran 1.

B. Setelah mempelajari keseluruhan aturan perundangan tentang


format dan isi Bab II KUA PPAS, DPRD menyimpulkan bahwa KUA
adalah dokumen terpenting dari keseluruhan rangkaian dokumen
penyusunan

R-APBD.

Sehubungan

dengan

itu,

DPRD

menyampaikan saran penyempurnaan sebagai berikut:


1. Inti utama KUA tertuang di dalam Bab II tentang Kerangka
Ekonomi Makro;
2. Namun karena akan menjadi dasar penyusunan PPAS dan RAPBD tahun anggaran 2011, informasi yang disajikan di dalam
Bab II tentang Kerangka Ekonomi

Makro Darah haruslah

selektif dan dipilih agar informasinya sangat relevan dengan


kebijakan

yang

dilaksanakan

akan

pada

diambil

tahun

dan

anggaran

program

yang

berikutnya.

akan

Sebagian

besar data dan informasi yang tersaji dalam Bab II ini kurang
relevan dengan rencana program setiap SKPD;
3. Sebagian besar dari informasi dan data yang disajikan adalah
data statis yang kurang relevan dengan rencana program
tahun 2011 pada setiap SKPD;
4. Sehubungan dengan itu DPRD menyarankan agar Bab II ini
disusun ke dalam bentuk matriks sebagaimana Lampiran 2,
sehingga

DPRD

dapat

lebih

mudah

untuk

menilai

konsistensinya;
5. Dengan

menyajikan

data dan

statistik

tentang

kerangka

ekonomi makro daerah, gambaran tentang rencana program


setiap SKPD sudah dapat dirancang secara lebih ludah;
6. Sangat disadari bahwa pengisian matriks ini membutuhkan
data dan statistik terkini setiap SKPD.

C. Setelah mempelajari keseluruhan isi Bab III konsep KUA yang


disampaikan oleh pemerintah daerah,
bahwa

KUA

adalah

dokumen

DPRD menyimpulkan

terpenting

dari

keseluruhan

rangkaian dokumen penyusunan R-APBD. Untuk memudahkan


penilaian isinya, DPRD menyampaikan saran penyempurnaan
sebagai berikut:
1.

Isi Bab III harus dibatasi dengan informasi tentang asumsi


yang

relevan

dengan

kebijakan

yang

akan

diambil

dan

program yang akan dilaksanakan, bukan asumsi yang terlalu


makro sehingga kehilangan relevansi dengan kebijakan dan
program;
2.

Sehubungan dengan itu, DPRD menyarankan agar isi Bab III


dibatasi hanya pada asumsi yang relevan;

3.

Secara substansial, isi Bab III dibagi menjadi dua bagian,


yakni:
a.

Asumsi APBN yang mempengaruhi


APBD:
1) Asumsi Kurs Mata Uang Asing;
2) Asumsi Inflasi;
3) Asumsi DAU;
4) Asumsi DAK.

Keempat

asumsi

tersebut

di

atas

harus

mampu

memperlihatkan pengaruhnya terhadap APBD Kabupaten .......


b.

Asumsi Perekonomian Daerah:


1)

Asumsi Alokasi Gaji PNS dan DPRD;

2)

Asumsi Honorarium Tenaga PNS;

3)

Asumsi Honorarium Tenaga Honorer;

4)

Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Daerah;

5)

Asumsi Peningkatan Investasi.

D. Setelah menguraikan isi Bab II dan Bab III dalam bentuk matriks
yang didukung oleh data dan statistik yang relevan, maka isi Bab
IV menjadi mudah disusun secara lebih mudah dan terukur.
Selain itu, isi Bab IV KUA adalah penentu bagi isi PPAS secara
lebih

terukur

pula.

Namun

untuk

dapat

mencapai

tujuan

dimaksud, isi Bab IV KUA juga harus ditata ulang, dengan saran
perbaikan sebagai berikut:
1.

Kebijakan Pendapatan:
Gunakan Matriks Lampiran 4A.

2.

Kebijakan Belanja:
a. BTL (Belanja Pegawai):
Langkah pertama penentuan alokasi anggaran belanja
harus difokuskan pada penyediaan gaji PNS dan DPRD
sesuai

Permendagri

No.

37

tahun

2010,

dengan

menyiapkan accres sebanyak 2.5%. Selain itu, penentuan


alokasi gaji PNS dan DPRD juga harus didukung oleh data
dan statistik tentang jumlah pegawai, informasi tentang
jumlah PNS yang akan naik pangkat, naik gaji berkala dan
yang

akan

ditetapkan,

pensiun
maka

tahun

sisanya

2011.

Setelah

digunakan

alokasi

sebagai

gaji

alokasi

Belanja Langsung (BL). Gunakan matriks sebagaimana


Lampiran 4B. Disamping itu pada bagian ini juga dijelaskan
matriks alokasi Gaji Pimpinan dan Anggota DPRD, disajikan
dalam Lampiran 4C.
b. Belanja Langsung:
a)

Belanja

Tidak

Langsung/Honor.
Dalam logika anggaran, penetapan BTL didalam BL
adalah penyediaan anggaran untuk setiap SKPD dalam

rangka menunjang pelaksanaan kegiatan belanja modal.


Artinya BTL didalam BL digunakan sebagai anggaran
penunjang sedangkan BM didalam BL adalah anggaran
kegiatan utama. Dalam rangka rasionalisasi belanja
penunjang dengan belanja utama, DPRD menyarankan
agar jumlah BTL didalam BL tidak lebih dari 10% dari
total BL. Gunakan matriks sebagaimana Lampiran 4D.
b) Belanja Modal.
Belanja modal untuk setiap SKPD harus dilakukan
terutama

untuk

membiayai

pelaksanaan

kegiatan

pelayanan publik, dan sesuai dengan urusan yang


menjadi kewenangan untuk masing-masing SKPD, serta
didukung oleh data dan statistik kondisi sekarang,
target kinerja yang diharapkan dan arah kebijakan yang
akan

diambil.

konsistensi

Untuk
isi

memudahkan

rencana

kegiatan

DPRD

menilai

belanja

modal,

gunakan matriks sebagaimana Lampiran 4E.


3.Kebijakan Pembiayaan:
Bagian ini disusun untuk menjelaskan rencana penerimaan
dan belanja yang bersumber dari pos pembiyaan.

Untuk

memudahkan DPRD menilai konsistensi isi rencana kegiatan


belanja

modal,

DPRD

menyarankan

agar

kebijakan

ini

dilengkapi dengan infoirmasi terkini tentang Silpa Tahun 2009


yang dirinci dari setiap SKPD.
4.Kebijakan Asset:
Bagian ini disusun untuk menjelaskan kebijakan dan program
serta

kegiatan

yang

akan

dilaksanakan

dalam

rangka

penilaian asset (Asset Appraisal) serta penyusunan neraca


asset.

Catatan:
1. Bahan ini pertama sekali didalami sendiri oleh Bapak Ketua DPRD;
2. Bahan ini dituangkan dalam bentuk surat DPRD kepada Bupati/Walikota;
3. Draft surat ini dibahas bersama pimpinan DPRD (Ketua dan para wakil);
4. Langkah berikut adalah membahas surat ini antara pimpinan DPRD denga para
ketua fraksi;
5. Para ketua Fraksi membahas internal fraksi masing-masing untuk menyatukan
pikiran dan pendapat dengan prinsip satu fraksi satu pandangan;
6. Langkah berikut bahan ini dibahas dalam Banmus hingga tercapai kesepakatan
bulat antar fraksi;

7. Langka selanjutnya hasil Banmus dibawa ke paripurna dalam rangka persetujuan


bersama;
8. Hasil paripurna dituangkan kedalam surat DPRD kepada Bupati/Walikota;
9. Apabila KUA disempurnakan sesuai dengan isi surat ini maka PPAS akan berubah
dengan sendirinya;
10.Dalam konteks inilah tercapai keadaan dimana KUA adalah hasil penjabaran RPJM
kedalam rencana tahunan dan KUA menjadi penentu isi PPAS.

LAMPIRAN 1

PENJABARAN VISI DAN MISI KEDALAM KEBIJAKAN

KEBIJAKAN
PENDAPATAN

1.

2.

CIMAHI
MENUJU
KOTA MAJU
DAN
PRODUKTIF
TAHUN 2012

3.

4.

5.

Disesuaikan dengan
jumlah misi yang ada

Dimaksudkan menjadi Bab I - 1.3

BELANJA

PEMBIAYAAN

ASSET

LAMPIRAN 2

A. KONDISI GEOGRAFIS
NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1. Rawan Longsor

4 desa di tiga kecamatan rawan longsor karena


Meniadakan longsor di 2 desa pada 2 kecamatan.
berada di kawasan berkemiringan di atas 20 derajat
dan sering mengalai pembalakan liar.

1. Menangani masalah longsor di 2 desa dan 2


kecamatan melalui pelaksanaan program
pengembangan wilayah terpadu.
2. Membentuk Tim Lintas Sektoral sebagai
penanggung jawab pelaksanaan kegiatan.

2. Rawan Banjir

2 desa di tiga kecamatan rawan banjir karenalebih Meniadakan banjir di 1 desa dan mengurangi
rendah dari permukaan air sungai. .
dampak banjir pada desa yang berikutnya.

1. Menangani masalah banjir di kedua desa


melalui pelaksanaan program Penanggulangan
Banjir secara terpadu.
2. Membentuk Tim Lintas Sektoral sebagai
penanggung jawab pelaksanaan kegiatan.

3. Konflik Perbatasan

2 desa mengalami konflik akibat tidak jelasnya batas Meniadakan konflik antar desa akibat perebutan
antar desa sehingga masyarakat di kedua desa
sumber galian pasir.
dimaksud saling mengklaim DAS sebagai sumber
galian pasir.

1. Menyempurnakan Perda tentang Batas antar


Wilayah dan Desa;
2. Melakukan sosialisasi tentang Perda Batas Antar
Wilayah/Desa.

4. Desa Terisolir

Kondisi jalan menuju 2 desa sentra penghasil


produk perkebunan rusak berat sehingga
menyulitkan transportasi produksi ke pusat
pemasaran.

Meningkatkan kelancaran arus lalu lintas orang dan Melakukan peningkatan dan perbaikan ruas jalan
barang dari sentra produksi menuju pusat
dan jembatan;
pemasaran.

LAMPIRAN 2

B. KONDISI DEMOGRAFIS
NO

INDIKATOR

1. Laju Pertumbuhan
Penduduk

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

Laju pertumbuhan murni penduduk adalah 2.2% per Menurunkan laju pertumbuhan penduduk menyamai 1.
tahun atau 0.4 % di atas laju pertumbuhan rata-rata laju pertumbuhan nasional.
2.
nasional.
3.

ARAH KEBIJAKAN
5
Meningkatkan pelayanan KB;
Memberdayakan PKK dan tenaga penyuluh
lapangan;
Menyediakan kontrasepsi di kalangan pasangan
usia subur.

2. Angka Kematian Bumil Angka kematian bumil adalah 37 per 100.000


Menurunkan angka kematian bumil menjadi 32 per 1. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil;
kelahiran hidup. 70% diantaranya terjadi di kalangan 100.000 kelahiran hidup.
2. Menyediakan paket layanan kesehatan gratis
warga kurang mampu.
bagi pemeriksaan kehamilan dan persalinan
murah bagi keluarga kurang mampu.
3. Angka Kematian Bayi

Angka kematian bumil adalah 32 per 1000 kelahiran Menurunkan angka kematian bumil menjadi 27 per 1. Meningkatkan pelayanan kesehatan balita;
hidup. 75% diantaranya terjadi di kalangan warga
1000 kelahiran hidup.
2. Menyediakan paket layanan kesehatan gratis
kurang mampu.
bagi balita dari keluarga kurang mampu.

4. Angka Harapan Hidup


5.

LAMPIRAN 2

C. KONDISI INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1. Tingkat Capaian
Pendidikan
2. Tingkat Capaian
Kesehatan

3. Daya Beli Masyarakat

4.
5.

LAMPIRAN 2

D. PDRB (HARGA BERLAKU)

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1.

2.

3.

4.
5.

LAMPIRAN 2

E. PDRB (HARGA KONSTAN)

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1.

2.

3.

4.
5.

LAMPIRAN 2

F. WILAYAH STRATEGIS

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1.

2.

3.

4.
5.

LAMPIRAN 2

G. KAWASAN ANDALAN

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1.

2.

3.

4.
5.

LAMPIRAN 2

H. KONDISI INFRASTRUKTUR FISIK

NO

INDIKATOR

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

ARAH KEBIJAKAN
5

1.

2.

3.

4.
5.

LAMPIRAN 2

I. URUSAN PENDIDIKAN

NO

INDIKATOR

1.

Tenaga Pendidikan.
a. Guru PAUD;
b. Guru SD
c. Guru SMP
d. Guru SMU/SMK

2.

Gedung Sekolah

3.

Rumah Kepala
Sekolah

4.

Alat Peraga

5.

Mebeler Sekolah

6.

Dst, dst.. sesuai


urusan dan
kewenangan

KONDISI TAHUN 2010


(Narasi Negatif)
3

TARGET KINERJA TAHUN 2011


(Narasi Positif)
4

Gambarkan kondisi sekarang dalam statistik dan


data yang terukur

Gambarkan target kinerja secara terukur

Formulir ini ditambahkan untuk menampung informasi seluruh urusan SKPD.

KEBIJAKAN PENDAPATAN
A. PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

ARAH KEBIJAKAN
5
Rumuskan arah kebijakan yang terfokus, yang
mudah digunakan untuk memilih program dan
kegiatan turunannya.

LAMPIRAN 4A

NO

JENIS PENDAPATAN

PENDAPATAN TAHUN 2010)

1.

TARGET PENDAPATAN TAHUN 2011


4

KEBIJAKAN PENINGKATAN PENDAPATAN


5

Pajak Daerah;
1.
2.
3.
4.
.

2. Retribusi Daerah;
1.
2.
3.
4.
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
Yang Dipisahkan
1.
2.
3.
4.
4. Lain-lain PAD yang sah
1.
2.
3.
4.

LAMPIRAN 4B

KEBIJAKAN BELANJA
A. BELANJA TIDAK LANGSUNG (GAJI PNS)

NO

JUMLAH PNS

1.

GOLONGAN I

2.

GOLONGAN II

3.

GOLONGAN III

4.

GOLONGAN IV

ALOKASI GAJI PNS DALAM APBD


PERUBAHAN TA 2010
3

FAKTOR PENGUBAH

RENCANA ALOKASI GAJI TA 2011

Diisi dengan informasi tentang kemungkinan penambahan jumlah


PNS, pensiun, kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat, dan
promosi jabatan.

Dengan formulir ini, akan tercapai hal-hal sebagai berikut:


1. Alokasi gaji akan sama dengan kebutuhan;
2. Kalau ada sisa gaji, maka jumlahnya akan terbatas dan dikembalikan ke kas daerah;
3. Bila sisa gaji akan digunakan untuk keperluan lain, Pemda wajib membahasnya bersama DPRD;
4. Tidak dibenarkan untuk menggunakan sisa gaji untuk keperluan lain tanpa izin DPRD.

LAMPIRAN 4C

KEBIJAKAN BELANJA
B. BELANJA TIDAK LANGSUNG (GAJI DPRD)
NO

JUMLAH

1.

PIMPINAN

2.

ANGGOTA

ALOKASI GAJI DPRD DALAM


APBD PERUBAHAN TA 2010
3

FAKTOR PENGUBAH

RENCANA ALOKASI GAJI TA 2011

Kolom ini diisi dengan informasi terkini tentang kebijakan yang


mungkin akan diterbitkan dan atau terkandung dalam Permendagri
37 Tahun 2010 menyangkut kebijakan gaji DPRD. Bila tidak ada
perubahan kebijakan, maka alokasinya disamakan dengan alokasi
tahun 2010..

LAMPIRAN 4D

KEBIJAKAN BELANJA
C. BELANJA TIDAK LANGSUNG (HONORARIUM PNS)
NO

JUMLAH PNS

ALOKASI HONOR PNS DALAM


APBD PERUBAHAN TA 2010

FAKTOR PENGUBAH

RENCANA ALOKASI GAJI TA 2011

1.

GOLONGAN I

2.

GOLONGAN II

3.

GOLONGAN III

4.

GOLONGAN IV

Diisi dengan informasi tentang perubahan kebijakan perolehan


tambahan dan honorarium PNS sesuai permendagri 37 tahun
2010

Catatan:
1. BTL (Honor) disiapkan bagi semua SKPD dalam rangka menunjang pelaksanaan Tupoksi dan program belanja modal;
2. Jumlahnya harus rasional dan terukur.

LAMPIRAN 4E

KEBIJAKAN BELANJA
D. BELANJA MODAL URUSAN PENDIDIKAN
NO

PROGRAM DAN KEGIATAN

LOKASI KEGIATAN

KELOMPOK SASARAN

PAGU INDIKATIF

1. Diisi dengan nomenklatur program dan kegiatan


sesuai dengan lampiran formulir AVII Permendagri
13 Tahun 2006. Pemilihan nomenklarur programn
dan kegiatan harus sesuai dengan arah kebijakan
sebagai mana tertuang didalam formulir 2 untuk
bidang pendidikan.

Jelaskan Kecamatan dan Desa lokasi pelaksanaan Jelaskan kelompok masyarakat yang menjadi
kegiatan untuk menghindarkan kemungkinan
sasaran kegiatan.
terdapatnya program tanpa informasi tentang
lokasi kegiatan

Ditentukan sesuai dengan


standar analisa biaya (SAB)
untuk menghindarkan
terjadinya Silpa yang
berlebihan.

2. Contoh:
Program tentang guru
3. Contoh:
Program tentang mebeler

4.
5.
6.

Catatan:
1. Formulir ini ditambahkan untuk menampung informasi seluruh urusan SKPD lainnya;
2. Pengisian formulir ini adalah kelanjutan pengisian formulir lampiran 2.

Isi Kolom ini akan


dijabarkan didalam PPAS