Anda di halaman 1dari 3

METRO,Manado- Disela-sela kunjungannya ke Sulut, Presiden RI Joko Widodo, meluangkan

waktu menerima aspirasi buruh yang disampaikan oleh Serikat Pekerja Nasional (SPN KSPI)
Sulut. Kami menyampaikan aspirasi soal nasib buruh bidang perikanan dan kelautan yang
berjumlah sekira 18 ribu orang. Dimana mereka sudah enam bulan tidak bekerja al;ias
dirumahkan pasca keluarnya regulasi moratorium Menteri Perikanan dan Kelautan bulan
November 2014 lalu, ungkap Tommy Sampelan selaku Ketua DPD SPN Sulut.
Lanjut Sampelan,dalam surat aspirasi tersebut ada dua tuntutan yang disampaikan. Pertama,
supaya Presiden Jokowi mencabut dan membatalkan Kepmen PK nomor 56, 57, 58 tahun 2014,
karena dinilai tidak pro investasi yang menyebabkan 47 unit pengelolaan ikan dan tujuh canning
tidak dapat beroperasi dengan baik. Hal ini menimbulkan dampak negative multiplier effect
ekonomi. Seperti angka pengangguran meningkat, daya beli menurun serta dapat memicu tindak
criminal. Tuntutan kedua, meminta kearifan Presiden dalam hal ini pemerintah pusat untuk
menggulirkan kebijakan program pemberdayaan dan recovery ekonomi bagi 18 ribu buruh dan
anak buah kapal. Mengingat hingga saat ini mereka tidak dapat membiayai kebutuhan hidup
keluarga dengan baik karena tak ada pendapatan tetap.
Dalam percakapan Pak Presiden menyampaikan bahwa sekembali ke Jakarta, beliau akan
melakukan koordinasi dengan menteri terkait untuk cari solusi secepatnya

Gubernur Pimpin Rapat Percepatan KEK di Bitung///

METRO,Manado- Tekad dan semangat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah
Kota Bitung untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bitung terus dimantapkan, Hal
ini terbukti dalam diskusi rapat yang digelar Sabtu (30/05) bertempat Rumah Dinas Walikota
Bitung dan dipimpin langsung Gubernur Sulawesi Utara Dr. S.H Sarundajang yang juga selaku
Ketua Dewan KEK Provinsi Sulut. Dalam rapat, Sarundajang bersama Walikota Bitung Hanny
Sondakh serta tim kerja KEK yakni sejumlah pejabat Provinsi Sulut dan Pejabat Pemkot Bitung
mengadakan pembahasan tentang percepatan serta berbagai kesiapan dan persyaratan tentang
pembangunan KEK, mulai dari segi luas area, reklamasi dan kedalaman laut serta pembebasan
lahan, pasokan listrik dan sebagainya. Berbagai kesiapan harus dimaksimalkan sebagai mana
mestinya, sebab KEK tak akan terwujud jika tindakan pemerintah daerah dan
stakeholder lainnya masih tidak serius dan terus menunda-nunda,sesuai arahan Presiden RI
Jokowi, kata Sarundajang. Mengingat sudah banyak investor yang melirik lahan KEK
Bitung,tentunya untuk mewujudkan percepatan KEK harus kita pacu sejak dini dan dimintakan
Pemprov dan Pemkot harus saling berkoordinasi dengan bekerja secara cepat dan melengkapi
data-data pendukung yang jadi persyaratan, terutama berbagai data harus detail dan bisa
melampirkan foto terbaru tentang lokasi KEK juga kawasan pelabuhan IHP serta keterangan

jelas lainnya kemudian nantinya akan ada tim nasional KEK yang akan meninjau serta
kunjungan investor kedepan, kata Sarundajang. Selain itu tim kerja dimintakan agar tak mainmain dalam hal ini, Untuk tim dan dinas terkait agar membuktikan keseriusannya dan melakukan
aksi di lapangan berdasarkan tupoksinya masing-masing, sehingga terjadi sinkronisasi kegiatan.
Marilah kita terus berkolaborasi dan terus berusaha sekuat tenaga menjadikan Bitung sebagai
KEK, ajaknya. Sementara, Walikota Bitung Hanny Sondakh menguraikan bahwa Pemkot sudah
siap dan sementara melakukan pengkajian dalam memenuhi dan melengkapi persyaratan dalam
percepatan KEK. Memang saat ini data pendukung tersebut sudah lengkap tinggal evaluasi lagi,
terutama pembebasan lahan dan segi teknis lainnya, jika hal ini telah teratasi maka tahapan
pembangunan segera dimulai. kata Sondakh. Usai rapat, Gubernur bersama rombongan pejabat
Provinsi Sulut, didampingi Hanny Sondakh serta Wakil Walikota Bitung M.J Lomban, Sekretaris
Kota Bitung Drs, Edison Huming, MSI juga sejumlah Pejabat Pemkot Bitung, melakukan
pemantauan lapangan dititik area KEK guna meneliti kedalaman laut dan area reklamasi.(35)

Mendagri: SHS Adalah Kakak Saya!///

METRO,Manado Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo,


pada pertemuan dengan Gubernur, Bupati, Walikota se- Sulut di Graha
Bumi Beringin Manado, Jumat (29/05) lalu, mengungkapkan bahwa
figur Gubernur Sulut, DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) adalah
seorang sosok yang dianggapnya sebagai Kakak. Gubernur Sulut,
Sinyo Sarundajang adalah kakak saya, senior saya. Dia adalah seorang
Gubernur yang berhasil memimpin dan menjadikan Sulut sebagai satusatunya propinsi di Indonesia yang paling menjunjung kemajemukan,
ungkap Kumolo seraya mengatakan sudah selayaknya berbagai
pengalaman dan prestasi Sarundajang dijadikan panutan dan
pembelajaran, termasuk bagi siswa IPDN.
Disisi lain, Kumolo mengingatkan kepada seluruh Kepala Daerah di
tanah air, agar para lulusan IPDN harus diangkat menjadi Camat, bukan
bertugas di Pol PP apalagi hanya menjadi Ajudan. Alasan Mendagri
karena selama empat tahun mengikuti masa pendidikan mereka telah
dididik menjadi seorang pemimpin atau pamong praja yang berkualitas
dalam menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik (Good

Governance) mulai dari tingkat Desa/Kelurahan sampai ke level


pemerintahan pusat.
Karena mereka inilah yang akan disiapkan untuk menjadi agen-agen
perubahan Revolusi mental Indonseia di masa yang akan datang.
Kegusaran Mendagri tersebut bukan tanpa alasan, Ia melihat di beberapa
daerah di tanah air, ada camat yang tidak menguasai tata kelola
pemerintahan, sehingga tugas-tugas pelayanan di bidang pemerintahan
dan pelayanan kepada masyarakat banyak yang terbengkalai, karena
latar belakang pendidikannya bukan dari pemerintahan akan tetapi dari
dokter, insinyur dan lain sebagainya.
Namun demikian, Kumolo berharap camat yang bukan berlatar belakang
pendidikan pemerintahan, kepala daerah harus mengikut sertakan dalam
diklat atau bimbingan teknis di Badan Diklat yang ada di daerah.(35)