Anda di halaman 1dari 15

TEORI ORGANISASI MUM 2

BUDAYA, KREATIVITAS, DAN INOVASI

1. BUDAYA
1.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI BUDAYA ORGANISASI

Definisi
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang

dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari


organisasi-organisasi

lainnya.

Sistem

makna

bersama

ini

adalah

sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.


Budaya Organisasi Menurut Para Ahli
a. Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn
(2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai
yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku
dari

anggota

organisasi

itu

sendiri.

b. Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar


(2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan
bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau
yang

ada

pada

bagian-bagian

organisasi.

c. Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah suatu


persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
d. Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi adalah pola dasar
yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah,
membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan
mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan

kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang
benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi.
e. Menurut Cushway dan Lodge (GE : 2000), budaya organisasi
merupakan
pekerjaan

sistem
dilakukan

nilai

organisasi

dan

cara

dan

para

akan

mempengaruhi

karyawan

berperilaku.

cara
Dapat

disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya organisasi dalam


penelitian ini adalah sistem nilai organisasi yang dianut oleh anggota
organisasi, yang kemudian mempengaruhi cara bekerja dan berperilaku
dari para anggota organisasi.

Fungsi Budaya Organisasi

Budaya memiliki sejumlah fungsi dalam organisasi.


- Batas
Budaya berperan sebagai penentu batas-batas; artinya, budaya
menciptakan perbedaan atau yang membuat unik suatu organisasi
dan membedakannya dengan organisasi lainnya.
- Identitas
Budaya memuat rasa identitas suatu organisasi.
- Komitmen
Budaya memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang
lebih besar daripada kepentingan individu.
- Stabilitas
Budaya meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah
perekat sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara
menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan dan
dilakukan karyawan.
Fungsi budaya pada umumnya sukar dibedakan dengan fungsi
budaya kelompok atau budaya organisasi, karena budaya merupakan

gejala sosial. Menurut Ndraha (1997 : 21) ada beberapa fungsi budaya,
yaitu :
1.

Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat

2.

Sebagai pengikat suatu masyarakat

3.

Sebagai sumber

4.

Sebagai kekuatan penggerak

5.

Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah

6.

Sebagai pola perilaku

7.

Sebagai warisan

8.
9.

Sebagai pengganti formalisasi


Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan

10. Sebagai proses yang menjadikan bangsa kongruen dengan


negara sehingga terbentuk nation state
- Sedangkan menurut Robbins (1999:294) fungsi budaya didalam sebuah
organisasi adalah :
1. Budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas
2. Budaya berarti identitas bagi suatu anggota organisasi
3. Budaya mempermudah timbulnya komitmen
4. Budaya meningkatkan kemantapan sistem social
- Dan

menurut

pendapat Siagian

(1992:153) mencatat

lima

fungsi

penting budaya organisasi, yaitu:


1. Sebagai penentu batas-batas perilaku dalam arti menentukan
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang dipandang baik atau
tidak baik, menentukan yang benar dan yang salah.

2. Menumbuhkan jati diri suatu organisasi dan para anggotanya.


3. Menumbuhkan komitmen sepada kepentingan bersama di atas
kepentingan individual atau kelompok sendiri.
4. Sebagai tali pengikat bagi seluruh anggota organisasi
5. Sebagai alat pengendali perilaku para anggota organisasi yang
bersangkutan.
- Menurut

pendapat Beach

(Horrison,

1972) mencatat

tujuh

fungsi

penting budaya organisasi, yaitu :


1.

Menentukan hal penting yang mendasari organisasi ,standar

keberhasilan dan kegagalan harus bias diukur.


2. Menjelaskan bagaiman sumber-sumber organiosasi digunakan
dan untuk kepentingan apa.
3. Menciptakan apa organisasi dan anggotanya dapat mengharap
satu sama lain.
4. Membuat

beberapa

metode

pengontrolan

perilaku

dalam

keabsahan organisasi dan membuat yang lain tidak abash yaitu


menentukan dimana kekuasaan terletek dalam organisasi dan
bagaimana menggunakannya.

2.2 TIPOLOGI BUDAYA ORGANISASI


Pengertian

Tipologi

merupakan

suatu

pengelompokan

bahasa

berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya (Mallinson dan
Blake,1981:1-3).
Tipologi budaya organisasi bertujuan untuk menunjukkan aneka
budaya organisasi yang mungkin ada di realitas, Tipologi budaya
organisasi dapat diturunkan dari tipologi organisasi misalnya dengan

membagi tipe organisasi dengan membuat tabulasi silang antara jenis


kekuasaan dengan jenis keterlibatan individu di dalam organisasi.
Ada beberapa tipologi budaya organisasi. Kotter dan Heskett (1998)
mengkategorisasi jenis budaya organisasi menjadi tiga yaitu budaya kuat
dan budaya lemah; budaya yang memiliki kecocokan strategik; dan
budaya adaptif. Organisasi yang berbudaya kuat biasanya dapat dilihat
oleh orang luar sebagai memilih suatu gaya tertentu. Dalam budaya
organisasi yang kuat ini nilai-nilai yang dianut bersama itu dikonstruksi ke
dalam semacam pernyataan misi dan secara serius mendorong para
manajer untuk mengikutinya. Karena akar-akarnya sudah mendalam, gaya
dan nilai budaya yang kuat cenderung tidak banyak berubah walaupun
ada pergantian pimpinan.
Sejalan dengan itu, Robbins (1990) mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan budaya yang kuat adalah budaya di mana nilai-nilai inti
dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas. Makin
banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besar komitmen
mereka pada nilai-nilai itu, maka makin kuat pula budaya tersebut.
Sebaliknya organisasi yang berbudaya lemah, nilai-nilai yang dianut tidak
begitu kuat sehingga jatidiri organisasi tidak begitu menonjol dan
kemungkinan besar nilai-nilai yang dianut pun berubah setiap pergantian
pimpinan atau sesuai dengan kebijakan pimpinan yang baru.
Jenis budaya yang cocok secara strategik memiliki perspektif yang
menegaskan tidak ada resep umum untuk menyatakan seperti apa
hakikat budaya yang baik itu, hanya apabila cocok dengan konteksnya.
Konteks itu dapat berupa kondisi objektif dari organisasinya, segmen
usahanya yang dispesifikasi oleh strategi organisasi atau strategi
bisnisnya sendiri. Konsep kecocokan sangat bermanfaat khususnya dalam
menjelaskan perbedaanperbedaan kinerja jangka pendek dan menengah.
Esensi konsepnya mengatakan bahwa suatu budaya yang seragam tidak
akan berfungsi. Oleh karena itu, beberapa variasi dibutuhkan untuk
mencocokan tuntutan-tuntutan spesifik dari bisnis bisnis yang berbeda
itu.

Budaya adaptif didasari pemikiran bahwa organisasi merupakan


sistem terbuka dan dinamis yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh lingkungan. Untuk dapat meraih sukses dalam lingkungan yang
senantiasa berubah, organisasi harus tanggap terhadap kemungkinankemungkinan

yang

akan

terjadi,

dapat

membaca

kecenderungan-

kecenderungan penting dan melakukan penyesuaian secara cepat.


Budaya organisasi adaptif memungkinkan organisasi mampu menghadapi
setiap

perubahan

yang

terjadi

tanpa

harus

berbenturan

dengan

perubahan itu sendiri.


Selanjutnya, Luthans (1992) memaparkan karakteristik budaya
organisasi sebagai berikut:
a)

Peraturan-peraturan perilaku yang harus dipenuhi.

b)

Norma-norma

c)

Nilai-nilai yang dominan

d)

Filosofi

e)

Aturan-aturan

f)

Iklim organisasi

Semua

karakteristik

budaya

organisasi

tersebut

tidak

dapat

dipisahkan satu dengan yang lainnya, dalam arti bahwa unsur-unsur


tersebut

mencerminkan

budaya

yang

berlaku

dalam

suatu

jenis

organisasi, baik yang berorientasi pada pelayanan jasa maupun organisasi


yang menghasilkan produk barang.
Robbins (1990) mengemukakan 10 karakteristik budaya organisasi, yaitu:
a)

Inisiatif individu

b)

Toleransi terhadap resiko

c)

Pengarahan

d)

Integrasi

e)

Dukungan manajemen

f)

Pengawasan

g)

Identitas

h)

Sistem penghargaan

i)

Toleransi terhadap konflik

j)

Pola komunikasi

Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291),


ada empat tipe budaya organisasi :
1. Akademi
Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, memberi
mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengoperasikan mereka
dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai
karyawan

yang

lebih

cermat,

teliti,

dan

mendetail

dalam

menghadapi dan memecahkan suatu masalah.


2. Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang dan orientasi tim
dimana perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang
dapat menyesuaikan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan juga
menyukai karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang
tinggi serta mengutamakan kerja sama tim.
3. Tim bisbol
Perusahaan berorientasi bagi para pengambil resiko dan inovator,
perusahaan

juga

berorientasi

pada

hasil

yang

dicapai

oleh

karyawan, perusahaan juga lebih menyukai karyawan yang agresif.


Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat dari
segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan
insentif finansial yang sangat besar dan kebebasan besar bagi
mereka yang sangat berprestasi.
4. Benteng
Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang sudah
baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan

rapi dikategorikan dalam salah satu dari empat kategori karena


merek memiliki suatu paduan budaya atau karena perusahaan
berada dalam masa peralihan.
Inisiatif
dikehendaki

individual
dalam

adalah

perusahaan.

seberapa
Hal

ini

jauh
meliputi

inisiatif

seseorang

tanggung

jawab,

kebebasan dan independensi dari masing-masing anggota organisasi,


dalam

artian

seberapa

besar

seseorang

diberi

wewenang

dalam

melaksanakan tugasnya, seberapa berat tanggung jawab yang harus


dipikul sesuai dengan kewenangannya dan seberapa luas kebebasan
mengambil keputusan.
Toleransi terhadap risiko, menggambarkan seberapa jauh sumber
daya manusia didorong untuk lebih agresif, inovatif dan mau menghadapi
risiko dalam pekerjaannya. Pengarahan, hal ini berkenaan dengan
kejelasan sebuah organisasi dalam menentukan objek dan harapan
terhadap sumber daya manusia terhadap hasil kerjanya. Harapan tersebut
dapat dituangkan dalam bentuk kuantitas, kualitas dan waktu.
Integrasi adalah seberapa jauh keterkaitan dan kerja sama yang
ditekankan dalam melaksanakan tugas dari masing-masing unit di dalam
suatu organisasi dengan koordinasi yang baik. Dukungan manajemen,
dalam hal ini seberapa jauh para manajer memberikan komunikasi yang
jelas, bantuan, dan dukungan terhadap bawahannya dalam melaksanakan
tugasnya.
Pengawasan, meliputi peraturan-peraturan dan supervisi langsung
yang digunakan untuk melihat secara keseluruhan dari perilaku karyawan.
Identitas, menggambarkan pemahaman anggota organisasi yang loyal
kepada organisasi secara penuh dan seberapa jauh loyalitas karyawan
tersebut terhadap organisasi.
Sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi,
dalam arti pengalokasian reward (kenaikan gaji, promosi) berdasarkan
kriteria hasil kerja karyawan yang telah ditentukan. Toleransi terhadap
konflik, menggambarkan sejauhmana usaha untuk mendorong karyawan

agar bersikap kritis terhadap konflik yang terjadi. Karakteristik yang


terakhir adalah pola komunikasi, yang terbatas pada hierarki formal dari
setiap perusahaan.
Jenis kekuasaan dan keterlibatan individu dalam organisasi dibagi menjadi
:
1. Koersif
2. Remuneratif
3. Normatif

2.3 KREATIVITAS INDIVIDU DAN TIM


Kreatifitas dan inovasi merupakan dua hal yang berbeda tetapi
cenderung memiliki kesamaan. Kreatifitas adalah sebuah pemikiran untuk
menciptakan sesuatu yang baru sedangkan inovasi adalah melakukan hal
yang baru. Kreatifitas individu dan tim memiliki hubungan yang cukup
besar terhadap perkembangan organisasi, karena untuk melakukan
inovasi

sebuah

organisasi

membutuhkan

ide-ide

kreatif

dari

para

anggotanya dan diperlukan juga kerjasama dari semua anggota yang ada.
Sebuah inovasipun dapat diciptakan dari terjadinya proses bertukar
pikiran antar anggota organisasi.
Timbal

balik

yang

diberikan

oleh

organisasi

juga

harus

dipertimbangkan keberadannya, karena organisasi yang menghargai dan


memberikan reward pada anggotanya yang telah memberikan kontribusi
berupa kreatifitas dan inovasi terbaik, otomatis akan menstimulasi
anggota lain untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Hal ini juga akan
menghidupkan astmosfer kompetisi yang sehat dan memiliki tujuan untuk
membuat organisasi tersebut lebih maju dan berkembang.

2.4 PROSES INOVASI

Definisi Sistem Inovasi


1. Freeman (1987)
Sistem inovasi adalah jaringan lembaga di sektor publik dan swasta
yang

interaksinya

memprakarsai,

mengimpor

(mendatangkan),

memodifikasi dan mendifusikan teknologi-teknologi baru (Freeman dalam


Technology and Economic Performance: Lessons from Japan; Metcalfe
dalam Stoneman P. (ed), Handbook of the Economics of Innovation and
Technological Change.
2. Lundvall (1992)
Sistem inovasi merupakan elemen dan hubungan-hubungan yang
berinteraksi

dalam

menghasilkan,

mendifusikan

dan

menggunakan

pengetahuan yang baru dan bermanfaat secara ekonomi. Suatu sistem


nasional

yang

mencakup

elemen-elemen

dan

hubungan-hubungan

bertempat atau berakar di dalam suatu batas negara. Pada bagian lain ia
juga menyampaikan bahwa sistem inovasi merupakan suatu sistem sosial
di

mana

pembelajaran

(learning),

pencarian

(searching),

penggalian/eksplorasi (exploring) merupakan aktivitas


melibatkan

interaksi

pengetahuan

antara

individual

orang/masyarakat

ataupun

kolektif

dan

dan

sentral, yang

reproduksi

melalui

dari

pengingatan

(remembering).
3. Nelson dan Rosenberg (1993)
Sistem inovasi merupakan sehimpunan aktor yang secara bersama
memainkan

peran

penting

dalam

memengaruhi

kinerja

inovatif

(innovative performance).
4. Metcalfe (1995)
Sistem inovasi merupakan sistem yang menghimpun institusiinstitusi berbeda yang berkontribusi, secara bersama maupun individu,
dalam

pengembangan

menyediakan
membentuk
memengaruhi

kerangka
dan

dan
kerja

difusi

teknologi-teknologi

(framework)

mengimplementasikan

proses

inovasi.

Dengan

di

mana

baru

pemerintah

kebijakan-kebijakan
demikian,

dan

sistem

untuk
inovasi

merupakan suatu sistem dari lembaga-lembaga yang saling berkaitan


untuk

menciptakan,

menyimpan,

dan

mengalihkan

(mentransfer)

pengetahuan, keterampilan dan artifacts yang menentukan teknologi


baru.
5. OECD (1999)
Sistem inovasi merupakan himpunan lembaga-lembaga pasar dan
non-pasar di suatu negara yang memengaruhi arah dan kecepatan inovasi
dan difusi teknologi.
6. Edquist (2001)
Sistem inovasi merupakan keseluruhan faktor ekonomi, sosial,
politik,

organisasional

dan

faktor

lainnya

yang

memengaruhi

pengembangan, difusi dan penggunaan inovasi. Jadi, sistem inovasi pada


dasarnya menyangkut determinan dari inovasi.
7. Arnold, et al. (2001) dan Arnold, et al. (2003)
Menggunakan istilah sistem riset dan inovasi nasional (national
research and innovation system), yaitu keseluruhan aktor dan aktivitas
dalam ekonomi yang diperlukan bagi terjadinya inovasi industri dan
komersial dan membawa kepada pembangunan ekonomi.

1.

Tahapan-tahapan Sistem Inovasi


Tahap Pengetahuan
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan, yaitu

tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin
tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Ada tiga tipe pengetahuan dalam
tahap pengenalan inovasi, yaitu: kesadaran/pengetahuan mengenai
adanya inovasi, pengetahuan teknis dan pengetahuan prinsip. Tipe
yang pertama yakni pengetahuan kesadaran akan adanya inovasi yang
telah dibicarakan di sebelumnya. Tipe yang kedua, meliputi informasi
yang diperlukan mengenai cara pemakaian atau penggunaan suatu
informasi. Tipe pengetahuan yang ketiga adalah berkenaan dengan
prinsip-prinsip berfungsinya suatu informasi.

Berkaitan dengan pengetahuan tentang inovasi, ada generalisasi (prinsipprinsip umum) tentang orang yang lebih awal mengetahui tentang inovasi
:
a) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi pendidikannya
daripada yang akhir.
b) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi status sosial
ekonominya daripada yang akhir.
c) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap
media massa daripada yang akhir.
d) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap
komunikasi interpersonal daripada yang akhir.
e) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak kontak
dengan agen pembaharu daripada yang akhir.
f) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak berpartisipasi
dalam sistem sosial daripada yang akhir.
g) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih kosmopolitan
daripada yang akhir.
Perlu diketahui juga bahwa tahu tentang inovasi tidak sama dengan
melaksanakan atau menerapkan inovasi. Banyak orang yang tahu tetapi
tidak melaksanakan, dengan berbagai kemungkinan penyebabnya.
2.

Tahap Bujukan (Persuasi)

Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang


membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi.
Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang
kognitif, maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif
atau perasaan. Seseorang tidak dapat menyenangi inovasi sebelum ia
tahu lebih dulu tentang inovasi.
Dalam tahap persuasi ini lebih banyak keaktifan mental yang
memegang peran. Seseorang akan berusaha mengetahui lebih banyak
tentang inovasi, dan menafsirkan informasi yang diterimanya. Pada tahap
ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat
pribadinya. Di sinilah peranan karakteristik inovasi dalam mempengaruhi

proses keputusan inovasi (lihat Bagan 1. Model Tahap-Tahap Proses


Keputusan Inovasi).
Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran kemampuan
untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa datang.
Perlu ada kemampuan untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam
pemikiran

berdasarkan

kondisi

dan

situasi

yang

ada.

Untuk

mempermudah proses mental ini, perlu adanya gambaran yang jelas


tentang bagaimana pelaksanaan inovasi, jika mungkin sampai pada
konsekuensi inovasi.
3.

Tahap Keputusan

Tahap keputusan dari proses keputusan inovasi, berlangsung jika


seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan
menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti sepenuhnya
akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan menerapkan
inovasi.
Sering terjadi seseorang akan menerima inovasi setelah ia mencoba
lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba sebagian kecil lebih dahulu,
baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil
sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi tidak semua inovasi dapat
dicobadengan dipecah menjadi beberapa bagian. Inovasi yang dapat
dicoba bagian demi bagian akan lebih cepat diterima.
Dapat juga terjadi percobaan cukup dilakukan sekelompok orang,
dan yang lain cukup mempercayai dengan hasil percobaan temannya.
Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataannya pada setiap tahap dalam
proses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya
penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi
pada tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi, dan
sebagainya.
Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara: pengetahuan, persuasi
dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan. Satu dengan yang lain
saling berkaiatan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu dan dalam kondisi

tertentu

dapat

terjadi

urutan:

pengetahuan-keputusan

inovasi-baru

persuasi.
4.

Tahap Implementasi

Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila


seseorang
berlangsung

menerapkan
keaktifan

inovasi.
baik

Dalam

mental

tahap

maupun

implementasi

perbuatan.

ini

Keputusan

penerimaan gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktek. Pada


umumnya implementasi tentu mengikuti hasil keputusan inovasi. Tetapi
juga tejadi karena sesuatu hal sudah memutuskan menerima inovasi tidak
diikuti implementasi.
Biasanya hal ini terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak
tersedia.
Kapan tahap implementasi berakhir? Mungkin tahap ini berlangsung
dalam waktu yang sangat lama, tergantung dari keadaan inovasi itu
sendiri. Tetapi biasanya suatu tanda bahwa taraf implementasi inovasi
berakhir jika penerapan inovasi itu sudah melembaga atau sudah menjadi
hal-hal yang bersifat rutin. Sudah tidak menerapkan hal yang baru lagi.
Dalam

tahap

implementasi

dapat

terjadi

hal

yang

yang

disebut Reinvention (invensi kembali) yaitu penerapan inovasi dengan


mengadakan perubahan atau modifikasi. Jadi penerapan inovasi tetapi
tidak sesuai dengan aslinya. Reinvensi bukan berarti tentu hal yang tidak
baik, tetapi terjadinya re-invensi dapat merupakan kebijakan dalam
pelaksanaan atau penerapan inovasi, dengan mengingat kondisi dan
situasi yang ada.
Hal-hal yang memungkinkan terjadinya re-invensi antara lain:
inovasi yang sangat komplek dan sukar dimengerti, penerima inovasi
kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen
pembaharu, inovasi yang memungkinkan berbagai kemungkinan aplikasi,
apabila inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas,
kebanggaan akan inovasi yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu juga
dapat menimbulkan re-invensi.

5.

Tahap Konfirmasi

Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap


keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali
keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan
dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung
secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak
inovasi, yang berlangsung dalam waktu yang tak terbatas. Selama dalam
tahap konfirmasi seseorang berusaha menghindari terjadinya disonansi
atau paling tidak berusaha menguranginya.

DAFTAR PUSTAKA
http://zabidin1993.blogspot.com/2013/06/budaya-organisasi.html
http://miftakhulfurqon1.blogspot.com/2014/01/pengertian-budaya-danfungsi-budaya.html
http://herisllubers.blogspot.com/2013/06/pengertian-dan-fungsi-budayaorganisasi.html
http://miftakhulfurqon1.blogspot.com/2014/01/tipologi-budayaorganisasi.html
http://asriaditalarasati2.blogspot.com/2013/06/kreatifitas-individu-danteam-proses.html
http://indaharitonangfakultaspertanianunpad.blogspot.com/2013/06/definisi-sistem-inovasi-dantahapan.html