Anda di halaman 1dari 96

CIDERA SISTEM

MUSKULOSKELETAL
Dr. Wahyu Widodo, SpOT
Dr. Aryadi Kurniawan SpOT
Dr. Dohar Tobing SpOT
Dep. Bedah
Div. Orthopaedi & Traumatologi,
FKUI/RSCM

Kuliah MS FK Universitas Palankaraya , Septermber 2011

Sistem Muskuloskeletal
Manusia

Hidup adalah
BERGERAK

Sistem Muskuloskeletal Manusia

Tulang tulang
berhubungan satu
dengan lainnya
melalui sendi-sendi,
ligamen-ligamen atau
tulang rawan dan
otot-otot skeletal
yang melekat pada
tulang.

PENGETAHUAN YANG LENGKAP DAN


MENDALAM TENTANG
SISTEM MUSKULOSKELETAL YANG
NORMAL

PENGERTIAN YANG LEBIH BAIK


TENTANG GANGGUAN/PATOLOGI
MUSKULOSKELETAL

SISTEM
MUSKULOSKELETAL

Tulang :

T kompakta (cortical bone)


T spongiosa (cancellous bone)
Lempeng pertumbuhan

Sendi :
Tulang rawan sendi
Kapsula sendi
Ligamen

Otot
Tendon
Saraf perifer
Pembuluh darah

SISTEM
MUSKULOSKELETAL
Tulang :
Tulang rawan
(sendi, lempeng
pertumbuhan)
T kompakta
(cortical bone)
T spongiosa
(cancellous
bone)

SISTEM
MUSKULOSKELETAL
Sendi :
Tulang rawan
sendi
Kapsula
sendi
Ligamen

Kausa patologi MS secara


umum :
Kelainan kongenital /
perkembangan
Neoplasma / tumor
Trauma / cedera / ruda paksa
Infeksi
Metabolik
Degenerasi / proses penuaan alami

Gaya yang
mengakibatkan trauma
Cara kerja :
Direct/langsung
Indirect/tak langsung

Arahnya :
Aksial / kompresi
Shearing
Twisting / rotasi

Gaya yang
mengakibatkan trauma
Kapasitas enerji :
High energy
Low energy

Kecepatan gaya :
High speed
Low speed

TRAUMA MUSKULOSKELETAL
1. Jaringan Keras : Tulang, Tulang
rawan, Lempeng pertumbuhan
2. Jaringan Lunak : Kutis, Subkutis,
Otot, Ligamen, Tendo, Kapsul sendi,
Pembuluh darah, Nervus

FRAKTUR
TERPUTUSNYA KONTINUITAS
SECARA PARSIAL ATAU KOMPLIT
PERMUKAAN TULANG,
SENDI
LEMPENG EPIFISIS (EPIPHYSEAL
GROWTH PLATE)

ETIOLOGI FRAKTUR
Non PATOLOGIS
Single trauma
Repetitive stress
PATOLOGIS (tulang abnormal)
Infeksi
Keganasan
Osteoporosis (fraktur
insufisiensi )
Berhubungan dengan penyakit

DESKRIPSI FRAKTUR
KOMPLIT
Melibatkan kedua
korteks

TIDAK KOMPLIT
Melibatkan hanya
satu korteks

Fraktur Inkomplit
Hanya terkena
satu kortek
Periosteum
intak
Paediatric/anak
-anak
Greenstick #,
torus #

FRAKTUR KOMPLIT
SIMPEL
Hanya 1 garis fraktur
KOMPLEKS
Garis fraktur lebih dari 1
Kominutif
Segmental

PERGESERAN FRAGMEN FRAKTUR


o/ gaya dari trauma
o/ tarikan otot
o/ tarikan gravitasi

Aposisi
Angulasi
Rotasi
Perpendekan

FRAKTUR TERBUKA
Tergantung kulit dipermukaan
daerah fraktur
Tertutup (closed / simple) : kulit intak
Terbuka (open / compound) : kulit
terluka dan terdapat hubungan tulang
dg dunia luar

Fraktur terbuka
Klasifikasi Gustillo &
Anderson:
Derajat I
Derajat II
Derajat III :
III A
III B
III C

Derajat I
Luka kulit < 1 cm
Keadaan luka bersih
Low energy
trauma

Derajat II
Luka > 1 cm
Tidak terdapat
luka kulit yang
ekstensif
Moderate energy
trauma

Derajat III

High energy trauma


High velocity trauma
Luka tembak
Cedera kandang binatang ( farm
injury / kontaminasi )
Cedera neurovaskuler
Fraktur terbuka > 8 jam

Derajat III
A : Permukaan tulang yang fraktur
masih dapat tertutup o/ jaringan lunak
B:
permukaan fraktur tidak terdapat
jaringan lunak ( bone exposed )
selaput periosteal terkupas (stripped)
fraktur kominutif

C : cedera arteri yang apabila tidak


direkonstruksi akan mengancam
kelangsungan hidup (vitality)
ekstremitas

Stress Fracture / Fatigue


Fracture
Fraktur terjadi o/k stress berulang
Sering pada tibia/fibula, metatarsal
Sering pada : atlit, penari, new army
recruits

Fraktur Patologis
Stress normal yang berlaku pd
tulang patologis
Struktur tulang lemah o/k :
keropos tulang (osteoporosis)
tumor tulang
Penyakit Paget

OSTEOPOROSIS

HIP

SPINE

WR

Penyakit Paget

PENYEMBUHAN FRAKTUR

Hematoma
Inflamasi dan proliferasi sel
Pembentukan callus
Konsolidasi
Remodelling

TATALAKSANA PASIEN
DATANG DENGAN DUGAAN
FRAKTUR

PRINSIP 4R
Recognize
Reduce
Retain
Rehabilitation

To RECOGNIZE
..

ANAMNESA

Riwayat trauma
Mekanisme cidera
Kemungkinan cidera pada sistem organ lain
Riwayat pengobatan sebelumnya
Metode transportasi

PEMERIKSAAN FISIK
SURVEY PRIMER
SURVEY SEKUNDER
Look :

Edema
Deformitas
Luka terbuka
Warna kulit

Feel :
Nyeri tekan, kadang krepitasi
Neurovascular distal

PEMERIKSAAN FISIK
Move :
Functio Laesa

Gerakan sendi yang tidak


terlibat untuk menilai motorik
secara kasar

Pemeriksaan Fisik
Perhatikan tanda-tanda :
Syok hemoragis
Cedera organ lain : otak,
medula spinalis, visera
Faktor predisposisi : patologis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
X - ray
Menentukan
konfigurasi #
Menentukan
rencana tindakan
Melakukan follow
up
Data utk rekam
medis/Ilmiah
Bukti Hukum

X ray
2 sisi :
AP/Lat/Oblik

2 sendi
Pastikan ada/tidak fraktur pd sendi

2 ekstremitas
Pada anak2 sbg pembanding

2 waktu

Pencitraan (Imaging)
Bone scanning
CT scan (computerized
tomography)
MRI (Magnetic Resonance
Imaging)
MSCT (Multi Sliced CT)

BONE SCAN

CT SCAN

Reduksi
Reduce = reposisi
Reduksi
Tertutup : dengan manipulasi
Terbuka : dg pembedahan
reduksi a vue ( direct vision)

REDUKSI TERTUTUP
Dalam pembiusan umum
Relaksasi otot
REDUKSI TERBUKA
Bersamaan dengan debridemen
pada fraktur terbuka
Pada fraktur tertutup :
gagal reposisi tertutup
fraktur intraartikuler (permukaan sendi)
fraktur avulsi

Retain !
Imobilisasi/stabilisasi

Fiksasi interna dengan plate and


screw

Retain !
Imobilisasi/stabilisasi

Bidai
Traksi kulit
Balutan gips sirkuler
Fiksasi Internal
Fiksasi Eksternal

GIPS
= Plaster
= POP = Plaster of
Paris
Bidai
Balutan gips
sirkuler

Fraktur Terbuka
Kontaminasi +
Prinsip Tx : berantas (eradikasi)
infeksi !!!
Start dengan ABCD
Antibiotik iv sebagai terapeutik
bukan profilaksis
Profilaksis tetanus : Toxoid, ATS

Fraktur Terbuka
Penanganan Luka
Emergency
Tujuan Operasi : Debridement
Pembersihan luka dari kotoran
(debri), foreign body dengan irigasi
Eksisi jaringan nonvital
Reduksi terbuka fragmen fraktur

Dalam pembiusan umum

FRAKTUR TERBUKA

Cedera lempeng pertumbuhan


(epiphyseal growth plate/physis)

Pada anak
Bila tak ditangani dengan baik
gangguan pertumbuhan tulang
panjang deformitas kecacatan
permanen

CEDERA LEMPENG PERTUMBUHAN

KLASIFIKASI SALTER HARRIS

KOMPLIKASI FRAKTUR
Dini :
Cedera viseral
Cedera vaskuler
Sindroma kompartemen ( Volkmanns
ischemia)
Cedera saraf
Hemartrosis
Infeksi

Sindroma Kompartemen
Volkmann ischaemia
Perdarahan/edema tekanan
kompartemen osteofasial aliran
kapiler iskemi otot edema
iskemi (sirkulus visiosus)
nekrosis otot dan saraf dalam komp
tsb
Serabut otot digantikan jaringan
fibrosis yang inelastis kontraktur
(=Volkmann ischaemic contracture)
Balutan/ balutan gips terlalu
kencang

Sindroma Kompartemen
Volkmann ischaemia
Risiko tinggi : fraktur siku, lengan
bawah, tibia proksimal
Tanda 5 P :

Pain
Paraesthesia
Pallor
Paralisis
Pulselessness

Tx : fasiotomi

KOMPARTEMEN SINDROM
Risiko tinggi : fraktur elbow ,
antebrachii, tibia proksimal
5 P SIGN:

Pain
Paraesthesia
Pallor
Paralisis
Pulselessness

Tx : fasiotomi

Komplikasi Fraktur
Lanjut :

Delayed union
Non-union
Malunion
Kaku sendi
Hipotrofi/atrofi otot
Miositis osifikans
Avascular Necrosis
Algodystrophy (Sudecks atrophy)
Osteoarthritis

Delayed Union
Bila estimasi waktu union tercapai
namun belum union
Kausa :

cedera jaringan lunak berat


suplai darah inadekwat
infeksi
stabilisasi tidak adekwat
traksi berlebihan

TX : bone graft (tandur alih tulang)

Non-union
Daerah fraktur tertutup jar fibrosis
Terdapat gerak pada daerah fraktur
(pseudoarthrosis)
X ray : garis fraktur masih terlihat jelas
Kausa : gangguan stabilitas atau
nutrisi ( vaskuler )
Tipe :
Hipertrofik
Atrofik

Malunion
Fragmen fraktur menyatu dalam
posisi patologis (angulasi, rotasi,
perpendekan)

Myositis Ossificans
Ossifikasi heterotopik pada otot
Biasanya setelah cidera :
pasca dislokasi siku

Bengkak lokal, nyeri tekan, gerak sendi


terbatas
X ray > 2 mgg : tampak gambaran kalsifikasi
pd jar lunak (otot)
Tx :
eksisi massa tulang
indometasin
radiasi

Avascular Necrosis
Cidera (fraktur/dislokasi) iskemia
tulang nekrosis avaskular
Sering : kaput femur, bag prox os
skafoid, os lunatum, os talus

Fracture disease
Kelainan yang terjadi akibat imobilisasi
terlalu
lama pada Tx fraktur :
Hipotrofi/atrofi otot
Disuse osteoporosis
Kaku sendi
Udema kronis

Sprained ligament
Ligamen = pengikat sendi
Cedera ligamen pada daerah sendi
akibat gaya puntiran atau tarikan
tanpa adanya kerusakan struktural
ligamen
Contoh : sprain ankle
Klinis : sendi nyeri, bengkak (kadang
kebiruan)

Sprained ankle

Strained ligament
Cedera ligamen daerah sendi disertai
terputusnya sebagian serabut
ligamen tanpa mengganggu
stabilitas sendi
Klinis : sendi bengkak kebiruan,
nyeri, nyeri tekan

Ruptur ligamen
Terputusnya sebagian/seluruh
ligamen yang mengikat suatu sendi
Bisa disertai avulsi tulang tempat
ligamen melekat
Biasanya pada sendi : lulut, ankle,
jari tangan
Klinis : perdarahan dibawah kulit,
bengkak dan nyeri hebat sendi

Dislokasi
= cerai sendi total sehingga seluruh
permukaan sendi terpisah (kontak -)
Apabila tidak total = subluksasi
Klinis : sendi nyeri hebat, pasien
menolak menggerakkan sendi,
kontur sendi berubah (deformitas)

Dislokasi

Dislokasi posterior
kaput femur

Dislokasi

Dislok CMC 1

Dislok TMJ

Cedera sistim MS
Repetitive stress/injury

Tulang
Otot
Tendon
Saraf

Strained muscle

PRINSIP TERAPI
R est
: diistirahatkan/ imobilisasi
I ce
: kompres dengan es
(vasokonstriksi)
mengurangi proses inflamasi
C ompress : balut tekan untuk mencegah

E levasi

udema yang besar


: mengurangi udema

Strained Muscle

Tendon
Tendonitis : inflamasi pada tendon
sheath
Contoh :
tendonitis achilles (heel cord )
tendonitis supraspinnatus
dll

Terapi :
- NSAID
- Injeksi

- Istirahat
- Operasi

Ruptur spontan tendo


achilles

Ruptur tendo bisep kaput


longum

Ruptur Tendo
Terapi :
Repair Tendon
Fisioterapi

Cidera Saraf
Cidera Langsung : Trauma tajam
maupun tumpul/traksi
Komplikasi : Malunion (distal radius,
condyllus medial humerus)
Klasifikasi Seddon : Neurophraxia,
axonometsis, neurometsis

Saraf
Terapi :
Observasi
Fisioterapi
Neurolisis, neuroraphy, graft
medikasi

Terimakasih