Anda di halaman 1dari 11

DAFTAR ISI

Daftar isi..............................................................................................................................1
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang...................................................................................................2
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan................................................................................................................2
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Demam...............................................................................................................3
2.2 Nyeri..................................................................................................................3
Bab III Pembahasan
3.1 Analgesik-antipiretik.........................................................................................5
3.2 Penggolongan Analgesik...................................................................................5
Bab IV Penutup
4.1 Kesimpulan........................................................................................................10
Daftar Pustaka .....................................................................................................................11

Analgesik-Antipiretik | 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Obat analgesik antipiretik merupakan obat yang yang sudah dikenal luas
seperti obat parasetamol. Obat obat ini banyak dijual sebagai kemasan tunggal
maupun kemasan kombinasi dengan bahan obat lain. Obat ini tergolong sebagai
obat bebas sehingga mudah ditemukan di apotek, toko obat, maupun di warung
warung. Karena mudah didapatkan resiko untuk terjadi penyalahgunaan obat ini
semakin besar.
Pada umumnya obat obat analgesic mempunyai efek antipiretik.
Penggunaan obat obat analgesic antipiretik ini mampu menghilangkan atau
meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada system susunan saraf pusat atau
bahkan hingga efek menurunkan kesadaran. Obat analgesic antipiretik ini tidak
menyebabkan efek ketagihan pada penggunanya.
Sangat sulit untuk megukur rasa nyeri, karena derajat nyeri yang dialami
seseorang tidak hanya bergantung pada stimulus dab persepsinya, tetapi juga pada
interpretasi yang bersangkutan. Penggunaak substansi analgesik antipiretik untuk
menghilangkan nyeri telah diketahui sejak masa Hippocrates. Analgesic adalah obat
yang menghilangkan rasa sakit. Antipiretik adalah obat yang mencegah atau
menghilangkan demam.
Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui apa itu obat
analgesic antipiretik. Sebagian besar dari mereka hanya mengetahui obat
digunakan untuk menyembuhkan penyakit, namun mereka belum mengetahui efek
samping dari obat tersebut terutama obat analgesic antipiretik. Oleh karena itu
penulis mencoba membahas tentang obat analgesic antipiretik dalam makalah ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apakah definisi dari analgesic antipiretik ?
1.2.2 Apa sajakah penggolongan penggolongan dari analgesic antipiretik ?
1.2.3 Apa sajakah contoh penyakit dan pengobatan yang menggunakan obat
obat analgesic antipiretik ?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk mengetahui obat-obat analgesik-antipiretik dan penggunaannya
1.3.2 Untuk mengetahui apa saja golongan - golongan dari analgesic antipiretik
1.3.3 Untuk mengetahui penyakit apa saja yang dapat disembuhkan menggunakan
obat analgesic - antipiretik

BAB II
Analgesik-Antipiretik | 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEMAM
Demam adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh diatas normal, yaitu diatas
38C. Pada prinsipnya demam dapat menguntungkan dan dapat pula merugikan. Pada
tingkat tertentu demam merupakan bagian dari pertahanan tubuh yang bermanfaat
karena timbul dan menetap sebagai respon terhadap suatu penyakit. Namun suhu
tubuh yang terlalu tinggi juga akan berbahaya. (Amarilla,2012)
Penyebab demam peningkatan suhu tubuh karena demam ditimbulkan oleh
beredarnya pirogen di dalam tubuh. Peningkatan pirogen ini bisa disebabkan karena
infeksi maupun non infeksi. Diantara kedua penyebab tersebut, demam lebih sering
disebabkan oleh infeksi, baik infeksi bakteri ataupun virus. Pada anak-anak, demam
paling sering terjadi karena infeksi virus seperti ISPA sehingga tidak dapat diterapi
menggunakan antibiotik. Demam ringan akibat virus yang juga sering ditemukan pada
anak adalah demam yang disertai dengan batuk pilek (common colds) karena infeksi
rhinovirus dan enteritis yang diakibatkan infeksi rotavirus.Sedangkan penyebab non
infeksi antara lain karena alergi, tumbuh gigi, keganasan, autoimun, paparan panas
yang berlebihan (overhating), dehidrasi, dan lain-lain.
Demam bukan suatu penyakit melainkan hanya merupakan gejala dari suatu
penyakit. Demam dapat juga merupakan suatu gejala dari penyakit yang serius
seperti Demam Berdarah Dengue, demam tiphoid, dan lain-lain. Penelitian yang
dilakukan oleh Kazeem menyatakan bahwa mayoritas ibu menyatakan bahwa
penyebab demam adalah karena infeksi (43,7%), sakit gigi (33%), dan paparan sinar
matahari(27%).
Salah satu upaya yang biasanya dilakukan untuk mengatasi demam adalah
memberikan obat antipiretik. Antipiretik adalah obat-obat/zat-zat yang dapat
menurunkan suhu badan pada keadaan demam.(Depkes,1994)
2.2 NYERI
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah
alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi
bersama banyak peroses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan
diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak
orang dibanding suatu penyakit manapun.(Fahrun & Dony,2012)
Sebab-sebab rasa nyeri adalah rangsangan mekanis atau kimia (kalo atau
listrik) yang dapat menimbulkan karusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan
zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri (perantara). Mediator ini merangsang
reseptor nyeri yang terletak di ujung saraf bebas dari kulit, selaput lendir dan jaringan
lainnya; dari sisi rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang
penting adalah histamin, serotonin, plasmakinin-plasmakinin (antara lain bradikinin)
dan prostaglanin dan ion-ion kalium. Zat-zat ini dapat mengakibatkan reaksi radang,
kejang-kejang otot dan mengaktifkan reseptor nyeri. Prostaglanin dan plasmakinin
dapat berkhasiat vasodilator kuat, mengakibatkan randang dan udema.(Depkes,1994)
Analgesik-Antipiretik | 3

Berdasarkan proses terjadinya nyeri tersebut dapat dilawan dengan beberapa


cara antara lain:
a. Merintangi pembentukan ransangan dalam reseptor nyeri perifer (analgetika
perifer, anestesi lokal),
b. Merintangi penyaluran rasa nyeri daam saraf-saraf sensoris (anestesi lokal),
c. Memblokade atau menghambat rasa nyeri di pusat dalam SSS (analgetik narkotik,
anestesi umum).(Depkes,1994)
Nyeri dapat diterapi menggunakan analgesik. Analgesik adalah obat-obat/zatzat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Rasa nyeri termasuk demam merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi dan
memberi tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti infeksi
kuman, kejang-kejang otot, peradangan (rematik, encok) dan lain-lain.(Depkes, 1994)

BAB III
PEMBAHASAN
Analgesik-Antipiretik | 4

3.1 ANALGESIK-ANTIPIRETIK
Merupakan satu golongan obat yang digunakan dalam terapi untuk
mengatasi rasa nyeri ringan hingga sedang, demam, dan diantaranya juga untuk
mengatasi peradangan. Efek analgesiknya terhadap nyeri diduga bersifat perifer,
begitu pula dalam hal peradangan, juga bersifat efek perifer; sedangakan efeknya
terhadap demam berpengaruh pada hipotalamus, yaitu pusat pengatur suhu tubuh.
Efeknya terhadap peradangan diduga terjadi penghambatan pada sintesis prostagladin;
selain itu, prostaglandin juga dapat menurunkan suhu tubuh, dan penurunan suhu
demam diperkirakan adanya penghambatan sintesis prostaglandin pada hipotalamus.
Vasodilasi vaskulur perifer meningkatkan peredaran darah dan keringat, sehingga
panas pun hilang.(ISO vol.48, 2013-2014)
Efek analgesik-antipiretik tidak sekuat efek analgesik narkotika; sehingga
analgesik-antipiretik hanya cocok untuk terapi rasa nyeri ringan hngga sedang,
terutama untuk sakit kepala, sakit gigi, nyeri sendi, dan nyeri integumen lain; dapat
pula digunakan untuk rasa ringan hingga sedang pasca bersalin dan pasca bedah, dan
terapi beberapa rasa nyeri daerah viresa yang responsif terhadap obat itu. Namun, obat
ini tidak cocok dan berguna untuk terapi rasa nyeri yang parah sekalipun, kadangkadang masih efektif untuk beberapa pasien. Khususnya untuk terapi demam,
analgesik-antipiretik dapat dijadikan obat pilihan untuk mengatasi demam.(ISO
vol.48, 2013-2014)
3.2 PENGGOLONGAN ANALGESIK
3.2.1 Analgesik Narkotik
Disebut juga analgesik sentral. Memliki daya penghilang rasa nyeri yang
kuat sekali, mengurangi kesadaran (mengantuk) dan memberikan rasa nyaman
(euphoria). Dapat juga menyebabkan toleransi, kebiasaan (habituasi),
ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensi bila
diputuskan pengobatan(gejala putus obat).
Secara kimia, obat-obat ini dibagi dalam beberapa kelompok antara lain:
a. Alkaloida candu alamiah: morfin dan kodein
b. Sintesis : heroin, hidromorgon, dionin, hidrokodon
c. Pengganti morfin:
Petidin dan turunannya: fentanil, sulfentanil
Fenantren dan turunannya: levorfanol, pentazosin
Metadon dan turunannya: dekstromoramida, d-propoksifen, bezitramida,
dan lain-lain.
Pentazosin tidak termasuk Undang-undang narkotika,karena bahaya
habituasi dan adiksinya ringan.
Antagonis morfin
Adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek dari narkotika tanpa
mengurangi kerja analgetika dan terutama digunakan sebagai antidotum dari
Analgesik-Antipiretik | 5

keracunan (intoksikasi) obat-obat narkotika. Zat-zat ini juga berkhasiat


analgetik, tapi mirip dengan morfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi
psikotis. Obat-obat yang sering digunakan adalah nalorgin, nalokson dan juga
pentazosin(bekerja antagonis morfin agak lemah)

Efek-efek samping umum


Pada dosis biasa: gangguan lambung usus (mual, muntah-muntah,
obstipasi, efek saraf pusat(kegelisahan, rasa kantuk, euphoria), dan lainlain
Pada dosis tinggi: efek-efek yang lebih berbahaya seperti sulit bernafas,
tekanan darah turun, sirkulasi darah terganggu, koma dan pernafasan
terhenti.
Obat-obat tersendiri
1. Fentanil, adalah derivat petidin dengan khasiat 80 kali morfin. Mulai
ketja cepat sekali. Digunakan pada nyeri setelah operasi, biasanya
dikombinasikan dengan Droperidol.
2. Metadon; Amidon; Polamidon adalah zat sintetis yang khasiat
analgetiknya sama dengan morfin, tetapi kerjanya lebih lambat, tak
memiliki khasiat sebagai hipnotik, sehingga lebih cocok digunakan untuk
rasa nyeri yang kronis
3. Morfin, adalah salah satu alkaloida dari Papaver somniferum. Sifat
analgetikanya berdasarkan penekanan terhadap susunan saraf sentra
disertai perasaan nyaman, penghambatan pernafasan dan sembelit,
perasaan mual dan muntah-muntah, yang terpenting adalah menyebabkan
ketergantungan atau ketagihan.
4. Petidin; dolatin, merupakan zat sintesis yang secara kimia lebih
menyerupai atropin daripada morfin. Memiliki sifat spasmolitik,
sedangkan sifat menekan terhadap pusat batuknya sama dengan morfin.
5. Kodein, juga merupakan alkaloida dari Papaver somiferum, tetapi lebih
aman, sifat analgetiknya lebih kuat, efek sampingnya lebih sedikit dan
sifat ketergantungannya lebih lemah dibandingkan morfin. Dalam dosis
biasa menimbulkan depresi dan karena dapat menekan pusat batuk maka
banyak digunakan sebagai obat batuk.
6. Dihidromorfinon; dilaudid, adalah turunan morfin dengan khasiat
analgetiknya 5kali morfin, tetapi jangka waktu bekerjanya lebih pendek
dan khasiat biusnya lebih lemah.
7. Heroin; Diasetilmorfin, adalah zat semi sintesis dari turunan morfin, sifat
analgetiknya lebih kuat dan menimbulkan sifat ketergantungan yang
lebih hebat sekali, sehingga tidak dipakai lagi dalam penngobatan.
8. Pentazosin; Fortal, Wintrop, adalah zat sintesis dari morfin, memiliki
kerja antagonis agak lemah terhadap narkotik. Khasiat analgetiknya
sedang hingga kuat, antara kodein dan petidin.
9. Nalorfin; Alilnormorfin; adalah antagonis morfin, bekerja meniadakan
semua khasiat morfin dan analgetika. Khusus digunakan paha kasus
overdosis atau intoksikasi obat-obat analgetika narkotika.
Analgesik-Antipiretik | 6

10. Nalokson, derivat terbaru (1969), khasiat antagonis morfinnya lebih kuat,
tetapi kerjanya pendek . digunakan untuk mengobati pasien yang
ketagihan morfin atau heroin.
3.2.2 Analgesik Non Narkotik (analgatika perifer)
Obat obat ini dinamakan analgetika perifer karena tidak mempengaruhi
susunan saraf sentral, tidak menurunkan kesadaran dan tidak mengakibatkan
ketagihan. Analgetika non narkotika memiliki daya kerja :

Khasiat antipiretik : menurunkan suhu badan saat demam (analgesic


antipiretik). Khasiat berdasarkan rangsangabn terhadap pusat pengatur kalor
di hipotalamus, mengakibatkan vasodilatasi perifer di kulit dengan
bertambahnya pengeluaran kalor disertai keluarnya banyak keringat.
Misalnya: parasetamol, asetosal, aminofenazon dan lain lain.
Khasiat antiflogistik : anti radang atau anti inflamasi
Anti radang sama kuat dengan analgesic : digunakan sebagai anti nyeri
atau rematik. Contoh : asetosal, amidopirin, ibuprofen, dan asam
mefenaminat
Anti radangnya lebih kuat : fenil butazon, nifluminat, metiazinat, dan
lain lain
Penggolongan obat analgesic non narkotika :
1
2
3
4

Salisilat salisilat : asetosal, salisilamida, dan natrii salisilat


Derivat para amino penol : panacetin, asetaminofen
Derivat pirazolon : antipirin, aminofenazon, dipiron, fenilbutazon, dan
turunan turunannya
Derivat antranilat : glafenin, asam mefenaminat

Efek samping umum


1 Kerusakan lambung dan usus (golongan salisilat dan p-aminofenol)
2 Kerusakan darah seperti leucopenia, agranulositosis (golongan salisilat,
p-aminofenol, pirazolon, dan antranilat)
3 Kerusakan hati dan ginjal khususnya derivat p-aminofenol

Obat obat tersendiri


1 Asam asetil salisilat : dari semua senyawa salisilat, asetosal memiliki
khasiat analgetik, antipiretik, dan anti flogistik yang terkuat. Maka
banyak digunakan dalam segala macam preparat untuk melawan
demam, influenza, sakit kepala, otot, sendi, gigi, dan lainnya. Namun,
untuk nyeri di dalam (organ-organ) kurang efektif. Untuk rematik
penghambat prostaglandin ini masih sering dianggap sebagai obat
pilihan pertama, meskipun banyak obat rematik baru telah dikeluarkan.
Analgesik-Antipiretik | 7

Efek samping yang sering terjadi adalah iritasi mukosa lambung


dengan terjadinya borok lambung. Efek ini lumrah sekali pada zatzat yang berkhasiat anti radang dan dapat dikurangi dengan
penggunaan bersamaan dengan antasida atau dengan menggunakan
sebagai garam kalsium (Ascal) yang mudah larut atau pula sebagai
tablet enteric coated yang baru melarut (pecah) dalam usus.
Selain ini asetosal memperbanyak keluarnya keringat dan pada dosis
lebih tinggi dari normal dapat mengakibatkan tinnitus (suara
bergema di telinga), gangguan pada pernafasan (hiperventilasi), juga
menggigau.
- Natrium salisilat, berkhasiat lebih lemah dari asetosal maka
dosisinya harus lebih tinggi, efek sampingnya lebih kurang sama
dengan asetosal, terkecuali tidak merintangi tergumpalnya pelatpelat darah namun hanya pada dosis tinggi (rematik) dapat
memperpanjang waktu protombin.
- Salisilamida adalah turunan salisilat, yang juga lebih lemah dari
asetosal khasiat analgesiknya, lagi pula efeknya tak dapat
dipercaya. Lebih sering menggaggu pencernaan, pendarahan,
okult lebih ringan, di dinding usus mengalami FPE (First Pass
Effect) yang besar, maka dosisnya harus tinggi. Dalam tubuh
tidak dirombak menjadi salisialat.
2. Aminofenazon ( amidopirin )
Derivate pirazolon ini memiliki khasiat analgesic, antipiretik, dan anti
flogistik yang kuat sekali dan digunakan pada nyeri hebat (dengan
radang) yang tidak dapat dikendalikan oleh asetosal atau parasetamol.
3. Fenasetin (asetofenetidin)
Derivate asetanilida ini berkhasiat antipiretik dan analgetik dan
umumnya digunakan bersama asetosal dan kafein atau kodein, yang
memperkuat kerjanya.
- Parasetamol (asetaminofen) adalah metabolit fenasetin dengan
khasiat analgetik dan antipiretik yang sama sedikit lebih lemah dari
asetosal. Efek sampingya lebih ringan.

4.

Indometasin
Daya analgesic dan anti radang sama kuat dengan asetosal, sering
digunakan pada serangan encok akut. Efek sampingnya adalah gangguan
lambung-usus, perdarahan tersembunyi pada rectal, pusing, tremor, dan
lain-lain

5.

Ibuprofen
Analgesic anti flogistik dari kelompok propionate. Banyak digunakan
sebagai anti radang. Efek sampingnya lebih ringan dibandingkan dengan
asetosal atau indometasin.
Analgesik-Antipiretik | 8

6. Fenilbutazon
Derivate pirazolon ini mempunyai khasiat anti flogistik yang lebih kuat
daripada khasiat analgesiknya. Karena ini khususnya digunakan sebagai
obat rematik, seperti juga halnya denga oksifenilbutazon.
7. Glafenin
Zat ini adalah suatu derivat 4-aminokinolin yang terikat pada asam
antranilat. Khasiat analgesiknya lebih kurang sama dengan asetosal, tapi
tidak memiliki kerja antipiretik dan anti radang dosis normal.
Asam mefenaminat adalah derivate antranilat dengan khasiat analgesic
antipiretik dan anti flogistik yang cukup baik . efek samping yang sering
terjadi adalah gangguan lambunjg-usus, reaksi alergi kulit dan kerusakan
darah.
8. Piroksisam
Bekerja sebagai analgesic antipiretik dan anti radang yang digunaka
untuk melawan encok. Efek sampingnya adalah pendarahan dalam
lambung-usus.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Analgesik adalah obat-obat/zat-zat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran. Rasa nyeri termasuk demam merupakan suatu
gejala yang berfungsi melindungi dan memberi tanda bahaya tentang adanya
gangguan-gangguan di tubuh seperti infeksi kuman, kejang-kejang otot, peradangan
Analgesik-Antipiretik | 9

(rematik, encok) dan lain-lain. Sedangakan antipiretik adalah obat-obat/zat-zat yang


dapat menurunkan suhu badan pada keadaan demam.
2. Obat analgesik-antipiretik dibagi menjadi dua golongan yaitu analgesik narkotik
dan analgesik non narkotik.
3. Contoh obat dan penyakit dari penggunaan analgesik-antipiretik adalah:
a. Golongan narkotik
Fentanil sebagai obat nyeri sesudah operasi
Metadon digunakan untuk nyeri kronis
Kodein digunakan sebagai obat batuk
b. Golongan non narkotik
Piroksikam digunakan sebagai obat entok
Ibuprofen digunakan sebagai anti radang
Indometasin digunakan untuk pengobatan encok akut

DAFTAR PUSTAKA
ISO Indonesia Volume 48-2013 s/d 2014
Nur Rosyid, Fahrun dkk. 2010. Perbandingan Keefektifan Stimulasi Saraf Elektrik
Transkutan dan Terapi Es Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien
Simple Simple Fraktur di Ruang Premedikasi Instalasi Bedah Sentral RSU
HAJI Surabaya. Surabaya. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhamadiyah Surabaya
Oktadiana, Isma.2013.Makalah Antipiretik, Analgesik, dan Antiinflamasi. [online]
http://ismaoktadiana.blogspot.in/2013/12/makalah-antipiretik-analgesikdan_9402.html?m=1 (diakses pada 11 November 2014)
Analgesik-Antipiretik | 10

Riandita, Amarilla.2012. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu tentang


Demam dengan Pengelolaan Demam pada Anak. Semarang. Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro
Saputra, Arif.2014. Makalah Farmakologi-Obat Analgesik Antipiretik. [online]
http://arifsaputra96.blogspot.in/2014/01/makalah-farmakologi-obatanalgesik.html?m=1 (diakses pada 11 November 2014)
Subari, Drs.H.M dkk. 1994. Farmakologi Jilid II. Jakarta. Departemen Kesehatan
RI
Tambayong, dr.Jan. 2002. Farmakologi untuk Keperawatan. Jakarta. Widya Medika

Analgesik-Antipiretik | 11