Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kualitas air merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi suatu
perairan yang dijadikan sebagai tempat budidaya. Dengan kualitas air yang baik,
produktifitas dan kesuburan perairan akan lebih baik dan menjanjikan untuk
memperoleh hasil yang lebih baik pula. Kualitas air yang di perlukan yaitu adanya
pH yang cukup. Salah satu faktor kimia dari kualitas air tersebut adalah
Alkalinitas. Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan
yangmampu menetralisir keasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering
disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pembuffferan dari ion
bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air.
Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga
menurunkan keasaman dan menaikkan pH. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam
satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan kandungan kalsium
karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan
kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas
sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan
nilai alkalinitas diatas 20 ppm (Lesmana, 2005). Sebagian besar dari permukaan
bumi kita tertutup oleh air, air yang ada di permukaan bumi kita ini memiliki
kegunaan masing-masing. Baik itu untuk konsumsi maupun untuk budidaya.
Salah satu parameter kualitas air yang sangat berperan dalam usaha budidaya itu
sendiri yakni alkalinitas. Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan
tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Sama halnya dengan larutan
buffer, alkalinitas merupakan pertahanan air terhadap pengasaman. Alkalinitas
adalah hasil reaksi-reaksi terpisah dalam larutan hingga merupakan sebuah analisa
makro yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkalinitas dalam air disebabkan
oleh ion-ion karbonat (CO32- ), bikarbonat (HCO3- ), hidroksida (OH-) dan borat
(BO33-), fosfat (PO43-), dan sebagainya. Alkalinitas adalah salah satu dari
parameter kimia dalam perairan. Parameter ini dapat mempengaruhi keadaan dan
kualitas dari perairan itu sendiri. Melihat pentingnya peran alkalinitas dalam
perairan, maka di laksanakan praktikum untuk mengetahui kadar alkalinitas yang
baik dan buruk dalam perairan.
1.2 Tujuan Praktikum
a. Mengetahui cara menghitung nilai alkalinitas suatu perairan
b. mengetahui alkalinitas yang optimum untuk kegiatan budidaya
1

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Alkalinitas

Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan


jumlah ion karbonat dan bikarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah
pada perairan tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan
asam, atau biasa juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity)
terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung alkalinitas 20 ppm menunjukkan
bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga
kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga
dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas
alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO 3. Perairan dengan nilai alkalinitas
yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya
diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi.
Alkali ialah zat yang melepaskan ion hidroksil dalam air dan mempunyai pH lebih
besar dari 7, antara lain kapur (kalsium hidroksil) yang ditambahkan pada tanah
untuk menetralkan sifat asam yang berlebihan. (Afrianto, 1999)
Alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas
pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan
hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion
hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas
biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3). Air
dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin,
sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau
tingkat alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan
ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Kapasitas pem-buffer-an alam
dilengkapi dengan mekanisme pertahanan sedemikian rupa sehingga dapat
bertahan terhadap berbagai perubahan, begitu juga dengan pH air. Mekanisme
pertahanan pH terhadap berbagai perubahan dikenal dengan istilah Kapasitas
pem-buffer-an pH . (Bambang. 1985)
Perairan yang mengandung mineral karbonat, bikarbonat, borat, dan silikat
akan mempunyai pH diatas netral dan dapat mencegah terjadinya penurunan pH
secara drastic. Pada perairan tertutup, penambahan karbonat dari sel-sel kerang
atau dolomite dapat memperbaiki alkalinitas dan sistem buffer perairan itu.
Penambahan sodium bikarbdonat secara periodik juga akan menghasilkan hal

yang sama. Semakin tinggi konsentrasi ion H+, akan semakin rendah konsentrasi
ion OH- dan pH >7, maka perairan bersifat alkalis (basa) Kordi (2005).
Alkalinitas atau yang dikenal dengan total alkalinitas adalah konsentrasi
total unsur basa-basa yang terkandung dalam air dan biasannya dinyatakan dalam
mg/l atau setara dengan CaCO3. Ketersediaan ion basa bikarbonat (HCO3) dan
karbonat (CO32-) merupakan parameter total alkalinitas dalam air tambak. Unsurunsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH. Dalam
kondisi basa ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion
hidrogen yang bersifat asam, sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila
keadaan terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolisa menjadi ion
bikarbonat dan melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan
kembali netral. (Brotowidjoyo, 1999)
Lanjut dikatakan bahwa untuk tumbuh optimal, pklankton menghendaki
total alkalinitas sekitar 80-120 ppm. Tambak yang diberi pengapuran
alkalinitasnya mencapai 150-300 ppm. konsentrasi total alkalinitas sangat erat
hubungannya dengan konsentrasi total kesadahan air. Di lahan, umumnya total
alkalinitas mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan.
(Effendi,2003)
Kapasitas air menerima protein disebut alkalinitas. Air yang alkali atau
bersifat basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya mengandung padatan
terlarut yang tinggi. Alkalinitas merupakan faktor kapasitas untuk menetralkan
asam. Oleh karena kadang-kasang penambahan alkalinitas lebih banyak
dibutuhkan untuk mencegah supaya air itu tidak menjadi asam. (Kurniasih. 2008)
2.2

Teknik Pengapuran

Cara pengapuran tanah. Langkah pertama ialah mengetahui derajat


keasaman (pH), setelah tanah yang akan kita tanami diukur derajat keasamannya
ternyata hasilnya asam maka hal yag dilakukan adalah menentukan kebutuhan
kapur untuk tanah tersebut. Hal yang dilakukan ialah menentukan pH tanah yang
akan dibuat,misalnya pH 6,5-7. Umumnya tanah kering yag biasa ditanami
dibutuhkan 4 ton/ha dolomit atau kalsit.Untuk tanah gambut dibutuhkan sekitar 19
ton/ha.Memang angka pastinya belum ada. Namun,angka kebutuhan tersebut bisa
dijadikan patokan. Kuncinya ialah semakin asam tanahnya maka banyak
kebutuhan kapurnya. Sekarang bagaimana jika lahan nya kurang dari 1 ha.Tentu
saja kebutuhan kapurnya kurang dari dosis per hektar atau sesuai dengan
kebutuhaan lahan. Misalnya luas lahannya 1.000m^2 maka kebutuhan kapurnya
hanya 400 kg atau 1/10 dari dosis anjuran. Nah berikut ini tabel berapa ukuran pH
tanah dan dosis dolomit untuk menetralkan tanah tersebut.

Pengapuran untuk Meningkatkan pH Tanah. Perbaikan pH tanah bisa diakatakan


menyelesaikan 50% masalah kesuburan tanah. Salah satu cara meningkatkan pH
tanah dengan pengapuran menggunakan kapur pertanian (kaptan) atau dolomit
(Mustafa.2010).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengapuran :
A. Idealnya paling lambat pengapuran dilakukan 2 minggu sebelum tanam,
karena bahan kapur termasuk bahan yang lambat bereaksi dengan tanah.
B. Setelah pengapuran sebaiknya tanah dicangkul (dibajak) agar kapur bisa
merata masuk dekat zona perakaran.
C. Pengairan setelah pengapuran sangat diperlukan.
D. Peningkatan pH tidak bisa terjadi seketika, melainkan pelan dan bertahap.
E. Dosis kapur disesuaikan pH tanahnya, tetapi sebagai pedoman praktis
dosis berkisar 500 kg/Ha 2 ton/Ha.
F. Dolomit juga harus secara rutin digunakan pada tanah pH normal, karena
unsur Ca dan Mg pada dolomit sangat dibutuhkan
Menurut Mahyudin (2008), Pemberian kapur dilakukan dengan cara disebar
merata di permukaan tanah dasar kolam. setelah pengapuran selesai, tanah dasar
kolam dibalik dengan cangkul sehingga kapur bisa lebih masuk ke dalam lapisan
tanah dasar. pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan dengan cara
dinding kolam dan dasar terpal dikuas dengan kapur yang telah dicampuri air .
Menurut kordi (2010). Sebelum mengapurnya, kita harus mengeringkan
tambak terlebih dahulu. Tebarkan kapur secara merata di permukaan tambak
dengan jumlah yang disesuaikan dengan luas tambak dan tekstur tanah. Kapur
yang diperlukan adalah kapur pertanian atau kapur lain dengan takaran
disesuaikan dengan pH tanah.
Menurut Ratnawati (2008), Pengapuran yang dilakukan dbagi atas 2 tahap
yaitu pengapuran dasar dan pengapuran susulan. Pengapuran dasar dlakukan
4

setelah pengerngan tambak dengan dosis 1.000--1.875 kg/ha yang diteba secara
merata ke permukaan tanah dasar tambak,tergantung pH tanah dasar tambak.
Adapun cara-cara pengapuran tambak agar memperoleh hasil yang baik,
menurut murtidjo (1988) diantaranya:
1. Tanah dasar tambak setelah pengeringan digali dengan kedalaman sekitar
0,1 meter, selanjutnya dicampur dengan kapur dan diaduk
2. Pengadukan harus baik dan benar hingga merupakan adonan yang
homogen serta sempurna
3. Setelah adonan sempurna, bisa dikembalikan dan diratakan pada dasar
tambak
4. Pengapuran dilakukan setiap musim penebaran benur atau nener
Menurut Kholis (2010), Pemberian kapur dilakukan dengan cara disebar
merata dipermukaan tanah dasar kolam. setelah pengapuran selesai, tanah dasar
kolam dibalik dengan menggunakan cangkul sehingga kapur bisa lebih masuk ke
dalam lapisan tanah dasar, pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan
dengan cara dinding kolam dan terpal dikuas dengan kapur yang telah dicampur
air.
Cara Pengapuran Tambak yaitu periksa pH tanah pada beberapa titik yang
berbeda pada dasar tambak dengan menggunakan alat pengukur pH hingga sesuai
dengan yang diharapkan.
pH 4-5 digunakan kapur 500 - 1000 kg/ha.
pH 5-6 digunakan kapur
250 - 500 kg/ha.
pH > 6 digunakan dolomit 100 250 kg/ha.
Pemberian kapur harus disesuaikan dengan tekstur dan pH tanah. Kemudian
dolomit/kapur ditebarkan ke seluruh dasar dan pematang tambak dan tambak siap
diisi sampai ketinggian yang dinginkan (Saefulhakim,1985)
2.3

Hubungan Alkalinitas Dengan Kesuburan Perairan

Alkalinitas berperan dalam menentukan kemampuan air untuk mendukung


pertumbuhan alga dan kehidupan air lainnya, hal ini dikarenakan pengaruh system
buffer dari alkalinitas dan alkalinitas berfungsi sebagai reservoir untuk karbon
organic. Sehingga alkalinitas diukur sebagai faktor kesuburan air. Unsur-unsur
alkalinitas (karbonat dan bikarbonat) juga dapat bertindak sebagai buffer
(penyangga) pH. Dalam kondisi basa ion bikarbonat akan membentuk ion
karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang bersifat asam, sehingga keadaan
menjadi netral. Sebaliknya bila kedaan terlalu asam, ion karbonat dalam air akan
mengalami hidrolisa menjadi ion bikarbonat dan melepaskan hidrogen oksida
yang bersifat basa, sehingga kedaan menjadi netral (Kordi, 2007).
Di air yang beralkalinitas sedang hingga tinggi (kapasitas bufferingnya
bagus) dan level hardness yang serupa, pHnya netral atau agak basa (7.0 hingga
8.3) dan fluktuasinya tak besar. Jumlah CO 2 yang lebih tinggi (yakni asam
karbonat) atau asam-asam lainnya diperlukan untuk menurunkan pH karena lebih

basa untuk menetralisir atau buffer asam. Hubungan antara alkalinitas, pH


dan angka (faktor) yang terkait pH dan suhu air yang terukur dikalikan dengan
nilai alkalinitas yang terukur (mg/l sebagai CaCO3)( Syafilia. 1994).
Basa berkaitan dengan reaksi alkalinitas dengan menetralisir asam.
Karbonat dan bikarbonat dapat bereaksi baik dengan asam maupun basa dan
buffer (meminimalkan) perubahan pH. pH dari air berbuffer kuat biasanya
berfluktuasi antara 6,5 dan 9. di perairan dengan alkalinitas rendah, pH dapat
sangat rendah yang membahayakan (CO 2dan asam karbonat dari respirasi) atau
level tinggi yang membahayakan (fotosintesa yang cepat) Fitoplankton sangat
mikroskopis atau hampir mikroskopis merupakan tanaman air yang sangat
berpengaruh terhadap sebagian besar oksigen (fotosintesa) dan produktifitas
primer di kolam. Dengan menstabilkan pH pada atau diatas 6.5, alkalinitas
meningkatkan produktifitas fitoplankton (kesuburan kolam) dengan meningkatkan
ketersediaan nutrient (konsentrasi pospat terlarut) (Soemarno.2012)
Alkalinitas pada atau diatas 20 mg/l menahan CO 2 dan meningkatkan
konsentrasi yang tersedia untuk fotosintesa. Karena fitoplankton menggunakan
CO2 dalam fotosintesa, pH air kolam meningkat karena asam karbonat (yakni
CO2) terbuang. (Sualia.2010)
Karbonat yang dilepaskan yang dirubah dari bikarbonat oleh tanaman
hidup dapat mengakibatkan pH naik secara dramatis (diatas 9) selama periode
fotosintesa yang cepat oleh bloom fitoplankton (alga) yang padat. Naiknya pH
dapat terjadi di air beralkalinitas rendah (20-50 mg/l) atau di air yang alkalinitas
bicarbonatnya sedang hingga tinggi (75-200 mg/l) yang mempunyai hardness
kurang dari 25 mg/l. Alkalinitas bikarbonat yang tinggi di air lunak dihasilkan
dari sodium dan potassium carbonat yang lebih mudah larut daripada karbonat
calsium dan magnesium yang menyebabkan hardness. Jika terdapat calsium,
magnesium dan fotosintesa yang menghasilkan carbonat ketika pH lebih besar
dari 8.3 membentuk limestone. Kolam dengan alkalinitas dibawah 20 mg//l
biasanya tak mampu menopang blooming fitoplankton dan pH meningkat drastis
(Suriadi,2000)
Alkalinitas merupakan konsentrasi total dari unsur basa yang terkandung
dalam air dan biasa dinyatakan dalam mg/liter. Dikatakan bahwa alkalinitas dalam
air tawar sangat berperan penting karena alkalinitas tidak hanya berpengaruh
langsung terhadap pertumbuhan plankton, tapi juga mempengaruhi parameterparameter lainnya (Suyanto. 2009)
Konsentrasi total alkalinitas sangat erat hubungannya dengan konsentrasi
total ksadahan air. Di lahan, umumnya total alkalintas mempunyai konsentrasi
yang sama dengan total kesadahan air. Hal ini disebabkan karena kesadahan atau
yang disebut juga sebgai konsentrasi ion-ion logam bervalensi 2 seperti Ca 2+ dan
Mg2+ dipasok dalam jumlah yang sama dari lapisan tanah dengan HCO 3- dan
CO22- yang merupakan unsur pembentuk total alkalinitas (Rezqi.2009).

III. METODELOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Manajemen Kualitas Air tentang Alkalinitas ini dilaksanakan
pada hari Sabtu, 2 Mei 2015 pukul 18.00 WIB sampai dengan hari Jum'at, 15 Mei
2015 pukul 15.00 WIB di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu gelas
ukur, erlenmeyer, buret dan statif, pipet tetes, fenoptalin, H 2SO4 0,02 N dan
indikator BCgMr. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
akuarium, air keran, pengaduk, dolomit dan aerator.
3.3. Metode Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum Manajemen Kualitas Air tentang
Alkalinitas ini adalah sebagai berikut:

Sampel air disaring


Bening CO3 = 0
Tambahkan 2 tetes PP
ML = Titrasi
Tambahkan 2 tetes BCgMr

Titrasi dengan H2SO4

Catat Hasil Pengukuran

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Perhitungan Alkalinitas


Tabel 1. Hasil Perhitungan Alkalinitas
Kelompok
1
2
3
4
5

Hasil Perhitungan (mg/L)


2 Mei 2015
9 Mei 2015
15 Mei 2015
300
36
56
120
148
40
124
264
48
100
120
80
100
130
100

4.2. Pembahasan Praktikum


4.2.1. Pembahasan Hasil Alkalinitas
Dari hasil praktikum yang telah dilakuakan didapatkan hasilnya yang telah
dipaparkan diatas untuk tabel 1 tentang perhitungan alkalinitas yang didapatkan
hasilnya yaitu untuk kelompok 1 hasilnya 300 mg/L, 36 mg/L, dan 56 mg/L
hasilnya itu sesuai dengan literatur yang ada karena literatur menyatakan untuk
alkalinitas pada siang hari lebih rendah jadi 300 mg/L ke 36 mg/L itu sesuai
dengan literatur dan kemudian dari 36 mg/L ke 56 mg/L itu tidak sesuai dengan
literatur hal ini dikarenakan oleh berbagai faktor misalnya pengadukan
dolomitnya yang tidak merata dan lebih banyak waktu pengendapan dolomit dari
waktu pencampuran air dan dolomitnya. Dan mungkin juga didalam akuariumya
tidak ada proses fotosintesis yang menyebabkan CO2 tidak terambil dan alkalinitas
meningkat yang akan berdampak pada pH yang akan meningkat juga.
Untuk kelompok 2 hasilnya 120 mg/L, 148 mg/L, dan 40 mg/L hasilnya
itu sesuai dengan literatur yang ada karena literatur menyatakan untuk alkalinitas
pada siang hari lebih rendah jadi 120 mg/L ke 148 mg/L itu tidak sesuai dengan
literatur dan kemudian dari 148 mg/L ke 40 mg/L itu sesuai dengan literatur. Dan
mungkin juga didalam akuariumya CO2 terambil oleh mikroorganisme yang ada di
dlam akuarium dan alkalinitasrendah yang akan berdampak pada pH yang akan
rendah juga.
8

untuk kelompok 3 hasilnya 124 mg/L, 264 mg/L, dan 48 mg/L hasilnya itu
sesuai dengan literatur yang ada karena literatur menyatakan untuk alkalinitas
pada siang hari lebih rendah jadi 124 mg/L ke 264 mg/L itu tidak sesuai dengan
literatur dan kemudian dari 264 mg/L ke 48 mg/L itu tidak sesuai dengan literatur.
Dan mungkin juga didalam akuariumya tidak ada proses fotosintesis yang
menyebabkan CO2 tidak terambil dan alkalinitas rendah yang akan berdampak
pada pH yang akan rendah juga.
Untuk kelompok 4 hasilnya 100 mg/L, 120 mg/L, dan 80 mg/L hasilnya
itu sesuai dengan literatur yang ada karena literatur menyatakan untuk alkalinitas
pada siang hari lebih rendah jadi 100 mg/L ke 120 mg/L itu tidak sesuai dengan
literatur dan kemudian dari 120 mg/L ke 80 mg/L itu sesuai dengan literatur. Dan
mungkin juga didalam akuariumya CO2 terambil oleh mikroorganisme yang ada di
dlam akuarium dan alkalinitasrendah yang akan berdampak pada pH yang akan
rendah juga.
Untuk kelompok 5 hasilnya 100 mg/L, 130 mg/L, dan 100 mg/L hasilnya
itu sesuai dengan literatur yang ada karena literatur menyatakan untuk alkalinitas
pada siang hari lebih rendah jadi 100 mg/L ke 130 mg/L itu tidak sesuai dengan
literatur dan kemudian dari 130 mg/L ke 100 mg/L itu sesuai dengan literatur. Dan
mungkin juga didalam akuariumya CO2 terambil oleh mikroorganisme yang ada di
dlam akuarium dan alkalinitasrendah yang akan berdampak pada pH yang akan
rendah juga.
4.2.2. Penggunaan Kapur Dolomit
Penggunaan kapur dolomit pada praktikum ini adalah untuk melihat
fungsinya dalam proses alkalinitas yang diartikan sebagai kapasitas air unutk
menjaga (Buffer) terhadap fluktuasi pH. dengan menggunakan kapur dolomit pada
praktikum ini kita dapat mengetahui peranan dari kapur dolomit itu sendiri.
Dolomit meningkatkan alkalinitas air sehingga meningkatkan ketersediaan
karbondioksida untuk fotosintesis. Alkalinitas tinggi setelah dolomit juga buffer
air terhadap perubahan drastic pH umum dalam kolam eutrofik dengan air lunak.
PH pagi akan lebih tinggi setelah dolomit, namun, karena penyangga oleh
bikarbonat,Sore nilai pH tidak akan setinggi sebelum aplikasi kapur. Dolomit
meningkatkanTotal hardness dengan menambahkan alkali (kalsium dan
magnesium - PearlSpar-Aqua). Dengan perlakuan kapur, air dapat dibersihkan
dari noda humat yang bersal dari vegetatif, yang membatasi penetrasi cahaya.
Efek bersih dari perubahan dolomit kualitas air berikut ini untuk meningkatkan
produktivitas fitoplankton, yang pada gilirannya, menyebabkan peningkatanikan /
udang / produksi udang.
Sebenarnya, alkalinitas total adalah indikator yang lebih handal dari
kebutuhan untuk dolomit dari total hardness karena beberapa kolam mungkin
memiliki total kesadahan rendah dan kebasaan tinggi atau sebaliknya. Total
Kesadahan lebih mudah untuk mengukur, khususnya di lapangan, dari pada
alkalinitas.Banyak sekali, kebutuhan kapur yang pertama kali diusulkan pada saat
9

pemupukan anorganik gagal menghasilkan pertumbuhan plankton yang memadai.


Namun demikian, total hardness atau analisis alkalinitas harus dibuat dan
kemungkinan alasan lain untuk kegagalan pupuk untuk menghasilkan berkembang
plankton ditentukan sebelum menggunakan kapur.
4.2.3. Reaksi Yang Terjadi Alkalinitas Dan Dolomit
CaMg (CO3)2 + H2O + CO2 Ca2+ + Mg2+ + 2HCO3- + CO32Reaksi ini menunjukkan dolomit yang akan bersaing dengan fitoplankton
untuk CO2 dan mungkin mengurangi tingkat fotosintesis. Selain menghapus
semua CO2 bebas awalnya di air, CaCO3 bereaksi dengan CO2 dilepaskan dari
dekomposisi bahan organik dan dengan CO2 yang berdifusi ke dalam air. Hasil
akhirnya adalah bahwa beberapa hari setelah pengapuran, kesetimbangan
konsentrasi CO2 lebih tinggi dari sebelumnya. Ini terjadi karena dolomit mengikat
CO2 yang akan dinyatakan telah hilang ke atmosfer. Dolomit akan memberikan
jumlah kontribusi setara kation dan anion sehingga peningkatan kesadahan total
dan alkalinitas pengapuran berikut total akan sama. Mungkin menyimpulkan
bahwa jumlah dolomit yang diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total
kolam ke tingkat tertentu bisa langsung dihitung. Menggunakan logika tersebut,
jumlahd olomit diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total dari kolam 1
hektar x 1 meter yang mendalam dari 5 sampai 20 mg / liter akan menjadi 15 mg
untuk setiap liter air atau 15 gram untuk setiap meter kubik. Karena kolam berisi
10.000 m3, total 150 kg dolomit akan diperlukan.
Kapur memberikan dua tujuan - Koreksi pH air dan pH tanah dasar. Ketika
koreksi pH air adalah tujuannya, kapur dapat dibuat menjadi bubur dan baik
ditambahkan ke air masuk atau diterapkan di depan aerator. Jika pH koreksi dasar
tambak adalah kapur objektif perlu bertebaran seperti pakan. Perhatian perlu
dilaksanakan saat memilih kapur. Kapur pertanian yang paling tersedia di negara
kita adalah granular tidak bubuk dan memiliki jumlah yang berlebihan dari
kelembaban. Hal ini sangat merekomendasikan bahwa kapur harus mampu
melewati 100 persen melalui mesh 60. Karena kalsium merupakan bagian utama
dari tulang dan exuvia ikan dan udang / udang masing membutuhkan tingkat
asupan kalsium tinggi, terutama setelah molting pada udang / udang. Persyaratan
ini dipenuhi terutama oleh menyerap Ca tersedia dalam air laut.Kandungan
kalsium dari kutikula selama tahap inter-moult adalah antara 12% dan19% pada
udang dan kehilangan sekitar 23% dari total kalsium tubuh dengan molting.
Namun,jumlah mineral yang hilang dalam proses molting lebih tinggi dari ini
karena exuvia termasuk mineral lainnya dalam bentuk kalsium dan garam
magnesium.

10

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
Mahasiswa mengetahui cara perhitungan nilai alkalinitas suatu perairan
dengan menggunakan rumus AN1000.
Mengetahui alkalinitas yang optimal untuk kegiatan budidaya adalah 100300 ppm.
5.1. Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan demi kelancaran praktikum ke
depan, yaitu :
Praktikan harus lebih aktif dalam melakukan praktikum agar ilmu yang
didapat lebih banyak.
Adanya komunikasi dan interaksi yang baik antara asisten dosen dengan
praktikan sehingga terciptanya kondisi yang efektif dalam melakukan
praktikum.
Semoga praktikum yang akan datang lebih baik dari pada praktikum
seelumnya.

11

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, 1999. Pengendalian Alklinitas. Kanisius, Yogyakarta


Bambang. 1985. Alkalinitas dan Kesuburan Tanah. Direktorat Jenderal Perikanan.
Jakarta.
Brotowidjoyo, 1999. Pengantar Lingkungan Perairan dan Alkalinitas Di
Perairan. Liberty, Yogyakarta
Effendi,2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan
Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Kholis,2010. Alkalinitas Di Perairan. Bandung : Media Pustaka
Kordi.2005. Alkalinitas dan Kesuburan Tanah. Jakarta : Erlangga
Kordi,2007. Teknik Pengapuran. Jakarta : Erlangga
Kordi.2010. Alkalinitas. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
Kurniasih. 2008. Peranan pengapuran dan faktor disika kimia air terhadap
pertumbuhan dan sintasan lobster air tawar (Cherax sp.). Media akuakultur.
Vol3 (2).
Lesmana, 2005. Kimia Lingkungan dan Alkalinitas. Penerbit Andi, Yogyakarta
Mahyudin,2008. Teknik Pengapuran, Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Murtidjo,1988. Efek Pengapuran Terhadap Fosfor Tersedia Pada Tanah. Fakultas
Pertanian. IPB.
Mustafa.2010. Akalinitas di Perairan. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau.
Ratnawati. 2008. Teknik Pengapuran Pada Pematang Tambak Tanah Sulfat
Masam. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau.Maros

12

Rezqi.2009. Alkalinitas di dalam Budidaya. Program Studi Teknologi Dan


Manajemen Akuakultur Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan
Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Saefulhakim,1985. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta
Soemarno.2012. Kemasaman Tanah Dan Pengapuran. Balai Riset Perikanan
Budidaya Air Payau.
Sualia.2010. Pengertian Alkalinitas. Wetlands International Indonesia
Programme. Bogor.
Suriadi,2000. Alkalinitas Di Perairan, Tesis S-2, Program Studi Teknik Sipil,
Jurusan Ilmu-ilmu Teknik, Program Pascasarjana, UGM Jogjakarta.
Suyanto. 2009 Panduan Tentang Alkalinitas. Penebar Swadaya. Yogyakata.
Syafilia. 1994. Kimia Lingkungan dan Alkalinitas. Bandung : ITB

13