Anda di halaman 1dari 11

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

PEMALSUAN MADU DENGAN SAKAROSA


Sukmariah Maun
Bagian Kimia Kedokteran Fakultas kedokteran Universitas trisakti

ABSTRACT
Honey is a natural healthy food which is often given to babies and persons
who have Diabetic Mellitus as an illness. Its often falsified by adding sugar
(sucrose) in it, so its very dangerous for them to consume false honey. The
component of a real honey consist of fructose and glucose with a high
concentration, about 85 - 95 % from the total honey carbohydrate or more
than 60 % from the honey wight. Fructose concentration must higher then
glucose, so that a real honey will have a levorotary polarisation. According to
WHO regulation; sugar or sucrose concentration may not exceed 8 % from
the total weight of honey. Because its composition, which consist of many
kind of sugar, to analyse the concentration of sucrose, fructose and glucose,
needs a Hi Tech analysis method. So, for this research we use High
Performance Liquid Chromatography method. From 33 sample honey
analysed, 48 % has sucrose concentration > 8 %. Only 29 % has a total
fructose and glucose > 60 %. On the other hand 2 sample imported honey
fulfill the standard quality, that is sucrose concentration were not detected and
the total concentration of fructose and glucose > 60 %. (J Kedokter Trisakti
1999;18(1) : 9 - 17)

Key words : Honey, falsified, sucrose, standard


PENDAHULUAN
Madu adalah nektar atau eksudat
gula dari tanaman yang dikumpulkan
oleh lebah madu, diolah dan disimpan
dalam sarang lebah Apis Mellifera (6).
Komponen utama madu adalah fruktosa, glukosa, sedikit sakarosa, mineral, vitamin, dan berbagai enzim. Kandungan gizinya yang tinggi menyebabkan madu banyak dikonsumsi
secara rutin, baik oleh dewasa, anakanak, dan juga bayi.
Karena mempunyai nilai ekonomis
yang cukup tinggi serta mengandung
zat-zat yang unik, maka sering terjadi
pemalsuan madu. Madu dapat dipal9

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

sukan dengan berbagai cara yaitu


dengan
mencampur
komponenkomponen alami dalam madu secara
langsung yaitu fruktosa dan glukosa
dengan menambahkan pemanis buatan atau dengan memberikan gula
pasir (sakarosa) ke dalam madu,
sehingga berbahaya bila diberikan
pada bayi atau orang yang menderita
penyakit Diabetes Mellitus.
Di Indonesia kadar sakarosa dalam madu masih diperbolehkan hingga mencapai 10 % (1), tetapi di Jerman
hanya 5 % dan Switzerland 4 %.
Mengingat penting untuk menge-tahui

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

ada atau tidaknya pemalsuan madu


dengan gula pasir, telah dilakukan
penelitian untuk mengukur kadar gula
(sakarosa) dari 35 sampel madu.
Tujuan
penelitian
ini
untuk
mengetahui apakah madu buatan
Indonesia yang dijual dipasaran ada
yang palsu.

TINJAUAN PUSTAKA
Menurut FDA (USA) definisi dari
madu asli adalah Nektar atau eksudat
dari tanaman yang dikumpulkan,
diolah, dan disimpan dalam sarangnya
oleh lebah madu Apis Mellifera atau
Apis Dorsata. Madu mempunyai sifat
optis aktif yang memutar ke kiri
(levorotary) dan mengandung tidak
lebih dari 25 % kadar air, 25 % kadar
abu dan 8 % kadar sakarosa (sukrosa). Bila syarat-syarat tersebut tidak
dipenuhi, berarti tidak termasuk madu
asli (6).
Nektar sebagai sumber gula yang
dinamakan nektaris yang terletak
dekat daerah bunga atau bagian lain
dari struktur tanaman bagian atas
(ektra floral) (2). Karena adanya enzim
invertase dalam sarang lebah, gula
(sakarosa) dari nektar akan diubah
seluruhnya menjadi fruktosa dan
glukosa.
A. KOMPOSISI KIMIA MADU
Komposisi madu dipengaruhi
dua hal, yaitu komposisi nektar
yang dihasilkan dan berhasil
dikumpulkan oleh lebah serta faktor
eksternal seperti cuaca dan iklim (5).
Selain itu banyak tidaknya bunga,
derajat kematangan madu serta
cara
ekstraksinya
juga
turut
mempengaruhi komposisinya (6).
Komposisi kimia yang lengkap dari
madu (Tabel 1), memperlihatkan
bahwa kadar yang paling menonjol
adalah fruktosa dan glukosa, kadar
10

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

keduanya mencapai 85 - 95 % dari


total karbohidrat pada madu. Selain
karbohidrat, madu juga mengandung mineral seperti fosfor, kalium,
natrium Fe, kalsium, dan berbagai
trace mineral seperti sulfur, magnesium, mangan, silika dan tembaga. Adanya mineral-mineral ini
dinyatakan dalam total kadar abu.
Madu asli harus bersifat memutar
bidang polarisasi ke kiri (levoratory), berarti untuk madu asli kadar
fruktosanya harus lebih besar
daripada kadar glukosanya.
Zat penting lainnya pada madu
adalah vitamin terutama tiamin,
riboflavin, biotin, asam askorbat,
piridoksin, niacin, asam pantotenat,
dan macam-macam enzim seperti
amilase, glukosa oksidase, katalase, invertase, diastase, peroksidase, pospatase asam dan
enzim-enzim proteolitik. Semua
enzim ini berasal dari nektar, serbuk sari, dan sekresi kelenjar saliva
lebah(5). Madu juga mengandung
sejumlah kecil asam sperti asam
asetat, butirat, sitrat, format,
glukonat, laktat, folat, malat, piroglutamat, fosfat dan suksinat.
Keasaman ini tak terasa karena
ditutupi oleh kandungan gula yang
sangat besar, namun madu tetap
tergolong sebagai makanan yang
bersifat asam dengan pH antara
3,1 - 4,2 (6). Disamping itu juga
terdapat hidroksi metil furfural
(MHF). Hidroksi metil furfural
adalah senyawa hasil degradasi
gula oleh asam yang terbentuk
selama pemeraman dan dipercepat
oleh pemanasan. Kadar HMF ini
dapat menjadi indikator kerusakan
madu oleh pemanasan yang
berlebihan.
B. SIFAT-SIFAT MADU
Secara alamiah kadar air dari
madu tergantung dari sumber
nektar dan kondisi cuaca, biasanya

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

berada sekitar 15 - 25 %. Kadar


airnya akan mempengaruhi sifatsifat fisika madu seperti granulasi,
fermentasi, viskositas dan berat
jenis. Madu bersifat higroskopis
karena merupakan larutan gula
yang supersaturated (lewat jenuh).
Dalam udara yang lembab madu
dapat menyerap air sampai 33 %
beratnya. Bila kadar airnya meningkat, dapat terjadi fermentasi dan
berat jenisnya akan menurun.
Penyimpanan madu pada suhu
rendah ( 5 - 10oC) dapat mencegah
proses fermentasi. Namun pada
suhu ini madu dapat menjadi
berbutir-butir atau menggumpal.
Pada kadar air 17 % dengan suhu
17oC, maka panas jenis madu
adalah 0,54 dan berat jenisnya
1,4237.
C. KHASIAT MADU (6)
Madu merupakan makanan alami yang bernilai gizi tinggi sehingga
disebut sebagai Natural Healty
Food, diberikan baik pada orang
dewasa, anak-anak mapun bayi.
Mungkin karena madu mengandung besi dan asam folat yang baik
untuk penambah darah dan pertumbuhan bagi anak-anak mau-pun
bayi. Madu juga mengandung
berbagai enzim, gula sederhana
maupun mineral, sehingga dapat
dipakai sebagai obat untuk berbagai penyakit pencernaan, seperti
penyakit lambung, konstipasi dan
lain-lain. Dalam kosmetika dipakai
sebagai pelembab dan lulur kulit,
agar kulit menjadi halus dan sehat.
Selain itu madu juga mempunyai
daya antibakteri (antibiotika) karena
adanya suatu senyawa sejenis
lisozim yang disebut inhibin. Beberapa macam mikroba ternyata
sangat peka terhadap inhibin.

11

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

D. PEMALSUAN MADU (6)


Gula yang diproduksi oleh
tanaman dalam bentuk nektar bukanlah madu, kecuali bila gula-gula
tersebut telah diolah didalam perut
lebah. Madu lain yang dibuat tanpa
pertolongan lebah atau oleh gula
selain nektar dianggap madu palsu.
Cara-cara pembuatan madu palsu :
1. Mencampur
glukosa
dan
fruktosa (rasio sama) dengan
gula pasir, buah + zat aromatis
+ zat warna.
2. Mencampur 29,40 % gula pasir,
40,80 % gula invert (glukosa
dan fruktosa), 0,1 % garam
mineral dan 29,7 % air.
3. Dibuat dari sari berbagai buahbuahan
seperti
pumpkin
honey (sari buah labu), date
honey (sari buah kurma) dan
sebagainya.
4. Dengan cara menambahkan
sedikit madu asli pada madu
tiruan.
E. CARA MENDETEKSI MADU
PALSU
Selama persiapan dan penanganannya, madu hanya boleh
dipanaskan semiminal mungkin.
Untuk memeriksa derajat pemanasan madu, dapat dilakukan
analisa terhadap keaktifan enzim
diastase dan kadar 5-hidroksi metil
furfural (HMF). Bila keaktifan diastase menurun dan kadar HMF
meningkat sampai batas yang
diizinkan berarti ada pemanasan
berlebihan, sehingga kualitas madu
menurun. Bahkan bila keaktifan
diastase sampai 0, kemungkinan
madunya palsu atau tiruan. Demikian juga bila kadar HMF > 40
mg/kg madu kemungkinan adanya
pemalsuan dengan gula invert.
Madu asli akan memiliki sifat
optis aktif ke kiri, tapi bila ada
pemalsuan dengan cara penam-

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

bahan gula invert atau gula pasir,


maka akan memutar ke kanan.
Dengan memeriksa kadar abu dan
rasio Kalium : Natrium. Pada madu
murni, rasio K : Na = 4. Untuk
madu palsu rasionya antara 0,05 0,10.
Karena madu mengandung
bermacam-macam gula, maka
untuk menentukan kadar sakarosa,
glukosa atau fruktosanya saja
diperlukan suatu metoda analisis
yang tepat (3). Cara polarimetri,
volumetri dan cara tradisional lainnya hanya menghasilkan kadar
gula total. Karena itu dipakai
metoda Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi
(KCKT)
atau
High
Performance Liquid Chromatography (HPLC). Kromatografi secara

umum merupakan suatu metoda


pemisahan yang didasarkan atas
penyebaran cuplikan diantara dua
fasa, yaitu fasa diam dan fasa
gerak. Jika fasa gerak yang
digunakan adalah zat cair, maka
metodanya disebut Kromatografi
Cair. Yang dimaksud dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT) adalah bila fasa geraknya
dialirkan dengan cepat dengan
bantuan tekanan dan hasilnya
dideteksi dengan suatu alat.
Pemisahan
pada
KCKT
didasarkan pada beberapa mekanisme yaitu : adsorpsi, partisi,
penukar ion atau ekskresi komponen-komponen dari suatu campuran diantara fasa diam dan fasa
gerak.

F. RUMUS MOLEKUL DAN RUMUS BANGUN


1. Fruktosa (levulosa)
Rumus molekul : C6H12O6; B.M. : 180,16
Rumus bangun :
H
HO

H
O CH2OH
H HO
H
OH
OH
H

Nama kimia : D-fruktopiranosa


Rotasi jenis : -132o - -92o
2. Glukosa (dekstrosa)
Rumus molekul : - C6H12O6; B.M. : 180,16
- C6H12O6 . H2O; B.M. : 198,17
Rumus bangun :
CH2OH
H
O H
H
H
OH
OH
H
OH
Nama kimia : D(+)-glukopiranosa
Rotasi jenis : [ ]D +113o - +52o

12

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

3. Sakarosa (sukrosa)
Rumus molekul : C12H22O11; B.M. : 342
Rumus bangun :
CH2OH
H
O H HOCH2
H
H
OH
O
H
OH
Nama kimia : -D-glukopiranosida,
Rotasi jenis : +66,5o

O
H
H HO CH2OH
OH H

-D-fruktofuranosa

BAHAN DAN CARA KERJA


Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti dan Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Indonesia.
A. BAHAN
1. Akauades (Ikapharmindo Putramas)
2. Metanol p.a. (E. Merck)
3. Asetonitril p.a. (E. Merck)
4. Glukosa anhidrat (E. Merck)
5. Fruktosa (E. Merck)
6. Sakarosa (E. Merck)
7. Madu asli
8. Berbagai sampel madu.
B. ALAT
1. Kromatografi
Cair
Kinerja
Tinggi, terdiri
dari
kolom
Bondclone 10 CHO id 3,99 x
300 mm, pompa Shimadzu LC6 A, detektor Shimadzu RID
401, integrator Shimadzu CR4A.
2. Neraca analitik (Shimadzu)
3. Pengaduk ultrasonik (Brandon
3200)
4. Filter vakum (Sartorius)
C. CARA KERJA
1. Mengadakan sampling madu
Dilaksanakan proses sampling madu yang beredar di
13

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

pasar
Swalayan
(Jakarta)
berdasarkan merek. Secara
acak dipilih 33 merek madu
buatan Indonesia dan 2 merek
madu
buatan
luar
negeri
sebagai pembanding, dan 1
madu asli yang langsung diambil
dari peternakan untuk dijadikan
sampel penelitian ini.
2. Mencari kondisi percobaan
a. Mencari komposisi fasa gerak
yang optimum
Percobaan
dilakukan
dengan menyuntikkan 20 l
larutan campuran glukosa,
fruktosa, sakarosa ke dalam
kolom menggunakan fasa
gerak Asetonitril - Air dengan
berbagai perbandingan, yaitu
70 : 30, 80 : 20, 82 : 18 dan
85 : 15. Selanjutnya dipilih
kondisi yang memberikan
hasil optimum. Ternyata fasa
gerak yang sesuai untuk
pemisahan campuran glukosa, fruktosa, dan sakarosa
adalah Asetonitril - Air
dengan perbandingan 80 :
20.
b. Mencari waktu retensi dari
setiap komponen gula
Dibuat
masing-masing
larut-an standar dari glukosa
(10 mg/ml), fruktosa (10mg/

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

ml), sakarosa (5 mg/ml).


Kemudian setiap larutan disuntikkan 20 l ke kolom
KCKT dan dicatat waktu
retensi dari setiap komponen
gula.
3. Membuat kurva kalibrasi
Glukosa dipanaskan dalam
oven 105oC selama 16 jam dan
didinginkan dalam desikator, lalu
ditimbang dengan seksama.
Dibuat larutan standar dengan
konsentrasi 9,51 mg/ml; 8,00
mg/ml; 5,04 mg/ml; 2,04 mg/ml
dan 1,00 mg/ml, lalu masingmasing disuntikkan 20 l ke
dalam kolom. Dicatat luas puncak
yang
diperoleh
dan
digambarkan hubungannya dengan
konsentrasi
masingmasing. Prosedur di atas diulangi untuk fruktosa. Sebelum
ditimbang, fruktosa dipanaskan
dahulu dalam oven 70oC selama
4 jam. Dibuat larutan standar
dengan konsentrasi 9,52 mg/ml;
7,52 mg/ml; 5,01 mg/ml; 1,00
mg/ml dan 0,50 mg/ml. Untuk
sakarosa, dibuat larutan standar
dengan
konsentrasi
13,05
mg/ml; 10,08 mg/ml; 1,00 mg/ml;
0,4 mg/ml dan 0,16 mg/ml.
4. Mencari batas deteksi
Dibuat larutan standar glukosa dengan konsentrasi 0,20
mg/ml; 0,16 mg/ml; 0,08 mg/ml
dan 0,07 mg/ml, lalu disuntikkan
sebanyak 20 l pada KCKT
untuk mencari batas deteksi.
Diulangi untuk fruktosa dan
sakarosa dengan menggunakan
konsentrasi yang sama.
5. Membuat uji perolehan kembali
a. Ditimbang lebih kurang 50,0
mg madu asli sebagai standar lalu dimasukkan ke labu
14

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

takar 10 ml, ditambahkan sejumlah air lalu dikocok


dengan pengaduk ultrasonik
sekitar 30 detik sampai larut
dan diencerkan dengan air
sampai tanda batas, kemudian disuntikkan 20 l larutan
ini dan dicatat luas areanya.
b. Ditimbang lebih kurang 50,0
mg madu standar, dimasukkan ke labu takar 10 ml, lalu
ditambahkan glukosa dengan
konsentrasi 8,14 mg/ml; 5,04
mg/ml dan 1,00 mg/ml. Disuntikkan 20 l larutan ini dan
dicatat luas puncaknya.
c. Prosedur b diulangi untuk
fruktosa, ditambahkan fruktosa dengan konsentrasi
8,85 mg/ml; 5,08 mg/ml dan
0,05 mg/ml.
d. Prosedur b untuk sakarosa,
ditambahkan sakarosa dengan konsentrasi 9,98 mg/ml;
5,10 mg/ml dan 0,16 mg/ml.
6. Menetapkan kadar glukosa,
fruktosa dan sakarosa dalam
sampel madu.
Ditimbang saksama sampel
madu, dimasukkan ke dalam
labu takar 10 ml dan ditambahkan sejumlah air, dikocok
sekitar 30 detik dengan pengaduk ultrasonik sampai larut dan
homogen, lalu diencerkan sampai tanda batas. Jika terlihat
kekeruhan, larutan disaring dulu.
Disuntikkan 20 l larutan ke
dalam kolom KCKT dan dicatat
luas puncak setiap komponen
gula. Kadar dihitung berdasarkan kurva kalibrasi masingmasing komponen gula.

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

kadar sakarosanya, demikian rendahnya sehingga tak terdeteksi.

HASIL PENELITIAN DAN


PEMBAHASAN
I.
A. BATAS DETEKSI
Diperoleh batas deteksi untuk
glukosa, fruktosa dan sakarosa
yang sama, yaitu : 0,08 mg/ml.
B. PEROLEHAN KEMBALI
Hasil perolehan kembali ratarata :
Glukosa : 98,73 2,24 %
Fruktosa : 106,31 8,48 %
Sakarosa : 94,60 3,56 %
C. PENETAPAN KADAR SAMPEL
MADU
Sebanyak 36 sampel madu
dengan berbagai merek yang telah
dianalisis kadar glukosa, fruktosa
dan sakarosanya menunjukkan
hasil yang bervariasi. Sebanyak 12
sampel madu yang diperiksa ternyata memiliki kadar sakarosa lebih
dari 10 % b/b, yaitu berkisar antara
10,86 - 47,99 % b/b.
Hasil penetapan kadar glukosa,
fruktosa dan sakarosa dari 36
sampel madu dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tiga puluh enam merek madu
dalam dan luar negeri telah dipilih
secara acak untuk dijadikan sampel
dalam penelitian ini. Pengambilan
secara acak ini di-maksudkan
untuk mengetahui mutu berbagai
merek madu yang bere-dar di
pasar Swalayan berdasarkan kadar
glukosa, fruktosa terutama sakarosanya. Kandungan sakarosa
memang merupakan salah satu
cara untuk memeriksa kemurnian
madu. Madu asli yang dianalisis
menunjukkan kadar fruktosa dan
glukosa yang tinggi. Jumlah keduanya melebihi standar mutu untuk
gula pereduksi dalam madu, yaitu
minimal 60 % b/b. Demikian pula
15

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

Dari 33 sampel madu buatan


Indonesia yang diperiksa :
a. Ada 15 sampel (45,5 %) yang
mengandung kadar sakarosa
> 8 % (syarat WHO), dan 13
sampel
(39,4
%) yang
mengandung sakarosa > 10
% (syarat SNI). Hal ini
menunjukkan adanya pemalsuan.
b. Hanya ada 9 sampel (27,3 %)
yang
jumlah
kandungan
glukosa dan fruktosanya > 60
% (syarat madu asli).
II. Dari 2 sampel madu buatan luar
negeri, ternyata keduanya memenuhi standar mutu yaitu jumlah
kadar glukosa dan fruktosanya >
60 % serta kadar sakarosanya
rendah (tidak terdeteksi).
III. Bila dibandingkan dengan kadar
sakarin dari sampel-sampel madu
yang diperiksa Sally, T.S.
a. 9 sampel (25 %) mempunyai
kadar glukosa dan fruktosa
rendah dan kadar sakarosa >
8 %, juga masih ditambah
sakarin dengan kadar yang
tinggi.
b. 14 sampel (38,9 %) menunjukkan kadar glukosa, fruktosa dan sakarosa memenuhi
syarat madu asli, tidak
mengandung pemanis buatan
(sakarin).
c. 2 sampel (5,6 %) memenuhi
syarat kadar glukosa, fruktosa dan sakarosanya memenuhi syarat tapi masih diberi
tambahan sakarin.

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil penelitian
ternyata banyak madu buatan
Indonesia yang dipalsukan
dengan menambahkan sakarosa (gula pasir).
2. Berdasarkan kadar fruktosa
dan gulosanya yang rendah
pada berbagai merek madu
yang diperiksa menunjukkan
banyak madu dengan mutu
rendah
yang
beredar di
pasaran.
B. SARAN
Madu sering diberikan pada bayi
atau orang berpenyakit Diabetes
Mellitus, diperlukan peringatan
pada masyarakat agar berhati-hati
dalam memilih madu.

16

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Anonim. 1994. Standar Nasio-nal


Indonesia 01-3545-1994, Pusat
Standarisasi Industri. Departemen
Perindustrian In-donesia.
Gojmerac,
Walter
L.,
Bee,
Beekeeping,. 1976. Honey and
Pollination. Avi Publishing Company, Wesport Connecticut, 163 176.
Ongkowijaya Syully B., 1997.
Penetapan Kadar Dekstrosa dan
Sakarosa Dalam Madu Secara
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi,.
FMIPA - Universitas Indonesia.
Reynolds,
J.E.F.,
Martindale.
1982. The Extra Pharmaco-poeia,
28 th Edition. The Pharmaceutical
Press London, 50; 53 - 54.
White,
Jonathan W., 1977.
Specific Determination of Sucrose
in Heoney. JAOAC, 60 (3): 669 670.
Winarno, F.G. 1981.: Madu,
Teknologi, Khasiat dan Analisa.
Pusbangtepa, Bogor, Hal. 25-26;
29-37; 51-55.

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

Tabel 1
Hasil Penetapan Kadar Glukosa, Fruktosa, Sakarosa dan Sakarin
Dari Berbagai Merek Madu
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

Glukosa
(% b/b)
31,03
25,73
23,25
25,96
15,37
30,54
15,73
13,25
32,05
15,31
20,45
23,29
23,22
19,01
22,91
31,70
30,55
27,55
13,57
25,13
29,08
25,76
29,76
25,21
15,64
29,19
22,76
22,91
30,88
28,29
13,47
19,58
18,36
30,81
27,19
28,05

Fruktosa
(% b/b)
32,55
18,57
30,27
19,62
20,14
34,67
6,34
9,65
36,72
22,52
18,25
15,07
4,48
7,70
41,22
35,30
34,68
29,45
0,107
25,59
25,93
24,48
34,38
23,38
0,944
35,34
17,47
19,67
25,81
35,80
8,77
12,98
13,82
39,55
37,64
32,72

Keterangan : ttd = tidak terdeteksi


17

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

Sakarosa
(% b/b)
ttd
7,25
6,73
5,56
8,05
7,02
8,23
12,02
10,24
7,85
6,12
7,16
14,16
13,66
1,51
ttd
1,44
12,43
0,39
20,81
18,04
14,48
ttd
18,11
8,79
2,05
ttd
8,81
13,55
ttd
47,99
10,86
36,54
ttd
ttd
ttd

Sakarin
(% b/b)
ttd
ttd
ttd
15,55
23,92
ttd
43,24
25,82
ttd
ttd
5,10
4,65
12,78
12,92
ttd
ttd
ttd
26,93
ttd
12,49
17,07
ttd
7,29
37,20
72,47
ttd
6,17
9,10
6,29
25,08
5,67
12,78
7,82
38,60
ttd
ttd

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to

18

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

.d o

Maun

lic

k
.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c

F -X C h a n ge

F -X C h a n ge

c u -tr a c k

N
y
bu
to
lic

k
w

madusuk.doc

LAPORAN PENELITIAN

PEMALSUAN MADU
DENGAN SAKAROSA

OLEH:
Dra. Sukmariah Maun, Apt.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
1997

19

J Kedokter Trisakti, Januari-April 1999-Vol.18, No.1

.d o

Maun

.c

m
o

.d o

lic

to

bu

O
W
!

PD

O
W
!

PD

c u -tr a c k

.c