Anda di halaman 1dari 18

1.

SEMENTUM
Sementum
Sementum adalah jaringan ikat kalsifikasi yang menyelubungi dentin akar dan tempat
berinsersinya bundel serabut kolagen. Sementum dapat dianggap sebagai tulang perlekatan
dan merupakan satu-satunya jaringan gigi khusus dari jaringan periodontal. Hubungannya
dengan tepi email bervariasi, dapat terletak atau bersitumpang dengan email tetapi dapat juga
terpisah dari email oleh adanya sepotong kecil dentin yang terbuka. Ketebalan sementum
bervariasi, pada daerah sepertiga koronal hanya 16-60m dan sepertiga apikal 200m.
Seperti jaringan kalsifikasi lainnya, tulang dan dentin, sementum terdiri dari serabut
kolagen yang tertanam di dalam matriks organik yang terkalsifikasi. Kandungan organiknya,
yaitu hidroksiapatit, lebih kecil dari tulang, misalnya hanya sekitar 45% (tulang 65%, dentin
70%, email 97%).
Ada dua tipe sementum yaitu selular dan aselular. Sementum selular mengandung
sementosit pada lakuna seperti osteosit pada tulang, dan saling berhubungan satu sama lain
melalui anyaman kanalikuli. Sementum aselular membentuk lapisan permukaan yang tipis,
sering terbatas hanya pada bagian servikal akar. Tidak mengandung sementosit di dalam
substansinya, tetapi sementoblas terletak di permukaan sehingga istilah aselular sebenarnya
kuarng tepat diterapkan disini (Manson, 1993).
Dapust : Manson J. D dan B. M. Elley. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Jakarta :
Hipokrates.

Sementum adalah jaringan mengapur menyerupai tulang yang menutup akar gigi.
Sebagai yang telah diuraikan, sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang
berkembang menjadi sementoblas. Sementoblas menimbun suatu matrik, disebut
sementoid, yang mengalami pertambahan pengapuran dan menghasilkan dua jenis
sementum: aselular pertama-tama ditimbun pada dentin membentuk pertemuan
sementum-dentin, dan biasanya, menutupi sepertiga servikal dan sepertiga tengah akar.
Sementum selular biasanya ditumpuk pada sementum aselular pada sepertiga apical akar
dan bergantian dengan lapisan sementum aselular. Sementum selular ditumpuk pada
kecepatan yang lebih besar daripada sementum aselular dan dengan demikian menjebak
sementoblas di dalam matriks. Sel-sel yang terjebak ini disebut sementosit. Sementosit
terletak pada kripta sementum dan dikenal sebagai lacuna. Dari lacuna, kanal-kanal,
disebut kanalikuli, yang berisi perpanjangan protoplasmic sementosit dan berfungsi
sebagai jalan mengangkut nutrient ke sementosit, menjalin dengan kanalikuli lain dari
lakuna lain untuk membentuk suatu sistem yang dapat dipersamakan dengan sistem
Havers (haversian sistem) tulang. Oleh sebab sementum adalah avaskular, nutrisinya
berasal dari ligament periodontal. Karena lapisan incremental sementum ditumpuk,
ligamen periodontal dapat berpindah tempat lebih jauh, dan akibatnya beberapa
sementosit mungkin mati dan meninggalkan lakuna kosong (Grossman, 1995).
Ketebalan sementum menggambarkan salah satu fungsinya. Tebal sementum
sekitar 20 sampai 50 m pada hubungan sementum-email dan tebal sementum adalah
sekitar akar. Sementum yang lebih tebal pada apeks disebabkan karena penumpukannya
yang terus menerus selama kehidupan eruptif gigi untuk mempertahankan tingginya pada
bidang oklusal. Penumpukan sementum yang terus-menerus juga memberi bentuk pada
foramen apical dewasa. Foramen bila menjadi dewasa, menjadi konis, dengan aspek
kerucut, disebut diameter minor (konstriktur), menghadap pulpa dan dasar, disebut
diameter mayor, menghadap ligament periodontal. Penumpukan sementum yang terus
menerus menaikkan diameter mayor dan menghasilkan suatu deviasi rata-rata foramen
apical sebesar 0,2 sampai 0,5 mm dari pusat apeks akar. Diameter minor menentukan
penghentian apical instrumentasi dan obturasi saluran akar dan rata-rata terletak 0,5 mm
dari permukaan semental pada gigi-gigi muda dan 0,75 mm dari permukaan pada gigigigi dewasa. Meskipun hubungan sementum-sementum bertepatan dengan diameter

minor, sementum dapat tumbuh tidak rata dan dapat mengubah hubungan ini (Grossman,
1995).
Memperbaiki adalah fungsi lain sementum. Fraktur akar dan resorpsi biasanya
diperbaiki oleh sementum. Penutupan akar yang belum dewasa pada prosedur
apeksifikasi disempurnakan oleh deposisi sementum atau jaringan yang menyerupai
sementum. Sementum juga mempunyai fungsi protektif. Lebih resisten terhadap rasorpsi
daripada tulang. Mungkin disebabkan avaskularitasnya. Akibatnya, gerakan ortodontik
akar biasanya dapat dilakukan dengan kerusakan resorptif minimum. Fungsi-fungsi lain
adalah deposisi sementum yang terus menerus dan penyumbatan foramina aksesori dan
apical setelah perawatan saluran akar (Grossman, 1995).
Grossman, LI. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Edisi 11. 1995. EGC: Jakarta.

2. tulang alveolar
Tulang alveolar adalah bagian dari maxila dan mandibula yang membentuk dan mendukung
soket gigi (alveoli). Tulang alveolar terbentuk pada saat gigi erupsi untuk menyediakan
perlekatan tulang pada ligamen periodontal (Varma &. Nayak,2002).
Tulang alveolar dapat dibagi menjadi daerah yang terpisah dari basis anatomi, tetapi
fungsinya merupakan satu kesatuan dengan semua bagian yang saling berhubungan diantara
jaringan pendukung gigi (Carranza., 2002).
Tulang alveolar terdiri dari :
1. Keping kortikal eksternal yang dibentuk oleh tulang Haver's dan lamella tulang
compact (Carranza, 2002). Keping kortikal eksternal menutupi tulang alveolar dan
lebih tipis pada bagian facial (Zainal & Salmah, 1992). Keping kortikal eksternal
berjalan miring ke arah koronal untuk bergabung dengan tulang alveolar sejati dan
membentuk dinding alveolar dengan ketebalan sekitar 0,1 - 0,4 mm. Dinding alveolar

dilalui oleh pembuluh darah dan pembuluh lymph serta saraf yang masuk ke dalam
ruang periodontal melalui sejumlah kanal kecil (Kanal Volkmann) (Klaus dkk, 1989).
2. Dinding soket yang tipis pada bagian dalam tulang compact disebut tulang alveolar
sejati yang terlihat seperti lamina dura pada gambaran radiografis (Carranza, 2002).
3. Trabekula cancellous berada diantara lapisan tulang compact dan tulang alveolar
sejati. Septum interdental terdiri dari trabekula cancellous yang mendukung tulang
dan menutupi bagian dalam border tulang compact

komposisi
1. bahan anorganik 2/3 bagian
a)
b)
c)
d)

kalsium dan fosfat


hidroksil, karbonat,
sitrat, natrium Na+.magnesium Mg+, flour F+
kristal hidroksiapatit (65=70% dari struktur tulang)

2. Matriks organik 1/3 bagian


a.
b.
c.
d.

kolagen tope 1 (90%)


protein morfogenik tulang
posfoprotein
proteoglikans
fungsi

Tulang adalah cadangan kalsium bagi tubuh, dan tulang alveolar berperan serta dalam
memelihara keseimbangan kalsium dalam tubuh. Kalsium dilepas dari tulang alveolar untuk
memenuhi kebutuhan jaringan lainnya dan untuk memenuhi kadar kalsium dalam darah.

Tulang alveolar berfungsi sebagai pembentuk dan penyokong gigi. Tulang alveolar
merupakan penyangga gigi yang paing utama.

3. GINGIVA
Menurut Itjingningsih wangidjaja harshanur (1991), secara klinis dan mikroskopis gingiva
dapat dibagi menjadi :
1.
Marginal gingival / unattached gingival yaitu bagian dari free gingival ( bagian dari
gingival yang mengelilingi gigi dan tidak melekat pada gigi) yang terletak di labial / bukal
dan lingual / palatinal gigi, lebarnya kurang dari satu millimeter.
2.
Attached gingival, yaitu bagian dari gingival yang melekat erat dengan jaringan
sementum dan tulang alveolar. Gingiva attachment terletak mulai lekukan yang disebut free
gingival groove ( batas antara marginal gingival dan gingival attachment) sampai pada
mukosa alveolar. Lebarnya berkisar antara satu sampai Sembilan millimeter dan tergantung
pada letak gigi individu. Gingival attachment yang melekat pada cement disebut gingival
cemental, sedangkan gingival attachment yang melekat pada processus alveolaris disebut
gingival alveolar.
3.
Interdental papilla, yaitu bagian dari gingival yang mengisi ruang interdental sampai
di bawah titik kontak gigi, terdiri dari unattached dan attached gingival, bila ada diastema,
interdental papilla melekat erat dengan processus alveolaris disebut gingival alveolar.
Menurut J.D. Manson dan B.M. Eley(1993) dikatakan bahwa region interdental berperan
sangat penting karena merupaka daerah stagnasi bakteri yang paling resisten dan strukturnya
menyebabkan daeerah ini sangat peka, didaerah ini biasanya timbul lesi awal gingivitis.

Harsanur, Itjingningsih Wangidjaja, 1991. Anatomi Gigi, Jakarta : EGC.

4.INDEKS PENGATURAN KESEHATAN GIGI


Indeks pengukuran kesehatan gigi
Untuk mengethui prevalensi penyakit, keparahan dan hubungannya tergadap faktorfaktor lain seperti misalnya usia, kebersihan mulut, nutrisi dst., sudah diperkenalkan
berbagaimacam indeks khusu dalam upaya untuk memberikan ukurna yang objektif atau skor

bagi tanda-tanda khusu yang teridentifikasi sehingga dapat dilakukan perbandungan yang
dapat diandalkan.
Indeks kondisi gingiva ditentukan berdasarkan warna, perubahan kontur, perdarahan
segera pada saat penyondean, waktu perdarahan, pengukuran eksudat cairan gingiva, jumlah
sel darah putih pada cairan gingiva dan histologi gingiva. Beberapa tes memerlukan alat
khusus, sehingga harus menggunakan laboratorium, dilapangan hanya dapat dilakukan tes-tes
yang sederhana.
Beberapa indeks yang sering digunakan adalah, indeks inflamaasi gingiva (indeks
gingiva), indeks periodontal, indeks kebutuhan perawatan periodontal komunitas yang akan
memberikan skor baik atau buruk terhadapa hasil pemeriksaan.
Pemeriksaan ginggiva dan periodontal
A. Indeks Gingiva (GI)
Keparahan kondisi gingiva dinyatakan dalam skala 0 sampai 3:
0: gingiva normal
1: inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit oedema, tidak ada perdarahan
saat penyondean
2: inflamasi sedang, kemerahan oedema dan mengkilat, perdarahan saat penypndean
3: inflamasi parah, kemerahan yang nyata dan oedema, ulserasi. Kecenderungan
perdarah spontan
Unit gingiva mesial, bukal, sital, lingual diberi skor secara terpisah. Indeks ini
terutama sangat sensitif pada tahap gingivitis dini. Indek gingiva umumnya
reversibel karena dapat menjadi nol dengan redanya penyakit, namun untuk indeks
periodontal tidak dapat digunakan untuk mengukur penyakit dalam keadaan aktif
(reversibel).

B. Indeks-indeks Kerusakan Periodontal


1) Indeks Periodontal (PI)
Semua gigi diperiksa; skore yang digunakan adalah sebagai berikut:

0: Negatif; tidak ada inflamasi pada jaringan pendukung maupun gangguan fungsi
karena kerusakan jaringan pendukung.
1: Gingivitis ringan; terlihat daerah inflamasi ringan pada tepi batas gingiva, tetapi
daerah ini tidak sampai mengelilingi gigi.
2: Gingivitis: inflamasi mengelililngi gigi, tetapi tidak terlihat adanya kerusakan
daerah perlekatan gingiva.
6: Gingivitis denga poket: perlekatan epitelial rusak dan terlihat adanya ppoket
(tidak hanya merupakan pendalaman leher gingiva karena pembengkakan di
daerah gingiva bebas). Tidak terlihat adanya ganngguan fungsi mastikasi
normal; gigi melekat kuat di dalam soketnya dan tidak bergeser.
8: Kerusakan tahap lanjut disertai dengan hilangnya fungsi mastikasi; gigi goyang,
kadang-kadang bergeser, nyeri pada perkusi dengan alat logam, dan dapat
terdepresi ke dalam soktenya.
Peraturan: gunakan skor terrendah bila meragunkan
Indeks ini sudah banyak digunakan dengan sukses untuk kelompok populasi
yang besar. Keterbatasannya adalah bahwa skor untuk kerusakan periodontal
berjarak cukup besar satu dengan yang lain sehingga sulit untuk membedakan
tahap awal dari periodontitis kronis.
2) Indeks Peyakit Periodontal (PDI)
Indeks penyakit periodontal didesain terutama untuk menentukan luas pendalaman
poket dibawah pertautan semento-enamel. Skornya adalah:
0: sehat
1: Perubahan inflamasi ringan sampai sedang yang belum meluas ke sekitqaar
jaringan gigi
2: Perubahan inflamasi ringan sampai sedang yang sudah meluas ke sekitar
jaringan gigi
3: gingivitis yang parah, di tandai dengan kemerahan yang nyata, kecenderungan
perdarahn dan ulserasi
4: perluasan poket sedalam 3 mm apikal dari daerah pertautan semento-enamel
5: perluasan sedalam 3-6 mm
6: perluasan lebih dari 6 mm.

Yang digunakan untuk diperiksa adalah enam gigi yang mewakili yaitu: 6/14 atas,
41/6 bawah yang digunkan dalam pemeriksaan dan pengukuran.
3) Indeks Kebutuhan Perawatan Periodontal Komunitas
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang adekuat bagi komunitas tertentu,
seringkali perlu ditentukan kebutuhan perawatan. CPITN terbukti merupakan
sistem yang paling sering digunakan untuk tujuan ini dan menggunakan metode
berikut:
a) Sistem pemberian skor (menggunakan probe)
0 : tidak ada poket atau pendarahan gingiva pada saat penyondean
1 : perdarahan gingiva pada saat penyondean
2 : kalkulus supra- sub gingiva
3 : Poket sedalam 3,5-5,5 mm
4 : poket > 6 mm
b) Pembagian gigi menjadi enam sekstan
Gigi geligi di bagi menjadi enam segmen atau sekstan yaitu empat gigi
posterior dan dua gigi anterior dimana pada setiap segmen terdapat satu atau
beberapa gigi yang tidak perlu dicabut.
c) Penggunaan 10 gigi pada pemeriksaan epidemiologi
Biasanya dilakukan terhadap 10 gigi tertentu. Bila digunakan untuk perawatan
enam gigi indeks diperiksa pada anak-anak dan remaja sedangkan untuk
individu dewasa seua gigi diperiksa.
d) Rencana perawatan
Rencana perawatan ditentukan dengan berlandasakan pada:
0 : tidak perlu
1 : Perawatan di rumah
2 dan 3 : skeling dan perbaikan perarawatan gigi di rumah
4 : memerukan perawatan rumit, (skeling operasi dan perawatan di rumah).
Semua sistem pengukuran termasuk CPITN mempunyai keterbatasn. Semua indeks
ini mempunyai keterbatasan dasar sebagai berikut:

1. Kriteria umumnya subjektif dan terdapat variasi yang cukup besar pada penilainan
oleh pemeriksa dalam derajat inflamasi dan kedalaman poket atqau kerusakan
perlekatan
2. Sistem skor pada dasarnya ditentukan secara acak. Jadi sebenarnya gingivitis dan
periodontitis tidak dapat dibandingkan secara numerik
3. Walaupun gingivitis mengukur adanya inflamasi pada saat itu, pengukuran poket
merupakan cerminan dari penyakit di masa lalu. Bila kita menerima ide bahwa
kerusakan poket bersifat episodik, tentunya kedalaman poket tidak dapat memberikan
indikasi dari aktvitas penyakit pada saat pengukuran. Selain upaya mendefiniskan
kriteria dan laboratoris tentang aktivitas, sejauh ini belum ada pemeriksaan yang dapat
memberikan pedoman yang dapat diandalkan tentang aktivitas

Pemeriksaan kebersihan mulut


Indeks status kebersihan mulut yang sering digunakan adalah indeks kebersihan mulut
dan indeks kebersihan plak.
a) Indeks kebersihan mulut yang di sederhanakan (OHI-S)
Merupakan indeks gabungan yang menentukan skor debris dan deposit kalkulus
baik untuk semua atai hanya untuk permukaan gigi yang terpilih saja (simplifed).
Debris rongga mulut adalah benda asing yang lunak yang melekat pada gigi.
Debris rongga mulut dan kalkulus dapat memberi skor secara terpisah. Skor debris
rongga mulut adalah sebagai berikut:
0 : tidak ada debris atau stain
1 : debris lunak yang menutupi tidak lebih dari sepertiga permukaan gigi
2 : debris lunak yang menutupi lebih dari sepertiga permukaan gigi namun tidak
lebih dari dua pertiga permukaan gigi
3 : debris lunak menutupi lebih dari dua pertiga permukaan gigi
Skor kalkulus ditentukan berdasarkan pada kritera yang sama dengan
penambahan bahwa bercak kalkulus subgingiva diberi skor 2 dan garis
kalkulus yang besar secara kontinu diberi skor 3.
Skor debris dan kalkulus harus ditambah dan dibagi dengan jumlah permukaan
yang di periksa untuk menetukan skor kebersihan mulut.

b) Plaque indeks
0 : tidak ada plak
1: selapis tipis plak yang hanya dapat dilihat dengan bantuan sonde atau larutan
disklosing
2 : akumulasi plak yang cukuo banyak yang dapat dilihat dengan mata telanjang
3 : akumulasi yang tebal dari bahan lunak yang mengisi celah antara tepi gingiva
dan permukaan gigi. Regio interdental terisi dengan debris
Indeks ini sering digunakan bersama dengan indeks gingiva untuk menentukan
hubungan sebab akibat antara plak dan inflamasi gingiva. Variasi dari indeks ini
dapat menunjukkan pengukuran jumlah kalkulus dan fakor-faktor retensi plak
sperti misalnya tepi tumpatan yang belebihan.

Perawatan gusi yang sehat


Perawatan gusi dan gigi yang sehat dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya dengan menjaga kebersihan rongga mulut termasuk gusi dan gigi dengan cara
pembersihan mekanis secara teratur seperti sikat gigi teratur secara benar minimal 2 kali
sehari atau setiap setelah makan, penggunaan dental flos dan sikat gigi interdental untuk
membersihkan kotoran dan plak yang terdapat pada sela-sela antara gigi, dengan
menggunakan obat kumur. Penjagaan nutrisi yang baik juga merupakan faktor penting yang
harus dipenuhi seperti pemenuhan vitamin c untuk menjaga kesehatan mukosa mulut dan
vitamin d yang berperan untuk gigi. Mengurangi kebiasaan-kebiasan buruk seperti merokok,
dan minum minuman beralkohol. Serta rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

5. CAIRAN SULCUS
Peranan Cairan Sulkus Gingiva
Fase transisi dari gingiva yang sehat ke gingivitis tidak mudah dideteksi selama
pemeriksaan klinis. Tanda khas yang mengizinkan klinikan untuk mengenali inflamasi dari

jaringan gingival adalah kemerahan, pembengkakan, perdarahan pada probing dan


peningkatan aliran CSG (Fabbro MD, Francetti L, Bulfamante G, 2001).
Indikator Penyakit Periodontal
Gejala klinis awal penyakit periodontal yang telah timbul biasanya ditentukan dengan
melihat keadaan gingiva pasien. Penentuan secara klinis ini masih dapat dipengaruhi oleh
subjektifitas pemeriksa, seperti halnya dalam menentukan diagnosa penyakit periodontal.
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, telah ditemukan
cara untuk mengetahui perubahan awal pada jaringan periodontal sebelum gejala klinis
terlihat. Perubahan tersebut dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan cairan gingiva
pasien. Ward dab Simring menyatakan cairan gingiva sebagai salah satu materi yang berguna
untuk pemeriksaan periodontal. Cairan gingiva sangat peka terhadap rangsangan kimiawi
maupun mekanis, serta sangat berhubungan dengan mikrosirkulasi jaringan setempat.
Menurut Klavan, Tylman dan Malone, aliran CSG dari sulkus gingiva dapat digunakan
sebagai indicator terhadap respon dini dari aktifitas antigen bakteri (Nurul DMK, 1984).
Kegunaan volume CSG sebagai pembantu dalam mendiagnosis status periodontal
telah diusulkan bertahun-tahun yang lalu. Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan
yang berarti antara volume CSG dan beratnya radang periodontal dihubungkan dengan
periodontitis atau gingivitis (Perinetti G, Spoto G, 2004). Aliran CSG akan bertambah besar
pada keadaan gingiva meradang karena adanya pertambahan permeabilitas pembuluh
vaskuler. Hal ini telah dibuktikan dari banyak penelitian dengan memberikan beberapa
macam rangsangan yang dapat menimbulkan peradangan marginal gingival, didapatkan
adanya atau bertambahnya cairan di sekitar gigi tersebut (Nurul DMK, 1984). Peningkatan
pada filtrasi CSG adalah tanda klinis dari gingivitis awal (Fabbro MD, Francetti L,
Bulfamante G, et al, 2001).
Pencegahan Terhadap Karies
Hancock dkk menemukan bahwa CSG mempunyai aksi mekanis dan pertahankan
terhadap bakteri dan benda-benda asing lainnya. Carranza mendukung teori tersebut dengan
mengatakan bahwa CSG berfungsi untuk membersihkan sulkus dari materi-materi pathogen.
Grant dkk berpendapat bila bakteri atau benda asing tertentu masuk ke sulkus gingiva segera
lenyap dari sulkus sebab disemburkan keluar oleh aliran CSG. Manson menggunakan istilah
pencucian sulkus gingiva untuk hal tersebut. Ramfjord dan Ash menduga bahwa pembersihan
ini disebabkan oleh adanya aliran CSG yang terus-menerus (Nurul DMK, 1984).

Mc Gehee berpendapat pada gingival sehat CSG bersifat alkali sehingga dapat
mencegah terjadinya karies pada permukaan enamel dan sementum yang halus. Sifat ini
disebabkan oleh daerah mikrosirkulasi setempat bersifat alkali. Mikrosirkulasi adalah
sirkulasi didalam pembuluh darah dengan diameter kurang dari 100 um (Lavelle CLB, 1988).
Dapus
Nurul DMK. Peran gingival crevicular fluid dalam bidang kedokteran gigi. Dalam:
Formu Ilmiah Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, ed. Buku Kumpulan
Naskah Ilmiah, 1984.
Fabbro MD, Francetti L, Bulfamante G, et al. Fluid dynamics of gingival tissues in
transition from physiological condition to inflammation. J Periodontol 2001.
Perinetti G, Spoto G. The use of iso endodontic paperpoints in determining small
fluid volumes. J of Applied Research in Clinical Dentistry 2004.
Lavelle CLB. Applied oral physiology. 2nd ed. London: Wright, 1988.
6. RESESI
Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi akibat migrasi tepi gingiva dan
junctional-epithelium ke apikal. Secara klinis ditandai dengan tepi gingiva berada apikal dari
cemeto-enamel junction. Pada beberapa kasus sering dijumpai attached gingiva yang sempit,
dengan kedalaman sulkus bervariasi.
Resesi gingiva dapat menyebabkan beberapa akibat klinis, yaitu: permukaan akar menjadi
terbuka sehingga rentan terhadap karies, terkikisnya sementum dan dentin akibat akar yang
terbuka menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif, bahkan dapat mengakibatkan hyperaemia
pulpa
(Krismariono, Agung 2009)
PENYEBAB (Bernadeta dan Poernomo Agus, 2010)
Resesi gingiva dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis.
1. Resesi gingiva secara fisiologis terjadi akibat bertambahnya umur penderita.
Secara klinis resesi gingiva lebih sering terlihat pada permukaan kaninus dan premolar atas.
Pada kelompok usia 26-35 tahun, dari 21 wanita dan 20 pria didapatkan 90% resesi gingiva
dengan frekuensi perluasan lebih besar pada pria. Ditemukan lebih sering pada permukaan
fasial kaninus dan premolar atas. Pada kelompok usia 36- 45 tahun, dari 13 wanita dan 13

pria didapatkan 92% resesi dengan perluasan resesi pada pria lebih besar, juga sering
mengenai permukaan fasial kaninus dan premolar atas.
2. Resesi gingiva secara patologis terjadi antara lain karena: kesalahan menyikat gigi,
malposisi gigi, keradangan gingiva, perlekatan frenum yang terlalu koronal,
pergerakan gigi dengan alat ortodontik kelabial, restorasi yang tidak baik dan trauma
oklusi
Resesi dapat terjadi setelah adanya plak penyebab penyakit periodontal. Jika diawali penyakit
periodontal atau adanya plak , dapat dikatakan bahwa resesi merupakan hasil dari keradangan
penyakit periodontal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab resesi adalah trauma
uklusal yang belebihan, penggunaan sikat gigi secara kuat dalam arah horisontal dengan sikat
gigi yang keras sering terjadi pada kaninus kiri dari orang yang menggunakan tangan
kanan.Pada gigi yang terletak pada posisi yang benar didapatkan permukaan labial lebih
banyak mengalami resesi daripada lingual. Banyak terdapat resesi pada insisif rahang bawah
dimana keratinisasi gingiva adalah 1mm atau kurang. Dengan berkurangnya luas keratinisasi
resesi gingiva semakin meningkat. Insisif lateral kiri juga mengalami resesi lebih banyak
dibanding insisif lateral kanan, sedangkan insisiv sentral lebih sering daripada insisiv lateral.

Sedangkan terhadap macam gigi, tingkat keparahan resesi gingiva dijumpai adanya
perbedaan. Pada gigi molar pertama rahang atas mempunyai nilai resesi yang cukup berarti,
hal ini kemungkinan karena sering terjadi penumpukan kalkulus terutama pada sisi bukal gigi
tersebut. Sesuai dengan pernyataan Grant dkk yang menyatakan bahwa efek tersering dari
saliva pada plak adalah mineralisasi pembentukan kalkulus, dimana penumpukan paling
cepat dan terbanyak dekat muara kelenjar saliva.
Premolar pertama rahang atas juga mempunyai nilai resesi yang cukup berarti, hal ini sesuai
dengan pendapat Saul dkk yang menyatakan bahwa premolar pertama sering mempunyai
groove pada permukaan akar sebelah mesial yang mempersulit pembersihan plak dan
pemeliharaannya sehingga mudah terjadi penyakit periodontal.
PERAWATAN (Krismariono, Agung 2009)
Pada mulanya perawatan dengan gingiva tiruan ditujukan untuk mengatasi masalah estetik.
Kenyataan klinis membuktikan bahwa manfaat gingiva tiruan ternyata tidak hanya
memperbaiki estetik, akan tetapi keluhan hipersensitif dentin yang semula dikeluhkan
penderita, berangsurangsur berkurang bahkan hilang. Namun perawatan dengan gingiva
tiruan ini tidak dapat diterapkan pada semua penderita yang mengalami resesi gingiva.
Perawatan dengan pemakaian gingiva tiruan hanya dapat diterapkan pada penderita resesi
yang disertai celah proksimal dengan kelebaran yang cukup. Adanya celah proksimal ini
diperlukan, karena perlekatan gingiva tiruan pada gingiva asli diperoleh melalui perlekatan
mekanis yang dibuat sedemikian rupa pada celah proksimal, yang berfungsi sebagai retensi
gingiva tiruan.
Agar dapat dirawat dengan pemakaian gingiva tiruan, seluruh penderita post-scaling
dikontrol

kesehatan jaringan periodonsiumnya setiap minggu sampai didapatkan kondisi klinis jaringan
yang sehat. Apabila dinilai kondisi jaringan telah sehat, maka setiap penderita dibuatkan
gingiva tiruan dari bahan soft liner, yang biasanya digunakan untuk melapisi basis akrilik gigi
tiruan lepasan. Pembuatan gingiva tiruan dilakukan secara direct pada penderita. Regio gigi
yang dibuatkan gingiva tiruan sesuai dengan regio yang mengalami resesi. Gingiva tiruan
dibuat menutup seluruh resesi beserta celah proksimal diantara gigi-gigi tersebut. Batas
koronal sampai cemento-enamel junction, sedangkan batas apikal sampai muco-gingival
junction.
Keunggulan yang lain adalah warna bahan soft liner sedikit transparan, sehingga apabila
diaplikasikan pada regio gingiva yang mengalami resesi, warna gingiva tiruan dapat mirip
dengan warna gingiva asli. Segi estetik inilah yang membuat gingiva tiruan dipilih sebagai
salah satu perawatan alternatif pada kasus resesi gingiva. Disamping dapat mengatasi
masalah estetik,
kenyataan klinis membuktikan bahwa gingiva tiruan yang diaplikasikan pada regio gigi-gigi
yang mengalami resesi gingiva dapat mengurangi keluhan hipersensitif dentin. Keluhan ini
berkurang karena gingiva tiruan menutupi sebagian besar permukaan akar yang semula
terbuka akibat resesi. Manfaat ini sesusai dengan yang dikemukakan oleh Thompson,9 bahwa
perawatan resesi gingiva idealnya dapat mengatasi keluhan estetik maupun hipersensitif
dentin.

Bernadeta dan Poernomo Agus, 2010, Terdapat hubungan keparahan resesi gingiva terhadap
tingkat usia dan macam gigi, Periodontic Journal, Vol. 1 No. 2 pp 1-4.
Krismariono, Agung 2009, Gingiva tiruan sebagai perawatan alternatif untuk resesi gingiva,
Periodontic Journal, Vol.1 No.1 pp 10-14.
7. FAKTOR PENYERTA SISTEMIK PENYAKIT PERIODONTAL
Faktor penyerta sistemik Penyakit Periodontal:
1.Penuaan
Pertambahan usia termasuk dalam faktor resiko terjadinya penyakit periodontal karena
penuaan dikaitkan dengan perubahan jaringan periodontal yang secara teoritis dapat
mengubah respons hospes.
2.Stres emosional dan psikososial
Beberapa penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara keparahan penyakit periodontal
dengan stres karena pekerjaan atau karena kejadiantertentu dan reaksi psikologis terhadap
terhadap perubahan dalam dalamhidup (khususnya depresi). Kebiasaan memelihara
kesehatan

dikalanganorang-orang yang

mengalami

stres

menurun,

tercermin

dari

meningkatnyakebiasaan merokok, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, sulittidur,


gangguan makan, serta kebersihan mulut yang buruk. Faktor-faktor ini memegang peranan
yang penting dalam insidensi dan keparahan penyakit periodontal.

3.Kelainan genetik Beberapa kelainan genetik yang parah dapat menimbulkan efek
buruk terhadap jaringan mulut dan periodontal. Efek ini biasanya terjadi karenadefisiensi atau
disfungsi sel-sel hematologik yang berkaitan dengan pertahanan hospes. Sindrom PapillonLefevre adalah kelainan autosomalresesif yang ditandai dengan hiperkeratosis telapak tangan
dan telapak kaki serta periodontitis yang berkembang dengan cepat. Kondisi ini
seringdikaitkan dengan dengan defisiensi fagositosis dan kemotaksis neutrofil.Kelainan
herediter lain yang mengakibatkan berkurangnya jumlahneutrofil atau kegagalan fungsi
neutrofil misalnya sindrom Down, neutropenia idiopatik kronis, neutropenia siklik, sindrom
Chediak-Higashi dan sindrom defisiensi adhesi leukosit (LAD).
4.Ketidakseimbangan endokrinBeberapa kelainan endokrin dapat berpengaruh secara
langsung pada jaringan periodontal atau berasal dari disfungsi neutrofil atauterhambatnya
proses penyembuhan luka.
-Diabetes melitus
Kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) dapat menekanrespons imun hospes dan
menyebabkan penyembuhan luka yangtidak baik serta infeksi kambuhan. Manifestasi dalam
rongga mulutdapat berupa abses periodontal multipel atau selulitis. Pasiendengan diabetes
melitus tidak terkontrol atau tidak terdiagnosalebih rentan terhadap gingivitis, hiperplasia
gingiva dan periodontitis.
-Hormon seks
Ketidakseimbangan hormon seks dapat menimbulkan efek yangmerugikan pada gingiva.
Sebagai contoh adanya hiperplasi gingivainflamatif pada masa pubertas, kehamilan dan
sebagai akibat pemakaian kontrasepsi oral. Perubahan fisiologis terkait hormonseks ini
menyebakan perubahan permeabilitas kapiler danmeningkatkan retensi cairan di jaringan.
Kondisi

ini

menyebabkanterjadinya

gingivitis

yang

edematous,

hemoragik

dan

hiperplastik sebagai respon terhadap plak.


5. Penyakit/kelainan darah
Sel darah merah, platelet/keping darah terlibat dalam nutrisi jaringan periodontal, hemostasis
dan penyembuhan luka. Oleh karena itu, kelainandarah sistemik dapat memberikan pengaruh
yang

besar

terhadap

trombositopenia

jaringan periodontal.

ataukekurangan

faktor

Diskrasia

pembekuan

darah
darah

seperti
dapat

polisitemia,
menyebabkan

waktu perdarahan yang panjang setelah prosedur perawatan periodontal.Kelainan sel darah
merah seperti anemia aplastik dapat memperburuk hasil perawatan periodontal dan

menyebabkan komplikasi pasca operasi yang berat. Mieloma multipel adalah malignansi sel
plasma yang seringdikaitkan dengan perdarahan gingiva dan kerusakan tulang alveolar.
6.Defisiensi nutrisi dan gangguan metabolik
Defisiensi vitamin C yang berat (scurvy) diketahui dapat menginduksikerusakan jaringan
periodontal. Perubahan awal dapat bermanifestasisebagai gingivitis ringan hingga sedang
yang diikuti oleh pembesarangingiva yang terinflamasi akut, edematous dan hemoragik. Jika
tidak terdeteksi, scurvy pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan jaringan periodontal
yang hebat dan tanggalnya gigi.
7.Obat-obatan dan efeknya terhadap jaringan periodontal
Obat-obatan merupakan faktor etiologi sekunder yang berpotensimenimbulkan penyakit
periodontal. Sebagai contohnya obat-obatan yangmenginduksi xerostomia (kekeringan mulut)
dapat meningkatkanakumulasi plak dan kalkulus. Tidak adanya efek buffer dari saliva
dan berkurangnya imunoglobulin saliva dapat mengubah ketahanan hospesterhadap iritan
lokal. Obat-obatan yang menyebabkan xerostomia antaralain obat diuretik, antipsikotik,
antihipertensi dan antidepresan.
8.Penyakit periodontal pada penderita AIDS
Penyakit AIDS ditandai dengan melemahnya sistem imun pada individuyang terkena. Lesi
periodontal pada penderita AIDS diantaranya eritemagingiva linear (LGE), yaitu gingivitis
yang terlokalisasi, persisten daneritematous yang dapat mengawali terjadinya gingivitis
ulseratif nekrosis(NUG) atau periodontitis ulseratif nekrosis (NUP).
9.Infeksi periodontal dan gangguan sistemik
(Fedi, dkk., 2005)
Fedi, P. F., Vernino, A. R., Gray, J. L. 2005. Silabus Periodonti, (terj.), PenerbitBuku
Kedokteran EGC: Jakarta
8. PERAWATAN PERIODONTITIS
Perawatan Periodontitis
Perawatan periodontitis dapat dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
Fase I : fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa faktor
etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau melakukan
perawatan restoratif dan prostetik. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan pada
fase I :

1.

Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak.

2.

Scaling dan root planing

3.

Perawatan karies dan lesi endodontik

4.

Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging

5.

Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment)

6.

Splinting temporer pada gigi yang goyah

7.

Perawatan ortodontik

8.

Analisis diet dan evaluasinya

9.

Reevaluasi status periodontal setelah perawatan tersebut diatas

Fase II : fase terapi korektif, termasuk koreksi terhadap deformitas anatomikal seperti
poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni oklusi yang berkembang sebagai suatu
hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit
periodontal. Berikut ini adalah bebertapa prosedur yang dilakukun pada fase ini:
1.

Bedah periodontal, untuk mengeliminasi poket dengan cara antara lain:

kuretase gingiva, gingivektomi, prosedur bedah flap periodontal, rekonturing tulang


(bedah tulang) dan prosedur regenerasi periodontal (bone and tissue graft)
2.

Penyesuaian oklusi

3.

Pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi yang hilang

Fase III: fase terapi pemeliharaan, dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan
pada penyakit periodontal. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan pada fase
ini:
1.

Riwayat medis dan riwayat gigi pasien

2.

Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat scor plak, ada

tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas gigi


3.

Melekukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal dan tulang

alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali


4.

Scalling dan polishing tiap 6 bulan sekali, tergantung dari evektivitas kontrol

plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus


5.

Aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies

Terapi Periodontitis:
Pencegahan penyakit periodontal antara lain dengan cara :
1.

Menyikat gigi setiap habis makan dengan pasta gigi yang mengandung

fluoride
2.

Membersihkan sela-sela antara gigi dengan dental floss, dental floss ini

gunanya untuk mengangkat sisa makanan yang terdapat di leher gigi dan di bawah
gusi
3.

Saat ini sudah banyak di produksi "dental water jet" yang terbukti lebih efektif

menghilangkan perdarahan gusi di bandingkandental floss


4.

Makanan bergizi yang seimbang

5.

Mengunjungi dokter gigi secara teratur untuk dilakukan pemeriksaan rutin dan

cleaning

Evy Indriani V., drg, Sp.BM. 2006. Penyakit Periodontal. Bedah Mulut dan
Maxillofacial
(Informasi dan diskusi mengenai penyakit serta kelainan di dalam Mulut dan Rahang,
perawatan serta rekonstruksinya)