Anda di halaman 1dari 60

MENYAJIKAN PANDANGAN NORMATIF DAN

TEKNIS DALAM RANGKA MEMUDAHKAN


SINERGI
PELAKSANAAN
TUGAS
DAN
FUNGSI DPRD DENGAN TUGAS DAN
FUNGSI PEMERINTAH DAERAH;
MENGGUNAKAN UU NO 27 TAHUN 2009
DAN UU NO. 32 TAHUN 2004 SERTA HASIL
PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009 SEBAGAI
RUJUKAN NORMATIFNYA;
MEMPERHATIKAN ATURAN PERUNDANGAN
YANG
TERKAIT
SAMBIL
MENUNGGU
TERBITNYA PP TENTANG PEDOMAN TATA 2
TERTIB DPRD.

1. SESUAI UU NO. 27 TAHUN 2009, SELURUH


TUGAS, FUNGSI DAN WEWENANG DPRD HARUS
DIFORMALISASI KE DALAM PERATURAN DPRD
TENTANG TATA TERTIB;
2. TATA TERTIB DPRD BERFUNGSI SEBAGAI:
a. Pedoman penyelenggaraan tugas, fungsi dan
wewenang DPRD; dan
b. Salah satu norma juridis yang digunakan
dalam
menilai
kinerja pelaksanaan
tugas, fungsi dan
wewenang DPRD;
3. SEHUBUNGAN DENGAN ITU, DIPERLUKAN TATIB
DPRD YANG BERSIFAT KOMPREHENSIF.

SINERGI ANTARA FUNGSI LEGISLATIF DENGAN FUNGSI


EKSEKUTIF DAERAH DIPERLUKAN KARENA:
1. Baik eksekutif maupun legislatif daerah pada
dasarnya
bekerja dengan maksud dan tujuan
yang sama, namun pada
ranah yang berbeda:
a. Eksekutif sebagai pelaksana;
b. Legislatif sebagai legislator dan pengawas.
2. Kemampuan legislatif melaksanakan
fungsinya
sangat
ditentukan oleh kemampuan
memahami
seluruh
aspek
pelaksanaan
pemerintahan
daerah, sehingga mampu
melakukan pengawasan dari
ketiga aspek
fungsinya, yakni
legislasi, penganggaran dan
pengawasan;
3. Sehubungan
dengan
mendalami
seluruh
pemerintahan daerah

itu,
kesediaan
untuk
aspek
penyelenggaraan
tampil sebagai prasyarat4

1. KONSIDERANS DAN BATANG TUBUH;


2. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL;
3. LAMPIRAN (DALAM BENTUK BAGAN, CHART DAN
MATRIKS).
Catatan: Penjelasan
pasal demi
Lampiran
diperlukan
menguraikan secara
rinci
klausul yang membutuhkan
tambahan dalam rangka mencegah
ganda.

pasal dan
untuk
berbagai
informasi
tafsir
5

SESUAI UU NO. 32 TAHUN 2004, DPRD TIDAK


DUDUK
BERHADAP-HADAPAN DENGAN KDH,
MELAINKAN DUDUK BERDAMPINGAN SEBAGAI
MITRA YANG SEJAJAR;
DPRD
TIDAK
BEKERJA
DAN
MENGAMBIL
KEPUTUSAN ATAS DASAR PERTIMBANGAN
ORANG PER ORANG, MELAINKAN SEBAGAI
INSTITUSI;
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DILAKUKAN SECARA
MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT;
BILA MUFAKAT TIDAK TERCAPAI, DILAKUKAN
VOTING DENGAN SUARA TERBANYAK: n +6
1.

KONSTELASI
HUBUNGAN KDH
DAN DPRD

KONDISI
SAAT INI (2009)

KONDISI YANG
DIINGIN (2014)

GARDEN CITY OF TOMORROW

N+1

PARPOL

PEMILU

UU NO. 2 THN 2008

KPU
DCT

BADAN HUKUM

DPP/DPD/DPC

UU NO. 22 THN 2007

PEMILU 9/4/2009

PEMERINTAHAN

PENGAWASAN

PELANTIKAN
LEGISLATIF +
TERPILIH

BPK

JULI - AGUSTUS

AUDIT

UU SUSDUK
(ALAT KELENGKAPAN)

SIDIK

TUJUAN PARPOL
UU NO
10/2008

VISI + MISI

UU
PILPRES
NO 42/2008

UU NO
12/2008

PLATFORM

DCS

Vs
A
AR AK
SU ANY
RB
TE

FRAKSI

KEJAKSAAN

UU 32 THN 2008

KPK
NO
UR MO
UT R

UU 17 THN 2003

SISTEM KEPARTAIAN
(MULTI PARTAI SEDERHANA)

PENGUATAN SISTEM
PRESIDENSIIL

SISTEM PEMILU
YG DEMOKRATIS
PENGUATAN LEMBAGA
LEGISLATIF YG EFEKTIF

SIDANG
PARIPURNA
LKPJ-KDH ATAS
KINERJA APBD 2007
31 MARET

PENGESAHAN
APBD
PERUBAHAN
SESUAI SILPA
DAN OPINI
AUDIT BPK
MEDIO OKT

SIDANG PARIPURNA
ISTIMEWA PENYAMPAIAN
KEPUTUSAN DPRD CATATAN
REKOMENDASI
30 APRIL
SEBAIKNYA,
RENSTRA SKPD
DAN RENSTRA
KECAMATAN
SUDAH DIREVISI
SESUAI SOTK
BARU
AKHIR MARET

UANG CAIR
2 JANUARI

RKA SKPD
31 AGUSTUS

OPINI AUDIT
BPK (SILPA)
15 JULI

PEMBAHASAN DAN
PENGESAHAN RAPBD TAHUN 2009
30 NOVEMBER

2009

2008
1

RKPD
30 APRIL

2010
6

KUA DAN PPAS


2008 SESUAI
PERMEN 59/07
SUDAH DISAHKAN
(SESUAI BATAS
KEWENANGAN
DAN SOTK)
MEI JULI

PENGESAHAN
APBD
PERHITUNGAN
DAN SILPA
SESUAI OPINI
AUDIT BPK
MEDIO SEPT

10

11

12

DPA
1 31 DESEMBER

SEBAIKNYA, PERDA SOTK


DAN PERDA URUSAN WAJIB
DAN PILIHAN SUDAH
DISAHKAN
31 MARET

10

DPRD
2009 2014
LANTIK

PIMPINAN
SEMENTARA

1. PERSIAPAN
PIMPINAN
DEFINITIF;
2. DRAFT TATIB;
3. DRAFT KODE ETIK;
4. PEMBENTUKAN FRAKSI.
BENTUK ALAT
KELENGKAPAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.

BANMUS;
KOMISI;
BADAN LEGISLASI;
BADAN KEHORMATAN;
BADAN ANGGARAN;
TENAGA AHLI.

PELAKSANAAN
FUNGSI/
WEWENANG

PENGESAHAN

PIMPINAN
DEFINITIF

1. TATIB;
2. KODE ETIK;
3. PENETAPAN ALAT
KELENGKAPAN
4. R-APBD 2010.

11

n+
N+
11 MEMIHAK

1. BILA
DPRD SUPERIOR Vs KDH INFERIOR
DPRD:

DPRD superior terdapat di 379 Kab/Kota dan 21 Prov

2. BILA N + 1 MEMIHAK KDH:


KDH SUPERIOR Vs DPRD INFERIOR
CATATAN: DI DALAM SISTEM DEMOKRASI
YANG
MAPAN,
SELURUH
FRAKSI
MEMBENTUK DUA KUBU, YAKNI KUBU
PENDUKUNG KDH DAN KUBU OPOSISI.
12

1. PROSES POLITIK YANG DEMOKRATIS: Setiap jabatan


politik harus dicapai melalui tahapan dan mekanisme
pemilihan umum;
2. UU POLITIK YANG MODERN DAN AKOMODATIF: UU yang
senyawa dengan perubahan zaman tetapi tetap mampu
mengakomodasi nilai-nilai budaya tradisional positif yang
hidup di tengah-tengah masyarakat;
3. KESADARAN DAN BUDAYA POLITIK YANG RASIONAL:
A. Masyarakat berhak menentukan afiliasi dan pilihan
politiknya
dengan mempertimbangkan kesesuaian
aspirasinya dengan platform partai politik;
B. Partai politik tetap memelihara kesetiaan
konstituennya
dengan tetap secara konsisten
memperjuangkan platform partai dan janji kampanye;
C. Lembaga Perwakilan (DPR, DPD dan
konsisten
melaksanakan seluruh
tanggungjawabnya dalam
mengemban

DPRD) secara
fungsi dan
13
amanat rakyat

Lanjutan

4. SISTEM PRESIDENSIEL:
Sistem pemerintahan dimana
presiden menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni
sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan serta
tidak tunduk pada dan tidak bisa dijatuhkan oleh DPR,
sekalipun jumlah kursi partai politik pengusung presiden
di DPR tidak memenuhi quorum n + 1;
5. MULTI PARTAI SEDERHANA:
Jumlah
partai peserta
pemilu tidak melebihi 6 (enam) partai dan setiap partai
memiliki platform yang berbeda namun dengan tujuan
yang sama. Sistem Presidensiel hanya dapat bekerja
efektif bila jumlah partai tidak melebihi 6 (enam) partai;
6. SISTEM PEMILU DEMOKRATIS:
Pemilihan Umum yang
dilangsungkan secara jujur dan adil serta memberikan
hak-hak
khusus
kepada
kaum
perempuan
serta
menetapkan pemenang pemilihan dari setiap partai
berdasarkan perolehan suara terbanyak;
7. PENGUATAN LEMBAGA LEGISLATIF: Kehendak politik yang
hidup di semua lembaga perwakilan pada ketiga tingkat
pemerintahan untuk tetap menjalankan fungsi legislasi,
fungsi
penganggaran
dan
fungsi
pengawasan
14
berdasarkan ukuran dan kriteria serta proses dan

1. DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, FUNGSI DAN


WEWENANGNYA, DPRD TUNDUK PADA SELURUH
ATURAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU;
2. SEJUMLAH ATURAN PERUNDANGAN DIMAKSUD
MEMUAT SUBSTANSI YANG SANGAT RELEVAN BAGI
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN
DPRD SEBAGAI LEMBAGA LEGISLATIF DAERAH;
3. PENCANTUMAN
SEBUAH
UU/PP/PERPRES
KE
DALAM
KONSIDERANS
MENIMBANG
ADALAH
PERNYATAAN BAHWA TATIB DPRD DISUSUN
DENGAN
MENDASARKAN
DIRI
PADA
UU/PP/PERPRES DIMAKSUD.
15

+
Paket
UU Terkait

Paket
PP Terkait
PP
tentang Tatib

Peraturan DPRD
tentang Tatib

16

1. UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;


2. UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan;
3. UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundangan;
4. UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Keuangan;
5. UU No. 25 tahun 2004 tentang SPPN;
6. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemda;
7. UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan;
8. UU No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik;
9. UU No. 10 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif;
10. UU No. 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan
DPRD;
11. PP No. 58 tahun 2005 tentang Keuangan Daerah;
12. PP No. 8 tahun 2006;
13. PP No. 3 tahun 2007 tentang LKPJ dan LPPD;
14. PP No. 8 tahun 2008 tentang
15. PP No. 60 tahun 2008 tentang SPI;
16. Keputusan KPU tentang Calon Legislatif Terpilih;
17. Permendagri 13 tahun 2006;
17
18. Permendagri 59 tahun 2007.

Anggota

DPRD

Kabupaten/Kota

berjumlah

paling sedikit 20 orang dan paling banyak 50


orang;
Keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota diresmikan
dengan Keputusan Gubernur;
Masa jabatan anggota DPRD Kabupaten/Kota
adalah
anggota

tahun

dan

berakhir

DPRD

Kab/Kota

pada

yang

saat
baru

mengucapkan sumpah/janji;
Sumpah/janji diucapkan

secara bersama-sama
18

dipandu oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam

DPRD Kab/Kota terdiri atas anggota partai politik


peserta pemilihan umum yang dipilih melalui
pemilihan umum, dengan prinsip suara terbanyak;
DPRD Kab/Kota merupakan lembaga perwakilan
rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kab/Kota.
CATATAN:
1. Amar Putusan MA telah membatalkan Keputusan
KPU
tentang penentuan kursi DPRD yang diperoleh
melalui
penghitunugan tahap kedua;
2. KPU menanggapi amar putusan MA dengan cara
mengajukan gugatan kepada MK;
3. MK mengabulkan gugatan KPU dan membatalkan
amar putusan MA;
4. Komposisi keanggotaan DPRD tidak mengalami
perubahan
dan diresmikan sesuai jadwal.

19

Pembentukan peraturan daerah Kab/Kota


bersama Bupati/Walikota;
Pembahasan dan persetujuan anggaran
pendapatan dan belanja daerah provinsi
bersama Bupati/Walikota; dan
Pengawasan
pelaksanaan
daerah dan APBD Kab/Kota.

peraturan

Ketiga fungsi dimaksud dijalankan dalam


kerangka
representasi
rakyat
di
kabupaten/kota.

20

Membentuk peraturan daerah Kab/Kota bersama


Bup/Walkot;
Membahas dan menyetujui rancangan peraturan
daerah mengenai anggaran pendapatan dan
belanja daerah Kab/Kota yang diajukan oleh
Bupati/Walikota;
Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan
peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan
belanja daerah Kab/Kota;
Mengusulkan
peresmian
pengangkatan
dan
pemberhentian Bupati/Walikota dan/atau wakil
Bupati/Walikota kepada
Menteri Dalam Negeri
melalui Gubernur;
21
Memilih wakil Bupati/Walikota dalam hal terjadi

Lanjutan

Memberikan
pemerintah
perjanjian
kepentingan

pendapat dan pertimbangan kepada


daerah Kab/Kota terhadap rencana
internasional
yang
menyangkut
daerah;

Memberikan
persetujuan
terhadap
rencana
kerjasama internasional yang dilakukan oleh
pemerintah daerah Kab/Kota;
Meminta
laporan
keterangan
pertanggungjawaban
Bupati/Walikota
dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah Kab/Kota;
Memberikan
persetujuan
terhadap
rencana
kerjasama dengan daerah lain atau dengan pihak
ketiga yang membebani masyarakat dan daerah;
Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
dan
22
Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang

Interpelasi

(hak

meminta

keterangan

kepada

Bupati/Walikota diajukan oleh minimal 15 org dan


disetujui oleh 2/3 anggota DPRD Kab/Kota);
Angket (hak melakukan penyelidikan atas kebijakan
Bupati/Walikota, diajukan oleh 15 org dan disetujui
oleh 2/3 anggota DPRD Kab/Kota); dan
Menyatakan

pendapat

(menyatakan

pendapat

terhadap kebijakan Bupati/Walikota yang penting


dan strategis atau mengenai kejadian luar biasa
yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi
penyelesaiannya

atau

sebagai

tindak

pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket).

lanjut
23

1. Mengajukan rancangan peraturan daerah;


2. Mengajukan pertanyaan;
3. Menyampaikan usul dan pendapat;
4. Memilih dan dipilih;
5. Membela diri;
6. Imunitas;
7. Mengikuti orientasi dan pendalaman
tugas:
(Sesuai UU No. 27/09, Parpol dapat
menyelenggarakan orientasi pendalaman t
ugas
DPRD);
8. Protokoler; dan
9. Keuangan dan administratif.

24

(1) UU NO. 27 TAHUN 2009 TIDAK MEMBATASI JUMLAH


MINIMAL PEROLEHAN KURSI PARPOL UNTUK
MENDAPATKAN KURSI PIMPINAN;
(2) CONTOH SIMULASI PEROLEHAN KURSI PARPOL:
a. Partai Golkar : 4 kursi;
b. Partai Gerindra : 4 kursi;
c. PKB
:
2 kursi (menang suara dari
PPP);
d. PPP
: 2 kursi (menang suara dari
PKS);
e. PKS
: 2 kursi (kalah suara).
(3) Kursi pimpinan DPRD di daerah dimaksud adalah
hak konstitusional Partai Partai Golkar, Gerindra,
PKB dan PPP).
25

(1) CONTOH PEROLEHAN KURSI PARPOL:


a. Partai Golkar : 2 kursi;
b. Partai Demokrat : 1 kursi;
c. PKB
:
1 kursi (menang suara dari
PPP);
d. PPP
: 1 kursi (menang suara dari
PDS);
e. PDS
: 1 kursi (kalah suara).
(2) Kursi pimpinan DPRD di daerah dimaksud adalah
hak
konstitusional
Partai
Partai
Golkar,
Demokrat, PKB dan PPP).
(3) Walaupun
jumlah kursi terbanyak yang diraih
satu atau dua parpol di sebuah daerah adalah 2
dan 1 kursi, posisi pimpinan tetap menjadi hak
26
konstitusional partai dimaksud.

Fraksi
dibentuk sebagai
anggota DPRD Kab/Kota;

wadah

berhimpun

Setiap anggota DPRD wajib menjadi anggota satu


fraksi;
Anggota Fraksi minimal sama dengan jumlah
Komisi;
DPRD dengan anggota berjumlah antara 20 35
orang membentuk 3 Komisi;
DPRD dengan anggota berjumlah lebih dari 35
orang membentuk 4 Komisi;
Parpol yang memiliki jumlah anggota sama atau
melebihi jumlah Komisi dapat membentuk satu
fraksi;
Parpol yang memiliki jumlah anggota kurang dari
27

Lanjutan

Dalam hal tidak ada parpol yang memiliki


anggota yang sama dengan jumlah Komisi,
dibentuk Fraksi Gabungan;
Jumlah Fraksi Gabungan maksimal dua fraksi;
Fraksi memiliki sekretariat;

Sekretariat DPRD menyediakan ruangan


sekretariat fraksi, biaya rapat dan biaya
operasional ruangan sekretariat fraksi dan
seorang tenaga fraksi, dengan kualifikasi:
a. S1 dengan pengalaman 5 tahun;
b. S2 dengan pengalaman 3 tahun;
c. S3 dengan pengalaman 1 tahun.
Pemberian
honorarium
tenaga ahli
dilakukan secara tidak tetap (on-call) sesuai
kebutuhan dan kemampuan keuangan 28

PLATFOR
M

KOMISI 1KOMISI 2KOMISI 3KOMISI 4

SIKAP

FRAKSI 1
FRAKSI 2

PIMPINAN

FRAKSI 3
FRAKSI 4

TENAGA
AHLI

TENAGA
AHLI

Dalam sistem demokrasi yang sudah mapan,


setiap Fraksi memiliki Platform dan Sikap
yang sangat tegas atas seluruh bidang tugas
pemerintahan daerah;
Platform
dimaksud
digunakan
sebagai
parameter kerja bagi setiap anggota Fraksi
yang duduk pada setiap alat kelengkapan;
Bila pemda mengajukan usulan program yang
berbeda dengan platform dimaksud, maka
Fraksi akan berjuang untuk mengubah usulan
dimaksud;
Fraksi
hanya
akan
menerima
dimaksud bila ternyata kalah dalam

usulan
voting
30

FUNGSI
LEGISLATIF
MEMBENTUK
PERDA

IF
T
IA D
S
I
IN P R
D

FUNGSI
PENGAWASAN
T R
RA NTA
U
S GA
N KDH
E
P

P SU
PI ENG RAT
MP
IN ANT
AN AR
DP
RD

INI
SIA
KD TIF
H

RANPERDA

PENETAPAN
PERDA

TINGKAT PEMBICARAAN

TINGKAT
TINGKAT
TINGKAT
TINGKAT

PERTAMA;
KEDUA;
KETIGA;
KEEMPAT

KONSULTASI FRAKSI

PENGAWASAN DPRD

PELAKSANAANNYA;
PENURUNANNYA
KEDALAM PERATURAN
KDH.

31

KONTRAK
UNIV A

NASKAH
AKADEMIS
(NA)

KONTRAK
UNIV B

KONSULTAN

PROSES DAN TAHAPAN PENYUSUNAN RAPBD


Th n

Th n- 1
1

Th n+1

10

12

11

RAPAT KOORDINASI

RENJA
1

KEC

RPJM
RPJM

RKPD

KAB/KOTA

MUSRENBANG

RAKERNIS

S K P D
30 APRIL

DESA

PEMDA

RENSTRA

TAPD

15 JUNI

1 JULI

1 AGS

KUA

PPAS

DOKUMEN POLITIK

DOKUMEN POLITIK

15 NOV

RKA

R-APBD

DPRD

RESES

PLATFORM
FRAKSI

POKOK-2
PIKIRAN
DPRD

KOMISI
RAPAT INTERNAL

APBD

PEMBICARAAN
TINGKAT 1
TINGKAT 2
TINGKAT 3
TINGKAT 4

BANGGAR

POKOK-2
PIKIRAN
KOMISI

30 NOV

4
RAKERNIS

33

1. Pemilihan dan penetapan pimpinan;


2. Pengucapan sumpah/janji;
3. Pemberhentian dan penggantian pimpinan;
4. Penyelenggaraan sidang/rapat;
5. Pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang
lembaga,
serta hak dan kewajiban anggota;
6. Penggantian antar waktu anggota;
7. Pembentukan,
susunan,
tugas dan
wewenang serta
kewajiban alat-alat kelengkapan;
8. Rapat dan pembuatan keputusan;
9. Pelaksanaan konsultasi antara legislatif dan
eksekutif;
10. Penerimaan pengaduan
dan penyaluran
aspirasi
masyarakat;
11. Penyelidikan,
verifikasi,
dan
34
pengambilan putusan

1. KONSIDERANS DAN BATANG TUBUH;


2. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL;
3. LAMPIRAN (DALAM BENTUK BAGAN, CHART DAN
MATRIKS).
Catatan: Penjelasan
pasal demi pasal dan
Lampiran
diperlukan
untuk
menguraikan secara rinci
berbagai
klausul yang
membutuhkan informasi
tambahan dalam rangka menghindarkan
tafsir
ganda.
35

MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan


Kabupaten/Kota wajib menyusun Kode Etik;

DPRD

Kode Etik berisi norma yang harus dipatuhi oleh


setiap anggota selama menjalankan tugasnya untuk
menjaga
martabat,
kehormatan,
citra,
dan
kredibilitas lembaga;
Kode Etik
juga harus memuat jenis sanksi dan
mekanisme penegakan kode etik yang ditetapkan
oleh masing-masing lembaga;
Kode Etik yang baik adalah Kode Etik yang disusun
rinci, sesuai dengan standar pelaksanaan seluruh
fungsi lembaga;
Kode
Etik
yang
rinci
akan
memungkinkan
ditegakkannya disiplin secara obyektif
dan
36
mencegah terjadinya penetapan
sanksi
secara

Bagian Kedua
Kode Etik
Pasal 123

Lanjutan

(1) DPRD menyusun Kode Etik yang berisi norma yang


wajib
dipatuhi
oleh
setiap
anggota
selama
menjalankan tugasnya
untuk menjaga martabat,
kehormatan, citra, dan kredibilitas DPRD;
(2) Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memuat
sekurang-kurangnya:
a. Pengertian dan Tujuan Kode Etik;
b. Pengaturan sikap, tata kerja, dan tata hubungan
antar
penyelenggara Pemerintah Daerah
dan antar
anggota DPRD dan pihak lain;
c. Hal baik dan pantas dilakukan oleh anggota
DPRD;
d. Etika dalam penyampaian pendapat, tanggapan,
jawaban,
sanggahan; dan
37
e. Sanksi dan rehabilitasi.

Lanjutan

Pasal 124
(1) Kode Etik bertujuan untuk menjaga martabat,
kehormatan, citra dan kredibilitas anggota
DPRD dalam melaksanakan tugas, wewenang
dan kewajiban serta tanggungjawabnya kepada
pemilih, masyarakat dan negara.
(2)

Anggota DPRD wajib bertaqwa kepada Tuhan


Yang maha Esa, berjiwa Pancasila, taat kepada
Undang-Undang
Dasar
Negara
Republik
Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundangundangan, berintegritas tinggi, jujur, dengan
senantiasa
menegakkan
kebenaran
dan
keadilan, menjunjung tinggi demokrasi dan hak
asasi manusia, mengemban amanat penderitaan
rakyat, mematuhi peraturan Tata Tertib DPRD,
menunjukkan profesionalisme sebagai anggota
38
DPRD dan selalu berupaya meningkatkan

Lanjutan

Pasal 126
(1)Anggota DPRD bertanggungjawab mengemban
amanat penderitaan rakyat, melaksanakan
tugasnya secara adil, mematuhi hukum,
menghormati keberadaan lembaga DPRD
melaksanakan tugas dan wewenang yang
diberikan kepadanya demi kepentingan dan
kesejahteraan rakyat, serta mempertahankan
keutuhan bangsa dan kedaulatan Negara;
(2)Anggota
DPRD
bertanggungjawab
menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi
rakyat kepada pemerintah, lembaga atau
pihak
yang
terkait
secara
adil
tanpa
memandang suku, agama, ras, golongan dan
39
gender.

Lanjutan

Pasal 127
(1) Pernyataan yang disampaikan dalam rapat
adalah pernyataan dalam kapasitas sebagai
anggota DPRD, pimpinan masing-masing alat
kelengkapan atau Pimpinan DPRD;
(2) Pernyataan di luar sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dianggap sebagai pernyataan
pribadi;
(3) Anggota DPRD yang tidak menghadiri rapat
dilarang menyampaikan hasil rapat dengan
mengatasnamakan anggota DPRD kepada
pihak lain.
40

Lanjutan

(1)
(2)

Pasal 128
Anggota
DPRD
harus
mengutamakan
tugasnya dengan cara menghadiri secara
fisik setiap rapat;
Ketidakhadiran
secara fisik
sebanyak
tiga kali berturut-turut dalam rapat
sejenis
tanpa
izin
Pimpinan
Fraksi,
merupakan suatu pelanggaran yang dapat
diberikan teguran tertulis;

(3)

Ketidakhadiran anggota DPRD secara fisik


selama tiga bulan berturut-turut tanpa
keterangan apapun dalam kegiatan rapatrapat DPRD merupakan pelanggaran Kode
Etik yang dapat diberhentikan sebagai
anggota DPRD;

(4)

41
Anggota DPRD wajib menjaga tata tertib dan

Lanjutan

(1)
(2)
(3)
(4)

(5)
(6)

Pasal 130
Anggota DPRD melakukan perjalanan dinas di
dalam negeri dengan biaya APBD sesuai
ketentuan peraturan perundangan;
Anggota DPRD tidak diperbolehkan
menggunakan fasilitas perjalanan dinas
untuk kepentingan diluar tugas DPRD;
Perjalanan dinas dilakukan dengan
menggunakan anggaran yang tersedia;
Anggota DPRD tidak diperbolehkan membawa
keluarga dalam suatu perjalanan dinas dengan
menggunakan fasilitas yang dibiayai oleh
APBD;
Dalam hal perjalanan dinas atas biaya
pengundang harus mendapat izin tertulis dari
Pimpinan DPRD;
Anggota DPRD yang melakukan perjalanan
dinas ke luar negeri dengan anggaran 42

1)
2)
3)
4)
5)

BAB XIV
KUNJUNGAN KERJA
Pasal 139
Anggota DPRD dapat melakukan kunjungan
kerja dalam daerah/keluar daerah maupun ke
luar negeri;
Kunjungan kerja disesuaikan dengan kebutuhan
dan kepentingan pelaksanaan tugas, fungsi dan
wewenang DPRD;
Kunjungan kerja dalam daerah dan keluar
daerah harus dengan persetujuan Pimpinan
DPRD;
Kunjungan kerja ke luar negeri harus dengan
persetujuan
Pimpinan
DPRD
dan
wajib
memperoleh izin tertulis dari Gubernur;
Anggota DPRD yang melakukan Kunjungan Kerja
wajib menyampaikan laporan tertulis kepada
Pimpinan DPRD selambat-lambatnya 7 (tujuh)
43

BAB XVIII
SISTEM PENDUKUNG
Bagian Kesatu
Sekretariat DPRD
Pasal 154
(1) Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan
wewenang DPRD, dibentuk Sekretariat DPRD yang
susunan organisasi dan tata kerjanya ditetapkan
dengan peraturan daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
(2) Sekretariat DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang
diangkat dan diberhentikan dengan keputusan
bupati/walikota atas persetujuan Pimpinan DPRD;
(3) Sekretaris
DPRD dan pegawai Sekretariat
DPRD
berasal dari pegawai negeri sipil;
(4) Sekretaris
DPRD
mempunyai
tugas
dan
bertanggungjawab atas seluruh aspek administrasi
perkantoran,
perencanaan
program
dan
44
penganggaran,
penatausahaan
anggaran
serta
penyusunan laporan kinerja dan akuntansi keuangan

1. MEMPERSIAPKAN DRAFT KREATIF DAN NORMATIF:


a.
b.
c.
d.

Kode Etik dan Kehormatan Anggota DPRD;


Tata Tertib DPRD;
Badan Kehormatan;
Skenario dan alternatif rekrument tenaga ahli:

1) yang akan dipekerjakan sepanjang tahun


untuk
mendampingi setiap Komisi;
2) on-call,
yang diperlukan sewaktu-waktu
sesuai
kebutuhan.
2. MENYIAPKAN SKENARIO PEMBENTUKAN MEKANISME
HUBUNGAN KERJA KEMITRAAN ANTARA KOMISI
DENGAN SKPD PASANGAN KERJA;
45

Lanjutan

3. MEMPERSIAPKAN
SELURUH
KEBUTUHAN
ADMINISTRATIF DAN ANGGARAN YANG DIPERLUKAN
UNTUK PELAKSANAAN:
a. Tugas, kewajiban dan hak-hak Pimpinan;
b. Tugas, kewajiban dan hak-hak DPRD sebagai
lembaga;
c. Tugas, kewajiban dan hak-hak anggota;
d. Kemungkinan terjadinya PAW secara mendadak;
e. Pemilihan
pimpinan
sementara,
pelantikan
pimpinan definitif
dan pembentukan alat-alat
kelengkapan dewan;
f. Dalam tahun anggaran 2010, perlu disiapkan
anggaran
kegiatan
laporan
kinerja
pertanggungjawaban DPRD kepada konstituen.
4. MENDALAMI PP NO. 60 TAHUN 2008 TENTANG SPI DAN
MENYUSUN DRAFT SKENARIO
KEPUTUSAN DPRD
TENTANG MANAJEMEN RISIKO;
5. MENYIAPKAN
SKENARIO
RESES
YANG
SIMULTAN
46
DENGAN PELAKSANAAN MUSRENBANG BERJENJANG

Pemanggilan,

permintaan

keterangan,

penyidikan terhadap anggota harus

dan

mendapat

persetujuan tertulis:
- MPR, DPR dan DPD dari Presiden.
- DPRD Provinsi dari Menteri Dalam Negeri.
- DPRD Kabupaten/Kota dari Gubernur.
Ketentuan tsb tidak berlaku apabila anggota MPR,
DPR,

DPD,

Kabupaten/Kota

DPRD

Provinsi,

melakukan

dan

tindak

DPRD
pidana

terorisme, korupsi, dan tertangkap tangan dalam


47
tindak pidana lainnya. (Klausul Baru).

Dalam hal anggota DPRD Kab/Kota tidak


melaksanakan kewajiban nomor 1 s/d 3,
yang bersangkutan dapat dikenakan
sanksi berupa pemberhentian sebagai
anggota DPRD Kab/Kota.
Dalam hal anggota DPRD Kab/Kota tidak
melaksanakan salah satu atau lebih
kewajiban
nomor
4
s/d
12,
yang
bersangkutan dapat dikenakan sanksi
berupa
pemberhentian
sementara
sebagai anggota DPRD Kab/Kota.
48

BAB XIX
PERUBAHAN DAN PENYESUAIAN PERATURAN
TATA TERTIB
Pasal 158
(1) Perubahan terhadap Peraturan Tata Tertib ini
hanya
dapat diajukan oleh sekurangkurangnya sembilan
anggota DPRD, yang
terdiri dari dua Fraksi atau lebih;
(2) Pembahasan
perubahan
sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilakukan dalam Rapat
Paripurna yang khusus diadakan untuk
keperluan
tersebut
dan
harus
dihadiri
sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari
jumlah Anggota DPRD;
(3) Keputusan diambil dengan persetujuan oleh
sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari
49
jumlah anggota DPRD yang hadir.

Lanjutan

Pasal 159
Perubahan dan penyesuaian terhadap
Peraturan Tata Tertib ini wajib dilakukan
selambat-lambatnya
1
(satu)
bulan
setelah terbitnya Peraturan Pemerintah
tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib
DPRD yang baru.

50

a. Turunan langsung (copy paste) dari PP No. 25


tahun 2004
dan PP No. 53 tahun 2005.
Banyak klausul
yang membutuhkan
penjabaran
lebih
rinci tetapi tidak
dilakukan;
b. Ketidakseimbangan kejelasan. Memuat penjelasan
yang
sangat jelas atas klausul yang sangat
jelas dan
penjelasan yang kurang jelas atas
klausul yang kurang
jelas.

51

52

1.

DPRD terdiri atas anggota DPRD dan Partai


Politik peserta Pemilihan Umum Tahun 2004;

2.

Nama-nama anggota DPRD secara administratif


ditetapkan oleh KPU Provinsi bagi anggota
DPRD Provinsi dan oleh KPU Kabupaten/Kota
bagi anggota DPRD Kabupaten/Kota;

3.

Nama-nama anggota DPRD dilaporkan oleh:


a. KPU Propinsi kepada Menteri Dalam Negeri
melalui Gubernur bagi Anggota DPRD
Provinsi;
b. KPU Kabupaten/Kota kepada Gubernur
melalui Bupati/Walikota bagi Anggota DPRD
53
Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada
KPU.

1. Peresmian
keanggotaan
DPRD
Provinsi
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam
Negeri
dan
keanggotaan
DPRD
Kabupaten/Kota
ditetapkan
dengan
Keputusan Gubernur atas nama Presiden;
2. Selama
menjadi
anggota
DPRD,
yang
bersangkutan berdomisili di Ibukota Provinsi
bagi anggota DPRD Provinsi dan berdomisili
di Kabupaten/Kota yang bersangkutan bagi
anggota DPRD Kabupaten/Kota.
54

55

1. Sebelum memangku jabatannya, anggota DPRD sebelum


mengucapkan sumpah/janji secara bersama sama yang
dipandu oleh Ketua Pengadilan setempat;
2. Sumpah/janji anggota DPRD adalah sebagai berikut:
"Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji bahwa saya
akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Provinsi dengan
sebaik baiknya dan
seadil adilnya ;
bahwa saya akan memegang teguh Pancasila dan
menegakkan Undang Undang Dasar Negara
Republik
Indonesia
Tahun
1945
serta
peraturan
perundang undangan;
bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi serta
berbhakti kepada bangsa dan negara;
bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang
saya wakili untuk
mewujudkan tujuan nasional
56

Lanjutan

Pada waktu pengucapan sumpah/janji anggota DPRD


dipakai katakata tertentu sesuai dengan agama
masingmasing meliputi:
a. Bagi penganut agama Islam didahului dengan
pengucapan
kalimat Demi Allah saya
bersumpah;
b. Bagi penganut agama Kristen/Katolik
diakhiri
dengan
pengucapan kalimat Semoga Tuhan
menolong saya;
c. Bagi penganut agama Budha didahului dengan
pengucapan kalimat Demi Hyang Adi Budha;
d. Bagi penganut agama Hindu didahului dengan
pengucapan
kalimat Om Atah Paramawisesa. 57

Untuk dapat menyelesaikan seluruh tugas mendesak


sampai akhir tahun anggaran 2009, DPRD dengan
difasilitasi oleh Setwan, perlu mengambil langkah
sebagai berikut:
1. Membentuk Panitia Kerja Penyusunan Tatib
Komprehensif,
dengan difasilitator oleh anggota DPRD periode
masa bhakti
2004 2009;
2. Memperkuat Badan Legislasi DPRD dan mulai
menyusun daftar inventaris peraturan daerah
yang perlu dibentuk sepanjang periode 2009
2014 sebagai bagian dari Program Legislasi
Daerah;
3. Badan Legislasi DPRD perlu mempertimbangkan
58
mekanisme hubungan kelembagaan dengan
Badan Legislasi DPR-RI dalam rangka sinergi

Lanjutan

4. Memperkuat
Badan
Anggaran
DPRD
dan
menyusun daftar inventaris
permasalahan
perencanaan dan penganggaran daerah dalam
rangka
memperkuat
pelaksanaan
fungsi
penganggaran DPRD dalam menyusun APBD;
5. Badan Anggaran DPRD dapat mempertimbangkan
hubungan kerja konsultatif dengan Badan Anggaran
DPR-RI;
6. Memperkuat Badan Kehormatan, terutama
dalam rangka membangun kehendak politik
untuk menegakkan kode etik internal demi menjaga
martabat dan kehormatan lembaga;
7. Mendalami PP No. 60 tahun 2008 tentang SPI
dan mulai menyusun draft Keputusan DPRD
tentang Manajemen Risiko dan Pembagian Tugas Di59
Lingkungan DPRD;

DRS. SAHAT MARULITUA, MA


HP. 0811-809-251
0818-809-251
E-mail: sahatmrt@yahoo.com
Homepage: