Anda di halaman 1dari 28

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan dalam pasokan mineral meliputi beberapa hal diantaranya:
a. Eksplorasi Mineral
b. Pengembangan Mineral
c. Penambangan Mineral
d. Proses Pengolahan Mineral
Tujuan dari suatu industri mineral secara umum yaitu untuk memenuhi
permintaan konsumen, memajukan perekonomian dan memperoleh keuntungan.
Peralatan memegang peranana penting dalam dunia industri pertambangan.
Peranann ini berhubungan langsung dengan tingkat produksi yang diinginkan.
Untuk itu perlu dilakukan manajemen peralatan mekanis yang baik pada setiap
industri pertambangan, agar target yang diinginkan dapat tercapai.
Manajemen peralatan diperlukan agar penggunaan peralatan dapat efektif
dan efisien. Untuk melihat bagaimana manajemen alat mekanis yang baik, efektif
dan efisien serta mengetahui peralatan yang digunakan dalam kegiatan
penambangan ,maka perlu dilakukannya praktikum Peralatan secara langsung ke
tempat industri pertambangan yang telah ada (dalam hal ini di PT Pulau Lemon).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum yang dilakukan pada PT. Pulau Lemon adalah
:
1.

Mengetahui sistem penambangan yang diterapkan,

2.

Mengetahui Target Produksi,

3.

Mengetahui Jumlah cadangan,

4.

Mengetahui Umur Tambang dan luas wilayah,

5.

Mengetahui Peralatan-peralatan yang digunakan,

6.

Mengetahui Mekanisme kerja alat,

7.

Mengetahui manajemen Peralatan.

1.3 Metode Praktikum


Metode praktikum yang digunakan dalam penyusunan laporan praktikum ini
adalah Metode Deskriptif yaitu Metode praktikum yang bertujuan untuk
memberikan gambaran tentang suatu gejala yang terjadi. Dalam praktikum
deskriptif, kemungkinan harus diperkecil dan tingkat keyakinan harus maksimal
(Sukandarrumidi, 2002 )
1.4 Waktu dan Tempat Praktikum
Kegiatan penelitian ini berlangsung selama satu hari yaitu pada hari Sabtu, 8
Desember 2012 berlokasi di Workshop PT Pulau Lemon, Kelurahan Maruni,
Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.
Sedangkan penyusunan laporan dilakukan tanggal 9 Desember sampai dengan 18
Desember 2012.
1.5 Tahapan Praktikum
Tahapan praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Studi Pustaka

a. Data Primer
Jenis dan tipe Dump Truck,
Whell Loader, Back Hoe.
Orientasi Lapangan
Mekanisme kerja alat Back
Hoe, Whell Loader, Dump
Truck, Batching Plant, Aspal
Perumusan Masalah
Mixing
Plant, Crushing Plant
b. Data
Sekunder
Sejarah Perusahaan
Pengumpulan Data
Struktur Organisasi Perusahaan
Pengolahan
Data Perawatan
danAnalisis data
Target produksi
Jumlah cadangan
Laporan
Luas Wilayah
Peta Lokasi Penelitian
Peralatan yang dimiliki PT.
1.6 Sistematika Penulisan
Pulau Lemon
Jadwal
Kerja Perusahaan
Penulisan laporan disusun dengan
mengunakan
sistematika penulisan
sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
2

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode Praktikum
1.4 Waktu dan Tempat Praktikum
1.5 Tahapan
1.6 Sistematika Penulisan
II TINJAUAN UMUM
2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.2 Keadaan geologi
2.3 Jadwal Waktu Kerja
2.4 Sejarah Perusahaan
2.5 Tahapan Penambangan
2.6 Struktur Organisasi
III PEMBAHASAN
3.1 Genesa Sirtu
3.2 Ekonomi Bahan Galian
3.3 Peralatan Mekanis
3.4 Manajemen Perawatan

IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

II TINJAUAN UMUM
2.1 Lokasi Dan Kesampaian Daerah
Lokasi penambangan PT. Pulau Lemon Manokwari secara administratif
terletak di kampung Maruni, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari,
Provinsi Papua Barat.

Secara geografis daerah praktikum terletak pada koordinat 022349 LS


dan 1404225-140427,26 BT. Dengan batas batas daerah adalah sebagai
berikut:
Sebelah Utara
Sebelah Selatan
Sebalah Barat
Sebelah Timur

: Berbatasan dengan kantor Departemen Pekerjaaan Umum.


: Berbatasan dengan Kampung Dobun.
: Berbatasan dengan Kampung Hingk.
: Berbatasan dengan PT. Fulica.

Gambar 1. Peta lokasi dan Kesampaian daerah.


Untuk mencapai lokasi penambangan, dapat melalui jalan darat sejauh + 20
km dari pusat kota dan dapat ditempuh dalam waktu 35 menit dengan
menggunakan sarana transportasi darat (baik kendaraan roda dua maupun roda
empat).

2.2 Keadaan Geologi


2.2.1 Morfologi
Berdasarkan keadaan reliefnya, secara umum daerah penambangan pada
PT.Pulau Lemon Merupakan daerah berupa dataran yang memiliki ketinggian
rata- rata + 41 m dari permukaan laut.
Pada daerah penambangan dialiri sungai Dobut dan sungai Mansin. Lebar
sungai Dobut + 91.50 m sedangkan sungai Mansim lebarnya + 280 m. Kedua
sungai ini mempunyai pola aliran dan dendritik.

Gambar 2. Morfologi
2.2.2 Litologi
Litologi daerah kerja praktek meliputi endapan Residu berupa material
bongka dan pasir yang merupakan hasil dari proses diagenesa oleh pegunungan
Arfak.

Gambar 3. Litologi

2.2.3 Vegetasi
Vegetasi pada daerah PT. Pulau Lemon sangat beragam, terdiri atas
tumbuhan hijau seperti rerumputan, alang-alang dan didominasi oleh pohon
gersen, cemara, kayu susu dan palem.

Gambar 4. Vegetasi
2.3 Jadwal Waktu Kerja
Waktu kerja yang dijadwalkan pada PT. Pulau Lemon mulai pukul 08.00
17.00 WIT. Dengan pembagian waktu kerja sebagai berikut :
Tabel 1.2. Waktu Kerja PT. Pulau Lemon
Waktu kerja
08.00 12.00

Lama Kerja (jam)


4

Keterangan
Waktu kerja

12.00 13.00

Istirahat

13.00 15.00

Waktu kerja

Jam kerja

8 jam

Tabel waktu kerja diatas berlaku untuk hari kerja yang lain, kecuali hari
jumat. Pada hari jumat jumlah jam kerja hanya 7 jam saja. Jumlah jam istirahat
pada hari ini yaitu 2 jam untuk persiapan sholat jumat sekaligus istirahat siang.

2.4 Sejarah Perusahaan


Pada tanggal 8 Juni 1996 merupakan awal dasar berdirinya CV. Pulau
Lemon, setelah sebelumnya selama 7 Tahun ikut membantu usaha kedua orang
tuanya pada perusahaan PT. Delapan Empat. Usaha pertama yang ditekuni adalah
mengelola perdagangan eceran/ campuran dengan nama Usaha Kios Umega Putra

yang saat itu terletak di Pasar Wosi Manokwari. Setelah usaha tersebut mulai
meningkat, maka pada tanggal 8 maret 1997 berkembang menjadi pengusaha di
bidang kontraktor yaitu CV.Pulau Lemon. Pada tanggal 6 Agustus 1997 usaha
Kios Umega Putra mulai berkembang menjadi Toko Umega Putra yang terletak di
Jl. Pasir No.18 Wosi.
Dengan adanya kemajuan pembangunan dan banyaknya kebutuhan
dibidang transportasi, maka pada tahun 1998 dibukalah usaha Transportasi
angkutan darat yang khusus bergerak dalam bidang Penjualan Material lokal.
Dengan semakin pesatnya kemajuan pembangunan di kota Manokwari yang
secara tidak langsung membuka banyak peluang bisnis baru, yang memberikan
motivasi pada kami untuk mengembangkan usaha kami sebelumnya, maka pada
tahun 2000 kami membeli alat-alat berat seperti Excavator dan Wheel Loader
untuk membantu dan memperlancar usaha-usaha kami dibidang kontraktor
maupun leveransir Material Lokal.
Dengan adanya kepercayaan pemerintah dan Masyarakat Kabupaten
Manokwari kepada kami baik dalam bidang Usaha Perdagangan maupun
kontraktor dengan nama CV. Irma Tiara Putra pada tanggal 24 Juli 2003.
Perusahaan ini kami dirikan dengan pertimbangan untuk menjawab
kebutuhan pemerintah dan masyarakat akan pengembangan pembangunan di kota
Manokwari dengan tetap memegang prinsip bahwa mutu dan hubungan kerja
adalah prioritas pertama bagi perusahaan kami.
Perkembangan fisik serta kemajuan perekonomian yang semakin pesat
khususnya di Kota Manokwari membuat kami berpikir panjang, sehingga
perusahaan yang kami pimpin semakin besar. Untuk itu perusahaan kami yang
sebelumnya masih CV. Maka pada Januari 2007 kami kembangkan menjadi PT.
Pulmon (Perusahaan Terbatas Pulau Lemon).
2.5 Tahapan Penambangan
Adapun tahapan kegiatan penambangan yang dilakukan pada PT. Pulau
Lemon adalah sebagai berikut :
1. Persiapan
Sebelum dilakukannya penambangan perlu dilakukan persiapan dari segi
alat mekanis mulai dari pengecekan alat, pemanasan mesin, dan pengisian bahan
bakar.

2. Penggalian
Penggalian sirtu dilakukan dipantai maruni dengan menggunakan alat
mekanis Back Hoe komatsu PC 200. Material yang telah digali lalu dimuat ke
dalam Dump truck dan Dump Truck membawa material tersebut ke penampungan
sementara ( stock yard).
3. Pemisahan Material
Setelah penggalian, maka dilanjutkan dengan pemisahan material untuk
mendapatkan pasir saring yang digunakan sebagai campuran pembuatan LPA
(Lapisan Atas) maupun LPB (Lapisan Bawah) dengan menggunakan alat grizzly
untuk memisahkan bongkahan material dan pasir. Penggalian dan pemuatan untuk
menumpahkan material ke grizzly menggukan Dump Truck Toyota Dina Hito 125
HT.
4. Pemuatan
Setelah pemisahan material dilakukan, kemudian material di kumpulkan
dan dilakukan pemuatan ke dalam Dump Truck dengan menggunakan Whell
Loader.
5. Pengangkutan
Pada kegiatan pengangkutan, material yang telah dimuat di dalam truck di
bawa ke Jaw Crusher
.
6. Pengolahan
`Sistem pengolahannya, material dimasukan ke Hopper dengan menggunakan
alat mekanis Dump Truck, diteruskan ke Jaw Crusher Primary, untuk di pecahpecahkan lalu ke Belt Conveyor utama dan di teruskan ke Roll Crusher
(Secondary Crusher) 30 % untuk lapisan LPA dan lainnya diangkut langsung
dengan Belt Conveyor menuju Screening 4 deck yang dapat diayak langsung
mengarah ke masing masing fraksi (F2, F3, F4, dan Abu batu)
7. Pemasaran
Hasil dari produksi PT. Pulau Lemon saat ini digunakan untuk pembuatan
jalan raya bintuni.

2.6 Struktur Organisasi PT. Pulau Lemon

DIREKTUR
Hj. Nurjaya

MARKETING
R. Agoeng S.

ADMINISTRASI
1. Ir.H. Budiman
2. Yanti. N (staf

LOGISTIK
Rudi. Selle

Ka. PROYEK
H.Hendra K, ST

BEND.PROYEK
Alfia Dimyati

PERSONALIA
A.Syarkiman, S.os

PENGAWAS UMUM
IGN. Andry S, S.Sos

Ka. PRODUKSI
Haryadi

Ka. BENGKEL
(MEKANIK)
Aan Supendi

KENDARAAN
& ANGKUTAN
Nasaruddin D.

Ka. LABORATORIUM
Agus Kadir, ST.

Gambar 5. Struktur Organisasi PT. Pulau Lemon

10

III PEMBAHASAN
3.1 Genesa Sirtu
Pasir dan batu (sirtu) Merupakan batuan hasil rombakan dari batuan asal yang
tidak terkonsolidasi. Sirtu ini pada umumnya ditemukan pada aliran sungai.
Potensi bahan galian sirtu di daerah ini tersebar dan sebagian telah dimanfaatkan.
Pasir dan batu di daerah ini tersebar, pada umumnya terdapat di aliran sungai dan
sebagian telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Sirtu dapat digunakan
dalam sektor konstruksi, seperti bangunan perumahan, bangunan pertokoan,
bangunan perkantoran, jembatan, dan jalan serta fondasi. Sirtu pantai yaitu sirtu
yang terdapat di beberapa lokasi pantai dan sungai. Beberapa lokasi sirtu yang
terdapat di daerah ini telah di gali oleh penduduk setempat untuk dijadikan
sebagai bahan bangunan.Untuk memenuhi kebutuhan akan sirtu yang makin
meningkat untuk pembangunan di wilayah Kabupaten Manokwari ini dapat
dimanfaatkan sirtu sungai pada lokasi lokasi seperti pada daerah penambangan
PT. Pulau Lemon.
Selain dari sirtu laut dan sirtu sungai, juga dapat dijumpai sirtu darat. Yang
dimaksud dengan sirtu darat disini adalah berupa batuan yang fragmennya terdiri
dari pasir dan fragmen batuan dengan aneka ragam ukuran fragmen yakni dari
ukuran pasir sedang hingga lebih dari 2 mm (granule) dan bahkan pada tempat
tempat tertentu ukuran butirnya mencapai 4,5 mm, merupakan lapisan batuan
sedimen pada Formasi Kananggar yang terdiri dari perselingan batupasir,
batupasir tufaan, napal tufan, tuf dan napal pasiran denga sisipan batugamping.
Pembentukan sirtu diproses oleh hasil letusan gunung api yang telah
mengalami transportasi baik ke arah kaki lerang, maupun terbawa oleh aliran
sungai yamg merupakan material emdapan sungai atau endapan limbah banjir,
serta merupakan batuan hasil rombakan baru batuan asal yang tidak
terkonsolidasi. Selain proses dari hasil letusan gunung api sirtu juga terbantuk dari
hasil erosi batuan beku, batuan metamorf dan batuan sedimen kemudian
mengalami transportasi dan diendapakan pada daerah lembah lembah sungai

11

ataupun daerah daerah seperti di pantai. Bentuk endapan sirtu berupa channel
bar, point bar, endapan dataran banjir, endapan pantai dan konglomerat di daerah
perbukitan.
Sebaran sirtu ini dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :

Sirtu yang sebarannya merupakan produk hasil letusan gunung api,


membentuk medan bergelombang hingga bukit pada kaki lereng gunung
selanjutnya disebut sirtu darat.

Sirtu yang sebannya merupakan hasil transportasi sungai (banjir) yang


diendapakan membentuk dataran banjir, selanjutnya disebut sirtu sungai

(Sumber : Bahan Galian Industry oleh Sukandarrumidi, 1998).


3.1.1 Sistem Penambangan
Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT. Pulau Lemon adalah sistem
tambang terbuka dengan tipe Quarry yang menggunakan metode jalan masuk
langsung ke front penambangan dimana sistem penambangan tersebut
berhubungan langsung dengan udara bebas dan juga endapan bahan galiannya
terletak pada suatu daerah yang relatif mendatar.
3.2 Ekonomi Bahan Galian
PT. Pulau Lemon memiliki luas wilayah 50 HA telah beroperasi sekitar
10 tahun dengan jumlah cadangan bahan baku diatas 20 tahun.
Perusahaan ini mempunyai target produksi pada batu pecah per hari 60 m 3, AMP
(Aspal Macing Plant) maksimalisasi/tergantung order, tapi idealnya 1500
ton/bulan dan Batching Plant maksimalisasi tergantung order dan idealnya 1000
m3/bulan. PT. Pulau Lemon memasarkan materialnya per truck 4,78 m 3 dengan
berbagai ukuran dan harga jual yang berbeda, antara lain:

Pasir saring : Rp. 750.000,


Pasir Kasar : Rp. 650.000,
Pasir Halus : Rp. 500.000,
Batu Kali : Rp. 700.000,
Batu Pecah

F1 : Rp. 325.000,- / m3

F2 : Rp. 335.000,- / m3

F3 : Rp. 345.000,- / m3

F4 : Rp. 355.000,- / m3

Abu Batu : Rp. 360.000,- / m3

12

Untuk Batching Plant

K 250
K 300
K 350

: Rp. 1.850.000,- / m3
: Rp. 1.950.000,- / m3
: Rp. 2.150.000,- / m3

3.3 Peralatan Mekanis


Adapun peralatan mekanis yang diamati dan diteliti dalam kesempatan
praktikum di PT. Pulau Lemon ini adalah sebagai berikut :
3.3.1 Alat Gali
Pembongkaran atau pemberaian (loosening, breaking) adalah serangkaian
pekerjaan yang dilakukan untuk membebaskan batuan atau endapan dari batuan
induknya yang

massive (keras/kompak). Untuk melakukan pembongkaran

tersebut diperlukan alat-alat yang tepat dan sesuai. Pemilihan alat-alat tersebut
tergantung dari faktor-faktor :
Teknis, misalnya : jenis, kekerasan, serta lokasi batuan dan pemanfaatan
hasil pembongkaran dan harga atau nilai batuan.
Ekonomis, misalnya : harga dari alat-alat untuk pembongkaran
Lingkungan hidup, misalnya : dipilh alat yang sedikit menimbulkan debu
dan polusi udara dan air.
Beberapa alat yang digunakan untuk pembongkaran batuan atau endapan bijih
(alat gali) adalah sebagai berikut :
1. Back hoe
2. Power shovel
3. Bucket wheel excavator
4. Hydroulic shovel
5. Dragline
6. Kapal Keruk, dll.
Pada perusahaan penambangan bahan galian sirtu,

PT. Pulau Lemon

menggunakan Backhoe dengan merk Caterpilar tipe 320D dan merk Komatsu tipe
PC 200 sebagai alat gali dalam penambangan sirtu tersebut dengan jumlah 57
unit.

13

Back hoe adalah alat penggali yang cocok untuk menggali parit atau
saluran-saluran. Gerakan bucket atau dipper dari back hoe pada saat menggali
arahnya adalah ke arah dari badan (body) back hoe sendiri. Jadi tidak seperti
Power shovel, dimana arah penggaliannya menjauhi badan Power shovel. Back
hoe melakukan penggalian (cutting) dengan menempatkan dirinya diatas jenjang
(bench). Setelah dipper terisi penuh, boom diangkat kemudian memutar (swing)
kearah truck yang telah berada pada posisi untuk dimuati dan dipper
menumpahkan hasil galiannya pada back truck ( dump to truck )
Dilihat dari jumlah penempatan posisi truck untuk dimuati terhadap posisi
Back hoe, maka ada tiga pola yaitu :
1. Single Back Up, yaitu truck memposisikan untuk dimuat kesuatu tempat
2. Double Back Up, yaitu truck memposisikan untuk dimuati pada dua tempat
3. Triple Back Up, yaitu truck memposisikan untuk dimuati pada tiga tempat.
Posisi truck untuk dimuati hasil galian back hoe diatas jenjang; truck berada
di bawah.
Adapun Siklus kerja back hoe yaitu :
- Mengisi bucket (Menggali)
- Mengayun atau swing isi
- Menumpah muatan atau dumping
- Mengayun balik atau swing kosong
Empat gerakan dasar diatas akan menentukan lama waktu siklus tetapi
waktu siklus ini juga tergantung dari ukuran backhoe. Back hoe yang kecil waktu
siklusnya akan lebih cepat daripada backhoe yang besar dan tentu saja kondisi
kerja yang berpengaruh.

Gambar 6. Spesifikasi Back Hoe

14

Keterangan :
1. Bucket
2. Hidrolic
3. Broce
4. Moise cable
5. Boom
6. Gontry
7. Cabin
8. Engine
9. Crawler
Pola Muat
Cara pemuatan material oleh alat muat ke dalam alat angkut ditentukan
oleh kedudukan alat muat terhadap material dan alat angkut, apakah
kedudukan alat muat tersebut berada lebih tinggi atau kedudukan keduaduanya sama tinggi.
1. Top Loading
Kedudukan alat muat lebih tinggi dari bak truk jungkit (alat muat
berada di atas tumpukan material atau berada di atas jenjang). Cara ini hanya
dipakai pada alat muat Back hoe. Selainn itu operator lebih leluasa untuk
melihat bak dan menempatkan material.

Gambar 7. Pola Pemuatan Top Loading


2. Bottom Loading

15

Ketinggian atau letak alat angkut dan truk jungkit adalah sama. Cara ini
dipakai pada alat muat Power shovel.

Gambar 8. Pola Pemuatan Bottom Loading


Berdasarkan dari posisi alat muat terhadap front penggalian dan posisi
alat angkut terhadap alat muat. Berdasar posisi pemuatan ini dapat dibedakan
menjadi tiga cara yaitu :
1. Frontal Cuts
Alat muat berhadapan dengan muka jenjang atau front penggalian dan
mulai menggali ke depan dan samping alat muat. Dalam hal ini digunakan
double spotting dalam penempatan posisi truk. Alat muat memuat pertama
kali pada truk sebelah kanan sampai penuh dan berangkat, setelah itu
dilanjutkan pada truk sebelah kiri.

Gambar 9. Pola Pemuatan Frontal Cuts


2. Parallel Cut With drive-by

16

Alat muat bergerak melintang dan sejajar dengan front penggalian.


Pada metode ini, akses untuk alat angkut harus tersedia dari dua arah.
Walaupun sudut putar rata-rata lebih besar daripada frontal cut, truk tidak
perlu membelakangi alat muat dan spotting lebih mudah (Gambar 3.5).

Gambar 10. Pola Pemuatan Parallel Cut With drive-by


3. Parallel cut with turn and back
Parallel cut with turn and back terdiri dari dua metode, yaitu:
- Single Spotting / Single Truck Back Up
Pada cara ini truk kedua menunggu selagi alat muat mengisi truk pertama,
setelah truk pertama berangkat, truk kedua berputar dan mundur, saat truk kedua
diisi,

truk

ketiga

datang

dan

melakukan

manuver,

dan seterusnya

(Gambar 11).
- Double Spotting / Double Truck Back Up
Pada cara ini truk memutar dan mundur ke salah satu sisi alat muat pada waktu
alat muat mengisi truk pertama. Setelah truk pertama berangkat, alat muat mengisi
truk kedua. Ketika truk kedua dimuati, truk ketiga datang dan langsung berputar
dan mundur kearah alat muat, begitu pula seterusnya (Gambar 12).

17

Gambar 11. Single Spotting / Single Truck Back Up

Gambar 12. Double Spotting / Double Truck Back Up


3.3.2

Alat Muat
Salah satu tolak ukur yang dapat dipakai untuk mengetahui baik

buruknya hasil kerja (keberhasilan) suatu alat pemindahan tanah mekanis


termasuk alat-alat muat adalah besarnya produksi yang dapat dicapai oleh alat
tersebut. Oleh sebab itu usaha dan upaya untuk dapat mencapai produksi yang
tinggi selalu menjadi perhatian yang khusus (serious).
Untuk pengambilan dan pemuatan material ke atas alat angkut (lori,
truck,dsb) dipergunakan alat-alat muat yang sangat banyak macammacamnya, karena keadaan lapangan kerjanyapun sangat bermacam-macam.
Yang sudah dikenal sampai saat ini adalah :
1. Power shovel
2. Dragline
3. Back hoe

18

4. Wheel loader
5. Track loader/shovel loader
6. Hydroulic shovel
7. Bucket wheel excavator
8. Clamshell/grab bucket
9. Overhead shovel loader
10. Continuous loader
Untuk pengambilan dan pemuatan material ke atas alat angkut (truck,
dump truck), PT. Pulau Lemon menggunakan alat muat yaitu Whell loader
dengan merk Komatsu tipe WA 350 dengan jumlah 7 unit.
Whell loader adalah salah satu alat muat yang kini banyak dipergunakan
karena gerakkannya gesit dan lincah. Tetapi bila dipergunakan untuk
menangani di daerah yang berlumpur atau di daerah yang berbatu tajam,
misalnya di (quarry) batu andesit,

maka sebaiknya roda-roda karetnya

dilindungi dengan rantai baja (steel beads).


Sebuah mangkuk (bucket) dipergunakan untuk menggali, mengangkat,
dan mengangkut ke suatu tempat yang tak jauh atau langsung dimuatkan ke
alat-alat angkut yang letaknya sama tinggi dengan tempat whell loader
bekerja. Daya jangkau mangkuknya sangat terbatas, artinya tidak terlalu
tinggi.
Untuk menggerakkan mangkuknya (bucket) whell loader yang modern
mempergunakan tenaga hydroulic. Tenaga gali pada keadaan horizontal,
yaitu mangkuk tidak diangkat didapat dari gerakan maju prime mover-nya,
sehingga lengan-lengan mangkuk yang digerakkan dengan tenaga hydroulic
hanya mempunyai fungsi untuk menggerakkan mangkuk ke atas dan ke
bawah saja.
Adapun Siklus kerja Whell Loader yaitu :
- Maju
- Memuat Material
- Mencari Posisi untuk menumpahkan material atau manufer
- Menumpah material
- Mundur
Untuk menggali, maka mangkuk harus didorong kearah permukaaan
kerja. Jika mangkuk telah penuh primemover mundur dan mangkuk
diangkat ke atas untuk selanjutnya material diangkut ke suatu tempat

19

penimbunan atau dimuatkan keatas alat angkut. Bila gerakan pemuatan itu
merupakan huruf V, maka cara pemuatan itu disebut V-shape loading.
Cara pemuatan yang lain disebut cross loading, yaitu bila gerakan Whell
loader hanya maju mundur, sedangkan gerakan truknya juga maju mundur
tetapi memotong gerakan Whell loader.

Gambar 13. Cara Pemuatan Whell Loader


Kelebihan dan kekurangan Whell loader :
1. Dalam operasinya, antara posisi muat dan posisi membongkar, Whell
loader biasanya memerlukan jarak untuk mengolah gerak (manufer), jika
jarak tersebut terbatas,akan menimbulkan persoalan. Untuk jarak yang
terbatas ini, Trak loaderlebih cocok digunakan, karena alat muat jenis ini
mampu berputar dengan jari-jari yang kecil.
2. Whell loader dipergunakan dengan maksud agar lebih berdaya guna
dalam masalah pembersihan lapangan,

karena buldozer hanya dapat

mendorong material dan kelebihan materialnya akan tercecer kesisi-sisi


belahnya.
3. Dibandingkan dengan Power shovel, maka Whell loader mempunyai
kelebihan dalam memuat material hasil peledakan, karena bom yang
panjang mengakibatkan Power shovel sulit untuk bergerak ke tempattempat yang kurang lebar.
4. Dibandingkan dengan Trak loader, maka wheel loader lebih lincah dan
gesit dan dapat melakukan olah gerak dengan lebih naik pada kondisi
lapangan kerja yang sama.

20

9
1
2

6
8
7

10

1
3

Gambar 14. Spesifikasi Whell Loader


Keterangan :
1. Bucket Teeth
2. Bucket
3. Articulating Hinge Point
4. Whell/ban Karet
5. Engine
6. Cabin
7. Bucket Cylinde
8. Beferank
9. Lift Arm
10 Lift Cylinders
3.3.3

Alat Angkut

Alat angkut merupakan alat yang digunakan untuk mengangkut/ memindahkan


material bahan galian menuju tempat yang sudah ditentukan.
Ada beberapa alat angkut yang digunakan dalam dunia pertambangan,
antara lain yaitu :
1. Truck
2. Belt Conveyor
3. Pipa dan Pompa
4. Cable Way
5. Lori dan Lokomotif

21

Untuk Mengangkut material dari tempat penggalian maupun dari stock yard
ke tempat pengolahan PT. Pulau Lemon menggunakan Dump Truck dengan type
Toyota Dina Hito 125 HT dan 500 HT ( untuk mengangkut Aspal) dengan jumlah
alat angkut 125 Unit.
Dump truck adalah alat angkut yang memiliki kemampuan bergerak cepat,
kapasitas besar dan biaya operasinya relatif murah, dan dapat menyesuaikan
dengan alat mekanis yang lainnya. Pemilihan jenis dump truck dapat dipengaruhi
oleh berbagai hal, diantaranya dari segi biaya, produksi dan alat jenis alat gali
muat yang digunakan serta kondisi tempat kerja.Truck atau dump truck dipakai
untuk memuat tanah, agregat (bongkahan-bongkahan), batuan (rock), bijih
(ore), batubara (coal), dan material-material lain.
Adapun Siklus kerja Dump Truck, antara lain:
-

Mengisi Material

Mengangkut

Mencari posisi yang pas untuk menumpahkan material( Manufer 1)

Menumpah

Kembali Kosong

Manufer 2 untuk mengisi material.


Alat angkut ini dibuat untuk mengangkut material dengan keuntungan

sebagai berikut :
a. capacity yang cukup besar
b. Kecepatan yang cukup tinggi
c. Ongkos angkut yang rendah
d. High degree of flexibility
Hampir semua jenis truckmembutuhkan kondisi jalan yang firn dan smooth
dengan tanjakan (grade) yang tidak terlalu curam untuk dapat beroperasi dengan
baik.
Ada beberapa jenis truck dengan ukuran sedemikian rupa sehingga tidak
boleh berjalan pada jalan raya yang besar. Biasanya truck dengan ukuran
demikian digunakan untuk :
a. Mengangkut material dengan tonnage yang besar.

22

b. Pada proyek pemindahan tanah mekanis yang besar.


c. Apabila diingnkan penghematan ongkos angkut.
Jenis-jenis truck didasarkan pada :
Ukuran dan tipe mesinnya : gasoline, diesel, butane, propane
Jumlah gear yang dimiliki
Jumlah roda yang langsung digerakkan mesin (kind of drive) : two wheel,
four wheel, six wheel
Jumlah susunan sumbu dan roda penggerakknya : sungle, axle dual wheel
Metode penumpahan muatan : rear dump, side dump
Macam material yang diangkut : earth, rock, coal, ore
Kapasitas truck (dinyatakan dalam ton atau cu yd)
Sumber tenaga gerak (macam mekanisme) untuk penumpahan muatan
pada rear dump : hydraulic, cable.
Pembagian jenis dump truck dapat dibedakan atas beberapa hal, antara lain :
1. Berdasarkan roda penggeraknya, dump truck dibedakan menjadi 4 macam,
yaitu :
Front wheel drive dump truck, yaitu dump truck dengan roda depan
sebagai pengerak utamanya. Dump truck jenis ini lambat dan lekas aus
bannya.
Rear wheel drive dump truck, yaitu dump truck dengan roda belakang
sebagai penggerak utamanya.
Four wheel drive dump truck, yaitu dump truck jenis ini menggunakan
roda depan dan belakang sebagai penggeraknya.
Double rear wheel drive dump truck, yaitu dump truck jenis rear wheel
drive yang memiliki jumlah roda belakang dua kali lipat.
2. Berdasarkan cara dumping atau cara membuang muatannya, dump truck
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
Dump truck metode dumping End dump, yaitu dump truck dengan cara
dumping ke belakang.
Dump truck metode dumping Side dump, yaitu dump truck dengan cara
dumping ke samping.
Adapun contoh macam-macam truck adalah :

23

Single-axle dual wheel rear-dump truck


Axle rear dump
Axle bottom dump

Gambar 15. Spesifikasi Dump Truck

Keterangan:
1. Pompa hydroulic, berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan bak
2. Bak, berfungsi sebagai tempat penampung material
3. Cabin, berfungsi sebagai tempat operator
4. Mesin, berfungsi sebagai motor penggerak
5. Ban, disesuaikan dengan jenis truck yang digunakan
6. Tangki, berfungsi sebagai tempat bahan bakar
7. Chasis, berfungsi sebagai rangka truck
Keuntungan memakai truck berkapasitas kecil :
Lebih fleksibel dalam manufer yang akan sangat menguntungkan pada
jarak angkut yang pendek
Biasanya mempunyai kecepatan yang lebih tinggi
Pengaruh menurunnya produksi yang diangkut oleh armada truck ini
sangat kecil apabila ada kerusakan pada salah satu truck di jalan

24

Lebih mudah menyeimbangkan banyaknya truck dengan out put dari


excavator,

sehingga akan mengurangi waktu tunggu dari truck atau

excavator.
Kerugian memakai truck berkapasitas kecil :
Akan mempersulit alat gali excavator untuk memuatkan muatan material
pada truck
Waktu penempatan truck akan banyak yang hilang karena jumlah truck
yang digunakan lebih banyak
Dibutuhkan lebih banyak operator
Karena jumlah truck yang banyak akan mengakibatkan cepat rusaknya
jalan disekitar pit atau sepanjang jalan angkut. Selain itu kemungkinan
terjadinya tabrakan akan semakin besar
Penanaman modal pada peralatan pengangkutan akan lebih besar karena
jumlah truck lebih banyak. Selain itu biaya perawatan, reparasi, dan
penyediaan stock suku cadang akan lebih besar.

Keuntungan memakai truck yang berkapasitas besar :


Jumlah truck yang dipergunakan dalam armada angkut akan lebih kecil,
dengan

demikian

akan

memperkecil

investasi

total

pada

unit

pengangkutan, dan akan mengurangi biaya perawatan dan reparasi


Dibutuhkan operator (driver) yang lebih sedikit
Karena

jumlah

truck

sedikit

maka

akan

memudahkan

untuk

mensinkronkan dengan excavating equipment, selain itu resiko tabrakan


akan semakin kecil khususunya pada ling haul
Truck kapasitas besar akan memperbesar target pemuatan excavator
Truck ukuran besar memperkecil frekuensi spotting
Biasanya mesin menggunakan bahan bakar yang lebih sedikit.
Kerugian memakai truck yang berkapasitas besar :

25

Waktu yang dibutuhkan oleh excavator untuk memuatkan material pada


truck ini lebih lama (khususnya untuk small excavator)
Memperbesar ongkos pemeliharaan jalan angkut, sebab pemuatan yang
besar dan berat akan lebih cepat merusakkan jalan angkut
Lebih sukar dalam penyeimbangan antara jumlah truck dengan out put dari
excavator
Suku cadang mungkin lebih sukar didapatkan di pasaran
Akan lebih sulit membawa truck ini ke jalan raya karena harus ada izin
dari instansi terkat (DLLAJR).
Produksi atau jumlah material yang dapat diangkut oleh truck tergantung dari:
Luas bak
Kemampuan kerja mesin
Jenis roda yang digunakan
Jenis truck yang digunakan
Jalan yang dilalui
Pengemudi (driver)

3.4 Manajemen Perawatan


Tujuan utama dari perawatan adalah untuk mengoptimumkan kemampuan
alat dengan biaya yang minimum dan tanpa mengabaikan faktor keamanan dan
efisiensi energi yang tinggi juga pengaruhnya terhadap profit keseluruhan. Dari
seluruh

tahapan

manajemen

peralatan,

manajemen

perawatan

peralatan

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keuntungan perusahaan.


Dalam

manajemen

perawatan

terdapat

(enam)

metode

utama

(CAT Equipment management system), yaitu :


A. Perawatan Preventif (preventive management)
Tujuan dari perawatan preventif adalah mempertahankan agar peralatan
tetap dalam unjuk kerja yang terbaik. Dari 7 metode manajemen perawatan
peralatan, preventif merupakan metode yang mempunyai cost-effective paling

26

besar.Perawatan ini dilakukan setiap 250 jam atau 2 bulan untuk semua alat
mekanis. Perawatan yang dilakukan adalah pemeriksaan oli hidrolit dan oli mesin
serta perawatan untuk baut-baut yang longgar.
B. Sampling oli secara terjadwal (scheduled oil sampling, S-O-S)
Tujuan dari sampling oli secara terjadwal adalah untuk mengetahui kondisi
mesin suatu peralatan. Pada PT. Pulau Lemon dilakukan setiap 250 jam paling
lambat tergantung medan kerja, jika medan kerjanya pada daerah yang berair
maka penggantian oli akan dilakukan lebih awal dari yang sudah dijadwalkan
untuk mencegah kerusakan. Untuk Back Hoe PC 200 dilakukan penggantian injek
sepan dan

nosel (busi), Back Hoe PC 320 dilakukan penggantian injektor

elektrik. Penggantian ini dilakukan 4 tahun tergantung bahan bakar kalau haus.
C. Inspeksi periodic (inspections)
Tujuan dari inspeksi periodic adalah mendeteksi permasalahan yang
potensial sebelum terjadi kerusakan fatal. Untuk inspeksi periodic dilakukan tiap
bulanan, triwulan, dan semester.
D. Pelatihan (training)
Tujuan dari pelatihan adalah membantu karyawan dalam mengembangkan
kebiasaan kerja yang lebih baik, mempertahankan dan meningkatkan keterampilan
karyawan dalam mengoperasikan peralatan. Keuntungan dari adanya pelatihan
adalah mengurangi resiko kerusakan mesin akibat pola kerja yang tidak benar.
Pada PT. Pulau lemon pelatihan dilakukan setiap 6 bulan kepada karyawan yang
terlibat langsung pada proses produksi dan pembengkelan.
E. Manajemen perbaikan (repair management)
Tujuan utama dari menejemen perbaikan adalah untuk mengontrol biaya
perbaikan dan mengurangi biaya downtime dan perawatan. Manajemen perawatan
meliputi dua bentuk, yaitu perbaikan sebelum kerusakan dan perbaikan setelah
kerusakan. Dengan adanya perbaikan sebelum terjadi kerusakan maka : akan
mengurangi terjadinya kemungkinan kerusakan fatal mesin dan komponennya,
menghemat biaya perbaikan, dapat merencanakan downtime mesin. Sedangkan
dengan adanya perbaikan peralatan setelah terjadi kerusakan mak mesin dapat
bekerja segera mungkin.

27

F. Penyimpanan catatan (record keeping)


Tujuan

dari

penyimpanan

catatan

adalah

memudahkan

untuk

memperoleh informasi histories dari suatu mesin. Untuk PT. Pulau Lemon
penyimpanan catatan perawatan dilakukan untuk tiap divisi yang ada.

28