Anda di halaman 1dari 4

Bahasa Cinta

“Aku dah nyampe nih di Jakarta!’ seru gadis itu pada handphonenya atau lebih
tepatnya pada pria yang diteleponnya. “Ya udah kita ketemu di tempat biasa aja “
seru suara dari handphone. Suara laki-laki yang renyah dan tenang membuat sang
gadis tersenyum lega setiap kali mendengar suara itu.

Dia merapatkan mobilnya di parkiran dengan dipandu tukang parkir berseragam


oranye. Dan dia melihatnya, sang pria sedang menunggunya sambil bersandar di
mobil sedan kesayangannya sendiri. Dihampirinya sang gadis ketika baru turun dari
mobil dan sambil tersenyum memegang tangannya.

Mereka memilih duduk di meja sebuah kafe paling pinggir pantai kota itu. Seraya
memesan dua jeruk hangat pada sang pelayan sang gadis bertanya pelan “Kamu
ga sibuk? Apa ga ada schedule yang harus dikerjakan?” tanyanya pelan sambil
menyembunyikan wajahnya yang berharap agar sang pria mengatakan bahwa dia
memang sedang bebas hari ini. Betapa kuatnya keinginan sang gadis untuk
menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya itu namun mengingat ia tidak
ingin merepotkan lelaki yang dicintainya itu ia berusaha bersikap wajar. Mendengar
pertanyaan ini sang lelaki hanya tertsenyum ringan seperti biasanya. Senyuman
yang dewasa sambil sedikit tertawa kecil menimbulkan kemisteriusan dan kelegaan
pada lawan bicaranya. “Aku serius ..!” ucap sang gadis pelan tapi sedikit menekan
namun lelaki itu memotong perkataan sang gadis dengan menempelkan
telunjuknya pada bibirnya sendiri meminta sang gadis untuk diam dan mendengar
”Coba deh, dengar ombaknya, dan rasain deru anginnya, nyaman.. sekali…” ucap
laki-laki itu dengan tenang sambil memejamkan matanya seolah-olah sangat
menikmati suasana pantai itu. Sang gadispun tidak berkata apa-apa dia malah ikut
memejamkan matanya mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh lelaki
dihadapannya itu, mencoba merasakan hembuasan angin pantai dan deburan
ombak yang yang telah membuai lelaki dihadapannya. Sang gadis melepas
pikirannya, memanjakan indranya dan menenggelamkannya di suasana pantai itu,
berusaha mencium asin laut yang lemah dan menikmati kerasnya deburan ombak
yang menghantam karang.

Alih-alih menikmati suasana pantai, sang lelaki malah membuka matanya dan
malah memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang ada di hadapannya.
Dipandanginya lekat-lekat mata yang terpejam itu, diperhatikannya semburat pink
putih yang keluar dari kulit wajah gadis itu dan dinikmatinya melihat bibir cantik
yang basah itu. Semua yang benar-benar ingin dia miliki…

Sang gadispun sadar bahwa dia sedang diperhatikan, cepat-cepat membuka


matanya dan merasa sedikit salah tingkah karena diperhatikan oleh lelaki yang ia
cintai dengan sepenuh hatinya itu. “Apa ada yang salah..?!” tanyanya
kebingungan.”He.. he.. ga ada kok” ucap laki-laki itu lagi-lagi sambil tertawa ringan
khas miliknya “Aku cuman ingin nikmatin wajah kamu aja, kita kan sudah lama ga
ketemu” ucapnya terus terang dengan gayanya yang dewasa namun meskipun
begitu masih dapat terdengar nada kerinduan yang berusaha dipendamnya.
Semburat merah mewarnai wajah sang gadis yang cepat-cepat dipadamkannya.
Licik sekali pikirnya, laki-laki ini, yang umurnya beberapa tahun lebih tua dan
memang dianugrahi kedewasaan yang cukup tinggi oleh Tuhan, dia dapat berkata
terus terang tentang apa yang dipikirkannya dan mengatakannya dengan penuh
kematangan. Namun meski terpojok oleh rasa kekanak-kanakannya sang gadispun
tak bisa menolak hadiah yang diberikan oleh Tuhan ini.

Kedewasaan inilah yang membuatnya tetap diam dan terus menatap laki-laki itu,
kedewasaan inilah yang membuatnya bertahan untuk terus mendampingi dan
selalu mempercayai laki-laki dihadapannya dengan penuh kasih sayang dan
segenap cinta yang dimilikinya. Namun itu hanyalah pikiran sang gadis. Tahukah
sang gadis tentang apa yang selalu dipikirkan oleh pria dihadapannya.? Tahukah ia
betapa inginnya laki-laki itu memeluk dirinya setiap kali bertemu dengannya?
Tahukah ia betapa inginnya laki-laki itu untuk terus berada di sampingnya dan
melindunginya? Dan tahukah sang gadis betapa kacau dan galaunya hati sang laki-
laki ketika melihat setitik air mata jatuh dari pipi putih pink yang lembut itu?
Tahukah sang gadis betapa berusahanya sang pria menahan hasratnya yang penuh
cinta itu untuk tetap menghormati dan menjaga kesucian seutuhnya dari makhluk
terindah yang kini ada dihadapannya..? Tahukah sang gadis betapa berharganya
dirinya bagi pria itu..?

“Kita ke pantai yuk!” ucap sang gadis tiba-tiba dengan nadanya yang riang dan
pelan dan disambut dengan anggukan setuju dari pria itu.

Mereka berjalan menyisiri pinggir pantai, membiarkan ombak-ombak kecil menjilati


jari-jari kaki mereka dan sesekali ketika ombak yang agak besar datang sang gadis
berusaha mengelak dengan memegang tangan pria yang berjalan di sampingnya
dan pria itu membiarkan kelembutan yang hangat yang datang dari jemari sang
gadis menyambarnya dan bahkan berusaha menggenggam kehangatan nan lembut
itu.

Senja semakin memunculkan keberadaanya dan ombak pantai tidak sejinak siang
sebelumnya. Ombak yang mulai sedikit membesar itu membuat sang gadis
berusaha mengelaknya kuat-kuat, takut kalau-kalau bajunya basah oleh ombak. Dia
menghindari ombak itu sambil menghadap kepada dada pria itu dan tak sengaja
memeluk tubuh tegap namun penuh kehangatan yang ada di hadapannya itu. Sang
gadispun buru-buru berbalik kembali untuk melepaskan diri dari pelukan sang pria
namun sang pria tidak mau meregangkan tangannya yang melingkari pinggang
sang gadis. “Ehh…” sang gadis kebingungan dan semburat merah kembali
menghiasi wajahnya. “Takkan kulepaskan” seru laki-laki itu pelan “Cium dulu baru
aku lepas “ sambung laki-laki itu “Haa..hh!? jangan main-main Noe, malu ah, lepas
dong ” pinta gadis itu. Mereka memang sudah berhubungan selama dua tahun dan
itu murni tanpa satu ciuman apapun itu bentuknya dan bahkan pelukanpun adalah
hal yang tabu bagi hubungan mereka ini. “Tak adil jika orang lain dapat bersama
dirimu setiap waktu tapi aku yang kekasihmu ini hanya dapat sesekali bertemu. Aku
iri dengan mereka .” ucap laki-laki itu tiba-tiba. Selain perbedaan jarak antara
mereka (Jakarta-Bandung), keduanya pun sangat sibuk dengan jadwalnya masing-
masing. Sang gadis yang merupakan seorang mahasiswi kedokteran dan sang pria
yang harus pergi ke berbagai tempat bahkan kadang-kadang ke luar negri karena
tuntutan pekerjaannya. Namun kepercayaan dan cinta diantara mereka berhasil
membuat hubungan itu tetap bertahan dengan manis. Tiba-tiba laki-laki itu kembali
berbicara “lagipula.. ini kan hari ulang tahunku, kau ingat kamarin kau bertanya
padaku apa yang kuinginkan di hari ultahku? Well aku ingin hadiah yang manis..”
nada suaranya kini penuh harap dan manja seperti anak-anak meski dengan sedikit
kedewasaan yang merupakan bawaannya. Sang gadis bingung harus bagaimana
namun bukan sekedar tak ingin mengecewakan lelaki yang ada di hadapannya,
sang gadispun ingin sekali merasakan hal yang sama. Ingin menyentuh wajah yang
dewasa dan manis itu, ingin merasakan desahan nafas yang mengiring detak
jantung pria itu dan ingin menyentuh kelembutan dan kehangatan bibir pria yang
ada dihadapannya itu.

Sang pria mengangkat tangannya dan mengeluskannya lembut di pipi putih itu,
mereka saling mendekat, makin dekat dan kemudian saling memejamkan mata
dan.. bibir keduanya bertemu.. semua yang mereka pikirkan menjadi melambung,
kedua bibir itu semakin lama semakin lekat, mencoba menyampaikan segenap
cinta yang dimiliki melalui garis merah tipis itu yang kian lama makin melekat
tercampur cinta dan hasrat, ditemani buaian kehangatan dari tubuh masing-masing
dan sambil mata keduanya terus terpejam, menyempurnakan kenikmatan nan
manis ini.

Angin senja terasa dingin menerpa ketika mereka sudah saling melepaskan diri.
Dalam diam mereka saling menatap, mencoba mengartikan apa yang baru saja
terjadi dengan logika mereka namun mereka akhirnya menyerahkannya pada
hasrat dan cinta yang mereka miliki yang ikut mewarnai jingganya senja sore itu.

Langit sudah mulai gelap dan dengan bahasa tubuh berupa anggukan dari sang pria
mereka memutuskan untuk meninggalkan pantai itu karena dinginnya malam juga
sudah mulai menggigit tubuh kedua insan yang masih di mabuk cinta ini. Semburat
merah terus menghiasi wajah sang gadis karena tangannya digenggam erat-erat
oleh pria yang berjalan disampingnya. Dan sang priapun semakin erat
menggenggam tangan itu , seakan-akan tidak akan pernah melepaskannya, tidak
setelah dia semakin yakin bahwa dia sangat menginginkan wanita yang ada
disampingnya. Tidak hanya tubuh, mata, bibir ,dan rambutnya tapi juga cinta dan
hati sang wanita. Keinginan untuk memonopolinya, memilikinya, mendapatkan
seluruh perhatiannya dan memiliki sang wanita seutuhnya menjadi semakin besar
dari sebelumnya. Juga keinginan untuk menjadikan sang wanita untuk
menemaninya sepanjang hidupnya.
By:Sabrangmowo