Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

Identitas pasien
Nama

: Nn. J

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 29 tahun

Alamat

: Sintung

Status perkawinan

: Belum kawin

Pekerjaan

: Swasta

Tanggal MRS

: 15 Desember 2014

Tanggal pemeriksaan

: 16 Desember 2014

II.

Keluhan utama
Benjolan pada payudara kanan dan kiri

III.

Anamnesis
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara kanan dan kiri,
berjumlah 2 buah sejak 1 bulan yang lalu, 1 buah pada payudara kiri pada arah
jam 11 dan 1 buah juga pada payudara kanan di arah jam 5. awalnya benjolan
dirasakan kecil, kemudian semakin lama bertambah besar, benjolan dapat
digerakkan. Pasien juga merasakan benjolan pada payudara kiri nyeri ketika di
tekan, nyeri tidak dipengaruhi oleh siklus haid. Tidak ada pembengkakan pada
payudara. Keluhan demam, sakit kepala, sesak, mual, muntah dan penurunan berat
badan disangkal. Pasien juga tidak mengeluhkan benjolan dibagian tubuh lainnya.
Riwayat keluar cairan dari puting payudara kiri disangkal. Riwayat datang bulan
pertama kali sekitar umur 11 tahun. Riwayat radiasi pada daerah dinding dada
disangkal.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Riwayat batuk dalam
jangka waktu yang lama (-). Riwayat konsumsi obat-obatan (-). Riwayat radiasi
(-).

Riwayat penyakit keluarga :


Saudara sepupu pasien menderita kanker payudara.
Riwayat alergi : Pasein mengaku tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan
tertentu ataupun makanan
Riwayat pribadi dan sosial :
Pasien belum pernah menikah dan tinggal bersama kedua orangtuanya.
IV.

Pemeriksaan Fisik General


Tanda vital

Keadaan umum : baik

Kesadaran

: compos mentis

TD

: 120/80 mmHg

Nadi

: 86 x/menit

Respirasi

: 22x/menit

Suhu aksila

: 36,3C

Pemeriksaan fisik umum


Kepala Leher
mKepala : Normochepali, deformitas (-)
Mata

: Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), pupil isokor,


refleks pupil (+/+)

THT

: Rhonirea (-), polip (-), othorea (-)

Leher

: Massa (-), pembesaran KGB (-)

Thoraks
Paru
Inspeksi : bentuk simetris, ukuran normal, pergerakan dinding dada
simetris, pelebaran sela iga (-), retraksi sela iga (-), penggunaan otot
bantu nafas (-)
Palpasi : pergerakan dan fremitus raba simetris
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi : tak tampak iktus kordis
Palpasi : iktus kordis teraba
Perkusi :- batas kanan jantung : SIC II linea parasternal dekstra
- batas kiri jantung : SIC V linea midklavikula sinistra
Auskultasi : S1S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : kulit tampak normal, distensi (-), luka operasi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani pada semua lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan (-), hepar & lien tidak teraba
Extremitas
Ekstremitas atas: akral hangat (+/+), edema (-/-), pembesaran KGB (-/-)
Ekstremitas bawah:

hangat (+/+), edema (-/-)

Pemeriksaan fisik lokal

Pemeriksaan/regio
Inspeksi

Mammae dekstra
Mammae sinistra
Warna kulit mammae sama seperti warna kulit sekitar, kedua
payudara tampak simetris, tak tampak adanya massa, cekungan
atau dimpling mamae tidak ada, retraksi atau cekungan papilla
mammae tidak ada, pengeluaran discharge secara spontan tidak

Palpasi

ada.
Teraba 3 buah massa pada Teraba

sebuah

kuadran inferiormedial, dan kuadran

superomedial,

massa

pada
bentuk

medial, bentuk bulat lonjong, bulat lonjong, ukuran 2x1 cm,


ukuran

4x3,

permukaannya
konsistensi

1x1 permukaannya licin, konsistensi


licin, lunak kenyal, mobile, berbatas

lunak

kenyal, tegas,

nyeri

tekan

(+).

mobile, berbatas tegas, nyeri pengeluaran discharge tidak ada.


tekan
discharge

(-).

pengeluaran Pembesaran KGB aksila (-)


tidak

ada.

Pembesaran KGB aksila (-)


3

Pemeriksaan Laboratorium
-

WBC : 5320

RBC

: 4.710.000

HB

: 12,1

HCT

: 39,2 %

PLT

: 226000

CT

: 8 menit 24 detik

BT

: 1 menit 40 detik

Pemeriksaan USG
Mammae kanan :
-

Kutis dan subkutis normal

Jaringan fibroglanduler normal

Ligamentum couperi normal

Tampak massa padat oval, batas tegas, tepi reguler wither than taller
dijam 05.00, 5 cm dari papila ukuran sekitar 5,6 x 1,1 cm dan di jam
03.00, 3 cm dari papila ukuran 2,1 x 0,9 cm

Mammae Kiri
-

Kutis dan subkutis normal

Jaringan fibroglanduler normal

Ligamentum couperi normal

Tampak massa padat oval, batas tegas, tepi reguler wither than taller
dijam dijam 10.00, 1 cm dari papila ukuran sekitar 2,5 x 0,8 cm dan di
jam 11.00, 4 cm dari papila ukuran 1,7 x 0,9 cm

Tak tampak limfadenopati regio aksila kanan dan kiri


Kesan
-

Fam pada mammae kanan dijam 05.00, 5 cm dari papila ukuran sekitar
5,6 x 1,1 cm dan di jam 03.00, 3 cm dari papila ukuran 2,1 x 0,9 cm

Fam pada mammae kiri di jam 10.00, 1 cm dari papila ukuran sekitar 2,5
x 0,8 cm dan di jam 11.00, 4 cm dari papila ukuran 1,7 x 0,9 cm.

V.

Resume
Nn. J 29 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara
kanan dan kiri, berjumlah 2 buah sejak 1 bulan yang lalu, 1 buah pada
4

payudara kiri pada arah jam 11 dan 1 buah juga pada payudara kanan di arah
jam 5. Pada awalnya benjolan dirasakan kecil, kemudian semakin lama
bertambah besar, benjolan dapat digerakkan. Pasien juga merasakan nyeri
pada benjoan pada payudara kiri ketika di tekan, nyeri seperti mengemut,
tetapi jika tidak ditekan tidak terasan nyeri, nyeri tidak dipengaruhi oleh
haid. Keluhan demam, sakit kepala, sesak, mual, muntah dan penurunan
berat badan disangkal. Pasien juga tidak mengeluhkan benjolan dibagian
tubuh lainnya.
Riwayat keluar cairan dari puting payudara kiri disangkal. Riwayat datang
bulan pertama kali sekitar umur 11 tahun. Riwatar datang bulan dirasakan
teratur setiap bulannya. Riwayat radiasi pada daerah dinding dada disangkal.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya 4 massa, 3 pada payudara kanan
dan 1 pada payudara kiri. Massa pada payudara kanan tidak nyeri, dan massa
pada payudara kiri nyeri saat di tekan. permukaan licin, konsistensi lunak
kenyal, mobile, berbatas jelas
VI.

Diferensial diagnosis
Tumor Mamae

VII.

Fibroadenoma

Fibrokistik

Usulan pemeriksaan
USG mamae dan Biopsi

VIII.

Diagnosis
Fibroadenoma mammae multiple bilateral

IX.

Rencana terapi
Pre Operatif
Infus RL 28 tpm

Tindakan Operatif
Eksisi jaringan tumor payudara kemudian hasil biopsy segera di lakukan
pemeriksaan histopatologi untuk mengetahui sifat dari tumor tersebut.
5

Post Operatiff
Injeksi Ketorolac 10 mg 3 x 1 ampul
X.

Prognosis
Ad fungtionam : Bonam
Ad sanationam: Bonam
Ad vitam: bonam

BAB II
Tinjauan Pustaka
Fibroadenoma
Definisi
Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutama di jumpai pada
perempuan muda. Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan.
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol, dengan simpai licin, bebas
digerakkan, dan konsistensinya kenyal padat. Tumor ini tidak melekat pada jaringan
sekitar dan amat mudah digerakkan kesana kemari. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri
dan kadang di rasa nyeri. Kadang fibroadenoma tumbuh multipel. Pada masa remaja,
fibroadenoma dijumpai pada ukuran yang besar. Fibroadenoma dapat sangat cepat
bertumbuh, kadang ada yang banyak dan berpotensi kambuh.
Insidensi
Belum ada data pasti mengenai insiden fibroadenoma pada populasi umum.
Dalam suatu studi disebutkan bahwa angka kejadian fibroadenoma pada wanita yang
menjalani pemeriksaan di klinik payudara sekitar 7%-13% sementara itu pada studi
yang lain didapatkan 9% dari otopsi. Fibroadenoma didapatkan dari 50% semua biopsi
payudara dan hal ini meningkat mencapai 75% pada biopsi payudara wanita yang
berumur < 20 tahun (Greenberg, et all, 1998). Namun, dapat dikatakan bahwa
fibroadenoma merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan pada wanita
berusia < 30 tahun dengan puncak insiden pada usia 21-25 tahun.
Faktor Resiko
Fibroadenoma sering ditemukan pada wanita dengan sosioekonomi yang tinggi
dan pada wanita kulit hitam. Umur ketika menarche, umur ketika menopause, dan terapi
hormonal termasuk kontrasepsi oral tidak mengubah resiko untuk terjadinya penyakit
ini. Sebaliknya, indeks massa tubuh dan jumlah kehamilan memiliki korelasi negatif
dengan kejadian fibroadenoma. Konsumsi vitamin C dalam jumlah besar dihubungkan
dapat mengurangi resiko terjadinya fibroadenoma. Faktor genetik tidak memiliki
pengaruh terhadap kejadian fibroadenoma. Namun, riwayat kanker payudara dalam
keluarga dapat meningkatkan resiko berkembangnya tumor ini.
Patologi

Fibroadenoma biasanya terjadi pada umur 15-25 tahun yaitu pada saat terjadinya
penambahan struktur lobular pada sistem duktus payudara. Lobulus yang mengalami
hiperplasia pada saat tersebut dapat juga merupakan fase normal dalam perkembangan
payudara. Lobulus yang mengalami hiperplasia merupakan ciri histologis dari
fibroadenoma. Analisis komponen selular dari fibroadenoma dengan polymerase chain
reaction (PCR) menunjukkan adanya stroma dan sel epitel poliklonal, hal ini
mendukung teori yang menyatakan bahwa fibroadenoma merupakan lesi hiperplastik
yang dihubungkan dengan adanya kelainan dalam maturasi normal payudara
dibandingkan dengan neoplasma yang sesungguhnya.
Pola dari pertumbuhan stroma pada fibroadenoma tergantung dari komponen
epitelialnya, aktivitas mitosis stroma lebih tinggi. Fibroadenoma distimulasi oleh
estrogen dan progesteron, dan laktasi serta mengalami perubahan atrofi pada saat
menopause. Beberapa fibroadenoma memiliki reseptor dan respon terhadap hormon
pertumbuhan dan epidermal growth factors (EGF).
Gambaran Klinis
Fibroadenoma sering ditemukan secara kebetulan ketika dilakukan pemeriksaan
medis atau ketika pemeriksaan yang dilakukan sendiri. Fibroadenoma biasanya berupa
massa berukuran 1-5 cm yang berbentuk bulat atau oval, elastis, diskret, relatif mudah
digerakkan biasanya tidak nyeri dan kadang nyeri. Diagnosis klinis pada pasien muda
umumnya tidak sulit. Pada wanita berusia > 30 tahun, fibrokistik maupun karsinoma
pada payudara harus dipertimbangkan.
Walaupun fibroadenoma dapat ditemukan pada seluruh kuadran payudara,
namun lebih sering ditemukan pada kuadran atas lateral. Beberapa lesi di payudara
memiliki karakteristik yang sama dan pemeriksaan fisik dapat dilakukan untuk
diagnosis yang akurat pada setengah sampai dua per tiga kasus. Walaupun demikian,
hasil pemeriksaan palpasi dari massa tersebut dapat juga merupakan tumor jinak
payudara yang lainnya seperti fibrosis kistik.

Gambar 1. Fibroadenoma (Sander, 2007)


a. Bentuk tumor umumnya soliter tetapi kadang-kadang multipel. Berbatas jelas dan
mudah digerakkan serta berkapsul. Konsistensinya padat kenyal. Lebar penampang
tumor bisa mencapai 1-10 cm
b. Pada irisan melintang tampak tumor berlobus-lobus dan berwarna kekuningan
dengan jaringan ikat fibrous berwarna merah sebagai pembatas antarlobus

Fibroadenoma Multipel
Dari 10-16% pasien dengan fibroadenoma multipel didapatkan 2-4 massa pada satu

payudara yang dapat diketahui sejak dini ataupun setelah beberapa tahun kemudian.
Berbeda dengan wanita yang memiliki fibroadenoma tunggal, sebagian besar pasien
dengan fibroadenoma multipel memiliki riwayat keluarga yang memiliki tumor jenis
ini. Telah dikemukan bahwa terdapat hubungan antara fibroadenoma multipel dan
kontrasepsi oral tetapi sampai sekarang pernyataan tersebut belum disertai dengan bukti
yang kuat.

Giant Fibroadenoma dan Juvenile Fibroadenoma


Fibroadenoma yang berukuran lebih besar yaitu lebih dari 5 cm (sekitar 4% dari

keseluruhan) lazim disebut giant fibroadenoma tetapi istilah ini belum diterima secara
9

universal. Giant fibroadenoma biasanya ditemukan pada wanita hamil maupun wanita
yang sedang menyusui. Jika ditemukan pada perempuan remaja disebut sebagai
fibroadenoma juvenil. Lesi ini pada wanita muda terjadi pada 0,5-2% dari semua
fibroadenoma dan massanya tumbuh dengan cepat yang menyebabkan payudara
menjadi tidak simetris, distorsi kulit, dan peregangan puting susu. Secara histologis,
fibroadenoma ini terdiri dari banyak sel dan memiliki komponen lobulus yang lebih
sedikit dibandingkan fibroadenoma tunggal. Giant fibroadenoma merupakan tumor
jinak yang tidak menjadi ganas.
Pemeriksaan Penunjang

Sonografi
Sonografi payudara sering digunakan untuk mendiagnosis fibroadenoma. Kriteria
sonografi yang mendukung diagnosis fibroadenoma adalah adanya massa berbentuk
bulat atau oval dengan permukaan yang lunak dan echo internal yang lemah dengan
distribusi yang uniform dan atenuasi akustik sedang. Teknik ini berguna untuk
membedakan lesi solid dan kistik. Kadang-kadang hasil sonografi fibroadenoma dan
kanker payudara hampir sama, sekitar 25% fibroadenoma memiliki tepi yang
iregular yang mirip dengan lesi yang bersifat ganas.

Gambar 2. Gambaran Sonografi pada Fibroadenoma

Mammografi
Penggunaan pada wanita muda jarang digunakan dan terbatas digunakan sebagai
pemeriksaan penunjang untuk diagnosis fibroadenoma. Walaupun demikian,
mamografi dapat memperlihatkan gambaran lesi infiltratif pada wanita usia tua.
10

Pada gambaran mamografi, fibroadenoma tampak lembut, homogen, dan berupa


nodul dengan batas tegas serta adanya kalsifikasi dengan permukaan kasar di lapisan
lebih dalam.

Sitologi aspirasi
Fine needle aspiration (FNA) menjadi metode popular untuk evaluasi massa di
payudara. Gambaran sitologik fibroadenoma adalah kumpulan dari sel spindel tanpa
sel radang dan sel lemak. Gambaran ini ditemukan pada 93% dari semua kasus;
bentuk sel yang uniform dan sitoplasma yang tersusun seperti honey comb sheets
ditemukan pada 95% dari seluruh kasus fibroadenoma. FNA dapat digunakan
sebagai penunjang dari diagnosis secara klinis. FNA memiliki sensitivitas 86% dan
spesifitas 76% dan pada kanker payudara, sensitivitas FNA 96% dan spesifitas 98%.

Gambar 3 . Biopsi Aspirasi Jarum Halus


Gambaran histologis:
Secara histologis, fibroadenoma terdiri dari sel epitel dan sel stroma. Pada
bentuk perikanalikulus sel epitel dan mioepitel membentuk duktus bundar sampai
memanjang yang dikelilingi oleh stroma fibroblastik longgar. Fibroadenoma
intrakanalikulus terdiri dari duktus-duktus memanjang yang juga dilapisi oleh sel epitel
kuboid dan mioepitel. Duktus tampak mengalami distorsi dan tertekan oleh stroma
sehingga bentuknya menjadi aneh.

11

Gambar 4. Histologis Fibroadenoma Bentuk Perikanalikulus dan


Intrakanalikulus
Penatalaksanaan
Pada fibroadenoma dilakukan eksisi karena tumor jinak ini akan terus
membesar. Fibroadenoma residif setelah pengangkatan jarang terjadi. Sekiranya berlaku
rekurensi, terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh. Pertama, pembentukan
dari trulymetachronous fibroadenoma. Kedua, asal dari tumor tidak diangkat secara
menyeluruh sewaktu operasi dan mungkin karena presentasi dari tumor phyllodes yang
tidak terdiagnosa.

Bagan 1. Penatalaksanaan Fibroadenoma pada Wanita Berusia < 35 Tahun

12

Bagan 2. Penatalaksanaan Fibroadenoma pada Wanita Berusia > 35 Tahun

13

BAB III
PEMBAHASAN
Dari anamnesa didapatkan Nn. J 29 tahun datang dengan keluhan
terdapat benjolan pada payudara kanan dan kiri yang berjumlah 2 buah sejak
1 bulan yang lalu, 1 buah pada payudara kiri pada arah jam 11 dan 1 buah
juga pada payudara kanan di arah jam 5. Pada awalnya benjolan dirasakan
kecil, kemudian semakin lama bertambah besar, benjolan dapat digerakkan.
Pasien juga merasakan nyeri pada benjoan pada payudara kiri ketika di
tekan, nyeri seperti mengemut, tetapi jika tidak ditekan tidak terasan nyeri,
nyeri tidak dipengaruhi oleh haid. Keluhan demam, sakit kepala, sesak,
mual, muntah dan penurunan berat badan disangkal. Pasien juga tidak
mengeluhkan benjolan dibagian tubuh lainnya.
Riwayat keluar cairan dari puting payudara kiri disangkal. Riwayat
datang bulan pertama kali sekitar umur 11 tahun. Riwatar datang bulan
dirasakan teratur setiap bulannya. Riwayat radiasi pada daerah dinding dada
disangkal.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya 3 massa, 2 pada payudara
kanan dan 1 pada payudara kiri. Massa pada payudara kanan tidak nyeri, dan
massa pada payudara kiri nyeri saat di tekan. permukaan licin, konsistensi
kenyal, mobile, berbatas jelas. Dari pemeriksaan USG mammae didapatkan
kesan fibroadenoma mamae multiple pada mamae dextra dan sinistra.
Dari Anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang ini
dapat ditarik beberapa kemungkinan diagnosis yaitu :
1. Fibroadenoma mammae
2. Fibrokistik mammae
Kemungkinan diagnosis tersebut didapatkan berdasarkan sifat
benjolan-benjolan tersebut dimana benjolan pada payudara kanan tidak
terasa nyeri, dan benjolan pada payudara kiri terasa nyeri ketika ditekan dan
tidak dipengaruhi oleh siklus haid. Pada fibroadenoma mammae benjolan
biasanya tidak nyeri tetapi kadang dapat terasa nyeri, sedangkan pada
fibrokistik biasanya terdapat nyeri dimana dipengaruhi oleh siklus haid.
Benjolan mulai muncul sekitar 1 bulan yang lalu, dimana awalnya benjolan
14

berukuran kecil, setelah itu benjolan terus membesar, pada fibroadenoma


mammae benjolan dapat bertumbuh dengan cepat. Sifat-sifat tersebut
menunjukkan adanya progresivitas yang khas untuk suatu tumor. Beberapa
diagnosis banding benjolan pada payudara lain seperti perubahan mastitis,
abses payudara, kanker payudara telah dapat disingkirkan dengan tidak
adanya beberapa gejala seperti tidak adanya tanda-tanda inflamasi pada
mastitis dan abses payudara, atau tanda-tanda keganasan pada kanker.
Fibroadenoma Mammae adalah tumor jinak yang menyerang wanita muda
dimana tumor tersebut berbentuk bulat, berbatas tegas, kenyal, mudah
digerakkan yang berasal dari jaringan fibrosa dan jaringan glandular yang
terdapat di payudara. Penanganannya dengan pengangkatan tumor kemudian
specimen diperiksa untuk mengetahui adanya keganasan

15

Daftar Pustaka
Doherty, Gerard M. 2009. Current Diagnosis & Treatment Surgery 13 Edition. USA:
Mc Graw-Hill Companies.
Greenberg, Ron et al. 1998. Management of Breast Fibroadenomas. Available from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1497021/pdf/jgi_188.pdf.
Norton, J.A. 2003. Essential Practice of Surgery: Basic Science and Clinical Evidence.
New York: Springer.
Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Panyakit. Ed.VI. EGC : Jakarta
Sjamsuhidajat, R & De Jong, Wim. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.II. EGC : Jakarta

16