Anda di halaman 1dari 45

DASAR-DASAR TOKSIKOLOGI

MODUL : TOKSIKOLOGI KLINIK

PENGAJAR: dr NAFRIALDI ,PhD,SpPD,SpFK

PRESENTAN: Rozi Abdullah

Prinsip toksikologi

Toksikologi adalah ilmu tentang efek- efek


merugikan zat kimia pada organisme hidup.

Toksikologi :
ilmu yang mempelajari masalah keracunan
pada mahluk hidup meliputi antara lain :
sumber penyebab, gejala-gejala,, mekanisme
kerjanya ,proses terjadinya ,
penanggulangannya/ pengobatannya, serta
pencegahannya.

Prinsip toksikologi

Toksikan ( toxic substances) :


setiap bahan yang mempunyai kemampuan
menimbulkan efek yang merugikan pada
mahluk hidup.

Cara masuk toksikan :


Oral
Inhalasi
Parenteral
kulit

Pembagian toksikologi terutama untuk


bidang kedokteran
Toksikologi forensik
Menggabungkan ilmu kimia analitik dan toksikologi
dasar aspek medikolegal bahan kimia.
Membantu penyelidikan post mortem untuk
penyebab atau kondisi kematian

Toksikologi klinis
Penyakit- penyakit yang disebabkan oleh dan atau
berhubungan khusus dengan zat-zat toksik
Penanganan pasien keracunan obat dan bahan
kimia lainnya, serta mengembangkan tehniktehnik terbaru penanganan intoksikasi

Efek obat merugikan mirip dengan gejala


penyakit
Dokter :
mengevaluas
i tanda 2
atau gejala
pasien
Kimia
beracun di
lingkungan

Zat
teurapetik

Hubungan dosis - respon


Evaluasi Hubungan dosis respon /
dosis efek penting bagi ahli toksikologi

Sejarah

Paracelsus (1493-1541)

Bahwa semua zat adalah racun , tidak satupun


yang bukan racun
Dosislah yang membedakan racun dan obat

Pemajanan akut dan kronis

Pemajanan akut : terjadi bila dosis yang


diberikan hanya satu kali.

Pemajanan kronis : dengan sejumlah kecil


suatu zat selama periode waktu yang lama ,
yang seringkali menyebabkan akumulasi
senyawa tersebut secara perlahan dalam
tubuh.

Pemajanan akut dan kronik

Evaluasi efek efek toksis kumulatif

banyak mendapatkan perhatian:

karena adanya pemajanan jangka


panjang terhadap
berbagai zat kimia alam dan sintetik
dalam
konsentrasi rendah di lingkungan.

Spektrum efek

Zat kimia efek


Tidak diinginkan
Tidak
berbahaya
( efek
samping)

Berbahaya
(efek toksik)

diingink
an

Spektrum efek

Efek berbahaya ( toksik)

Farmakologis,

contoh: barbiturat : depresi


berlebihan pada SSP
Patologis , contoh : asetaminofen : gangguan
di hati
Genotoksik,

contoh : neoplasma : oleh


mustard nitrogen

Toksisitas lokal VS sistemik


Toksisitas Lokal: efek yang terjadi pada
tempat pertama kali terjadi kontak antara
sistim biologis dengan toksikan
Contoh : tertelan zat penyebab ,
terhirup bahan iritan

Toksisitas sistemik: memerlukan


absorbsi dan distribusi toksikan
tersebut
Contoh : timbal tetraetil melukai kulit
pada tempat kontak dan masuk SSP
setelah diabsorbsi ke dalam aliran
darah

Efek reversibel dan irreversibel

Sebisa mungkin efek obat pada manusia


harus reversibel , jika tidak obat akan dilarang
karena toksik.

Apabila suatu bahan kimia mengenai jaringan


dan rusak , kapasitas jaringan untuk
meregenerasi atau perbaikan akan sangat
menentukan reversibel efek teesebut.

Contoh: hati: kemampuan tinggi berenegerasi


otak : kemampuan terbatas dalam
beregenerasi

Insiden keracunan akut

Di AS : thn 1998, lebih 2 juta kasus di laporkan ke


American assosiation of poison control center
Jumlah kematian akibat keracunan di AS 775 org /
tahun.
Insiden keracunan pada anak kurang dari usia 5 tahun
menurun dibandingkan awal tahun 1960 an : 140
kematian /tahun.
hal ini terjadi : keamanan kemasan obat
Pelatihan medis dan perawatan
kesehatan
yang lebih baik
peningkatan kewaspadaan masyarakat
terhadap racun-racun potensial

Pencegahan dan penanganan keracunan


Banyak keracunan akut akibat obat dapat
dicegah, apabila dokter memberikan instruksi
dengan jelas, tentang penyimpanan obat dan
bahan 2 kimia lainnya.
Untuk keperluan klinis , semua zat toksik
dapat di bagi menjadi 2 golongan :
Zat toksik yang dapat ditangani secara
spesifik dengan adanya antidotum.
Zat toksik yang tidak memiliki penanganan
spesifik.

Penanganan keracunan akut


Penanganan keracunan akut harus cepat ,
tujuannya :
1. Memelihara fungsi-fungsi vital bila kerusakan
hampir terjadi
2. Menjaga konsentrasi zat toksisk serendah
mungkin dalam jaringan 2 penting dan
mencegah absorbsi dan meningkatkan
eliminasi.
3. Melawan efek farmakologik dan toksikologi
pada tempat tempat efektor

Intensive supporting therapy


Tentukan kondisi

Stabilisasi fungsi kardiovaskuler dan


pernapasan
Evaluasi klinik

Menyingkirkan racun dan menurunkan


absorbsi dan meningkatkan eliminasi
toksikan

Evaluasi klinik

Cari tahu riwayat


keracunan , identifikasi
racun

Vital signs / tanda tanda vital

Tekanan darah
Denyut nadi
Respirasi
Temperatur atau suhu

Tekanan darah

Pada pasien syok perubahan tekanan darah


merupakan tanda paling akhir hati 2
Perhatikan tekanan sistolik (menggambarkan
inotropik
jantung , efek B1
adrenergik )
dan diastolik
( menggambarkan tonus
pembuluh darah, efek B2
dan Alfa
adrenergik )
bila ada perbedaan tek sistolik dan diastolik
yang lebar > 50 mmhg, mungkin keracunan B

Tekanan darah

Bila terjadi hipotensi di mulai dengan


mengisi volume cairan, bila tidak merespon
stlh diberi cairan isotonik, terjadi
berkurangnya perfusi jaringan, perubahan
status mental atau terjadi acidosis metabolik
obat vasokonstriksi atau obat untuk
meningkatkan kerja jantung.
Bila terjadi hipertensi , pada anak muda
intoksikasi cocain bila perlu di berikan
vasodilator seperti nitroprusside.

Denyut nadi
Gambaran pasien dengan hipotensi refleks
simpatis takikardia.
Pada kondisi tertentu : obat ca chanel bloker
( verapamil, diltiazem)/ gol nondihidropiridin
hipotensi tanpa reaksi takikardia.
Obat lain yang juga menyebabkan efek yang
sama : keracunan digitalis ,
glycosida,clonidin , Beta adrenergik
antagonis.
Bradikardia cholinergik, sedative
hipnotis,opiat
Wide complex takikardia trisiklik
antidepresan

Respirasi/pernapasan

Gangguan pernapasan : gagal napas,


hipoksia, bronkospasme
Pasien dengan keracunan salisilat hiperpnea
, meninkatnya pola napas pasien.
Pasien keracunan opiat napas dalam dan
pelan
Hipoksia :pertahankan PO2 60-70 mmhg
dengan memberikan O2
Bronkospasme : aerosol Beta 2 stimultan
Bila diperlukan gunakan oksigenasi tambahan
dengan mesin ventilator. menjamin
kebutuhan oksigen.

Temperatur/ suhu

Pasien dengan hipoglikemia dan intoksikasi


sedative hipnotik sering kali dijumpai
kondisi hipotermia.
diberikan selimut , cairan iv hangat
Intoksikasi cocaine hipertermia.

Kematian bisa diakibatkan karena ketidak


mampuan meregulasi suhu tubuh
diperlukan sedative dan pendinginan suhu .

Tes penunjang

Tes Laboratorium : GDS,AGD


EKG
Pulse oxymetri
Tes laboratorium :
1. Gula darah sewaktu
Hipoglikemia: Dapat menyebabkan gangguan
status mental
dapat karena pemakaian insulin, sulfenil urea
yang melebihi dosis terapi.

Tes penunjang

II. Analisa gas darah


bila diperlukan data mengenai oksigenasi
dan ventilasi
dapat diambil data dari pemeriksaan AGD
EKG
ca chanel blocker( non dihidropiridin)
bradikardia dengan av-nodul block
digoksin ST segmen abnormal dengan: First
degree AV block.
trisiklik anti depresan perlambatan konduksi
intraventrikular

Tes penunjang
o

Pulse oxymetri
melihat saturasi oksigen non invasif,
terbatas.

Mencegah penyerapan /absorbsi racun


lebih lanjut

Emesis
Bilas lambung
Active charcoal
Irigasi usus

Emesis

o
o
o
o

o
o
o

Digunakan sirup IPECAC, di indonesia tidak


ada
Usia
Dosis
6-12 bulan
5-10 ml
1-12 bulan
15 ml
Dewasa
30 ml
Jangan diulang
Apomorfin
efek 3-5 mnt
Usia
Dosis
ES : depresi
Anak
0,07-0,1 mg/kgbb
sk
pernapasan,hipot
Dewasa
6 mg ( 2-10 mg)ensi,bradikardia
sk

Emesis

o
o
o
o
o

Kontraindikasi
Bahan racun berupa konvulsan , hidrokarbon,
korosif
Penderita tidak sadar/koma
Refleks menelan tidak ada
Menderita kardiovakuler berat , emfisema ,
pembuluh darah yang sangat lemah
Usia dibawah 6 bln

Bilas lambung

Bila kejadian < 1 jam bisa dilakukan bilas


lambung
Indikasi : bila diketahui jumlah obat dan
dosis yang dikonsumsi dalam jumlah banyak
Kontra indikasi :
Penderita tidak sadar tanpa reflek menelan,
coma ( kontroversi ) kec dg cuff ETT
bahan korosif

Bilas lambung

Tehnik :
gunakan gastric tube diameter :
36-40 F untuk dewasa
28-35 F untuk anak
cairan pembilas 200-300 ml ( dewasa)
50-100 ml ( anak )

Active charcoal / arang aktif

Mencegah absorbsi zat toksik .


Digunakan untuk menetralkan : fenobarbital,
teofilin.
Maximum efektif 30 -60 mnt sjk masuknya
racun.
Tehnik : active charcoal , 60-100 g oral / NGT

Kontra indikasi : tidak sadar, ileus,


obstruksi usus, baan korosif , kejang

Irigasi usus

Digunakan larutan polyethylene glycol


electrolyt di bereikan 2 L/ jam ( dewasa ) 500
ml / jam ( anak ) , sampai cairan rektal bersih
Cairan rektal di tampung dalam 1-2 jam
Kontra indikasi :
Obstruksi usus , ileus, bising usus (-)

Manajemen tambahan

Antidotum
Lab toksikologi

Antidotum

Memiliki efek yang melawan efek toksin.


Tidak semua zat memiliki antidot.
Antidot bisa berkompetisi pada enzim atau
reseptor untuk mencegah efek yang tidak
diharapkan.
Contoh : nalokson berkompetisi pada
reseptor opioid
Etanol berkompetisi dengan metanol
pada
enzym alkohol
dehidrogenase

Laboratorium toksikologi

Melihat hubungan serum konsentrasi dengan


kondisi klinis pasien yang diduga keracunan .

Peningkatan eliminasi racun


Obat obat akan mengalami eliminasi melalui
metabolisme di hati dan ekskresi di ginjal.
Kondisi ingin eliminasi lebih cepat dapat
dilakukan :
1. Forced diuresis
2. Hemodialisa / hemoperfusi

Forced diuresis / diuresis pakasa

Tindakan memberi cairan parenteral dalam


jumlah besar (0,5-1,5 L sejam) untuk
mempercepat ekskresi melalui ginjal.
Syarat : 1.keracunan harus cukup berat
II.obat harus larut dalam air
III. BM obat harus kecil
IV.obat tidak terikat protein atau lemak
V. obat tidak diakumulasi dalam suatu
organ
VI.obat tidak dieksresi lebih cepat
melalui jalan lain .

Forced diuresis

Contoh obat yang memenuhi kriteria ini :


alkohol, amfetamin, fenobarbital, salisilat
,kina, kuinidin, sulfonamid.
Diuresis paksa tidak boleh dilakukan :
ada gangguan fungsi vital misalnya : gagal
jantung, insufisiensi ginjal
Kontraindikasi dilakukan pada : pasien yang
Syok.

Hemodialisa dan hemoperfusi

HD/HP dilakukan bila Tindakan suportive gagal


atau koma berkepanjangan.
Menggunakan alat khusus, yang memerlukan
ketrampilan .
Mekanisme detoksifikasi

Hemodialisa dan hemoperfusi

Syarat : obat kimia harus bisa di dialisis.


-BM kecil
-Larut dalam air
-Tidak atau sedikit terikat dengan protein
Hemoperfusi : tidak terlalu dipengaruhi
persyaratan HD ( ok. Menggunakan colum
adsorben)

Terima kasih