Anda di halaman 1dari 19

http://syeilendrapramuditya.wordpress.

com

Solusi Numerik Persamaan Difusi Neutron

III.1 Pendahuluan
Metode atau teknik pemecahan persamaan matematis terbagi menjadi dua
golongan besar, yaitu metode analitik dan numerik. Solusi yang dihasilkan dengan
metode analitik adalah solusi yang sesungguhnya, sebenarnya, dan juga eksak
(exact), sedangkan solusi numerik adalah aproksimasi atau pendekatan dari solusi
sebenarnya, dengan orde error tertentu. Beberapa persamaan matematis pada
persoalan-persoalan fisika pada kenyatannya relatif sangat sulit untuk dipecahkan
secara analitik, karena itulah dikembangkan metode numerik untuk mencari
solusinya.

Metode numerik yang pertama-tama akan dibahas disini adalah teknik pemecahan
persamaan diferensial dengan menggunakan aproksimasi untuk fungsi turunan
pertama dan turunan kedua, karena sebagaimana telah diketahui, sebagian besar
persamaan-persamaan dalam fisika adalah berupa persamaan diferensial.

Bila terdapat suatu fungsi sembarang f ( x ) yang akan dicari turunannya, yaitu
f ' ( x ) dan f ' ' ( x ) , maka pertama-tama kita akan menuliskan ekspansi deret

Taylor untuk f ( x + h) dan f ( x − h) sebagai berikut :

h2 h3 h4
f ( x +h) = f ( x ) + h f ' ( x ) + f ' ' ( x) + f ' ' ' ( x) + f iv
( x ) +
2! 3! 4!

(III.1)
h2 h3 h4
f ( x −h) = f ( x ) − h f ' ( x) + f ' ' ( x) − f ' ' ' ( x) + f iv
( x) +
2! 3! 4!

(III.2)

Kemudian untuk mendapatkan f ' ( x ) , persamaan (III.1) dikurangi oleh

persamaan (III.2) :
f ( x + h ) − f ( x −h ) h2 h4 v
f ' ( x) = − f ' ' ' ( x) − f ( x ) +
2h 3! 5!

(III.3)

1
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Persamaan (III.3) diatas bukanlah aproksimasi, tetapi ekspresi eksak dalam bentuk
deret Taylor dari turunan pertama. Bila kita mengabaikan semua suku selain suku
pertama, maka kita akan memperoleh persamaan berikut :

d f ( x + h) − f ( x − h )
f ' ( x) ≡ f ( x) ≅
dx 2h

(III.4)

Persamaan (III.4) diatas adalah aproksimasi numerik untuk fungsi turunan


pertama, dan suku lain yang diabaikan dianggap sebagai suku error.

Untuk mendapatkan f ' ' ( x ) , persamaan (III.1) ditambahkan dengan persamaan


(III.2) :

f ( x + h) − 2 f ( x ) + f ( x − h) h 2 iv h4
f ' ' ( x) = − f ( x ) − f vi ( x) + 
h2 12 360
(III.5)

Persamaan (III.5) diatas bukanlah aproksimasi, tetapi ekspresi eksak dalam bentuk
deret Taylor dari turunan kedua. Bila kita mengabaikan semua suku selain suku
pertama, maka kita akan memperoleh persamaan berikut :

d2 f ( x + h) − 2 f ( x ) + f ( x − h )
f ' ' ( x) ≡ 2
f ( x) ≅
dx h2
(III.6)

Persamaan (III.6) diatas adalah aproksimasi numerik untuk fungsi turunan kedua,
dan suku lain yang diabaikan dianggap sebagai suku error. Persamaan (III.4) dan
(III.6) diatas dikenal sebagai aproksimasi beda hingga[12] (finite difference).

III.2 Pemecahan Numerik Persamaan-Persamaan Neutronik


Pada perhitungan neutronik teras reaktor, terdapat dua proses utama yang harus
dikerjakan, yaitu :

2
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

1. Pertama adalah perhitungan distribusi fluks neutron di dalam teras reaktor,


yaitu dengan cara memecahkan persamaan (II.52), persamaan difusi
multigrup. Setelah distribusi fluks neutron diketahui, maka besaran-
besaran lain seperti distribusi kerapatan daya dan suku sumber juga dapat
dihitung. Proses ini dikenal sebagai iterasi dalam (inner iteration).
2. Proses kedua adalah perhitungan kritikalitas teras reaktor, yaitu
perhitungan nilai faktor multiplikasi teras. Perhitungan ini dilakukan
dengan menggunakan beberapa persamaan neutronik. Proses ini dikenal
sebagai iterasi luar (outer iteration).

III.2.1 Perhitungan distribusi fluks neutron : iterasi dalam


Seperti telah dijelaskan sebelumnya, perhitungan distribusi fluks dikerjakan
dengan menggunakan persamaan difusi multigrup (II.52) :

v
1 ∂φg (r , t ) r vr v v v
− ∇ ⋅ Dg ( r ) ∇φ g ( r , t ) + Σtg ( r )φ g (r , t ) =
vg ∂t
(II.52)
G
v v χ G
v v

g '=1
Σ sg ' g (r )φ g ' (r , t ) + g
keff
∑ vg 'Σ fg ' (r )φg ' (r , t )
g '=1

Bila kita meninjau teras pada keadaan tunak (steady state), maka variabel waktu
dapat diabaikan, dan dengan definisi bahwa material pada setiap region teras
adalah homogen, maka persamaan (II.52) akan berbentuk :

v v v v G v v χ v
− Dg ( r )∇ 2φ g ( r ) + Σtg ( r )φ g ( r ) = ∑ Σ sg' g ( r )φ g' ( r ) + g S ( r ) (III.7)
g '=1 keff
G
v v v
S (r ) = ∑ vg 'Σ fg ' g (r )φg ' (r ) (III.8)
g '=1

v v
Persamaan (III.7) diatas memiliki syarat batas φg (rS ) = S (rS ) = 0 , yaitu fluks dan
suku sumber pada permukaan teras reaktor harus bernilai nol.

3
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Teras reaktor yang ditinjau memiliki geometri silinder dua dimensi R-Z, dimana
geometri ini selanjutnya dibuat menjadi diskrit dengan cara dibagi menjadi
beberapa partisi radial ∆r dan aksial ∆z . Dengan demikian, nilai fluks yang
didapatkan nanti tidaklah kontinyu di setiap bagian teras, melainkan berupa
distribusi diskrit di titik-titik tertentu.

Radial Partition Axial Partition

∆z

∆r

Gambar III.1 Partisi geometri silinder teras reaktor

Pada sistem diskrit, vektor posisi dinyatakan dengan cara berikut :



r = r , z ≡ i, j

(III.9)

Operator Laplacian (persamaan III.7) pada geometri silinder adalah :


1 ∂ ∂ 1 ∂2 ∂2
∇2 = r + 2 +
r ∂r ∂r r ∂φ 2
∂z 2

(III.10)

Fluks tidaklah bergantung pada sudut azimut, maka dengan menggunakan prinsip
simetri, persamaan (III.10) menjadi lebih sederhana :
∂2 1 ∂ ∂2
∇2 = + + (III.11)
∂r 2 r ∂r ∂z 2

Substitusi persamaan (III.11) ke persamaan (III.7) :

4
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

∂ 2φ g (r , z ) 1 ∂φg (r , z ) ∂2 φg (r , z ) Σtg (r , z ) φg (r , z )
+ + − =
∂ r2 r ∂r ∂ z2 Dg ( r, z)
(III.12)
1 G χg 
−  ∑ Σsg ' g (r , z )φ g ' ( r , z ) + S (r , z ) 
Dg ( r , z )  g '=1 keff 

Syarat batas untuk persamaan (III.12) diatas adalah :


• Fluks pada permukaan teras bernilai nol : φ(rS , z ) =φ(r , z S ) = 0
• Suku sumber pada permukaan teras bernilai nol :
S ( rS , z ) = S ( r , z S ) = 0

Persamaan (III.4) dan (III.6) dapat ditulis dalam bentuk berikut :


d f ( x + h) − f ( x −h) f − f i −1
f ( x) ≅ = i +1
dx 2h 2 ∆x

(III.13)

d2 f ( x + h) − 2 f ( x ) + f ( x − h) f − 2 f i + f i −1
f ( x) ≅ = i +1
dx 2
h 2
∆x 2
(III.14)

Dengan menggunakan persamaan (III.13) dan (III.14) diatas, serta definisi vektor
posisi pada persamaan (III.9), maka bentuk diskrit dari persamaan (III.12) adalah
sebagai berikut :

φg , i +1, j − 2φg , i , j + φg , i −1, j 1 φ g , i +1, j − φg , i −1, j φ g , i , j +1 − 2φ g , i , j + φg , i , j −1


+ + −
∆r 2
i ∆r 2 ∆r ∆z 2
G  (III.15)
Σtg , i , jφ g , i , j 1 χg
= −  ∑ Σ( sg ' g ), i , j φ g ', i , j + Si, j 
Dg , i , j Dg , i , j  g ' =1 k eff 

φg , i +1, j + φg , i −1, j
1 φ g , i +1, j − φg , i −1, j φg , i , j +1 + φg , i , j −1
+ + −
∆r 2 i ∆r 2 ∆r ∆z 2
(III.16)
 Σtg , i , j 2 2  1 G χg 
 + 2 + 2 φ g , i , j = −
∆z 
 ∑ ( sg ' g ), i , j g ', i, j k i, j 
Σ φ + S
 Dg , i , j ∆r Dg , i , j  g '=1 eff 

5
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

 Σtg , i , j 2 2  1 G χg n 
 + 2 + 2  φ ng+,1i , j =
∆z 
 ∑ ( sg ' g ), i , j g , i, j k n Si , j  +
Σ φ n
+
 Dg , i , j ∆r Dg , i , j  g '=1 eff 
(III.17)
φg , i +1, j + φg , i −1, j φg , i +1, j − φg , i −1, j φg , i , j +1 + φg , i , j −1
n n n n n n

+ +
∆r 2 i 2 ∆r 2 ∆z 2

Superskrip n pada persamaan (III.17) diatas menunjukan nilai awalnya, sedangkan


superskrip n+1 menunjukan nilai barunya setelah dihitung secara iteratif.
 1 G χg n  
  ∑ Σ ( sg ' g ), i , j φg ',i , j + n Si , j  + 
 Dg , i , j  g '=1 keff  
 n 
 φg , i +1, j + φg , i −1, j φg , i +1, j − φg , i −1, j φg , i , j +1 + φg , i , j −1 
n n n n n

 + +  (III.18)
 ∆ r 2
i 2 ∆r 2
∆z 2 
φ n +1
g ,i , j =
 Σtg , i , j 2 2 
 + 2 + 2
 Dg , i , j ∆r ∆z 

Perhatikan bahwa suku kedua pada ruas kiri persamaan (III.12) mengandung
(1/ r ) , maka pada r = 0 atau i = 0 suku ini akan bermasalah karena akan bernilai
tak hingga, sehingga persamaan (III.18) diatas hanya akan berlaku untuk nilai
r ≠ 0 atau i ≠ 0 .

Untuk r = 0 atau i = 0 , maka suku yang mengandung (1/ r ) tersebut harus


ditangani secara khusus, yaitu sebagai berikut[12] :

Berdasarkan teorema limit L’Hospital[13] :



1 ∂φg ∂φg / ∂r lim ∂r (∂φg / ∂r ) ∂ 2φg
= = = (III.19)
r ∂r r r →0 ∂ ∂r 2
r =0 r =0 (r ) r =0
∂r

Substitusikan persamaan (III.19) ke persamaan (III.12) :


∂ 2φ g (r , z ) ∂2 φg ( r , z ) Σtg (r , z ) φg (r , z )
2 + − =
∂r 2
∂z 2
Dg ( r, z)
(III.20)
1 G χg 
−  ∑ Σsg ' g (r , z )φ g ' ( r , z ) + S (r , z ) 
Dg ( r , z )  g '=1 keff 

6
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

φg , 0+1, j − 2φg , 0, j + φg , 0−1, j φg , 0, j +1 − 2φ g , 0, j + φg , 0, j −1


+ −
∆r 2
∆z 2
G  (III.21)
Σtg , 0, jφ g , 0, j 1 χg
=−  ∑ Σ( sg ' g ), 0, jφ g ', 0, j + S 0, j 
Dg , 0, j Dg , 0, j  g '=1 keff 

Berdasarkan simetri sudut azimut pada geometri silinder yang ditinjau :

φg , i +1, j = φg , i −1, j (III.22)

Dengan menggunakan definisi (III.22), maka persamaan (III.21) akan berbentuk :

2φg , 1, j φg , 0, j +1 + φ g , 0, j −1  Σtg , 0, j 4 2 
2 + −
 Dg
+ 2+ 2  φg , 0, j =
∆r 2
∆z 2
 ∆r ∆z 
(III.23)
1 G χg 
−  ∑ Σ ( sg ' g ), 0, jφg ',0, j + S0, j 
Dg , 0, j  g '=1 keff 

 Σtg , 0, j 4 2  n +1 1 G χg n 
 + 2 + φ g ,0, j =  ∑ Σ( sg ' g ), 0, j φg ',0, j + n S0, j  +
 Dg , 0, j ∆ r ∆z2  Dg , 0, j  g '=1 keff 
(III.24)
4φgn, 1, j φgn, 0, j +1 + φgn, 0, j −1
+
∆r 2 ∆z2

1 G χ g n  4φgn, 1, j φgn, 0, j +1 + φgn, 0, j −1


 ∑ Σ( sg ' g ), 0, jφg ',0, j + n S0, j  + +
Dg , 0, j  g '=1 keff  ∆r 2 ∆z 2
φ ng+,0,1 j = (III.25)
 Σtg , 0, j 4 2 
 + 2+ 2
 Dg , 0, j ∆r ∆z 

Bila dilakukan iterasi terhadap persamaan diskrit (III.18) dan (III.25) diatas, maka
pada akhirnya akan tercapai keadaan konvergen numerik dengan akurasi atau orde
error tertentu, yaitu :

7
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

φ ng+,i1, j − φ ng ,i , j
< ε , untuk seluruh g , i , j (III.25a)
φ ng ,i , j

Metode numerik yang digunakan untuk menurunkan persamaan diskrit (III.18)


dan (III.25) adalah metode yang disebut Jacobi Iteration Scheme[12], atau metode
Jacobian.
Laju konvergensi metode Jacobian sebenarnya tidaklah terlalu tinggi, karena pada
metode ini, nilai fluks yang baru didapat dari hasil perhitungan dengan
menggunakan nilai fluks yang lama seluruhnya, atau disebut layer-by-layer.

φ kn−+21 φ kn−+11 φ kn +1 φ kn++11 φ kn++21


iteration

φ kn−2 φ kn−1 φ kn φ kn+1 φ kn+ 2

φ kn−−21 φ kn−−11 φ kn −1 φ kn+−11 φ kn+−21

points sequence

Gambar III.2 Skema iterasi Jacobian

Gambar (III.2) diatas adalah skema iterasi Jacobian, dimana nilai fluks pada tiap
layer dihitung hanya dengan menggunkan nilai fluks pada layer sebelumnya.

Laju konvergensi dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode Gauss-Siedel


Iteration Scheme, pada metode ini, nilai fluks yang baru dihitung dengan
memanfaatkan secara langsung nilai fluks yang baru saja dihitung pada titik
partisi sebelumnya.

8
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

φ kn−+21 φ kn−+11 φ kn +1 φ kn++11 φ kn++21


iteration
φ kn−2 φ kn−1 φ kn φ kn+1 φ kn+ 2

φ kn−−21 φ kn−−11 φ kn −1 φ kn+−11 φ kn+−21

points sequence

Gambar III.3 Skema iterasi Gauss-Siedel


Dengan menggunakan skema iterasi Gauss-Siedel, maka persamaan (III.18) dan
(III.25) akan berbentuk :
untuk r ≠ 0 :
 1 G χg n  
  ∑ Σ( sg ' g ), i , jφg ',i , j + n Si , j  + 
 Dg , i , j  g '=1 keff  
 n 
 φg , i +1, j + φg , i −1, j + φg , i +1, j − φg , i −1, j + φg , i , j +1 + φg , i , j −1 
n +1 n n +1 n n +1 (III.26)
 
φ ng+,i1, j = ∆r 2 i 2∆r 2 ∆z 2 
 Σtg , i , j 2 2 
 + 2+ 2
 Dg , i , j ∆r ∆z 

untuk r = 0 :
1 G χ g n  4φgn, 1, j φgn, 0, j +1 + φgn,+0,1 j −1
 ∑ Σ( sg ' g ), 0, jφg ',0, j + n S0, j  + +
Dg , 0, j  g '=1 keff  ∆r 2 ∆z 2 (III.27)
φ ng+,0,1 j =
 Σtg , 0, j 4 2 
 + 2+ 2
 Dg , 0, j ∆r ∆z 

Pada persamaan (III.26) dan (III.27) diatas, nilai konstanta grup atau cross section
merupakan fungsi posisi, yang dilambangkan dengan subskrip i dan j. Sebenarnya
nilai konstanta grup atau cross section bergantung pada jenis dan komposisi
material di titik tersebut, maka untuk lebih menyederhanakan bentuk persamaan,
subskrip ganda i dan j tersebut akan diganti dengan subskrip tunggal m, yang
menunjukan jenis material di titik i,j tersebut.

9
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Maka persamaan (III.26) dan (III.27) akan berbentuk :


untuk r ≠ 0 :
 1 G χ g ,m n  
  ∑ Σ ( sg ' g ), mφg ',i , j + n Si , j  + 
 Dg , m  g '=1 keff  
 n 
 φg , i +1, j + φg , i −1, j + φg , i +1, j − φg , i −1, j + φg , i , j +1 + φg , i , j −1 
n +1 n n +1 n n +1 (III.28)
 
φ ng+,i1, j = ∆r 2 i 2∆r 2 ∆z 2 
 Σtg , m 2 2 
 + 2+ 2
 Dg , m ∆r ∆z 

untuk r = 0 :
1 G χ g ,m n  4φgn, 1, j φgn, 0, j +1 + φgn,+0,1 j −1
 ∑ ( sg ' g ), m g ',0, j
Σ φ + S0, j  + +
Dg , m  g '=1 keffn  ∆r 2 ∆z 2 (III.29)
φ ng+,0,1 j =
 Σtg , m 4 2 
 + 2+ 2
 Dg , m ∆r ∆z 

Laju konvergensi dapat ditingkatkan lagi dengan menggunakan metode Succesive


Over Relaxation (SOR). Prinsip dasar metode SOR adalah bahwa hasil konvergen
sama dengan hasil iterasi ke n+1 ditambah selisih dari dua hasil iterasi terbaru,
yaitu iterasi ke n dan ke n+1, yang dikalikan suatu konstanta.

Secara matematis, persamaan SOR dituliskan sebagai berikut :


φgn,+i 1, j = φgn,+i 1, j + α (φgn,+i ,1j − φgn,i , j ) (III.30)

Pada persamaan (III.30) diatas, α adalah konstanta akselerasi SOR, yang nilainya
bersifat unik untuk setiap kasus/persamaan.

Pada persamaan (III.28) dan (III.29), subskrip g menunjukan index grup, dan
subskrip m menunjukan index jenis material, maka sekarang kita telah memiliki
satu set lengkap persamaan difusi yang mampu menangani teras reaktor dengan
spektrum energi neutron diskrit dan komposisi material heterogen, atau disebut
persamaan difusi multigrup-multiregion.

10
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Persamaan difusi multigrup tersebut akan dipecahkan secara numerik dengan


menggunakan metode SOR, yaitu dengan menggunakan persamaan (III.28),
(III.29), dan (III.30).

III.2.2 Perhitungan kritikalitas teras reaktor : iterasi luar


Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai teknik yang digunakan untuk
memecahkan persamaan difusi multigrup, yaitu untuk menghitung nilai dan
distribusi fluks neutron di dalam teras reaktor. Selanjutnya, pada bagian ini akan
dibahas perhitungan sumber neutron S (source) dan faktor multiplikasi k.
Untuk mempermudah penurunan persamaan, pertama-tama akan digunakan
persamaan difusi satu grup (II.48) :
1 ∂φ      
−∇⋅ D ( r ) ∇φ( r , t ) + Σa ( r ) φ ( r , t ) = S ( r , t )
v ∂t

(II.48)

Untuk keadaan tunak dan teras homogen :


v v 1 v
− D∇ 2φ (r ) + Σ aφ (r ) = S (r ) (III.31)
k
v v
S (r ) = vΣ f φ (r ) (III.32)

Dengan menggunakan operator, persamaan (III.31) berbentuk :


 1 
Mφ( r ) = Fφ( r ) (III.33)
k
M ≡ destructio n operator = ( −D ∇2 + Σa )

(III.34)
F ≡ production operator = vΣ f (III.35)

Bentuk diskrit persamaan (III.31) adalah :


1 n
− D ∇2φ in, j + Σaφ in, j = S i, j
kn
(III.36)

11
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Solusi dari persamaan (III.36) diatas adalah nilai fluks yang baru, yaitu φi , j .
n +1

Selanjutnya nilai fluks yang baru ini digunakan untuk menghitung nilai source
yang baru :

S ni ,+j1 = Fφin,+j1 = vΣf φin,+j1 (III.37)

Setelah nilai source yang baru diketahui, selanjutnya nilai k dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (III.33) :

 1 
Mφ n +1 ( r ) = n +1 Fφ n +1 ( r )
k
(III.38)

Integralkan persamaan (III.38) terhadap volume teras :


  1  
∫d r Mφn +1 ( r ) = n +1 ∫d r Fφn +1 ( r )
3 3

Vcore k Vcore

(III.39)
 
∫d r Fφn +1 ( r )
3

k n +1 = Vcore
3 n +1 
(III.40)
∫ d r Mφ (r )
Vcore

   
∫d r S n +1 ( r ) ∫d r S n +1 ( r )
3 3

k n +1 = Vcore
=kn Vcore
 
3 n 
1
∫d
3
r S n (r )
kn ∫ d r S (r )
Vcore
Vcore

(III.41)


Operasi integral S (r ) terhadap volume teras reaktor sebenarnya untuk
menghitung populasi source total di dalam teras reaktor. Karena S merupakan
fungsi posisi, maka untuk menghitungnya, akan lebih mudah bila kita
menggunakan Srata-rata yang kemudian dikalikan dengan volume teras reaktor :

12
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com


∫d r S ( r ) = S AVE VCORE
3

Vcore

(III.42)

Maka persamaan (III.41) akan berbentuk :


n +1 n +1
S AVE VCORE n S AVE
k n +1 = k n n
= k n (III.43)
S AVE VCORE S AVE

Atau dalam bentuk persamaan diskrit :


N
1
S AVE =
N
∑S
k =1
k (III.44)

1 nr nz n +1 nr nz

∑∑S i, j
nr nz i =0 j =0
∑∑S
i =0 j =0
n +1
i, j

k n +1 = k n =kn (III.45)
1 nr nz n nr nz

∑∑S i, j
nr nz i =0 j =0
∑∑S
i =0 j =0
n
i, j

Untuk kasus difusi multigrup, pertama-tama persamaan (III.7) dipecahkan dengan


menggunakan persamaan (III.28), (III.29), dan (III.30). Dengan demikian, kita

akan memiliki nilai dan distribusi fluks untuk setiap grup, yaitu φg ,i , j .
n +1

Nilai source dihitung menggunakan persamaan berikut :


G
Sin, +j 1 = ∑ vg 'Σ ( fg ' g ) g ,i , jφgn',+i1, j (III.46)
g '=1

Setelah nilai source diketahui, maka selanjutnya nilai faktor multiplikasi k


dihitung dengan menggunakan persamaan (III.45). Perhitungan iterasi luar ini
dilakukan terus-menerus sampai konvergensi numerik tercapai, yaitu :

13
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

k n +1 − k n S ni ,+j1 − S ni , j
< ε1 dan < ε2 , untuk seluruh i,j
kn S ni , j

(III.47)

Dengan demikian, maka kita telah memiliki satu set persamaan lengkap untuk
mengerjakan iterasi luar, yaitu menghitung nilai dan distribusi source dan k.

III.2.3 Alur kerja program neutronik


Secara garis besar, program neutronik yang penulis kembangkan memiliki alur
kerja sebagai berikut :
1. baca file input pengendali program
2. baca file data cross section
3. baca file peta (core map) komposisi material teras
4. inisialisasi nilai fluks, source, dan k
5. definisikan syarat batas
6. kerjakan iterasi dalam dan iterasi luar
7. tulis hasil-hasil perhitungan pada file-file output
8. tampilkan hasil-hasil perhitungan pada grafik-grafik

Diagram alir program neutronik akan ditunjukan pada halaman berikutnya.

14
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Gambar III.4 Diagram alir program neutronik

15
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

File input pengendali program neutronik berada di dalam folder ”input”, dengan
nama ”neutronics.txt”, dan berikut ini adalah contohnya :

Tabel III.1 Format file input neutronik


Line neutronics.txt
01 INPUT VARIABLES | VALUES
02 ----------------------------------|------------
03 GENERAL CONTROL |
04 group |8
05 core_diameter(cm) | 250
06 core_height(cm) | 150
07 errormax | 1E-12
08 itermax | 100000
09 radial_points,max=80 | 20
10 axial_points(odd),max=81 | 21
11 flux_guess | 1E+14
12 source_guess | 1E+14
13 keff_guess | 1.0
14 SOR_parameter |0
15 |
16 CORE DEFINITION |
17 number_of_material_type,max=10 | 3
18 01 pdsmdl06.c001.Dec04.10.27.33.macs
19 02 pdsmdl06.c002.Dec04.10.27.52.macs
20 03 pdsmdl06.c003.Dec04.10.28.06.macs

Keterangan :
• baris 04 : banyaknya grup energi neutron yang digunakan dalam
perhitungan
• baris 05 dan 06 : dimensi teras, yaitu diameter dan tingginya
• baris 07 : tingkat akurasi atau orde error yang akan digunakan dalam
perhitungan
• baris 08 : banyaknya iterasi maksimum pada tiap loop, untuk menghindari
error stack overflow, yaitu bila konvergensi numerik gagal tercapai
• baris 09 : banyaknya partisi pada arah r (radial)
• baris 10 : banyaknya partisi pada arah z (aksial)
• baris 11 : inisialisasi nilai fluks
• baris 12 : inisialisasi nilai source
• baris 13 : inisialisasi nilai k
• baris 14 : parameter akselerasi SOR
• baris 17 – 20 : banyaknya dan definisi jenis material penyusun teras

16
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

File peta komposisi material teras berada di dalam folder ”input”, dengan nama
”coremap1.txt”.

Gambar III.5 Sistem pemetaan teras

File coremap1.txt tersebut memberikan informasi jenis material di setiap titk


partisi teras, baik partisi radial (horisontal), maupun partisi aksial (vertikal),
daerah pemetaan berupa sistem array dua dimensi R-Z, seperti ditunjukan pada
gambar III.5 diatas. Berikut ini adalah contohnya :

Tabel III.2 Format file input pemetaan teras


Line coremap1.txt
01 33333333 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
02 33333333 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
03 22222222 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
04 22222222 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
05 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
06 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
07 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
08 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
09 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
10 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
11 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3C
12 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
13 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
14 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
15 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
16 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
17 11111111 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3

17
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

18 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
19 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
21 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

Tabel III.2 diatas adalah contoh perhitungan dengan menggunakan 20 partisi


radial dan 21 partisi aksial, dan 3 jenis material. Angka ”1” pada Tabel III.2
menunjukan bahwa material di titik partisi tersebut adalah material jenis ”1” yang
data cross section-nya berada di dalam file yang namanya ditunjukan pada baris
18 di tabel III.1. Demikian juga arti angka ”2” dan ”3”. Material di dalam teras
biasanya dibedakan berdasarkan level enrichment pada bahan bakarnya.

File output hasil perhitungan disimpan di dalam folder ”output”, terdiri dari
beberapa file, diantaranya adalah file yang menyimpan data nilai fluks dan source
di setiap partisi, dan file output umum yang bernama ”out.neutronics.txt”.

Tabel III.3 Format file output perhitungan neutronik


Line out.neutronics.txt
01 NEUTRONICS CALCULATION, RESULTS
02
03 k-eff = 1.01701705819494
04 Flux Max = Flux[0,0] = 722510203052706 #/cm2.s
05 Flux Mean = 264728516229622 #/cm2.s
06 Flux Peaking Factor = 2.72924962275696
07 wflux[1] = 0.158018861888309
08 wflux[2] = 0.226427140655164
09 wflux[12] = 0.214468792303527
10 wflux[4] = 0.141663662275637
11 wflux[5] = 0.0940651397076077
12 wflux[6] = 0.0752527701029753
13 wflux[13] = 0.189037055437533
14 wflux[8] = 1
15 BG2 = 0.00080882668449286
16 BG = 0.0284398784190942
17 Iteration = 36839
18
19 Start :Thursday, 28 December 2006, 07:58:42:343
20 Finish :Thursday, 28 December 2006, 07:58:46:750
21 ------------------------------------------------
22 Results are saved to "output/out.neutronics.txt"

Grafik hasil perhitungan secara otomatis langsung ditampilkan setelah


perhitungan selesai dikerjakan. Berikut ini beberapa contohnya :

18
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Gambar III.6 Contoh grafik distribusi fluks radial 8 grup

Gambar III.7 Contoh grafik distribusi fluks aksial 8 grup

Data cross section untuk setiap jenis material disimpan dalam sebuah file tunggal,
yang namanya ditunjukan pada baris 18 – 20 tabel III.1. Pada bagian selanjutnya
akan dijelaskan mengenai data cross section tersebut secara lebih rinci.

Keseluruhan sistem program komputer yang penulis kembangkan ini dibuat


dengan Borland Delphi 7.0, dan penulis namakan ”Preliminary Nuclear Plant
Analysis Code” atau disingkat PRENPAC, dan bisa di download secara gratis di
situs http://syeilendrapramuditya.wordpress.com.

19

Anda mungkin juga menyukai