Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI MEDIS

SIKLUS OVULASI WANITA


------------------------------------------------------------------------------------Pelaksanaan

:-

Asistensi

: Dr. Dwi Winarni, Dra., M.Si.

Disusun Oleh :
Andhi Baskoro

081411731020

Moh. Ar-Razaak S. M.

081411731023

Hana Zahra Aisyah

081411733001

Juliani Nurazizah S.

081411733004

Maulana Muchammad

081411733007

Agisa Prawesti

081411733014

Claudia Litania

081411733016

Program Studi Teknologi Biomedis


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga

I.
II.

TUJUAN
1. Mendeskripsikan siklus ovulasi wanita.
2. Menjelaskan hubungan suhu basal tubuh dengan siklus ovulasi.
DASAR TEORI
1. Siklus Ovulasi
Ovulasi adalah proses dalam siklus menstruasi wanita
dimana folikel yang matang pecah dan mengeluarkan sel telur
(ovum, juga disebut oosit atau gamet betina) ke tuba falopii untuk
dibuahi.

Lapisan

rahim

telah

menebal

dalam

rangka

mempersiapkan sel telur yang telah dibuahi. Jika konsepsi


(pembuahan) tidak terjadi, lapisan rahim serta darah akan
diruntuhkan Penumpahan telur yang tidak dibuahi dan dinding
rahim ini disebut menstruasi. Siklus ovulasi dibag menjadi 4
bagian, yaitu fase haid/menstruasi, fase praovulasi, ovulasi, dan
fase luteal.
Menstruasi itu sendiri adalah perubahan fisiologis dalam
tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh
hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.
Kedua hormon FSH dan LH, diproduksi dalam otak, di dalam
sebuah organ bernama kelenjar pituatari. Sel-sel di sekeliling sel
telur menghasilkan dua hormon lainnya, yaitu estrogen dan
progesteron. Kedua hormon ini menyebabkan dinding rahim
menjadi tebal, menciptakan lingkungan di mana sebuah sel telur
yang sudah dibuahi bisa bertahan dan berkembang. Penurunan
kadar hormon progesterone dalam tubuh wanita setiap bulan,
apabila sel telur tidak dibuahi, maka dinding rahim akan meluruh
dan menyebabkan menstruasi.
2. Siklus Menstruasi
Siklus haid adalah daur menstruasi atau haid yang tiap
bulannya dialami wanita ketika masih dalam usia produktif. Tiaptiap wanita yang fertil mempunyai siklus menstruasi yang berbedabeda. Darah haid berasal dari hasil peluruhan dinding rahim
(Lapisan Endometrium uteri) bekuan darah, cairan dan lendir,dan
beberapa mikroorganisme (flora normal) yang senantiasa hidup di
daerah lubang vagina dan leher rahim tau servik uterus. Panjang

siklus haid pada seorang wanita yang normal adalah sekitar 28 hari
atau satu bulan
Terdapat empat fase menstruasi yaitu :
a. Fase Menstruasi
Yaitu fase dimana luruh dan dikeluarkannya dinding
rahim dari tubuh. Hal ini dikarenakan berkurangnya
kadar hormon seks. Hal ini biasanya secara bertahap
terjadi pada hari ke-1 sampai 7.
Fase Pra-Ovulasi
Yaitu fase pembentukan dan pematangan ovum dalam

b.

ovarium yang dipicu oleh peningkatan kadar hormon


estrogen dalam tubuh. Hal ini biasanya terjadi secara
bertahap pada hari ke-7 sampai 13.
c.Fase Ovulasi
Yaitu suatu fase dalam siklus menstruasi wanita
dimana sel telur yang matang siap untuk dibuahi.
Menurut beberapa literatur, masa subur adalah 14 hari
sebelum haid selanjutnya. Masa subur ini merupakan
fase yang memberikan peluang besar untuk terjadinya
kehamilan bila terjadi hubungan seksual.
Fase Pasca Ovulasi
Yaitu, fase kemunduran ovum bila tidak terjadi

d.

fertilisasi. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan produksi


progesteron sehingga endometrium menjadi lebih tebal
dan siap menerima embrio untuk berkembang. Jika
tidak terjadi fertilisasi, maka hormon seks dalam tubuh
akan berulang dan terjadi fase menstruasi kembali.
3. Siklus Estrus
Siklus estrus adalah siklus seksual yang terdapat pada
individu betina yang fertil dan tidak hamil yang meliputi
perubahan-prubahan siklik pada organ-organ reproduksi tertentu
misalnya ovarium, uterus, dan vagina di bawah pengendalian
hormon reproduksi.
Fase Siklus Estrus
a.Fase Proestrus (prestanding events)
Proestrus merupakan fase sebelum estrus yaitu periode
pada saat folikel de graaf tumbuh di bawah pengaruh

FSH dari adenohipofisis pituitary dan LH ovari serta


menghasilkan sejumlah Estradiol (estrogen yang paling
kuat) yang semakin bertambah yang meningkatkan
suplai darah ke saluran kelamin yang menyebabkan
meningkatnya perkembangan uterus, vagina, oviduk,
dan folikel ovary.
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum
dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk
memulai estrus. ada fase ini akan terlihat perubahan
pada alat kelamin luar dan terjadi perubahan-perubahan
tingkah laku.
Fase Estrus (standing heat)
Estrus merupakan periode penerimaan pejantan oleh

b.

betina untuk berkopulasi,klimaks fase folikel yang


terutama ditentukan oleh tingkat sirkulasi estrogen.
Perubahan-perubahan siklik pada organ reproduksi
tertentu misalnya ovarium, uteru, dan vagina dibawah
pengendalian hormon reproduksi.
Pada produksi estrogen bertambah dan Selama atau
segera setelah periode itu terjadilah ovulasi (kecuali
pada hewan yang memerlukan rangsangan seksual lebih
dahulu untuk terjadinya ovulasi). Pada saat itu,
keseimbangan hormon hipofisa bergeser dari FSH ke
LH, terjadi penurunan tingkat FSH dalam darah dan
penaikan tingkat LH, hormon ini akan membantu
terjadinya ovulasi dan pembentukan korpus luteum
yang terlihat pada masa sesudah estrus.
c.Fase Metestrus (pasca birahi/postestrus)
Metestrus ditandai dengan berhentinya puncak estrus
dan bekas folikel setelah ovulasi mengecil dan
berhentinya pengeluaran lendir.

Fase ini di tandai

dengan menurunnya esterogen dan mulai tumbuhnya


pertumbuhan dari corpus luteum yang di ikuti dengan
meningkatnya

kadar

progesteron.

Progesteron

menghambat sekresi FSH oleh pituitary anterior


sehingga menghambat pertumbuhan folikel ovarium
dan mencegah terjadinya estrus. Pada masa ini terjadi
ovulasi,kurang lebih 10-12 jam sesudah estrus,kira-kira
24 sampai 48 jam sesudah birahi.
d. Diestrus
Adalah periode terakhir dalam siklus birahi yang paling
panjang dan fase setelah metetrus. Fase diestrus
merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal
dan pengaruh progesteron terhadap saluran reproduksi
menjadi nyata. Fase ini merupakan fase yang
terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan
atau tidak, korpus luteum akan berkembang dengan
sendirinya menjadi organ yang fungsional yang
menghasilkan sejumlah progesteron, alat reproduksi
praktis tidak aktif selama periode ini karena di bawah
pengaruh hormon progesteron dari korpus luteum. Jika
telur yang dibuahi mencapai uterus, maka korpus
luteum akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang
tidak dibuahi sampai ke uterus maka korpus luteum
akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka
CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang
baru.
4. Suhu Basal
Suhu basal merupakan suhu tubuh sebelum melakukan
aktivitas apapun, biasanya diambil pada saat bangun tidur dan
belum meninggalkan tempat tidur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan suhu basal
tubuh :
a.Perubahan Hormon Progesteron
Peningkatan suhu basal tubuh pada masa subur berkisar
0,2-0,5C, dimulai 1-2 hari setelah ovulasi. Suhu basal
tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer
basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara

oral, per vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan


pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi
kenaikan suhu tubuh, kemungkinan tidak terjadi masa
subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu
tubuh. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya korpus
luteum

yang

memproduksi

progesteron.

Begitu

sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan terus


berlangsung setelah masa subur/ovulasi kemungkinan
terjadi kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil
dibuahi, maka korpus luteum akan terus memproduksi
hormon progesteron. Akibatnya suhu tubuh tetap tinggi.
Stres
Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan

b.

maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan


kurang

terkontrol

secara

sehat.

Stres

dapat

menyebabkan peningkatan suhu basal tubuh.


c.Gangguan Tidur
Seseorang yang kurang tidur akan menyebabkan
terjadinya peningkatan suhu basal. Contohnya ketika
seseorang hanya tidur selama 3-4 jam dalam sehari,
maka ketika bangun orang tersebut akan merasakan
suhu basal tubuhnya meningkat.
Penyakit
Sebagai contoh seseorang yang terserang demam dan

d.

peradangan

akan

menyebabkan

peningkatan

metabolisme 120 % untuk tiap peningkatan suhu 10C.


Jika mengalami demam, maka secara otomatis suhu
basal orang mengalami peningkatan.Selain itu, orang
yang menderita

Demam Berdarah Dengue (DBD),

suhu tubuhnya dapat naik atau turun menyerupai siklus


pelana tapal kuda.
e.Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan suhu
di lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau

berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin, begitu


juga sebaliknya. Perpindahan suhu antara manusia dan
lingkungan sebagian besar terjadi melalui kulit.
f. Kegagalan Membaca Termometer dengan Tepat
Hal ini dapat terjadi baik karena kesalahan pada
termometer
membaca

maupun
termometer.

kesalahan

pengamat

Termometer

analog

dalam
yang

digunakan biasanya kurang sensitif terhadap perubahan


suhu basal walaupun pengamat telah menggunakannya
sesuai petunjuk penggunaan termometer. Sebaliknya,
termometer digital sangat sensitif terhadap perubahan
suhu.

Sehingga

penggunaan

termometer

dapat

memberikan hasil yang lebih akurat terhadap perubahan


suhu basal.
g. Peletakan Termometer
Saat mengukur suhu, letak termoeter pada bagian tubuh
yang berbeda-beda juga mempengaruhi nilai suhu yang
terbaca pada termometer berbeda-beda. Berikut
beberapa peletakkan termometer yang biasa dilakukan :
Penggunaan Termometer di Ketiak
Pegukuran suhu menggunakan termometer di ketiak
merupakan cara penggunaan yang tampaknya paling
sering dilakukan. Caranya terlihat sangat sederhana
sehingga hal ini mungkin yang menjadikannya
pilihan pertama dan utama di kalangan masyarakat.
Pengukuran suhu ketiak (aksila) sesungguhnya tidak
seakurat pengukuran oral (mulut) atau rektal.
Karena pada epitel kulit ketiak sendiri terlalu tebal
sehingga kurang sensitif terhadap reseptor suhu.
Temperatur yang terukur akan menghasilkan nilai
10 C lebih rendah dibandingkan dengan hasil
pengukuran oral. Cara pengukuran yang baik juga
memerlukan waktu cukup lama yaitu sekitar 10
menit jiga menggunakan termometer manual.

Padahal, umumnya kita hanya menunggu beberapa


menit saja dan dengan tidak sabar (mungkin karena
cemas) segera mencabut dan membacanya. Dengan
cara yang terburu-buru ini, keakuratannya tentu

perlu dipertanyakan.
Penggunaan Termometer di Mulut
Pengukuran suhu melalui mulut lebih akurat bila
dibandingkan dengan pengukuran melalui ketiak.
Tetapi untuk mendapatkan hasil yang akurat,
termometer di dalam mulut selama 3-4 menit
sebelum di baca. Selain itu, jangan lupa mengibaskibaskan termometer sebelum digunakan. Saat
meletakkan termometer ke dalam mulut, ujung
termometer ditempatkan di bawah lidah sejauh
mungkin. Cara pengukuran yang salah tentu
menghasilkan

informasi

yang

tidak

akurat.

Pengukuran suhu melalui mulut juga dapat menjadi


tidak akurat bila 20 menit sebelum pengukuran,
minum minuman panas atau dingin. Tindakan
tersebut menyebabkan suhu di bawah lidah Anda
menjadi berubah dan tidak dapat mewakili suhu

tubuh.
Termometer Rektal
Cara ini merupakan cara yang sangat baik hanya
saja

mungkin

kurang

menyenangkan.

Bayi

sebaiknya diukur dengan cara ini mengingat


keakuratannya yang lebih tinggi. Suhu yang tercatat
umumnya lebih tinggi 10 dibanding pengukuran
suhu melalui mulut (oral). Termometer dimasukkan
melalui lubang pantat (anus) selama paling sedikit 3

menit.
Termometer Telinga
Ini merupakan cara yang cukup canggih di mana
yang diukur adalah temperatur gendang telinga.

Cara kerjanya dalam menentukan suhu tubuh adalah


membaca radiasi infrared yang berasal dari jaringan
gendang telinga. Pengukuran dengan cara ini
memang memiliki beberapa kelebihan seperti
kemampuan untuk mengukur secara lebih tepat
temperatur dalam otak. Untuk diketahui, temperatur
otak sebenarnya adalah ukuran yang paling tepat
dalam hal pengukuran temperatur tubuh. Kelebihan
lain adalah penggunaan waktu yang sangat singkat,
sekitar 2 sampai 3 detik saja. Hanya saja,
keakuratan termometer model ini memang masih
dipertanyakan oleh sebagian kalangan dokter. Selain
itu, kelemahan lainnya terletak pada harganya yang
masih

cukup

kekurangakuratan
anak,

termometer

mahal.

Karena

pengukuran
telinga

faktor

khususnya
tidak

pada

dianjurkan

pemakaiannya pada anak yang berusia kurang dari 3


tahun.
5. Fungsi Hormon pada Wanita
a.Hormon LH (Luteinizing Hormone)
Hormon ini juga dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon
ini dapat merangsang proses pembentukan badan kuning atau
korpus luteum di dalam ovarium, setelah terjadi poses ovulasi
(pelepasan sel telur). Hormon LH sendiri dapat menyebabkan
terjadinya ovulasi dan pembentukan corpus luteum. Corpus
luteum

akan

menyekresikan

hormon

estrogen

dan

progesteron.
LH disebut juga gonadotropin, dihasilkan oleh sel-sel gonad
yang berada pada kelenjar pituitari di dasar otak dan
pengeluaran hormon ini dirangsang oleh gonadotropin
releasing hormone (GnRH). LH pada wanita berfungsi untuk
membantu pelepasan sel telur dari folikel, sedangkan pada
pria berfungsi untuk merangsang testis dalam mensintesis

hormon steroid dan merangsang produksi testosteron pada sel


Leydig.
Luteinizing Hormone (LH) yang semakin banyak akan
memicu ovulasi (pengeluaran ovum) dari folikel sekaligus
mengarahkan pembentukan korpus luteum. Meningkatnya
jumlah Luteinizing Hormone (LH) ini sebagai respon umpan
balik positif dari estrogen saat Luteinizing Hormone (LH)
berikatan

dengan

reseptornya.

Munculnya

reseptor

Luteinizing Hormone (LH) ini dipicu oleh pengeluaran


estrogen saat pertumbuhan folikel, khususnya sel granulosa,
distimulasi oleh Follicle Stimulating Hormone (FSH).
b. Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormon FSH
ini berfungsi dalam proses pembentukan dan pematangan
spermatozoa yang dikenal sebagai spermatogenesis dan ovum
yang dikenal sebagai oogenesis. Di samping itu, FSH juga
berfungsi merangsang produksi hormon testoseron pada pria
dan estrogen pada wanita.
Follicle Stimulating Hormone, biasanya disebut sebagai FSH,
adalah hormon yang secara langsung dapat mempengaruhi
kemungkinan
kehamilan.

Anda

hamil

dan/atau

Tingkat

tubuh

Anda

mempertahankan

memproduksi

FSH

berkorelasi dengan kualitas dan kuantitas telur yang tersisa.


Normalnya, level FSH berkisar dibawah 10 mIU/ml.
Fungsi hormon FSH antara lain ;
Menstimulasi pertumbuhan folikel terutama pada sel-sel
granulose, mencegah atresia

folikel. dan pematangan

folikel
Menstimulasi produksi estrogen pada corpus luteum
Menstimulasi pembentukan progesterone
Menstimulasi maturasi sel-sel germinal, Pada akhir fase
folikular kerja FSH dihambat oleh inhibin dan pada akhir
fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk
mempersiapkan siklus ovulasi berikutnya.

Faktor usia mempengaruhi, diatas umur 30 tahun, akan


menjadi lebih sulit untuk ovarium untuk ovulasi karena
pasokan telur yang berkurang sehingga tingkat hormon FSH
meningkat (dalam rangka menekan pedal gas lebih) dari
waktu ke waktu. Mengetahui tingkat FSH Anda adalah
penting dalam memprediksi kesuburan Anda. Seiring
kualitas telur dan kuantitas telur berkurang dengan
bertambahnya

usia,

tubuh

Anda

mencoba

untuk

mengimbangi dan memproduksi lebih banyak FSH untuk


merangsang fungsi ovarium. Hal ini umumnya terlihat pada
wanita yang mengalami menopause dini atau wanita yang
umurnya hampir mencapai masa menopause. Jadi pada
wanita

menderita

gejala

infertilitas

ditandai

dengan

melonjaknya level FSH diluar batas normal.


c.Hormon Progesteron
Hormon Progresteron adalah salah satu hormon yang
disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. Progesteron juga
merupakan salah satu steroid yang disintesis didalam ovarium
terutama dari kolesterol yang berasal dari darah. Walaupun
dalam jumlah kecil hormon progresteron ini juga diperoleh
dari asetil koenzim A, yaitu suatu multipel yang dapat
berkombinasi untuk membentuk inti steroid yang tepat.
Mengatur siklus menstruasi bersama dengan hormon
estrogen dengan melalui feedback mekanisme terhadap
FSH dan LH. Sekresi secara bergantian hormon-hormon

ini menentukan siklus menstruasi.


Mempertebal dinding endometrium untuk persiapan
proses implantasi jika terjadi fertilisasi antara ovum dan

sperma.
Menghambat kontaraksi uteru agar tidak terjadi kelahiran

premature atau keguguran.


Membantu mempersiapkan payudara untuk proses
laktasi.

Mengentalkan secret vagina, sebagai proteksi tambahan

terhadap kemungkinan infeksi.


Meningkatkan perkembangan normal neuron otak serta
memiliki efek protektif terhadap jaringan otak yang
rusak. Sehingga progesteron dapat menurunkan resiko

kematian pada pasien trauma kepala.


Mampu membantu proses penyembuhan terutama pada
penderita Multiple Sclerosis. Progesteron bekerja dengan

mengatur fungsi kolagen saraf dan serabut myelin.


Mampu menurunkan resiko terjadinya kanker rahin dan

payudara.
Mencegah terjadinya kanker rahim dengan mengatur
efek paparan esterogen dalam rahim.

Ketidak seimbangan hormon yang berakibat pada keadaan


kelebihan atau kekurangan hormon progesteron sangat
mempengaruhi peran dan fungsi hormon progesteron dalam
tubuh. Sehingga penanganan yang paling mendasar untuk
mengatasi keadaan tersebut adalah dengan mengembalikan
keseimbangan hormon dalam tubuh, baik dengan menambah
asupan hormon progesteron melalui makanan untuk kondisi
kekurangan hormon progesteron, maupun mengontrol
penggunaan terapi hormon progesteron tambahan dari luar
tubuh pada kondisi kelebihan hormon progesteron.
d. Hormon Esterogen
Fungsi hormon esterogen antara lain ;
Merangsang pertumbuhan organ seks anak perempuan,
seperti halnya payudara dan rambut kelamin, dikenal

sebagai karakteristik seks sekunder.


Estrogen juga mengatur siklus menstruasi.
Menjaga kondisi dinding vagina dan elastisitasnya, serta

dalam memproduksi cairan yang melembabkan vagina.


Mereka juga membantu untuk menjaga tekstur dan
fungsi payudara wanita.

Mencegah gejala menopause seperti hot flushes (rasa

panas didaerah tubuh bagian atas dan gangguan mood)


Mempertahankan fungsi otak.
Mengatur pola distribusi lemak di bawah kulit sehingga

membentuk tubuh wanita yang feminine


Meningkatkan pertumbuhan dan elastisitas serta sebagai
pelumas sel jaringan (kulit, saluran kemih, vagina, dan

pembuluh darah).
Estrogen juga mempengaruhi sirkulasi darah pada kulit,
mempertahankan struktur normal kulit agar tetap lentur,
menjaga kolagen kulit agar terpelihara dan kencang serta

mampu menahan air.


Produksi sel pigmen kulit
Estrogen bertanggung jawab untuk perkembangan

reproduksi wanita terutama selama masa pubertas.


Estrogen bertanggung jawab untuk mempercepat
pertumbuhan tubuh wanita, dan kemudian berperan
mengembangkan rahim, ovarium, dan sistem reproduksi

lain sehingga tubuh siap untuk mendukung kehamilan.


Estrogen juga berperan membantu perkembangan dan
pembesaran payudara, meningkatkan timbunan lemak di
lapisan subkutan, membantu perkembangan panggul,
pertumbuhan rambut ketiak dan kemaluan, serta berbagai
fungsi metabolik lainnya.

Setelah itu hubungan antar hormon;

Hubungan antara FSH dan Estrogen adalah, Estrogen


akan memberikan pengaruh umpan balik negatif
terhadap FSH. Artinya
merangsang

peningkatan

yang

semula

sekresi

FSH

Estrogen,

akan
ketika

estrogen terbentuk akan menyebabkan penurunan sekresi

FSH.
LH akan aktif ketika kondisi FSH pada batas terendah
(FSH dibawah pengaruh umpan balik negatif Estrogen).

Progesteron akan menekan sekresi FSH dan LH


sekaligus

demikian

sebaliknya,

jika

progesteron

meningkat maka FSH akan disekresikan. (LH aktif saat


FSH pada kondisi terendah, Estrogen menekan pengaruh
III.

IV.

FSH)
ALAT DAN BAHAN
1. Termometer

CARA KERJA
Mengukur suhu basal tubuh setiap hari sebelum beranjak dari tempat
tidur.

V.

HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Suhu Basal

2. Grafik Suhu Basal

VI.

PEMBAHASAN
1. Hubungan suhu basal tubuh dengan siklus ovulasi wanita.
Suhu basal tubuh seorang wanita yang mengalami ovulasi
berubah di sepanjang siklus menstruasi, hal ini bertepatan dengan
perubahan hormonal yang menunjukkan tahap subur dan tidak
subur dari siklus. Untuk itulah kita dapat memperkirakan masa
ovulasinya berdasarkan suhu tubuhnya. Namun, suhu basal tiaptiap wanita berbeda-beda. Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36
derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih
dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan
kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi
masa subur/ovulasi.
Ovulasi terjadi sebagai respon terhadap peningkatan kadar
hormon progesteron dalam tubuh wanita, semakin tinggi
kandungan hormon progesteron pada tubuh, suhu basal tubuh
akan semakin tinggi, berlaku pula sebaiknya.
Pada umumnya, kondisi kenaikan suhu tubuh akan terjadi
sekitar 3-4 hari, kemudian akan turun kembali sekitar 0,2 derajat
dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal sebelum
menstruasi. Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak
menunjukkan kenaikan suhu tubuh, kemungkinan tidak terjadi
masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu tubuh.
Hal

ini

disebabkan

tidak

adanya

korpus

luteum

yang

memproduksi progesteron.
Begitu sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan
terus berlangsung setelah masa subur/ovulasi kemungkinan terjadi
kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil dibuahi, maka
korpus luteum akan terus memproduksi hormon progesteron.
Akibatnya suhu tubuh tetap tinggi. Jadi dari pembahasan di atas
dapat disimpulkan bahwa suhu tubuh wanita yang ovulasi
menjadi rendah dan tinggi secara reguler setiap kali setengah
masa ovulasi. Suhu tubuh akan tetap rendah hingga masa ovulasi,
kemudian menjadi tinggi setelah masa ovulasi. Suhu akan turun

menjadi lebih rendah lagi setelah menstruasi. Inilah yang


kemudian dapat digunakan dalam menandai waktu ovulasi.
2. Pembahasan Grafik
a. Agisa
Pada praktikum kali ini, praktikan menggunakan
thermometer manual.Suhu basal pada 5 hari pertama,
mengalami kenaikan dan penurunan sekitar 0,1-0,2. Pada hari
ke-8 mengalami penurunan sebesar 0,3oC, hal ini karena suhu
lingkungan mempengaruhi suhu tubuh, kemudian pada hari
ke-9

mengalami

kenaikan

sebesar

0,3oC

karena

dimungkinkan pada saat penggunaannya, praktikan tidak


mengibas-ngibaskan termometer dengan kuat. Sehingga suhu
awal yang tercantum masih suhu hari sebelumnya sehingga
suhu kurang akurat. Pada hari ke-10 sampai hari ke-19 suhu
badan dalam kondisi stabil berkisar antara 36,3 oC sampai
36,5oC. Waktu ovulasi ditandai dengan suhu basal yang
mengalami sedikit penurunan kemudian suhu basal naik /
menjadi tertinggi. Kenaikan suhu basal tubuh disebabkan
karena

adanya

korpus

luteum

yang

memproduksi

progesteron. Seperti yang terlihat pada grafik saya, perkiraan


waktu ovulasi yaitu pada hari ke-20 ketika suhu mengalami
kenaikan sebesar 0,5oC. Praktikan mengalami menstruasi
pada saat hari ke-8 sampai hari ke-12. Kesalahan yang
dimungkingkan timbul dari praktikan ini yaitu praktikan
mengalami haid yang tidak teratur karena pengaruh
hormonal, suhu ruang yang mempengaruhi suhu basal, dan
terlalu tergesa-gesa pada saat pengukuran sehingga data yang
didapat tidak akurat.
b. Claudia
Pada pengukuran suhu basal tubuh, praktikan menggunakan
thermometer manual (raksa). Suhu basal praktikan 5 hari
pertama menunjukan grafik yang sedikit naik dengan suhu
tertinggi pada 5 hari pertama mencapai 36.7C pada hari ke5. Hari ke-6 dan ke-7, suhu basal tubuh mengalami

penurunan yaitu 36.1 C dan 36.2C, hari ke-8 mengalami


kenaikan mencapai 36.6C, hari ke-12 menunjukkan suhu
36,3C. Setelah hari ke-12, suhu rata-rata 36,4. Menurut
literature, siklus ovulasi terindikasi apabila suhu tubuh naik
1-2C atau pada suhu tertinggi, maka praktikan memutuskan
bahwa siklus ovulasi berada pada hari ke-21. Adapun
ketidaksesuaian data yang diperoleh jika dibandingkan
dengan literatur dapat dikarenakan karena pengukuran suhu
basal tubuh tidak dilakukan tepat saat praktikan bangun tidur.
c. Hana
Pada pengukuran suhu basal tubuh, praktikan menggunakan
thermometer digital. Suhu basal praktikan 5 hari pertama
menunjukan grafiksedikit naik dan penurunan pada hari ke-2
dengan suhu tertinggi pada 5 hari pertama mencapai 35.4C
pada hari ke-5. Hari ke-6 dan ke-7, suhu basal tubuh
mengalami penurunan secara berurutan yaitu 35C dan
34.9C, hari ke-8 mengalami kenaikan mencapai 35C. Pada
hari ke-9 hingga ke-11, mengalami kenaikan dengan suhu
tertinggi pada interval 3 hari ini mencapai 37C. secara
keseluruhan, suhu tertinggi praktikan selama pengukuan suhu
basal mencapai 37C. Hal ini dikarenakan pada saat itu
praktikan sedang demam sehingga suhu tubuhnya naik.
Setelah ini suhu basal praktikan cenderung fluktuatif
sehingga tidak dapat ditentukan masa ovulasinya. Praktikan
mengalami menstruasi pada hari ke-17 pengukuran selama 7
hari dengan jarak 42 hari dari menstruasi bulan sebelumnya.
Kesalahan yang mungkin timbul dari pengukuran praktikan
ini adalah dikarenakan faktor-faktor seperti suhu ruangan
yang terlalu dingin, terlambat dalam mengukur suhu basal
setiap pagi, penyakit praktikan, dan ketidak teraturan siklus
menstruasi praktikan.
d. Juliani

Pada pengukuran suhu basal tubuh, praktikan menggunakan


thermometer manual (raksa), pada hari ke 1-5 terjadi
peningkatan suhu, mulai dari 36.5C , 36.6C , 36.7C ,
36.7C , 36.8C .Hari ke-6 hingga ke-11 suhu basal
mengalami penurunan secara berurutan dengan suhu 36.7C ,
36.6C , 36.5C , 36.5C , 36.3C , 36.2C . Pada hari ke-12
hingga hari ke-30, suhu badan menjadi flukuatif. Suhu
teringgi praktikan selama pengukuran suhu basal mencapai
36.8C. Menurut literature, siklus ovulasi terindikasi apabila
suhu tubuh naik 1-2C atau pada suhu tertinggi, maka
praktikan memutuskan bahwa siklus ovulasi berada pada hari
ke-5. Kondisi grafik dari praktikan cukup stabil dengan
selisih suhu hingga 3C. Kondisi kestabilan ini bisa
dipengaruhi oleh keadaan psikis dari praktikan. Apabila
kondisi psikis dari praktikan tidak stabil, maka suhu basal
VII.

dari badan praktikan juga terpengaruhi.


KESIMPULAN
1. Peningkatan kadar esterogen menghambat pengeluaran FSH,
kemudian hipofise mengeluarkan LH. LH singkatan dari
luternizing hormon. Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan
oosit sekunder dari folikel, peristiwa ini disebut ovulasi.
2. Ovulasi terjadi sebagai respon terhadap peningkatan kadar hormon
progesteron

dalam

tubuh

wanita.

Setelah

ovulasi,

kadar

progesteron menurun, yang menyebabkan suhu tubuh wanita akan


meningkat sedikit. Dengan demikian, seorang wanita dapat
mengetahui kapan ovulasi telah berlalu dan masa suburnya
berakhir dengan memonitor suhu tubuh basal setiap hari.

VIII. DAFTAR PERTANYAAN


1. Nama
:
NIM
:
Pertanyaan
:

IX.

2. Nama
NIM
Pertanyaan

:
:
:

3. Nama
NIM
Pertanyaan

:
:
:

DAFTAR PUSTAKA
Campbell NA. 2002. Biology 5th Edition. Jakarta : Erlangga.
Mader, S.S. 2004. Biology. Boston: McGraw-Hill.
Husen,Saikhu Akhmad Drs,M.Kes dkk. 2012. Petunjuk Praktikum
Biologi Medis, Surabaya : Airlangga University press.
Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk
Paramedis. Bandung : Yrama Widya.
http://www.lusa.web.id/metode-suhu-basal-tubuh-basal-bodytemperature-method/
http://hyuumia.blogspot.com/2012/12/faktor-faktor-yangmempengaruhi-suhu.html
http://www.lusa.web.id/metode-suhu-basal-tubuh-basal-bodytemperature-method/