Anda di halaman 1dari 11

Tugas Kuliah llmu tanaman pangan

Mengenai Tingkat Produktivitas Ubi Jalar dan Ubi


Kayu dari Tahun 1999-2011, serta Analisis Usaha tani

DISUSUN OLEH :
Iansyah Wibi Saksono

(A24100029)

Imdad Julian Purwanto

(A24100032)

Fadly Wridha Adisti

(A24100070)

Wisnu Bakti S

(A24100108)

Samsi Abdul Khodar

(A24100193)

DOSEN :
Adolf Pieter Lontoh

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Table luas panen-produktivitas-produksi tanaman ubi kayu di Indonesia


Jenis
Tanaman

Provinsi
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia

Luas
Panen(Ha)

Tahun

Produktivitas
(Ku/Ha)

Produksi(Ton)

Ubi Kayu

1999

1350008

122

16458544

Ubi Kayu

2000

1284040

125

16089020

Ubi Kayu

2001

1317912

129

17054648

Ubi Kayu

2002

1276533

132

16913104

Ubi Kayu

2003

1244543

149

18523810

Ubi Kayu

2004

1255805

155

19424707

Ubi Kayu

2005

1213460

159

19321183

Ubi Kayu

2006

1227459

163

19986640

Ubi Kayu

2007

1201481

166.36

19988058

Ubi Kayu

2008

1204933

180.57

21756991

Ubi Kayu

2009

1175666

187.46

22039145

Ubi Kayu

2010

1183047

202.17

23918118

Ubi Kayu

2011

1184696

202.96

24044025

Provinsi sentra produksi ubi kayu meliputi : Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, NTT, dan D.I. Yogyakarta.
Sentra produksi ubi kayu di Indonesia (2004-2011)
Provinsi
Lampung
Jawa
Timur
Jawa Tengah
Jawa
Barat
NT.
Timur
Yogyakarta

Produksi (juta ton)


2007
2008
2009

2004

2005

2006

2010

2011

4,67

4,80

5,49

6,39

7,72

7,56

8,63

9,19

3,96

4,02

3,68

3,42

3,53

3,22

3,66

4,03

3,66

3,47

3,55

3,41

3,32

3,67

3,87

3,50

2,07

2,06

2,04

1,92

2,03

2,08

2,01

2,05

1,04

0,89

0,93

0,79

0,9

0,91

1,03

0.96

0,81

0,92

1,01

0,97

0,89

1,04

1,11

0,86

Sumber : http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?kat=3
Tabel luas panen-produktivitas-produksi tanaman ubi jalar di Indonesia
Jenis
Provinsi

Tanaman

Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia

Tahun

Luas

Produktivitas

Panen(Ha)

(Ku/Ha)

Produksi(Ton)

Ubi Jalar

1999

172243

97

1665547

Ubi Jalar

2000

194262

94

1827687

Ubi Jalar

2001

181026

97

1749070

Ubi Jalar

2002

177276

100

1771642

Ubi Jalar

2003

197455

101

1991478

Ubi Jalar

2004

184546

103.05

1901802

Ubi Jalar

2005

178336

104.13

1856969

Ubi Jalar

2006

176507

105.05

1854238

Ubi Jalar

2007

176932

106.64

1886852

Ubi Jalar

2008

174561

107.8

1881761

Ubi Jalar

2009

183874

111.92

2057913

Ubi Jalar

2010

181073

113.27

2051046.12

Ubi Jalar

2011

178121

123.29

2196033

Sentra produksi ubi jalar di Indonesia (2004-2011)

Provinsi
Jawa
Barat
Papua
Jawa
Timur
Jawa
Tengah
NT.
Timur
Sumatra
Utara

2004

2005

2006

Produksi (juta ton)


2007
2008
2009

0,38

0,39

0,38

0,37

0,37

0,46

0,43

0,42

0,29

0,27

0,29

0,30

0,33

0,34

0,34

0,34

0,16

0,15

0,15

0,14

0,13

0,16

0,14

0,21

0,14

0,14

0,12

0,14

0,11

0,14

0,13

0,15

0,12

0,09

0,11

0,10

0,10

0,10

0,12

0,13

0,11

0,11

0,10

0,11

0,11

0,14

0,18

0,20

2010

2011

http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?kat=3

Sumber :

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dari tahun 1999-2011 terjadi penurunan
luas lahan , pada ubi kayu ditahun 1999 memiliki luas lahan sebesar 1350008 Ha dengan
produktivitas 122 kul/ha, sedangkan pada tahun 2011 luas lahan ubi kayu di indonesisa
hanya 1184696 Ha dengan produktivitas sebesar 202.96 kul/ha. Sedangkan pada ubi jalar
pada tahun 1999 indonesai memiliki lahan seluas 172243 Ha dengan produktivitas
sebesar 97 kul/ha, sedangkan pada tahun 2011 luas lahan Indonesia sebesar 178121 Ha
dengan produktivitas sebesar 2196033 kul/ha. Dengan demikian lahan ubi kayu per
tahunya mengalami pengurangan dan mengakibatkan penurunan produktivitas dalam
skala nasional, tetapi tidak semua provinsi mengalami penurunan produktivitas,
sedangkan pada ubi jalar setiap tahunya mengalami fluktuasi lahan ubi jalar tetapi dengan
terjadinya fluktuasi tersebut tidak mempengaruhi produktivitas hasil ubi jalar .
Analisis Usaha Tani Ubi Kayu

No
A

Uraian

Volume

Satuan

Jumlah

Biaya (Rp)

Biaya/ha (Rp)

Tenaga Kerja
-

Penyiapan lahan
Penanaman
Pemupukan
Penyiangan/pemeliharaan
Panen
Pengangkutan

13 HOK

40.000

520.000

10 HOK

40.000

400.000

8 HOK

40.000

320.000

8 HOK

40.000

320.000

15 HOK

40.000

600.000

10 HOK

40.000

400.000
2.560.000

150

1.500.000

100 Kg

1.600

160.000

100 Kg

2.000

200.000

75 Kg

2.300

172.500

700

1.400.000
3.432.500
5.992.500
5.992.500

Jumlah
B

Sarana Produksi
-

Bibit
Urea
SP-36
NPK
Pupuk Kandang

10.000 Stek

2000 Kg
Jumlah
Jumlah A+B
1. Total Biaya Produksi
2. Total Produksi
3. Harga Jual Produksi

25.000 Kg

4. Pendapatan Bersih (3-1)


5. R/C (3/1)

25.000 Kg

600

15.000.000
9.007.500
2,5

Keterangan :
-

Harga di Tingkat Petani Rp 600,-/Kg


Umur Panen 9 Bulan

Sumber :
http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/analisa%20usaha%20tani
%20Ubikayu.pdf
Analisis Usaha Tani Ubi Jalar Per Hektar
No
A

Uraian

Satuan Biaya

Jumlah Biaya

(Rp)

(Rp)

Tenaga Kerja
-

Volume

Penyiapan Lahan
Penanaman
Pemupukan
Penyiangan
Pengairan
Panen/Pasca Panen

Jumlah
Sarana Produksi ***)
-

Benih *)
Urea
SP-36
NPK
Pupuk Kandang
Pestisida

15 HOK

40.000

600.000

15 HOK

40.000

600.000

15 HOK

40.000

600.000

15 HOK

40.000

600.000

10 HOK

40.000

400.000

30 HOK
100 HOK

40.000
40.000

1.200.000
4.000.000

32000 Stek

200

6.400.000

100 Kg

1.800

180.000

75 Kg

2.200

165.000

100 Kg

2.550

255.000

2000 Kg

800

1.600.000

1L
C

200.000
8.800.000

Jumlah
Pengeluaran Lain-lain
1.
2.
3.
4.
5.

Sewa Lahan
Pajak
Sumbangan

Per MT

Jumlah A+B+C
Total Biaya Produksi
Total Produksi **)
20.000 Kg
Harga Jual Produksi
Pendapatan Bersih
20.000 Kg
(3-1)
R/C (3/1)

12.800.000
12.800.000
2.000

40.000.000
27.200.000

3,13
Keterangan :
*)

Stek Pucuk Varietas Unggul

**)

Potensi Hasil Dalam Umbi Basah

***)

Harga Pada Tahun 2011

Sumber :
http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/ANALISA%20USAHA%20TANI
%20Ubijalar.pdf
Analisis usaha tani perlu dilakukan karena kita perlu mengetahui seberapa besar
biaya yang digunakan dalam kegiatan pertanian atau penanaman, dengan kita mengetahui
biaya yang kita keluarkan kita bisa mepersiapkan semuanya dengan sebaiknya sehingga
kita bias mengharapkan dapat menghasilkan hasil yang memiliki kualitas yang tinggi.
Selian itu juga untuk mengendalikan biaya dan perencanaan bagi laha pertanaman yang
baru

RISET INOVASI PRODUK PASCAPANEN UBI JALAR DAN UBI KAYU


1. Minuman prebiotik dan probiotik dari ubi jalar
Ubi jalar merupakan salah satu bahan pangan sumber karbohidrat
nonbiji. Indonesia memiliki potensi besar dalam meproduksi ubi jalar, namun
masih belum optimal dalam menyumbang total kebutuhan kalori yakni hanya
sebesar 6 %. Untuk itu perlu dilakukan serangkaian upaya untuk
meningkatkan pangan nasional. Salah satu upaya tersebut adalah mengolah
ubi jalar menjadi minuman prebiotik.
Minuman probiotik merupakan bahan pangan fingsional untuk
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Probiotik merupakan mikroorganisme
hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki
keseimbangan flora usus jika di konsumsi dalam jumlah hidup dalam jumlah
memadai. Prebiotik merupakan karbohidrat yang tidak dicerna tubuh yang
akan menstimulasi bakteri baik pada usus manusia.
Proses pembuatan minuman prebiotik dan probiotik ini tergolong
cukup mudah dan sederhana. Bahan dasar yang digunakan adalah ubi jalar
orange atau ungu. Secara ringkas proses pembuatan prebiotik ubi jalar sebagai
berikut; ubi jalar dikupas dan dicuci lalu dipotong- potong, kemudian di
blender dengan air dua kali lipat berat ubi, campuarn dipanaskan 70 C selama
30 menit. Kemudian setelah dingin campuaran disaring dan sarinya atau
fitratnya diendapkan selama semalam untuk memisahkan pati yang ikut dalam
sari. Terakhir sari dipanaskan hingga mendidih selama sepuluh menit,
prebiotik siap dikonsumsi.
Probitik ubi jalar dapat dibuat dari prebiotik dengan penambahan susu
skim dan starter (bibit). Adapun proses pembuatannya sebagai berikut; setelah
prebiotik dipanaskan dan didinginkan, campuran ditambahkan dengan susu
skim sebanyak 4% atau 4 g per 100 g prebiotik, dan glukosa 5% atau 5 g per
100 g. tarik udara yang ada dengan spet atau suntikan untuk membuat kondisi

anaerob agar bakteri probiotik tumbuh dengan baik. Lalu inkubasi atau
perama pada suhu 37 C selama 3 hari, produk probiotik siap dikonsumsi.
Sumber : Hidayat, N., Irnia N., dan Wike, A.P.D. 2006. Minuman Prrebiotik
dan Prebiotik. Surabaya. Trubus Agrisarana
2. Teknologi pengolahan tepung ubijalar termodifikasi
Sebagian besar produk olahan pangan menggunakan bahan baku
tepung terigu, yang ketersediaannya harus diimpor. Di sisi lain, di Indonesia
terdapat banyak sumber umbi-umbian yang dapat diolah menjadi pati atau
tepung diantaranya ubijalar, tetapi memiliki banyak kelemahan dibandingkan
tepung terigu. Tepung umbi-umbian tidak memiliki gluten seperti halnya
terigu, sehingga produk olahannya tidak mengembang, tekstur keras dan
beraroma khas umbi yang kadang-kadang tidak disukai oleh konsumen.
Melalui

pengolahan

tepung

ubijalar

termodifikasi

diharapkan

dapat

memperbaiki karakteristik mutu tepung dan produk olahannya. Tepung


ubijalar termodifikasi dibuat melalui proses fermentasi, sifatnya lebih
mengembang, tekstur lebih lembut dan tidak beraroma khas umbi. Pengolahan
tepung ubijalar termodifikasi melalui proses fermentasi akan terjadi
perombakan substrat glukosa dan menghasilkan asam laktat yang mempunyai
peranan dalam merombak struktur sel pati sehingga tekstur lebih halus, serta
menghasilkan senyawa volatil. Aroma senyawa volatil dapat berfungsi
menutup aroma khas umbi yang kurang disukai oleh konsumen. Penelitian ini
terdiri dari 2 sub kegiatan yaitu : pembuatan isolat Bakteri Asam Laktat
(BAL), dan optimalisasi teknologi pembuatan tepung ubijalar skala
laboratorium. Tahap pembuatan isolat Bakteri Asam Laktat dilakukan
melalui : 1) tahap seleksi Bakteri Asam Laktat unggul dan pemeliharaan
bakteri asam laktat dari berbagai strain, dan 2) Tahap pembuatan starter /
ragi untuk fermentasi ubijalar.
Optimalisasi teknologi pembuatan tepung ubijalar termodifikasi
dilakukan melalui pengupasan,

perajangan, perendaman (fermentasi),

pengepresan, pengeringan dan penepungan. Varietas ubijalar yang digunakan

pada tahap penelitian ini adalah varietas ubijalar jenis berdaging umbi putih
(varietas Mangan lokal Leuwiliang), kuning (varietas/ galur Muara) dan merah
(varietas Retok). Prosedur pelaksanaan adalah memasukkan ubijalar segar ke
dalam air dan diinokulasi dengan starter/ ragi bakteri asam laktat 10 %.
Selanjutnya diinkubasi dan diamati pada lama perendaman 0, 12, 24 dan 36
jam.
Sumber : Balai Besar Pasca Panen. 2007. Laporan Tahunan BB-Pascapanen
TA 2007. Balai Besar Pasca Panen, Departemen Pertanian.
3. Teknologi pengolahan mi bergizi dari ubijalar
Mi merupakan produk pangan yang sangat digemari masyarakat
Indonesia baik di perkotaan maupun di perdesaan. Produk mi sangat potensial
dijadikan makanan pokok alternatif pengganti beras untuk mengurangi
ketergantungan terhadap beras, karena mi memiliki keunggulan yaitu: praktis
dalan penyiapan dan penyajiannya, serta luasnya cakupan konsumennya.
Produk mi yang beredar saat ini di masyarakat pada umumnya berbahan baku
tepung terigu. Kebutuhan tepung terigu tidak dapat dipenuhi dengan produksi
di dalam negeri, karena iklim di Indonesia tidak mendukung untuk budidaya
gandum sebagai bahan tepung terigu. Kebutuhan tepung terigu selama ini
dipenuhi dari impor, sehingga ketergantungan produk mi terhadap impor
terigu sangat besar dan juga membebani devisa Negara cukup besar. Untuk
mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan produk pangan mi dengan
berbasis sumber karbohidrat lokal yang cukup banyak tersedia di Indonesia,
baik dari golongan serealia maupun umbi umbian. Ubikayu dan ubijalar
mempunyai prospek yang baik untuk diolah menjadi mi sebagai alternatif
pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap mi.
Penelitian ini dilaksanakan melalui : (1) karakterisasi sifat fisikokimia
bahan baku ubijalar dengan beberapa varietas; (2) pembuatan tepung dan pasta
ubijalar; dan (3) proses pembuatan mi dari tepung dan pasta ubijalar. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa mi ubijalar dengan bahan baku tepung
ubijalar dan tapioka (perbandingan 80:20), dan pasta ubijalar dan tapioca

(perbandingan 70:30) mempunyai komposisi kimia yang tidak jauh berbeda.


Mi dari pasta ubijalar menunjukkan penampakan lebih baik, sedangkan nilai
beta karotin lebih tinggi mi dari tepung ubijalar. Daya serap air mi dari pasta
ubijalar lebih baik yaitu berkisar antara 53,89-55,08% dan kehilangan padatan
akibat pemasakan (KPAP) berkisar 15,03-16 ,41%. Secara umum, mi ubijalar
dapat diterima oleh panelis. Berdasarkan analisis finansial, produk mi ubijalar
layak untuk dikembangkan.
Sumber : Balai Besar Pasca Panen. 2007. Laporan Tahunan BB-Pascapanen
TA 2007. Balai Besar Pasca Panen, Departemen Pertanian.
4. Gula Cair dari Pati Kasava
Indonesia merupakan penhasil ubi kayu ketiga terbesar di dunia dengan
produksi lebih dari 17 juta ton per tahun. Melalui proses hidrolisis dua tahap,
sari pati dari ubi kayu dapat dikonversi menjadi glukosa baik dalam bentuk
larutan kental (sirup glukosa) maupun dalam bentuk Kristal (dekstrosa
monohidrat (DMH). Produk ini sering digunakan sebagai pemanis dalam
industry makanan, minuman, dan permen, sebagai bahan baku untuk produksi
fruktosa dan sorbitol. Produk ini juga dapat dijadikan alternative untuk
pemanis makanan dan minuman tradisional yang selama ini menggunakan
gula tebu (gula pasir) atau gula merah.
Dibandingkan dengan pati jagung atau kentang, pati ubi kayu memiliki
beberapa keunggulan antara lain kandungan pati lebih tinggi (>90%, basis
kering), kandungan protein dan mineral lebih rendah, temperatur gelatinasi
lebih rendah, dan kelarutan amilosa lebih tinggi. Sifat- sifat tersebut berkaitan
dengan proses hidrolisis enzimatik dan proses permunian dalam produksi gula
Kristal glukosa dari tapioka. Produksi gula Kristal dalm skala industri
melibatkan tiga tahap proses yaitu likifaksi, sakarifikasi, dan prose hilir
(down-strem processing).
Dalam satu dekade terakhir ketersediaangula menjadi masalah di
Indonesia. Sebagai alternatif sumber gula, dilakukan pengembangan teknologi
pengolahan gula cair dari pati kasava. Kegiatan penelitian berlangsung dari

tahun 2005. Pada penelitian tahun 2005 telah diperoleh optimasi proses
pembuatan glukosa cair. Untuk scaling up proses, telah dirancangbangun
bioreaktor kapasitas 80 liter. Pada tahun 2006, telah dilakukan penyempurnaan
teknologi produksi sirup glukosa, dan penerapan teknologi pengolahan sirup
glukosa di sentra tapioka di Lampung.
Keuntungan implementasi teknologi gula cair di sentra produksi tapioka
dapat menghemat biaya pengeringan pati tapioka, karena bahan baku untuk
produksi gula cair dapat berupa pati basah. Pada tahun 2007 dilakukan uji
produksi gula cair dari pati kasava kapasitas 250 liter dan dilakukan
pemantauan mutu hasil produksinya. Berdasarkan analisis finansial, produksi
sirup glukosa skala 250 liter perhari di pedesaan masih layak dikembangkan.
Karakteristik sirup glukosa yang dihasilkan sebagai berikut : tidak berbau,
manis, kadar air 20,05 %(b/b), kadar abu 0,20 %, gula reduksi 56,55 % (b/b),
pati tidak terdeteksi, cemaran logam Pb tidak terdeteksi, Cu 0,78 mg/kg, Zn
2,64 mg/kg, As tidak terdeteksi dan cemaran mikroba TPC 1,7 x 102 koloni/ g,
serta kapang 26 koloni/g. Sebagai tindak lanjut, untuk memperkenalkan
produk gula cair di pedesaan dilakukan aplikasi gula cair untuk minuman
aneka rasa, gula cetak, produk kembang gula (permen), dan jely.
Sumber :
Balai Besar Pasca Panen. 2007. Laporan Tahunan BB-Pascapanen TA
2007. Balai Besar Pasca Panen, Departemen Pertanian.
Misgiyarta., N. Richana., P. Martosuyono., A. Budiyanto., H. Herawati.,
dkk. 2007. Laporan Akhir Tahun Pengembangan Teknologi Pengolahan Gula
Cair dari Pati Kasava. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen
Pertanian.