Anda di halaman 1dari 5

Kelompok bakteri yang termasuk coliform

Golongan organisme berikut sering di masukkan dalam Coliform (Fardiaz,1993) :


Golongan Klebsiella Enterobacter Serratia : Kelompok bakteri coliform terdiri atas Eschericia
coli, Enterobacter aerogenes, Citrobacter fruendi
Klebsiella Pneumoniae, yang khas semula di kenal kuman patogen bagi pernafasan, sekarang
sering di temukan pada infeksi-infeksi saluran pernafasan, dan saluran air kemih di rumah sakit.
Kuman ini di tandai pertumbuhan mukoid, kapsul polisakarida yang besar dan tidak bergerak
Enterobacter Aerogenes, Sering dapat bergerak, pertumbuhan yang kurang mukoid, mempunyai
kapsul kecil, di temukan hidup bebas dalam saluran pencernaan, saluran air kemih dan pada
septis
Serratia Marcoscens, Batang kecil gram negatif, hidupnya bebas, dapat menghasilkan pigmen
merah kuat dalam biakan , Serratia biasanya meragikan laktosa sangat lambat. (Ryadi,1984)
2.2 Bakteri Coliform
Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik
lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah
bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan
coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah
koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen.
Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana
daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform
adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform
adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform,
artinya, kualitas air semakin baik (FRIEDHEIM, 2001).
Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar tertentu untuk
menjamin kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen
saluran cerna sangat berbahaya untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan
dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja manusia atau hewan dan
yang tidak pernah terdapat bebas di alam. Ada beberapa organisme yang
termasuk kategori ini, yaitu bakteri coliform (E. coli), Enterococcus
faecalis, Clostridium sp. Di Indonesia, bakteri indikator air
terkontaminasi adalah E. coli (GAUSE, G. F. 1946).
Terdapatnya bakteri coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi
kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri coliform
dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal
coliform. E. coli adalah bagian dari faecal coliform. Keberadaan E.
coli dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh
tinja. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas
bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan; a) E.
coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia
(sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah
terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan; jarang sekali

ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi, b) E. coli


mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika
pemeriksaan dilakukan dengan benar, c) Bila dalam air tersebut
ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi
penggunaan domestik, d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang
lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut
(GAUSE, G. F. 1946).
Bakteri pembusuk ini dimasukkan ke dalam golongan bakteri Coliform,
salah satu yang termasuk didalamnya adalah Escherichia coli. Bakteri
coliform ini menghasilkan zat ethionine yang pada penelitian
menyebabkan kanker. Bakteri-bakteri pembusuk ini juga memproduksi
bermacam-macam racun seperti Indole, skatole yang dapat menimbulkan
penyakit bila berlebih didalam tubuh (GAUSE, G. F. 1946).
Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting kualitas
air minum. Kelompok bakteri coliform terdiri atas Eschericia coli,
Enterobacter aerogenes, Citrobacter fruendii, dan bakteri lainnya.
Meskipun jenis bakteri ini tidak menimbulkan penyakit tertentu secara
langsung, keberadaannya di dalam air minum menunjukkan tingkat
sanitasi rendah. Oleh karena itu, air minum harus bebas dari semua
jenis coliform. Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri coliform,
semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-bakteri patogen lain yang
biasa hidup dalam kotoran manusia dan hewan. Salah satu contoh bakteri
patogen-yang kemungkinan terdapat dalam air terkontaminasi kotoran
manusia atau hewan berdarah panas-adalah Shigella, yaitu mikroba
penyebab gejala diare, deman, kram perut, dan muntah-muntah (Official
Chemical Method, 1979)
Jenis bakteri coliform tertentu, misalnya E coli O:157:H7, bersifat
patogen dan juga dapat menyebabkan diare atau diare berdarah, kram
perut, mual, dan rasa tidak enak badan (Dad,2000).
DAFTAR PUSTAKA
Association of Official Analytical Chemistry (AOAC), 2000. Official
Methods of Analysis. Mc Graw Hill Press. Canada
Dad.2000.Bacterial Chemistry and Physiology. John Wiley & Sons, Inc.,
New York, p. 426.
Direktorat Jenderal PPM & PLP, Depkes.1996. Pedoman Teknis Sanitasi
(Penyehatan) Pengelolaan Makanan Di Rumah Sakit, Jakarta.
Fardiaz, S.,.1989. Analisis Mikrobiologi Pangan, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, IPB.
Food and Drug Administration.1998.Bacteriological Analytical Manual.

8th Edition,.
FRIEDHEIM, E., AND MICHAELIS, L. 2001 J. Biol. Chem., 91,55-368. Cit.
PORTER, J. R.
GAUSE, G. F. 1946 Litmocidin, a new antibiotic substance produced by
roactinomyces cyaneus. J. Bacteriol., 51,
Official Chemical Method. 1979. Fish Inspection Branch Fisheries And
Ocean. Science Press. Canada.
Media Lactose broth (LB) digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran
coliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (preenrichment broth) untuk Salmonella dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh
bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial
untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang
dapat difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan
gas adalah presumptive test untuk coliform. Lactose broth dibuat dengan komposisi
0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa (lay, 1992)
EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan
berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti S. aureus, P.
aerugenosa, dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni
dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat
tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu
mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada
tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella sp
dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk
mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli.
Agar EMB (levine) merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan
jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang
menggunakan eosin dan metilin bklue sebagai indikator memberikan perbedaan yang
nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut
mengandung sukrosa karena kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan
sukrosa daripada laktosa. Untuk mengetahui jumlah bakteri coli umumnya digunakan
tabel Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (most probable number) atau tabel
JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan
jumlah bakteri coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air.
Widyawati, Rini. 2010. Laporan Praktikum Mikrobiologi. Program Studi Teknik
Lingkungan Fakultas Teknik Lambung Mangkurat. Banjarbaru

Media LB (Lactose Broth)

Media yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehadiran


bakteri coliform(bakteri Gram negatif) berdasarkan terbentuknya
asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri
golongan coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media
laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham
berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif coliform jika
terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung
durham (Bitton, 1994)..
Media EMB (Media Eosin Methylene Blue)
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung
laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang
memfermentasikan laktosa seperti S.aureus, P.aerugenosa, dan
Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan
koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan
mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya
eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut.
Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena
kuman lain juga tumbuh terutama P.aerugenosa dan Salmonella
sp. dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamana pun media ini sangat
baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut
adalah E.coli (Bitton, 1994).
Agar EMB merupakan media padat yang dapat digunakan untuk
menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam
tabung. EMB yang menggunakan eosin dan metilen blue sebagai
indikator memberikanperbedaan yang nyata antara koloni yang
meragikan laktosa dan yang tidak.Untuk mengetahui jumlah
bakteri E.coli umumnya digunakan tabel Hopkins yang lebih dikenal

dengan nama MPN (Most Probable Number) atau tabel JPT (jumlah
perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk
memperkirakan jumlah bakteri E.coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh
air (Bitton, 1994).
Bitton, G. 1990. Introduction to Enviromental Virology. Wiley, New
York.