Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian dan istilah Renvoi


Renvoi sangat erat hubungannya dengan kualifikasi dan titik taut. Memang sebenarnya ketiga
soal ini dapat mencakup dalam satu permasalahan, yaitu hukum manakah yang akan berlaku (lex
cause) dalam suatu peristiwa Hukum Perdata Internasional. Renvoi timbul apabila hukum, asing
yang ditunjuk oleh lex fori, menunjuk kembali ke arah lex fori itu, atau kepada sistim hukum
asing lain. Setelah mengkwalifikasikan fakta-fakta yang kita hadapi itu, maka kemudian kita
mencari titik-titik taut yang memberi petunjuk kepada kita hokum (asing) mana yang akan
berlaku. Yang dimaksud dengan hukum asing adalah disebut:
a) Gesamtverweisung, jika menunjuk pada seluruh hukum asing termasuk didalamnya kaedah
HPI dan kaedah hukum materillnya (hkm intern);
b) Schahnormverweisung, jika hanya menunjuk pada hukum materiil (Hkm Intern) dari sistim
hukum asing yang bersangkutan.
Renvoi adalah penunjukan kembali atau penunjukan lebih lanjut oleh kaidah-kaidah HPI dari
suatu sistem hukum asing yang ditunjuk oleh kaidah HPI lex fori. Penunjuk kembali (Renvoi)
merupakan salah satu pranata HPI tradisional yang terutama berkembang di dalam tradisi Civil
Law (Hukum Eropa Kontinental) sebagai pranata yang dapat digunakan untuk menghindari
pemberlakuan kaidah atau sistem hukum yang seharusnya berlaku (lex causae) yang sudah
ditetapkan berdasarkan prosedur HPI yang normal. Pelaksanaan Renvoi ini pada dasarnya
dimungkinkan karena adanya berbagai sistem hukum di dunia yang masing-masing memiliki
sistem dan kaidah-kaidah HPI-nya sendiri. Misalnya dalam menentukan status dan
kewernagaraan personal seseorang akan ditemukan 2 sistem yangberbeda yaitu berdasarkan
prinsip nasionalitas dan prinsip domisili.
Di indoenesia istilah yang dipakai untuk renvoi adalah penujukan kembali. Istilah-istilah lain
seperti renvoi au premier degree atau partial or single renvoi_Perancis,
Ruckverweisbung_Jerman, Renvoi ersten Grades, Remission, remitting reference back
remittal (Inggris, USA), Rinvio Indrieto (Italia), terugwijzing, terugverwijzing (Belanda).
Sementara istilah penunjukan lebih jauh sebagai pembagian renvoi selain penunjukan
kembali diistilahkan renvoi au second degree (Perancis), transmission (anglo saxon), weiterverweisung, renvoi emeiten grades (Jerman), verderverwijzing (Belanda).
2. Pro dan kontra renvoi menurut pandangan sarjana
Renvoi menimbulkan polemic dan perdebatan, sehingga menimbulkan adanya pihakpihak yang kontra dan pro terhadap institusi renvoi ini.
-

Alasan beberapa sarjana yang PRO RENVOI


1. Memberi keuntungan praktis
Jika renvoi diterima maka baerarti hukum internal sang hakim sendiri yang akan
dipergunakan dan ini berarti suatu keuntungan praktis, dimana seorang hakim akan

lebih mudah dan tepat melaksanakan hukum internalnya.


2, Penunjukan secara keseluruhan
3. Jangan plus royaliste que le roi (bersifat lebih raja dari raja itu sendiri).
Menunjuk kepada hukum asing sebenarnya suatu konsesi, jika kemudian hukum
asing itu tidak menetrimanya / menunjuk kembali, maka harus diterima / jangan
ditolak.
(Jika kita menutup pintu terhadap hukum asing, maka akan membawa kita pada
chauvinisme yuridis yang mematikan kemungkinan perkembangan HPI.
4. Keputusan yang berbeda
Jika menolak renvoi akan mengakibatkan timbulnya keputusan yang berbeda dalam
suatu peristiwa HPI dalam Negara yang menunjukkan dan Negara yang menunjuk
kembali.
(Misal jika dalam suatu peristiwa HPI Negara X menunjuk kpd hukum Negara Y, dan
hukum Negara Y menunjuk kembali pada hukum Negara X, maka jika (Negara X)
menolak renvoi, yang akan terjadi dalam suatu peristiwa HPI akan ada keputusan
yang berbeda jika diperiksa di Negara X menggunakan hukum intern Negara Y, jika
diperiksa di Negara Y akan menggunakan hukum Negara X).
5. Harmoni diantara keputusan-keputusan
Dunia terbagi dalam 2 prinsip yaitu prinsip kewarganegaraan dan prinsip domisili,
dengan menerima renvoi akan tercapai harmoni dari keputusan-keputusan perkara
HPI yang mengatasi pertentangan diantara kedua sistim ini.
6. Memperbesar kemungkinan executie;
7. Sesuai dengan rasa keadilan para pihak.
Negara-negara yang pro renvoi antara lain: Perancis, German, Belgia, Swedia,
England, Swiss, Thailand dan sebagainya.
Alasan bebrapa sarjana yang KONTRA RENVOI:
1. Renvoi tidak logis;
doktrin renvoi tidak logis, karena jika renvoi diterima, maka akan terjadi suatu
penunjukan kembali secara terus menerus, sehingga akan terjadi suatu
inextricable circle yaitu tidak akan terjadi suatu penyelesaian karena akan terus
menerus terjadi penunjukan kembali seperti bola pimpong.
2. Penyerahan kedaulatan Legislatif;
menurut Cheshire dan Meyers,dengan adanya suatu renvoi, maka seolah-olah
kaidah-kaidah hakim itu sendiriyang dikorbankan terhadap suatu hukum asing yang

kemudian dianggap berlaku dan renvoi merupakan asing menggantikan kaedahkaedah HPI nasional, souverinitas dari hukum suatu negara
dibahayakan.penyerahan kedaulatan legislatif
3. Renvoi membawa ketidak pastian hukum.
Jika renvoi diterima akan membawa ketidak pastian hukum karena penyelesaian HPI
akan menjadi samara-samar, berjalan kesegala jurusan (ambiguous), tidak kokoh,
tidak stabil. Akan terjadi completely unpredictable (ketidakpastian) untuk
menentukan teori renvoi mana yang diterima suatu negara, dan karenanya baik
secara teoritis maupun praktis akan mendapatkan kesulitan.
4. Membawa kesukaran-kesukaran.
Renvoi membawa kesukaran / menyulitkan (inconvenient) bagi sang hakim, karena
sang hakim harus mempelajari hukum asing, dan hakim harus mengetahui lebih
dahulu HPI dari negara-negara lain yang bersangkutan.
Negara-negara yang kontra renvoi antara lain: Italya, Belanda, Yunani, Egyft, Suriah.
Dan sebagainya

3. Penerapan hukum renvoi di beberapa Negara


Dalam keberagaman sistem hukum di dunia, dikenal 2 asas, yakni asas nasionalitas dan
asas domisili. Masalah renvoi (penunjukan kembali) kemudian muncul sebagai akibat dari
perbenturan asas tersebut. penerapan untuk kasus yang bisa dianggap serupa juga timbul
perbedaan. Penerapan berbeda itu karena pada beberapa negara juga tidak semuanya menerima
renvoi ini. Dengan kata lain, sejumlah negara memiliki kecenderungan menolak renvoi. Berikut
keberadaan renvoi di sejumlah negara:
1. Perancis Diketahui sejak ada peristiwa Forgo, menunjukkan bahwa di Perancis telah menerima
Ronvoi, namun sejumlah pengamat menyebutkan bahwa ada kecondongan renvoi ditolak di
negara ini.
2. Italia Umumnya renvoi ditolak. Pengaruh teori Mancini menunjukkan bahwa di Italia ada hasrat
melindungi diri dari HPI asing.
3. Jerman memiliki kecondongan ke arah penerimaan.
4. Swiss Secara tegas, tidak ada aturan tentang renvoi tetapi memiliki kecenderungan ke arah
penerimaan.
5. Nederland Menurut yurisprudensinya, umumnya renvoi ditentang tetapi di sana-sini tetap
ditemukan keputusan yang dianggap menyimpang.
6. Negara Asia-Afrika Diantaranya yang menerima atau mengakui keberadaan renvoi yakni
Tiongkok, Thailand, dan Jepang. Sedang Mesir menolak, karena dalam Code Civil Mesir tahun

1948 dinyatakan bahwa penunjukan pada hukum asing dianggap penunjukan kepada kaidah
intern materil dan kaidah HPI asing dikesampingkan.
7. Negara-negara Anglo Saxon Seperti Inggris, ada kecenderungan kea rah penerimaan.
8. Amerika Serikat Tak ada aturan tertulis. Tapi ada kecondongan menolak. Terkecuali persoalan
yang berkenaan dengan titel tanah diatur dimana tanah itu terletak, termasuk kaidah HPI negara
bersangkutan. Pun tentang sahnya perceraian, ini ditentukan domisili para pihak termasuk kaidah
HPI-nya.
9. Negara-negara sosialis
Ada kecenderungan menerima misalnya saja di Moscow
Berikut ini contoh kasus yang dapat dikategorikan berkenaan masalah renvoi :

- Kasus in re Annesley (Davidson v. Annesley tahun 1926)


Ny. Annesley WN Inggris, domisili dan meninggal (1942) di Perancis, membuat
testament / wasiat dlm bentuk hukum Inggris, yang mengakibatkan anak lakilakinya tidak mendapatkan warisan lalu HPI Inggris berlawanan HPI Perancis. HPI
Inggris wasiat syah, sedangkan HPI Perancis mengenal adanya legitima forci yang
memberikan hak pada sang anak sekurangnya sepertiga bagian harta warisan; dalam kasus ini Hakim Inggris menggunakan FCD, bertindak seolah hakim Perancis;
dan HPI Perancis (prinsip nasionalitas) menunjuk hukum Inggris; kemudian HPI
Inggris (prinsip Domisili) menunjuk Hakim Perancis;dengan menggunakan hukum
intern Perancis berdasarkan ituwewenang Ny. Annesley dalam membuat surat
wasiat dibatasi, maka anak lelakinya mendapatkan warisan berdasarkan legitima
forci.
4. Penerapam hukum renvoi di Indonesia
Berdasarkan perihal pro dan kontra pada renvoi bahwa yang digunakan
dalam menilai masalah renvoi ini adalah logika. Kita harus dapat melihatnya
berdasarkan pada hukum positif dimana renvoi dipandang sebagai suatu bentuk
dari apa yang dinamakan dengan pelembutan hukum, meskipun tidak ditemukan
dalam suatu peraturan tertulis di Indonesia, renvoi diterima dalam kaidah hukum
positif Indonesia secara nyata dan pada beberapa praktek administratif ternyata
telah menunjukkan bahwa negeri ini telah menerima renvoi yang tercantum secara
tidak langsung dalam pasal 16 sampai 18 AB.Adapun beberapa yurisprudensi yang
berkaitan dengan renvoi di Indonesia adalahsebagai berikut:
1.Perkara orang Armenia Nasrani tahun 19282.

2.Perkara palisemen seorang British India tahun 1925

Contohnya sebagai berikut :


Apabila seorang warga inggris yang berdomisili di Indonesia harus ditentukanapakah ia
sudah dewasa atau belum, atau dia hendak menikah, maka menurut HPIIndonesia berdasarkan
pasal 16 AB harus dipakai hokum Inggris. Dengan katalain perkataan kaidah HPI Indonesia
menunjuk kepada hokum Inggris dan hokuminggris menunjuk kembalikepada hokum
Indonesia ,karena menurut HPI inggrisyang harus dipakai untuk status personil yaitu domisili
dari seseorang. Dalam halini domisili orang inggris bersangkutan adalah di Indonesia, maka
hokumIndonesialah yang harus diberlakukan